cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 394 Documents
PENGEMBANGAN LAMPU BAWAH AIR SEBAGAI ALAT BANTU PADA BAGAN TANCAP DI DESA TAMBAK LEKOK KECAMATAN LEKOK PASURUAN F Fuad; S Sukandar; Alfan Jauhari
Jurnal Kelautan Vol 9, No 1: April (2016)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v9i1.1007

Abstract

DEVELOPMENT OF UNDER WATER LAMP AS A TOOL TO LIFT NET IN TAMBAK LEKOK VILLAGE PASURUANBagan is one type of fishing gear that uses light to collect fish. The lights are expected to stimulate the fish to come and stay around the light and than arrested with net. The use of light for fishing is growing rapidly, almost all fishing gear to use light as a tool for collecting fish. Application of this technology aims to increase fish catch fishermen in District Lekok through the application of technology underwater lamp with LED. Underwater lamp applied to the bagan tancap with a certain intensity and color to find the intensity of light and color that give the best catches. Best catches in the light of 450 lux is capable of delivering the highest total catch of 254 kg, it is supported by the values of illumination of 1.5 lux at a distance of 5 m. Types of fish that were caught on as much as 23 step chart types where the type of Stolephorus spp, Selaroides spp, Leiognathus spp, Loligo sp, Rastrelliger spp is a type of fish that always caught each fishing operation. Keywords: auxilary, development, lamp, Lekok, lift net  ABSTRAK Bagan merupakan salah satu jenis alat tangkap yang menggunakan lampu sebagai alat bantu pengunpul ikan. Cahaya lampu diharapkan dapat merangsang ikan untuk datang dan berkumpul disekitar sumber cahaya sampai pada suatu catchable area tertentu, lalu penangkapan dilakukan dengan alat jaring maupun pancing. Penggunaan lampu untuk penangkapan ikan saat ini berkembang pesat, hampir semua alat tangkap menggunakan lampu sebagai alat bantu pengumpul ikan. Aplikasi teknologi ini bertujuan untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan nelayan bagan tancap di Kecamatan Lekok melalui penerapan teknologi lampu celup bawah air berbasis lampu LED. Lampu celup bawah air diterapkan pada bagan tancap dengan intensitas dan warna tertentu untuk mencari intensitas cahaya dan warna yang memberikan hasil tangkapan yang terbaik. Hasil tangkapan ikan yang terbanyak adalah pada lampu 450 lux yang mampu memberikan total tangkapan terbanyak 254 kg, hal ini didukung dengan nilai nilai illuminasi sebesar 1,5 lux pada jarak 5 m. Jenis ikan yang tertangkap pada bagan tancap sebanyak 23 jenis dimana jenis ikan teri (Stolephorus spp), ikan selar (Selaroides spp), ikan pepetek (Leiognathus spp ), cumi – cumi (Loligo sp), ikan kembung (Rastrelliger spp) merupakan jenis ikan yang selalu tertangkap disetiap operasi penangkapan.  Kata kunci: alat bantu, bagan tancap, lampu, Lekok, pengembangan
SEBARAN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DI PERAIRAN SEPANJANG JEMBATAN SURAMADU KABUPATEN BANGKALAN Kurratul Ainy; Aries Dwi Siswanto; Wahyu Andy Nugraha
Jurnal Kelautan Vol 4, No 2: Oktober (2011)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v4i2.880

Abstract

Pembangunan Jembatan Suramadu di sepanjang Selat Madura diduga menyebabkan adanya perubahan pola arus di sepanjang tiang pancang Jembatan Suramadu. Perubahan pola arus ini diperkirakan akan menyebabkan parameter kualitas perairan di sepanjang Jembatan Suramadu akan berbeda. Salah satu parameter kualitas perairan yang didugaberubah adalahTotal Suspended Solid (TSS). Total Suspended Solid (TSS) merupakan zat padat (pasir, lumpur, dan tanah liat) atau partikel tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikelanorganik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi dan penyebaran Total Suspended Solid (TSS) di sepanjangJembatan Suramadu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pengambilan contoh air dan pengambilan sedimen serta pengukuran parameter kualitas perairan pada 5 stasiun di sepanjang jembatan Suramadu sebagai data pendukung. Contoh air dianalisa menggunakan SK SNI 06-6989.3-2004. Hasil penelitian menunjukkan Konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) di sepanjang tiang pancang jembatan Suramadu bervariasi tiap minggunya dengan karakteristik parameter oseanografi yang berbeda. Kata Kunci : Total Suspended Solid, Jembatan Suramadu, Distribusi Sedimen. 
APPLICATION OF REMOTE SENSING IN MANGROVE STUDIES : A LITERATURE REVIEW Zainul Hidayah
Jurnal Kelautan Vol 3, No 1: April (2010)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v3i1.842

