cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
IMAJI
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893892     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal IMAJI (ISSN 2089-3892) ini adalah sebuah terbitan berkala yang bertujuan untuk mewadahi dan mendokumentasikan kreatifitas karya ilmiah desain dalam bidang arsitektur, terutama dosen dan mahasiswa dari lingkungan Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip.
Arjuna Subject : -
Articles 446 Documents
PANTI WREDHA DI UNGARAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ERGONOMIS ardita putri; totok roesmanto; eddy hermanto
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.739 KB)

Abstract

Saat ini banyak terjadi perkembangan pada seluruh bidang kegiatan di Ungaran, baik kegiatan ekonomi, perdagangan, jasa dan industri seperti yang terjadi di sekitar Kabupaten Semarang. Fenomena ini menjadikan gaya hidup individualisme di masyarakat perkotaan semakin kental. Hal ini menyebabkan pergeseran pola keluarga dari keluarga besar menjadi keluarga inti, di hampir semua kota besar. Masyarakat akan lebih memusatkan perhatiannya pada keluarga inti saja. Sehingga para manusia lanjut usia (manula) atau juga kita sebut dengan lansia (lanjut usia) saat ini, kurang diperhatikan oleh anggota keluarganya. Maka dari itu, Ungaran yang sekarang semakin maju, memerlukan Panti Wredha yang dapat mengakomodasi kebutuhan tempat tinggal para manula. Dengan memerhatikan sisi ergonomis pada arsitekturnya, hunian ini menjadi nyaman untuk digunakan manula. Panti Wredha ini juga sebagai sarana interaksi dan sosialisasi antar manula agar mereka tidak lagi merasa kesepian atau terbuang. Kajian diawali dengan mempelajari pengertian tentang Panti Wredha, pengertian dan standar-standar mengenai fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan oleh manula, serta studi banding beberapa Panti Wredha yang telah ada. Dilakukan juga tinjauan mengenai Kota Ungaran, perkembangan fasilitas di kota tersebut, serta program-program pemerintah yang mendukungnya. Pendekatan perancangan arsitektural dilakukan dengan konsep ergonomis. Selain itu dilakukan pendekatan fungsional, kinerja, teknis, dan konstekstual. Pemilihan tapak dilakukan pada 3 alternatif lokasi dengan menggunakan matriks pembobotan. Sebagai kesimpulan, luaran program ruang yang diperlukan, serta gambar-gambar 2 dimensi dan 3 dimensi sebagai ilustrasi desain.
PANTI WREDHA DI KOTA SEMARANG Busada Eka Kristi Pratiwi; Atiek Budiarto; Titin Woro Murtini
IMAJI Vol 1, No 2 (2012): IMAJI
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1288.595 KB)

Abstract

Proses lahir, tumbuh dan berkembang lalu menjadi tua merupakan sebuah proses yang dialami oleh semua manusia. Proses perkembangan itu akan diiringi pula oleh perubahan-perubahan. Proses perkembangan menjadi tua,akan diiringi dengan kemunduran-kemunduran kondisi fisik tubuh, yang berdampak pada menurunnya fungsi organ tubuh dan berubahnya kegiatan sehari-hari. Karena kekurangan ini, lansia seseorang yang telah mencapai umur (60+) termasuk dalam golongan manusia yang memiliki kemampuan yang berbeda. Karena lansia memiliki kemampuan yang berbeda, maka kebutuhan lansia berbeda pula dengan manusia normal lainnya.Pola kehidupan masyarakat kota yang modern, banyaknya jumlah lansia yang ada di Kota Semarang, keterbatasan fisik lansia dan kurangnya fasilitas yang ada ini sudah selayaknya mendapat perhatian khusus.Kajian diawali dengan mempelajari pengertian tentang lansia, pengelompokkan lansia, prinsip desain ruang untuk lansia, pengertian panti wredha, fungsi dan peran panti wredha, jenis ruang panti wredha, serta psikologi ruang panti wredha. Pendekatan perancangan arsitektural dilakukan dengan konsep Arsitektur Tropis dengan tidak meninggalkan prinsip-prinsip Universal Design. Selain itu dilakukan pendekatan fungsional, kinerja, teknis, dan kontekstual. Pemilihan tapak dilakukan pada 3 alternatif lokasi dengan menggunakan matriks pembobotan.Sebagai kesimpulan, terdapat luasan program ruang yang diperlukan, serta gambar-gambar 2 dimensi dan 3 dimensi sebagai ilustrasi desain
PUSAT BUDAYA DAN PARIWISATA KARESIDENAN MADIUN Fary Faizal; hermin werdiningsih; edy darmawan
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1803.202 KB)

