cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Farmasi
ISSN : 16938666     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JIF merupakan jurnal yang dikelola oleh Prodi Farmasi Universitas Islam Indonesia, dan diterbitkan dua kali dalam setahun. Jurnal ini dirancang sebagai sarana publikasi penelitian yang mencakup secara rinci sejumlah topik dalam bidang farmasi yang berkaitan dengan farmasi sains dan teknologi serta klinik dan komunitas. Jurnal ini menyediakan sebuah forum sebagai sarana pertukaran gagasan dan dan informasi antar peneliti, akademisi dan praktisi sehingga diharapkan mampu mendukung dan menginisiasi berbagai penelitian terkini yang terkait dengan ilmu kefarmasian. Hasil penelitian yang disajikan dalam jurnal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu di bidang farmasi dan kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
PENGARUH NATTOKINASE® TERHADAP DAYA KERJA METFORMIN HCl PADA TIKUS JANTAN GALUR WISTAR Vivi Sofia
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 9 No. 2 (2012): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol9.iss2.art1

Abstract

Interaksi obat merupakan masalah yang perlu dicermati. Interaksi yang terjadi kemungkinan dapat menyebabkan perubahan efek farmakologi suatu obat. Interaksi yang terjadi bisa menguntungkan atau merugikan. Nattokinase merupakan produk nutraceutical yang mempunyai efek khusus melancarkan aliran darah. Pada penderita diabetes mellitus, tingginya kadar glukosa darah mengakibatkan viskositas darah menjadi meningkat dan hal ini akan sangat beresiko terhadap laju alir darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian nattokinase terhadap daya kerja metformin HCl dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Wistar. Penelitian ini menggunakan metode uji toleransi glukosa oral dengan pembebanan glukosa dosis 4,5 g/KgBB. Hewan uji yang digunakan yaitu tikus putih jantan galur Wistar umur 2-3 bulan dengan berat badan 180-200 gram, sebanyak 24 ekor yang dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor tikus. Kelompok I sebagai kelompok kontrol negatif diberi aquadest, kelompok II sebagai kelompok kontrol positif diberi metformin HCl dosis 45 mg/kg BB, kelompok III diberi nattokinase dosis 22,5 mg/kg BB , kelompok IV diberi metformin HCl dosis 45 mg/KgBB dengan selang waktu 2 jam setelah pemberian nattokinase dosis 22,5 mg/kg BB secara peroral, 30 menit kemudian semua kelompok perlakuan diberi glukosa. Saat pemberian glukosa dianggap sebagai waktu ke-0. Pengambilan darah melalui sinus orbitalis mata pada menit ke (-60), (-30), 0, 60, 120, dan 180. Kadar glukosa darah diukur dengan alat Blood Glucose Test Meter GlucoDr. Efek penurunan kadar glukosa darah ditunjukkan dengan menghitung nilai LDDK0-300 (Luas Daerah Di bawah Kurva menit ke-0 sampai menit ke-300 dari grafik waktu vs kadar glukosa darah). Data yang didapat diuji statistik dengan uji Levene, uji Kolmogorof-Smirnov, dan uji lanjut dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian metformin HCl 2 jam setelah pemberian nattokinase dapat menurunkan daya kerja metformin HCl sebesar 11,67 %.Kata kunci: diabetes mellitus, efek hipoglikemia, interaksi obat, metformin HCl, nattokinaseABSTRACTInteraction of modern drug and traditional drug is an issue that needs to be examined. Interaction is likely to lead to changes in the pharmacological effect of a drug. Interactions that could occur to advantages or disadvantages. Nattokinase is a nutraceutical product that can be used in conjunction with oral antidiabetic drugs that allows the interaction. This study aims to determine the effect of Nattokinase on Metformin HCl in decreasing of blood glucose levels Male white Wistar rats (Rattus norvegicus) . This study used an oral glucose tolerance test with glucose loading dose of 4.5 g/kg. Animals test used were white male Wistar rats aged 2-3 months weighing 180-200 g, 24 rats that were divided into 4 groups, each group consisted of 6 rats. Group I as a negative control group was given tween 80 – span 80, group II as a positive control group was given metformin HCl doses of 45 mg/kg, group III was given nattokinase dose 300 mg/kgBB, group IV given nattokinase 300 mg/kgBB 2 hour then were given metformin HCl. 30 minutes later all treatment of groups were given glucose. When treatment is considered as a time at-0. The given of glucose is considered as the time at-30. Blood sampling at 0, 30, 60, 120, and 180. Blood glucose levels was measured with the GlukoDr. The effect of decreasingblood glucose levels indicated by the value of LDDK0-180 (Regional Area Under the Curve 0-180 minutes of the graph time vs blood glucose levels). The data were tested statistically by Kruskal-Wallis and Mann Whitney with a level of sigficance 95%. The results showed that administration of Metformin HCl after 1 hour administration Nattokinase decreased 11,67% of metformin HCl.Key words: diabetes mellitus, drug interactions, hypoglicemia effect, metformin, nattokinase
Potential drug interactions analysis of COVID-19 patients at a hospital in West Java Larasati Arrum Kusumawardani; Nisa Maria; Yumna Nabila Fanani
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 17 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol17.iss2.art8

