cover
Contact Name
Dr. Achmad Amzeri, SP. MP.
Contact Email
-
Phone
+6285231168649
Journal Mail Official
agrovigor@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Department of Agroecotechnology, Faculty of Agriculture University of Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO BOX 2, Kamal - Bangkalan 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi
ISSN : 1979577     EISSN : 24770353     DOI : https://doi.org/10.21107/agrovigor
Core Subject : Agriculture,
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi is a scientific paper in the field of science Agroecotechnology which include: plant science, soil science, plant breeding, pest and plant diseases.
Articles 327 Documents
UPAYA PENGAKARAN Echinacea purpurea L DENGAN AUKSIN SECARA KULTUR JARINGAN Heru Sudrajat
Agrovigor Vol 6, No 1 (2013): MARET
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.172 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v6i1.1477

Abstract

Recently, to meet the needs of botanicals medicinal plants the cultivation directed, require good quality and uniform seeds on form and time.    Tissue culture research to from root of Echinacea purpurea L by the provision of IBA and NAA will be conducted.This recearched aimed to develop an and cultivate qualified Echinacea purpurea L as the raw material for drug foemulation. Tissue culture techniques has  more advantage because it is not affected by the climate, relatively fast production, free contamination of microbial and do not require large tracts of land. The research was carried out considering the need to be developed and cultivated plant Echinacea purpurea L qualified as raw material for the drug tissue culture techniques has advantages because it is not affected by the climate with relatively fast production time, free of microbial contamination and do not require large tracts of land. Shoots multipication done on MS medium using growth regulators GA3with concentration of 3 mg / l. Research foor rof induction on Echinacea purpurea L shoot made by adding growth regulators of IBA and NAA with concentrations with 0, 2, 4 and 6 mg / l respectively. The 2 months incubation periods produced tehe best root induction on the additon of IBA 4 mg / l. It producted 16 roots with a length of 4 cm and relatively lagre in size.Keywords: Echinacea purpurea L., tissue culture, IBA, NAA, plant growth regulators
Hubungan Karakteristik Morfofisiologi Tanaman Kersen (Muntingia calabura) Nurholis Nurholis; Ismail Saleh
Agrovigor Vol 12, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.321 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v12i2.5418

Abstract

Kersen (Muntingia calabura) merupakan salah satu tumbuhan liar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Tumbuhan ini dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat dengan memanfaatkan daun atau buahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik morfologi dan fisiologi daun, bunga, dan buah kersen. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel tanaman kersen di wilayah Cirebon dan Kuningan, Jawa Barat dengan ketinggian tempat yang berbeda. Lokasi pengambilan sampel tanaman kersen yaitu Pilang (4 mdpl), Bima (15 mdpl), Gronggong (135 mdpl), Cilimus (476 mdpl), dan Cigugur (960 mdpl).Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2015 – Maret 2016. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa daun kersen memiliki karakteristik berdaun tunggal dengan panjang dan lebar daun berturut-turut 10.67 cm dan 4 cm. Bunga kersen termasuk ke dalam bunga sempurna dengan mahkota berwarna putih dan kelopak berwarna hijau. Buah kersen berbentuk bulat dan ketika muda berwarna hijau dan merah ketika sudah matang. Bobot buah kersen yang sudah matang berkisar 1.71 g. Kadar vitamin C buah kersen berkisar 2.31 mg/g bobot basah dan tingkat kemanisan (padatan total terlarut) buah kersen yaitu 19.14 % Brix. Berdasarkan hasil analisis korelasi, luas daun berkorelasi positif dengan diameter ovari dan bobot buah. Bobot buah kersen berkorelasi negatif dengan tingkat kemanisan buah.
Pengaruh Jarak Tanam dan Jumlah Bibit terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Di Lahan Sawah Tadah Hujan Danuri .; Radian .; Nurjani .
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.206 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.3056

