cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal KALAM
ISSN : 08539510     EISSN : 25407759     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
KALAM (ISSN 0853-9510; E-ISSN: 2540-7759) is a journal published by the Ushuluddin Faculty, Raden Intan State Islamic University of Lampung, INDONESIA. KALAM published twice a year. KALAM focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Theology, and Mysticism. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by Kalam will review by two peer review through a double-blind review process. KALAM has been accredited by The Ministry of Research, Technology, and Higher Education, the Republic of Indonesia as an academic journal (SK Dirjen PRP Kemenristekdikti No. 1/E/KPT/2015).
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 1 (2014)" : 10 Documents clear
Sains Islam Dalam Diskursus Filsafat Ilmu Muslih, M.
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.162

Abstract

Sains Islam sampai saat ini masih terkungkung dalam lingkaran pseudoscience, atau masih pada taraf model justifikasi Bucaillian. Sebagai bangunan keilmuan, sains Islam tentu memiliki basis filosofis. Tulisan ini berupaya mengkaji sains Islam dalam perspektif filsafat ilmu. Dalam perspektif ini, keilmiahan bangunan keilmuan ditentukan oleh ketepatan penggunaan teori dan metodologinya, tanpa mengabaikan sisi sosiologis-historis maupun sisi teologis-metafisis. Jika yang pertama merupakan basis logis dan objektifitas sains, lalu yang kedua merupakan aspek kemanusiaan dari sains, maka yang ketiga adalah basis keyakinan, keimanan, dan keberagamaan dari sains. Dengan ketiga elemen penting tersebut, Sains Islam sebagai sains berbasis agama Islam bisa menjadi ilmiah. Sekalipun demikian, definisi baru Sains Islam sebagai aktivitas ilmiah mesti terus dilanjutkan ke arah “action” dalam bentuk program riset. Dengan begitu, Sains Islam akan menghasilkan temuan-temuan baru, teori baru, metodologi baru, konteks baru, dan seterusnya. Tanpa upaya itu, image pseudosains dan justifikasi Bucaillian akan sulit hilang dari bangunan keilmuan Sains Islam.
Kosmologi, Sains, dan Teknologi: Pergeseran Paradigmatik dan Implikasinya terhadap Studi Agama Iqbal, Imam
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.166

Abstract

Alam semesta, selain menjadi “subject matter” kosmologi, juga merupakan salah satu koordinat penentu perkembangan paradigma. Peralihan yang terjadi di ranah kosmologi secara sirkuler akan berakibat pada pergeseran paradigma dan pencapaian peradaban. Sirkularitas perkembangan inilah yang ditemukan dalam peradaban manusia. Tulisan ini berupaya menapaki perkembangan itu secara deskriptif-eksploratif. Dari titik ini, ditemukan: pertama, perkembangan sains dan teknologi manusia modern dipengaruhi oleh kosmologi Cartesian-Newtonian; Kedua, meski telah menghasilkan sukses spektakuler, kosmologi modern yang bercorak positivistik itu tetap memiliki cacat internal. Ini terbukti dari hujatan-hujatan yang muncul dari wilayah keilmuan yang sama dengan wilayah yang digeluti oleh kosmologi lama, meski muncul dengan asumsi-asumsi yang banyak berseberangan dengan yang lama. Ketiga, implikasi perubahan kosmologi ternyata juga merambah dimensi kehidupan manusia lainnya, terutama agama. Secara langsung, peralihan kosmologi ini menuntut respon agama untuk tidak melulu berpijak pada pola doktriner yang terlalu mengandalkan teks-teks suci,tetapi harus pula mempertimbangkan unsur-unsur lainnya yang selama ini tidak diperhitungkan.
Rekonstruksi Ilmu-Ilmu Keislaman: Problematika Ontologis dan Historis ‘Ulūm Al-Qur’ān Rohmana, Jajang A.
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.167

Abstract

Tulisan ini fokus pada penelusuran seputar problem ontologis dan historis dalam kajian ‘Ulu>m al-Qur’a>n, krisis ruang lingkup dan jejak sejarah pembentukan wacananya. Sejak disusun dan disistematisasikan hingga sekarang hampir, diskursus Ulu>m al-Qur’a>n tidak mengalami perkembangan dan masih tetap bercorak skolastik, baik dari sisi metodologi maupun muatan isinya. Kecenderungan ini melahirkan berbagai problem, di antaranya pandangan mendasar terhadap al-Qur’an dan ‘Ulu>m al-Qur’a>n yang seakan terlepas dari konteks historis dan sosio-kulturalnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya sejumlah masalah antara lain berupa : krisis ruang lingkup kajian ‘Ulu>m al-Qur’a>n- yang seolah-olah mengalami kemandegan dan kebuntuan; terpisahnya teks ‘Ulu>m al-Qur’a>n dari konteks situasinya yang objektif-historis yang kemudian menimbulkan pensakralan terhadap berbagai cabang ilmu dalam ‘Ulu>m al-Qur’a>n yang diawali dengan anggapan bahwa ilmu-ilmu itu sajalah yang memiliki kedudukan yang absah dalam ‘Ulu>m al-Qur’a>n, sehingga sulit untuk meloloskan perspektif keilmuan baru. Terakhir, pada tataran selanjutnya, misi penyelamatan tersebut secara tidak langsung melahirkan berbagai anomali dan reduksi keilmuan dalam wilayah ‘Ulu>m al-Qur’a>n sendiri secara ontologis.
Dekonstruksi Tafsir Antroposentrisme: Telaah Ayat-Ayat Berwawasan Lingkungan Abdillah, Junaidi
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.168

Abstract

Mainstream yang berkembang bahwa alam semesta ini disediakan oleh Tuhan hanya untuk kemakmuran manusia, membuat eksplorasi atas sumber daya alam ini makin brutal tak terkendali. Agama-agama samawi juga ditengarai kuat menanamkan paham antroposentrisme pada pemeluknya. Sehingga, muncul pandangan bahwa penyebab kerusakan lingkungan dan alam tersebut diakibatkan paham antroposentrisme tersebut. Islam sebagai salah satu agama samawi juga tidak luput dari tudingan tersebut. Karenanya, tulisan ini bermaksud membongkar paradigma tafsir bias antroposentisme dalam Islam. Dengan metode maud}u’i, penulis mengumpulkan dan mengelaborasi ayat-ayat berbasis ekologi. Pendekatan yang dipakai adalah bayani dan hermeneutika. Sedangkan content analysis sebagai pisau bedahnya. Tulisan ini bertujuan menemukan pesan-pesan tafsir berbasis lingkungan dalam perspektif ekologi Islam.
Sacred Science vs. Secular Science: Carut Marut Hubungan Agama dan Sains Hidayat, Samsul
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.169

Abstract

Tulisan ini berupaya mengetahui pergumulan yang terjadi antara Agama dan Sains. Hipotesis yang diajukan adalah: Hubungan antara Agama dan Sains mengalami ketegangan dan variasi didalamnya. Ketegangan yang terjadi antara Sains dan Agama disebabkan karena perbedaan perspektif yang digunakan untuk memahami realitas sebagai sumber pengetahuan manusia. Kalau sains mendekati persoalan eksistensi melalui observasi dan eksperimen, sedangkan agama membangun landasan epistemologinya berdasarkan wahyu. Pada abad 19 dan sebagian besar abad 20, gagasan yang dominan adalah sains dianggap mampu memecahkan seluruh persoalan manusia, namun faktanya sains juga telah melahirkan senjata-senjata pemusnah massal dan polusi lingkungan, termasuk merusak keseimbangan aspek spiritual dan material dalam kehidupan manusia. Belakangan muncul para ilmuwan teolog dari beberapa agama yang berupaya mencari jalan tengah untuk menyelesaikan problematika kemanusiaan dan alam dengan menjembatani carut marut hubungan sains dan agama yang tampaknya belum berakhir.
Epistemologi yang Menghermeneutika Menurut Richard Rorty el-Munir, M. Ied
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.171

Abstract

Tulisan ini memiliki tujuan untuk memberikan deskripsi atas penolakan Rorty terhadap epistemologi dan kemudian menggantikannya dengan hermeneutika. Penolakan Rorty dimaksud sebenarnya adalah sebuah bentuk kritikan Rorty atas epistemologi fondasional yang berakar pada pemikiran-pemikiran Descartes, Locke, dan Kant. Epistemologi tidak harus dimengerti secara sempit dalam pengertian epistemologi fondasional menurut Rorty. Dan Rorty sendiri sesungguhnya sedang berepistemologi ketika menolak epistemologi fondasional, karena Rosty berkecimpung dalam dunia pengetahuan.
METODOLOGI PEMAHAMAN KONTEKSTUAL HADIS IBN QUTAIBAH DALAM TA’WI>L MUKHTALAF AL-HADI>S| Ghozali, Abdul Malik
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.173

Abstract

Dalam pemahaman hadis ada dua metode yang diakui, yakni metode tekstual dan metode kontekstual. Tradisi atau hadis nabi yang dikenal sebagai sumber hukum Islam yang kedua memiliki posisi yang sangat penting, baik sebagai penguat, penjelas al-Qur’an atau pencipta beberapa hukum yang sebelumnya tidak dijelaskan al-Qur’an. Namun dalam kenyataannya, ditemukan ada beberapa hadis yang bertentangan dengan al-Qur’an, atau dengan hadis lain, atau dengan logika, sejarah, atau fakta sosial. Ini berarti bahwa pembahasan tentang hadis mukhtalif merupakan suatu kajian yang penting dalam hukum Islam. Sejalan dengan itu beberapa ulama hadis berupaya untuk menemukan solusi dari kasus ini, dengan keyakinan, bahwa hadis hampir sama kedudukannya dengan al-Qur’an karena ia diwahyukan oleh Allah kepada nabi sehingga mustahil jika ditemukan kontradiktif antara hadis dan lain-lain selama hadis itu shahih. Ibnu Qutaibah adalah salah satu ulama terkenal yang berupaya keras untuk memahami hadis mukhtalif.
Membangun Identitas Peradaban di Era Global: Telaah Pemikiran Amartya Sen Rosadisastra, Andi
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.185

