cover
Contact Name
Dr. Achmad Amzeri, SP. MP.
Contact Email
-
Phone
+6285231168649
Journal Mail Official
agrovigor@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Department of Agroecotechnology, Faculty of Agriculture University of Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO BOX 2, Kamal - Bangkalan 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi
ISSN : 1979577     EISSN : 24770353     DOI : https://doi.org/10.21107/agrovigor
Core Subject : Agriculture,
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi is a scientific paper in the field of science Agroecotechnology which include: plant science, soil science, plant breeding, pest and plant diseases.
Articles 327 Documents
Perbedaan De-astrigency Terhadap Lama Masa Simpan Buah Kesemek Eko Setiawan
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.459 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.4866

Abstract

Kesemek oriental (Diospyros kaki L.) berasal dari dan sebagian besar telah dibudidayakan di Cina, Korea, dan Jepang, dan saat ini dibudidayakan di Indonesia di daerah Batu, Kuningan, dan Brastagi. Keberhasilan dalam menyebarkan kesemek di Indonesia masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan suhu rendah untuk penyimpanan lama buah kesemek. Penyemprotan buah kesemek dengan alkohol 95% dapat menghilangkan sifat astringency lebih cepat, tetapi kualitas buah menjadi lebih buruk karena kerusakan pada dinding sel buah, gangguan daging kulit dan pembusukan. Buah dengan perlakuan semprotan alkohol 95% meningkatkan pembusukan hingga 50% selama dua minggu pascapanen. Untuk menjaga kualitas kesemek, perlu disemprotkan dengan alkohol 70% untuk kualitas yang baik. 
EFEKTIFITAS TEPUNG DAUN SIRSAK (Annona muricata) UNTUK MENGENDALIKAN KUMBANG BUBUK KEDELAI (Callosobruchus analis F.) PADA BIJI KEDELAI (Glycine max L.) Yos Wahyu Harinta
Agrovigor Vol 6, No 2 (2013): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.154 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v6i2.1487

Abstract

Penelitian bertujuan untuk : mengetahui pengaruh tepung daun sirsak terhadap pengendalian hama Callosobruchus analis pada biji kedelai. Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimen, yang terdiri dari dua tahap, 1).Efektifitas tepung daun sirsak terhadap mortalitas kumbang C. analis dan peletakan telur dan 2). Pengaruh tepung daun sirsak terhadap perkembangan populasi kumbang C. analis. Penelitian menggunakan Rancangan Lengkap ( RAL/CRD ).  Sebagai perlakuan adalah : ( A ) Tepung daun sirsak , dosis 1 g / 100 g; ( B ) Tepung daun sirsak, dosis 0,50 g / 100 g. ; C ) Tepung daun sirsak , dosis 0,25 g / 100 g.  D ) Kontrol / Tanpa Perlakuan.  Tiap Perlakuan diulang lima kali. Cara kerja penelitian, adalah : perbanyakan Kumbang Bubuk Kedelai ( C. analis), pembuatan  tepung daun sirsak ( Annona muricata) dan pengaruh perlakuan tepung daun sirsak terhadap mortalitas kumbang C. analis dan perkembangan kumbang C.analis, persentase kerusakan biji dan penyusutan bobot biji.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa : tepung daun sirsak berpengaruh terhadap mortalitas dan perkembangan C. analis pada biji kedelai ; tepung daun sirsak dapat mengurangi terhadap kerusakan dan penyusutan bobot biji kedelai terhadap serangan C. analis; belum didapat dosis tepung daun sirsak yang efektif untuk mengendalikan kumbang C.analis. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa : tepung daun sirsak mulai dosis 0,5 g / 100 g biji dapat berpengaruh terhadap peningkatan mortalitas dan penurunan perkembangan kumbang bubuk kedelai (Callosobruchus analis F.) pada biji kedelai serta dapat mengurangi kerusakan dan penyusutan bobot biji kedelai akibat serangan kumbang bubuk kedelai (Callosobruchus analis F.) di penyimpanan.Kata kunci : tepung daun sirsak (Annona muricata); kumbang bubuk kedelai (Callosobruchus analis F.)
Pengaruh Sistem Tanam Benih Langsung (TABELA), SRI (System of Rice Intensification) dan Konvensional terhadap Gulma dan Hasil Padi (Oryza sativa L.) dessy sarfika
Agrovigor Vol 10, No 1 (2017): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.991 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i1.2388

