cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
PERTUMBUHAN ANAKAN MANGROVE PADA BERABAGAI KONDISI TAPAK BERPASIR PASCA TSUNAMI DI ACEH Siregar, Chairil Anwar
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang hubungan antara faktor fisiografi tanah dengan pertumbuhan anakan Rhizophora stylosa Griff yang ditanam di Desa Lamnga dan Baet, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).  Parameter pertumbuhan (persen tumbuh, pertambahan tinggi dan diameter) anakan diukur dari 28 plot pengamatan berukuran 20 m x 20 m, yang tersebar pada tujuh blok penanaman yang berbeda.   Analisis tanah dari masing-masing petak pengamatan dilakukan untuk mengetahui tektstur tanah (kandungan pasir, liat, dan debu), kandungan karbon dan nitrogen serta ratio C/N, daya hantar listik (DHL), salinitas serta Kapasitas Tukar Kation (KTK).  Hasil analisis menunjukkan bahwa persen tumbuh rata-rata yang 63,50 % (45,50-89,50 %) secara nyata berbanding lurus dengan kandungan debu, liat, karbon, nitrogen, dan KTK serta berbanding terbalik dengan kandungan pasir. Pertambahan tinggi anakan yang nilai rata-rata 12,20 cm (10,25-13,55 cm) dan diameter batang dengan nilai rata-rata 2,08 cm (1,95-2,56 cm) tidak secara nyata dipengaruhi oleh faktor tempat tumbuh. Regresi Ganda yang digunakan untuk menetapkan persamaan persen tumbuh dan diameter anakan R. stylosa dengan unsur parameter tanahdi Desa Lamnga dan Baet adalah persen tumbuh = 29,2 + 5,32 KTK + 0,46 liat dengan R2  = 0,86 dan diameter = 1,922 + 0,016 liat dengan R2 = 0,36.
KAJIAN INFILTRASI TANAH PADA BERBAGAI TEGAKAN JATI (Tectona grandis L.) DI CEPU, JAWA TENGAH Supangat, Agung B.; Putra, Pamungkas B.
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu sifat fisik tanah yang penting untuk diketahui adalah laju infiltrasi tanah, yaitu kecepatan maksimum masuknya air secara vertikal ke dalam profil suatu tanah. Informasi infiltrasi tanah dapat dipergunakan untuk menghitung limpasan permukaan (run-off) dalam pengelolaan irigasi serta dalam perencanaan konservasi tanah dan air. Kapasitas infiltrasi tanah di lahan hutan dipengaruhi oleh umur tanaman hutan yang membentuk komposisi komunitas hutan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas infiltrasi tanah di kawasan tegakan jati (Tectona grandis L.) pada berbagai kelas umur. Pengukuran infiltrasi tanah dilakukan menggunakan peralatan double ring infiltrometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas infiltrasi tanah pada lahan hutan tanaman jati cenderung semakin meningkat dengan bertambahnya umur tanaman jati. Semakin tua kelas umur (KU) tanaman jati kandungan bahan organik tanah semakin besar serta porositas tanah semakin tinggi. Hal ini berperan baik dalam memantapkan struktur dan tekstur tanah serta perkembangan biota tanah permukaan, sehingga menyebabkan perbaikan sifat sifik tanah termasuk peningkatan kapasitas infiltrasinya. Pengaruh penjarangan pada KU 5 dan teresan pada KU 8 menyebabkan kondisi vegetasi lebih terbuka sehingga akan berdampak negatif yaitu terjadi pemadatan tanah yang menyebabkan menurunnya kapasitas infiltrasi tanah
PENGGUNAAN PARAMETER MORFOMETRIK UNTUK PENDUGAAN UMUR SIAMANG SUMATERA (Symphalagus syndactylus Raffles, 1821) (Application of Morphometric Parameters to Estimate the Age of Siamang Sumatra (Symphalagus syndactylus Raffles, 1821) Santosa, Yanto; Nopiansyah, fifin; Mustari, Abdul Haris; Rahman, Dede Aulia
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memahami umur satwa merupakan aspek penting untuk mengidentifikasi struktur umurnya. Struktur umur adalah salah satu parameter demografik yang penting untuk dipelajari terkait tujuan pengelolaan populasi. Salah satu teknik estimasi usia dapat didekati dari ukuran organ (morphometric). Penelitian ini dilakukan dari Mei hingga Agustus 2007 pada Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga, Jawa Barat dan Kalaweit Pusat, Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan 14 parameter dan 40 sampel dari siamang (Symphalagussyndactylus Raffles, 1821), terdiri dari 24 jantan dan 16 betina. Hasil analisis statistik (regresi linier berganda dengan metode bertahap) korelasi antara umur (Y) dengan lingkar wajah (LM) diperoleh persamaan regresi untuk Umur = -14,546 + 0,801 LM untuk jantan (1-15 tahun), panjang tangan (PTT) dengan Umur = -2,091 + 0,496 PTT untuk jantan (1-6 tahun), lingkar dada (LD) dengan Umur = -15,328 + 0,533 LD untuk betina (2-14 tahun), lingkar dada dengan Umur = -5,331 + 0,312 LD untuk jantan dan betina (1-15 tahun). Ukuran morfologikal dalam hal ini lingkar wajah, panjang tangan, lingkar dada merupakan pertumbuhan panjang hewan yang mudah dilihat dengan mata dan merupakan parameter penentuan kelas umur pada siamang sumatera (Symphalagus syndactylus Raffles, 1821). Parameter morfometrik yangdigunakan merupakan bagian-bagian tubuh yang mudah terlihat dan mudah diukur dan merupakan bagian terpenting dalam sebuah teknik penentuan umur menggunakan metode morfometrik.