Abstract

Background: Treatment guidelines of COVID-19 are changing continuously by involving many off-label and various symptomatic or supportive drugs. The use of these various drugs might increase the patient’s risk of developing drug interactions.Objective: The study aimed to analyze potential drug-drug interactions in COVID-19 inpatients and the correlated factors.Method: A cross-sectional study was conducted in a hospital by using inpatients admitted from August-December 2020. Potential drug-drug interaction was analyzed by using Lex-Interact® software.Results: From 107 patients, the majority of them are in moderate severity-degree (98.1%), having comorbidities (93.5%), and polypharmacy (98.1%). The average of potential drug interactions was 8.47±8,04, with most of the interaction in risk rating C-monitor therapy. Major potential drug interactions found were prolongation of QT interval and disturbance of drug absorption in the gastrointestinal tract. A positive correlation occurred between drug interactions found and comorbidity (r=0.436), number of drugs per prescription (r=0.674), and length of stay (r=0.222)Conclusions: COVID-19 patient is at risk for developing potential drug interactions that can affect the patient's physiological condition and reduce drug effect. It is necessary to manage the medication schedule, therapy modification, administration route changing, dosage adjustment, and monitoring of effects that might occur because of the drug interactions.Keywords: drug interaction, COVID-19, inpatient, correlated factor IntisariLatar belakang: Tatalaksana pengobatan COVID-19 terus berkembang dengan melibatkan berbagai jenis obat off-label dan berbagai obat terapi simptomatik ataupun suportif. Penggunaan berbagai jenis obat ini membuat pasien berisiko mengalami interaksi obat.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi interaksi antar obat yang dapat terjadi pada pasien COVID-19 rawat inap serta faktor yang mempengaruhinya.Metode: Penelitian dilakukan dengan desain cross-sectional menggunakan sampel pasien rawat inap di rumah sakit pada periode Agustus-Desember 2020. Analisis potensi interaksi antar obat dilakukan dengan menggunakan Lexi-Interact®Hasil: Sebanyak 107 sampel pasien didapatkan mayoritas dalam tingkat keparahan sedang (98,1%), memiliki komorbid (93,5%), dan polifarmasi (98,1%). Rata-rata jumlah potensi interaksi obat yang dialami adalah 8,47± 8,04 dengan tingkat interaksi paling banyak pada kategori C (pantau terapi) (54,61%). Potensiinteraksi obat mayor yang banyak ditemukan adalah adanya perpanjangan pada interval QT serta gangguan absorpsi obat di saluran cerna. Terdapat korelasi positif antara potensi interaksi obat dengan faktor komorbid (r=0,436), jumlah obat per resep (r=0,674), serta lama rawat inap (r= 0,222).Kesimpulan: Pasien COVID-19 memiliki risiko tinggi untuk mengalami potensi interaksi obat yang dapat mempengaruhi kondisi fisiologis pasien dan mengurangi efek terapi obat. Maka dari itu, perlu dilakukan pengaturan waktu minum, modifikasi terapi, perubahan rute pemberian, penyesuaian dosis, serta pemantauan efek obat yang mungkin muncul akibat interaksinya.Kata kunci : interaksi obat, COVID-19, rawat inap, faktor yang mempengaruhi
The risk of Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) and Calcium Channel Blocker (CCB) used on Obstructive Sleep Apnea (OSA) incidence in hypertension patients Fibe Yulinda Cesa; Martanty Aditya; Rehmadanta Sitepu; Dion Notario
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art1

Abstract

AbstractBackground: The administration of angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACEI) and calcium channel blocker (CCB) therapy is known to have a side effect of a dry cough that would trigger OSA. Further research is needed to compare the effect of these two drugs on the side effects of OSA, which could trigger high-risk patient conditions.       Objective: To determine the risk of using ACE and CCB on the incidence of OSA using a case-control study method at Dau Primary Health Center.Methods: Demographic data were collected on 207 respondents aged 40-60 years by collecting Data Collection Sheets and Berlin questionnaires to determine the risk of OSA in respondents. Then, statistical analysis was carried out by determining the odds ratio (OR).Results: The results showed that one of the factors BMI (obese BMI; OR=1.33; 95% CI=0.11-15.70) induces OSA with the highest OR value compared to other factors.Conclusion: Obese patient has a 1.33 times greater risk of OSA with ACEI and CCB therapy than non-obese. It is necessary to conduct further research with a larger sample size related to OSA’s assessment associated with this therapy to improve patients’ quality of life.Keywords: Obstructive sleep apnea, ACE inhibitors, calcium channel blockers, hypertension IntisariLatar belakang: Obtructive Sleep Apnea (OSA) yang terjadi pada pasien hipertensi dapat disebabkan karena efek samping dari penggunaan antihipertensi angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEI) dan calcium channel blocker (CCB), namun analisis hubungan keduanya belum diketahui dengan pasti.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko penggunaan ACE dan CCB terhadap kejadian OSA dengan metode case control study di Puskesmas Dau.Metode: Pengambilan data demografi pada 207 responden usia 40-60 tahun dilakukan dengan mengumpulkan Lembar Pengumpul Data (LPD) dan kuesioner Berlin untuk mengetahui risiko OSA pada responden kemudian dilakukan analisis statistik dengan penentuan odds ratio (OR).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menjalani pengobatan dengan antihipertensi ACEI dan obesitas memiliki risiko lebih besar mengalami OSA (OR=1,33; CI 95%=0,11-15,70)  yaitu 1,33 kali dibandingkan pada pasien yang tidak obesitas.Kesimpulan: Obesitas menjadi factor risiko terhadap kejadian OSA pada pasien hipertensi yang mendapatkan antihipertensi golongan ACEI dan CCB.Kata kunci: Obstructive sleep apnea, ACE inhibitor, calcium channel blocker, hipertensi
Cost consequences analysis of hypertensive outpatients: a study in a private hospital in Yogyakarta special province Dinasari Bekti Pratidina; Fithria Dyah Ayu Suryanegara; Diesty Anita Nugraheni
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 17 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol17.iss2.art2

