cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
RAGAM HIAS PADA PENDAPA TERAS CANDI PANATARAN DI BLITAR -, Rustarmadi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i2.2526

Abstract

Sasaran penelitian ini adalah ragam hias Pendapa Teras di kompleks candi Panataran. Tujuan penelitian ini untuk memahami dan memberikan gambaran menyeluruh mengenai perwujudan ragam hias candi pada Pendapa Teras di dalam kompleks candi Panataran, yang meliputi aspek visual, makna simbolik dan nilai-nilai pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan teori yang digunakan adalah teori semiotika Pierce, Roland Bathes dan Saussure, untuk memandang ragam hias candi sebagai tanda-tanda yang terbentuk dari unsur-unsur dan prinsip visual yang memiliki makna secara simbolis serta mengandung nilai-nilai pendidikan.  Hasil penelitian ragam hias candi sebagai berikut: (1) Secara visual ragam hias terdiri dari ragam hias ceritera dan non ceritera, dengan objek manusia, tumbuhan, binatang, serta makhluk-makhluk ajaib, (2) Model penggambarannya dekoratif realistis  dan dekoratif imajinatif, (3) Makna simbolis dari ragam hias melalui ragam hias ceritera, bahwa manusia pada dasarnya sedang melakukan perjalanan, menghadapi banyak rintangan, dan bila rintangan dapat diatasi akan mendapatkan kemuliaan. Kemuliaan ternyata bukan dari pangkat, derajat, dan kekayaan tetapi dari keikhlasan dan kasih sayang.  Nilai-nilai pendidikannya adalah manusia tidak boleh sombong, hidup sederhana, ikhlas dan sabar. Subject of this research are variety of decorative on  pendapa terrace of  Panataran temple complex. Purpose this research are to show and give an overview thorough regarding the embodiment fad ornamental temple on pendapa terrace  inside of Panataran temple complex, covering aspects of visual,  symbolic meaning and education values. This study uses a qualitative approach, while the theory used is the theory of semiotics Pierce, Roland bathes and Saussure, to look decorative temple as the signs are formed from the elements and principles of visual that has a symbolic meaning as well as containing the values of education. The results of temple decorative as follows: (1) Visually, the ornament consisting of a decorative stories and non-stories, with the object of people, plants, animals, and magical beings, (2) Model depiction are decorative realistic and decorative imaginative, (3) the meaning of symbolic ornamentation through ornament story, that people are basically traveling, faces many hurdles, and if the hurdles can be overcome to get the glory. Glory was not of rank, degree, and wealth but of sincerity and affection. Education value is that  man must not be arrogant, living a simple, sincere and patient.
Lakon Anoman Duta Garap Padat: Sebuah Penelitian Singkat (The Condensed Creativity of Anoman Duta : A Short Study) Subandi, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 3 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i3.813

Abstract

Anoman Duta merupakan lakon wayang yang bersumber dari salah satu episode dalamRamayana versi pedalangan Jawa. Berbagai bentuk seni pertunjukan wayang digarapoleh para seniman tradisi untuk melestarikan nilainilai luhur yang terkandungdidalamnya. Lakon Anoman Duta dipergelarkan dalam bentuk seni pertunjukan wayangkulit Purwo oleh seniman dalang biasanya memakan durasi waktu sekitar enam jam. Padapementasan yang berujud Sendratari, Lakon Anoman Duta digarap ringkas dengandurasi waktu sekitar dua jam. Bentuk pertunjukan dengan konsep padat digarap dalamwaktu sekitar 30 menit. Lakon Anoman Duta digarap padat dalam pengertian konsep,isi dan ekspresi estetis oleh Padepokan Sarotama di Surakarta. Penghilangan berbagairagam gerak yang diulangulang, catur yang tidak perlu dengan iringan musik tradisi yangmenyatu menunjukkan lakon Anoman Duta dengan garap padat tetap berbobot dan lebihmenarik serta memberikan kepuasan baru bagi para penikmat seni yang relatifmemerlukan waktu terbatas untuk dapat melihat secara keseluruhan isi dan makna yangdisajikan dalam pertunjukan. Dengan bentuk pertunjukan Anoman Duta garap padatpelestarian seni tradisi melalui garap lakon berlangsung dengan berbagai variasi.Kata kunci: Wayang, Anoman Duta, Garap Padat
MELATIH TUBUH: SEBUAH METODE BARU OLAH TUBUH DALAM TARI Setiyastuti, Budi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i1.2069