Abstract

Karesidenan Madiun yang terdiri dari kabupaten Magetan, Ngawi, Pacitan, Madiun dan Ponorogo memiliki keberagaman kebudayaan dan objek wisata yang berpotensi besar untuk dikembangkan dan dimaksimalkan. Potensi wisata tersebut meliputi wisata budaya, alam, dan kuliner. Wisata budaya yang ada Madiun seperti kebudayaan reog Ponorogo yang sudah sangat dikenal se-Indonesia dan wisata alam yang berpotensi di Madiun seperti Telaga Sarangan yang berada di Magetan, sedangkan untuk wisata kuliner sudah tidak perlu dipertanyakan lagi karena Madiun terkenal oleh kulinernya yang bernama pecel dan brem. Selain itu Madiun memiliki beberapa julukan yaitu Madiun Kota Gadis, Kota Brem, Kota Pelajar, Kota Sepur, Kota Pecel, Kota Budaya, Kota Sastra, dan Kota Industri. Namun sangat disayangkan, dalam perkembangannya timbul berbagai permasalahan yang berkaitan dengan bidang kebudayaan dan pariwisata Madiun, seperti kurangnya pembinaan dan pelestarian kebudayaan kota Madiun sehingga sempat kebudayaan Reog Ponorogo diklaim oleh negara tetangga. Selain itu kurangnya informasi mengenai objek wisata yang ada di Madiun berakibat pada kurangnya minat masyarakat serta ketidaktahuan masyarakat mengenai beberapa objek wisata yang ada di Madiun. Selain karena kurangnya pembinaan kesenian budaya Madiun dan kurangnya informasi mengenai objek wisata di Madiun, hal lain yang menjadi hambatan adalah karena belum tersedianya fasilitas informasi mengenai kebudayaan dan objek wisata di Madiun. Faktor lainnya yang menyebabkan kurangnya minat masayarakat adalah karena belum tersedianya fasilitas yang mampu mewadahi eksistensi dan apresiasi terhadap kesenian dan kebudayaan Madiun.
SOLO EXHIBITION AND CONVENTION CENTER Green Architecture dengan Penerapan Unsur Budaya Lokal Hanif Rusjdi; indriastjario indriastjario; Budi Sudarwanto
IMAJI Vol 1, No 3 (2012): IMAJI
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2123.684 KB)