Abstract

Produksi padi pada tahun  2014 menurun dari tahun sebelumnya, tahun 2013 produksi padi mencapai 71.279.709 ton, sedangkan pada tahun 2014 produksi padi hanya mencapai 70.846.465 ton. Penurunan produksi padi dapat disebabkan oleh sistem tanam tanaman padi yang digunakan petani. Di Indonesia telah dikenal beberapa sistem tanam padi yaitu padi dengan sistem tanam benih langsung (tabela), SRI (System of Rice Intentification) dan sistem konvensional. SRI termasuk dalam sistem tanam pindah (tapin) bibit yang menggunakan sistem pengairan berselang namun berbeda dengan sistem tapin konvensional yang menggunakan sistem pengairan penggenangan pada lahan atau media tanam. Sistem tanam benih langsung dilakukan dengan cara menyemai benih ke lahan dengan kondisi air pada lahan macak-macak. Kondisi pengairan pada masing-masing sistem tanam yang berbeda menyebabkan adanya OPT. Salah satu OPT yang keberadaannya dipengaruhi  oleh sistem tanam yaitu gulma. Penelitian ini dilaksanakan pada media pot menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 perlakuan yang diulang sebanyak 5 kali. Dari hasil penelitian semua perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini, perlakuan sistem tanam konvensional dengan umur bibit 16 hari merupakan perlakuan yang terbaik dikarenakan populasi gulma yang rendah serta jumlah anakan, jumlah, malai, panjang malai, jumlah bulir per malai dan berat gabah tanaman padi memiliki rerata yang tertinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Kata Kunci : Sistem tanam, gulma, hasil padi
RESPON DUA VARIETAS TANAMAN SELADA (Lactuca sativa L.) TERHADAP MACAM NUTRISI PADA SISTEM HIDROPONIK Catur Wasonowati; Sinar Suryawati; Ade Rahmawati
Agrovigor Vol 6, No 1 (2013): MARET
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.87 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v6i1.1478

Abstract

Lettuce (Lactuca sativa L) is a common vegetables crops grown in the highland and lowlands.  A sample hydroponic lettuce cultivation provides an sources an alternative for farmers who have a narrow area, so that can server as an adequate source of income.  Providing nutrients to the two varienties of lettuce are expected to yield maximum production.  This tudy aims to determine the effect of nutrients on two varieties of lettuce plants.            The study was conducted in the greenhouse Agroekoteknologi Departement Faculty of Agriculture, University Trunojoyo Madurese from January to March 2011.  The method used was a factorial experiment based on Completely Randomized Design (CRD) with three replicates consisting of two treatment factors, the first factor are two different varieties of lecctuce and the second factor are two differwnt kinds of nutrients.            The results showed that the chief varieties of butter (V1) produces the number of leaves and dry biomass is higher than the varieties of cos (V2).  Nutrition in V1 generate the number of leaves, wet biomass, dry biomass, and root length was higher than without the provision of (N0). V1 responses to nutrient hidrogroup (N1) resulted in higher leaf number than nutrition greentonik (N2), but the provision of dry biomass yield N2 higher than N1. Nutrition on V2 generate the number of leaves, wet biomass and dry biomass was higher than N0. V2 response to the provision of N1 and N2 produce the number of leaves, wet biomass, dry biomass, and root length are not significantly different.Key word : lettuce, varieties, nutrition, simple hydroponics
Peningkatan Pertumbuhan dan Produksi Bawang Putih (Allium sativum L.) melalui Aplikasi Vernalisasi dan Pemberian BAP (Benzil Amino Purin) Edi Siswadi; Sekar Utama Putri; Refa Firgiyanto; Clara Fajarsyah Putri
Agrovigor Vol 12, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.933 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v12i2.5419

Abstract

Bawang putih (Allium sativum L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk berbagai pengunaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lama vernalisasi dan konsentrasi BAP (Benzil Amino Purin) serta interaksinya terhadap pertumbuhan dan produksi bawang putih (Allium sativum L.) varietas Lumbu Hijau. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Tanaman Politeknik Negeri Jember dan Di Desa Wonokerto Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo dengan ketinggian 1400 m dpl. Rancangan percobaan  yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Faktor pertama yaitu lima taraf vernalisasi (0, 2, 4, 6, dan 8 Minggu), sedangkan faktor kedua lima  taraf konsentrasi (0, 50, 100, 150 dan 200 ppm). Variabel yang diamati pada percobaan ini meliputi jumlah daun, panjang daun, lebar daun, tinggi tanaman, diameter batang, diameter umbi, jumlah siung, berat basah, dan berat kering umbi. Hasil penelitian menunjukkan Pemberian perlakuan lama vernalisasi mampu meningkatkan pertumbuhan jumlah daun, panjang daun, lebar daun,  tinggi tanaman, diameter batang, jumlah siung, berat  basah, berat kering, dan diameter umbi, akan tetapi belum mampu meningkatkan lebar daun 6 MST. Waktu lama vernalisasi terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi bawang putih diperoleh pada perlakuan 4 minggu dan 8 minggu. Pemberian perlakuan konsentrasi BAP (Benzil Amino Purin) serta interaksinya dengan lama vernalisasi masih belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bawang putih varietas Lumbu Hijau.
Pengaruh Panjang Setek dan Konsentrasi Rootone F Terhadap Pertumbuhan Setek Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Siti Wahyuni; Dukat .; Meilina Prasetyo
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.947 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.3148

Abstract

The purpose of this study is to determine the influence of the length of cuttings and concentration Rootone F to growth cuttings jatropha (Jatropha curcas L.). Research methodology used to the experimental method experimental design completely randomized design pattern combination, which consists of 12 factors and repeated three times. A (Length cuttings of 20 cm and a concentration of 0 ppm Rootone F), B (length of cuttings 20 cm and a concentration of 50 ppm Rootone F), C (Length cuttings 20 cm and a concentration of 100 ppm Rootone F), D (Long cuttings 20 cm and concentration 150 ppm Rootone F), E (Long cuttings of 25 cm and a concentration of 0 ppm Rootone F), F (Long cuttings of 25 cm and a concentration of 50 ppm Rootone F), G (Long cuttings of 25 cm and a concentration of 100 ppm Rootone F), H ( long cuttings of 25 cm and a concentration of 150 ppm Rootone F), I (long cuttings of 30 cm and a concentration of 0 ppm Rootone F), J (long cuttings of 30 cm and a concentration of 50 ppm Rootone F), K (length of cuttings 30 cm and a concentration of 100 ppm Rootone F) and L (length 30 cm cuttings and concentration of 150 ppm Rootone F). Variables observed that the number of shoots, number of leaves, fresh weight and root volume.The results showed occurred the length use of cuttings and concentration Rootone F real impact on the number of shoots, number of leaves and root volume. The treatment of length cuttings and concentration Rootone F the number of shoots are significantly at age 7 HST, age 28 HST numbers of leaves and root volume age 56 HST. The results are the best effect on the treatment of cuttings 20 cm and F Rootone concentration of 100 ppm.
RESPON PERTUMBUHAN DAN FISIOLOGIS Plectranthus amboinicus (Lour.) Spreng PADA CEKAMAN NAUNGAN Rina Ekawati; Sandra Arifin Aziz
Agrovigor Vol 9, No 2 (2016): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.424 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v9i2.2204

Abstract

Bangun - bangun [Plectranthus amboinicus (Lour.) Spreng] merupakan salah satu jenis sayuran fungsional yang berfungsi sebagai Laktagogum. Bangun-bangun juga mempunyai kandungan antosianin yang berkhasiat sebagai antioksidan. Percobaan ini dilakukan di Kebun Percobaan IPB Leuwikopo, Kec. Darmaga, Bogor, dari bulan September 2012 hingga Februari 2013 untuk mempelajari respon pertumbuhan dan fisiologis Plectranthus amboinicuspada perbedaan tingkat naungan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktor tunggal dengan 2 taraf perlakuan, yaitu tanpa naungan (N0) dan naungan (N1). Setiap perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat enam satuan percobaan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa naungan menghasilkan daun bangun-bangun yang lebih lebar dan tipis dibandingkan tanpa naungan. Naungan menurunkan kandungan antosianin dan bobot basah pucuk per tanaman bangun-bangun, tetapi meningkatkan kandungan klorofil “a” dan total klorofil dibandingkan tanpa naungan.Kata kunci: bangun-bangun, intensitas cahaya rendah, metabolit sekunder
PENGARUH PEMUPUKAN FOSFOR DAN KALIUM TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis Guineensis Jacq.) DI PEMBIBITAN UTAMA Sudradjat -; Nindyta Agustina Siagian
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.633 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1445

Abstract

Oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) is one of plantation commodities that contribute to foreign exchange. Palm oil production is influenced by the expansion of the area  and  intensification using the fertilization at main nursery and plantation. Macro elements such as N, P, and K required by the oil palm are in large quantities. The study was conducted from November, 2011 to  May, 2012 at Cikabayan Experimental Station, IPB Darmaga Campus, Bogor. The treatment was laid-out in a factorial randomized block design with three replications. The first factor was P: 0, 3.00, 6.00, and 12.00 g P plant-1 ;  and the second was K: 0, 9.00, 18.00 and 36.00 g K plant-1. The results of the study showed that phosphor did not influence the plant height, number of frond, number of chlorophyll, and stem diameter. Potassium fertilizer influenced the stem diameter at 24 weeks after planting (WAP). There were the interaction between P and K  on stem diameter variable at 16 and 20 WAP.Keywords :  Fertilizer, phosphor, potassium, Elaeis Guineensis Jacq.
Aplikasi Pupuk Granular Organik Berbahan Limbah Sawit dan Rhizobium terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Tanah Edi Susilo
Agrovigor Vol 11, No 2 (2018): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.514 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i2.5058

Abstract

 Kacang tanah (Arachis hypogaea L) merupakan komoditas pertanian terpenting setelah kedelai yang memiliki peran strategis pangan nasional sebagai sumber protein dan minyak nabati, sehingga berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomi yang cukup baik dan mempunyai peluang pasar dalam negeri cukup besar. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi aplikasi pupuk granular organik dan rhizobium serta interkasinya terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Ratu Samban Arga Makmur Bengkulu Utara pada bulan Juni sampai September 2018. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dua faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah perlakuan pupuk granular organik dengan enam taraf yaitu kontrol (G0), pupuk granular organik 25 g tan-1 (G1), pupuk granular organik 50 g tan-1 (G2), pupuk granular organik 100 g tan-1 (G3), pupuk granular organik 150 g tan-1 (G4), pupuk granular organik 200 g tan-1 (G5). Faktor kedua perlakuan rhizobium, terdiri atas 2 taraf yaitu kontrol (R0) dan rhizobium (R1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk granular organik berpengaruh nyata terhadap bobot biji per tanaman dan perlakuan 100 g tan-1 dan 150 g tan-1 menghasilkan bobot biji tan-1 tertinggi masing-masing 9.38 g dan 9.32 g. Perlakuan rhizobium berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah cabang 7 minggu setelah tanam (MST). Perlakuan rhizobium menghasilkan tinggi tanaman tertinggi sebesar 36,11 cm dan jumlah cabang lebih banyak yaitu 5,56 batang. Tidak terdapat interaksi antara pupuk organik granular dengan rhizobium.
Uji Daya Hasil 10 Hibrida Harapan Jagung Madura Berdaya Hasil Tinggi dan Berumur Genjah Achmad Amzeri
Agrovigor Vol 10, No 1 (2017): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.912 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i1.2865

Abstract

Perakitan varietas jagung hibrida unggul Madura yang mempunyai potensi produksi tinggi dan berumur genjah dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan kondisi lahan pertanian Madura yang mempunyai ketersediaan air dan curah hujan rendah.  Tujuan penelitian ini adalah  untuk mengevaluasi daya hasil 10 jagung hibrida harapan Madura koleksi Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura.  Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura, yang dilaksanakan dari bulan Februari sampai bulan November 2015.  Genotip yang digunakan adalah MH-3, MH-4, MH-5, MH-6, MH-8, MH-9, MH-11, MH-14, MH-15, MH-15 dan 3 varietas jagung hibrida pembanding yaitu Bima Provit A-1, Bima 13Q dan BISI-2. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok dengan empat ulangan. Data dianalisis dengan uji-F, kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan’s (α = 5%).  Analisis gabungan digunakan untuk mengetahui interaksi antara genotip dengan musim dan menduga nilai heritabilitas dalam arti luas.  Seleksi indeks digunakan untuk memilih jagung hibrida harapan yang terbaik.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa sepuluh jagung hibrida harapan yang diuji memiliki perbedaan penampilan, umur panen, potensi produksi yang berbeda dengan tiga varietas pembanding.  Hasil pengujian gabungan pada dua musim menunjukkan bahwa ada interaksi antara perlakuan genotip dengan musim pada karakter panjang tongkol, bobot 100 biji, dan produksi per hektar.  Nilai heritabilitas dalam arti luas genotip jagung untuk karakter yang dievaluasi berkisar antara 22 – 61%.  Hasil  nilai seleksi indeks menunjukkan  bahwa  jagung hibrida  harapan  Madura yang  memiliki  seleksi indeks tertinggi adalah MH-3 dan MH-4 dan dapat dikembangkan menjadi varietas hibrida Madura komersial.Kata kunci : heritabilitas dalam arti luas, jagung hibrida harapan Madura, seleksi indeks, uji daya hasil.

Page 11 of 33 | Total Record : 327