cover
Contact Name
Dr. Achmad Amzeri, SP. MP.
Contact Email
-
Phone
+6285231168649
Journal Mail Official
agrovigor@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Department of Agroecotechnology, Faculty of Agriculture University of Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO BOX 2, Kamal - Bangkalan 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi
ISSN : 1979577     EISSN : 24770353     DOI : https://doi.org/10.21107/agrovigor
Core Subject : Agriculture,
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi is a scientific paper in the field of science Agroecotechnology which include: plant science, soil science, plant breeding, pest and plant diseases.
Articles 329 Documents
MENINGKATKAN EFESIENSI PEMAKAIAN AIR DENGAN MENGATUR KETEBALAN MULSA DAN INTERVAL IRIGASI UNTUK KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) Eko Sulistyono; Lena Isnawati
Agrovigor Vol 9, No 1 (2016): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.407 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v9i1.1525

Abstract

Mulsa diketahui sebagai teknologi budidaya untuk menurunkan evapotranspirasi dan meningkatkan efisiensi pemakaian air.  Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi antara ketebalan mulsa dan interval irigasi yang memberikan efisiensi pemakaian air paling tinggi. Percobaan rumah kaca dilakukan dengan lima tingkat ketebalan mulsa ( 0, 3, 6, 9 and 12 cm) yang dikombinasikan dengan empat tingkat interval irigasi (2, 4, 6, and 8 hari).  Percobaan  di susun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Interaksi antara ketebalan mulsa dan interval irigasi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah cabang, bobot biji, evapotranspirasi dan efisiensi pemakaian air. Produksi maksimal diperoleh dengan perlakuan frekuensi irigasi 6 hari sekali atau keadaan air tanah sebelum irigasi sebesar 72.63 %AT saat umur tanaman 2-4 MST, 68.95 %AT saat umur tanaman 4-6 MST, 62.14 %AT saat umur tanaman 6-8 MST, 66.99 %AT saat tanaman umur 8 MST, dengan ketebalan mulsa 9 cm. Kombinasi ketebalan mulsa 9 cm dengan interval irigasi 6 hari sekali mempunyai nilai efisiensi pemakaian air sebesar 0.877 ± 1.754  g L-1.Kata kunci: mulsa
PERBANDINGAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata L ) PADA SISTEM TANAM SATU BARIS DAN DUA BARIS Rizka Novi Sesanti; Risa Wentasari; Waheed Ismad; Wahyu Fajar Yanti
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.598 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1440

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) membandingkan pertumbuhan jagung manis yang ditanam dengan pola tanam satu baris (SB) dan dua baris (DB). (2) Membandingkan produksi jagung manis yang ditanam dengan pola tanam dua baris dan satu baris. Penelitian menggunakan 2 perlakuan yaitu pola tanam dua baris dan satu baris. Pola tanam dua baris menggunakan jarak tanam 20 x 20 cm (dalam barisan) dan 80 cm antar barisan, sedangkan pola tanam satu baris menggunakan jarak tanam sesuai dengan anjuran 75 x 20 cm.  Untuk membandingkan nilai tengah data yang diperoleh digunakan uji t independen. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), bobot jagung dengan kelobot (gram), bobot jagung tanpa kelobot (gram), diameter tongkol (cm), panjang tongkol (cm), berat kering berangkasan tanaman (gram). Hasil yang diperoleh adalah: (1) Perlakuan pola tanam SB dan DB pada tanaman jagung manis tidak mengakibatkan terjadinya perbedaan jumlah daun, namun perbedaan terjadi pada tinggi tanaman jagung manis. Pola tanam SB memiliki nilai rata-rata tinggi tanaman lebih besar (215,65 cm ) dibandingkan pola tanam DB (198,85 cm); (2) Pola tanam SB memiliki nilai bobot tongkol dengan kelobot dan tanpa kelobot yang lebih besar dibandingkan pola tanam DB yaitu berturut-turut 642 g (SB) dan 319 g (DB) serta 274,5 g (SB) dan 236,75 g (DB); (3) Pengamatan terhadap panjang tongkol, diameter, dan bobot kering berangkasan menunjukan adanya perbedaan akibat perlakuan pola tanam SB dan DB.Kata kunci : pola tanam, jagung manis, jarak tanam
Kajian Pertumbuhan Bibit Belimbing pada Pemberian Beberapa Dosis Pupuk Majemuk NPK Dan Pupuk Daun Refa Firgiyanto; Tri Harjoso; Etik Wukir Tini
Agrovigor Vol 11, No 2 (2018): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.611 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i2.5010