Abstract

Abstract  Background: Hypertension is a chronic disease that requires long-term treatment and has an impact on the cost of treatment. The costs will be greater given the loss of productivity, family burden, and social life impacted by hypertension based on patient’s perspective.Objective: The purpose of the study was to determine the costs and clinical outcome of antihypertensive therapy from the patient's perspective and to identify the discrepancies between the costs and the INA-CBGs (Indonesia Case Based Groups) tariff.Methods: The research was an observational study with a cross-sectional design. The targeted population was outpatients who had received antihypertensive therapy for at least 1 month at a private hospital in Yogyakarta. The costs included direct medical costs, direct non-medical costs, and indirect costs, while the clinical outcomes were patient’s blood pressure. The descriptive analysis was carried out to describe the characteristics of the research subjects, the clinical outcome, and the cost. Analysis of the discrepancies between the costs and the INA-CBGs tariff used the Mann-Whitney test and One-Sample t-test.Results: The results showed that the average direct medical costs, direct non-medical costs, and indirect costs from the patient’s perspective were IDR359,408.00, IDR24,617.00, and IDR 40,583.00, respectively. There was a significant difference between the real costs and the rate of INA-CBGs based on the results of statistical tests, while the cost discrepancy was IDR5,287,045.00.Conclusion: The direct non-medical costs and indirect costs of hypertensive outpatients were less than the direct medical costs.  A significant difference occurred between the real costs and INA CBG’s tariff.Keywords: hypertension, cost consequences, pharmacoeconomics, patient’s perspectiveIntisari  Latar belakang: Hipertensi termasuk penyakit kronis yang membutuhkan waktu pengobatan panjang dan biaya besar. Biaya akan lebih besar karena pasien kehilangan produktivitas, beban pada kehidupan keluarga dan masyarakat akibat penyakit hipertensi berdasarkan perspektif pasien.Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran biaya dan outcome terapi antihipertensi berdasarkan perspektif pasien serta kesesuaian biaya riil dengan tarif INA-CBGs.Metode: Desain penelitian adalah observasional dengan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian adalah pasien hipertensi rawat jalan di satu rumah sakit swasta Yogyakarta yang menerima terapi antihipertensi selama minimal 1 bulan. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik subjek penelitian, outcome terapi, dan biaya terapi. Analisis kesesuaian biaya riil  dengan tarif INA-CBGs dengan uji statistik Mann Whitney dan One Sample t-test.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rata-rata biaya langsung medis, biaya non medis langsung, dan biaya tidak langsung berdasarkan perspektif pasien berturut-turut adalah Rp.359.408,00; Rp.24.617,00; dan Rp.40.583,00. Outcome terapi tertinggi ditunjukkan antihipertensi tunggal Calcium Channel Blocker (CCB) (60%). Terdapat perbedaan secara statistik antara biaya riil dengan tarif INA-CBGs (p=0,009 dan p=0,004) dan selisih biaya sebesar (Rp.5.287.045,00).Kesimpulan:Biaya nonmedis langsung dan biaya tidak langsung pasien hipertensi rawat jalan tidak sebesar biaya medis langsung. Perbedaan signifikan antara biaya riil dan tarif INACBG’s menjadi bahan evaluasi perbaikan tarif INACBG’s bagi BPJS Kesehatan. Hasil tersebut juga memicu pihak rumah sakit untuk melakukan evaluasi terhadap clinical pathway agar dapat memberikan terapi yang lebih efektif dan efisien.Kata kunci: hipertensi, cost consequences, farmakoekonomi, perspektif pasien
Medication profile and potential drug interactions in diabetes mellitus with hypertension outpatient at RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor Sinta Rachmawati; Fania Pratiwi; Ika Norcahyanti
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art8

Abstract

Abstract  Background: Diabetes mellitus is a metabolic disease, characterized by hyperglycemia. It occurs due to impaired insulin secretion, insulin action, or both. Diabetes mellitus is a chronic disease that is often accompanied by complications, one of which is hypertension, so that drug interactions cannot be avoided.Objective: This study aimed to determine the medication profile and potential drug interactions in diabetes mellitus outpatient with hypertension at RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor.Method: It was a descriptive study. The data was obtained from diabetes with hypertension outpatient in three months (October-December 2020). To analyze potential drug interaction, used drugs.com, Medscape and Stockley for literature.Results: The medication profile showed that insulin aspart (43.84%) and the combination of candesartan and amlodipine (52.05%) were the most used drugs. The most common potential drug interactions were found between insulin and candesartan (73.34%) with moderate severity.Conclusion: Insulin aspart was the most used of antidiabetic. Candesartan plus amlodipine was the most widely used antihypertensive. Both types of drugs (insulin and candesartan) have the potential for drug interactions.Keywords: antidiabetic, antihypertensive, drug interactionIntisari Latar belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia yang disebabkan adanya gangguan sekresi insulin, kerja insulin, ataupun keduanya. Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang sering disertai komplikasi, salah satunya hipertensi, sehingga kejadian interaksi obat tidak dapat dielakkan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pengobatan dan potensi interaksi obat pada pasien rawat jalan yang didiagnosis diabetes melitus komplikasi hipertensi di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif. Data diperoleh dari lembar resep pasien rawat jalan yang didiagnosis diabetes dengan komplikasi hipertensi selama 3 bulan (Oktober-Desember 2020). Analisis potensi interaksi obat menggunakan sumber drugs.com, Medscape dan Stockley sebagai rujukan.Hasil: Profil pengobatan menunjukkan insulin aspart (43,84%) serta kombinasi kandesartan dan amlodipin (52,05%) merupakan obat-obatan yang paling banyak digunakan. Potensi interaksi obat yang paling banyak ditemukan terjadi antara insulin dengan kandesartan sebesar 73,34% dengan tingkat keparahan sedang.Kesimpulan:Insulin aspart adalah antidiabetes yang paling banyak digunakan, sedangkan kandesartan yang dikombinasi dengan amlodipin merupakan antihipertensi yang paling banyak digunakan. Kedua jenis obat tersebut (insulin dan kandesartan) memiliki potensi interaksi obat.Kata kunci : antidiabetes, antihipertensi, interaksi obat
KESESUAIAN PEMILIHAN OBAT PADA PASIEN SIROSIS HEPATIK Vitarani Dwi Ananda Ningrum; Laili Fitriyani
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 8 No. 2 (2011)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sirosis hati adalah penyakit menahun yang mengenai seluruh organ hati, ditandai dengan pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Penyakit ini bersifat irreversible sehingga terapi yang digunakan adalah terapi simptomatis dan pengatasan komplikasi yang terjadi. Pemilihan obat yang tepat menjadi salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam penatalaksanaan terapi pada pasien sirosis hepatik. Pemilihan obat yang tidak tepat dapat mengakibatkan kerusakan hati yang lebih parah. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil terapi serta kesesuaian pemilihan obat yang digunakan. Pengambilan data dilakukan secara cross sectional terhadap data sekunder berupa data rekam medik pasien yang menjalani rawat inap dengan diagnosa primer maupun sekunder sirosis hepatik. Penilaian kesesuaian pemilihan obat berdasarkan referensi yang sesuai. Tujuh puluh delapan dari 155 pasien memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan terapi obat yang digunakan terdiri dari terapi obat untuk penyakit komplikasi dan terapi obat untuk penyakit penyerta. Penyakit komplikasi yang terbanyak adalah varises esophagus dengan terapi obat terbanyak yaitu vitamin K (83,33 %). Penyakit penyerta terbanyak adalah stress ulkus dengan terapi obat terbanyak yaitu sukralfat (43,59 %). Sebanyak 21 pasien (26,92 %) mendapatkan jenis obat yang tidak sesuai. Kategori jenis obat yang tidak sesuai meliputi 25,64 % obat yang bersifat hepatotoksik, 1,28 % obat bersifat sedatif dan mempresipitasi ensefalopati hepatik. Kata kunci: kesesuaian pemilihan obat, rawat inap, sirosis hepatik 
The profile of anxiety, stress, and depression among pharmacy students in Universitas Islam Indonesia Mutiara Herawati; Aldia Dwi Karinaningrum; Yosi Febrianti
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art17

Abstract

Abstract Background: Implementation of the new curriculum is tiresome for both lecturers and students. Students who are passive and have limited cognitive abilities will feel depressed. This condition can cause anxiety leading to stress and ultimately depression. The enhancement of graduation standards for apothecary students rises the depression risk factors, especially for retaker students (students who do not pass the Indonesian Pharmacist Competency Exam).Objective: This study aimed to identify the level of anxiety, stress, and depression among undergraduate pharmacy and pharmacist profession students.Method: This study was a cross-sectional design that employed the students of undergraduate and apothecary programs. Respondents involved in this study were undergraduate students in the 2nd, 3rd, and 4th year (n=451) and professional students from batches 35, 36, and 37 (n=271). The DASS 42 questionnaire (Depression Anxiety Stress Scale) was used to identify depression. The data were analyzed descriptively.Result: The number of respondents who met the inclusion criteria was 668. Most undergraduate students had moderate levels of anxiety, normal stress, and normal depression, while apothecary students had normal profiles for all parameters.Conclusion: The various activities and pressure during the learning process triggered psychological disorders for only 5% of respondents.Keywords: Anxiety, stress, depression, DASS-42 Intisari Latar belakang: Implementasi kurikulum baru sangat menguras pikiran dan tenaga, baik dosen maupun mahasiswa. Bagi mahasiswa yang pasif dan memiliki kemampuan kognitif terbatas akan merasakan kondisi tertekan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kecemasan yang meningkat menjadi stress dan pada akhirnya depresi. Peningkatan standar kelulusan mahasiswa apoteker berpotensi meningkatkan faktor risiko kejadian depresi, terutama bagi mahasiswa retaker (mahasiwa yang tidak lulus Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan, stress, dan depresi mahasiswa S1 farmasi dan profesi apoteker.Metode: Penelitian menggunakan rancangan cross-sectional kepada mahasiswa program studi farmasi dan profesi apoteker. Responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah mahasiswa strata pertama pada tahun ke-2,3, dan 4 (n=451) serta mahasiswa profesi angkatan 35, 36, dan 37 (n=271). Alat yang digunakan untuk mengidentifikasi depresi adalah kuesioner DASS 42 (Depression Anxiety Stress Scale). Data yang diolah secara deskriptif.Hasil: Jumlah responden yang sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 668. Mayoritas mahasiswa S1 memiliki profil tingkat kecemasan sedang, stress normal, dan depresi normal, sedangkan pada mahasiswa profesi apoteker memiliki profil tingkat kecemasan, stress, dan depresi normal. increaseKesimpulan: Dengan berbagai aktivitas dan tekanan selama proses pembelajaran, mayoritas mahasiswa tidak mengalami gangguan psikis, meskipun 5% diantaranya menyatakan mengalami gangguan.Kata kunci : Kecemasan, stress, depresi, DASS-42
The immunomodulatory activity of ethanol extract of attarasa bark and fruit (Litsea cubeba (lour.) pers.) toward carbon clearance of mice (Mus musculus) Vivi Asfianti; Alfi Sapitri; Eva Diansari Marbun
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art20