Abstract

Tubuh untuk keperluan tari adalah tubuh berdaya dan berjiwa yang diaktulisasikan lewat ekspresi. Tubuh tari memiliki makna. Tubuh yang aktif, terlatih, terampil, dan cerdas. Melatih Tubuh merupakan metode latihan untuk mencapai kepenarian,   yang dikembangkan merujuk  berbagai sumber olah tubuh  seperti  tari tradisi Jawa Surakarta,  yoga, t’ai chi, aerobik dan body languange.  Dalam susunannya, terdiri dari pernapasan dan peregangan, kelenturan, kekuatan, keseimbangan, penguatan otot perut, koordinasi, kelincahan, vibrasi, dan pendinginan.  Penataan pentas Melatih Tubuh menggunakan pendekatan natural, dekorasi panggung secara terbatas menggunakan backdrop hitam sebagai batas belakang panggung, tata artistik lebih ditekankan kepada penguatan cahaya untuk memperjelas visualisasi penari di atas panggung, irama musikal  sebagai pendukung digunakan  rekaman album Music for Yoga produksi Domo Records. The body for this dancing is the powerful and spirited one actualized through physical expression. Dancing body has meaning. It is also an active, trained, dexterous, and smart one. The dancing body is responsive and highly coordinative showing intellectual, emotional, and spiritual abilities. Body rehearsal is a method to achieve one’s dancing skill and developed referring to various sources of body movement such as Surakarta Javanese dance, yoga, t’ai chi, aerobics, and body language. Among the steps include breathing and stretching; keeping elasticity, strength, balance, coordination, dexterity, vibration; stomach muscles strengthening; and cooling down. The staging of Body Rehearsal uses a natural approach, and a minimal stage decoration with black backdrop as the upstage border. The artistic setting is more focused on stronger lighting to illuminate dancers’ visualization on the stage. The sound effects as accompaniment use Music for Yoga album produced by Domo Records.
PENGEMBANGAN MATERI DAN KEGIATAN PEMBELAJARANNYA DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN BIDANG SENI MUSIK Suharto, Suharto
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 3 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i3.780

Abstract

Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP) pada dasarnya adalah KurikulumBerdasarkan Kompetensi (KBK). Dalam KTSP sekolah (guru) memiliki kesempatanmembuat kurikulum mengembangkan sendiri kurikulumnya sesuai dengan potensisekolah dan daerah, kebutuhan dan latar belakang/karakteristik siswa, sampai padakemampuan gurunya. Pemanfaatan potensi daerah yang dimanfaatkan dalamkurikikulum Seni Budaya termasuk bidang Seni Musik sangat kental dalam KTSP yangtercermin dalam Standar Kompetensi (SD) dan Kompetensi Dasarnya (KD). SayangnyaKD yang begitu kental dengan kesenian daerah masih disikapi guru Seni Budaya denganberbagai interpretasi apakah harus dilaksanakan dengan penuh keterbatasan baikkemampuan guru yang berlatar belakang pendidikan seni berbeda atau dengan jeniskesenian lain sesuai dengan latar belakang dan kemampuan gurunya terutama bagi guruguruyang berlatar belakang musik diatonis. Tidak disebutkan secara eksplisit dalamperumusan SK maupun KD juga menjadi pemicu multitafsir guru dalam menjabarkandalam penyusunan silabusnya terutama dalam penentuan materi pembelajaran maupunkegiatan pembelajarannya. Tulisan ini menawarkan dalam “menterjemahkan” isi SK danKD untuk menentukan materi dan kegiatan pembelajarannya.Kata kunci : standar kompetensi, kompetensi dasar, pengembangan,
Comment and Comics Artwork by Mohd Yaman Ahmad Mus in Anak Sabah Newspaper on 1957 Rahim, Mohd Sawari; Ibrahim, Ismail; Zakaria, Suraya Hani
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 15, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v15i2.4606

