cover
Contact Name
Dr. Achmad Amzeri, SP. MP.
Contact Email
-
Phone
+6285231168649
Journal Mail Official
agrovigor@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Department of Agroecotechnology, Faculty of Agriculture University of Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO BOX 2, Kamal - Bangkalan 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi
ISSN : 1979577     EISSN : 24770353     DOI : https://doi.org/10.21107/agrovigor
Core Subject : Agriculture,
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi is a scientific paper in the field of science Agroecotechnology which include: plant science, soil science, plant breeding, pest and plant diseases.
Articles 329 Documents
PENGARUH PANJANG ENTRES TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BUAH JARAK PAGAR HASIL PENYAMBUNGAN Lestari -
Agrovigor Vol 6, No 1 (2013): MARET
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.659 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v6i1.1482

Abstract

Penelitian dilakukan di KP. Muktiharjo, Pati mulai bulan Januari 2010 hingga Desember 2010. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok  dengan 8 perlakuan dan 3 ulangan.  Masing-masing  perlakuan terdiri dari 10 tanaman. Parameter pengamatan meliputi persentase jadi,  tinggi tanaman, lebar kanopi,  jumlah cabang, jumlah daun, jumlah tros, jumlah buah dan berat 100 biji. Hasil penelitian yang didapatkan  adalah persentase hidup,  jumlah cabang terbanyak dan berat 100 biji yang terbaik ada pada perlakuan kontrol/tanaman baru dengan biji yaitu IP3M dan sebaliknya yang terjelek adalah panjang entres IP3A dengan panjang entres 5 cm masing-masing 100%, 14.33 ,69.67 dan  78.67, 11.33, 69.00 Produksi buah dan berat biji per pohon terbanyak ada pada perlakuan  entres IP3M dengan panjang entres 15 cm  dan sebaliknya ada pada tanaman baru dari biji yaitu IP3M masing-masing 91,10 buah/pohon, 163,56 gram dan 20,70 buah/pohon, 42,20 gram.Kata kunci: panjang entres, jarak pagar, teknik penyambungan
Efektivitas Paenibacillus polymyxa dan Pseudomonas fluorescens dalam Pengendalian Penyakit Hawar Daun (Helminthosporium turcicum) pada Tanaman Jagung (Zea mays L.) Nurlaela Tuszahrohmi; Ugik Romadi; Irianti Kurniasari
Agrovigor Vol 12, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.442 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v12i2.5578

Abstract

Leaf blight caused by fungi Helminthosporium turcicum is an important disease in Indonesia because of the loss of up to 50%. The use of chemical fungicides continuously has a negative impact on humans and the environment. One of the save and environmentally friendly controls is biological control based on antagonistic microorganisms. This study aims to determine the effectiveness of the biological agents Paenibacillus polymyxa and Pseudomonas fluorescens in the controlling of leaf blight in maize. Randomized Block Design used in this research consist of five treatments and each treatment consist of five replications. The treatment consist of P0 is control, P1 is P.polymyxa 10ml L-1, P2 isP.fluorescens 10ml L-1, P3 is P.polymyxa dan P.fluorescens 10ml L-1, P4 is propineb fungicide 70%. The data were analyzed using analysis of variance, if there were significant followed by Duncan test at 5% level. The results showed that P.polymyxa effective reduce leaf blight in maize by 99,89%, besides that P. polymyxa was able to increase plant height and number of leaves significantly compared to controls.
PENGEMBANGAN TANAMAN TALAS BENTUL KOMODITAS UNGGULAN PADA LAHAN RAKYAT DI KECAMATAN PEGANTENAN KABUPATEN PAMEKASAN Zainol Arifin
Agrovigor 2015: Vol 8, No 2 (2015) SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.403 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v0i0.982

