cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Farmasi
ISSN : 16938666     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JIF merupakan jurnal yang dikelola oleh Prodi Farmasi Universitas Islam Indonesia, dan diterbitkan dua kali dalam setahun. Jurnal ini dirancang sebagai sarana publikasi penelitian yang mencakup secara rinci sejumlah topik dalam bidang farmasi yang berkaitan dengan farmasi sains dan teknologi serta klinik dan komunitas. Jurnal ini menyediakan sebuah forum sebagai sarana pertukaran gagasan dan dan informasi antar peneliti, akademisi dan praktisi sehingga diharapkan mampu mendukung dan menginisiasi berbagai penelitian terkini yang terkait dengan ilmu kefarmasian. Hasil penelitian yang disajikan dalam jurnal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu di bidang farmasi dan kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
Correlation between potassium administration and resolution in patients with diabetic ketoacidosis Rina Oktaviani; Zullies Ikawati; Nanang Munif Yasin
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 17 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol17.iss2.art3

Abstract

Abstract  Background: Diabetic ketoacidosis (DKA) is a life-threatening complication of acute diabetes mellitus (DM). Insulin is one of the therapies for DKA, which can reduce potassium levels by shifting potassium from extracellular to intracellular. Consequently, early administration of potassium is important in the resolution of DKA.Objective: To determine the correlation between potassium administration and resolution in patients with DKA and the factors affecting such resolution.Methods: An observational study was employed with a retrospective cohort design for inpatients with a diagnosis of DKA during the period of January 2015-August 2020 at Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta. Appraisal of the resolution of DKA variable was based on the achievement of blood glucose targets, followed by 2 criteria of serum bicarbonate, pH, and anion gap during 24 hours of therapy. This study involved 55 patients divided into groups with potassium administration and without potassium administration. Data were analyzed using the chi-square test and multivariate logistic regression.Results: The resolution of DKA achieved in less than equal to 24 hours in the group with potassium was 48.5% (16 patients) while it was 18.2% (4 patients) without potassium. Based on the chi-square analysis, there was a relationship between potassium administration and the resolution of DKA (p=0.045; RR=2.667; 95%CI=1.028-6.920). The multivariate analysis showed that the severity and history of DM were positively related to the resolution of DKA (p=0.025; OR: 8.901; 95%CI=1.318-60.123 and p=0.017; OR: 0.090; 95%CI=0.012-0.652).Conclusion: Potassium administration resulted in 48.5% of the DKA patients achieving a resolution in less than equal to 24 hours from the commencement of DKA therapy. The severity and history of DM became the factors that affected the resolution of DKA.Keywords: diabetic ketoacidosis, potassium, resolution Intisari  Latar belakang: Ketoasidosis diabetik (KAD) adalah komplikasi akut diabetes melitus (DM) yang mengancam jiwa. Insulin merupakan salah satu terapi KAD, yang dapat menurunkan kadar kalium dengan cara memindahkan kalium dari ekstraseluler ke intraseluler, sehingga pemberian awal terapi kalium berperan penting dalam resolusi KAD.Tujuan: Mengetahui hubungan pemberian kalium dengan resolusi pada pasien KAD dan faktor yang mempengaruhi resolusi.Metode: Penelitian observasional dengan rancangan kohort retrospektif pada pasien rawat inap dengan diagnosis KAD periode Januari 2015–Agustus 2020 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Penilaian variabel resolusi KAD adalah ketercapaian target glukosa darah, diikuti 2 kriteria dari serum bikarbonat, pH, dan anion gap selama 24 jam terapi. Penelitian melibatkan 55 pasien yang terbagi ke dalam kelompok pemberian kalium dan tanpa pemberian kalium. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dan multivariate logistic regression.Hasil: Resolusi KAD yang dicapai selama kurang dari sama dengan 24 jam pada kelompok dengan pemberian kalium sebesar 48,5% (16 pasien) dan 18,2% (4 pasien) tanpa pemberian kalium. Berdasarkan analisis chi-square, terdapat hubungan antara pemberian kalium dengan resolusi KAD (p=0,045; RR=2,667; 95%CI=1,028-6,920). Hasil analisis multivariat menunjukkan derajat keparahan dan riwayat DM berhubungan positif terhadap resolusi KAD (p=0,025; OR=8,901; 95%CI=1,318-60,123 dan p=0,017; OR=0,090; 95%CI=0,012-0,652).Kesimpulan: Pemberian kalium menghasilkan 48,5% pasien KAD yang mencapai resolusi kurang dari sama dengan 24 jam dari awal terapi KAD dimulai. Derajat keparahan dan riwayat DM merupakan faktor yang mempengaruhi resolusi KAD.Kata kunci: ketoasidosis diabetik, kalium, resolusi 
Flavonoid compounds of tapak liman plant (Elephantopus scaber) as antihyperuricemia Neni Sri Gunarti; Himyatul Hidayah
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art4