Abstract

Teori “Benturan Peradaban” karya Samuel Huntington memiliki kebenarannya sendiri jika dilihat dari perspektif esensialis atau ajaran agama yang bernuansa eksklusif dan dipahami secara literalis radikal. Dalam konsepsi muslim eksklusif atau literalis radikal, term “jihad” dapat menjadi senjata ampuh untuk melakukan benturan peradaban ini. Oleh karena itu diperlukan upaya: Pertama, penggabungan spritualitas agama dengan keutamaan paham kebebasan. Kedua, dialektika simbiosis antar peradaban. Demikian juga argumen dan kritik Amartya Sen terhadap teori Benturan Peradaban, juga memiliki kebenarannya jika dilihat dari ajaran agama yang bertujuan teraplikasikannya nilai-nilai perdamaian. Karena menurutnya, setiap pemeluk agama memiliki keragaman identitas yang tidak hanya dibatasi oleh nilai-nilai agama, tetapi juga identitas lainnya berdasarkan nilai-nilai sosial, ekonomi, atau budaya. Oleh karena itu diperlukan analisis berdasarkan teori-teori sosial yang bersifat empirik dalam menghadapi atau mengantisipasi adanya konflik, baik konflik disebabkan oleh pemahaman keliru atau tidak utuh tentang agama atau aspek lainnya dari konflik peradaban.
KHAZANAH INTELEKTUAL TEOLOGI MATURIDIYAH Masturin, Masturin
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.187

Abstract

Persoalan teologis berkisar pada issue tentang status dan pelaku dosa besar, perbuatan manusia, dan hakikat sifat Tuhan pada umumnya muncul sebagai akibat dari perbedaan visi politik. Issu teologis ini telah melahirkan golongan Khawarij, Murjiah dan Mu’tazilah. Seiring dengan itu muncul issu mengenai bebas/ tidaknya perbuatan manusia yang kemudian melahirkan golongan Jabariyah dan Qadariyah. Persoalan muncul karena dipengaruhi oleh budaya Helinisme yang rasional seiring dengan proses futuhat (ekspansi Islam). Persentuhan umat Islam dengan budaya Helinisme semakin memperkuat penggunaan akal dalam kajian teologis, khususnya oleh Mu’tazilah. Dengan demikian ada tiga issu besar yang berkembang dalam teologi Islam saat itu yaitu dosa besar, kehendak bebas tidaknya manusia dan penggunaan akal. Mu’tazilah memberikan penekanan yang tinggi kepada akal dengan segala implikasinya karena arus pemikiran rasional yang berkembang pada waktu itu. Al-Maturiddi membahas tentang penciptaan alam yang lebih banyak mengajukan argumen rasional dan perseptual dari pada argumen tradisional. Hal ini tidak lain karena perhatian utamanya untuk mempertahankan ajaran Islam dari serangan Indo-Iranian dan Yahudi-Kristen serta filsafat Yunani.
TRANSFORMASI GERAKAN TAREKAT SYAFAWIYAH DARI TEOLOGIS KE POLITIS Syukur, Abdul
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.189

Abstract

Gerakan tarekat Syafawi di Iran semula bertujuan untuk membentuk kesalehan pengikutnya dan memerangi ahli bid’ah. Namun pada gilirannya tarekat ini menjadi gerakan sosial yang mengkritisi penguasa yang hidup dalam kemewahan dan jauh dari kesalehan. Selain dari itu, Kondisi sosial-politik di Iran juga mendorong tarekat Syafawi yang semula merupakan gerakan keagamaan-politik menjadi gerakan politik - keagamaan. Doktrin Mahdiisme dan doktrin Imamah dalam ajaran Syi’ah Dua belas dijadikan landasan legitimasi oleh para pemimpin Tarekat Syafawi untuk mewujudkan ambisi kekuasaan dan cita-cita politik-keagamaan mereka. Hasilnya, gerakan politik-keagamaan kaum Tarekat Syafawi memiliki pengaruhnya yang cukup luas di Iran, dan puncaknya membentuk pasukan Qizilbaṣ serta mendirikan Dinasti Safawi di Iran sejak tahun 1501-1736. Setelah berdirinya Republik Islam Iran tahun 1979, Syi’ah Dua belas masih dipertahankan sebagai mazhab negara dalam sistem religio-politik yang diwadahi oleh Wilayat al-Faqih.

Page 1 of 1 | Total Record : 10