Abstract

Kota Solo telah berkembang tidak hanya sekedar menjadi Kota Budaya, tetapi juga menjadi salah satu kota tujuan wisata di Indonesia. Hal ini terlihat dengan semakin menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan di tengah kota maupun hotel-hotel berbintang di pusat kota. Apalagi dengan adanya wacana dari pemerintah yang ingin mewujudkan Kota Solo sebagai destinasi MICE di Indonesia. Berkaitan dengan perkembangan wisata MICE di kota solo maka kebutuhan akan sarana dan prasarana kegiatan konvensi maupun ekshibisi di Kota Solo dirasa sangat penting mengingat kemajuan Kota Solo yang bisa dikatakan sangat pesat.Kajian diawali dengan mempelajari pengertian dan hal-hal mendasar mengenai kegiatan konvensi dan ekshibisi, standar-standar mengenai tata ruang dalam bangunan convention and exhibition center, studi banding beberapa bangunan convention and exhibition center di Indonesia dan studi banding pustaka beberapa bangunan convention center di dunia. Dilakukan juga tinjauan mengenai lokasi bangunan Solo Exhibition and Convention Center yang akan bertempat di Kota Solo dan pembahasan konsep perancangan dengan penekanan desain Green Architecture. Tapak yang digunakan adalah tapak hasil dari pemilihan beberapa alternatife tapak yang ada di Kota Solo yang sesuai dengan luasan kebutuhan ruang. Selain itu juga dibahas mengenai tata massa dan ruang bangunan, penampilan bangunan, struktur, serta utilitas yang dipakai dalam perancangan “Solo Exhibition and Convention Center”.Konsep perancanganditekankanpada penekanan Green Architecture, dimana konsep perancangan bangunan diharapkan dapat bersahabat dengan lingkungan, dalam artian ketika bangunan tersebut berdiri di tengah lingkungan tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi lingkungan sekitar baik itu dari masa konstruksi hingga masa maintenance bangunan.Bangunan Solo Exhibition and Convention Center dihadirkan dengan bentuk yang kontemporer dengan bahan prefabrikasi yang merefleksikan masa modern atau masa yang akan datang. Tidak lupa untuk menerapkan unsur-unsur budaya lokal pada bangunan untuk menjaga kesan kedaerahan. Dalam hal ini pemilihan motif batik “Kawung” sebagai motif batik khas solo ke dalam fasade bangunan diharapkan dapat menjaga identitas kota solo yang dibawa pada konsep modernitas. Untuk material bangunannya sendiri dipilih bahan-bahan prefabrikasi yang memiliki sifat fleksibel dan efisien. Dari segi struktur diterapkan modul slab and grid pada penopang lantai bangunan dan sistem struktur space frame atau space beam pada struktur penopang atap.
RUMAH SAKIT THT DI KOTA SEMARANG DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR MODERN riestya aryani
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1823.901 KB)

Abstract

Seperti kita ketahui, saat ini pembangunan gedung untuk berbagai kepentiangan masyarakat tumbuh dengan pesat1. Berbagai gedung baru seperti gedung perkantoran, mall, apartemen, rumah sakit dan lain-lain banyak bermunculan. Perkembangan yang ada saat ini menunjukkan bahwa pembangunan gedung baru sudah lebih memperhatikan aspek-aspek yang berkaitan dengan keberadaan dan fungsi bangunan. Berbagai ruang dalam gedung dirancang secara lebih baik untuk dapat memenuhi fungsi ruang serta memperhatikan aspek kenyamanan dari orang-orang yang menggunakan ruang tersebut. Rumah sakit termasuk lingkungan binaan yang juga berkembang cukup pesat. Berbagai rumah sakit lama direnovasi, sementara rumah sakit baru bermunculan. Tidak hanya rumah sakit umum saja, akan tetapi rumah sakit khusus juga kerap berkembang. Rumah sakit khusus2 adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu, berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ atau jenis penyakit. Berdasarkan rencana pengembangan BKIM Semarang menjadi Pusat Kesehatan Indera Masyarakat Jawa Tengah, disinggung mengenai kesehatan indera masyarakat yang termasuk salah satu urusan wajib, yaitu fungsi pemerintah untuk mengatur dan mengurus fungsi yang menjadi kewenangannya dalam rangka melindungi, melayani, memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat (PP 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota). Kesehatan indera yang dimaksud tersebut salah satunya adalah kesehatan THT.
SEMARANG YOUTH AND COMMUNITY CENTRE Fahry Adam
IMAJI Vol 3, No 3 (2014): jurnal IMAJI - Juli 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1016.978 KB)

Abstract

Dewasa ini perkembangan teknologi, seni dan kebudayaan yang masuk ke Indonesia, khususnya Semarang semakin berkembang pesat. Hal ini ditandai dengan kecenderungan pendidikan masyarakat yang semakin maju dalam berbagai bidang. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pelajar yang terus meningkat, terdapat 272.873 siswa pada tahun 2012 di Semarang. Tidak jarang dijumpai, banyaknya remaja di Semarang yang sudah fasih dalam menggunakan perangkat teknologi seperti komputer dan smartphone. Di Semarang juga mulai tumbuh berbagai acara hiburan dan pertunjukkan seni yang diselenggarakan baik oleh pihak pemerintah maupun swasta. Kegiatan pertunjukkan seni dan pentas musik pun turut didominasi oleh partisipasi kaum remaja. Dengan menjamurnya perkumpulan kesenian di Semarang, tercatat pada Badan Pusat Statistik tahun 2012 terdapat 304 kelompok kesenian yang aktif melakukan kegiatan. Hal ini tentu mendorong arah minat para remaja untuk mengembangkan diri pada bidang-bidang tersebut. Pada kenyataannya, perkembangan minat remaja di Semarang belum dapat diimbangi dengan tersedianya fasilitas-fasilitas untuk mewadahi kegiatan remaja dalam mengembangkan potensi diri. Terutama diluar ranah pendidikan, seperti minat pada seni dan olahraga belum dapat ditampung dengan baik. Kajian diawali dengan mempelajari pengertian tentang Youth dan Community, pengertian dan standar-standar mengenai fasilitas-fasilitas olahraga, hiburan dan pendidikan serta studi banding beberapa gelanggang remaja yang telah ada. Dilakukan juga tinjauan mengenai Kota Semarang, perkembangan fasilitas di kota tersebut, serta program-program pemerintah yang mendukungnya. Pendekatan perancangan arsitektural dilakukan dengan konsep high tech menurut Charles Jenks. Selain itu dilakukan pendekatan fungsional, kinerja, teknis, dan konstekstual. Pemilihan tapak dilakukan pada 3 alternatif lokasi dengan menggunakan matriks pembobotan. Sebagai kesimpulan, luaran program ruang yang diperlukan, serta gambar-gambar 2 dimensi dan 3 dimensi sebagai ilustrasi desain.
PENGEMBANGAN PONDOK PESANTREN MODERN AL-HAMID DI JAKARTA TIMUR Anggono Ariebowo; bambang supriyadi; bambang adji murtomo
IMAJI Vol 4, No 1 (2015): IMAJI Jurnal Desain Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (932.645 KB)

Abstract

Jakarta  sebagai  ibukota  Negara, merupakan sebuah  kota  dan  sebagai  kota  yang  semakinberkembang sekarang ini dengan tingkat kepadatan yang cukup tinggi dan mayoritas penduduknyaadalah beragama Islam. Selain sebagai pusat pemerintahan Negara, Jakarta juga merupakan pusatpendidikan  yang  seharusnya  kota  ini  memiliki wadah  yang  dapat  menampung  kebutuhanmasyarakat akan pendidikan khususnya yang bernafaskan islami.Sebagai kota  Jakarta  yang  berkembang,  pendidikan  yang  bernafaskan  islami  sangatdiperlukan untuk dijadikan salah satu pemebentukan moral dan mental SDM. Salah satu pendidikanyang  bernafaskan  islami  adalah  dengan  metode pondok  pesantren,  akan  tetapi anggapanmasyarakat  tentang  pondok  pesantren  jauh  dari  anggapan  pencetakan  kualitas  SDM  yang  baik.Sehingga  untuk menghadapi tantangan jaman  yang semakin  dan terus  berkembang, diperlukannapembaharuan-pembaharuan  yang dapat  meningkatkan  kualitas  SDM,  baik  secata  imtaq  maupunipteknya.  Selain  itu  juga  mampu mengahadapi  tantangan  globalisasi  khusunya dalam  bidangkewirausahaan.Jakarta  sebagai  ibukota  Negara, merupakan sebuah  kota  dan  sebagai  kota  yang  semakinberkembang sekarang ini dengan tingkat kepadatan yang cukup tinggi dan mayoritas penduduknyaadalah beragama Islam. Selain sebagai pusat pemerintahan Negara, Jakarta juga merupakan pusatpendidikan  yang  seharusnya  kota  ini  memiliki wadah  yang  dapat  menampung  kebutuhanmasyarakat akan pendidikan khususnya yang bernafaskan islami.Sebagai kota  Jakarta  yang  berkembang,  pendidikan  yang  bernafaskan  islami  sangatdiperlukan untuk dijadikan salah satu pemebentukan moral dan mental SDM. Salah satu pendidikanyang  bernafaskan  islami  adalah  dengan  metode pondok  pesantren,  akan  tetapi anggapanmasyarakat  tentang  pondok  pesantren  jauh  dari  anggapan  pencetakan  kualitas  SDM  yang  baik.Sehingga  untuk menghadapi tantangan jaman  yang semakin  dan terus  berkembang, diperlukannapembaharuan-pembaharuan  yang dapat  meningkatkan  kualitas  SDM,  baik  secata  imtaq  maupunipteknya.  Selain  itu  juga  mampu mengahadapi  tantangan  globalisasi  khusunya dalam  bidangkewirausahaan.
CABANG LAPAS KLAS I TANJUNG GUSTA MEDAN, DI KABUPATEN PADANG LAWAS, SUMUT. Sallvyna Lubis
IMAJI Vol 3, No 3 (2014): jurnal IMAJI - Juli 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.327 KB)