Abstract

Abstract Background: Attarasa (L.a cubeba (Lour.) Pers.) is a potential Indonesian medicinal plant that is used as a cold remedy, head ulcers, antimicrobials, antioxidants, and anticancer drugs. Objective: This research was conducted to analyze the immunomodulatory effect of bark (EEKBA) and fruit of attarasa ethanolic extract (EEBA) by detecting its phagocytosis activity in male mice using carbon clearance method.Method: Total of 24 male mice were divided into 6 groups. Extract was orally administered to mices for 7 days at the dose of 100 mg/kg BW, 200 mg/kg BW, and 400 mg/kg BW. Imboost® suspension at the dose of 32.5 mg/kg BW and CMC-Na 1 % suspension was orally administered in positive control, negative control and normal groups. On the 8th day, 0.1 ml carbon suspension was given through intravenous tail injection. The blood samples were withdrawn at 5, 10, 15, and 20 minutes after injection of carbon suspension to find out the carbon absorbance contained in the blood that was measured using spectrophotometer then the carbon elimination speed, phagocytic index, and the stimulation index has been calculatedResult: EEKBA and EEBA at the dose of 400 mg/kg BW induced the higher carbon elimination rate in mice compared to EEKBA and EEBA dose of 100 and 200 mg/kg BW. Phagocytic index of macrophage in mice given with EEKBA and EEBA at dose of 100, 200, dan 400 mg/kg BW were 3.429, 3.501, and 3.925 for EEKBA consecutively; 4.289, 4.375 and 4.732 for EEBA respectively. Stimulation index of macrophage in mice given with EEKBA and EEBA at dose of 100, 200, and 400 mg/kg BW were 1.00; 1.20, 1,02; 1,23, and 1,13; 1,33. Based on the results of statistical test, EEKBA and EEBA administration at the dose of 100, 200, and 400 mg/kg BW stimulate the phagocytosis activity of the macrophage of male mice and significantly has different result compared to normal control group (p < 0.05). Phagocytosis activity was best shown at the mice group that administered EEKBA and EEBA at dose of 400 mg/kg BW and was shown not significantly different compared to positive control group (p > 0.05).  Conclusion: EEKBA and EEBA have immunomodulatory effect by increasing the phagocytosis activity of mice.Keywords: immunomodulatory, Litsea cubeba, carbon clearance, phagocytosis activity Intisari Latar belakang: Attarasa (Litsea cubeba (Lour.) Pers.) merupakan tumbuhan obat potensial Indonesia yang digunakan sebagai obat flu, borok dikepala, antimikroba, antioksidan dan antikanker.Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk dapat mengamati efek imunomodulator Ekstrak Etanol Kulit Batang (EEKBA) dan Ekstrak Etanol Buah Attarasa (EEBA) terhadap aktivitas fagositosis pada mencit jantan dengan menggunakan metode carbon clearance.Metode: Sebanyak 24 ekor mencit jantan dibagi menjadi 6 kelompok. Ekstrak diberikan secara per oral selama 7 hari pada mencit jantan dengan dosis 100, 200, dan 400 mg/kg BB. Suspensi imboost® dengan dosis 32,5 mg/kg BB, suspensi CMC-Na 1% diberikan pada kelompok kontrol positif, negatif, dan normal. Pada hari ke-8 disuntikkan suspensi karbon 0,1 ml secara intravena di ekor mencit. Sampel darah dikumpulkan pada menit ke-5, 10, 15, dan 20 setelah diinjeksi dengan suspensi karbon untuk mengetahui absorbansi karbon dalam darah yang diukur menggunakan spektrofotometer kemudian dihitung kecepatan eliminasi karbon, indeks fagositosis, dan indeks stimulasinya.Hasil: EEKBA and EEBA dosis 400 mg/kg BB menghasilkan kecepatan eliminasi karbon yang paling tinggi dibandingkan dengan EEAB dan EEAF 100 dan 200 mg/kg BB. Indeks fagositosis yang dihasilkan dari pemejanan EEKBA and EEBA dosis 100, 200, dan 400 mg/kg BB terhadap hewan uji yaitu 3,429; 4,289; 3,501; 4,375 dan 3,925; 4,732. Indeks stimulasi makrofag yang diperoleh setelah hewan uji dipejani dengan EEKBA and EEBA dosis 100, 200, dan 400 mg/kg BB yaitu 1,00; 1,20, 1,02; 1,23, dan 1,13; 1,33. Berdasarkan hasil uji statistik, pemberian EEKBA and EEBA pada dosis 100, 200, dan 400 mg/kg BB dapat meningkatkan aktivitas fagositosis pada mencit jantan dan terdapat perbedaan yang signifikan dengan CMC-Na 1% dan kelompok normal (p<0,05). Aktivitas fagositosis yang paling baik ditemukan pada pemberian EEKBA and EEBA dengan dosis 400 mg/kg BB dengan perbedaan yang tidak signifikan terhadap kelompok hewan uji yang diberi Imboost® (p>0,05).Kesimpulan: EEKBA and EEBA mempunyai efek imunomodulator dengan meningkatkan aktivitas fagositosis pada mencit jantanKata kunci: imunomodulator, Litsea cubeba, carbon clearance, aktivitas  fagositosis.
Review: Neuroprotective effect of herbal plant extracts against Parkinson's disease Syifa Fitriyanda Salsabila; Widhya Aligita; Yani Mulyani
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 17 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol17.iss2.art9