Abstract

The aims for producing comics in newspaper is to convey a message instead of just an entertainment for the newspaper readers. It also can be a documentation materials for historical records and civilization history through the situation at that time. These visual images are used by Mohd Yaman Ahmad Mus to display the true story about the behavior, attitudes and moral values that apply in everyday life through his creativity and self-expression. This aims to teach and create awareness among public besides of building a harmony and well-being of the community. The display image was analyzed using a theoretical approach of iconography by Erwin Panofsky (1955). This theory was classified into three levels, which is pre-iconographic, iconography and iconological (iconology interpretation) to explain and demystify the nature and meaning of painting in a holistic manner. The study showed that the content of messages and lessons in painting shows road safety issues which are still happen since the pre-independence era in Sabah until now.
TEORI DAN MASALAH PENJELMAN SENI DALAM PERSPEKTIF SOSIO­KULTURAL (Theory and Problem of Art Research in Socio­cultural Perspective) Wadiyo, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 3 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i3.727

Abstract

Perumusan masalah penelitian selalu menjadi problematik utama dalam penelitian seni.   Problematik   ini   biasanya   datang   dari   peneliti   sendiri   karena   mereka merumuskan   masalah   penelitian   berangkat   dari   judul   penelitian.   Setelah   judul penelitian   ditentukan   lalu   peneliti   mencari   latar   belakang   masalah   dan merumuskan   masalah   penelitiannya.   Cara seperti   ini   menurut   perspektif   sosio­kultural, yang dalam hal ini kesenian mestinya juga masuk di dalamnya sangat mengacaukan  gerak  langkah   berikutnya. Semestinya judul  penelitian ditentukan dari masalah penelitian. yang masalah penelitian itu sendiri harus berpijak pada teori   tertentu   yang   akan   digunakan   untuk   menjawab   dan   menjelaskan   masalah penelitian yang diangkatnya. Dengan demikian begitu masalah penelitian selesai ditentukan   akan   begitu   mudah   menentukan   judul   yang   tepat   sesuai   masalah penelitiannya   itu   dan   peneliti   tidak   perlu   bingung­bingung   mencari   teori   yang akan digunakan untuk menjawab dan menjelaskan masalah penelitiannya.Kata kunci: teori, masalah, penelitian seni, sosio­kultural, tekstual, kontekstual
PENGARUH DIFUSI DALAM BIDANG MUSIK TEHADAP KARAWITAN (The Influence Diffusion of Music to Karawitan) Wiyoso, Joko
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 3, No 2 (2002)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v3i2.687

Abstract

Keberadaan karawitan sebagai sebuah unsur kebudayaan tidak bisa mengisolasi diri dan proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan di muka bumi ini, terutama dari unsur kebudayaan yang sejenis dalam hal ini musik. Pengaruh penyebaran unsur-unsur kebudayaan di bidang musik terhadap keberadaan karawitan nampak dari peminjaman alat musik non karawitan ke dalam karawitan. Terdapatnya kesamaan antara instrumen karawitan dengan instrumen musik yang lain. Diterimanya budaya tulis dalam kehidupan karawitan. Juga adanya perpaduan sajian musik karawitan dengan musik non karawitan. Fakta-fakta tersebut tentunya menjadi fenomena baru dalam musik karawitan. Dengan demikian perjalanan sejarah kehidupan karawitan sampai mencapai ujudnya yang sekarang ini, tidak bisa lepas daripengaruh budaya-budaya musik non karawitan baik di dalam Jingkup regional maupun international. Fenomena ini sebaiknya dipandang sebagai suatu perjalanan sejarah di bidang musik secara umum, dan lebih khusus lagi di dalam bidang karawitan. Kata kunci: Kebudayaan, difusi, musik, karawitan.
PENGARUH KECERDASAN EMOSI TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN SENI BUDAYA SMP Purnaningtyas, Arum; Suharto, Suharto
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v10i1.56

Abstract

This research purposes to know : (1) Correlation between emotional intelligence and students achievement in the culture art lesson study, (2) Influence of emotional intelligence to students' achievement in the culture art lesson study, (3) contribution of emotional intelligence to students achievement in the culture art lesson study. The method used in this research is the quantitative correlation action research using ex post facto technique. Data collection techniques used were documentary study and questionnaire. Techniques of data analyze using product moment correlation, regression correlation, and determination coefficient. The result showed that : (1) There was a significant correlation between emotional intelligence and students' achievement in the culture art lesson study (2) From the regression  Y = 60,660 + 0,169X means that if emotional intelligence values progressed 1 point, so the students' achievement values progressed 0,169 points, (3) Contribution of emotional intelligence to students' achievement in the culture art lesson study were 12,2% and 87,8% supported by other factors. Based on the above result, so the teachers and schools team suggested for giving accommodation, and implementation to emotional intelligence factor in the education.
TARI BEDHAYA KETAWANG LEGIMITASI KEKUASAAN RAJA SURAKARTA (The Legitimization of Power of the King of Surakarta in the Bedhaya Ketawang Dance) Dewi, Nora Kustantina
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 3 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i3.859

Abstract

Kehadiran tari Bedhaya Ketawang di Karaton Kasunanan Surakarta mempunyai fungsi utama, yaitu sebagai legitimasi kekuasaan .Raja dianggap absah sebagai pewaris keturunan Kerajaan Mataram Baru yang mempunyai keajegan kekuatan gaib yang terpancar dalam tari Bedhaya Ketawang.Hal ini sangat erat hubungannya dengan cita pikiran tentang kedudukan raja yang dipercaya bersifat dewa dan berkuasa di atas segalanya. Semua hasil karya seni, penciptaannya dikembalikan kepada raja Mitos yang berlaku di Lingkungan masyarakat tradisional Jawa, tari Bedhaya Ketawang yang disakralkan merupakan pelestarian hubungan mistik keturunan Panembahan Senapati sebagai raja Mataram Baru yang pertama dengan penguasa Laut Selatan yaitu Kanjeng Ratu Kencana Sari. Mitos yang tertuang di da/am Babad Tanah Djawi menggambarkan pernyataan takluknya Kanjeng Ratu Kencana Sari beserta bala tentaranya terhadap kekuatan supranatural Panembahan Senopati, dan akan selalu membantu serta dilanjutkan dengan saling menjalin percintaan. Kata Kunci: Bedhaya Ketawang, mistis, legitimasi kekuasaan.
EKSISTENSI WANITA PENARI DAN PENCIPTA TARI DI KOTA SEMARANG Kusumastuti, Eny
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 3 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i3.770

Abstract

Profesi sebagai pencipta tari dan penari bukan hanya dilakukan oleh kaum pria saja, tetapi juga kaum wanita, baik yang sudah menikah ataupun yang belum menikah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui, memahami, menjelaskan eksistensi, dan faktor-faktor yang menghambat dan mendorong wanita pencipta tari dan penari dalam seni tari. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan fokus penelitian wanita pencipta tari dan penari dalam komunitas seniman di Kota Semarang. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri, teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data dengan cara mereduksi, mengklarifikasi, mendiskripsi, menyimpulkan dan menginterpretasikan semua informasi secara selektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 1 tahun terakhir ini, dari 20 orang wanita, 4 orang wanita masih eksis berprofesi sebagai pencipta tari dan penari, dan 7 orang wanita masih eksis berprofesi sebagai penari. Faktor-faktor yang  menghambat adalah (1) rasa deskriminatif, (2) kultur (budaya), (3) keluarga, (4) naluri kewanitaan, (5) wanita pekerja, (6) latar belakang pendidikan, (7) orientasi komersil dalam berkarya, (8) pandangan masyarakat, (9) apresiasi masyarakat yang masih rendah. Faktor-faktor yang mendorong adalah, (1) kesetaraan gender, (2) kultur, (3) keluarga, (4) naluri kewanitaan, (5) latar belakang pendidikan, (6) orientasi komersial dalam berkarya.Kata kunci : eksistensi, wanita penari, wanita pencipta tari, karya tari.

Page 39 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue