cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
KIDUNG RUMEKSA ING WENGI KARYA SUNAN KALIJAGA DALAM KAJIAN TEOLOGIS Sakdullah, Muhammad
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 2 (2014): ILMU KALAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.2.394

Abstract

Abstract: this article aim to explore of Kidung Rumeksa Ing Wengi that written by Sunan Kalijaga, one of Walisongo members (the nine saints) at Java. In this Kidung, Sunan Kalijaga discussed on the dangerof night which came from genie (jin), satan, and man. To ward off the danger, he advocated Muslims to read it at night. For this reason, for Moslem Javaneseespecially, this Kidung is recognized the most sacral and they always read it every night to get the protection from God. Abstrak: artikel ini bertujuan mengeksplorasi Kidung Rumeksa Ing Wengi yang ditulis oleh Sunan Kalijaga, salah satu anggota dari Walisongo (sembilan wali) di Jawa. Dalam Kidung ini, Sunan Kalijaga membahas tentang bahaya malam hari yang berasal dari jin, setan, dan manusia. Untuk menangkal bahaya tersebut, iamenganjurkan umat Islam untuk membacanya pada malam hari. Untuk alasan ini, bagi Muslim Jawa khususnya, Kidung ini sangat sakral dan mereka selalu membacanya setiap malam untuk mem¬peroleh perlindungan dari Tuhan. Keywords: Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Ahlu al-Sunnah wa al-Jamā`ah, Tuhan, manusia.
REKONSTRUKSI TEOLOGI ISLAM KAJIAN KRITIS TERHADAP USAHA PEMBAHARUAN MENUJU TEOLOGI PRAKTIS Syukur, Suparman
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 2 (2014): ILMU KALAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.2.377

Abstract

Abstract: The terminology of various theology concepts is very basic in human life, especially when man realizes that he is a creature that have duty to submissive and obedient to God as his creator. Talking about the relationship between man and God will, so other beliefs to the prophets, angles, and another creatures should be aroused, We must prove everything of ours believing in the real life. Therefore, the study of theological view, also be associated with the functions and obligations of human beings responsible in this life. There are various concepts of belief in God, the Prophets, Angels, and another creatures, is how to become an habit over the years, it becomes very important to be revitalized in a more meaningful understanding of the¬ dynamics of human daily life. Through that theological beliefs, expected to reflect the improvement of human performance and dedication in order to carry out the mandate as earth’s caliph. Abstrak: Terminologi tentang teologi dengan berbagai kosep dan teorinya merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia, apalagi ketika menusia me-nyadari bahwa dirinya sebagai makhluk memiliki kuajiban untuk tunduk dan patuh kepada penciptanya Tuhan Yang Maha Esa. Berbicara masalah hubungan antara manusia dan Tuhan akan me¬refleksikan kepercayaan lain yang wajib muncul adanya, seperti kepercayaan kepada Nabi, Malaikat dan kepercayaan kepada makhluk halus lainnya. Keper¬cayaan kepada semuanya itu harus di¬buktikan secara nyata dalam kehidupan keseharian manusia. Oleh karena itu dalam penelitian tentang pemikiran teologi, juga harus dikaitkan dengan fungsi dan kwajiban manusia yang bertanggungjawab dalam ke¬hidupan di dunia ini. Berbagai konsep tentang ke¬percayaan kepada Tuhan, Nabi, Malakat dan lain sebagainya yang bersifat transendental sebagai-mana menjadi kebiasaan selama ini, menjadi sangat penting untuk direvitalisasikan dalam pemahaman yang lebih bermakna demi kepentingan di dunia dalam dinamika keseharian manusia. Melalui pembumian keyakinan teologis itu, diharapkan mampu merefleksikan kepada pe¬n-ingkatan kinerja dan dedikasi manusia dalam rang¬ka mengemban amanat ke¬khalifah¬annya di bumi ini. Keywords: ilmu kalam, khalīfah, al-yasar al-Islāmī, teologi praktis, revitalisasi Turaṡ.
MASHSHA’IYAH: MAZHAB AWAL FILSAFAT ISLAM Bakti, Hasan
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.919

Abstract

Abstract: The development of Islam in the golden age was certainly spotted by philosophy (i.e. islamic philosophy), besides having been marked by political and economic progress as well as the advance of sciences in all fields. The advance of Islamic philosophy was marked by the emergence of various thoughts called as schools of Islamic philosophy, like Masysya'iyah (Peripatesism), Isyraqiyyah (Illuminasionism), and 'Irfaniyyah (Gnosticism). The Peripatic school is distinctly characterized by its argumentative and rational emphasis, and its use of Aristotelian logic through a reliable verification. This more applicable method has accordingly made the school get more support, from either its quantity or quality, than other two schools, i.e. Isyraqiyyah and ‘Irfaniyah/Gnosticism. Abstrak: Perkembangan Islam pada zaman keemasan, selain ditandai dengan kemajuan politik dan ekonomi, juga ditandai dengan perkembangan ilmu pe¬ngetahuan dalam semua bidang, termasuk dalam bidang filsafat Islam. Kemajuan filsafat Islam ini ditandai dengan bermunculan berbagai corak pemikiran yang juga disebut dengan mazhab filsafat Islam, seperti Mashsha’iyah (Peripatesisme), Isyrāqiyyah (Illuminasionisme), dan ‘Irfāniyyah (Gnosisme). Ciri khas mazhab peripatesis ialah semangatnya yang rasional argumentatif, menggunakan logika Aristoteles dengan pembuktian yang teruji dan rasional. Cara kerja yang lebih aplikatif ini membuat mazhab peripatesis lebih mendapat dukungan yang lebih banyak secara kuantitas dan kualitas dibanding dua mazhab lainnya, yaitu Isyrāqiyyah dan Gnosisme.
SINERGI IMPLEMENTASI ANTARA PENDIDIKAN AKIDAH DAN AKHLAK MENURUT HAMKA Kasmali, Kasmali
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015): TASAWUF DAN KEARIFAN LOKAL
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.2.433

Abstract

Abstract: This article discusses the implementation of educational creed has a very close relationship with moral education. Creed became the foundation for the implementation of morals. Didsari deeds and djiwai by faith will lead to actions directed, planned, so awake from shirk. True and strong faith will bring a noble character and strong. All that is done is a reflection of the strength of faith, so that the behavior is done is correct behavior and sincere, reflecting the behavior of worship to God. Abstrak: Artikel ini membahas tentang implementasi pendidikan akidah memiliki hubungan yang sangat erat dengan pendidikan akhlak. Akidah menjadi landasan bagi pelaksanaan akhlak. Perbuatan yang didsari dan djiwai oleh akidah akan menimbulkan perbuatan yang terarah, terencana, sehingga terjaga dari perbuatan syirik. Akidah yang benar dan kuat akan memunculkan akhlak yang mulia dan kuat. Semua yang dilakukan merupakan cerminan dari kekuatan akidah, sehingga perilaku yang dilakukan merupakan perilaku yang benar dan ikhlas, mencerminkan perilaku ibadah kepada Allah. Keywords: akidah, akhlak, iman, syirik, pendidikan.
MENYOAL KESENJANGAN ANTARA DAS SOLLEN ISLAM DENGAN DAS SEIN PRAKSIS KEHIDUPAN KAUM MUSLIMIN Suyono, Yusuf
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.1.338