Abstract

Abstract   Background: Hyperuricemia is a condition where uric acid levels in the blood increase more than 6 mg/dL. Tapak liman (Elephantopus scaber) contains flavonoid compounds that are reported to inhibit the activity of the xanthine oxidase enzyme that causes hyperuricemia. Several Asteraceae tribes have activity as antihyperuricemia, one of which is the tapak liman plant (E. scaber) because of the compounds contained in the flavonoid group which has a working mechanism as an inhibitor of the xanthine oxidase enzyme.Objective: To determine the types of flavonoid compounds in tapak liman (E. scaber) plants that have antihyperuricemic activity.Method: This research is qualitative research using Literature Review Article (LRA) using Google Scholar, PubMed, ResearchGate, and Science direct databases with keywords related to the research topic, namely "Elephantopus scaber, antihyperuricemia, tapak liman, xanthine oxidase, flavonoids".Results: Compounds from the flavonoid group in tapak liman that have the potential as antihyperuricemia are luteolin compounds, luteolin-7-glucoside, quercetin, and rutin with the mechanism of inhibiting the activity of the xanthine oxidase enzyme.Conclusion: compounds from the flavonoid group in tapak liman that have the potential as antihyperuricemic compounds are luteolin, luteolin-7-glucoside, quercetin, and rutin.Keywords: Elephantopus scaber, antihyperuricemia, tapak liman, xanthine oxidase, flavonoids Intisari  Latar belakang: Hiperurisemia merupakan suatu kondisi terjadinya peningkatan kadar asam urat dalam darah lebih dari 6 mg/dL. Tapak liman (E. scaber) mengandung  senyawa flavonoid yang dilaporkan dapat menghambat aktivitas enzim xantin oksidase penyebab hiperurisemia. Beberapa suku Asteraceae memiliki aktivitas sebagai antihiperurisemia, salah satunya adalah tanaman tapak liman (E. scaber) karena adanya senyawa yang terkandung yaitu golongan flavonoid yang memiliki mekanisme kerja sebagai inhibitor enzim xanthin oksidase.Tujuan: Mengetahui jenis-jenis senyawa flavonoid dalam tanaman tapak liman (E. scaber) yang memiliki aktifitas sebagai antihiperurisemia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan Literature Review Article (LRA) menggunakan database Google Scholar, PubMed, ResearchGate dan Science direct dengan kata kunci yang berkaitan dengan topik penelitian, yaitu “Elephantopus scaber, antihiperurisemia, tapak liman, xantin oksidase, flavonoid”.Hasil: Senyawa golongan flavonoid pada tapak liman yang berpotensi sebagai antihiperurisemia yaitu senyawa  luteolin, luteolin-7-glukosida, kuersetin, dan rutin dengan mekanisme menghambat aktivitas enzim xantin oksidase.Kesimpulan: Senyawa golongan flavonoid pada tapak liman yang berpotensi sebagai antihiperurisemia yaitu senyawa  luteolin, luteolin-7-glukosida, kuersetin, dan rutinKata kunci : Elephantopus scaber, antihyperuricemia, tapak liman, xanthine oxidase, flavonoid
DRUG RELATED PROBLEMS PAOA PENATALAKSANAAN PASIEN STROKE 01 INSTALASI RAWAT INAP RSAL OR RAMELAN SURABAYA PERIOOE 1 SEPTEMBER m 31 OKTOBER 2006 Bangunawati Rahajeng; Widyati Widyati; Zullies Ikawati
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 8 No. 2 (2011)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Stroke merupakan penyakit yang memerlukan perawatan jangka panjang sehingga untuk mendapatkan therapeutic outcome yang baik perlu kerjasama antara dokter, perawat, apoteker, pasien, dan keluarga pasien. Kejadian drug related problems sangat umum terjadi pada pasien rawat inap yang berisiko meningkatkan kesakitan, kematian, dan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri kejadian DRPs pada pasien stroke rawat inap dan untuk mengetahui apakah terjadi DRPs pada penatalaksanaan pasien stroke rawat inap di RSAL Dr Ramelan Surabaya periode 1 September - 31 Oktober 2006. Penelitian dilakukan dengan rancangan studi cross sectional yang dikerjakan secara prospektif terhadap suatu populasi terbatas, yaitu seluruh pasien stroke rawat inap di RSAL Dr. Ramelan Surabaya periode 1 September - 31 Oktober 2006. Data pasien stroke rawat inap didapat dari poli saraf dan UGo, kemudian dilakukan pencatatan status pasien dari rekam medik di bangsal rawat inap. Kekurangan rekam medik dilengkapi dengan melihat catatan perawat, melihat kondisi pasien langsung dengan mengikuti visite dokter, dan wawancara pasien atau keluarga pasien. Data yang diperoleh dilakukan kajian DRPs dengan acuan guidelines stroke yang ada, dihitung persentasenya. Sebanyak 102 dari 109 pasien memenuhi kriteria inklusi. Pad a 102 pasien didapat 67 pasien mengalami DRPs (65,69 %) dan 35 pasien tidak mengalami DRPs (34,31 %). Jenis DRPs yang terjadi adalah drug needed 27 pasien (22,50 %), wrong drug/innappropriate drug 32 pasien (26,67 %), wrong dose 26 pasien (21,67 %), adverse drug reaction 16 pasien (13,33 %), drug interaction 19 pasien (15,83 %). Kata kunci: drug related problems, stroke  
Anti-hypercholesterolemic activity of herbal juice with shelf life of 50 and 100 days in male rats induced by PTU and high-fat diet Sari Meisyayati; Ade Arinia Rasyad; Frelis Setya Nanda; Ayu Lestari; Alex Ferianto; Rizki Wahyudi
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art5