Abstract

Tujuan penelitian ini   mengetahui pengaruh jarak tanam, jumlah bibit perlubang tanam serta interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil padi di sawah tadah hujan. Penelitian dilaksanakan pada sawah tadah hujan di  Kelurahan Sungai Rasau Kecamatan Singkawang Utara Kota Singkawang. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 1 Desember 2015 sampai dengan bulan 30 April 2016. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAK Faktorial). Faktor jarak tanam dibagi dalam empat kelompok yaitu 15×15 cm, 20×20 cm, 25×25 cm dan 30×30 cm. Faktor jumlah bibit dibagi menjadi lima kelompok yaitu 5, 10, 15, 20 dan 25 batang perlubang tanam. Setiap faktor perlakuan dilaksanakan sebanyak tiga ulangan. Perlakuan jarak tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah batang, jumlah anakan produktif, dan bobot gabah per rumpun. Perlakuan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah batang.Kata Kunci : anakan produktif, bobot gabah, padi, Singkawang.
POTENSI POLYETHYLENE GLYCOL (PEG) SEBAGAI STIMULAN LATEKS PADA TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis Mull. Arg) Mochlisin Andriyanto; Muhamad Rizqi Darojat
Agrovigor Vol 9, No 1 (2016): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.71 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v9i1.1528

Abstract

Zat aktif yang umum digunakan dalam meningkatkan produksi pada tanaman karet (Hevea brasiliensis) adalah stimulan berbahan aktif 2-Chloroethylphosponic Acid atau etefon. Alternatif lain yang berpotensi digunakan untuk stimulan lateks adalah Polyethylene Glycol (PEG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Polyethylene Glycol terhadap produksi lateks dan sifat fisiologi pada tanaman karet. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan zat Polyethylene Glycol terbukti dapat meningkatkan produksi lateks jika dibandingkan dengan perlakuan etefon (kontrol). Perlakuan PEG selama 9 bulan memiliki rata-rata produksi sebesar 50,88 g/p/s dan kontrol (etefon) sebesar 34,36 g/p/s. Nilai tersebut menunjukkan bahwa perlakuan PEG dapat meningkatkan produksi (g/p/s) sebesar 16,52 atau 148,1% terhadap kontrol. Pola produksi lateks pada perlakuan stimulan PEG menurun dengan respon tertinggi terjadi pada irisan sadap ke-1 (57,35 g/p/s) dan  mengalami penurunan hingga irisan ke-5 (45,92 g/p/s). Nilai kadar karet kering (KKK) stimulan PEG memiliki nilai  lebih tinggi dibandingkan dengan nilai KKK stimulan etefon yaitu sebesar 30,26% dan 28,89%. Kondisi fisiologis tanaman menunjukkan kondisi yang aman pada perlakuan stimulan PEG dengan kadar sukrosa, thiol dan fosfat anorganik berada pada batas normal. Penggunaan stimulan PEG secara umum dapat meningkatkan produksi lateks dan tidak mengganggu kondisi kesehatan tanaman.Kata kunci: Hevea brasiliensis, Polyethylene glycol, Stimulan lateks, Produksi lateks
VALIDASI BAKTERI PELARUT FOSFAT INDIGENUS MADURA PADA RHIZOSFER Gita Pawana
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.974 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1444

Abstract

ABSTRACTOften generalized that the determination effectiveness of biological agents depends on environment. The purpose of this study is to obtain an explanation of the role of growth limiting factors, chemical or physical on the effectiveness Madura indigenous Pseudomonas aeruginosa as a phosphate solubilizing. The method used in achieving the goal of research is, perform in vitro studies on the type of carbon source (sugar) and the level of salinity as the growth limiting factors of bacteria on the effectiveness of phosphate dissolution and study the influence of the the rice rhizosphere type of phosphate available. Found that in vitro, the type of carbon source and salinity levels affect phosphate concentrations and abundance of bacterial cells. Increased levels of salinity decreases the abundance of bacterial cells. Average cell population fluorescent pseudomonads in fields rice rhizosphere is higher than the lowland rice rhizosphere, the cell population fluorescent pseudomonads higher level provide higher available phosphate and vegetative growth of rice better.Key words:  Phosphate solubilizing, limiting growth, carbon source, salinity, the rhizosphere Madura indigenous.
Pengaruh Umur Panen Terhadap Aktivitas Antioksidan dan Kualitas Buah Okra Merah (Abelmoschus esculentus (L.) Moench) Ah. Maftuh HAfidh Zuhdi; Sinar Suryawati; Achmad Djunaidi
Agrovigor Vol 11, No 2 (2018): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.825 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i2.5059