Abstract

Kebutuhan karbohidrat dari tahun ke tahun terus meningkat, penyediaan karbihidrat dan karbohidarat serelia saja tidak mencukupi, sehingga peranan tanaman penghasil karbohidratat yang memiliki peranan cukup strategis tidak hanya sebagai sumber bahan pangan.Oleh karena itu tanaman bentul menjadi sangat penting artinya didalam kaitan terhadap penyediaan bahan panga dari umbi-umbian khususnya bentul semakin penting. Tanaman bentul merupakan tanaman karbohidrat non beras, diversifikasi/ penganekaaragaman konsumsi pangan local/budaya local, substitusi gandum/terigu, pengembangan industry pengolahan hsil dan industry I serta komoditi strtegis sebagai pemasok devisa melaui ekspor.. Hasil analisa tanah yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur Tahun 2011 berdasarkan data usahatani ubijalar tahun 2010,Vareitas unggul didefinisikan sebagai varietas yang dapat berproduksi di atas rata-rata pada lingkungan spesifik.Benih bermutu sering dikaitkan dengan istilah benih bersertifikat atau benih bermutu. Sertifikat tersebut sebagai jaminan bahwa benih diperoleh dari proses yang standar, memiliki kemampuan tumbuh dengan tingkat keseragaman tinggi, dan terbebas dari penyakit tular benih (seed born diseases).Pemilihan varietas atau klon yang sesuai dengan karakteristik agroekologi lahan akan mengurangi biaya input seperti penggunaan kultivar ganjah, toleran penyakit tertentu. Perakitan vareitas atau klon yang memiliki kemampuan berproduksi tinggi pada lingkungan spesifik seperti tahan terhadap intensitas cahaya yang rendah, tahan kekeringan, tahan terhadap genangan air.Hasil survey tentang bibit yang dipakai dalam budidaya tanaman talas di Kecamatan Pegantenan menunjukkan mereka mengatakan 100% bibit yang dipakai menggunakan bibit turun temurun dari nenek moyang mereka. Bibit mereka menghasilkan produksi sedang yaitu 2 sampai 7 Kg per bibit. Akan tetapi bibit yang mereka tanam mempunyai kelemahan antara lain tidak tahan terhadap penyakit, tidak tahan terhadap kekeringan dan tidak tahan terhadap genangan air.Periode kritis terhadap air didefinisikan sebagai periode tanaman membutuhan air dalam jumlah yang cukup. Periode ini berbeda antara tanaman, akan tetapi umumnya hal tersebut terjadi pada masa awal pertumbuhan, fase perkembangan bunga dan fase pengisian umbi. Gangguan pada fase krisis air tersebut akan berpengaruh nyata pada produktivitas tanaman. Mempertimbangkan hal tersebut, terutama pada daerah yang ketersediaan air tidak mencukupi perlu dilakukan upaya konservasi air seperti pemberian mulsa untuk mengurangi evaporasi tanah disertai dengan upaya pemanenan air seperti embung dan daerah resapan.Berdasarkan hasil survey di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Pegantenan, Kecamatan Palengaan dan Kecamatan Proppo menunjukkan 100% mereka terkendala dalam menyediaan air untuk budidaya tanaman talas, di daerah penelitian termasuk lahan kering yang hanya mengandalkan tadah hujan. Masyarakat di daerah penelitian untuk manajemen pemberian air bagi tanaman talas mereka melakukan pengaturan tanam agar tanaman talas mereka dapat tumbuh dan menghasilkan yang maksimal, penanaman tanaman talas dilakukan pada akhir musim kemarau, disamping itu masyarakat melakukan efesiensi atau mengurangi proses evaporasi tanah dengan cara pemberian seresah daun di sekitar tanaman talas pada waktu fase awal pertumbuhan. Pada fase generative masyarakat tidak perlu lagi dalam penyediaan air bagi tanaman talas karena pada fase generative bertepatan pada musim hujan. Ketersediaan air bagi tanaman talas akan mempengaruhi kelangsungan budidaya talas secara berkelanjutan.Pemberian pupuk baik unsur hara makro maupun mikro didasarkan pada pertimbangan bahwa high yielding variety umumnya sangatresponsive terhadap pemupukan. Selain itu, pemanenan yang berulang-ulang akan menguras unsur-unsur hara yang berada dalam tanah terbawa oleh hasil panen.Manajemen pemupukan yang dilakukan masyarakat di daerah penelitian menunjukkan 99% menggunakan pupuk N (Urea) dan Pupuk kandang, dan sebesar 1% menggunakan pupuk N (Urea), TSP dan Pupuk kandang. Masyarakat daerah penelitian pupuk kandang di aplikasikan pada awal penanaman sedangkan pupuk N (Urea) dan TSP diaplikasikan pada waktu tanaman talas berumur tiga bulan.Pemberian pupuk pada tanaman talas masyarakat memberikan dua kali, berdasarkan survey masyarakat yang memberikan dua kali sebesar 98% dan 2%nya memberikan sebanyak tiga kali.Sedangkan jumlah pupuk yang diberikan tidak konsisten, jumlah pupuk yang diberikan berdasarkan sisa pupuk yang dipakai pada tanaman tembakau atau tanaman padi.Untuk pupuk kandang jumlah yang diberikan berdasarkan ketersediaan pupuk yang dipunya oleh masyarakat Organisme pengganggu tanaman dapat berupa hama, penyakit, dan gulma. Kehadiran hama, penyakit dan gulma dapat menurunkan produktifitas tanaman, oleh karenanya perlu langkah pengendalian.Seiring dengan adanya isu kelestarian linkungan, pengendalian OPT (Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman) perlu diusahakan dilakukan di bawah ambang ekonomi dan bukan bersifat pemusnahan karena hama, penyakit dan gulma merupakan unsur penyeimbang ekologis.Nilai R/C Ratio usahatani talas /usahatani/musim sebesar 2,28. Ini berarti setiap Rp 1,00 modal yang diinvestasikan untuk usatani talas akan memberikan penerimaan sebesar 2,28 sehingga dapat dijelaskan bahwa usahatani talas layak diusahakan. Menurut Dari hasil penelitian diperoleh R/C 1, Soekartawi (1995) apabila R/C ratio 1 maka usahatani tersebut layak diusahakan atau dengan kata lain usahatani talas menguntungkan bagi petani di Kec.Pegantenan Oleh karena itu keputusan yang diambil oleh petani tepat dan usahatani talas tetap diusahakan..Kata kunci: OPT talas bentul, kesuburan tanah dan pendapatan
Studi Distribusi Aktif dan Penularan Nematoda Entomopathogen Heterorhabditis spp Isolat Lokal dibawah Tanah Gita Pawana; Achmad Amzeri; Ahmad Djunaidy
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.4316

Abstract

Sehubungan dengan terbatasnya informasi dasar dari aktivitas nematoda entomopatogen (NEP) isolat lokal (Bangkalan Madura) sebagai entomopathogen bagi serangga tanah yang sebenernya merupakan inang dan habitat aslinya, selanjutnya tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa distribusi aktif Heterorhabditis spp isolat lokal pada kondisi tanah dengan struktur lepas terkait dengan keberadaan bahan organik dan mikrob, serta potensi penularannya. Pemdekatan metode yang digunakan adalah dengan meletakkan inang NEP pada berbagai kedalaman  dan jarak horizontal, serta menambahkan berbagai kandungan bahan organik dan mikrob pada media terdistribusi dan analisa mono siklus penyakit dan populasi inang. Selanjutnya mortalitas inang dianalisa 4 hari setelah suspensi NEP diberikan pada media. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa distribusi vertikal keatas atau kebawah juga horizontal dari Heterorhabditis spp isolat lokal dalam waktu 4 hari optimum sampai pada kedalaman 24 – 26 cm dari permukaan tanah. Kandungan bahan organik dan mikrob pendekomposer tanah tidak mempengaruhi kemampuan distribusi. Kedua isolat juga dapat bertindak sebagai sumber inokulum untuk penularan dalam populasi inangnya dengan jumlah invidu lebih dari 7 – 8  ekor, dengan periode letalnya 13 hari.
SUGAR CONTENT AS AFFECTED BY FRUITS SIZE AND SEED NUMBER OF SAPODILLA IN MADURA Eko Setiawan
Agrovigor Vol 9, No 2 (2016): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.05 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v9i2.2315

Abstract

Sapota fruits are highly perishable due to their climacteric nature. The rapid softening of fruits is primarily due to high activity of many oxidative enzymes and liberation of ethylene. Harvest maturity plays a crucial role in deciding the marketability of climacteric fruits in general. We investigate sugar contents on sapodilla fruits related on fruits size and seed number. The experiment was conducted using 100 sapodilla fruits harvested from farmer in Madura. Fruit size and weight were recorded. Each fruit was separated into fruit and seed, and then weight was recorded with an analytical balance. The number and weight of seeds were counted. Total soluble solid (TSS; °Brix) was measured using arefractometer (PAL-1, Atago, Tokyo Tech). The number of seed and seed weight of sapodilla have correlation with Total Soluble Solid (TSS). The higher amount of seed equal with increasing seed weight, and effect to decrease TSS in sapodilla fruits. In additional, increasing seed weight have correlation with fruit weight, while TSS was decrease slightly. The average diameter and length of sapodilla fruit were 4.01 and 5.53 cm, respectively.  Keywords: fruit size, Sapodilla, TSS content, seed number.
APLIKASI KOMBINASI KOMPOS JERAMI, KOMPOS AZOLLA DAN PUPUK HAYATI UNTUK MENINGKATKAN JUMLAH POPULASI BAKTERI PENAMBAT NITROGEN DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN PADI BERRBASIS IPAT-BO Ferina Rosiana; Tien Turmuktini; Yuyun Yuwariah; Mahfud Arifin; Tualar Simarmata
Agrovigor Vol 6, No 1 (2013): MARET
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.224 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v6i1.1461

Abstract

Penelitian untuk mengetahui efek pemberian kombinasi kompos jerami dengan Azolla dan pupuk hayati majemuk terhadap peningkatan populasi bakteri penambat N dan produktivitas tanaman padi dengan teknologi IPAT-BO dilaksanakan dari bulan April hingga Juli 2012 di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Jatinangor, dengan ketinggian + 740 m dpl. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktor tunggal dengan dua belas perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan terdiri dari (A) tanpa kompos jerami, (B) kompos jerami 2,5 ton ha-1, (C) kompos jerami 5 ton ha-1, (D) kompos Azolla 0,5 ton ha-1, (E) kompos jerami 2,5 ton ha-1 + kompos Azolla 0,5 ton ha-1, (F) kompos jerami 5 ton ha-1 + kompos Azolla 0,5 ton ha-1, (G) pupuk hayati 400 g ha-1, (H) kompos jerami 2,5 ton ha-1 + pupuk hayati 400 g ha-1, (I) kompos jerami 5 ton ha-1 + pupuk hayati 400 g ha-1, (J) kompos Azolla 0,5 ton ha-1 + pupuk hayati 400 g ha-1, (K) kompos jerami 2,5 ton ha-1 + kompos Azolla 0,5 ton ha-1 + pupuk hayati 400 g ha-1, (L) kompos jerami 5 ton ha-1 + kompos Azolla 0,5 ton ha-1 + pupuk hayati 400 g ha-1.Aplikasi perlakuan kompos jerami, kompos Azolla dan pupuk hayati majemuk memberikan pengaruh terhadap populasi penambat N (Azotobacter sp. dan Azospirilium sp.) dan produktifitas tanaman padi. Aplikasi kompos jerami 2,5 ton ha-1 dengan pupuk hayati 400 g ha-1 memberikan hasil GKP yaitu 64,39 g tanaman-1 (6,13 ton ha-1). Kata kunci: IPAT-BO, kompos Azolla, kompos jerami, pupuk hayati.
Uji Efektivitas Beauvaria bassiana dengan Perbandingan Waktu dan Dosis Aplikasi Pada Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella Snellen) di Perkebunan Kakao Yusnita Herawati; Soeharto .; Abdul Majid
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.2956

Abstract

Produksi kakao yang menurun dapat disebabkan oleh adanya serangan hama penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella). Upaya pencegah yang dapat dilakukan selain menggunakan pestisida ialah dengan memanfaatkan agen hayati Beauvaria bassiana. Aplikasi menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari faktor konsentrasi: Kontrol/perlakuan kebun (K0), Beauvaria bassiana 2 gram/10 L (K1), Beauvaria bassiana 4 gram/10 L (K2), dan Beauvaria bassiana 6 gram/10 L (K3). Faktor interval waktu: Kontrol/Perlakuan Kebun (T0), Penyemprotan interval 5 hari (T1), Penyemprotan interval 10 hari (T2), Penyemprotan interval 15 hari (T3) kemudian diulang sebanyak 3 kali ulangan dan diambil 5 buah sampel tiap pohon sehingga diperlukan 48 pohon percobaan. Berdasarkan hasil penelitian kombinasi perlakuan konsentrasi agens hayati Beauvaria bassiana mampu menurunkan presentase buah terserang penggerek buah kakao, intensitas serangan penggerek buah kakao serta menurunkan penyusutan berat biji akibat serangan penggerek buah kakao. Konsentrasi Beauvaria bassiana terbaik ialah sebanyak 6 gram/10 L air (K3).Kata Kunci: Kakao, Conopomorpha cramerella , Beauvaria bassiana
EFIKASI PESTISIDA ALAMI KALSIUM POLISULFIDA (SULFUR) TERHADAP TUNGAU (Polyphagotarsonemus latus L.) Subiyakto -; Nur Asbani; Dwi Adi Sunarto; Sujak -
Agrovigor Vol 9, No 1 (2016): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.081 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v9i1.1524

Abstract

Penelitian efikasi pestisida kalsium polisulfida terhadap tungau Polyphagotarsonemus latus dilaksanakan mulai Februari sampai dengan November 2012 di Laboratorium dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Malang. Metode percobaan mengikuti ketentuan Standar Pengujian Efikasi Insektisida yang telah ditetapkan oleh Direktorat Pupuk dan Pestisida. Perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Perlakuan yang dicoba (1) Kontrol (air), (2) Rotraz 200 EC (amitraz 200 g/l) sebagai pembanding 1 g/l air, (3) Kalsium polisulfida 1,25 ml/l air, (4) Kalsium polisulfida 2,5 ml/l air, (5) Kalsium polisulfida 5,0 ml/l air, dan (6) Kalsium polisulfida 7,5 ml/l air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pestisida alami kalsium polisulfida 1,25 ml/l air efektivitasnya tidak berbeda nyata dengan insektisida pembanding yang sudah dikomersialkan (Rotraz 200EC). Formula kalsium polisulfida berpotensi diusulkan untuk mendapatkan HKI (Paten), namun harus dilengkapi uji mutu dan uji efikasi lapangan.Kata kunci: Efikasi, kalsium polisulfida, tungau Polyphagotarsonemus latus.
PENGHAMBATAN JUMLAH ANAKAN TERPANGKAS SAGU (Metroxylon sago Rottb) DENGAN MENGGUNAKAN MULSA DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN ANAKAN TERPELIHARA Eko Sulistyono; M.H. Bintoro Djefrie; Rachmat Sumitro
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.052 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1434

Abstract

dilakukan untuk menjawab apakah pemberian mulsa dapat menghambat pertumbuhan jumlah anakan sagu (Metroxylon sago Rottb).  Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan enam ulangan. Perlakuan adalah tanpa mulsa, pemulsaan dengan tebal 30 cm, dan pemulsaan dengan tebal 60 cm.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mulsa mempengaruhi jumlah anakan, jumlah daun anakan terpangkas, tinggi anakan terpangkas, tetapi tidak mempengaruhi jumlah daun dan ukuran daun anakan terpelihara.  Pemberian mulsa dengan tebal 60 cm menurunkan jumlah anakan sebesar 73.7% dibandingkan dengan control (tanpa pemberian mulsa) pada dua minggu setelah pemberian mulsa.  Pemberian mulsa dengan tebal 60 cm juga menurunkan jumlah daun anakan terpangkas sebesar 51%, 28% dan 19% masing-masing pada dua, empat dan enam minggu setelah pemberian mulsa.  Penelitian menyimpulkan bahwa pemberian mulsa dengan tebal 60 cm dapat menghambat jumlah anakan terpangkas dari tanaman sagu
RESPON TANAMAN KEDELAI SAYUR EDAMAME TERHADAP PERBEDAAN JENIS PUPUK DAN UKURAN JARAK TANAM Anisa Fajrin; Sinar Sinar Suryawati2 Sinar Suryawati; Sucipto -
Agrovigor 2015: Vol 8, No 2 (2015) SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.989 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v0i0.987

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tanaman kedelai sayur edamame terhadap jenis pupuk dan ukuran jarak tanam serta kombinasi keduanya. Penelitian dilaksanakan bulan Desember 2012–Maret 2013 pada awal musim hujan di Desa Daleman, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep dengan jenis tanah latosol. Bahan yang digunakan adalah benih kedelai sayur edamame, pupuk kompos, pupuk petroganik, pupuk NPK phonska dan pestisida sedangkan alat yang digunakan adalah cangkul, meteran, timbangan dan peralatan lain yang mendukung penelitian. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun secara faktorial dan diulang 3 kali. Faktor pertama adalah jenis pupuk : kompos 1 ton/ha (P1), petroganik 1 ton/ha (P2), NPK Ponska 0,25 ton/ha (P3) dan faktor kedua adalah jarak tanam 12 x 25 cm (J1), 12 x 35 cm (J2), 15 x 25 cm (J3), 15 x 35 cm (J4). Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, data yang diperoleh dianalisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak Duncan pada taraf 1% jika ada pengaruh perlakuan. Kombinasi perlakuan jenis pupuk dan jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan. Jenis pupuk berpengaruh sangat nyata terhadap semua parameter pengamatan kecuali bobot dan jumlah polong hampa. Pupuk NPK phonska memberikan nilai rata-rata parameter pengamatan tertinggi yang berbeda sangat nyata dibandingkan kompos dan petroganik. Ukuran jarak tanam tidak berpengaruh terhadap semua parameter pengamatan kecuali terhadap bobot polong per hektar. Jarak tanam 12 x 25 cm2 menghasilkan bobot polong per hektar tertinggi yang berbeda sangat nyata dengan ukuran jarak tanam yang lain.Kata kunci: kedelai sayur edamame, jenis pupuk, jarak tanam.

Page 10 of 33 | Total Record : 329