cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
INSÄ€N KÄ€MIL: ANTARA MITOS DAN REALITAS Danusiri, Danusiri
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.1.343

Abstract

Abstract: Islam as a religion delivered by Muhammad saw. bin Abdullah (w.632) is based on the revelations he received from God. At the end of his age, the religion is stated as a perfect religion because it contains a description of all aspects of life (tibyanan likulli syai'). To become the most religionist in Islam, every Moslem should follow the religious way he was because he is a good example (uswatun hasanah), especially the religious rituals dimension. The implication is clear that looking for other models of religious practices except him are certainly would not be the best because there is no guarantee of truth. Over time, many factors occur in the dynamics of the history of Moslem. The values of Islam built by the Messenger have changed a lot in the society. Muhammad position as the top model has shifted into the lower one. The concept of insān kāmil (perfect man) pops out then. They are also the 'loyal followers' of the Messenger of Allah, introducing the idea of speculative-philosophical-mystical religious rituals and a very extreme and radical practice of religious rituals if measured from his norm and religious practices. Nevertheless, the mass movement of Moslem under the shadow of the perfect man considered as something between a myth and reality refer to the texts of the Quran and al-sunnah. Abstrak: Islam sebagai agama disampaikankan oleh Muhammad saw. bin Abdullah (w.632) atas dasar wahyu yang ia terima dari Tuhan. Pada usia akhir-akhir hayatnya, agama ini dinyatakan sebagai agama yang sempurna karena memang mengandung penjelasan semua aspek kehidupan (tibyanan likulli syai’). Untuk menjadi agamawan yang paling baik di dalam Islam, setiap muslim supaya mengikuti cara ia ber¬agama karena ia adalah contoh yang baik (uswatun hasanah), khususnya dimensi ritual keagamaan. Implikasinya mencari model praktik-praktik keberagamaan selain beliau tentu tidak akan menjadi yang paling baik karena tidak ada jaminan kebenarannya. Seiring perjalanan waktu, banyak faktor terjadi dalam dinamika sejarah umat Islam.Nilai-nilai yang dibangun oleh pembawa Islam pun banyak yang berubah. Posisi Muhammad saw. sebagai top model dalam beragama tergeser pada peringkat yang lebih rendah. Konsep insān kāmil bermunculan. Mereka yang juga ‘pengikut setia’ Rasulullah, memper¬kenalkan gagasan spekulatif-filosofis-mitis dan praktik ritual keagamaan yang sangat eks¬trim dan radikal jika diukur dari norma dan praktik keberagamaan beliau. Meski¬pun demikian, gerakan massal umat Islam di bawah bayang-bayang insān kāmil yang jika ditimbang dengan neraca teks-teks al-Quran maupun al-sunnah dapat dinyatakan sebagai sesuatu antara mitos atau realitas. Keywords:uswatun hasanah, penggeseran nilai, insān kāmil, praktik keberagamaan, mitos.
PROFESI SEBAGAI TAREKAT Munji, Ahmad
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015): TASAWUF DAN KEARIFAN LOKAL
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.2.427

Abstract

Abstract: Generally in the teachings of any religion, both divine religions such as Islam, Christianity and Judaism, or earth religions such as Hinduism, Buddhism there is a polarization between religion and economic activity. So that all activities which seeking riches is viewed negatively and not in accordance with the lofty ideals of spirituality. In the teachings of Islamic religion there is also tendency that sees economic activity as an activity that is in appropriate for a religious. By using content analysis, the studies illustrate that everyone can make his profession as a path to God. Provided that each profession held by Islamic guidance, according to the Qur'an and the Hadith. Abstrak: Dalam ajaran keagamaan secara umum, baik agama-agama samawi seperti Islam, Kristen dan Yahudi, maupun agama bumi seperti Hindu, Buddha dan lain sebagainya terdapat anti-nomi antara agama dan kegiatan ekonomi. Sehingga seluruh kegiatan yang mencari kekayaan dipandang negatif dan tidak sesuai dengan cita-cita luhur spiritualitas. Dalam ajaran Agama Islam juga terdapat tendensi yang cukup kuat yang memandang kegiatan ekonomi sebagai aktifitas yang tidak pantas bagi manusia yang taat beragama. Dengan menggunakan analisis isi (content analysis), setudi ini menggambarkan bahwa, setiap orang bisa menjadikan profesinya sebagi jalan menuju kepada Allah. Asalkan setiap apa yang menjadi aktifitas keseharianya dilaksanakan berdasarkan tuntunan Islam, sesuai dengan al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad. Keywords: profesi, wirid, al-Quran, hadis, tarekat.
KONSEP AL-NAFS DALAM KAJIAN TASAWUF AL-GHAZᾹLĪ Burlian, Paisol
Jurnal THEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): TASAWUF
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2013.24.2.334

Abstract

Abstract: This article will elaborate on al-nafs (soul) which is an essential part of human nature. The Sufis divide understanding al-nafs in three senses. First, al-nafs is a substance that distinguishes human qualities with other creatures. Second, al-nafs is the cause of man to be creative and dynamic, through the process of inspiration and contemplation. Therefore, the level of quality of the nafs is different. In the literature of Sufism, the nafs can be transformed from a trend that is closest to the bad action to the level of closeness to the divine tenderness. Third, the nafs is the impulse of anger and lust, and urge all reprehensible nature, and immoral in mind. Sufi Sunni, al-Ghazālī calls nafs as the center of the potential upset, and the base of the despicable nature. Therefore, al-nafs need to be purified so that the properties of self perverted man disappeared. Road purification al-nafs is riyāḍah and mujahadah who constantly so al-nafs is ultimately up to the level of the nafs al-muṭmainnah. Abstrak: Artikel ini akan mengelaborasi tentang al-nafs (jiwa) yang merupakan bagian yang penting dari hakikat manusia. Para sufi membagi pengertian al-nafs ini dalam tiga pengertian. Pertama, al-nafs merupakan substansi yang membedakan kualitas manusia dengan makhluk yang lain. Kedua, al-nafs merupakan penyebab manusia menjadi kreatif dan dinamik, melalui proses inspirasi dan tafakur. Karena itu, tingkatan kualitas nafs orang berbeda-beda. Dalam literatur tasawuf, nafs ini dapat ditransformasikan dari kecenderungan yang paling dekat pada tindakan buruk sampai ke tingkat kedekatan pada kelembutan ilahi. Ketiga, nafs ialah dorongan amarah dan syahwat, serta dorongan segala sifat tercela, dan maksiat dalam batin. Seorang sufi Sunni, al-Ghazālī menyebut nafs sebagai pusat potensi marah, dan pangkal dari sifat tercela. Karena itu, al-nafs ini perlu disucikan agar sifat-sifat tercela itu lenyap dari diri manusia. Jalan penyucian al-nafs adalah riyāḍah dan mujāhadah yang terus-menerus sehingga al-nafs pada akhirnya sampai pada tingkat nafs al-muṭmainnah. Keywords: al Nafs, laṭīfah al-rabbāniyah, sufi, al-Quran, dan al-Sunnah.
PERGUMULAN KEBERAGAMAAN DI DUNIA BARAT Baharudin, M
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 2 (2014): ILMU KALAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.2.396

Abstract

Abstract: This paper aims to find the answer to a fundamental question: what is religion? How is the phenomenon of religionin the western world? And how religious the Western world in this contemporary Era? In the discussion note several things, among others: 1). Religionisa systemof beliefs and practicesof life according to these beliefs. Religionis the rules on how to live a physically and mentally. Religionisa reference of life in its various aspects, including aspects of common life or social life. 2). In medieval times, religionis seenas having an absolute and universal truth concretely been visualizedin the Western world. 3). In the post modernera of modernity and religion is criticize dan dindistortion, the era of religion merely a matter of discussion and separated with practical life, religionis also considered to hinder the progression of man. Abstrak: Tulisan ini bertujuan menemukan jawaban mendasar atas pertanyaan: apa itu agama? Bagaimana fenomena agama di dunia Barat? Dan bagaimana keberagamaan dunia Barat pada Era kontemporel ini? Dalam pembahasan diketahui beberapa hal antara lain: 1). Agama ialah sistem kepercayaan dan praktek hidup yang sesuai dengan kepercayaan tersebut. Agama ialah peraturan tentang cara hidup lahir batin. Agama adalah acuan hidup berbagai aspeknya, termasuk aspek kehidupan bersama atau kehidupan sosial. 2). Pada abad pertengahan, agama dipandang sebagai yang memiliki kebenaran mutlak dan universal yang secara kongkrit pernah divisualisasikan di dunia Barat. 3). Pada era modernitas dan post¬modern agama dikritik dan di distorsi, pada zaman tersebut agama sekedar menjadi bahan diskusi dan dipisahkan dengan kehidupan praktis, agama juga dianggap menghalangi progresivitas manusia. Keywords: Pergumulan, Keberagamaan, Dunia Barat
TEOLOGI MU’TAZILAH: Sebuah Upaya Revitalisasi Safii, Safii
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 2 (2014): ILMU KALAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.2.379

Abstract

This article elaborates an important role in the history of Mu'tazila theology in the Islamic World. Services that have been provided by this school seems to be forgotten by the Muslims, even it became despised and persecuted theology. In fact, this theology has made a large contribution in defending against attacks originating from the Jews, Christians, Zoroastrians, and Materialist. In the modern context, the spirit of this theology is relevant to be recalled that the freedom of thought as an integral part of the human being can grow and develop so that science and technology in the Islamic world can grow back. It must be recognized that this is indeed the flow had already given a negative image by traditional Islamic theology and hadith experts. Theology is imaged as a carrier of heresy
NEGARA ADIL MAKMUR DALAM PERSPEKTIF FOUNDING FATHERS NEGARA INDONESIA DAN FILOSOF MUSLIM Khalik, Abu Tholib
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.920

Abstract

Abstract: This article elaborates on the concept of a fair and prosperous among the Indonesian founding fathers with the Muslim philosophers. Basic concepts of the founding fathers is Pancasila in which there is the word ‘fair’. The word ‘fair’ is also a very serious discussion among Muslim philosophers. The Muslim philosophers underlined that fair is one of the basics of leadership exemplified by the Prophet Muhammad while leading the people of Madina multi-ethnic and multi-religious, and this of course is relevant to the context of Indonesia's multi-religious, multi-ethnic and multi-class. For founding fathers, desire to create a fair society and a prosperous lofty ideals and key for the Indonesian nation. Therefore, they feel how much suffering people of Indonesia as a nation occupied by foreign interchangeably. In the occupation of Indonesia was treated unfairly, and natural wealth confiscated. This goal was already thought by the Muslim philosophers. Therefore, in comparing the two is where the significance of the concept of a just and prosperous one. Abstrak: Artikel ini akan mengelaborasi konsep negara adil dan makmur antara founding fathers (Para Pendiri Bangsa) Indonesia dengan para para filosof Muslim. Asas konsep founding fathers adalah Pancasila yang di dalamnya terdapat kata adil. Kata adil juga menjadi pembahasan yang sangat serius di kalangan filosof Muslim. Para filosof Muslim menggarisbawahi bahwa adil merupakan salah satu asas kepemimpinan yang diteladankan oleh Nabi Muhammad saat memimpin masyarakat Madinah yang multi-agama, dan ini tentu saja relevan dengan konteks Indonesia yang multiagama, multi-etnik, dan multi-golongan. Bagi founding fathers, keinginan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur merupakan cita-cita luhur dan utama bagi bangsa Indonesia. Sebab, mereka merasakan betapa menderitanya bangsa Indonesia ketika dijajah oleh bangsa asing yang silih berganti. Dalam penjajahan itu bangsa Indonesia diperlakukan tidak adil, dan kekayaan alam dirampas. Keinginan seperti ini ternyata sudah pula menjadi pemikiran para filosof Muslim. Karena itu, di sinilah signifikansi membandingkan kedua konsep adil dan makmur tersebut.
STRATEGI REGULASI EMOSI DAN PERILAKU KOPING RELIGIUS NARAPIDANA WANITA DALAM MASA PEMBINAAN Studi Kasus: Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Bulu Semarang Anggraini, Erlina
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015): TASAWUF DAN KEARIFAN LOKAL
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.2.435

Abstract

Abstract: This article aims to elaborate emotion regulation strategies and religious coping of inmates in Clas II A women’s prison of Bulu Semarang. Staying at detention center or prison definitely makes someone stress and automatically influences to their social life, health-physics, and psychic. Moreover for new inmates (unrecidivist), the effect can be worse. The new athmosphere of the jail can make them feel meaningless, useless, bore, and give up. It means they get both of physics and psychology punishment. Therefore the inmates should be able to control their emotion and be adaptive in their ‘new live’. This ability is called emotion regulation. Surely, the good ability will help them to face many kinds of stressors in their life. This study describes emotion regulation strategies and religious coping of women inmates. because as known in most of the society, the women are more sensitive than the men. The method of this research is qualitative. The Informants of this study are inmates of Clas II A women’s prison of Bulu Semarang which taken by random system. The researcher finds that the inmates will be easier to face stressors if they have good-emotion regulation. such as having positive thinking and controlling their attitude and feeling. But if they con not regulate their emotion well, they will be easy to feel anxiety, depression and distress. They are also will be more more aggresive. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengelaborai strategi regulasi emosi dan koping religius narapidana wanita dalam masa pembinaan. Hidup dalam rutan, penjara atau lembaga pemasyarakatan (Lapas) pasti menimbulkan berbagai tekanan yang akan berdampak pada kehidupan sosial, keadaan fisik dan juga psikis narapidana, apalagi bagi narapidana baru (bukan residivis). Dampak fisik dan psikologis yang dialami oleh narapidana dapat membuat mereka merasa tidak bermakna (meaningless) yang ditandai dengan perasaan hampa, gersang, bosan, dan putus asa. Konflik batin seperti perasaan sedih, menyesal, khawatir, tertekan, merasa terbatasi, rindu keluarga, jenuh dan perasaan tidak mengenakkan lainnya muncul dalam diri mereka. Ini artinya bagi sebagian besar narapidana, penjara bukan saja hukuman fisik (serba terbatas) melainkan juga hukuman psikologis. Untuk itu narapidana harus memiliki kemampuan untuk bisa mengontrol emosi mereka agar tetap efektif dan adaptif dalam tekanan, kemampuan ini disebut regulasi emosi. Kemampuan regulasi emosi yang baik tentu akan sangat membantu narapidana dalam menghadapi masa-masa yang sulit dan penuh tekanan dalam masa pembinaan. Keywords: coping religious, narapidana, stressor, hukuman psikologis, hukuman fisik.
ILMU ḤUḌŪRĪ Khazanah Epistemologi Islam Saidurrahman, Saidurrahman
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.1.339

Abstract

Abstract: Knowledge of the presence (ḥuḍūrī) with mystical experience as describe above is deemed the most popular models of knowledge in Islamic philosophy at the same coloring methodology and epistemology of Islam. Through logical arguments, semantic analysis and epistemo¬logy sharp Suhrawardī considered very successfully demonstrate authenticity huduri science as a science model of non-representational. Among the classical epistemological problems that have not been resolved until now -but able to be dissected in clear and distinct- is about the relationship of subject and object of knowledge, that is the problem more acute in modern Western philosophy. What is interesting is when when to review the issues very carefully and consistently Mehdi directing and bringing the students (who interest in Islamic philosophy) into the recesses of the inner world and the dialogue with the depth of their own existence. It is undeniable that Ha'iri Mehdi Yazdi take existentialist philosophy illumination Suhrawardī and MullaṢadrā as a main reference, as he learned the lesson of Plato, Aristotle, Plotinus, Ibn Sīnā, and al-Ṭūsī, citing the idea of a number of Western philosophers were actually familiar with the science huduri that he wanted to offer. However unique, he expertly directs their ideas to the conclusion that it is inevitable for us to acknowledge the existence of non - phenomenal knowledge. Abstrak:Pengetahuan dengan kehadiran (ḥuḍūrī) dibarengai pengalaman mistik seperti yang paprkan diatas dipandang model pengetahuan yang paling populer dalam filsafat Islam sekaligus mewarnai metodologi dan epistemologi Islam. Melalui argumen-argumen logis, analisis semantik dan epistemologi yang tajam Suhrawardī dipandang sangat berhasil mendemonstrasikan keautentikan ilmu huduri sebagai sebuah model ilmu non-representasional. Diantara problem-problem klasik episte-mologis yang belum terselesaikan hingga kini—tetapi mampu dibedah secara clear dan distink—adalah tentang hubungan subjek dan objek pengetahuan, yang problemnya makin akut dalam filsafat Barat modern. Yang menarik adalah ketika ketika mengulas masalah-masalah itu Mehdi sangat cermat dan konsisten mengarahkan dan membawa para murid-muridnya (peminat filsafat Islam) memasuki relung-relung dunia batin dan berdialog dengan kedalaman eksistensi mereka sendiri. Tak dapat dipungkiri bahwa Mehdi Ha’iri Yazdi mengambil filsafat iluminasi Suhrawardī dan eksistensialis MullaṢadrā sebagai acuan utamanya, seraya memetik pelajaran dari Plato, aristoteles, Plotinus, Ibn Sīnā, dan al-Ṭūsī, mengutip gagasan sejumlah filosof Barat yang sebetulnya asing dengan ilmu ḥuḍūrī yang hendak ia tawarkan. Akan tetapi uniknya, dengan piawai ia mengarahkan gagasan-gagasan mereka kepada penarik¬an kesimpulan bahwa adalah tak terelakkan bagi kita untuk mengakui eksistensi pengetahuan non-fenomenal itu. Keywords: ilmu ḥuḍūrī, khazanah, epistemologi, cogito ergo sum, atheisme.
KERUSAKAN LINGKUNGAN: EPISTEMOLOGI SAINS ISLAM DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA Mangunjaya, Fachruddin
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.1.407

Abstract

Abstract: This article examines the challenges of environmental degradation and arguing to retun back to the Quran as a search of epistemological foundation of science and a necessary strong foundation in managing the balance of carrying for the earth and environmental crisis. This study also explores the principles of Islamic in view of the environmental approach such as the understanding keywords about the God creation (Ilm-al-Khalq), which can be laid as foundations such as tawḥīd, which encourage the belief that the only the Creator with all power single, the khalifah (caliph) that empasis on man responsibility, mīzān which refers to maintaining a balance and keeping the fitrah as ordered of (human) nature in order to maintain the patterns of life and the integrity of God's creation. Abstrak: Artikel ini menguji tantangan-tantangan degradasi lingkungan dan mengajukan pendapat untuk kembali kepada al-Quran sebagai sebuah cara mencari dasar epistemologi sains dan sebuah dasar yang kuat dalam mengelola keseimbangan bagi bumi dan krisis lingkungan. Studi ini mengeksplorasi prinsip-prinsip Islam dalam memandang terhadap pendekatan lingkungan seperti adanya pemahaman kata-kata kunci tentang ciptaan Tuhan (‘Ilm al-Khalq), yang bisa ditempatkan sebagai dasar-dasar, yang mendorong keimanan sehingga hanya ada Sang Pencipta dengan kekuatan yang tunggal, sang khalifah yang menekankan pada tanggung jawab manusia, mīzān yang merujuk pada mempertahankan keseimbangan pola-pola kehidupan dan integritas makhluk Tuhan. Keywords: Islamic epistemology, science, lingkungan, khalīfah, mīzān.
FUNGSI TASAWUF TERHADAP PEMBENTUKAN AKHLAK (ETIKA) KERJA:Studi pada Murid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah di Kota Pontianak Kalimantan Barat Fatmawati, Fatmawati
Jurnal THEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): TASAWUF
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2013.24.2.330