Abstract

Abstract:This paper embarks from the question why the valuable Islamic ethics cannot be ethos grounded in the nation-state Muslim majority country-including in Indonesia? Phenomena such as the majlis taklim, majlis dhikr, interest pilgrimage exceeds the quota, the Islamic banking activity is equally excited, is real. However, it is not enough. Muslims should master the science, economics, and the strategic role of national politics. Islamic ethics is Dassollen, the Muslims condition is DasSein. ProphetMuḥammad has abled to unite Das sein andDassollenin his life, because Islam hasbecomehis bloodso that he is a mirror and store front of Islampar excellence. Muslims, as his follower, not been able todo like him. Al-Amir ArsalanSyākib, Muḥammad ‘Abduh, MohammadIqbal, Muḥammadal-Ghazālī, Ḥassan Ḥanafihavetried to formulatehow tobridge the gapbetween Das sollenandDasSein forMuslims. Theyhave adeep concern about thewide gapbetweenDasSeinpraxis in life of Muslims with DassollenIslamicteachings in slogan ya’lu walā yu’la ‘alaih. Whileatthe same timetheyseehowthe berufethos of Calvinismcouldencouragethe ethos ofmoderncapitalismto its adherentsin Western Europe, a Zen Buddhistethoscouldpushthe Japaneseintothe Asiantigers, andspirit Confucius encouragethe Korean peopleintothe Asiandragon. Abstrak:Tulisan ini berangkat dari pertanyaan mengapa etika Islam yang adiluhung itu tidak bisa membumi menjadi etos bangsa di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim–termasuk di Indonesia. Fenomena seperti majlis taklim, majlis zikir, minat menunaikan ibadah haji melebihi kuota, aktivitas perbankan syariah tak kalah bersemangat, adalah nyata. Namun, itu tidak cukup. Umat Islam seharusnya lebih dari itu dalam penguasaan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan peran strategis politik kebangsaan. Etika Islam itulah Das Sollen, keadaan kaum Muslimin itulah Das Sein. Muhammad Rasulullah telah mampu menyatukan Das Sein dan Das Sollen dalam hidupnya. Hal itu dikarenakan Islam telah menjadi darahnya sehingga beliau adalah cermin dan etalase Islam par excellence. Kaum Muslimin, sebagai pengikutnya, belum mampu berbuat seperti uswah mereka itu. Al-Amir Syakib Arsalan, Muhammad Abduh, Mohammad Iqbal, Muhammad al-Ghazali, Hassan Hanafi telah berusaha menformulasikan bagaimana menjembatani jurang pemisah antara Das Sollen dan Das Sein kaum Muslimin itu. Semuanya itu karena didorong oleh keprihatinan melihat betapa dalam dan menganganya jurang antara Das Sein praksis kehidupan Umat Islam dengan Das Sollen ajaran Islam yang ya’lu wa lā yu’lā ‘alaih itu. Sementara di saat yang bersamaan mereka melihat betapa etos beruf Calvinisme bisa mendorong etos Kapitalis¬me modern bagi pemeluknya di Eropa Barat, etos Buddha Zen bisa mendorong bangsa Jepang menjadi macan Asia, dan spirit Konfucian (Kong Hu Cu) mendorong bangsa Korea menjadi dragon Asia. Keywords:filsafat Islam, dialektika sirkular, etika Islam, filsafat Iqra’, Das Sollen, dan Das Sein.
PERJALANAN SINGKAT PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU Hermawan, Hermawan
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.1.406

Abstract

Abstract: Philosophy of science is part of the philosophy that answers some questions about the nature of science. This field learn the basics of philosophy, assumptions and implications of science, which includes, among others, natural sciences and social sciences. Here, the philosophy of science is closely related to epistemology and ontology. The philosophy of science seeks to explain issues such as: what and how a concept and can be called as a scientific statement, how the concept was born, how science can explain, predict and utilize nature through technology; how to determine the validity of an information; formulation and use of the scientific method; kinds of reasoning that can be used to obtain a conclusion; and the implications of scientific methods and models to society and to science itself. In this regard, this article will present a brief history of the development of philosophy of science to how the contribution of Islam to establish the philosophy of science. Thus it would be seen clearly similarities and differences in the aspects of epistemological, ontological, and axiological of various schools of philosophy that has developed: rationalism, empiricism, and Islam. Abstrak: Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Berkaitan dengan ini, artikel ini akan memaparkan sejarah singkat perkembangan filsafat ilmu hingga bagaimana kontribusi Islam dalam membangun filsafat ilmu tersebut. Dengan demikian akan terlihat dengan jelas kesamaan dan perbedaan aspek-aspek epistemologis, ontologis, dan aksiologis dari berbagai macam aliran filsafat yang sudah berkembang: rasionalisme, empirisme, dan Islam. Keywords: filsafat ilmu, rasionalisme, empirisme, al-Quran.
KONTRIBUSI SINTESIS TASAWUF-TEOSOFIS AL-GHAZĀLĪ TERHADAP KONSTRUKSI TASAWUF SUNNI Aswadi, Aswadi
Jurnal THEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): TASAWUF
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2013.24.2.329

Abstract

Abstract: Sufism of al-Ghazālī patterned the osophist, an integration between the theological and philosophical Sufism. The dominance pattern of the osophical Sufism of al-Ghazālī emphasizes the mystical experience is spread through philosophical reasoning. The his study method departed from the truth of faith and test it through mystical experience method. The peak of his Sufism leads to various dimensions, and then described through the frame work of rational thinking. According to al-Ghazālī, the essential Ma'rifat to be obtained through inspiration or nūr who Allah enter into the hearts of people to recognize the nature of God and all His creation. The knowledge is obtained from ma'rifat more true than the knowledge is acquired by the reason. Abstrak: Tasawuf al-Ghazālī bercorak teosofis, merupakan integrasi antara tasawuf teologis dan filosofis. Dominasi corak tasawuf teosofisal-Ghazālī lebih mengedepankan pengalaman sufistik yang dibentangkan melalui penalaran filosofis. Metode kajiannya berangkat dari kebenaran iman dan mengujinya melalui metode pengalaman sufistik. Puncak tasawufnya bermuara pada tataran ma’rifat dengan berbagai dimensinya, kemudian diuraikan melalui kerangka berpikir rasional. Ma’rifat yang hakiki menurut al-Ghazālī diperoleh melalui ilham atau nūr yang dicampakkan Allah ke dalam qalb manusia untuk mengenali hakikat Allah dan segala ciptaan-Nya. Ilmu yang diperoleh dari ma’rifat lebih benar daripada ilmu yang diperoleh melalui akal. Keywords: ma’rifat, qalb, teosofis, filosofis, gnostik.
PEMIKIRAN TEOLOGI FAZLUR RAHMAN Ramadhan, Muhammad
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 2 (2014): ILMU KALAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.2.386

Abstract

Abstract: The development of Islamic modern theology becomes moral obligation for us which live as the biggest Moslem in the world. Fazlur Rahman laid stress on his discussion on the problem of God as the funnctional existence, the Quran as moral source and value, and the prophecy as concrete evidence of Allah’s affection, and the human as the creature to be responsibility for. Similarly he discussed on the universe to be processed, satan as as test for mankind, and the hereafter life as the place for mankind liability. All themes were discussed in a discourse which for specific boundaries show the dynamic. Acccording to Rahman there are some problems of theology if they related to ethic in the Quran.It is not perfect discussion that can be carried out except if we willing to end with disclosure of all the contents of Quran. Having relation to this issue, he offered to read the Quran with the Quran itself. Abstrak: Pengembangan pemikiran teologi modern Islam semakin terasa menjadi kewajiban moral kita yang hidup sebagai bangsa muslim terbesar di muka bumi ini. Fazlur Rahman menitik beratkan bahasannya sekitar persoalan tuhan sebagai eksistensi yang fungsional, al-Quransebagai sumber dan nilai moral, dan kenabian sebagai bukti kongkrit kepengasihan Allah, serta manusia sebagai mahluk yang ber¬tanggung jawab. Demikian pula ia mengangkat bahasan alam semesta untuk diolah, setan sebagai ujian bagi manusia, serta kehidupan akhirat sebagai tempat pertanggung jawaban manusia. Semua tema tersebut dibahas dalam satu wacana yang sampai batas-batas tertentu benar-benar menunjukkan dinamika. Begitu banyak menurut Rahman yang bisa kita bicarakan mengenai teologi jika dikaitkan dengan etika dalam al-Qur’an. Suatu pembicaraan yang sempurna tidak akan dapat dilakukan, kecuali kalau kita bersedia berakhir dengan pengungkapan seluruh isi kitab itu sendiri. Berkenaan dengan ini, Dan itupun tidak juga mungkin kecuali dalam bentuk membaca al-Quranitu sendiri, dan membiarkan kitab suci itu bicara sendiri. Fazlur Rahman pun gemar membuat pernyataan semacam itu. Keywords: teologi modern, nilai moral, Tuhan, al-Quran, setan, akhirat.
KONVERGENSI AGAMA DAN SAINS DALAM MELACAK BASIS ONTOLOGI SEMESTA: Tinjauan Hermeneutika Hadis Penciptaan Umar, Mustofa
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.925