Abstract

In order to assess the extent of the decline of mangrove ecosystems, extensive mapping and monitoring programs are needed. To monitor the change in large-scale coverage of mangrove areas over certain periods of time, remote sensing technology offers many advantages compared to conventional field monitoring. The main benefit of using remote sensing is related to its speed and continuity in collecting space images of a broad area of the Earth’s surface. With the specific application on mangrove studies, remote sensing enables spatial and spectral information to be collected from the mangrove forests environment mostly located in inaccessible areas, where ground measurements become difficult and expensive. This review of the literature emphasizes the application of remote sensing in change detection and mapping of mangrove ecosystems. Key words : mangroves, remote sensing, mapping, field monitoring, continuity 
MIKROALGA: SUMBER ENERGI TERBARUKAN MASA DEPAN Sarman Oktovianus Gultom
Jurnal Kelautan Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v11i1.3802

Abstract

Penemuan sumber bahan bakar terbarukan sangat penting untuk menjawab permasalahan keterbatasan energi bahan bakar berbasis fosil dalam memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat. Selain itu, penggunaan bahan bakar terbarukan diharapkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan yang selama ini bersumber dari emisi gas CO2 hasil pembakaran bahan bakar fosil. Salah satu sumber bahan bakar alternatif terbarukan masa depan adalah mikroalga. Pengembangan mikroalga sebagai sumber energi terbarukan terus dilakukan karena memiliki keuntungan dibandingkan sumber energi lainnya, seperti laju produksi biomassa yang tinggi, tidak berkompetisi dengan bahan pangan, serta tidak membutuhkan lahan yang luas untuk pertumbuhannya. Technical review ini diarahkan untuk memberikan informasi tentang pengembangan dan pemanfaatan mikroalga sebagai sumber energi akternatif terbarukan, termasuk teknologi panen dan korvesi mikroalga menjadi bahan bakar.MICROALGAE: FUTURE RENEWABLE ENERGY SOURCES ABSTRACTThe discovery of renewable fuel sources is critical to address the problem of limited fossil fuel energy in meeting the increasing energy demand. In addition, the use of renewable fuels is expected to reduce environmental pollution that has been sourced from CO2 emissions of fossil fuel combustion. One of the future renewable alternative fuel sources is the microalgae. Development of microalgae as a renewable energy source continues to be done because it has advantages over other energy sources, such as high biomass production rates, not competing with foodstuffs, and does not require extensive land for growth. This Thechnilcal review is directed to provide information on the development and utilization of microalgae as a renewable alternative energy source, including harvesting technologies and microalgae convertion into fuel.Keywords: microalgae, biodiesel, cultivation, energy
STRATEGI KONSERVASI PULAU KECIL MELALUI PENGELOLAAN PERIKANAN BERKELANJUTAN (STUDI KASUS PULAU GILI LABAK, SUMENEP) Agus Romadhon
Jurnal Kelautan Vol 7, No 2: Oktober (2014)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v7i2.801

Abstract

Pulau Gili Labak merupakan pulau kecil yang berada di Kabupaten Sumenep, Madura. Kerentanan yang dimiliki sebagai pulau kecil, menjadikan Pulau Gili Labak perlu dijaga pemanfaatannya sekaligus dikonservasi. Perikanan tangkap sebagai pemanfaatan utama di Pulau Gili Labak memerlukan pengelolaan melalui penetapan strategi pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Berangkat dari hal tersebut penelitian ini dilakukan dengan tujuan: 1) mengetahui kondisi perikanan di Pulau Gili Labak; 2) merumuskan strategi pengelolaan perikanan berkelanjutan di Pulau Gili Labak. Analisa yang digunakan: 1) SWOT sebagai analisa kondisi perikanan dan 2) AHP untuk menentukan prioritas strategi pengelolaan perikanan berkelanjutan. Hasil penelitian : 1) Upaya pengembangan perikanan berkelanjutan sebagai upaya konservasi di Pulau Gili Labak dicirikan oleh kondisi faktor internal (kekuatan dan peluang) memiliki bobot lebih besar dibandingkan faktor eksternal (kelemahan dan ancaman); 2) Prioritas strategi konservasi Pulau Gili Labak melalui pengembangan perikanan berkelanjutan secara berurutan dilakukan melalui: menambah prasarana pelabuhan, ekowisata pancing, perbaikan ekosistem perairan dengan melibatkan masyarakat, diversifikasi usaha perikanan dan meningkatkan kualitas hasil tangkapan.Kata Kunci: AHP, perikanan berkelanjutan, Pulau Gili Labak, strategi konservasi, SWOTSMALL ISLAND CONSERVATION STRATEGY THROUGH SUSTAINABLE FISHERIES MANAGEMENT (CASE STUDY AT GILI LABAK ISLAND, SUMENEP)ABSTRACTGili Labak Island is a small island located in Sumenep Regency, Madura. Its susceptibility as a small island makes Gili Labak Island needs to be maintained and conserved. Fisheries as the main utilization in Gili Labak Island need management through determining strategy of sustainable fisheries management. Starting from that point, this research was conducted with the aims: 1) to know the fishery condition in Gili Labak Island; 2) to formulate strategy of sustainable fisheries management in Gili Labak Island. The analysisthat had been used was: 1) SWOT as the analysis of fisheries condition and 2) AHP to determine the priority of sustainable fisheries management strategy. The result of the research: 1) The development effort of sustainable fisheries as conservation means at Gili Labak Island which was characterized by the condition of internal factor (strength and opportunity) had bigger weight compared to external factor (weakness and threat); 2) The priority of conservation strategy in Gili Labak Island through the development of sustainable fisheries relatively was conducted by: adding the harbor infrastructure; fishing ecotourism; repair of aquatic ecosystem by involving society, diversification of fisheries effort and improving the quality of the caught fish. Keywords: AHP, conservation strategy, Gili Labak Island, sustainable fisheries, SWOT
KONDISI HIDRO-OSEANOGRAFI PERAIRAN PULAU BINTAN (STUDI KASUS PERAIRAN TELUK SASAH) Sudra Irawan
Jurnal Kelautan Vol 10, No 1 (2017)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v10i1.2145

Abstract

Pada perairan Teluk Sasah, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan rencananya akan dibangun pelabuhan oleh pemerintah, termasuk pengembangan sektor kepariwisataan. Dalam perencanaan pembangunan tersebut membutuhkan kajian tentang kondisi topografi pesisir disekitar lokasi, tinggi gelombang, pasang surut, pola arus, dan batimetri (kedalaman). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh topografi pesisir wilayah Teluk Sasah relatif datar dengan ketinggian rata-rata 4-5 meter diatas permukaan laut. Pada peta topografi terebut terlihat terdapat detil-detil yang diambil seperi ada tumbukan pasir memiliki dengan ketinggian 6 sampai 7 meter diatas pemukaan laut. Ada juga detil topografi berupa rawa yang memiliki ketinggian 3 sampai 4 meter dari permukaan laut. Gelombang tinggi terjadi pada bulan Nopember sampai Januari sekitar 1,9 meter dan gelombang rendah sekitar bulan Mei sampai Agustus sekitar 1,6 meter. Gelombang tertinggi terjadi pada bulan Desember mencapai 3,3 meter. Pasang surut perairan di lokasi kegiatan yaitu mixed tide prevailing semidiurnal). Arus laut umumnya dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Arus laut arus bergerak dari barat laut menuju ke arah tenggara dengan kecepatan sekitar 0,02 m/s sampai 0,32 m/s atau 2 cm/s sampai 32 cm/s. Kedalaman bervariasi dari 2 meter sampai 19 meter dengan ketinggian air pada saat pemeruman sekitar 2,9 meter dari pengamatan pasang surut. Bentuk dasar laut, semakin jauh dari garis pantai maka akan semakin dalam hingga mencapai kedalaman 19 meter, dilihat dari garis kontur batimetri perubahan kedalaman cukup signifikan.Kata Kunci: Pulau Bintan, topografi, gelombang, pasang surut, pola arus, batimetri.HYDRO-OCEANOGRAPHY CONDITION OF BINTAN ISLAND WATERS (CASE STUDY OF SASAH STRAIT WATERS)In the planning of port development requires the study of hydro-oceanographic conditions such as wave, tidal, current patterns, bathymetry and topography. Based on the results obtained by coastal topography is relatively flat Sasah Gulf region with an average height of 4-5 meters above sea level. Terebut visible on topographic maps are details that are taken are like no sandbank has a height of 6 to 7 meters above sea level. Terrain beaches also swamp which has a height of 3 to 4 meters above sea level. High waves occur from November to January was 1.9 meters high and low wave around May to August of about 1.6 meters. The highest wave occurred in December reached 3.3 meters. Character tide of the study sites prevailing type of mixed semidiurnal tide). Ocean currents are generally influenced by the tide. Ocean currents flow moving from the northwest toward the southeast at a speed of about 0.02 m / s to 0.32 m / s or 2 cm / s to 32 cm / s. Varies in depth from 2 meters to 19 meters with a height of water at pemeruman approximately 2.9 meters of tide observations. The basic shape of the ocean, the farther away from the coastline it will be deepened until it reaches a depth of 19 meters, seen from bathymetric contour line depth changes significantly. Keyword: Bintan Island, topography, wave, tidal, current patterns, bathymetry.
PROSENTASE PENUTUPAN KARANG DI PULAU KANGEAN-SUMENEP I Insafitri
Jurnal Kelautan Vol 3, No 2: Oktober (2010)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v3i2.920

Abstract

Terumbu karang merupakan habitat bagi spesies laut yang mernpunyai nilai komersial tinggi dan juga berfungsi untuk melakukan pemijahan, peneturan, pembesaran anak, makan dan mencari makan (Peding foraging). Sehingga terumbu karang sebagai gudang keanekaragaman hayati laut. Saat ini, peran terumbu karang sebagai gudang keanekaragaman hayati menjadikannya sebagai sumber penting bagi berbagai bahan bioaktif yang diperiukan di bidang medis dan farmasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prosentase penutupan karang di lokasi penelitian yang nantinya merupakan informasi awal dalam menentukan kondisi terumbu karang di Kepulauan Kangean Sumenep. Penelitian ini dilakukan pada tanggal Agustus 2010 di Pulau Kangean — Sumenep. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prosentase penutupan terumbu karang di pulau Kangean termasuk dalam kondisi buruk.Kata Kunci : terumbu karang, pulau kangean sumenep, prosentase peneutupanCORAL COVER IN THE KANGEAN ISLAND SUMENEPCoral reefs are habitat for marine species that have high commercial value and also serves as spawning, hatching, breeding, feeding and foraging (Peding foraging). So the coral reefs as marine biodiversity warehouse. Currently, the role of coral reefs as a house of biodiversity making it an important resource for a variety of bioactive materials that needed in the medical and pharmaceutical field. the purpose of this study was to determine the percentage of coral cover in the study site which will constitute the initial information in determining the condition of coral reefs in Kangean Islands, Sumenep. This research was conducted on August 2010 in Kangean Island - Sumenep. The results showed that the percentage of the coral cover in the Kangean Island including in adverse conditions.Keywords: Coral reefs, Kangean Island Sumenep, Coral cover
PENGARUH SEKS RASIO TERHADAP TINGKAT KEBERHASILAN PEMIJAHAN PADA KAWIN SILANG Haliotis asinina DENGAN Haliotis squamata Rio Ary Sudarmawan; Sitti Hilyana; Nunik Cokrowati
Jurnal Kelautan Vol 6, No 1: April (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v6i1.833

Abstract

Haliotis asininna dan Haliotis squamata merupakan jenis abalon yang banyak dijumpai dan dikembangkan di Indonesia. Kendala yang sering dihadapi yaitu  menentukan jumlah induk yang berujung pada rendahnya produksi benih. Upaya peningkatan kualitas benih terus dilakukan salah satunya dengan kawin silang dengan perbandingan jumlah induk yang sesuai. Tujuan penelitian adalah mengetahui jumlah induk betina abalon yang dibutuhkan untuk menghasilkan larva yang optimal, serta mengetahui perbedaan tingkat keberhasilan persilangan dua jenis induk. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap  dua faktor. Faktor pertama, jumlah induk betina (1:2, 1:3 dan 1:4). Faktor kedua, persilangan dengan dua aras yaitu H. asinina jantan dengan H. squamata betina dan H. asinina betina dengan H. squamta jantan. Hasil penelitian menunjukkan rasio jumlah induk tidak berpengaruh nyata terhadap keberhasilan pemijahan. Namun faktor persilangan memberikan pengaruh  nyata (p0,05) terhadap jumlah telur, tingkat pembuahan dan tingkat penetasan. Persilangan dengan induk betina H. squamata menghasilkan tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingakan dengan induk betina H. asinina. Kata kunci: H. asinina, H. squamata, jumlah induk, kawin silang
METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN KAPAL IKAN 30 GT Bambang Antoko
Jurnal Kelautan Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v11i1.2780