Abstract

Buah okra (Abelmoschus esculentus (L.) Moench) merupakan sayuran yang memiliki kandungan senyawa polifenol, karotenoid, flvonoid, dan vitamin yang dapat bertindak sebagai antioksidan. Kandungan senyawa antioksidan buah, salah satunya dipengaruhi oleh umur panen. Umur panen yang terlambat juga mempengaruhi tekstur buah sehingga akan menentukan layak tidaknya buah okra dikonsumsi sebagai sayur. Penelitian ini  bertujuan untuk  mengetahui pengaruh umur panen yang berbeda terhadap aktivitas antioksidan dan mengetahui umur panen buah okra terbaik untuk konsumsi sayur. Penelitian ini mengunakan rancangan acak lengkap dengan 8 perlakuan umur panen, yaitu P1 (panen 3 hari setelah bunga mekar), P2 (panen 4 hari setelah bunga mekar), P3 (panen 5 hari setelah bunga mekar), P4 (panen 6 hari setelah bunga mekar), P5 (panen 7 hari setelah bunga mekar), P6 (panen 8 hari setelah bunga mekar), P7 (panen 9 hari setelah bunga mekar), P8 (panen 10 hari setelah bunga mekar). Umur panen buah okra merah 6 hari setelah bunga mekar merupakan perlakuan terbaik untuk sayur dengan nilai aktivitas antioksidan total 87,05%, panjang buah 12,22 cm/buah, diameter buah 1,19 cm/buah, bobot basah buah 18,61 g/buah, bobot kering buah 1,17 g/buah, kadar air buah 90,87%/buah, warna buah (L 13,90; a 4,30; b 15,48), dan tekstur buah (kekerasan 362,25 g/buah; daya patah 438,93 g/buah;  kealotan 5,47).
PENGARUH PEMUPUKAN DAN WAKTU PEMANENAN TERHADAP PRODUKSI ANTOSIANIN DAUN DAN KUISERTIN UMBI TANAMAN DAUN DEWA (Gynura pseudochina (L.) DC)1 Mustika Tripatmasari Tripatmasari; Sandra Arifin Aziz; Munif Ghulamahdi
Agrovigor Vol 7, No 1 (2014): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.67 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i1.1428

Abstract

Daun dewa (Gynura pseudochina (L.) DC) merupakan tanaman obat yang mempunyai beberapa khasiat penting yaitu sebagai penurun panas, anti tumor atau kanker, dan obat kulit. Kandungan kimia daun dewa yaitu antosianin dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan: (1) menemukan kombinasi pemupukan dan waktu panen daun dewa yang tepat di lapang untuk menghasilkan senyawa antosianin daun dan kuersetin umbi tinggi; (2) menentukan produksi total senyawa antosianin daun dan kuersetin umbi daun dewa. Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah (split plot design), Petak utama adalah Pupuk (P) ditempatkan sebagai (tanpa pemupukan; pupuk kotoran sapi (20 ton/ha) + NPK (Urea=300kg/ha, SP36=100 kg/ha, KCl=50 kg/ha), pupuk kotoran sapi (20 ton/ha) + NPK (Urea=300kg/ha, SP36=100 kg/ha, KCl=50 kg/ha) + MgSO4 (50 kg/ha) dan anak petak adalah waktu panen (W) (4, 5.5, 7 bulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan nyata meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun, lebar daun dan luas daun hingga 8 (MST). Perlakuan pupuk kotoran sapi (20 ton/ha) dan waktu panen 4 bulan nyata meningkatkan bobot basah daun tertinggi (38,83 g) dan meningkatkan produksi total antosianin dauntertinggi (13,41 mg/ tanaman). Perlakuan pupuk kotoran sapi (20 ton /ha) + NPK (300kg/ha urea, 100 kg /ha SP36, 50 kg/ha KCl) nyata meningkatkan rata-rata produksi total quercetin umbi (59.74 mg/tanaman). Semua peubah menunjukkan pola linier negatif setelah umur 16 MSTKata kunci: Gynura pseudochina (L.) DC), pemupukan, waktu panen, antosianin daun, kuersetin umbi
Pemberian PGPR Indigen untuk Pertumbuhan Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) Varietas Lokal Tuban pada Media Tanam Bekas Tambang Kapur Hesti Kurniahu; Sriwulan Sriwulan; Riska Andriani
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.4305

Abstract

Kacang tanah (Arachys hypogaea L.) varietas lokal Tuban merupakan salah satu tanaman budidaya yang memiliki potensi ditanam pada lahan marginal bekas tambang kapur karena memiliki adaptasi yang tinggi pada kondisi kering dan alkali. Secara biologi, fisika dan kimia lahan bekas tambang kapur memiliki kesuburan tanah yang rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan kesuburannya adalah dengan menggunakan pupuk hayati yang adaptif  pada kondisi lahan bekas tambang kapur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi pemanfaatan PGPR dari tanaman pioneer yang tumbuh  di lahan bekas tambang kapur terhadap pertumbuhan vegetatif  kacang tanah (Arachys hypogaea L.) varietas lokal Tuban pada media tanam bekas tambang kapur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan (25%, 50%, 75% dan 100%) dan satu kontrol (0%) masing-masing lima kali ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan uji MANOVA pemberian berbagai konsentrasi PGPR tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tinggi dan jumlah daun tanaman.  Sementara berdasarkan uji statistik korelasi Spearman memiliki korelasi yang signifikan terhadap warna daun. Semakin tinggi konsentrasi PGPR yang diberikan menghasilkan warna daun yang semakin hijau berdasarkan skala Leaf Colour Chart (LCC).
PENGGUNAAN BIOST UNTUK MENGURANGI DOSIS PUPUK TUNGGAL NPK PADA TANAMAN KELAPA SAWIT UMUR DUA TAHUN Dimas Khairulya; Sudradjat -
Agrovigor Vol 9, No 1 (2016): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.468 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v9i1.1519

Abstract

Pupuk hayati merupakan bahan alternatif yang dapat meningkatkan kesuburan tanah sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tanggap fisiologi dan morfologi tanaman kelapa sawit belum menghasilkan terhadap Bio Organic Soil Treatment (BIOST). Penelitian dilakukan pada Mei 2014 sampai Mei 2015 di Kebun Pendidikan dan Penelitian Kelapa Sawit IPB-Cargill, Jonggol, Jawa Barat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak dengan tiga ulangan dantujuh taraf perlakuan yaitu dosis standar (B1), 250 g BIOST + dosis standar (B2), 500 g BIOST + dosis standar (B3), 750 g BIOST + dosis standar (B4), 250 g BIOST + 50% dosis standar (B5), 500 g BIOST + 50% dosis standar (B6), dan 750 g BIOST + 25% dosis standar (B7). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B5, B6, dan B7, dengan pengurangan dosis standar memberikan tanggap fisiologi dan morfologi yang relatif sama dengan perlakuan 100% dosis standar. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan 250 g BIOST pada tanaman kelapa sawit dapat mengurangi 50% dosis standar dan penggunaan 750 g BIOST dapat mengurangi penggunaan 75% dosis standar .Kata kunci: pupuk hayati, rekomendasi pemupukan, tanggap isiolog, tanggap morfologi.
Amino Acids Content in Mangosteen Fruit as Affected by Tree Ages Eko Setiawan
Agrovigor Vol 10, No 1 (2017): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.741 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i1.2788

Abstract

Kita meneliti perbedaan kandungan dan komposisi asam amino pada buah manggis yang dipanen dari pohon yang berbeda umur dari kebun Manggis di Bogor pada tahun 2012. Pohon manggis dengan umur yang berbeda (muda, sekitar 20 tahun; sedang, sekitar umur 35 tahun; dan tua, sekitar 50 tahun)dipilih untuk diambil buahnya. Buah dari tiap pohon dipanen pada kondisi masak hijau spot kuning-merah. Pada buah dari semua umur pohon, asam amino yang dominan adalah γ-aminobutyric acid dan alanine. Total kandungan asam amino tertinggi terdapat pada buah yang dipetik dari pohon umur muda dari pada  buah yang dipetik dari pohon umur sedang dan tuaKata kunci: asam amino, GABA, kandungan, manggis

Page 9 of 33 | Total Record : 327