Abstract

Bibit Belimbing Dewi unggul didapatkan dari pohon induk yang baik dan pemeliharaan yang intensif seperti aplikasi pupuk majemuk NPK dan pupuk daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis pupuk majemuk NPK dan pupuk daun yang paling tepat agar dapat memberikan pertumbuhan yang baik serta mengetahui interaksinya terhadap pertumbuhan bibit belimbing Dewi. Penelitian dilaksanakan di Screen House Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dengan ketinggian 110 m dpl. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial. Faktor pertama yaitu tiga dosis pupuk majemuk NPK (0, 20 dan 40 g/tanaman), sedangkan faktor kedua tiga dosis pupuk daun (0, 1 dan 2 g/tanaman). Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk majemuk NPK dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, penambahan diameter batang, jumlah akar cabang primer, jumlah anak daun, luas daun, bobot segar dan kering tajuk dan tanaman, akan tetapi tidak meningkatkan jumlah cabang. Hasil terbaik diperoleh dari pemberian dosis pupuk majemuk NPK 20 g/tanaman atau 40 g/tanaman. Pemanfaatan dosis pupuk daun tidak mampu meningkatkan semua variabel pertumbuhan. Terdapat interaksi antara perlakuan pupuk majemuk NPK dan pupuk daun dengan bobot segar dan kering tajuk terbaik didapatkan pada pemberian dosis pupuk majemuk NPK 20 g/tanaman dengan pupuk daun 2 g/tanaman.
RELATIONSHIP BETWEEN MANGOSTEEN LEAF NITROGEN CONTENTS AND LEAF SPAD VALUES Eko Setiawan
Agrovigor Vol 7, No 1 (2014): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.052 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i1.1424

Abstract

We investigated nitrogen contents on mangosteen leaf and related on leaf SPAD value. The experiment was conducted using mangosteen trees grown in commercial orchard in Bogor, Indonesia during May to October 2010. Mangosteen trees of 3 different ages, young (20-year-old), middle-aged (35-year-old), and old (50-year-old) trees, each of five trees, were selected for study, and the canopy of each tree was divided into 9 sectors based on height (bottom, middle, top) and width (inner, center, outer). SPAD values had a negative correlation with leaf N content in all ages and could be explained by regressionl equations N level (% DW) = -0.0099 × SPAD + 2.2366; R² = 0.91; N level (% DW) = -0.0177 × SPAD + 2.8001; R² = 0.67; and N level (% DW) = -0.0187 × SPAD + 2.7785; R² = 0.45 in young, middle-aged and old trees, respectively. It is suggested that the SPAD value determined by a portable chlorophyll meter can be used to obtain a quick estimation of mangosteen leaf N status. Keywords: age, fruiting position, Garcinia mangostana L., nitrogen, SPAD
Pemanfaatan Bahan Nabati Lokal Berefek Pestisida untuk Mengendalikan Hama Cylas formicarius pada Tanaman Ubi Jalar Nina Jeni Lapinangga; Yosefus F. da Lopez
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.3822

Abstract

Ubi jalar merupakan salah satu komoditas yang saat ini sedang dikembangkan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, namun produktivitasnya jauh lebih rendah dari pada produktivitas nasional. Penyebabnya yaitu serangan hama Cylas formicarius. Penggunaan insektisida kimia yang dilakukan oleh petani saat ini dapat menimbulkan berbagai pengaruh negatif sehingga perlu dicari alternatif lain untuk mengendalikan hama atau dengan mencari substitusi pestisida kimiawi. Salah satu substitusi tersebut adalah dengan menggunakan pestisida nabati yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Alam di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menyediakan banyak bahan yang berpotensi sebagai pestisida nabati. Misalnya mimba (Azadirachta  indica), babadotan (Ageratum conyzoides), sirsak (Annona muricata), anona (Annona  squamosa), kenikir (Tagetes erecta), pepaya (Carica papaya), dan sirih hutan (Piper caducibracteum). Namun, efektivitas bahan-bahan nabati tersebut untuk mengendalikan hama Cylas formicarius belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pestisida nabati terhadap mortalitas hama Cylas formicarius. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pemikiran bagi petani dalam menentukan teknik pengendalian hama Cylas formicarius yang ramah lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas pestisida nabati terhadap mortalitas hama Cylas formicarius tertinggi sampai terendah berturut-turut yaitu : daun mimba sebesar 97,5%; daun sirsak sebesar 92,5%; daun anona 87,5%; daun sirih sebesar 82,5%; daun babadotan sebesar 67,5%; daun kenikir sebesar 47,5%; dan daun pepaya sebesar 45%. Disarankan untuk menggunakan daun mimba, daun sirsak, daun anona, daun sirih, dan daun babadotan untuk mengendalikan hama Cylas formicarius karena mampu menyebabkan mortalitas larva di atas 50% pada kondisi laboratorium.
PENERAPAN PANJANG TALANG DAN JARAK TANAM DENGAN SISTEM HIDROPONIK NFT (Nutrient Film Technique) PADA TANAMAN KAILAN (Brassica oleraceae var. alboglabra) Daviv Zali Vidianto; Siti Fatimah; Catur Wasonowati
Agrovigor Vol 6, No 2 (2013): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.881 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v6i2.1488

Abstract

Kailan vegetables is one kind of high economic value that can be grown in hydroponic NFT (Nutrient Film Technique). The purpose of this study to determine the effect of chamfer length and spacing of the system hydroponic NFT (Nutrient Film Technique) on the growth and yield kailan (Brassica oleraceae var. Alboglabra). The research has been done in the greenhouse of the Faculty of Agriculture, University Department Agroekoteknologi Trunojoyo Madura District Kamal village Telang Bangkalan. Tat is was conducted in February-May 2012. Research using methods completely randomized design (CRD) with non factorial treatment chamfer length 2 m with spacing of 15 cm (P1J1), chamfer length 2 m with spacing of 20 cm (P1J2), chamfer length of 4 m with spacing of 15 cm (P2J1 ) and chamfer length of 4 m with spacing of 20 cm (P2J2). The materials used are kailan seeds, fertilizers and hydroponics Goodplant acetic acid (CH3COOH). Observations were analyzed using analysis of variance and Duncan continued Test Distance (UJD) level of 5%. P1J1 (chamfer length of 2 meters and 15 cm plant spacing) gives the best effect on the variable root length, number of leaves and plant canopy wet weight. The treatment does’n effect to variable leaf area, root wet weight, dry weight, and root dry weight of the plant canopyKeyword : Brassica oleraceae var. Alboglabra, hydroponik NFT, chamfer length and spacing
Inokulasi Cendawan Fusarium sp. dari Berbagai Tanaman Inang dan Diameter Batang terhadap Pembentukan Kemedangan Gaharu Jenis Gyrinophs versteegii Faishal Irfandi
Agrovigor Vol 10, No 1 (2017): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.391 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i1.2460

Abstract

Infektivitas dan efektivitas cendawan Fusarium sp. dalam pembentukan kemedangan gaharu dapat dipengaruhi oleh jenis isolat dan umur tanaman. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat efektivitas cendawan Fusarium sp. dari berbagai tanaman inang terhadap pembentukan kemedangan pada berbagai diameter batang tanaman Gyrinophs versteegii. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 9 perlakuan yang diulang 3 kali sehingga terdapat 27 perlakuan tanaman. Perlakuan yang diberikan adalah tanaman inang pisang + diameter 3 cm (ID1), tanaman inang pisang + diameter 3-4 cm (ID2), tanaman inang pisang + diameter 4 cm (ID3), tanaman inang terong + diameter 3 cm (ID4), tanaman inang terong + diameter 3-4 cm (ID5), tanaman inang terong + diameter 4 cm (ID6), tanaman inang tomat + diameter 3 cm (ID7), tanaman inang tomat + diameter 3-4 cm (ID8), dan tanaman inang tomat + diameter 4 cm (ID9). Teknik inokulasi pada batang tanaman gaharu menggunakan teknik inokulasi injeksi (suntik). Variabel penelitian yang digunakan adalah luas jaringan terinfeksi (cm2), warna jaringan terinfeksi (dalam skoring), tingkat aroma kemedangan (dalam skoring) dan analisis kadar minyak atsiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh cendawan Fusarium sp. dari berbagai tanaman inang terhadap pembentukan kemedangan gaharu pada berbagai diameter batang tanaman memberikan pengaruh nyata terhadap variabel luas jaringan terinfeksi dan warna jaringan terinfeksi. ID3 adalah perlakuan yang menunjukkan terbaik dari semua perlakuan yang diaplikasikan disebabkan diameter batang lebih dari 4 cm. Kata kunci: Fusarium sp., Gaharu, Gyrinophs verstegii
EFEK RAGAM TIANG PANJAT TERHADAP PRODUKSI CABE JAMU Eko Setiawan; Sinar Suryawati; Subhan -
Agrovigor Vol 6, No 1 (2013): MARET
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.145 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v6i1.1479

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis tiang panjat yang digunakan dalam budidaya serta hubungannya dengan produksi tanaman cabe jamu (Piper retrofraktum Vahl). Observasi dilaksanakan pada awal musim kemarau, Juni 2009 di sentra budidaya tanaman cabe jamu di Kabupaten Sumenep. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tiang panjat yang digunakan oleh petani cabe jamu di Kabupaten Sumenep terdiri dari 12 species tanaman yang berasal dari 8 famili. Dari persamaan regresi tanaman tiang panjat dengan menggunakan tiga variabel independen (X1: lingkar batang tiang panjat, X2: lingkar kanopi cabe jamu, dan X3: tinggi pohon tiang panjat), diketahui bahwa tinggi tanaman tiang panjat (X3) mempunyai peran yang lebih dominan bila dibandingkan dengan variabel independen lainnya. Juga dilaporkan bahwa tanaman tiang panjat jenis Kelor, Kelandingan dan Jaranan mempunyai konstanta positif.Kata kunci : Piper retrofraktum Vahl, Produksi, Tiang panjat
Kerontokan Bunga dan Polong Tiga Varietas Kedelai pada Pemberian Urin Sapi dan Kambing Fahri Ali; Sakhidin Sakhidin; Darjanto Darjanto
Agrovigor Vol 12, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.649 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v12i2.5455

Abstract

Permasalahan yang sering dijumpai pada tanaman kedelai adalah tingginya tingkat kerontokan bunga dan polong. Kerontokan bunga dan polong dapat disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya adalah tingginya kandungan etilen dan rendahnya kandungan auksin dan GA. Urin sapi banyak mengandung hormon auksin, sedangkan urin kambing banyak mengandung GA. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian urin terhadap kerontokan bunga dan polong beberapa varietas kedelai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL), terdiri dari 2 faktor, faktor pertama varietas kedelai : Panderman, Burangrang dan Anjasmoro. Faktor kedua pemberian urin : tanpa urin, urin sapi konsentrasi 30 ml/l; 60 ml/l, urin kambing konsentrasi 30 ml/l; 60 ml/l.  Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji F, jika nyata dilanjutkan dengan DMRT pada taraf 5% dan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian urin berpengaruh terhadap jumlah bunga rontok dan persentase bunga rontok. Persentase bunga rontok pada varietas Panderman dapat dikurangi dengan pemberian urin sapi maupun kambing, sedangkan pada varietas Burangrang dapat dikurangi hanya dengan pemberian urin sapi. Pada varietas Anjasmoro pemberian urin baik sapi maupun kambing tidak dapat mengurangi persentase bunga rontok. Penurunan persentase bunga rontok tertinggi pada varietas Panderman dan Burangrang diperoleh dengan pemberian urin sapi konsentrasi 30 ml/l yaitu masing-masing sebesar 7,90% dan 6,24%. Bobot biji per hektar pada varietas Panderman dapat meningkat hanya dengan pemberian urin sapi konsentrasi 30 ml/l. Pada varietas Burangrang dapat meningkat dengan pemberian urin sapi baik konsentrasi 30 atau 60 ml/l. Pada varietas Anjasmoro dapat meningkat dengan pemberian urin kambing baik konsentrasi 30 atau 60  ml/l.
Efektivitas Pemupukan Terhadap Produktivitas Tanaman Padi pasa Lahan Marginal di Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan Mohammad Shoimus Sholeh; Dewo Ringgih
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.722 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.3172

Abstract

Pengembangan usahatani dalam peningkatan produktivitas tanaman padi di lahan marginal kering salah satunya dengan percobaan kombinasi penggunaan dosis pupuk organik dan anorganik yang tepat. Permasalahan yang menjadi pokok utama adalah bagaimana kombinasi penggunaan pupuk organik dan anorganik di lahan marginal untuk menghasilkan produksi yang maksimal. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh penggunaan pupuk organik dan anorganik terhadap peningkatan produktivitas padi. Pupuk yang dikombinasikan dalam penelitian ini yaitu pupuk urea, NPK dan pupuk organik. Pengaruh perlakuan dianalisis menggunakan ANOVA dan perbedaan antar perlakuan diuji dengan Duncan Multi Range Test. Dari hasil penelitian penambahan pupuk organik efektif meningkatkan hasil tanaman, terlihat dari peningkatan dibandingkan kontrol (tanpa pemberian pupuk organik). Produktivitas tanaman padi terbesar yaitu dengan penggunaan pupuk Urea sebear 250 kg/ha + NPK 200 kg/ha + organik 6.000 kg/ha dengan hasil 5,72 ton/ha.Kata kunci:  lahan marginal, pemupukan, kelayakan ekonomi