Abstract

Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta adalah Lembaga Pemasyarakatan Klas IA yang menampung narapidana tindak kriminal dan terorisme sejak tahun 1982. Tanjung Gusta terletak di daerah yang tidak begitu jauh dari pusat kota Medan dan permukiman warga. Lapas Tanjung Gusta berkapasitas maksimal 1054 orang, sedangkan yang menghuni per Juli 2013 adalah 2.694 orang.Dan terus bertambah hingga tahun 2014. Hal ini bersimpangan dengan regulasi sebuah lapas, dimana Tanjung Gusta tidak dapat lagi menampung jumlah kapasitas napi yang berlebih hingga 200%. Sebagai puncaknya adalah kerusuhan di lapas tersebut akhir tahun 2013 lalu, yang menyebabkan para napi nya memberontak dan kabur dari lapas. Hal ini dipengaruhi oleh tidak terpenuhinya sarana prasarana sebagai wadah melakukan kegiatan pemasyarakatan. Sehingga pemerintah provinsi SUMUT merencanakan pembangunan cabang lapas di Kab. Padanglawas, sebuah daerah yang terletak jauh dari kota Medan. Sebagai solusi atas permasalahan yang ada. Kajian diawali dengan mempelajari tentang UU pemasyarakatan, seperti apa seharusnya bentuk pemasyarakatan tersebut, dan dan melakukan studi banding langsung ke lapas yang ada di Indonesia, salah satunya lapas Kedungpane Semarang, lapas Wirogunan Yogyakarta dan lapas Tanjung Gusta Medan. Sebagai kesimpulan, Pemetaan problem yang ada dituangkan dalam bentuk ide serta konsep lembaga pemasyarakatan(Lapas) perencanaan dan perancangan yang berbeda dari sebelumnya tetapi tetap mengacu pada regulasi UU Pemerintah yang ada, dan tentunya dapat menyelesaikan problem yang terjadi.
PENATAAN KAMPUNG SENTRA INDUSTRI PERKALENGAN BUGANGAN PENEKANAN DESAIN ECO ARCHITECTURE arief Fadhilah; Titien Woro Murtini; Bambang Supriyadi
IMAJI Vol 1, No 2 (2012): IMAJI
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1348.44 KB)