Abstract

AbstractBackground: Herbal juice with the composition of rosella flower, garlic, red ginger, dan lime extract, apple cider vinegar andhoney has been proven to be effective as an anti-hypercholesterolemia and has a high level of safety through acute and sub chronic toxicity tests that have been carried out. To be marketed, it is also necessary to know how long this herbal juice formula preserve its antihyperlipidemic effect during the storage process.Objective: This study was aimed to examine the effectiveness of herbal juice stored for 50 days and 100 days in PTU-induced rats and high-fat diet.Methods: This test used 6 groups of animals consists of group I (Na CMC 0.5%/negative control), group II (fresh herbal juice), group III (herbal juice stored 50 days at room temperature), group IV (herbal juice stored for 50 days at cold temperatures), group V (herbal juice stored for 100 days at room temperature), and group VI (herbal juice stored for 100 days at cold temperatures). The dosage of the test preparation was 5.4 ml/kg given once a day for 10 days. Induction was carried out using PTU ad libitum and high-fat diet twice a day for 10 days. Measurement of serum total cholesterol levels was carried out on day 0 and 11 using the CHOD-PAP method.Results: Groups II and IV could reduce cholesterol significantly compared to the negative control group (p<0.05), while the other groups could increase blood cholesterol level.Conclusion: Herbal juice showed effectiveness as anti-hypercholesterolemia in male white rats after being stored for 50 days and 100 days. Shelf life and temperature do not reduce its activity.Keywords:anti-hypercholesterolemia, herbal juice, shelf life, temperatureIntisariLatar belakang:Jus herbal dengan komposisi sari bunga rosella, bawang putih, jahe merah, jeruk nipis, cuka apel dan madu telah terbukti efektif sebagai antihiperkolestrolemia dan memiliki tingkat keamanan yang tinggi melalui uji toksisitas akut dan subkronik yang telah dilakukan. Untuk dapat dipasarkan, perlu pula diketahui seberapa lama formula jus herbal ini mampu mempertahankan efek antihiperlipidemianya selama proses penyimpanan.Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas jus herbal yang disimpan 50 hari dan 100 hari pada tikus yang diinduksi PTU dan pakan tinggi lemak.Metode:Pengujian ini menggunakan 6 kelompok hewan perlakuan yang terdiri dari kelompok I (NaCMC 0,5%/kontrol negatif), kelompok II (jus herbal segar), kelompok III (jus herbal yang disimpan 50 hari suhu kamar), kelompok IV (jus herbal yang disimpan 50 hari suhu dingin), kelompok V (jus herbal yang disimpan 100 hari suhu kamar), dan kelompok VI (jus herbal yang disimpan 100 hari suhu dingin). Dosis sediaan uji 5,4 ml/kgbb yang diberikan satu kali sehari selama 10 hari. Induksi dilakukan dengan pemberian PTU ad libitum dan pakan tinggi lemak 2x sehari selama 10 hari. Pengukuran kadar kolesterol total serum dilakukan pada hari ke-0 dan ke-11 dengan metode CHOD-PAP.Hasil:Kelompok II dan IV dapat menurunkan kolesterol secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol negatif (p<0,05), sementara kelompok lain mengalami peningkatan kadar kolesterol darah.Kesimpulan: Jus herbal menunjukkan efektivitas sebagai antihiperkolesterolemia pada tikus putih jantan setelah disimpan selama 50 hari dan 100 hari. Masa simpan dan suhu tidak mengurangi aktivitasnya.Kata kunci :antihiperkolesterolemia, jus herbal, masa simpan, suhu
The identification of drug related problems (DRPs) using profilaxis antibiotics in orthopedic surgical patients at a Government Hospital in Yogyakarta Happy Elda Murdiana
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 17 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol17.iss2.art10

Abstract

Background: Antibiotic prophylaxis in orthopedic surgery cases aims to prevent surgery site infections (SSI). For antibiotic prophylaxis, it is recommended to use the first generation of cephalosporin, namely cefazolin which can kill the bacteria commonly found in orthopedic surgery infection. The prophylactic administrationof cefotaxime is not the first line but is definitive for surgical prophylaxis.Objective: The aim of this study was to determine the rationale for the use of antibiotic prophylaxis for orthopedic surgery, the drug problems (DRPs) that occurred and their potential interactions.Method: This study was conducted using a cross sectional design with a total sampling technique of medical record samples from January to February 2019 at the Government Hospital in Yogyakarta. Observational analytical descriptive data processing by ensuring the appropriate of indications, route of administration,timing of administration and an appropriate of prophylactic doses as well as how to compare DPRs to the literature and analysis of potential co drug interaction with Drug Information Handbook (DIH), AHFS Clinical Drug Information, Drug Interaction Facts, and Interactions Stockley’s Drug Interaction.Results: All patients received appropriate therapy for indication, type of drug, routes of administration for pre and postoperative. All patients received an under dose of ranitidine and 1 patient (1,69%) received an over dose of piracetam. Potential interactions that occur include ketorolac-ranitidine, NSAIDs with other NSAIDs, NSAIDs-ranitidine, NSAIDs-ACEi, NSAIDs-bisoprolol, bisoprolol-calcium, calcium-vitamin C, and paracetamol-ranitidine.Conclusion: Pre and postoperative prophylactic antibiotics are rational. The accompanying drug, ranitidine and piracetam were not properly doses. Drug interactions in this study are potential.Keywords: prophylaxis antibiotic, orthopedic surgery, cefotaxim, DRPs IntisariLatar belakang: Profilaksis antibiotic pada kasus bedah ortopedi bertujuan mencegah timbulnya Infeksi Luka Operasi (ILO). Profilaksis antibiotik untuk bedah disarankan menggunakan sefalosporin generasi pertama yaitu cefazolin yang dapat membunuh bakteri s. aureus yang biasa terdapat pada infeksi bedah ortopedi. Pemberian profilaksis cefotaxim bukan lini pertama tetapi direkomendasikan untuk profilaksis bedah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui kerasionalan (DRPs) penggunaan antibiotik profilaksis bedah ortopedi dan obat penyerta yang diberikan.Metode: Penelitian ini menggunakan metode rancangan cross sectional, teknik total sampel dilakukan dalam pengambilan sampel rekam medis bulan Januari–Februari 2019 di Rumah Sakit Pemerintah di Yogyakarta. Pengolahan data deskriptif analitik observasional dengan menganalisa ketepatan indikasi, jenis obat, rute pemberian, waktu pemberian dan ketepatan dosis antibiotic profilaksis serta obat penyerta dengan cara membandingkan DRPs terhadap literatur dan menganalisa potensi interaksi obat penyerta dengan buku Drug Information Handbook (DIH), AHFS Clinical Drug Informaton, Interaction Drug Fact, dan Stockley’s Drug Interaction.Hasil: Semua pasien mendapatkan terapi tepat indikasi, jenis obat, rute pemberian, dan tepat dosis pemberian obat untuk pre dan paska pembedahan. Semua pasien menerima dosis kurang untuk terapi penyerta ranitidin dan 1 pasien (1,69%) menerima piracetam dosis berlebih. Potensial interaksi yang terjadimeliputi ketorolak-ranitidin, NSAID dengan NSAID lain, NSAID-ranitidin, NSADI ACEI, NSAID-bisoprolol, bisoprolol-kalsium, kalsium-vitamin C, dan paracetamol-ranitidinKesimpulan: Pemberian antibiotik profilaksis pra dan paska pembedahan rasional. Obat penyerta berupa ranitidin dan piracetam tidak tepat dosis. Interaksi obat pada penelitian ini bersifat potensial.Kata kunci: antibiotik profilaksis, bedah ortopedi, cefotaxim, DRPs
Optimization of cardamom fruit ethanol extract gel with combination of HPMC and Sodium Alginate as the gelling agent using Simplex Lattice Design Wati Eliana Putri; Metha Anung Anindhita
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art13