Abstract

Background: Parkinson's disease (PD) is a progressive neurodegenerative disorder caused by the loss of dopaminergic neurons and the exist of alpha-synuclein aggregates in the substantia nigra pars compacta (SNpc). Among the various types of neuroprotective therapy, natural products are potential therapeutic agents for PD.Objective: The aim of this study is to describe the neuroprotective effect of herbal plant extracts against Parkinson's Disease (PD).Method: The search strategy was carried out on electronic databases, namely Google Scholar, ScienceDirect, and PubMed. There are 111 scientific journals that have been filtered into 20 scientific journals which are international journals published in the last 5 years (2015-2020). The keywords used include Parkinson's Disease, Neuroprotective Effects, Neuroprotection, Plant Extracts, Natural Products and Parkinson's Disease Model.Results: Several experimental studies have shown the neuroprotective ability of various plant extracts to protect against neurotoxicity, through several neuroprotective pathways including antioxidant activity, anti-inflammatory activity, and antiapoptotic activity.Conclusion: Herbal plant extracts have been shown to have strong neuroprotective effects, making them as potential drug candidates for prevention or treatment of Parkinson's Disease (PD). There are Mucuna pruriens, Centella asiatica, Camellia sinensis, Ginkgo biloba, and Uncaria rhynchophylla.Keywords: Parkinson's Disease (PD), neuroprotective, extract.Intisari Latar belakang: Penyakit Parkinson adalah gangguan neurodegeneratif progresif yang disebabkan oleh hilangnya neuron dopaminergik dan adanya agregat yang mengandung alfa-synuclein di substansia nigra pars compacta. Diantara berbagai jenis terapi pelindung saraf, produk alami merupakan agen terapi yang potensial untuk PD.Tujuan: Untuk menggambarkan efek pelindung saraf ekstrak tanaman herbal terhadap penyakit Parkinson.Metode: Strategi pencarian dilakukan pada database elektronik yaitu Google Scholar, ScienceDirect, dan PubMed. Terdapat 111 Jurnal ilmiah yang telah di saring menjadi 20 jurnal ilmiah dan merupakan jurnal internasional yang diterbitkan 5 tahun terakhir (2015-2020). Kata kunci yang digunakan diantaranya Parkinson’s Disease, Neuroprotective Effects, Neuroprotection, Plant Extracts, Natural Products dan Parkinson’s Disease Model.Hasil: Beberapa studi eksperimen menunjukkan kemampuan pelindung saraf dari berbagai ekstrak tanaman untukmelindungineurotoksisitas, melalui beberapa jalur pelindung saraf diantaranya aktivitas antioksidan, aktivitas antiinflamasi, dan aktivitas antiapoptosis.Kesimpulan: Ekstrak tanaman herbal terbukti memiliki efek pelindung saraf yang kuat sehingga menjadikannya sebagai calon obat potensial untuk terapi pencegahan atau pengobatan penyakit Parkinson, diantaranya ekstrak tanaman Mucuna pruriens, Centella asiatica, Camellia sinensis, Ginkgo biloba, dan  Uncaria rhynchophylla.Kata kunci: Penyakit Parkinson. pelindung saraf, ekstrak
Formulation and evaluation of pumpkin fruit (Cucurbita maxima L.) emulgel Agitya Resti Erwiyani; Sri Mustika Ayu; Winda Ayu Ningtyas; Rissa Laila Vifta
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art9

Abstract

Abstract  Background: The fruit of pumpkin (Cucurbita maxima D.), one of genus Cucurbita, family Cucurbitaceae, has antioxidant activity due to the content of metabolites including amino acids, fatty acids, alpha-tocopherol, beta-tocopherol, beta-carotene, beta-cryptoxanthin, and beta-sitosterol. The content of carotenoids and tocopherols in pumpkin has antioxidant activity, reduces skin damage due to sun exposure, and can slow down the aging process.Objective: The study aimed to formulate pumpkin fruit emulgel and evaluate its physical stability during storage Method: Emulgel contains pumpkin fruit extracts at a concentration of 0.5 – 1.5% w/v. Emulgel evaluations were organoleptic, homogeneity, pH, spreadability, adhesion, and viscosity at 2 - 8°C, room temperature, and 40 degree Celcius. The stability test observed the physical properties for 28 days.Results: Pumpkin fruit extracts contain flavonoids based on the TLC test. Emulgel showed organoleptic yellow color with pH in the range of 5, homogeneous, adhesion for more than 1 second, dispersion 5 – 7 cm, and viscosity 2000 – 4000 cP. Storage for 28 days did not show a significant difference at all storage temperatures and centrifugation tests.Conclusion Pumpkin fruit emulgel is stable at all storage temperatures 2 – 8 degree Celcius, 28 ± 2 degree Celcius, and 40 ± 2 degree Celcius.Keywords: emulgel, pumpkin, formulation, physical stabilityIntisari Latar belakang: Buahlabu kuning (C. maxima D.) yang termasuk dalam genus Cucurbita famili Cucurbitaceae memiliki aktivitas antioksidan karena kandungan metabolit diantaranya asam amino, asam lemak, alfa-tokoferol, beta-tokoferol, beta-karoten, beta-kriptoxantin, dan beta-sitosterol. Kandungan karotenoid dan tokoferol dalam labu kuning memiliki aktivitas antioksidan, menurunkan kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari serta dapat memperlambat penuaan dini. Tujuan: Tujuan penelitian untuk memformulasikan emulgel daging buah labu kuning serta evaluasi stabilitas fisik selama penyimpananMetode: Emulgel mengandung ekstrak daging buah labu kuning pada konsentrasi 0,5 – 1,5 % b/v. Evaluasi emulgel meliputi organoleptis, homogentitas, pH, daya sebar, daya lekat, dan viskositas pada 2 - 8 derajat Celcius, suhu kamar dan 40 derajat Celcius. Uji stabilitas dilakukan dengan pengamatan sifat fisik selama 28 hari.  Hasil: Ekstrak daging buah labu kuning mengandung flavonoid berdasarkan uji KLT. Emulgel menunjukkan organoleptis berwarna kuning dengan pH berkisar 5, homogen, daya lekat lebih dari 1 detik, daya sebar 5 – 7 cm, dan viskositas 2000 – 4000 cP. Penyimpanan selama 28 hari tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada semua suhu penyimpanan dan uji sentrifugasi. Kesimpulan: Emulgel daging buah labu kuning stabil pada semua suhu penyimpanan yaitu 2 – 8 derajat Celcius, 28 ± 2 derajat Celcius dan 40 ± 2 derajat Celcius.Kata kunci : emulgel, labu kuning, formulasi, stabilitas fisik