STATUS POPULASI DIPTEROCARPACEAE DI HUTAN LINDUNG CAPAR,BREBES, JAWA TENGAH Kalima, Titi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan di kawasan hutan lindung Capar, Brebes, Jawa Tengah pada bulan Juli 2007. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi status populasi spesies dari famili Dipterocarpaceae dan keragaman jenis pohon di hutan lindung Capar, Brebes, Jawa Tengah. Jalur berukuran panjang 100 m dan lebar 100 m dibuat pada tempat ditemukannya spesies dari famili Dipterocarpaceae (yaitu di Blok Gn.Bongkok dan Cikadu), kemudian dibuat 100 plot contoh berukuran 10 x 10 m untuk mendata semua spesies pohon yang berdiameter batang ≥ 20 cm, tingkat anakan pohon (diameter < 20 cm) pada plot berukuran 5 x 5m. Jumlah spesies dan individu, tinggi bebas cabang dan total, diameter batang dan tajuk dicatat. Hasil penelitian di dua lokasi ditemukan spesies Dipterocarpus retusus Blume dan Vatica javanica sub sp.javanica V. Slooten. Di blok Gn. Bongkok teridentifikasi 21 spesies tingkat pohon dan 24 spesies tingkat anakan pohon. Sedangkan di blok Cikadu ditemukan 20 spesies tingkat pohon dan 22 spesies tingkat anakan pohon. Spesies-spesies dominan untuk tingkat pohon di blok Gn. Bongkok adalah Macaranga rhizinoides Muell. Arg. (INP = 25,46%), tingkat anakan pohon Dipterocarpus retusus Blume (INP = 24,93%) yang memiliki pola sebaran tertinggi pada diameter batang < 10 cm. Sedangkan di blok Cikadu untuk tingkat pohon didominasi oleh Macaranga rhizinoides Muell. Arg. (INP = 39,71%), dan tingkat anakan pohon Pterospermum javanicum Jungh. (INP = 25,88%).  Pola sebaran D.retusus  Blume di blok Cikadu berkisar pada kelas diameter batang 20 - 40 cm, sedangkan Vatica javanica sub sp.javanica V. Slooten memiliki pola sebaran pada kelas diameter batang  10– 19,9 cm. Perambahan menyebabkan berubahnya ekosistem mikroakibat berubahnya struktur dan komposisi sampai hilangnya suatu spesies dari famili Dipterocarpacea. Kawasan hutan lindung mempunyai fungsi penting bagi perlindungan spesies dari famili Dipterocarpaceae. Upaya yang telah dilakukan dalam pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan yang diatur oleh Peraturaan Daerah (Perda) adalah pengembangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dengan melibatkan masyarakat lokal
HABITAT MACAN TUTUL JAWA (Panthera pardus melas Cuvier 1809) DI LANSKAP HUTAN PRODUKSI YANG TERFRAGMENTASI Gunawan, Hendra; Prasetyo, Lilik B.; Mardiastuti, Ani; Kartono, Agus P.
