cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
KATA “ALLAH” DALAM AL-QURAN DAN ALKITAB Kajian Terhadap Pelarangan Menggunakan Kata “Allah” Bagi Selain Muslim Arifin, Zainal
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 2 (2014): ILMU KALAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.2.387

Abstract

Abstract: This study appears due MUIS Malaysia ban the use of the word "Allah" for the citizens is not Islam. This study examined for the purposes of the establishment of religious tolerance based on the understanding of religion. This paper seeks to explain that the word "Allah" contained in the Qur'an and the Bible, by limiting the study of the Qur’an and the Bible, to formulate the concept of "Allah" who became God for Muslims. This study found that the word "Allah" though not derived from Arabic, he eventually became part of the Arabic language of the Koran. He also became the name of God for Muslims. Furthermore, the authors found that in addition to Muslims, Christians and Jews may use the word "Allah" to indicate their God. When a Christian used to indicate the name of Jesus, it is also allowed as a form of tolerance. As the infidels Quraish mention sculpture as a means of worshiping God. Abstrak: Kajian ini muncul akibat pelarangan MUIS Malaysia dalam penggunaan kata "Allah" bagi warga bukan Islam. Kajian ini dikaji untuk keperluan tegaknya toleransi beragama berdasarkan pe¬mahaman agama. Tulisan ini berupaya menjelaskan bahwa kata "Allah" tertuang dalam Al-Quran dan Alkitab, dengan membatasi telaah pada Al-Quran dan Alkitab, merumuskan konsep "Allah" yang menjadi Tuhan bagi Muslim. Penelitian ini menemukan bahwa kata "Allah" walau bukan berasal dari bahasa Arab, ia akhirnya menjadi bagian dari bahasa Quran yang Arab. Ia juga menjadi nama Tuhan bagi umat Islam. Lebih jauh lagi, penulis menemukan bahwa selain Muslim, umat Nasrani dan Yahudi boleh menggunakan kata "Allah" untuk me-nunjukkan Tuhan mereka. Bila seorang Kristiani meng-gunakannya untuk menunjuk¬kan nama Yesus, itu juga dibolehkan sebagai wujud toleransi. Sebagaimana kaum kafir Quraisy me¬nyebutkan patung sebagai sarana me-nyembah Allah. Keywords: Allah, Al-Quran, Alkitab, God, Islam, Kristen.
GAP ANTARA DAS SOLLEN DAN DAS SEIN ILMU-ILMU KEAGAMAAN ISLAM: Perspektif Filsafat Ilmu Suyono, Yusuf
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.933

Abstract

Abstract: Since the Muslim Reformers launched the campaign of calling to return the glory of Islam back to Muslim people like what had been reached in classic era, the call came into nothing. The backwardness, ruin, and destruction in all aspects of life in Middle era could not have been completely overcome. The scientifical sphere which is hoped to be real means to reach the glory and get rid of these destructions,does not work as what has been hoped. Accordingly, nothing of what was mentioned by Thomas S. Kuhn as Shifting Paradigm happens, because the scientifical anomalies could not be overcome and in turn the crisis accumulates that lead to no scientifical revolution. In this case, Islamic sciences in general and Islamic religious sciences in particular do not develop. The religious sciences taught in Islamic University nowadays are those taught in classic era. The slogan of modern Islam “ the door of Ijtihad must be open ” changes that of middle era “ The door of Ijtihad must closed ” really be campaigned, but has no longer effect. Consequently, Islamic religious sciences have no relevance to their users. They taste very heavenly not worldly. That is what the writer means as the gap in Islamic sciences. Abstrak: Sejak para pemabaharu Muslim di abad 19 M mendengungkan ajakan untuk mengembalikan kejayaan Islam sebagaimana yang telah dicapai di era klasik, ajakan itu seperti belum menghasilkan apa yang diharapkan. Ke¬terpuruk¬an, keterbelakangan di berbagai bidang yang mereka sejak era pertengahan belum bisa sepenuhnya teratasi. Bidang keilmuan yang mestinya menjadi lokomotif dan garda depan untuk menggapai kejayaan yang bisa mengusir keterpurukan dan keterbelakangan tersebut, juga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pada gilirannya, tidak terjadi apa yang disebut oleh Thomas S. Kuhn sebagai Shifting Paradigm, karena anomali-anomali yang di dalamnya tidak bisa diatasi sehingga krisis menumpuk namun tidak terjadi revolusi ilmiah. Secara demikian rupa, sehingga ilmu-ilmu keislaman terutama ilmu agama menjadi mandeg. Ilmu-ilmu agama yang diajarkan di Perguruan Tinggi Agama Islam adalah juga masih yang digagas para pendahulu di era klasik. Semboyan era modern “ Pintu Ijtihad harus dibuka “ menggantikan semboyan era pertengahan “ Pintu Ijtihad Tertutup “ memang sudah dicanangkan, namun nuansanya Pintu Ijtihad itu masih terus tertutup. Akibatnya, ilmu-ilmu agama Islam seperti putus relevansi dengan masyarakat penggunanya. Ilmu-ilmu agama terasa melangit, padahal penggunanya ada di bumi. Itulah yang dimaksud dengan gap dalam ilmu-ilmu Islam.
PENGEMBANGAN PEMAHAMAN AS-SUNNAH SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM Sutoyo, Sutoyo
Jurnal THEOLOGIA Vol 22, No 2 (2011): ILMU-ILMU USHULUDDIN
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2011.22.2.610

Abstract

Abstract: The second source of Islamic Law is as-Sun¬nah, because the first one is al-Qur’an which is considered still global. The global one needs explaination and interpretation. The Existence of as-Sunnah is really required in order that the moslems are able to understand and to im¬ple¬ment wholistically. Although the existence of al-Sunnah in ulemas is debated, some agree while others disagree. Several ulemas even refu¬se al-Sunnah as the second Islamic Law Source (they don’t follow al-Sunnah) with several ar¬guments. However, majority, the ulemas accept and agree to place as-Sunnah as the second Islamic law source. From majority, ulemas agree to place as-Sunnah as the second Islamic Law Source is also different from the usage of it. Some use as-Sunnah wholistically and some use as-Sunnah which is evaluated valid. To under¬stand and to give the meaning of as-Sunnah for ulemas of Muḥadiṡīn and Uṣūliyin. It is also different. Ulemas of Muḥadiṡīn give the meaning of as-Sunnah and al-ḥadīṡ similar that which comes wholistically from the prophet as what he said, he did and the decision (taqrir) of the prophet before and after bi’tsah (to be assigned as the prophet). Whereas the ulemas of usuliyin differ al-Sunnah and al-hadis. According to them, if all of them comes from the prophet said, did, and taqrir. It is named as al-Sunnah, if it is what to be said only by the prophet or qauliyah, it is named as al-hadis. Kata kunci: as-Sunnah, al-Ḥadīṡ, al-Khabar, al-Aṡar
IBN MISKAWAIH Filsafat al-Nafs dan al-Akhlāq Safii, Safii
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.1.344

Abstract

Abstract: Ibn Miskawayh known not only in philosophy but also in other fields of scientific disciplines, such as history and Arabic literature. Even through one of his master piece, entitled Tahżīb al-Akhlāq wa Tatkhīr al-A’rāq name is becoming increasingly popular in many parts of the world. On this occasion the author deems it necessary to show the figure of Ibn Miskawayh by stressing his thoughts on the study of the study of nafs philosophy and morals. According to Ibn Miskawayh explained that between the soul and the sense that one is.That is the soul and intellectin his view can not be distinguished. Even sense to him it is one of the power of the forces that existin the soul and is a manifestation of the existence of the soul it self. Thus it can be said that there a son bagi¬nya is one proof for the existence of the soul. Abstrak: Ibn Miskawaih dikenal tidak hanya dalam bidang filsafatnya melainkan juga dalam bidang disiplin keilmuan lainnya, seperti sejarah dan sastra Arab. Bahkan melalui salah satu master piece-nya yang berjudul Tahżīb al-Akhlāq wa Tatkhīr al-A’rāq namanya menjadi semakin populer di berbagai belahan dunia. Dalam kesempatan ini penulis memandang perlu untuk menampilkan sosok Ibn Miskawaih ter¬sebut dengan stressing kajian pada telaah pemikirannya tentang filsafat al-nafs dan al-akhlak-nya. Menurut Ibn Miskawaih menerangkan bahwa antara jiwa dan akal itu satu adanya. Artinya jiwa dan akal dalam pandangan¬nya tidaklah dibedakan.Bahkan akal baginya justru merupakan salah satu daya dari daya-daya yang ada dalam jiwa dan merupakan manifestasi dari adanya jiwa itu sendiri. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa akal bagi¬nya me¬rupakan salah satu bukti bagi adanya jiwa. Keywords: akhlak, filsafat, Yunani, al-nafs, al-akhlāq
PERGUMULAN ISLAM DENGAN BUDAYA LOKAL Studi Kasus Masyarakat Samin di Dusun Jepang Bojonegoro Widiana, Nurhuda
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015): TASAWUF DAN KEARIFAN LOKAL
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.2.428

Abstract

Abstract: This article will explain the process of acculturation which is a concept to describe the long process of convergence of two or more values between Islam and local values in which individuals, groups and communities living with the culture he had. The emergence of resistance to the new school, to be understood as part of the community's love for the old values (local). On the one hand, it is a learning process to understand the new values (Islam). In these conditions, it is not appropriate to use claims of winning or losing, between Islam vis a vis local culture. Samin community understanding of the teachings of Islam, with the advantages and disadvantages of a form the beginnings of the community openness to cultures from the outside including the values of Islam. Samin society no longer close themselves from the outside community, slowly began to mingle with other people and being able to adapt to the changes that reaches it. Their understanding of the religion of Islam with regard to faith (theology), worship (ritual), muamalah (social), was inherited by the teachings Saminisme. Islam understood the teachings of Samin frame, so that the integrated nature ajaranlah, but the practice of worship (ritual) Islam has not been implemented. Tempers syncretic practice (Islam typical Samin), because Islam diakomodisasi in accordance with the teachings of Samin. Abstrak: Artikel ini akan menjelaskan tentang proses akulturasi yang merupakan konsep untuk menggambarkan proses panjang bertemunya dua atau lebih tata nilai antara Islam dengan nilai-nilai lokal di mana individu, kelompok dan masyarakat bertempat tinggal dengan budaya yang telah dimilikinya. Munculnya penolakan terhadap ajaran baru, harus dipahami sebagai bagian kecintaan masyarakat terhadap nilai-nilai lama (lokal). Pada satu sisi, ia adalah proses belajar untuk memahami nilai-nilai baru (Islam). Pada kondisi seperti ini, tidak tepat digunakan klaim menang atau kalah, antara Islam vis a vis budaya lokal. Pemahaman masyarakat Samin tentang ajaran Islam, dengan kelebihan dan kekurangannya merupakan wujud dimulainya era keterbukaan komunitas tersebut terhadap budaya-budaya dari luar termasuk di dalamnya nilai-nilai ajaran Islam. Masyarakat Samin tidak lagi menutup diri dari masyarakat luar, secara perlahan mulai berbaur dengan masyarakat lain dan mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang menerpanya. Pemahaman mereka terhadap agama Islam yang berkaitan dengan akidah (teologi), ibadah (ritual), muamalah (sosial kemasyarakatan), masih terwarisi oleh ajaran Saminisme. Islam dipahami dengan bingkai ajaran Samin, sehingga hakekat ajaranlah yang terintegrasi, namun praktek ibadah (ritual) Islam belum dilaksanakan. Terjadilah praktek sinkretis (Islam khas Samin), karena ajaran Islam diakomodisasi sesuai dengan ajaran Samin. Keywords : Islam, budaya lokal, ajaran Samin.
GERAKAN PEMBARUAN TASAWUF DI INDONESIA Al-Kumayi, Sulaiman
Jurnal THEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): TASAWUF
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2013.24.2.335

Abstract

Abstract: This article aims to elaborate on Sufism reform movement in Indonesia. There former of Islam in Indonesia realize that Sufism is an integral part of Islam, therefore they are not hostile to Sufism, but tends to purify the Sufism of deviant practices. Irregularities which they saw in the midst of the Muslim community but claimed as part of Sufism must be cleaned. Sufism must be free of elements of heresy or shirk that could tarnish the purity of Islam. In this article, the author presents the figure of Hamka as a representation of Sufism reform movement in Indonesia. Although Hamka very appreciative, even followers of Sufism, he was never affiliated to the sufi order schools anywhere in the world.He also never made a separate congregation flow, as was common in the realm of the sufi order. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengelaborasi gerakan pembaruan tasawuf di Indonesia. Para pembaru Islam di Indonesia menyadari bahwa tasawuf merupakan bagian integral dalam Islam, karena itu mereka tidak memusuhi tasawuf, tetapi cenderung untuk memurnikan tasawuf dari praktik-praktik yang menyimpang. Penyimpangan yang mereka lihat di tengah-tengah masyarakat Muslim tetapi diklaim sebagai bagian dari ajaran tasawuf haruslah dibersihkan. Tasawuf harus terbebas dari unsur-unsur bid’ah atau syirik yang dapat menodai kemurnian ajaran Islam. Dalam artikel ini, penulis menyajikan sosok Hamka sebagai representasi dari gerakan pembaruan tasawuf di Indonesia. Sekalipun Hamka sangat apresiatif, bahkan pengamal tasawuf, ia tidak pernah berafiliasi ke aliran tarekat mana pun di dunia ini. Ia juga tidak pernah membuat aliran tarekat tersendiri, sebagaimana lazimnya dalam dunia tarekat. Keywords: neo-sufisme, bid’ah, al-Quran, al-Sunnah, tarekat.
TAUHID DAN ETIKA LINGKUNGAN: Telaah atas Pemikiran Ibn ‘Arabī Munji, Ahmad
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 2 (2014): ILMU KALAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.2.398

Abstract

Abstract: Tauḥīd (monotheism) affirms that God has created man most excellent among the creatures with the aim to serve Him. Proof of service must be proved by maintaining the best possible environment as He wills. It will consequences which bring up the ethics that guide humans to interact with their environment. Therefore, the relationship of Tauḥīd and ethics as good and bad links or ethical character that relies heavily on clean and dirty soul and reflect the quality of faith (īmān) and Tauḥīd (monotheism) itself. This article aims to elaborate on the relationship of Tauḥīd with mindset, because the mindset is mental activity that requires imagination in many ways and requires a balance; Tauḥīd relationship with the pattern of attitudes; patterns of attitude is the basic concept of a person's behavior; relationship between Tauḥīd and behavioral patterns ('amal). 'Amal is a reflection of a very concrete. From this pattern can be described as follows: Tauḥīd produces ethics, and ethics produces behavior ('amal). The pattern of this relationship in real life can be seen, among other things, how human beings interact with other God’s creatures (environment). Abstrak: Tauḥīd menegaskan bahwa Tuhan telah menciptakan manusia yang paling baik di antara para makhluk dengan tujuan untuk mengabdi kepada-Nya. Bukti pengabdian harus dibuktikan dengan menjaga lingkungan sebaik-baiknya sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Konsekuensi dari ini akan memunculkan etika yang memandu manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sebab, hubungan Tauḥīd dan etika seperti keterkaitan baik dan buruknya akhlak atau etika yang sangat bergantung pada bersih dan kotornya jiwa dan mencerminkan kualitas dari iman dan tauhid itu sendiri. Artikel ini bertujuan mengelaborasi hubungan Tauḥīd dengan pola pikir, karena pola pikir adalah aktivitas jiwa yang memerlukan khayal dalam berbagai hal dan membutuhkan keseimbangan; hubungan Tauḥīd dengan pola sikap; pola sikap adalah konsep dasar dari sebuah perilaku seseorang; hubungan antara Tauḥīd dan pola perilaku (‘amal). ‘Amal merupakan cerminan yang sangat kongkrit. Dari sini pola ini dapat digambarkan sebagai berikut: Tauḥīd menghasilkan etika, dan etika menghasilkan perilaku (‘amal). Pola hubungan ini dalam kehidupan riil dapat dilihat, antara lain, bagaimana manusia berinteraksi dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain (lingkungan). Keywords: Tauḥīd, ‘amal, ethic, Ibn ‘Arabī, Allāh, enviromenment.
SIGNIFIKANSI REVITALISASI TASAWUF HAMKA DAN SAID NURSI BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT KONTEMPORER Zaprulkhan, Zaprulkhan
Jurnal THEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): TASAWUF
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2013.24.2.326

Abstract

Abstract: This article makes an attempt to solve problems by discussing the 20th tasawuf reformation of Hamka and Said Nursi. The academic problems are: Why did Hamka and Said Nursi reform tasawuf by returning to Al-Qur’an and Sunnah?; What are the tasawuf reformation constructions of Hamka and Nursi?; What is the relevance of their tasawuf reformation in the contemporary religious life? In order to understand, elaborate, interpret, make meanings, and reveal the relevance to the contemporary social life, this article employs historical, philosophical, and integrative-interconnectivity approaches.The article finding shows that both Hamka and Said Nursi gave constructive critics and tasawuf reformation due to the factors of conditional-contextual, internal-substantial, and spiritual drought of the 20th century Muslim society. Both Hamka and Nursi made greater attempts to do Sufism ijtihad in formulating their Sufism discourse with moderate patterns so that they could be accessed by all society levels. Therefore, this moderate tasawuf can play more positive functional roles for extensive contemporary society with all aspects. Abstrak: Artikel ini berusaha memecahkan masalah dengan mendiskusikan reformasi tasawuf abad XX yang dilakukan oleh Hamka dan Said Nursi. Persoalan akademiknya adalah mengapa Hamka dan Said Nursi mereformasi dengan kembali kepada al-Quran dan Sunnah; apakah relevansi reformasi tasawuf mereka dalam kehidupan religious kontemporer? Untuk memahami, mengelaborasi, menafsirkan, mencari makna, dan memunculkan relevansi bagi kehidupan social kontemporer, artikel ini menggunakan pendekatan-pen-dekatan sejarah, filosofis, dan interkonektivitas-integratif. Temuan artikel ini menunjukkan bahwa Hamka dan Said Nursi memberikan kritik-kritik konstruktif dan reformasi tasawuf mereka berkaitan dengan faktor-faktor kondisional-kontekstual, internal-substansial, dan kekeringan spiritual masyarakat Muslim abad XX. Hamka dan Said Nursi telah melakukan usaha-usaha besar untuk ijtihad tasawuf dalam memformulasikan wacana tasawuf mereka dengan pola-pola moderat sehingga mereka bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat. Karena itu, tasawuf moderat ini bisa memainkan peranan fungsional yang lebih positif bagi masyarakat kontemporer yang lebih luas dengan semua aspek. Keywords: sufisme, Hamka, Said Nursi, sufisme populer.
TAKDIR DAN KEBEBASAN MENURUT FETHULLAH GÜLEN Haderi, Anang
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 2 (2014): ILMU KALAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.2.381

Abstract

Abstract:Destiny and free will is one of issues in Islamic theology which is still discussed by Moslem theologian up to now. This discussion has yielded some streams with its argumentation respectively. Included who intense to discuss this issue is muḥammad Fethullah Gülen. At a glance, he offers to explain the issue in his own way without following one of the streams. He introduces some key terms, like Imām Mubīn, Kitāb Mubīn, Lauḥ Maḥfūẓ, Formal or Theoretical Destiny, actual destiny. Terms are Gülen’s exclusive. The article will elaborate the explaination of Gülen relating to the destiny and free will. The purpose is to map what is he follows the streams or he has interpretation in himself. For this reason, I will spread out briefly views of theologian before, i.e. these streams of Mu’tazili, al-Asy’arite, Matūridite Samarkand dan Matūridite Bukhārā. By this way it will be seen clearly where is the position of Gülen and what is contribution of his thinking. Abstrak: takdir dan kebebasan adalah isu teologi Islam yang masih diperbincangkan oleh para teolog hingga sekarang. Perdebatan ini telah melahirkan berbagai aliran dengan pen¬dapat¬nya masing-masing. Termasuk yang juga intens mem¬bahas isu ini adalah Muḥammad Fethullah Gülen. Sekilas, ia berusaha menjelaskan isu ini dengan caranya sendiri tanpa mengikuti salah satu aliran tersebut. Ia mengenalkan be¬berapa istilah kunci, seperti Imām Mubīn, Kitāb Mubīn, Lauḥ Maḥfūẓ, takdir formal, takdir teoritis, dan takdir aktual. Istilah-istilah ini merupakan khas Gülen. Tulisan ini akan mengelaborasi penjelasan Gülen mengenai takdir dan ke¬bebas¬an tersebut. Tujuannya adalah memetakan apakah ia mengikuti aliran-aliran teologi yang sudah ada ataukah ia mempunyai pemaknaan sendiri ter¬hadap persoalan ini. Untuk alasan ini, penulis akan me¬mapar¬kan secara singkat pendapat para teolog sebelumnya, yakni aliran-aliran Mu’tazi¬lah, al-Asy’ariyah, Mātūridiyah Samarkand dan Mātūridiyah Bukhārā. Dengan cara ini akan terlihat dengan jelas di mana¬kah posisi Gülen dan apa kontribusi dari pemikirannya itu. Keywords: Imām Mubīn, Kitāb Mubīn, Lauḥ Maḥfūẓ, takdir formal, takdir aktual.
LIBERASI TEOLOGI DI IRAN PASCA-REVOLUSI: Telisik Pemikiran Abdul Karim Soroush Purnama, Fahmy Farid
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.923

Abstract

Abstract: This paper will discuss the identity struggle and discourse of thought in the Islamic world, especially in the Islamic civilization and culture of Iran. That is, by trying to explain various religio-philosophical discourse presented by Soroush to restore Iranian civilization from an identity crisis, psychological deterioration, to the ontological dislocation that have obscured the authenticity of existential society. This paper will also explain why Soroush calls for new directions in theology and Islamic political discourse, particularly in Iran, which is supported by various philosophical discourse. By involving the philosophy of science (epistemology) in understanding human religiosity, Soroush philo­sophical thought also necessitates a new perspective of looking at reality, both the reality of individual, social, or global.Abstrak: Tulisan ini akan mengurai pergulatan identitas dan wacana pemikiran di dunia Islam, khususnya di kancah peradaban dan kebudayaan Iran. Yaitu de­ngan berusaha menjelaskan pelbagai wacana filsafat-keagamaan yang di­ketengah­kan Soroush untuk memulihkan peradaban Iran dari krisis identitas, keterpurukan psikologis, hingga dislokasi ontologis yang telah mengaburkan otentisitas eksistensial masyarakatnya. Tulisan ini juga akan menjelaskan mengapa Soroush menghendaki adanya arah baru dalam diskursus teologi dan politik Islam, khususnya di Iran, yang ditopang oleh pelbagai wacana filosofis. Dengan melibatkan filsafat ilmu (epistemologi) dalam memahami religiusitas manusia, pembacaan Soroush juga meniscayakan suatu perspektif baru dalam memandang realitas, baik realitas individual, sosial, maupun global.

Page 11 of 49 | Total Record : 486