cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Farmasi
ISSN : 16938666     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JIF merupakan jurnal yang dikelola oleh Prodi Farmasi Universitas Islam Indonesia, dan diterbitkan dua kali dalam setahun. Jurnal ini dirancang sebagai sarana publikasi penelitian yang mencakup secara rinci sejumlah topik dalam bidang farmasi yang berkaitan dengan farmasi sains dan teknologi serta klinik dan komunitas. Jurnal ini menyediakan sebuah forum sebagai sarana pertukaran gagasan dan dan informasi antar peneliti, akademisi dan praktisi sehingga diharapkan mampu mendukung dan menginisiasi berbagai penelitian terkini yang terkait dengan ilmu kefarmasian. Hasil penelitian yang disajikan dalam jurnal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu di bidang farmasi dan kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "2022: Special Issue" : 20 Documents clear
The risk of Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) and Calcium Channel Blocker (CCB) used on Obstructive Sleep Apnea (OSA) incidence in hypertension patients Fibe Yulinda Cesa; Martanty Aditya; Rehmadanta Sitepu; Dion Notario
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art1

Abstract

AbstractBackground: The administration of angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACEI) and calcium channel blocker (CCB) therapy is known to have a side effect of a dry cough that would trigger OSA. Further research is needed to compare the effect of these two drugs on the side effects of OSA, which could trigger high-risk patient conditions.       Objective: To determine the risk of using ACE and CCB on the incidence of OSA using a case-control study method at Dau Primary Health Center.Methods: Demographic data were collected on 207 respondents aged 40-60 years by collecting Data Collection Sheets and Berlin questionnaires to determine the risk of OSA in respondents. Then, statistical analysis was carried out by determining the odds ratio (OR).Results: The results showed that one of the factors BMI (obese BMI; OR=1.33; 95% CI=0.11-15.70) induces OSA with the highest OR value compared to other factors.Conclusion: Obese patient has a 1.33 times greater risk of OSA with ACEI and CCB therapy than non-obese. It is necessary to conduct further research with a larger sample size related to OSA’s assessment associated with this therapy to improve patients’ quality of life.Keywords: Obstructive sleep apnea, ACE inhibitors, calcium channel blockers, hypertension IntisariLatar belakang: Obtructive Sleep Apnea (OSA) yang terjadi pada pasien hipertensi dapat disebabkan karena efek samping dari penggunaan antihipertensi angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEI) dan calcium channel blocker (CCB), namun analisis hubungan keduanya belum diketahui dengan pasti.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko penggunaan ACE dan CCB terhadap kejadian OSA dengan metode case control study di Puskesmas Dau.Metode: Pengambilan data demografi pada 207 responden usia 40-60 tahun dilakukan dengan mengumpulkan Lembar Pengumpul Data (LPD) dan kuesioner Berlin untuk mengetahui risiko OSA pada responden kemudian dilakukan analisis statistik dengan penentuan odds ratio (OR).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menjalani pengobatan dengan antihipertensi ACEI dan obesitas memiliki risiko lebih besar mengalami OSA (OR=1,33; CI 95%=0,11-15,70)  yaitu 1,33 kali dibandingkan pada pasien yang tidak obesitas.Kesimpulan: Obesitas menjadi factor risiko terhadap kejadian OSA pada pasien hipertensi yang mendapatkan antihipertensi golongan ACEI dan CCB.Kata kunci: Obstructive sleep apnea, ACE inhibitor, calcium channel blocker, hipertensi
Medication profile and potential drug interactions in diabetes mellitus with hypertension outpatient at RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor Sinta Rachmawati; Fania Pratiwi; Ika Norcahyanti
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art8

Abstract

Abstract  Background: Diabetes mellitus is a metabolic disease, characterized by hyperglycemia. It occurs due to impaired insulin secretion, insulin action, or both. Diabetes mellitus is a chronic disease that is often accompanied by complications, one of which is hypertension, so that drug interactions cannot be avoided.Objective: This study aimed to determine the medication profile and potential drug interactions in diabetes mellitus outpatient with hypertension at RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor.Method: It was a descriptive study. The data was obtained from diabetes with hypertension outpatient in three months (October-December 2020). To analyze potential drug interaction, used drugs.com, Medscape and Stockley for literature.Results: The medication profile showed that insulin aspart (43.84%) and the combination of candesartan and amlodipine (52.05%) were the most used drugs. The most common potential drug interactions were found between insulin and candesartan (73.34%) with moderate severity.Conclusion: Insulin aspart was the most used of antidiabetic. Candesartan plus amlodipine was the most widely used antihypertensive. Both types of drugs (insulin and candesartan) have the potential for drug interactions.Keywords: antidiabetic, antihypertensive, drug interactionIntisari Latar belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia yang disebabkan adanya gangguan sekresi insulin, kerja insulin, ataupun keduanya. Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang sering disertai komplikasi, salah satunya hipertensi, sehingga kejadian interaksi obat tidak dapat dielakkan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pengobatan dan potensi interaksi obat pada pasien rawat jalan yang didiagnosis diabetes melitus komplikasi hipertensi di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif. Data diperoleh dari lembar resep pasien rawat jalan yang didiagnosis diabetes dengan komplikasi hipertensi selama 3 bulan (Oktober-Desember 2020). Analisis potensi interaksi obat menggunakan sumber drugs.com, Medscape dan Stockley sebagai rujukan.Hasil: Profil pengobatan menunjukkan insulin aspart (43,84%) serta kombinasi kandesartan dan amlodipin (52,05%) merupakan obat-obatan yang paling banyak digunakan. Potensi interaksi obat yang paling banyak ditemukan terjadi antara insulin dengan kandesartan sebesar 73,34% dengan tingkat keparahan sedang.Kesimpulan:Insulin aspart adalah antidiabetes yang paling banyak digunakan, sedangkan kandesartan yang dikombinasi dengan amlodipin merupakan antihipertensi yang paling banyak digunakan. Kedua jenis obat tersebut (insulin dan kandesartan) memiliki potensi interaksi obat.Kata kunci : antidiabetes, antihipertensi, interaksi obat
The profile of anxiety, stress, and depression among pharmacy students in Universitas Islam Indonesia Mutiara Herawati; Aldia Dwi Karinaningrum; Yosi Febrianti
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art17

Abstract

Abstract Background: Implementation of the new curriculum is tiresome for both lecturers and students. Students who are passive and have limited cognitive abilities will feel depressed. This condition can cause anxiety leading to stress and ultimately depression. The enhancement of graduation standards for apothecary students rises the depression risk factors, especially for retaker students (students who do not pass the Indonesian Pharmacist Competency Exam).Objective: This study aimed to identify the level of anxiety, stress, and depression among undergraduate pharmacy and pharmacist profession students.Method: This study was a cross-sectional design that employed the students of undergraduate and apothecary programs. Respondents involved in this study were undergraduate students in the 2nd, 3rd, and 4th year (n=451) and professional students from batches 35, 36, and 37 (n=271). The DASS 42 questionnaire (Depression Anxiety Stress Scale) was used to identify depression. The data were analyzed descriptively.Result: The number of respondents who met the inclusion criteria was 668. Most undergraduate students had moderate levels of anxiety, normal stress, and normal depression, while apothecary students had normal profiles for all parameters.Conclusion: The various activities and pressure during the learning process triggered psychological disorders for only 5% of respondents.Keywords: Anxiety, stress, depression, DASS-42 Intisari Latar belakang: Implementasi kurikulum baru sangat menguras pikiran dan tenaga, baik dosen maupun mahasiswa. Bagi mahasiswa yang pasif dan memiliki kemampuan kognitif terbatas akan merasakan kondisi tertekan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kecemasan yang meningkat menjadi stress dan pada akhirnya depresi. Peningkatan standar kelulusan mahasiswa apoteker berpotensi meningkatkan faktor risiko kejadian depresi, terutama bagi mahasiswa retaker (mahasiwa yang tidak lulus Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan, stress, dan depresi mahasiswa S1 farmasi dan profesi apoteker.Metode: Penelitian menggunakan rancangan cross-sectional kepada mahasiswa program studi farmasi dan profesi apoteker. Responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah mahasiswa strata pertama pada tahun ke-2,3, dan 4 (n=451) serta mahasiswa profesi angkatan 35, 36, dan 37 (n=271). Alat yang digunakan untuk mengidentifikasi depresi adalah kuesioner DASS 42 (Depression Anxiety Stress Scale). Data yang diolah secara deskriptif.Hasil: Jumlah responden yang sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 668. Mayoritas mahasiswa S1 memiliki profil tingkat kecemasan sedang, stress normal, dan depresi normal, sedangkan pada mahasiswa profesi apoteker memiliki profil tingkat kecemasan, stress, dan depresi normal. increaseKesimpulan: Dengan berbagai aktivitas dan tekanan selama proses pembelajaran, mayoritas mahasiswa tidak mengalami gangguan psikis, meskipun 5% diantaranya menyatakan mengalami gangguan.Kata kunci : Kecemasan, stress, depresi, DASS-42
The immunomodulatory activity of ethanol extract of attarasa bark and fruit (Litsea cubeba (lour.) pers.) toward carbon clearance of mice (Mus musculus) Vivi Asfianti; Alfi Sapitri; Eva Diansari Marbun
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art20

Abstract

Abstract Background: Attarasa (L.a cubeba (Lour.) Pers.) is a potential Indonesian medicinal plant that is used as a cold remedy, head ulcers, antimicrobials, antioxidants, and anticancer drugs. Objective: This research was conducted to analyze the immunomodulatory effect of bark (EEKBA) and fruit of attarasa ethanolic extract (EEBA) by detecting its phagocytosis activity in male mice using carbon clearance method.Method: Total of 24 male mice were divided into 6 groups. Extract was orally administered to mices for 7 days at the dose of 100 mg/kg BW, 200 mg/kg BW, and 400 mg/kg BW. Imboost® suspension at the dose of 32.5 mg/kg BW and CMC-Na 1 % suspension was orally administered in positive control, negative control and normal groups. On the 8th day, 0.1 ml carbon suspension was given through intravenous tail injection. The blood samples were withdrawn at 5, 10, 15, and 20 minutes after injection of carbon suspension to find out the carbon absorbance contained in the blood that was measured using spectrophotometer then the carbon elimination speed, phagocytic index, and the stimulation index has been calculatedResult: EEKBA and EEBA at the dose of 400 mg/kg BW induced the higher carbon elimination rate in mice compared to EEKBA and EEBA dose of 100 and 200 mg/kg BW. Phagocytic index of macrophage in mice given with EEKBA and EEBA at dose of 100, 200, dan 400 mg/kg BW were 3.429, 3.501, and 3.925 for EEKBA consecutively; 4.289, 4.375 and 4.732 for EEBA respectively. Stimulation index of macrophage in mice given with EEKBA and EEBA at dose of 100, 200, and 400 mg/kg BW were 1.00; 1.20, 1,02; 1,23, and 1,13; 1,33. Based on the results of statistical test, EEKBA and EEBA administration at the dose of 100, 200, and 400 mg/kg BW stimulate the phagocytosis activity of the macrophage of male mice and significantly has different result compared to normal control group (p < 0.05). Phagocytosis activity was best shown at the mice group that administered EEKBA and EEBA at dose of 400 mg/kg BW and was shown not significantly different compared to positive control group (p > 0.05).  Conclusion: EEKBA and EEBA have immunomodulatory effect by increasing the phagocytosis activity of mice.Keywords: immunomodulatory, Litsea cubeba, carbon clearance, phagocytosis activity Intisari Latar belakang: Attarasa (Litsea cubeba (Lour.) Pers.) merupakan tumbuhan obat potensial Indonesia yang digunakan sebagai obat flu, borok dikepala, antimikroba, antioksidan dan antikanker.Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk dapat mengamati efek imunomodulator Ekstrak Etanol Kulit Batang (EEKBA) dan Ekstrak Etanol Buah Attarasa (EEBA) terhadap aktivitas fagositosis pada mencit jantan dengan menggunakan metode carbon clearance.Metode: Sebanyak 24 ekor mencit jantan dibagi menjadi 6 kelompok. Ekstrak diberikan secara per oral selama 7 hari pada mencit jantan dengan dosis 100, 200, dan 400 mg/kg BB. Suspensi imboost® dengan dosis 32,5 mg/kg BB, suspensi CMC-Na 1% diberikan pada kelompok kontrol positif, negatif, dan normal. Pada hari ke-8 disuntikkan suspensi karbon 0,1 ml secara intravena di ekor mencit. Sampel darah dikumpulkan pada menit ke-5, 10, 15, dan 20 setelah diinjeksi dengan suspensi karbon untuk mengetahui absorbansi karbon dalam darah yang diukur menggunakan spektrofotometer kemudian dihitung kecepatan eliminasi karbon, indeks fagositosis, dan indeks stimulasinya.Hasil: EEKBA and EEBA dosis 400 mg/kg BB menghasilkan kecepatan eliminasi karbon yang paling tinggi dibandingkan dengan EEAB dan EEAF 100 dan 200 mg/kg BB. Indeks fagositosis yang dihasilkan dari pemejanan EEKBA and EEBA dosis 100, 200, dan 400 mg/kg BB terhadap hewan uji yaitu 3,429; 4,289; 3,501; 4,375 dan 3,925; 4,732. Indeks stimulasi makrofag yang diperoleh setelah hewan uji dipejani dengan EEKBA and EEBA dosis 100, 200, dan 400 mg/kg BB yaitu 1,00; 1,20, 1,02; 1,23, dan 1,13; 1,33. Berdasarkan hasil uji statistik, pemberian EEKBA and EEBA pada dosis 100, 200, dan 400 mg/kg BB dapat meningkatkan aktivitas fagositosis pada mencit jantan dan terdapat perbedaan yang signifikan dengan CMC-Na 1% dan kelompok normal (p<0,05). Aktivitas fagositosis yang paling baik ditemukan pada pemberian EEKBA and EEBA dengan dosis 400 mg/kg BB dengan perbedaan yang tidak signifikan terhadap kelompok hewan uji yang diberi Imboost® (p>0,05).Kesimpulan: EEKBA and EEBA mempunyai efek imunomodulator dengan meningkatkan aktivitas fagositosis pada mencit jantanKata kunci: imunomodulator, Litsea cubeba, carbon clearance, aktivitas  fagositosis.
Formulation and evaluation of pumpkin fruit (Cucurbita maxima L.) emulgel Agitya Resti Erwiyani; Sri Mustika Ayu; Winda Ayu Ningtyas; Rissa Laila Vifta
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art9

Abstract

Abstract  Background: The fruit of pumpkin (Cucurbita maxima D.), one of genus Cucurbita, family Cucurbitaceae, has antioxidant activity due to the content of metabolites including amino acids, fatty acids, alpha-tocopherol, beta-tocopherol, beta-carotene, beta-cryptoxanthin, and beta-sitosterol. The content of carotenoids and tocopherols in pumpkin has antioxidant activity, reduces skin damage due to sun exposure, and can slow down the aging process.Objective: The study aimed to formulate pumpkin fruit emulgel and evaluate its physical stability during storage Method: Emulgel contains pumpkin fruit extracts at a concentration of 0.5 – 1.5% w/v. Emulgel evaluations were organoleptic, homogeneity, pH, spreadability, adhesion, and viscosity at 2 - 8°C, room temperature, and 40 degree Celcius. The stability test observed the physical properties for 28 days.Results: Pumpkin fruit extracts contain flavonoids based on the TLC test. Emulgel showed organoleptic yellow color with pH in the range of 5, homogeneous, adhesion for more than 1 second, dispersion 5 – 7 cm, and viscosity 2000 – 4000 cP. Storage for 28 days did not show a significant difference at all storage temperatures and centrifugation tests.Conclusion Pumpkin fruit emulgel is stable at all storage temperatures 2 – 8 degree Celcius, 28 ± 2 degree Celcius, and 40 ± 2 degree Celcius.Keywords: emulgel, pumpkin, formulation, physical stabilityIntisari Latar belakang: Buahlabu kuning (C. maxima D.) yang termasuk dalam genus Cucurbita famili Cucurbitaceae memiliki aktivitas antioksidan karena kandungan metabolit diantaranya asam amino, asam lemak, alfa-tokoferol, beta-tokoferol, beta-karoten, beta-kriptoxantin, dan beta-sitosterol. Kandungan karotenoid dan tokoferol dalam labu kuning memiliki aktivitas antioksidan, menurunkan kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari serta dapat memperlambat penuaan dini. Tujuan: Tujuan penelitian untuk memformulasikan emulgel daging buah labu kuning serta evaluasi stabilitas fisik selama penyimpananMetode: Emulgel mengandung ekstrak daging buah labu kuning pada konsentrasi 0,5 – 1,5 % b/v. Evaluasi emulgel meliputi organoleptis, homogentitas, pH, daya sebar, daya lekat, dan viskositas pada 2 - 8 derajat Celcius, suhu kamar dan 40 derajat Celcius. Uji stabilitas dilakukan dengan pengamatan sifat fisik selama 28 hari.  Hasil: Ekstrak daging buah labu kuning mengandung flavonoid berdasarkan uji KLT. Emulgel menunjukkan organoleptis berwarna kuning dengan pH berkisar 5, homogen, daya lekat lebih dari 1 detik, daya sebar 5 – 7 cm, dan viskositas 2000 – 4000 cP. Penyimpanan selama 28 hari tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada semua suhu penyimpanan dan uji sentrifugasi. Kesimpulan: Emulgel daging buah labu kuning stabil pada semua suhu penyimpanan yaitu 2 – 8 derajat Celcius, 28 ± 2 derajat Celcius dan 40 ± 2 derajat Celcius.Kata kunci : emulgel, labu kuning, formulasi, stabilitas fisik
Flavonoid compounds of tapak liman plant (Elephantopus scaber) as antihyperuricemia Neni Sri Gunarti; Himyatul Hidayah
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art4