Abstract

Pertumbuhan Kota Semarang sebagai kota perdagangan, industri dan jasa memberikan tawarankepada masyarakat akan segala macam usaha baik skala kecil maupun besar dengan harapan dapat terusmeningkatkan ekonomi masyarakat. Namun tanpa dibarengi dengan perencanaan dan perancangan yang baik,maka harapan tersebut tidak akan tercapai. Sebut saja sebuah sentra industri di Kelurahan BuganganSemarang Timur yang terkenal dengan produksi kompor sumbunya, salah satu diantara banyak usaha mikroyang sudah ada sejak tahun 1970-an. Semakin tingginya tingkat aktivitas di kampung sentra industri tersebuttanpa diimbangi dengan fasilitas yang memadai menyebabkan berbagai permasalahan baik dari aspekproduksi, kebutuhan pemasaran, hunian, dan limbah yang mempengaruhi ekologi lingkungan. Oleh sebab itu,kampung sentra industri yang berada di bantaran sungai Banjir Kanal Barat ini memerlukan penataan kembaliyang dapat mengakomodir aktivitas produksi, pemasaran, dan hunian yang tetap memperhatikan aspekekologi lingkungan. Mengenali lokasi adalah hal utama yang dilakukan penulis, melalui observasi langsung, pendekatanpelaku secara natural dan pengumpulan data sebagai dasar utama dalam merumuskan program perancangan.Untuk melengkapi dasar perancangan, dilakukan studi banding kebeberapa objek sentra industri di Kota Solodan Yogyakarta seperti Kampung Blangkon, Kampung Shuttlecock, Kampung Batik, dan lainnya. Pendalamankonsep ekologi sebagai dasar perancangan yang merespon lingkungan dilakukan dengan studi literatur.Penataan dilakukan pada lokasi tapak yang sama dan perhitungan kebutuhan luas lahan didasarkan pada studiruang dan bangunan yang dibutuhkan dengan memperhatikan regulasi seperti Garis Sepadan Bangunan (GSB),KDB, KLB, dan Garis Sepadan Sungai (GSS). Tata massa bangunan, tampilan, struktur, dan utilitas lingkungandirancang dengan tetap memperhatikan lingkungan sekitar yang tidak dapat dipisahkan dalam prosesperancangan. Banjir Kanal Timur Semarang adalah salah satu potensi kampung ini yang saat ini tidak mendapatperhatian. Menjadikan sungai sebagai orientasi perancangan menjadi pelengkap konsep eko arsitektur yangakan mendasari penataan kawasan hingga dalam skala mikro (bangunan, manajemen limbah, dansebagainya). Memperhatikan potensi angin, respon terhadap matahari, pemanfaatan air hujan, pemakaianbahan-bahan bekas, penghematan energi, dan manajemen lingkungan adalah suatu sistem holistik yang akandiperhatikan dalam penataan kampung sentra industri perkalengan di Bugangan Semarang.
MASJID AGUNG DI SRAGEN Fitri Nur Ramani; Yulanda Rifan
IMAJI Vol 1, No 3 (2012): IMAJI
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1355.348 KB)

Abstract

Kabupaten Sragen merupakan salah satu kabupaten Islam di Provinsi Jawa Tengah. Semakin tahun penduduk dengan pemeluk agama Islam semakin berkembang di Kabupaten Sragen. Hal tersebut menyebabkan banyaknya perkumpulan serta organisasi-organisasi keagamaan Islam yang terbentuk. Banyaknya kegiatan keagamaan Islam tersebut tidak diimbangi dengan fasilitas peribadatan yang mewadahi di Kabupaten Sragen. Di Kabupaten Sragen belum ada tempat yang mampu menampung semua kegiatan Islam tersebut baik ibadah syariah maupun ibadah muamalah. Dengan makin berkembangnya agama Islam di Kabupaten Sragen, maka dibutuhkan pusat peribadatan berupa desain Masjid Agung yang dilengkapi dengan segala fasilitas penunjang keagamaan untuk mengatasi permasalahan tersebut.Kajian diawali dengan mempelajari pengertian dan hal-hal mendasar mengenai Masjid Agung, standar-standar mengenai tata ruang dalam Masjid Agung, studi banding beberapa Masjid Agung di Indonesia.Dilakukan juga tinjauan mengenai lokasi Masjid Agung di Sragen dan pembahasan konsep perancangan dengan penekanan desain Arsitektur Neo-Vernakular. Tapak yang digunakan adalah tapak terpilih dari beberapa lokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan Masjid Agung. Selain itu juga dibahas mengenai tata massa dan ruang bangunan, penampilan bangunan, struktur, serta utilitas yang dipakai dalam perancangan “Masjid Agung di Sragen”.Konsep perancangan ditekankan desain Arsitektur Neo-Vernakular, yaitu suatu paham dari aliran Arsitektur Post-Modern yang lahir sebagai respon dan kritik atas modernisme yang mengutamakan nilai rasionalisme dan fungsionalisme yang dipengaruhi perkembangan teknologi industri. Arsitektur Neo-Vernacular merupakan arsitektur yang konsepnya pada prinsipnya mempertimbangkan kaidah-kaidah normatif, kosmologis, peran serta budaya lokal dalam kehidupan masyarakat serta keselarasan antara bangunan, alam, dan lingkungan. Bangunan Masjid dirancang dengan konsep Grid di mana Bangunan Utama yaitu Masjid menjadi Vocal Point, sehingga terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan bangunan-bangunan penunjang sekitarnya, selain itu Masjid Agung Sragen juga memasukkan unsur Jawa.