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Macan tutul jawa (Panthera pardus melas Cuvier 1809) merupakan spesies kunci ekosistem hutan di Jawa yang sedang mengalami ancaman kepunahan akibat fragmentasi habitat. Di Provinsi Jawa Tengah 83,84% hutannya merupakan hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani dan terbagi dalam 20 unit pengelolaan (Kesatuan Pemangkuan Hutan).  Oleh karena itu kelestarian macan tutul sangat tergantung pada keadaan hutan produksi tersebut. Sejak krisis moneter, hutan produksi di Jawa Tengah terus mengalami deforestasi dan fragmentasi, sehingga mengancam kelestarian macan tutul.  KPH Kendal merupakan salah satu  daerah penyebaran macan tutul  di  hutan tanaman jati.  Penelitian ini  bertujuan  untuk  mengetahui karakteristik habitat macan tutul di lanskap hutan tanaman yang sedang mengalami fragmentasi.   Hasil penelitian ini menemukan bahwa di KPH Kendal terdapat tiga populasi macan tutul yang terpisah akibat fragmentasi oleh jalan, perkampungan, dan lahan pertanian.  Fragmentasi hutan ditandai oleh peningkatan jumlah  Patch,  penurunan luas  Class  Area,  peningkatan Total  Edge,  penurunan Core  Area  Index,  dan peningkatan Mean Shape Index.  Fragmentasi habitat macan tutul di KPH Kendal disebabkan oleh okupasi hutan untuk pertanian, konversi untuk pemukiman, pembangunan jalan, jaringan listrik SUTET, dan sistem silvikultur tebang habis.  Fragmentasi ini  menyebabkan isolasi populasi, degradasi kualitas habitat, dan penyempitan habitat yang secara sendiri atau bersama-sama mengancam kelestarian macan tutul.   Macan tutul  memilih fitur-fitur habitat tertentu untuk berbagai aktivitasnya, seperti tempat  berlindung, tempat melindungi dan memelihara anak, tempat berburu, tempat istirahat, tempat mengasuh anak, dan tempat untuk penandaan teritori. Terdapat 18 jenis satwa yang potensial menjadi mangsa macan tutul di KPH Kendal, tetapi macan tutul memiliki preferensi terhadap kijang (Muntiacus muntjak zimmermann, 1780), monyet abu- abu (Macaca fascicularis Raffles, 1821), lutung (Trachipitecus auratus Geoffroy, 1812), babi hutan (Sus scrofa Linnaeus, 1758), dan anjing kampung (Canis familiaris Linnaeus, 1758) sebagai mangsanya. 
KERAGAMAN GENETIK DAN DISTRIBUSI HAPLOGROUP TRENGGILING (Manis javanica Desmarest, 1822) Sawitri, Reny; Takandjandji, Mariana; Zein, M. S A.; Rianti, Anita
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian keragaman genetik dari populasi trenggiling (Manis javanica Desmarest, 1822) belum banyak dilakukan. Penelitian ini menganalisis sekuen fragmen D-loop DNA mitokondria trenggiling, yang bertujuanuntuk menyelidiki diversitas genetika trenggiling dari dua populasi, yaitu kawasan konservasi dan lembaga konservasi di Sumatera Utara dan Jawa. Fragmen D-loop DNA mitokondria yang teramplifikasi sepanjang 1129 pasang basa, terdapat 55 haplotipe dengan 120 situs, dan 12 haplogroup.  Tiga frekuensi haplotipe tertinggi dijumpai pada H-19 (9,09%), H-15 dan H-43 (3,64%), dan lainnya 1,8%. Jarak genetik antarhaplotipe trenggiling berkisar antara 0,001-0,099 dengan rata-rata 0,012. Jarak genetik haplogroup dengan reference berkisar 0.001-0,019; jarak genetik dalam haplogroup berkisar antara 0,003-0,015; jarak genetikantar haplogroup berkisar 0,003-0,021, dan jarak genetik antara haplogroup dengan outgroup berkisar 0,0940,109. Diversitas nukleotida (Pi) sebesar 0,008 dan diversitas haplotipe (Hd) 0,994±0,006, yangmenunjukkan keragaman genetik yang tinggi. Hasil Tajima test pada jarak genetik antar haplotipe populasi trenggiling menunjukkan nilai D: -2,337 (berbeda nyata pada taraf P<0,1), sedangkan hasil Fu and Lis testmenghasilkan D: -4,444 dan F: -4,337 (berbeda nyata pada taraf P<0,02). Hal ini merupakan indikator tingginya keragaman genetik dan ekspansi populasi trenggiling.