Abstract

AbstractBackground: Cardamom has been studied and proven to be effective as an antibacterial. Gel preparations are preferred because they have advantages such as being easy to apply, providing a cooling effect, and being able to deliver drugs well.Objective: The purpose of this study was to make a gel formulation of ethanolic cardamom fruit extract by optimizing the combination of the gelling agent of HPMC and sodium alginate using the simplex lattice design (SLD).Methods: Cardamom fruit extract was obtained by extracting cardamom fruit simplicia using 70% ethanol. The formulation of the gel preparation from cardamom fruit extract was optimized using the SLD method on Design Expert. There were 5 gel formulas made and evaluated including organoleptic, pH, viscosity, spreadability, and adhesion. The independent variables in SLD were the amount of HMC and sodium alginate, while the responses included viscosity, spreadability, and adhesion. Optimal formula selection is done by using a numerical approach.Results: FI (HPMC 3.75% and sodium alginate 2.75%) and FII (HPMC 3.50% and sodium alginate 3.00%) met the test criteria for all the tests performed. The optimal formula suggested by SLD is a combination of 3.53% HPMC and 2.98% sodium alginate with a desirability value of 1.00. The predicted value for each response was the viscosity of 214.83 dPa.s, dispersion of 5.38 cm, and adhesion of 50.08 seconds. The optimal formula showed a dispersion value of 5.37cm. The results of the t-test indicated that the dispersion value of the observed results is not significantly different from the prediction software.Conclusion: Based on this research, it can be concluded that the use of a combination of HPMC and sodium alginate as a gelling agent can be optimized by using a simplex lattice design to obtain the optimum formula for cardamom fruit extract gel.Keywords: gel, hpmc, sodium alginate, SLD, kapulaga IntisariLatar Belakang: Kapulaga telah diteliti dan terbukti dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri. Sediaan gel disukai karena memiliki keunggulan antara lain mudah merata bila dioleskan, memberikan efek dingin serta dapat menghantarkan obat dengan baik.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi sediaan gel ekstrak buah kapulaga dengan mengoptimasi penggunaan kombinasi gelling agent HPMC dan natrium alginat menggunakan metode Simplex Lattice Design (SLD). Metode: Ekstrak buah kapulaga diperoleh dengan mengekstraksi simplisia buah kapulaga menggunakan etanol 70%. Formulasi sediaan gel dari ekstrak buah kapulaga dioptimasi menggunakan metode SLD pada Design Expert. Terdapat 5 formula gel yang dibuat dan dievaluasi meliputi organoleptis, pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Variabel bebas pada SLD adalah jumlah HMC dan natrium alginat, sedangkan responnya meliputi viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Pemilihan formula optimum dilakukan menggunakan pendekatan numerical.  Hasil: FI (HPMC 3,75% dan natrium alginat 2,75%) dan FII (HPMC 3,50% dan natrium alginat 3,00%) memenuhi kriteria uji semua pengujian yang dilakukan. Formula optimal yang disarankan SLD adalah kombinasi HPMC 3,53% dan natrium alginat 2,98% memiliki desirability 1,00 dengan prediksi viskositas bernilai 214,83 dPa.s, daya sebar bernilai 5,38 cm, dan daya lekat 50,08 detik. Pengujian terhadap formula optimal hasil optimasi SLD menunjukkan nilai daya sebar 5,37cm sesuai dengan nilai respon pada SLD. Hasil uji-t menunjukkan nilai daya sebar hasil observasi tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan prediksi software.Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan variasi HPMC dan natrium alginat sebagai gelling agent dalam formula gel ekstrak buah kapulaga dapat dioptimasi menggunakan simplex lattice design.Kata kunci : gel, hpmc, natrium alginat, SLD, kapulaga 
Anti-inflammatory activity of the topical formulation of Drymoglossum piloselloides (L) Presl. extract on mice Putu Era Sandhi Kusuma Yuda; Ni Putu Dewanty Suwirtawati; Ni Luh Kade Arman Anita Dewi
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 17 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol17.iss2.art4

Abstract

Background: Chronic inflammation of the joints that occur in the condition of gout or osteoarthritis and rheumatoid arthritis often causes repeated inflammation which requires patients to take a long-term pain medication, leading to serious side effects. Alternative treatment especially from herbal ingredients in a topical form is needed.Objective: This study aims to evaluate the anti-inflammatory activity of the leaves extract of Drymoglossum piloselloides (L) Presl. in mice to prove their potential as an anti-inflammatory agent.Methods: Mice were divided into four groups (n=7), namely positive control (sodium diclofenac emulgel), negative control (placebo), P1 (emulgel extract 2.5%), and P2 (emulgel extract 5%). The anti-inflammatory activity test was carried out on mice with carrageenan-induced paw edema by measuring the relative changes in the volume of inflammation at 0 and 3 hours after treatment. Data were analyzed using the Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests with a confidence level of 95%.Results: The emulgel contained flavonoids, triterpenoids, steroids, tannins, and quinones. The anti-inflammatory test showed a significant inhibition of inflammation (p <0.05) at concentrations of 2.5% and 5%. This anti-inflammatory activity could be influenced by the phytochemical compounds contained in the emulgel.Conclusion:Drymoglossum piloselloides (L) Presl. emulgel at concentrations of 2.5% and 5% had an anti-inflammatory activity on mice with carrageenan-induced paw edema.Keywords: inflammation, Drymoglossum piloselloides (L) Presl., emulgelIntisari Latar belakang: Peradangan kronis pada persendian dapat terjadi pada kondisi gout ataupun osteoartritis dan rheumatoid arthritis (RA) sering kali menimbulkan inflamasi berulang yang mengharuskan pasien mengkonsumsi obat nyeri atau anti-inflamasi nonsteroid dan kortikosteroid dalam waktu lama sehingga dapat menimbulkan efek samping yang serius, sehingga diperlukan alternatif pengobatan yang relatif lebih aman terutama dari bahan herbal dalam bentuk topikal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antiinflamasi emulgel ekstrak daun paku sisik naga (Drymoglossum piloselloides (L) Presl.) pada mencit untuk membuktikan potensinya sebagai anti-inflamasi.Metode: Mencit dibagi empat kelompok (n=7) yaitu kontrol positif (emulgel natrium diklofenak), kontrol negatif (placebo), P1 (emulgel ekstrak konsentrasi 2,5%) dan P2 (emulgel ekstrak konsentrasi 5%). Selanjutnya dilakukan pengujian anti-inflamasi pada mencit paw edema yang diinduksi karagenan dengan mengukur perubahan volume peradangan kaki mencit pada jam ke-0 dan jam ke-3 setelah perlakuan. Data selanjutnya dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney dengan taraf kepercayaan 95%.Hasil: Hasil uji aktivitas anti-inflamasi menunjukan adanya penghambatan peradangan yang signifikan (p<0,05) baik pada konsentrasi 2,5% maupun maupun 5% pada jam ke-3. Kesimpulan:Emulgel ekstrak daun paku sisik naga konsentrasi 2,5% dan 5% memiliki aktivitas anti-inflamasi pada paw edema mencit yang diinduksi karagenan.Kata kunci : inflamasi, Drymoglossum piloselloides (L) Presl., emulgel
Sub chronic toxicity effect of combination of herbal juice on the function and 2 histopathology feature of male Wistar rat liver Ade Arinia Rasyad; Aisah Aisah; Lidia Lidia; Sari Meisyayati
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art14

Abstract

Abstract Background: Previously, the activity test of the combination herbal juice of garlic, rosella flower, red ginger, lime, apple cider vinegar, and honey, combined herbal juice can lower blood sugar [1] and can reduce total cholesterol levels [11]. In the use of traditional medicine and its effectiveness, its safety must also be proven before herbal juices are circulated in the communityObjective: This study was to determine the subacute hepatotoxic effect of the combination herbal juiceMethod: This research is an experimental study using 24 rats divided into four groups. Namely, the control group was given distilled water, and the group was given the combination herbal juice at a dose of 28, 14, and 7 mg/kg BW/day for 28 days. The measurement parameters were the increased activity of SGOT and SGPT and histopathological features of liver cells. The data were statistically analyzed with one-way ANOVA analysisResults: The administration of combination herbal juice for 28 days at a dose of 28, 14, and 7 mg/kg BW/day did not increase SGOT activity but caused a significant decrease in SGPT levels, namely by 20.34%, 19.39%, and 15.30%. From the histopathological picture of liver cells, at a dose of 28 mg/kg BW/day, there was no histopathological damage to liver cellsConclusion: Subacute administration of combined herbal juice did not cause hepatotoxicity in Wistar male white ratsKeywords: Combination herbal juice, subacute toxicity, histopathology, SGOT, and SGPT Intisari Latar belakang: Telah dilakukan sebelumnya uji aktivitas dari jus herbal kombinasi bawang putih, bunga rosella, jahe merah, jeruk nipis cuka apel dan madu,  jus herbal kombinasi dapat menurunkan gula darah  [1] dan dapat menurunkan kadar kolesterol total [11]. Dalam penggunaan obat tradisional, selain efektifitasnya, keamanannya pun harus dibuktikan sebelum jus herbal beredar dimasyarakatTujuan: Penelitian ini untuk mengetahui efek hepatotoksik sub akut dari jus herbal kombinasiMetode: Penelitian ini bersifat eksperimental menggunakan 24 ekor tikus yang terbagi dalam 4 kelompok. yaitu kelompok kontrol yang diberi akuades dan kelompok yang diberi jus herbal kombinasi dengan dosis 28, 14 dan 7 mg/kgBB/hari selama 28 hari. Parameter pengukuran adalah peningkatan aktivitas SGOT dan SGPT serta gambaran histopatologi sel hati. Data dianalisa secara statistik dengan  analisa ANOVA satu arahHasil: Pemberian jus herbal kombinasi selama 28 hari dengan dosis 28, 14 dan 7 mg/kgBB/hari tidak menyebabkan peningkatan aktifitas SGOT  tetapi menyebabkan penurunan kadar SGPT secara signifikan yaitu sebesar 20,34 %, 19,39 % dan 15,30 %. Dari gambaran histopatologi sel  hati, dosis 28 mg/kggBB/hari tidak ditemukan kerusakan histopatologi sel hatiKesimpulan: Pemberian subakut jus herbal kombinasi tidak menyebabkan hepatotoksik pada  tikus putih jantan galur wistarKata kunci : Jus herbal kombinasi, toksisitas subakut, histopatologi, SGOT, dan SGPT
TINGKAT PERESEPAN ANTIBIOTIK DI PUSKESMAS KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA SELAMA TAHUN 2004-2008 Saepudin Saepudin
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 8 No. 2 (2011)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKBeberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa peresepan oba! di puskesmas cenderung berlebih, salah satunya adalah antibiotik. Permasalahan yang potensial terjadi akibat penggunaan antibiotik yang berlebihan adalah pesatnya pertumbuhan bakteri-bakteri yang resisten, di samping potensi terjadinya efek yang tidak dikehendaki dan bertambahnya beban biaya kesehatan yang harus ditanggung baik oleh pasien maupun pemerintah. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat peresepan antibiotik di puskesmas yang berada di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selama tahun 2004 - 2008. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data penggunaan antibiotik dari 5 (lima) puskesmas yang dipilih secara purposive sampling.Data penggunaan antibiotik setiap puskesmas untuk lima tahun selama tahun 2004 - 2008 diperoleh dari unit farmasi puskesmas, meliputi data jenis antibiotik, bentuk sediaan, serta jumlah penggunaan. Kuantitas penggunaan antibiotik selanjutnya dihitung dalam satuan DDD/1000 kunjungan pasien rawat jalan (DDD/1000KPRJ) berdasarkan metode ATC/DDD yang direkomendasikan WHO, dan selanjutnya dihitung persentase peresepan antibiotik berdasarkan persentase pasien rawat jalan yang mendapatkan resep antibiotik, menggunakan asumsi peresepan antibiotik untuk setiap pasien adalah 5 (lima) hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik di kelima puskesmas selama tahun 2004 - 2008 menunjukkan pola yang hampir seragam dalam hal jenis antibiotik dan kuantitas penggunaan untuk setiap jenis antibiotik. Namun demikian terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal total kuantitas antibiotik yang digunakan selama tahun 2004 - 2008 dan juga rata-rata peresepan antibiotik. Selama tahun 2004 - 2008 rata-rata tingkat peresepan antibiotik di kelima puskesmas berkisar antara 13,6 % sampai 21,2 %, dan jenis antibiotik yang diresepkan relatif sama di antara kelima puskesmas tersebut. Kata kunci: antibiotik, ATC/DDD, DDD/1000KPRJ, puskesmas ABSTRACTAs bacterial resistance to antibiotics became a major public-health problem, antibiotic use is increasingly recognised as the main selective pressure driving this problem. Some researchs reported a high rates of antibitic prescription in primary care, espesially for respiratory tract infections. To combate antibiotic resistance, monitoring of antibiotic prescription should accompany other surveillance programmes. However, data for antibiotic prescriptions are often scarce and not freely available. This research was aimed to know antibiotic prescription rates at primary health center (PHC) in Sleman Yogyakarta during 2004 - 2008. Data of antibiotic use obtained from pharmacy unit of 5 PHCs in Sleman Yogyakarta, and the PHCs were selected purvosively based on data availabilty throughout the study periods. Antibioticutilization was retrieved including name, dosage form, and quantity of use. The quantity of antibiotics use finally expressed as the number of defined daily dose (DDD) per 1000 admissions based on 2003 ATC/DDD guideline released by WHO Collaborating Centre for Drug Statistics Methodology, and then antibiotic prescription rates for each PHC was calculated using the number of DDD per 1000 admissions based an assumption that at the PHCs systemic antibiotics were prescribed for 5 days. Antibiotic utilization for each PHC was compared for each year during 2004 - 2008 including total number of antibiotics agents used, total quantity of antibiotics used, and also antibiotics prescription rates. During 2004 - 2008, average of antibiotic prescription rates in the 5 PHCs range from 13.6 % to 21.2 %, and the item of used antibiotics were relatively same among the PHCs. Keywords: antibiotic, ATC/DDD, prescription, primay health center 
The effect of drug information service using leaflet media and medication reminder chart on adherence and blood pressure of hypertensive patients in primary health care Yopi Rikmasari
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art6

Abstract

Abstract Background: Treatment adherence is an important factor affecting blood pressure control in hypertensive patients. Intervention in pharmacy service can improve medication adherence and lower blood pressure.Objective: This study aimed to evaluate the effect of drug information service using leaflets and MRC on the level of patient compliance and lowering blood pressure.Method: The research design was a quasi-experimental pre-and post-design with control, the intervention group (n=20), and the control group (n=20). The patient adherence was measured using the MGLS questionnaire at the beginning and the end of the study. The intervention was performed by distributing a drug information leaflet and medication reminder chart (MRC). The differences of adherence pre and post-intervention were analyzed using paired t-test, while the differences in adherence and blood pressure between the control and the intervention group were analyzed using the Mann-Whitney test.Results: The results showed that there was a significant difference in adherence between pre and post-intervention (p<0.001). A significant difference was also found in the level of adherence between the control group and the intervention group (p<0.001). Whereas the decrease of systolic (p=0.396) and diastolic (p=0.564) blood pressure in the intervention group and control group was not different significantly.Conclusion: Drug information services using leaflets and MRCs affected patient adherence to medication, but did not interfere with the decrease of systolic and diastolic blood pressure.Keywords: leaflets, medication reminder chart, adherence, blood pressureIntisari Latar belakang: Kepatuhan pengobatan merupakan faktor penting yang mempengaruhi pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi. Intervensi dalam pelayanan kefarmasian diketahui dapat meningkatkan kepatuhan pengobatan dan menurunkan tekanan darah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh PIO (PIO) menggunakan media leaflet disertai pemberian MRC terhadap tingkat kepatuhan pasien dan penurunan tekanan darah.Metode: Desain penelitian berupa quasi-experimental dengan pre-test dan post-test design with control group. Subjek penelitian pada tiap kelompok intervensi (n=20) dan kelompok kontrol (n=20). Kepatuhan pasien diukur menggunakan kuesioner MGLS pada awal penelitian dan empat minggu setelah intervensi. Uji-t berpasangan digunakan untuk menganalisis perbedaan kepatuhan sebelum dan sesudah intervensi, sedangkan perbedaan kepatuhan dan perubahan tekanan darah antara kelompok intervensi dan kontrol dianalisis dengan uji mann-whitney.Hasil: Hasil penelitian memperlihatkan ada perbedaan kepatuhan yang signifikan antara sebelum dan sesudah mendapatkan intervensi (p<0,001). Selain itu, tingkat kepatuhan minum obat antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi juga berbeda signifikan (p<0,001), sedangkan penurunan tekanan darah sistolik (p=0,396) dan tekanan darah diastolik (p=0,564) pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan yang signifikan.  Kesimpulan: PIO menggunakan media leaflet disertai pemberian MRC mempengaruhi tingkat kepatuhan minum obat pasien, namun tidak memberikan pengaruh terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik.Kata kunci: leaflet, medication reminder chart, kepatuhan, tekanan darah