Abstract

Abstract: The main purpose of this article (research) is to provide the unity of coherent conceptual frameworks between religion and science on the discourse about the origins of the universe. Contemporary cosmological theories reveal the continuing encounter between physics and theology (religion). The concepts of modern physics show surprising parallels to the ideas expressed in the religious philosophies that the basic features of their worldview are the same. Mystical traditions are present in all religions and they also can be found in the theory of modern physics on the holistic conception of reality. It obviously indicates a new “paradigm”— a new vision of reality. By the “antinomic” principles of light, both religion and science, ontologically, can trace the beginning of the universe, and also unveil the deepest secrets of the laws of physics. Light as the basic ontology of reality in the hadith texts has been used by muslem theosophists (sufi) to formulate their theories of the universe creation, especially, in the sufism of Ibn Arabi. His cosmological concepts are essentially similar to the scientific conceptions of cosmology and completely in accordance with the laws of physics in the very heart of the cosmos itself. At the moment, the integration of religion and science has arrived at the same holistic conception of reality. As the pillar of civilization, both are expected to go hand in hand and form a powerful force for social change in the new conceptual frameworks for ways of life, thought, and consciousness. Abstrak: Tujuan utama dari artikel (riset) ini adalah untuk membuktikan terdapatnya kesatuan kerangka konseptual yang koheren antara agama dan sains tentang persoalan muasal alam semesta. Teori-teori kosmologi modern menunjukkan adanya titik temu yang berkelanjutan antara sains dan teologi (agama). Konsep-konsep fisika modern memperlihatkan kesejajaran yang menakjubkan terhadap ide-ide yang diungkapkan dalam filsafat agama, yaitu ciri-ciri dasar pandangan mereka yang sama. Tradisi-tradisi mistik yang terdapat dalam agama, juga dapat dijumpai dalam teori fisika modern tentang konsep realitas yang holistik. Ini dapat disebut sebagai paradigm baru-visi baru terhadap realitas. Melalui prinsip “antinomi” cahaya, secara ontologis, agama dan sains keduanya dapat melacak permulaan semesta, juga dapat membuka selubung terdalam dari rahasia hukum alam (sunnatullāh). Cahaya sebagai basis ontology realitas yang terdapat dalam teks-teks hadis, telah digunakan oleh para sufi untuk menformulasikan teori-teori mereka tentang penciptaan semesta, khususnya Ibn Arabi. Secara esensial, konsep kosmologi Ibn Arabi memiliki kemiripan dengan konsepsi dalam sains dan secara sempurna sesuai dengan hukum alam pada aspek yang paling dalam dari kosmos itu sendiri. Saat ini, intregrasi agama dan sains sudah sampai pada kesamaan konsepsi tentang realitas secara holistik. Sebagai pular peradaban, keduanya diharapkan dapat berjalan beriringan dan membentuk sebuah kekuatan penuh bagi perubahan sosial dalam bingkai keonseptual baru terhadap pandangan hidup, pemikiran dan kesadaran.
TEOLOGI KEMANUSIAAN STUDI ATAS PEMIKIRAN ALI SYARIATI Ramadhan, M
Jurnal THEOLOGIA Vol 22, No 2 (2011): ILMU-ILMU USHULUDDIN
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2011.22.2.609

Abstract

Abstak:Kontribusi Ali Syari’ati dalam melakukan revolusi intelektual dikalangan kaum terpelajar Iran, menjelang revolusi fisik 1979, diakui sangat besar pengaruhnya dimana bibit-bibit untuk melakukan revolusi memang sudah ia tanamkan jauh sebelumnya. Adapun ciri khas tulisan-tulisan dan ceramah-ceramah Syaria’ti adalah ”menggerakkan”. Ia memang seorang cendekiawan sekaligus ulama Islam yang tidak suka melihat status quo, kemandekan dan kejumudan. Salah satu tema sentral gagasan Syari’ati adalah keberpihakannya yang begitu besar kepada kaum yang lemah dan tertindas, sekaligus upayanya yang begitu keras untuk mengeluarkan kaum tersebut dari ketertindasan dan kebodohan, sebagaimana yang akan dibahas dalam artikel ini. Kata kunci: teologi, kemanusiaan, rausanfikr, kaum tertindas, pergerakan.

Page 9 of 49 | Total Record : 486