Abstract

Abstract   Background: Hyperuricemia is a condition where uric acid levels in the blood increase more than 6 mg/dL. Tapak liman (Elephantopus scaber) contains flavonoid compounds that are reported to inhibit the activity of the xanthine oxidase enzyme that causes hyperuricemia. Several Asteraceae tribes have activity as antihyperuricemia, one of which is the tapak liman plant (E. scaber) because of the compounds contained in the flavonoid group which has a working mechanism as an inhibitor of the xanthine oxidase enzyme.Objective: To determine the types of flavonoid compounds in tapak liman (E. scaber) plants that have antihyperuricemic activity.Method: This research is qualitative research using Literature Review Article (LRA) using Google Scholar, PubMed, ResearchGate, and Science direct databases with keywords related to the research topic, namely "Elephantopus scaber, antihyperuricemia, tapak liman, xanthine oxidase, flavonoids".Results: Compounds from the flavonoid group in tapak liman that have the potential as antihyperuricemia are luteolin compounds, luteolin-7-glucoside, quercetin, and rutin with the mechanism of inhibiting the activity of the xanthine oxidase enzyme.Conclusion: compounds from the flavonoid group in tapak liman that have the potential as antihyperuricemic compounds are luteolin, luteolin-7-glucoside, quercetin, and rutin.Keywords: Elephantopus scaber, antihyperuricemia, tapak liman, xanthine oxidase, flavonoids Intisari  Latar belakang: Hiperurisemia merupakan suatu kondisi terjadinya peningkatan kadar asam urat dalam darah lebih dari 6 mg/dL. Tapak liman (E. scaber) mengandung  senyawa flavonoid yang dilaporkan dapat menghambat aktivitas enzim xantin oksidase penyebab hiperurisemia. Beberapa suku Asteraceae memiliki aktivitas sebagai antihiperurisemia, salah satunya adalah tanaman tapak liman (E. scaber) karena adanya senyawa yang terkandung yaitu golongan flavonoid yang memiliki mekanisme kerja sebagai inhibitor enzim xanthin oksidase.Tujuan: Mengetahui jenis-jenis senyawa flavonoid dalam tanaman tapak liman (E. scaber) yang memiliki aktifitas sebagai antihiperurisemia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan Literature Review Article (LRA) menggunakan database Google Scholar, PubMed, ResearchGate dan Science direct dengan kata kunci yang berkaitan dengan topik penelitian, yaitu “Elephantopus scaber, antihiperurisemia, tapak liman, xantin oksidase, flavonoid”.Hasil: Senyawa golongan flavonoid pada tapak liman yang berpotensi sebagai antihiperurisemia yaitu senyawa  luteolin, luteolin-7-glukosida, kuersetin, dan rutin dengan mekanisme menghambat aktivitas enzim xantin oksidase.Kesimpulan: Senyawa golongan flavonoid pada tapak liman yang berpotensi sebagai antihiperurisemia yaitu senyawa  luteolin, luteolin-7-glukosida, kuersetin, dan rutinKata kunci : Elephantopus scaber, antihyperuricemia, tapak liman, xanthine oxidase, flavonoid
Anti-hypercholesterolemic activity of herbal juice with shelf life of 50 and 100 days in male rats induced by PTU and high-fat diet Sari Meisyayati; Ade Arinia Rasyad; Frelis Setya Nanda; Ayu Lestari; Alex Ferianto; Rizki Wahyudi
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art5

Abstract

AbstractBackground: Herbal juice with the composition of rosella flower, garlic, red ginger, dan lime extract, apple cider vinegar andhoney has been proven to be effective as an anti-hypercholesterolemia and has a high level of safety through acute and sub chronic toxicity tests that have been carried out. To be marketed, it is also necessary to know how long this herbal juice formula preserve its antihyperlipidemic effect during the storage process.Objective: This study was aimed to examine the effectiveness of herbal juice stored for 50 days and 100 days in PTU-induced rats and high-fat diet.Methods: This test used 6 groups of animals consists of group I (Na CMC 0.5%/negative control), group II (fresh herbal juice), group III (herbal juice stored 50 days at room temperature), group IV (herbal juice stored for 50 days at cold temperatures), group V (herbal juice stored for 100 days at room temperature), and group VI (herbal juice stored for 100 days at cold temperatures). The dosage of the test preparation was 5.4 ml/kg given once a day for 10 days. Induction was carried out using PTU ad libitum and high-fat diet twice a day for 10 days. Measurement of serum total cholesterol levels was carried out on day 0 and 11 using the CHOD-PAP method.Results: Groups II and IV could reduce cholesterol significantly compared to the negative control group (p<0.05), while the other groups could increase blood cholesterol level.Conclusion: Herbal juice showed effectiveness as anti-hypercholesterolemia in male white rats after being stored for 50 days and 100 days. Shelf life and temperature do not reduce its activity.Keywords:anti-hypercholesterolemia, herbal juice, shelf life, temperatureIntisariLatar belakang:Jus herbal dengan komposisi sari bunga rosella, bawang putih, jahe merah, jeruk nipis, cuka apel dan madu telah terbukti efektif sebagai antihiperkolestrolemia dan memiliki tingkat keamanan yang tinggi melalui uji toksisitas akut dan subkronik yang telah dilakukan. Untuk dapat dipasarkan, perlu pula diketahui seberapa lama formula jus herbal ini mampu mempertahankan efek antihiperlipidemianya selama proses penyimpanan.Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas jus herbal yang disimpan 50 hari dan 100 hari pada tikus yang diinduksi PTU dan pakan tinggi lemak.Metode:Pengujian ini menggunakan 6 kelompok hewan perlakuan yang terdiri dari kelompok I (NaCMC 0,5%/kontrol negatif), kelompok II (jus herbal segar), kelompok III (jus herbal yang disimpan 50 hari suhu kamar), kelompok IV (jus herbal yang disimpan 50 hari suhu dingin), kelompok V (jus herbal yang disimpan 100 hari suhu kamar), dan kelompok VI (jus herbal yang disimpan 100 hari suhu dingin). Dosis sediaan uji 5,4 ml/kgbb yang diberikan satu kali sehari selama 10 hari. Induksi dilakukan dengan pemberian PTU ad libitum dan pakan tinggi lemak 2x sehari selama 10 hari. Pengukuran kadar kolesterol total serum dilakukan pada hari ke-0 dan ke-11 dengan metode CHOD-PAP.Hasil:Kelompok II dan IV dapat menurunkan kolesterol secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol negatif (p<0,05), sementara kelompok lain mengalami peningkatan kadar kolesterol darah.Kesimpulan: Jus herbal menunjukkan efektivitas sebagai antihiperkolesterolemia pada tikus putih jantan setelah disimpan selama 50 hari dan 100 hari. Masa simpan dan suhu tidak mengurangi aktivitasnya.Kata kunci :antihiperkolesterolemia, jus herbal, masa simpan, suhu
Optimization of cardamom fruit ethanol extract gel with combination of HPMC and Sodium Alginate as the gelling agent using Simplex Lattice Design Wati Eliana Putri; Metha Anung Anindhita
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art13

Abstract

AbstractBackground: Cardamom has been studied and proven to be effective as an antibacterial. Gel preparations are preferred because they have advantages such as being easy to apply, providing a cooling effect, and being able to deliver drugs well.Objective: The purpose of this study was to make a gel formulation of ethanolic cardamom fruit extract by optimizing the combination of the gelling agent of HPMC and sodium alginate using the simplex lattice design (SLD).Methods: Cardamom fruit extract was obtained by extracting cardamom fruit simplicia using 70% ethanol. The formulation of the gel preparation from cardamom fruit extract was optimized using the SLD method on Design Expert. There were 5 gel formulas made and evaluated including organoleptic, pH, viscosity, spreadability, and adhesion. The independent variables in SLD were the amount of HMC and sodium alginate, while the responses included viscosity, spreadability, and adhesion. Optimal formula selection is done by using a numerical approach.Results: FI (HPMC 3.75% and sodium alginate 2.75%) and FII (HPMC 3.50% and sodium alginate 3.00%) met the test criteria for all the tests performed. The optimal formula suggested by SLD is a combination of 3.53% HPMC and 2.98% sodium alginate with a desirability value of 1.00. The predicted value for each response was the viscosity of 214.83 dPa.s, dispersion of 5.38 cm, and adhesion of 50.08 seconds. The optimal formula showed a dispersion value of 5.37cm. The results of the t-test indicated that the dispersion value of the observed results is not significantly different from the prediction software.Conclusion: Based on this research, it can be concluded that the use of a combination of HPMC and sodium alginate as a gelling agent can be optimized by using a simplex lattice design to obtain the optimum formula for cardamom fruit extract gel.Keywords: gel, hpmc, sodium alginate, SLD, kapulaga IntisariLatar Belakang: Kapulaga telah diteliti dan terbukti dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri. Sediaan gel disukai karena memiliki keunggulan antara lain mudah merata bila dioleskan, memberikan efek dingin serta dapat menghantarkan obat dengan baik.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi sediaan gel ekstrak buah kapulaga dengan mengoptimasi penggunaan kombinasi gelling agent HPMC dan natrium alginat menggunakan metode Simplex Lattice Design (SLD). Metode: Ekstrak buah kapulaga diperoleh dengan mengekstraksi simplisia buah kapulaga menggunakan etanol 70%. Formulasi sediaan gel dari ekstrak buah kapulaga dioptimasi menggunakan metode SLD pada Design Expert. Terdapat 5 formula gel yang dibuat dan dievaluasi meliputi organoleptis, pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Variabel bebas pada SLD adalah jumlah HMC dan natrium alginat, sedangkan responnya meliputi viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Pemilihan formula optimum dilakukan menggunakan pendekatan numerical.  Hasil: FI (HPMC 3,75% dan natrium alginat 2,75%) dan FII (HPMC 3,50% dan natrium alginat 3,00%) memenuhi kriteria uji semua pengujian yang dilakukan. Formula optimal yang disarankan SLD adalah kombinasi HPMC 3,53% dan natrium alginat 2,98% memiliki desirability 1,00 dengan prediksi viskositas bernilai 214,83 dPa.s, daya sebar bernilai 5,38 cm, dan daya lekat 50,08 detik. Pengujian terhadap formula optimal hasil optimasi SLD menunjukkan nilai daya sebar 5,37cm sesuai dengan nilai respon pada SLD. Hasil uji-t menunjukkan nilai daya sebar hasil observasi tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan prediksi software.Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan variasi HPMC dan natrium alginat sebagai gelling agent dalam formula gel ekstrak buah kapulaga dapat dioptimasi menggunakan simplex lattice design.Kata kunci : gel, hpmc, natrium alginat, SLD, kapulaga 
Sub chronic toxicity effect of combination of herbal juice on the function and 2 histopathology feature of male Wistar rat liver Ade Arinia Rasyad; Aisah Aisah; Lidia Lidia; Sari Meisyayati
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art14

Abstract

Abstract Background: Previously, the activity test of the combination herbal juice of garlic, rosella flower, red ginger, lime, apple cider vinegar, and honey, combined herbal juice can lower blood sugar [1] and can reduce total cholesterol levels [11]. In the use of traditional medicine and its effectiveness, its safety must also be proven before herbal juices are circulated in the communityObjective: This study was to determine the subacute hepatotoxic effect of the combination herbal juiceMethod: This research is an experimental study using 24 rats divided into four groups. Namely, the control group was given distilled water, and the group was given the combination herbal juice at a dose of 28, 14, and 7 mg/kg BW/day for 28 days. The measurement parameters were the increased activity of SGOT and SGPT and histopathological features of liver cells. The data were statistically analyzed with one-way ANOVA analysisResults: The administration of combination herbal juice for 28 days at a dose of 28, 14, and 7 mg/kg BW/day did not increase SGOT activity but caused a significant decrease in SGPT levels, namely by 20.34%, 19.39%, and 15.30%. From the histopathological picture of liver cells, at a dose of 28 mg/kg BW/day, there was no histopathological damage to liver cellsConclusion: Subacute administration of combined herbal juice did not cause hepatotoxicity in Wistar male white ratsKeywords: Combination herbal juice, subacute toxicity, histopathology, SGOT, and SGPT Intisari Latar belakang: Telah dilakukan sebelumnya uji aktivitas dari jus herbal kombinasi bawang putih, bunga rosella, jahe merah, jeruk nipis cuka apel dan madu,  jus herbal kombinasi dapat menurunkan gula darah  [1] dan dapat menurunkan kadar kolesterol total [11]. Dalam penggunaan obat tradisional, selain efektifitasnya, keamanannya pun harus dibuktikan sebelum jus herbal beredar dimasyarakatTujuan: Penelitian ini untuk mengetahui efek hepatotoksik sub akut dari jus herbal kombinasiMetode: Penelitian ini bersifat eksperimental menggunakan 24 ekor tikus yang terbagi dalam 4 kelompok. yaitu kelompok kontrol yang diberi akuades dan kelompok yang diberi jus herbal kombinasi dengan dosis 28, 14 dan 7 mg/kgBB/hari selama 28 hari. Parameter pengukuran adalah peningkatan aktivitas SGOT dan SGPT serta gambaran histopatologi sel hati. Data dianalisa secara statistik dengan  analisa ANOVA satu arahHasil: Pemberian jus herbal kombinasi selama 28 hari dengan dosis 28, 14 dan 7 mg/kgBB/hari tidak menyebabkan peningkatan aktifitas SGOT  tetapi menyebabkan penurunan kadar SGPT secara signifikan yaitu sebesar 20,34 %, 19,39 % dan 15,30 %. Dari gambaran histopatologi sel  hati, dosis 28 mg/kggBB/hari tidak ditemukan kerusakan histopatologi sel hatiKesimpulan: Pemberian subakut jus herbal kombinasi tidak menyebabkan hepatotoksik pada  tikus putih jantan galur wistarKata kunci : Jus herbal kombinasi, toksisitas subakut, histopatologi, SGOT, dan SGPT
The effect of drug information service using leaflet media and medication reminder chart on adherence and blood pressure of hypertensive patients in primary health care Yopi Rikmasari
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art6

Abstract

Abstract Background: Treatment adherence is an important factor affecting blood pressure control in hypertensive patients. Intervention in pharmacy service can improve medication adherence and lower blood pressure.Objective: This study aimed to evaluate the effect of drug information service using leaflets and MRC on the level of patient compliance and lowering blood pressure.Method: The research design was a quasi-experimental pre-and post-design with control, the intervention group (n=20), and the control group (n=20). The patient adherence was measured using the MGLS questionnaire at the beginning and the end of the study. The intervention was performed by distributing a drug information leaflet and medication reminder chart (MRC). The differences of adherence pre and post-intervention were analyzed using paired t-test, while the differences in adherence and blood pressure between the control and the intervention group were analyzed using the Mann-Whitney test.Results: The results showed that there was a significant difference in adherence between pre and post-intervention (p<0.001). A significant difference was also found in the level of adherence between the control group and the intervention group (p<0.001). Whereas the decrease of systolic (p=0.396) and diastolic (p=0.564) blood pressure in the intervention group and control group was not different significantly.Conclusion: Drug information services using leaflets and MRCs affected patient adherence to medication, but did not interfere with the decrease of systolic and diastolic blood pressure.Keywords: leaflets, medication reminder chart, adherence, blood pressureIntisari Latar belakang: Kepatuhan pengobatan merupakan faktor penting yang mempengaruhi pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi. Intervensi dalam pelayanan kefarmasian diketahui dapat meningkatkan kepatuhan pengobatan dan menurunkan tekanan darah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh PIO (PIO) menggunakan media leaflet disertai pemberian MRC terhadap tingkat kepatuhan pasien dan penurunan tekanan darah.Metode: Desain penelitian berupa quasi-experimental dengan pre-test dan post-test design with control group. Subjek penelitian pada tiap kelompok intervensi (n=20) dan kelompok kontrol (n=20). Kepatuhan pasien diukur menggunakan kuesioner MGLS pada awal penelitian dan empat minggu setelah intervensi. Uji-t berpasangan digunakan untuk menganalisis perbedaan kepatuhan sebelum dan sesudah intervensi, sedangkan perbedaan kepatuhan dan perubahan tekanan darah antara kelompok intervensi dan kontrol dianalisis dengan uji mann-whitney.Hasil: Hasil penelitian memperlihatkan ada perbedaan kepatuhan yang signifikan antara sebelum dan sesudah mendapatkan intervensi (p<0,001). Selain itu, tingkat kepatuhan minum obat antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi juga berbeda signifikan (p<0,001), sedangkan penurunan tekanan darah sistolik (p=0,396) dan tekanan darah diastolik (p=0,564) pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan yang signifikan.  Kesimpulan: PIO menggunakan media leaflet disertai pemberian MRC mempengaruhi tingkat kepatuhan minum obat pasien, namun tidak memberikan pengaruh terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik.Kata kunci: leaflet, medication reminder chart, kepatuhan, tekanan darah

Page 1 of 2 | Total Record : 20