Abstract

Mata pencaharian wilayah pesisir masyarakat Indonesia sebagai besar nelayan, memerlukan kapal dan peralatan penangkap ikan yang cukup memadai. Untuk itu perlu dilakukan pengembangan teknologi metode pelaksanaan pembangunan pada kapal penangkap ikan yang murah, terukur dan modern. Sehingga dikembangkan kapal penangkap ikan dengan kapasitas 30 GT dengan bahan fiberglass yang dapat dikembangkan dalam proses fabrikasi dengan teknik fabrikasi yang terencana. Dalam proses pembangunan bahan fiberglass memiliki kemudahan dalam proses pembentukan lambung dan proses penyambungan bagian-bagian kapal penangkap ikan yang akan dikembangkan tersebut. Metode yang digunakan dalam kegiatan pembangunan kapal akan mengacu kepada system dan prosedur tata laksana pembangunan fisik kapal fiberglass, sesuai dengan struktur konstruksi maupun laminate schedule fibreglass yang dikerjakan secara seksama sehingga glass content mencapai kisaran 30-35%, sesuai dengan standard marine.ABSTRACTThe livelihoods of the coastal areas of the Indonesian people as large fishermen need adequate fishing vessels and fishing equipment. For this reason, it is necessary to develop technology for the implementation of development methods on cheap, measurable and modern fishing vessels. So that a fishing vessel with a capacity of 30 GT was developed with fiberglass material that could be developed in the fabrication process with planned fabrication techniques. In the process of building fiberglass material has the ease of the process of forming the hull and the process of connecting parts of the fishing vessel to be developed. The method used in ship building activities will refer to the system and procedures for the physical construction of fiberglass boats, in accordance with the structure of the construction and fiberglass laminate schedule which is done carefully so that glass content reaches the range of 30-35%, in accordance with marine standards.Keywords: development, fiberglass ship, marine standard
ANALISIS AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN MANGROVE Avicennia marina DARI KABUPATEN TRENGGALEK DAN KABUPATEN PASURUAN TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus DAN Vibrio alginolyticus Ridha Handriany Danada; Ade Yamindago
Jurnal Kelautan Vol 7, No 1: April (2014)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v7i1.792

Abstract

Avicennia marina mampu beradaptasi pada habitat pasang-surut dan memiliki toleransi salinitas bervariasi. Bentuk adaptasi tersebut berpotensi mempengaruhi komposisi senyawa metabolit sekunder A. marina. Penelitian ini bertujuan mengetahui komposisi senyawa bioaktif yang terdapat pada ekstrak daun A. marina dari Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pasuruan dan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak A. marina dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Vibrio alginolyticus. Hasil uji fitokimia menunjukkan kandungan alkaloid, flavonoid, dan saponin pada ekstrak A. marina dari kedua lokasi. Namun, kandungan senyawa Terpenoid dan Tanin hanya ditemukan pada stasiun dengan kondisi tertentu. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak daun A. marina dari Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pasuruan terhadap S. aureus menunjukkan hasil rata-rata diameter zona bening sebesar 4,43 – 5,79 mm dan terhadap V. alginolyticus sebesar 4,25 – 5,48 mm. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak daun mangrove A. marina mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan V. alginolyticus. Perbedaan habitat tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan daya hambat, tetapi pada komposisi senyawa bioaktif.Kata Kunci: aktivitas antibakteri, senyawa metabolit sekunder, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten  Pasuruan, Avicennia marinaANTIBACTERIAL ACTIVITY ANALYSIS OF LEAF EXTRACT FROM DISTRICT MANGROVE Avicennia marina PASURUAN TRENGGALEK AND ON THE GROWTH AND Staphylococcus aureus, Vibrio alginolyticusABSTRACTAvicennia marina capable of adapting to the habitat in tidal and have varying salinity tolerance. Adaptation has the potential to affect the composition of secondary metabolites, A. marina. This study aims to determine the composition of bioactive compounds contained in extracts of leaves of A. marina of Trenggalek and Pasuruan and determine the antibacterial activity of the extracts of A. marina in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus and Vibrio alginolyticus. The test results showed phytochemical content of alkaloids, flavonoids and saponins in the extracts of A. marina from both locations. However, the compound Terpenoid and Tannins are found only in stations with certain conditions. The test results of antibacterial activity of the extracts of leaves of A. marina Trenggalek and Pasuruan against S. aureus showed an average yield of clear zone diameter of 4.43 to 5.79 mm and against V. alginolyticus of 4.25 to 5.48 mm. This indicates that A. marina mangrove leaf extract can inhibit the growth of bacteria S. aureus and V. alginolyticus. Differences habitat does not have a significant impact on the ability of inhibition, but the composition of bioactive compounds.Keywords: antibacterial activity, Avicennia marina, Pasuruan, secondary metabolites, Trenggalek