Abstract

Abstract: Every adult male who works with various types of background work is a form of responsibility to provide for his family members . Observing one's work activities , this study analyzed the work activities on college institutes followers of Qadiriyah Naqsyabandiyah (QN) in Pontianak city. The research analyzes using perspective of Sociology of Religion , how functions can Sufism moral formation (ethics ) working his followers . Furthermore, this study used a qualitative approach comes with a descriptive method. Networking research data using the snowball technique in college institutes informant followers of Qadiriyah Naqsyabandiyah As-Salam and An-Nuur in Pontianak city QN flow assuming a more dominant in Pontianak. The next stage of data were analyzed using qualitative analysis. The results of the research—stageportrait of detainees practice Sufism by iḥsān; students were guided by mursyid (teacher like procession allegiance) and remembrance procession done consistently implications for morality (ethics) work has a spiritual dimension and Islamic values. Morality (ethics) refers to the working properties such as the nature of the Prophet Muhammad,ṣiddiq (right ), amanah (trust), faṭanah (intelligence) and tablīgh (sermons/promotion) which is still relevant today. When performing work activities of Qadiriyah Naqsyabandiyah (QN)followersfeel have the power within themselves so that they always feel to be watched. They are careful in their work and always maintain appropriate behavior Islamic morality . Abstrak: Setiap laki-laki dewasa yang bekerja dengan berbagai latar belakang jenis pekerjaan adalah sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk memberi nafkah anggota keluarga¬nya. Mencermati aktivitas kerja seseorang, kajian ini meng¬analisis aktivitas kerja pada pengikut perguruan tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (QN) di kota Pontianak. Adapun pisau analisis penelitian menggunakan persfektif Sosiologi Agama, bagimana fungsi tasawuf dapat pembentukan akhlak (etika) kerja para pengikutnya. Selanjutnya penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dilengkapi dengan metode deskriptif. Penjaringan data penelitian ini meng¬gunakan teknik snow ball yakni pada informan pengikut perguruan tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah As-Salam dan An-Nuur di kota Pontianak dengan asumsi aliran QN lebih dominan di Pontianak. Tahapan selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif. Hasil penelitian mengambarkan tahapan-tahahan pengamalan tasawuf oleh ikhsan/murid yang dibimbing oleh mursyid/guru seperti prosesi bai’at (ikrar) dan prosesi zikir yang dilakukan secara konsisten berimplikasi pada akhlak (etika) kerja yang mempunyai dimensi spiritual dan nilai-nilai Islami. Akhlak (etika) kerja merujuk sifat-sifat Nabi Muhammad Saw seperti sifat ṣiddiq(benar), amanah (tangungjawab), faṭanah (kecerdasan) dan tablīgh (promosi) yang masih relevan hingga kini. Ketika melakukan aktivitas kerja para pengikut QN merasa mempunyai kekuatan spiritualdi dalam dirinya, yakni merasa selalu ada yang mengawasi. Mereka berhati-hati dalam bekerja dan selalu menjaga perilakunya sesuai akhlak Islami. Keywords: tasawuf, tarekat, akhlak, etika.

Page 10 of 49 | Total Record : 486