cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Geografi Indonesia
ISSN : 02151790     EISSN : 2540945X     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 421 Documents
Analisis Faktor-Faktor Konversi Lahan Pertanian Di Kabupaten Tangerang Dengan Menggunakan Geographically Weighted Regression Hadis Tian; Cahyadi Setiawan; Aris Munandar
Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.55226

Abstract

Proses terjadinya konversi lahan pertanian dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap perubahan luas lahan. Faktor penduduk dan perekonomian diketahui sebagai faktor eksternal penyebab terjadinya konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian. Salah satu wilayah yang mengalami konversi lahan pertanian ialah di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor eksternal yang mempengaruhi konversi lahan pertanian. Metode penelitian menggunakan kuantitatif asosiatif dengan teknik analisis data statistik melalui model Geographically Weighted Regression. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei instansional untuk mendapatkan data sekunder dari laporan atau publikasi instansi terkait penelitian. Hasil menunjukkan besaran nilai setiap variabel berbeda di tiap kecamatan serta perbedaan variabel yang mempengaruhi konversi lahan pertanian. Variabel laju pertumbuhan penduduk dan kepadatan penduduk berpengaruh terhadap konversi lahan pertanian di 24 kecamatan. Terdapat lima kecamatan yang hanya variabel kepadatan penduduk berpengaruh terhadap konversi lahan pertanian. Rumah tangga miskin diketahui tidak berpengaruh nyata terjadap konversi lahan pertanian di seluruh kecamatan.
Integrasi Analisis Spasial dan Statistik untuk Identifikasi Pola dan Faktor Determinan Perkembangan Kota Yogyakarta. Bowo Susilo; Mirza Rizal Afani; Safira Ihdanisa Hidayah
Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.60526

Abstract

Abstrak Analisis spasial  adalah metode analisis yang mempunyai ciri spesifik karenanya banyak digunakan dalam berbagai bidang kajian. Perkembangan kota adalah salah satunya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola perkembangan kota dan faktor determinannya menggunakan integrasi analisis spasial dan statistik. Area di dalam jalan lingkar Yogyakarta dipilih sebagai daerah penelitian. Peta penggunaan lahan tahun 1993 dan 2014 digunakan sebagai data utama. Kombinasi analisis spasial dan statistik digunakan untuk mengidentifikasi faktor determinan perkembangan kota. Pertambahan lahan terbangun digunakan sebagai indikator perkembangan kota. Hasil penelitian menunjukkan, selama periode kajian, lahan terbangun bertambah kurang lebih 766,35 hektar. Secara umum pola perkembangan kota adalah merata namun ada kecenderung lebih intensif di bagian Timur Laut daerah penelitian. Hasil analisis terhadap tujuh variabel yang diduga berhubungan dengan perkembang kota, menunjukkan hanya 2 variabel yang mempunyai signifikan dan dapat disebut sebagai determinan perkembangan kota. Variabel tersebut adalah jarak terhadap jalan lingkar Yogyakarta (ring road) dan jarak terhadap jalan lokal.  Abstract : Spatial analysis is often termed as special analysis therefore widely used in various studies. The study of urban growth is one among them. Identifying the pattern of urban growth and its determinant factors was the objective of this research. The study was located in the inner area of the ring road of Yogyakarta. Multitemporal land use data i.e. 1993 and 2014 were used as main data in this study. Spatial analysis was utilized to identify the distribution as well as the pattern of urban growth. A combination of spatial and statistical analysis was used to identify the determinant factor of urban growth. This study shows that during 199 and 2014, about 766,4 hectares of non-built-up land in the study area had been converted into built-up land. The pattern of urban growth was dispersed in general but the direction tends to the northeast of the study area. Transportation network, particularly the ring road and local roads were considered as the main determinants of urban growth.     
Analisis sebaran bangunan dan kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Provinsi DKI Jakarta Nurwita Mustika Sari
Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.60823

Abstract

Abstrak Pertumbuhan fisik perkotaan dapat ditandai dengan bertambahnya jumlah bangunan yang ada di wilayah tersebut. Bangunan di perkotaan dapat berupa bangunan untuk pemerintahan, perkantoran, permukiman penduduk dan industri. Sebagai lokasi keberadaan ibukota Negara Republik Indonesia, Provinsi DKI Jakarta mengalami pertumbuhan fisik yang sangat pesat. Seiring bertambahnya bangunan di wilayah ini sementara kebutuhan lahan terus meningkat, maka diperlukan pemantauan terhadap sebaran bangunan agar selaras dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi DKI Jakarta. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap sebaran bangunan dan kesesuaiannya dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi DKI Jakarta. Metode yang diusulkan dalam penelitian ini adalah analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan data bangunan eksisting yang diperoleh secara bebas dari Open Street Map (OSM) dan RTRW Jakarta. Hasil analisis SIG kemudian dilanjutkan dengan validasi bangunan yang tidak selaras dengan RTRW menggunakan interpretasi visual data penginderaan jauh SPOT. Hasil menunjukkan bahwa terdapat bangunan seluas 1.016,08 hektar yang tidak selaras dengan RTRW yang seharusnya menjadi kawasan peruntukan fungsi lindung, kawasan peruntukan terbuka hijau budidaya, kawasan peruntukan pertanian dan kawasan peruntukan terbuka non hijau (Ruang Terbuka Biru).    Abstract Urban physical growth can be indicated by the increase of buildings in the area. Buildings in urban areas can be in the form of buildings for government, offices, residential areas and industry. As the location of the capital city of Indonesia, Jakarta Province is experiencing very rapid physical growth. As there are more buildings in this area while the need for land continues to increase, it is necessary to monitor the distribution of buildings so that they are in line with the Regional Spatial Planning (RTRW) of Jakarta Province. The purpose of this study is to analyze the distribution of buildings and their compliance with the Jakarta Regional Spatial Planning (RTRW). The method proposed in this study is a Geographical Information System (GIS) analysis using existing building data which is freely obtained from the Open Street Map (OSM) and Jakarta Regional Spatial Planning. The results of the GIS analysis were then continued with the validation of buildings that were not in line with the Jakarta Regional Spatial Planning using a visual interpretation of the SPOT remote sensing data. The results show that there are buildings with an area of 1,016.08 hectares that are not in line with the Jakarta Regional Spatial Planning, which should be designated as protected areas, open green cultivation areas, agricultural areas and non-green open areas (Blue Open Space).
Tipologi batas wilayah administrasi untuk memudahkan pengelolaan batas daerah di Indonesia Fahrul Hidayat; Munawaroh Munawaroh; Tia Rizka Nuzula Rachma
Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.61791

Abstract

Abstrak Terhitung sejak 1945 – 2017, baru sekitar 48% dari 977 segmen batas daerah di Indonesia yang disahkan melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang batas daerah. Pengelolaan batas wilayah daerah sangat penting untuk berbagai urusan pembangunan misalnya        pengelolaan sumber daya alam. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan pendekatan baru untuk mendukung pengelolaan batas wilayah yang efisien yaitu melalui segmentasi berbasis tipologi batas wilayah. Tahapan analisis meliputi: membandingkan, memotong, dan mengelompokkan garis batas. Single Buffer Overlay Method digunakan untuk membandingkan unsur geografis pada Peta Rupabumi          Indonesia (data referensi) dan garis batas 2017 (data yang diuji). Selanjutnya, dilakukan pemotongan garis sesuai hasil perbandingan. Pada akhirnya, garis tersebut dikelaskan berdasarkan tipologinya (igir, jalan, dan sungai) menggunakan metode SQL (Structured Query Language). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas (41,8%) batas daerah di Indonesia tidak menggunakan unsur geografis tertentu sebagai penanda batasnya, sedangkan persentase penanda batas berupa sungai 35,9%, igir 16,4%, dan jalan 5,8%.   Abstract Since 1945 – 2017, only 48% of 977 regional borderlines of Indonesia were legalized by The Ministry of Home Affairs. Properly  managed intra-national boundaries are fundamental for development purposes e.g. natural resource management. Therefore, this research proposed a new approach to help managing the boundary efficiently through typology-based borderlines segmentation which was conducted by some stages: compare, split, and classify lines. Single Buffer Overlay Method used for comparison purpose by utilizing some geographical features on a topographic map as a referenced dataset and boundary line (2017 database) as a tested dataset. Then we split the lines based on the comparison result. Finally, each split line was classified into border typologies (road, ridge, and stream) by using the SQL (Structured Query Language) method. We found that most of The Indonesian administrative boundary segments (41.8%) did not use a geographical    feature, while the boundary on the rivers 35.9%, ridges 16.4%, and roads 5.8%.   
Kajian kerusakan lingkungan pada tambang intan berbasis pertambangan rakyat di Kecamatan Cempaka, Kalimantan Selatan Lely Adriani Nasution; Suratman Suratman; Sudrajat Sudrajat
Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.63231

Abstract

Abstrak. Penambangan intan di Kecamatan Cempaka telah ada sejak dulu dan dikelola langsung oleh masyarakat serta tergolong sebagai tambang rakyat yang berskala kecil. Keberadaan tambang intan memunculkan permasalahan pada lingkungan berupa kerusakan. Kerusakan yang ditimbulkan mencakup seluruh aspek seperti abiotik, biotik dan kultural. Untuk itu perlu dilakukan suatu kajian terkait bagaimana kerusakan yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut. Tujuan pada penelitian ini berupa, (1) mengidentifikasi jenis kerusakan lingkungan akibat kegiatan pertambangan intan, (2) menganalisis tingkat kerusakan lingkungannya, (3) merumuskan strategi pengelolaan yang sesuai untuk kerusakan lingkungan akibat pertambangan intan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian merupakan metode gabungan antara kuantitatif berupa skoring dan perhitungan kelas interval serta kualitatif berupa wawancara mendalam, yang mengacu pada kriteria dari Buku I Kerusakan Lahan Akses Terbuka Akibat Tambang Rakyat oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identifikasi jenis kerusakan lingkungan memiliki kesesuaian dengan parameter yang ada pada ketentuan KLHK tahun 2015. Analisis tingkat kerusakan menunjukkan bahwa titik pengamatan 4 di Kelurahan Sungai Tiung menjadi titik dengan tingkat kerusakan yang berat. Perumusan strategi pengelolaan menunjukkan bahwa pengalihfungsian lokasi pertambangan menjadi tujuan wisata adalah upaya pengelolaan yang paling tepat.   Abstract .Diamond mining in Cempaka Subdistrict existed for a long time ago and was handled by community groups and included as small-scale artisanal mining. The existence of diamond mining causes a problem to the environment like environmental damage. The damage caused covers all aspects such as abiotic, biotic, and cultural. Thus, it needs to carry out a study related to how these activities cause the damage. The purposes of the research are, (1) Identify the types of environmental damage, (2) analyze the level of environmental damage, (3) formulate the appropriate management strategies for environmental damage caused by diamond mining. The research method uses mix method between quantitative like scoring and calculation an interval class, and qualitative, with an in-depth interview, which references Book I Open Access to Land Damage due to Artisanal Mining by the Ministry of Environmental and Forestry 2015. The results showed that identifying the environmental damage type was in accordance with the parameters in 2015 of KLHK references. Analyze an environmental damage level shows the heavy damage level found in observation point 4 in Sungai Tiung. Formulation of a management strategy shows that mining sites' conversion to tourism destinations is the most appropriate.  
Perubahan Temperature Humidity Index (THI) di Pulau Jawa sejak 1981 hingga 2019 Qurrata A'yun Kartika; Rahmat Hidayat; Rista Hernandi Virgianto
Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.63432

Abstract

Abstrak Pulau Jawa mengalami peningkatan jumlah penduduk dari waktu ke waktu. Peningkatan ini berdampak pada tingginya aktivitas antropogenik yang menghasilkan emisi yang diantaranya dapat menyebabkan perubahan suhu udara. Suhu udara sangat berkaitan dengan thermal stress yang mempengaruhi kenyamanan bahkan kesehatan manusia. Thermal stress dapat diukur dengan Temperature Humidity Index (THI) dengan suhu udara rata-rata permukaan dan Relative Humidity (RH) sebagai variabel bebas. Penelitian ini menganalisis sejauh mana perubahan suhu udara permukaan, RH dan THI terhadap waktu. Kemudian daerah dengan perubahan THI yang paling besar akan dianalisis keterkaitannya jumlah penduduk menggunakan korelasi Pearson. Berdasarkan hasil penelitian diketahui terjadi perubahan suhu udara udara permukaan sebesar -0.27 hingga 1.17⁰C diikuti perubahan RH sebesar -2.21% hingga 0.77% dan terjadi perubahan THI hingga 0,72⁰C sejak 1981 hingga 2019 terutama di pesisir utara bagian barat Pulau Jawa. Selain itu, THI di sekitar DKI Jakarta juga memiliki nilai korelasi simultan yang tinggi dengan jumlah penduduk sebesar 0,81, korelasi lag 1 tahun sebesar 0,69, sementara korelasi lag 2 tahun sebesar 0,67. Temuan ini mengindikasikan peningkatan jumlah penduduk berdampak terhadap peningkatan THI pada DKI Jakarta. Abstract Java has experienced an increase in population from time to time. This increase has an impact on high anthropogenic activity which results in emissions, which can cause changes in air temperature. Air temperature is closely related to thermal stress which affects comfort and even human health. Thermal stress can be measured by the Temperature Humidity Index (THI) with the average surface air temperature and Relative Humidity (RH) as the independent variable. This study analyzes the extent of changes in surface air temperature, RH and THI with time. Then the areas with the greatest THI changes will be analyzed for their correlation using the Pearson correlation. Based on the research results, it is found that there has been a change in surface air temperature of -0.27 to 1.17⁰C followed by changes in RH from -2.21% to 0.77% and there has been a change in THI to 0.72⁰C from 1981 to 2019, especially on the north coast of the western part of Java. In addition, THI around DKI Jakarta also has a high simultaneous correlation value with a population of 0.81, a 1-year lag correlation of 0.69, while a 2-year lag correlation of 0.67. These findings indicate an increase in population has an impact on increasing THI in DKI Jakarta. 
Dampak pembatasan sosial berskala besar terhadap kualitas udara di Jakarta Rezky Yunita; Mangapul Parlindungan Tambunan; Rudy P. Tambunan
Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.64767

Abstract

Abstrak Beberapa negara di dunia memberlakukan pembatasan sosial dan karantina wilayah sebagai upaya untuk menekan laju penularan wabah virus COVID-19. Pembatasan sosial dan karantina wilayah memberikan dampak negatif bagi perekonomian, namun juga dapat berdampak positif bagi perbaikan kondisi lingkungan khususnya kualitas udara di suatu wilayah. Selama periode Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta tahun 2020, aktivitas penduduk di luar rumah menurun secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kuantitatif perubahan parameter kualitas udara berupa PM2.5 dan visibility di Jakarta selama periode sebelum (2019) dan setelah pandemi (2020) menggunakan metode statistik. Pengaruh mobilitas penduduk dan distribusi spasial konsentrasi polutan juga dianalisis dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan selama masa pandemi COVID-19, terdapat pengurangan konsentrasi polutan pada tahun 2020 hingga lebih dari 100 persen dibandingkan tahun 2019. Jarak pandang mendatar di Jakarta juga meningkat hingga 11 persen selama PSBB. Mobilitas penduduk mempengaruhi konsentrasi polutan di Jakarta sebesar 30 persen dan distribusi spasial menunjukkan adanya fluktuasi konsentrasi PM2.5 sebelum dan setelah diberlakukannya PSBB. Abstract Countries worldwide have implemented some sort of lockdowns to slow down COVID-19 infection and mitigate it. Lockdown due to COVID-19 has drastic effects on social and economic fronts. However, this lockdown also has some positive effects on the natural environment, especially on air quality. During the 2020 PSBB period in Jakarta, outdoor activity decreased significantly. This study quantitatively analyzes air quality parameters of PM2.5 and visibility changes in Jakarta during the period before (2019) and after the pandemic (2020) using statistical methods. The impact of mobility to polution also become a concern in this study. The results confirmed an improvement in air quality due to the implementation of social restrictions during the COVID-19 pandemic. PSBB has an impact on reducing pollutant concentrations by more than 100 percent during PSBB compared to 2019. The horizontal visibility in Jakarta also increased by 11 percent during the PSBB. Mobility has affected PM2.5 concentration by 30 percent in Jakarta, and spatial distribution of PM2.5 shows evidence of fluctuation during and before PSBB enacted. 
Prediksi spasio temporal rob berbasis model LISFLOOD FP di Pesisir Jakarta. Aries Kristianto; Usman Efendi
Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.66594

Abstract

Abstrak Jakarta khususnya daerah pesisir sangat rentan dengan adanya permasalahan lingkungan berupa rob. Pemetaan daerah yang berpotensi terdampak rob sangat diperlukan guna menyusun upaya mitigasi. Pada penelitian ini dilakukan prediksi tinggi muka laut dengan model Delft3D dan digunakan untuk memprediksi daerah tergenang rob menggunakan model LISFLOOD FP pada tanggal 18 – 20 November 2019 di pesisir Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prediksi tinggi muka laut memiliki akurasi yang baik, dengan koefisien korelasi pada tingkat kuat sebesar 0,93 dan nilai RMSE sebesar 0,13 meter. Sementara itu, prediksi rob model LISFLOOD FP menunjukkan luas maksimum yang terjadi 2 hingga 3 jam setelah fase puncak tinggi muka laut dan menggenangi 8 kecamatan di Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Abstract Jakarta region especially the coastal areas are very vulnerable to environmental problems such as coastal inundation. Mapping of areas potentially affected by coastal inundation is needed to arrange mitigation efforts. In this study, sea level prediction was estimated using the Delft3D model and used to predict coastal inundation areas using the LISFLOOD FP model on 18-20 November 2019 on the coast of Jakarta. The results showed that the sea-level prediction model has good accuracy, with a correlation coefficient at a strong level of 0.92 and an RMSE error value of 0.13 meters. Meanwhile, coastal inundation prediction from the LISFLOOD FP model inundated 8 sub-districts in North Jakarta and West Jakarta and showed the maximum area in 2 to 3 hours after the peak phase of sea level. 
Strategi adaptasi ketahanan pangan terhadap perubahan iklim di pinggiran Kota Yogyakarta Rika Harini Harini; Rina Dwi Ariani; Yola Yulianda
Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 1 (2022): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.60245

Abstract

 Abstrak Perubahan iklim memiliki konsekunsi negatif pada ketahanan pangan. Kelebihan atau kekurangan curah hujan akan menghambat produksi pertanian dan ketahanan pangan terganggu. Sehingga adaptasi menjadi penting dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh variabel iklim terhadap ketahanan pangan serta strategi yang dapat dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan dapat dicapai. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data sekunder sebagai data dasar. Area penelitian dipilih secara purposive sampling. Curah hujan sebagai variabel iklim dianalisis menggunakan analisis tren. Ketahanan pangan diukur menggunakan indeks ketersediaan pangan dan pengaruh iklim terhadap ketahanan pangan menggunakan regresi. Terjadi kecenderungan perubahan iklim di semua kecamatan yang ada di pinggiran Kota Yogyakarta. Perubahan iklim ini secara signifikan berpengaruh terhadap ketahanan pangan di Desa Ambarketawang, Tirtoadi, Sumberadi dan Tlogoadi. Strategi adaptasi yang dilakukan dengan (1) pengembangan sistem irigasi, pola tanam, dan bedengan, (2) pemberantasan hama penyakit dengan cara biologi dan budidaya tanaman tahan air/kekeringan (3) pola nafkah ganda dengan pekerjaan tambahan Abstract Climate change has negative consequences for food security. Excess or lack of rainfall will hamper agricultural production and disrupt food security. So that adaptation is important. The purpose of this study was to determine the effect of climate variables on food security and strategies that can be implemented to keep food security safe. The research was conducted with a quantitative approach using secondary data as basic data. The research area was selected by purposive sampling. Rainfall as a climate variable was analyzed using trend analysis. Food security is measured using the food availability index and the influence of climate on food security using regression. There is a trend of climate change in all districts in the urban fringe of Yogyakarta. This climate change has significantly affected food security in the villages of Ambarketawang, Tirtoadi, Sumberadi and Tlogoadi. Adaptation strategies are carried out by (1) developing irrigation systems, cropping patterns, and ridging, (2) eradicating pests by biological means and cultivating drought / water resistant plants (3) diversify income or dual income patterns with additional work. 
Analisis hubungan sektor unggulan industri pengolahan dengan IPM Kabupaten Kendal tahun 2010 − 2019 Sri Rahayu Budiani; Dewina Inggar Santi; Akbar Abdul Rokhim; Fatih Cinderaswari Puspaningrani; Kurniasari Kurniasari; Hesti Probowati; Helmi Putri Ramdani; Muhammad Rafif; Zaima Hilmi
Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 1 (2022): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.63158

Abstract

Abstrak Industri pengolahan di Kabupaten Kendal terus mengalami peningkatan hingga menjadi sektor unggulan. Hal tersebut berkontribusi terhadap PDRB, penyerapan tenaga kerja, dan UMK. Kontribusi dari indikator tersebut turut berhubungan dengan IPM. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perkembangan IPM, jumlah industri, PDRB dan penyerapan tenaga kerja industri pengolahan serta UMK Kabupaten Kendal tahun 2010−2019; mengidentifikasi sektor industri pengolahan sebagai sektor unggulan Kabupaten Kendal serta mengetahui hubungan antara PDRB industri pengolahan, penyerapan tenaga kerja industri pengolahan, UMK dengan IPM Kabupaten Kendal. Data yang digunakan merupakan data sekunder dengan metode analisis meliputi analisis deskriptif, Location Quotient (LQ) dan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan sektor industri pengolahan merupakan sektor unggulan Kabupaten Kendal (LQ >1) dibuktikan adanya peningkatan tiap indikator di tahun 2019 dibandingkan tahun 2010. Hasil korelasi menunjukkan antara PDRB, penyerapan tenaga kerja, dan UMK berkorelasi positif dan sangat kuat dengan IPM, nilai korelasi masing-masing secara berurutan sebesar 1; 0,879; dan 1. Abstract The manufacturing industry in Kendal Regency continues to increase until it becomes a leading sector. It contributes to GRDP, employment, and UMK. The contribution of these indicators is also related to HDI. This study aims to determine the development of HDI, the number of industries, GRDP, the absorption of labor, and Regency Minimum Wage in Kendal Regency in 2010-2019, then to identify the manufacturing industry as the leading sector of Kendal Regency and know the relationship between the HDI of Kendal Regency and the GRDP of the manufacturing industry, the absorption of labor in the manufacturing industry, Regency Minimum Wage. The data used are secondary, then the analysis method used is descriptive analysis, Location Quotient (LQ), and the Spearman rank correlation test. The results show that the manufacturing sector is the leading sector of Kendal Regency, as evidenced by an increase in each indicator in 2019 compared to 2010. The correlation results show that GRDP, the absorption of labor, and Regency Minimum Wage have a positive and intense correlation with HDI, with the correlation value of each respectively is 1; 0.879; and 1. 

Filter by Year

1988 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 1 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 2 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia Vol 37, No 1 (2023): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 2 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 1 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 1 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 2 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 1 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 2 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 1 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 2 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 1 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 2 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 1 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 2 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 1 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 1 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000) Vol 14, No 1 (2000): Majalah Geografi Indonesia Vol 10, No 17 (1996): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992) Vol 2, No 3 (1989) Vol 2, No 3 (1989): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988) Vol 1, No 1 (1988) Vol 1, No 1 (1988): Majalah Geografi Indonesia More Issue