UJI PENGELOMPOKAN JENIS BERDASARKAN MODEL PENDUGA RIAP DIAMETER POHON PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI PROVINSI JAMBI Wahjono, Djoko; Dewi, Adinda Kusuma
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai kelompok-kelompok jenis yang memiliki model penduga riap diameter sama berdasarkan model paling optimal yang diperoleh dengan menduga hubungan  antara  riap  diameter  dengan  diameter  pohon,  kerapatan  tegakan,  luas  bidang  dasar,  dan interaksinya  pada berbagai jenis pohon pada hutan alam bekas tebangan di konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) PT. Putraduta Indah Wood, Jambi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Petak Ukur Permanen (PUP) yang telah dilakukan enam kali pengukuran dengan selang waktu sekitar satu tahun (1995-2000). Pengelompokan jenis dilakukan dengan model-model hipotesis, antara lain: 1) Ln Y = a 0  + a1  Ln D + a2 DN + å,  2) Ln Y = a 0 + a1 Ln D + a 2 D + å,  3) Ln Y = a 0 + a1  Ln D2 + a2 DN +å,  4) Ln Y = a 0 + a1  Ln D + a2 D2 + å,   5) Y = a 0 + a1 D + a2 D2 + å,   6) Y = a 0 + a1 DN + a2 D2 + å,  7) Y = a 0 + a1 Ln D + a2 (Ln D)2 + å,  8) Log (Y + 0,2) = a 0  + a1  log (BA) + a 2  D + a3  log (D) + å. Berdasarkan hasil uji peranan peubah bebas melalui uji F, model yang terpilih untuk pengelompokan jenis adalah Model 1,  Model 2, Model 5, Model 6, dan Model 7.   Berdasarkan perbandingan nilai JKS terkecil dari semua pengelompokan jenis sementara model terpilih, dihasilkan 11 kelompok jenis, yaitu: Kelompok 1 (Xylopia sp.), Kelompok 2 (Ganua motleyana Pierre), Kelompok 3 (Planconia valida Bl + Ilex cymosa Bl), Kelompok 4 (Urandra scorpioides O.Ktze + Castanopsis sp.), Kelompok 5 (Shorea macrantha Brandis), Kelompok 6 (Cantleya cornoculata Howard), Kelompok 7 (Tetramerista glabra Miq + Santiria laevigata BL), Kelompok 8 (Ilex sp.+ Gluta renghas L), Kelompok 9 (Colomus optimus + Dacryoides rostrata H.J.L.), Kelompok 10 (Hydnocarpus gracilis + Eugenia sp.), dan Kelompok 11 (Durio carinatus Mast). Pendugaan riap diameter rata-rata setiap kelompok diperoleh dengan menggunakan model gabungan dari masing-masing kelompok menghasilkan nilai untuk Kelompok 1) 0,392 cm/th dengan selang 0,334-0,449 cm/th,  Kelompok 2) 0,402 cm/th dengan  selang 0,343-0,462 cm/th,    Kelompok 3)  0,380  m/th  dengan  selang  0,321-0,440 cm/th, Kelompok 4) 0,374 cm/th dengan selang 0,313-0,435 cm/th,  Kelompok 5) 0,385 cm/th dengan selang 0,281-0,490 cm/th,  Kelompok 6) 0,354 cm/th dengan selang 0,255-0,452 cm/th, Kelompok 7) 0,360 cm/th dengan selang 0,282-0,438 cm/th,  Kelompok 8) 0,038 cm/th dengan selang 0,03-0,045 cm/th,  Kelompok 9) 0,366 cm/th dengan selang 0,279-0,452 cm/th, Kelompok 10) 0,382 cm/th dengan selang 0,268-0,497 cm/th, dan Kelompok 11) 0,366 cm/th dengan selang 0,178-0,555 cm/th.
PENGARUH PERILAKU PENGUNJUNG TERHADAP JUMLAH KUNJUNGAN DI TAMAN WISATA ALAM PUNTI KAYU PALEMBANG Premono, B. Tejo; Kunarso, Adi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Rekreasi adalah suatu aktivitas untuk memberikan kesenangan dan sebagai sarana untuk   mengembalikan kesegaran pada  sikap  mental.Taman Wisata  Alam (TWA)  Punti  Kayu  merupakan satu-satunya tempat rekreasi bernuansa alam yang ada di kota Palembang dan primadona bagi masyarakat. Namun pada kenyataannya jumlah kunjungan TWA mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pengunjung dalam kunjungan ke TWA Punti Kayu. Untuk itu perlu diperoleh informasi mengenai perilaku pengunjung TWA Punti Kayu untuk meningkatkan jumlah pengunjung di masa mendatang. Pengumpulan dan pengolahan data menggunakan pengukuran Skala Likert kemudian dilakukan analisis dengan model regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor promosi, harga, produk, dan psikologis mempengaruhi perilaku pengunjung dan faktor psikologis merupakan faktor yang paling dominan. Faktor pendidikan dan pendapatan tidak mempengaruhi perilaku pengunjung.
PENGGUNAAN MODEL HIDROLOGI SWAT (SOIL AND WATER ASSESSMENT TOOL) DALAM PENGELOLAAN DAS CISADANE Junaidi, Edy; Tarigan, Surya Dharma
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Efektifitas dari pengelolaan DAS harus memperhatikan respon hidrologi pada setiap pelaksanaannya. Dengan demikian dalam analisis pengelolaan DAS sebaiknya mengggunakan model hidrologi. Penelitian ini meman- faatkan model hidrologi SWAT (Soil and Water Assessment Tool). SWAT merupakan model terdistribusi yang terhubung dengan SIG (Sistem Informasi Geografis) dan mengintegrasikan dengan DSS (Decision Support System). Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi sub DAS dan penggunaan lahan yang menyebabkan permasalahan pada DAS Cisadane, dan (2) mengevaluasi implementasi perencanaan pengelo- laan DAS Cisadane. Hasil analisis SWAT, ada tiga sub DAS dikategorikan sebagai sub DAS yang berpotensi menyebabkan masalah tata air dan penggunaan lahan pada DAS Cisadane, yaitu sub DAS Cisadane hilir 2, sub DAS Cisadane tengah 2, dan sub DAS Cisadane hulu 8. Sub DAS yang menjadi penyumbang peak flow terbesar adalah sub DAS Cianten hilir 3 dan Sub DAS Cianten hulu 3. Sedangkan sub DAS sebagai penghasil sedimentasi terbesar berturut-turut adalah sub DAS Ciampea, sub DAS Cihideung dan sub DAS Cinangneng. Evaluasi perencanaan pengelolaan DAS dengan penerapan skenario gabungan, untuk kriteria tata air menun- jukkan hasil baik, tetapi untuk kriteria penggunaan lahan masih termasuk kriteria buruk. Model SWAT dapat digunakan untuk mengidentifikasi sub DAS dan unit lahan yang berpotensi menyebabkan masalah pada DAS dan  mengevaluasi beberapa  alternatif perencanaan pengelolaan DAS.  Penggunaan model  SWAT  dapat menentukan perencanaan pengelolaan DAS terbaik.
APLIKASI LUBANG RESAPAN BIOPORI DAN CROSS DRAIN UNTUK REHABILITASI DI JALAN SARAD Prameswari, Diana; Supriyanto, Supriyanto; Saharjo, Bambang Hero; Wasis, Basuki; Pamoengkas, Prijanto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Problem yang dihadapi di jalan sarad dalam pemanenan kayu adalah pemadatan tanah, erosi yang tinggi, me - nurunnya kesuburan tanah, miskinnya cendawan mikoriza dan kurangnya anakan. Untuk meningkatkan pro - duktivitas hutan di jalan sarad, maka diperlukan upaya pemulihan antara lain dengan penanaman pengayaan intensif dan cara lain yang dapat untuk mengurangi laju erosi, meningkatkan kesuburan tanah di jalan sarad dengan menerapkan lubang resapan biopori (LRB) dan cross drain (Cd). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pemanfaatan LRB  dan Cd  dalam penanaman pengayaan intensif untuk peningkatan produktifitas jalan sarad di hutan alam bekas tebangan. Lokasi penelitian diberi ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu-hutan alam (IUPHHK-HA) pada hutan produksi Kalimantan Barat selama satu tahun. Rancangan penelitian adalah rancangan acak kelompok pola faktorial 2 x 2 dengan ulangan tiga kali. Faktor pertama yaitu LRB dan faktor kedua yaitu cross drain.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi perlakuan LRB dan cross drain  memberi pengaruh yang nyata bagi pertumbuhan tinggi tanaman umur satu tahun Shorea leprosula dan Shorea parvifolia sedangkan untuk pertumbuhan diameternya tidak berpengaruh nyata. Perlakuan cross drain dapat meningkatkan serapan hara P, K, C organik di S. leprosula dan hanya serapan P dan C-organik di S. parvifolia.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue