cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DIAMETER Shorea parvifolia Dyer. Mawazin, Mawazin; Suhaendi, Hendi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 ABSTRAK Usaha untuk meningkatkan produktivitas tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: jarak tanam, intensitas cahaya, dan jenis tanaman. Penanaman jenis unggul dengan jarak tanam yang tepat dan sesuai dengan lingkungannya sangat menentukan keberhasilan penanaman. Shorea parvifolia Dyer. tergolong famili Dipterocarpaceae yang menjadi andalan hutan alam karena mempunyai nilai ekonomi yang signifikan dan termasuk jenis yang tumbuh cepat. Pertumbuhan S. parvifolia yang masih muda cenderung memerlukan naungan, sehingga untuk pertumbuhan awal lebih baik dengan jarak tanam yang rapat, tetapi untuk perkembangan selanjutnya jarak tanam yang lebar memberikan pertumbuhan yang lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi besarnya pengaruh jarak tanam yang tepat terhadap per- tumbuhan tanaman Shorea parvifolia Dyer. pada kawasan hutan terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa S. parvifolia pada umur lima tahun, yang ditanam  dengan jarak tanam 1 m x 1 m; 1,5 m x 1,5 m; 2 m x 2 m; dan 3 m x 3 m, mempunyai diameter berturut-turut adalah 6,7 cm; 7,3 cm; 7,3 cm; dan 8,9 cm. Sedangkan riap diameter tanaman yang berumur satu tahun; dua tahun; tiga tahun; empat tahun; dan lima tahun, berturut-turut adalah 1,61 cm; 1,20 cm; 1,94 cm; 1,32 cm; dan 1,14 cm. Apabila riap ini dapat dipertahankan selama pertumbuhannya, maka 35 tahun yang akan datang diameter pohon akan mencapai50,47 cm. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang pengaruh jarak tanam yang tepat dalam rangka meningkatkan pertumbuhan S. parvifolia, sehingga dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam pengelolaan hutan alam.
ASPEK EKOLOGI NYAMPLUNG (Calophyllum inophyllum L.) DI HUTAN PANTAI TANAH MERAH, TAMAN HUTAN RAYA BUKIT SOEHARTO Mukhlisi, Mukhlisi; Sidiyasa, Kade
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang beberapa aspek ekologi pohon nyamplung (Calophyllum inophyllum L.). Penelitian dilakukan di hutan pantai Tanah Merah, Taman Hutan Rakyat Bukit Soeharto, Kalimantan Timur pada bulan Juni 2009. Pembuatan petak-petak cuplikan ditetapkan secara sengaja (purposive sampling) yang masing-masing berukuran 20 x 20 m, dengan luas keseluruhan 0,44 ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tegakan ini, selain pada tingkat pohon (INP= 90,11% ), nyamplung juga mendominasi pada tingkat tiang (INP= 140,06%) dan semai (INP= 85,85%). Sedangkan pada tingkat pancang didominasi oleh Dillenia suffruticosa (Griff.) Martelli (INP= 135,98%). Pohon nyam-plung memiliki asosiasi terkuat dengan Pouteria obovata (R. Brown) Baehni, hal ini ditunjukkan  dengan nilai indeks Ochiai, Dice, dan Jaccard yang mendekati satu. Berkaitan dengan kondisi lingkungan fisik, suhu udara pada tegakan nyamplung berkisar 25,4-31,70C, kelembaban udara 75-97% dan curah hujan rata-rata 2.000-2.500 mm/tahun, sedangkan komposisi tanahnya sebagian besar didominasi oleh tekstur pasir dengan pH 6,1-7,3.
KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI SEKITAR TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK Adalina, Yelin; Nurrochman, Dodik Ridho; Darusman, Dudung; Sundawati, Leti
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) menghadapi masalah degradasi sumberdaya alam dan lingkungan, rendahnya ekonomi masyarakat dan meningkatnya jumlah penduduk di dalam ka- wasan. Dukungan dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian taman nasional sulit terwujud tanpa diimbangi upaya nyata yang dapat mengakomodir kepentingan ekonomi dan ekologi secara seimbang. Pene- litian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik sosial ekonomi masyarakat sekitar TNGHS sebagai bahan masukan dalam pengeloaan taman nasional. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2012 sampai dengan Mei 2013 dengan mewawancarai sebanyak 297 responden dari delapan desa yang dipi- lih secara sengaja (purposive sampling). Data penelitian dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang bertempat tinggal di dalam dan di sekitar TNGHS secara sosial relatif homogen. Seluruh responden beragama Islam dengan etnis Sunda, 88% tergolong usia pro- duktif, tingkat pendidikan formal tergolong rendah (86,9%), namun memiliki tingkat kesehatan yang baik (85,18%). Sebagian besar responden (87,9%) adalah penduduk asli. Rata-rata tingkat pendapatan responden sebesar Rp 1.155.000,-/bulan dan di bawah Upah Minimum Regional (UMR) baik menurut ketentuan Pro- vinsi Jawa Barat maupun Provinsi Banten. Rata-rata kontribusi pendapatan dari lahan TNGHS terhadap total pendapatan rumah tangga responden sebesar 38,65% termasuk kategori sedang
STATUS KONSERVASI MAMALIA DAN BURUNG DI TAMAN NASIONAL MERBABU Sawitri, Reny; Mukhtar, Abdullah Syarief; Iskandar, Sofian
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman Nasional (TN) Merbabu merupakan jejaring kawasan yang termasuk dalam jaringan kawasan konservasi di Jawa Tengah bagi satwa mamalia dan burung.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi habitat, satwa mamalia, burung dan status konservasinya. Pengamatan satwa dilakukan pada jalur transek pendakian maupun ditentukan menurut keterwakilan habitat secara purposive random sampling. Hasil pengamatan habitat, di TN Merbabu terdapat hutan alam dan hutan tanaman pinus, puspa, akasia maupun bekas kebakaran dengan keragaman jenis vegetasi sangat rendah (H’ berkisar 0,46-0,59), karenajenis dan populasi pohon sangat terbatas. Hal ini berdampak pada keragaman satwa mamalia (10 jenis) dan burung (45 jenis), di antaranya termasuk macan tutul (Panthera pardus) sebagai species yang terancampunah menurut Red Data Book, IUCN dan  Appendix I CITES. Keragaman jenis dan keseimbangan burung yang paling tinggi di hutan alam (H’ = 1,3833 dan E = 0,4475). Kepadatan populasi jenis burung tertinggi diantaranya adalah burung kacamata gunung (Zosterops montanus) = 29 ekor per ha, walet linchii (Collocalia linchii) = 27 ekor per ha, dan sriti (Collocalia esculenta) = 22 ekor per ha, hal ini didukung oleh ketersedianpakannya berupa serangga.  Status konservasi satwa mamalia dan burung dihubungkan dengan status keendemikannya, 60% mamalia dilindungi menurut  Peraturan Pemerintah No. 7/1999, 50% termasuk ke dalam IUCN. Status konservasi burung hanya delapan jenis yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No.7/1999 dan satu jenis termasuk ke dalam Appendix CITES. Keberadaan satwa mamalia maupun burung dengan prioritas konservasi tinggi harus dipertimbangkan dalam penetapan zonasi, sebagai zona inti atau zona rimba
INTERAKSI MASYARAKAT DENGAN HUTAN DAN LINGKUNGAN SEKITARNYA DI KAWASAN DAN DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL KUTAI Sawitri, Reny; Suharti, Sri; Karlina, Endang
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTaman Nasional Kutai (TNK) seluas 198.629 ha, sejak tahun 2000-an mulai dirambah penduduk untuk dimanfaatkan sebagai tempat pemukiman, lahan perkebunan dan tambak seluas 53.629 ha (27%), sehingga hutan yang tersisa dan masih utuh sekitar 145.000 (73%). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kondisi interaksi masyarakat di dalam kawasan maupun daerah penyangga TNK, melalui wawancara dengan responden sebanyak 33 KK (Kepala Keluarga) yang dipilih secara purposive. Keterkaitan masyarakat dengan TNK dibedakan berdasarkan tipologi masyarakat berlatar belakang sosial ekonomi dan budaya berbeda yaitu dari etnis Dayak, Kutai, Jawa dan Bugis. Interaksi masyarakat ke dalam kawasan TNK dilakukan dengan berbagai tujuan antara lain untuk memperluas lahan garapan masyarakat, sedangkan bagi pemerintah daerah dilakukan guna memperluas daerah dalam rangka otonomi daerah. Untuk mengatasi masalah perambahan hutan hendaknya didasarkan pada aspek konservasi untuk mengembalikan fungsi kawasan TNK seperti semula, sedangkan pelestarian dan pengembangan pemanfaatan potensi sumberdaya alam yang termasuk keanekaragaman tumbuhan lokal dan endemik Kalimantan seperti buah-buahan dan bahan pewarna perlu disosialisasikan dan dibudidayakan di kebun rakyat baik untuk masyarakat lokal maupun pendatang.
ANCAMAN TERHADAP POPULASI ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii Lesson) Kuswanda, Wanda
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Populasi orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson) mengalami penurunan secara cepat dalam 30 tahun terakhir.  Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi berbagai ancaman terhadap populasi orangutan Sumatera, khususnya di sekitar Cagar Alam Dolok Sibual-buali, Sumatera Utara.  Pengumpulan data  menggunakan metode  pengamatan deskriptif dan  kuesioner.  Hasil  penelitian  menunjukkan bahwa ancaman serius terhadap orangutan adalah penyusutan habitat yang diakibatkan oleh penebangan hutan, perambahan, pembangunan gubuk, dan perluasan jalan.   Tekanan perburuan relatif rendah karena 77,5 % masyarakat mengetahui orangutan sebagai satwa yang dilindungi.   Aktivitas masyarakat lainnya yang dilakukan pada habitat orangutan yaitu bertani sebesar 70 %, mengambil kayu bakar sebesar 80 % dan air nira sebesar 26,7 %.  Jumlah orangutan sebanyak 27 individu di Cagar Alam Dolok Sibual-buali diperkirakan akan semakin menurun apabila tidak dilakukan program konservasi, pemberdayaan masyarakat lokal, dan penegakan hukum.
BIOMASA DAN KANDUNGAN KARBON PADA HUTAN TANAMAN TUSAM (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) UMUR LIMA TAHUN DI CIANTEN, BOGOR, JAWA BARAT Heriyanto, N. M.; Siregar, Chairil Anwar
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan persamaan alometri dan menduga kandungan karbon pada tegakan hutan tanaman tusam (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) umur lima tahun. Penelitian  dilakukan pada  bulan Maret sampai April 2005 berlokasi di  Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Cianten, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Leuwiliang, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bogor, Perum Perhutani Unit III  Jawa Barat. Pengumpulan data  dilakukan dengan menggunakan metode destructive sampling melalui pemilihan pohon contoh, dari 16 plot berukuran 20 m x 30 m dan dipilih 23 pohon yang dapat mewakili tegakan tusam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat kering oven rata-rata bagian organ tanaman tusam yaitu bagian batang 6,04 kg, bagian daun 3,36 kg,  bagian cabang dan ranting 3,15 kg, dan bagian akar 1,78 kg. Persamaan alometri hubungan antara berat kering bagian atas tanah tusam dengan diameter yaitu Y = 0,17689 X2,0501     (R2  = 0,9464), hubungan antara berat kering batang tusam dengan diameter yaitu Y = 0,11467 X1,9238  (R2 = 0,9635), hubungan antara berat kering akar tusam dengan diameter yaitu Y = 0,020346 X2,1291    (R2  = 0,9163), dan hubungan antara berat kering total tusam dengan diameter yaitu Y = 0,19687X2,0611    (R2  = 0,9472). Kandungan karbon tusam paling tinggi diperoleh pada bagian batang yaitu sebanyak 5,03 ton/ha, kemudian berturut-turut bagian daun sebanyak 2,8 ton/ha, bagian cabang dan ranting 2,62 ton/ha, dan bagian akar sebanyak 1,48 ton/ha. Total kandungan karbon pada tegakan tusam umur lima tahun yaitu sebanyak 11,93 ton/ha atau setara dengan 43,74 ton CO2 /ha. 
KEADAAN SUKSESI TUMBUHAN PADA KAWASAN BEKAS TAMBANG BATUBARA DI KALIMANTAN TIMUR Mukhtar, Abdullah Syarief; Heriyanto, N.M.
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang percepatan suksesi di hutan tanaman revegetasi berumur enam tahun, 10 tahun, dan 12 tahun. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2010 di PT Kaltim Prima Coal (KPC) Sangata, Kalimantan Timur. Pengumpulan data vegetasi dilakukan dengan mengukur diameter dan tinggi pohon dalam plot berukuran 50 m x 50 m yang dipilih secara representatif pada umur tegakan hutan revegetasi. Hasil penelitian menunjukkan hutan revegetasi umur enam tahun di lokasi H East Dump I terdapat lima jenis didominir oleh johar (Cassia siamea Lamk.) 192 pohon/ha, hutan revegetasi umur 10 tahun di lokasi HS Hatari terdapat enam jenis didominir oleh  kassia (Cassia suratensis Lamk.) 124 pohon/ha, hutan revegetasi umur 12 tahun di lokasi arboretum terdapat delapan jenis dan didominir oleh kobung (Macaranga gigantea Muell.Arg.) 128 pohon/ha. Permudaan alam di hutan revegetasi umur enam tahun kerapatan semai 2.000 individu/ha, umur 10 tahun kerapatan semai 3.500 individu/ha, pancang 1.000 individu/ha, umur 12 tahun kerapatan semai 7.500 individu/ha, dan kerapatan pancang 3.000 individu/ha. Jenis permudaan alam yang mendominasi hutan revegetasi umur enam tahun di lokasi H East Dump I yaitu mahang (Macaranga triloba Muell.Arg.), hutan revegetasi umur 10 tahun di lokasi HS Hatari yaitu homalanthus (Homalanthus populneus O.K.), hutan revegetasi umur 12 tahun di lokasi arboretum yaitu Melastoma malabathricum Linn.
KARAKTERISTIK HABITAT MIKRO TABAT BARITO (Ficus deltoidea Jack) PADA TUMBUHAN INANGNYA Agustina, Anisa; Zuhud, Ervizal A.M.; Darusman, Latifah K.
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tabat barito (Ficus deltoidea Jack.) merupakan tumbuhan yang berpotensi sebagai obat dan memiliki sebaran luas  di Indonesia,  meliputi  Jawa  Barat,  Jawa  Tengah,  Sumatera,  Kalimantan  dan  Sulawesi.  Di  Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), tabat barito tumbuh sebagai epifit yang berpotensi sebagai sumber plasma nutfah bagi tujuan pengembangan budidaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang karakteristik habitat mikro tabat barito di Resort Mandalawangi TNGGP. Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa  sebaran tabat  barito  hingga elevasi 1.800  m dpl.  Penelitian yang dilakukan memperoleh hasil, yaitu 178 individu tabat barito yang berasal dari 100 individu tumbuhan inang. Tabat barito terletak pada kisaran suhu 18,3°C-23,1°C, kelembaban udara relatif 80-84% dan kelerengan 4%-24% dengan arah lereng bervariasi. Tumbuhan inang memiliki karakteristik fisik yang bervariasi dalam hal tinggi pohon, diameter batang maupun luas tajuknya, namun memiliki persamaan dalam hal karakteristik kulit  batangnya,  yaitu  memiliki  permukaan  yang  kasar  dengan  kulit  batang  yang  mengelupas  maupun beralur.  Media  tumbuh  tabat  barito  pada  tumbuhan  inang  bervariasi,  mulai  dari  akar  yang  menempel langsung pada kulit batang hingga media tumbuh berupa hasil dekompisisi
PROFIL KERAGAMAN DAN KEBERADAAN SPESIES DARI SUKU DIPTEROCARPACEAE DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI, JEMBER Kalima, Titi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 ABSTRAK Penelitian dilakukan di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jember pada bulan Juni 2007. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data populasi, persebaran spesies Dipterocarpaceae dan perubahan keragaman struktur flora pohon yang terjadi di kawasan hutan Sumbergadung dan Lodadi, TNMB, Jember. Jalur berukuran panjang 300 m dan lebar 20 m dibuat pada tempat di mana ditemukan spesies Dipterocarpaceae, kemudian dibuat 15 plot contoh berukuran 20 m x 20 m untuk mendata semua spesies pohon yang berdiameter batang > 20 cm, tingkat tiang (10-19,9 cm), dan pancang (2-9,9 cm) pada plot berukuran 10 m x 10 m; dan semai (< 1,9 cm) pada plot berukuran 5 m x 5 m. Jumlah spesies dan individu, tinggi bebas cabang dan total, diameter batang dan tajuk dicatat. Hasil penelitian di dua lokasi ditemukan spesies Dipterocarpus hasseltii Blume. di Sumbergadung teridentifikasi 29 spesies tingkat pohon, 13 spesies tingkat tiang, 11 spesies tingkat pancang, dan delapan spesies tingkat semai. Sedangkan di Lodadi ditemukan16 spesies tingkat pohon, 16 spesies tingkat tiang, sembilan spesies tingkat pancang, dan delapan spesies tingkat semai. Kedua profil keragaman spesies tersebut dianalisis pada plot berukuran 50 m x 20 m. Spesies- spesies  yang  dominan  untuk  tingkat  pohon  di  Sumbergadung adalah  Pterospermum javanicum Jungh. (INP=29,75%), tingkat tiang oleh Ficus septica Burm. (INP=53,52%), dan tingkat pancang oleh Cinnamomum porrectum (Roxb.) Kosterm.( INP  =56,15%). Sedangkan di  Lodadi untuk tingkat pohon didominasi oleh Tetrameles nudiflora R.Br. (INP=37,01%), tingkat tiang oleh Terminalia bellirica (Gaertn.) Roxb.( INP=40,11 %), tingkat pancang oleh Dipterocapus hasseltii Blume (INP=43,08%), dan tingkat semai, baik di Sumbergadung maupun di Lodadi didominasi oleh Calophyllum inophyllum L. Stratifikasi dari komunitas flora pohon di kedua lokasi tersebut terdiri atas tiga stratum. Strata paling tinggi di antara 35 sampai 40 m tingginya. Namun demikian ada spesies pohon dapat mencapai tinggi 44 m atau lebih dengan diameter batang antara 45 cm sampai 95 cm, seperti D. hasseltii Blume dan Ficus septica Burm.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue