cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 394 Documents
ANALISA KANDUNGAN GIZI DAN SENYAWA BIOAKTIF KEONG BAKAU (Telescopium (elescopium) DI PERAIRAN SEPULU DAN SOCAH KABUPATEN BANGKALAN Kirno Marjuki; H Hafiludin; Haryo Triajie
Jurnal Kelautan Vol 5, No 1: April (2012)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v5i1.939

Abstract

Keong Bakau (Telescoplum telescopium), merupakan salah satu jenis gastropoda yang ditemukan dalam jumlah melimpah pada daerah bakau dan tambak. Biota ini memiliki nilai ekonomis dan banyak dikonsumsi difadikan lauk pauk serta memiliki khasiat sebagai obat asma. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kandungan proksimat Telescopium telescopium di perairan Sepulu dan Socah, serta senyawa bioaktif Telescopium telescoplum. Hasil analisa proksimat pada perairan Sepulu memiliki protein sebesar 12,43 %; lemak 4,12 %; kadar air 77,08 %; kadar abu 2,77 % dan karbohidrat 3,60 %. Hasil analisa proksimat di perairan Socah didapatkan protein sebesar 12,26 %; lemak 4,60 %; kadar air 77,66 % dan kadar abu 2,50 %; serta karbohidrat 2,98 %. Ekstrak kasar dengan pelarut metanol pada perairan Sepulu dan Socah yang dikomposit, didapatkan rendemen sebesar 0,27 %. Hasil uji senyawa bloaktif ekstrak kasar daging Telescopium telescopium adalah alkaloid, steroid, flavonold, gula pereduksi, dan ninhidrin. Sedangkan untuk senyawa fenol hidrokuinon, karbohidrat, peptide, saponin, dan tannin tidak terdeteksi.Kata kunci : telescopium telescopium, analisa proksimat, senyawa bioaktif
ANALISIS FATIGUE PADA STRUKTUR KAPAL PENANGKAP IKAN 30 GT - Budianto
Jurnal Kelautan Vol 9, No 2: Oktober (2016)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v9i2.1590

Abstract

Masyarakat Indonesia yang mata pencaharian sebagai nelayan, memerlukan kapal dan peralatan penangkap ikan yang cukup memadai.  Untuk itu perlu dilakukan pengembangan teknologi pada kapal penangkap ikan yang murah, kuat dan modern. Sehingga dikembangkan kapal penangkap ikan dengan kapsitas 30 GT dengan bahan fiberglass. Yang mana bahan fiberglass memiliki kemudahan dalam proses pembentukan lambung dan proses penyambungan bagian-bagian kapal penangkap ikan yang akan dikembangkan tersebut. Pada saat ini kapal fiberglass yang telah banyak dibuat atau dikembangkan di Indonesia memiliki banyak kekurangan, diantaranya kebocoran disambungan dan  mudah pecah akibat besarnya ombak yang menimpa. Akibat yang ditimbulkan oleh beban-beban yang bekerja tersebut, akan membentuk sebuah bending moment yang  harus mampu diterima oleh struktur kapal penangkap ikan 30 GT tersebut. Dimana modulus struktur kapal penangkap ikan 30 GT tersebut yang akan dirancang, harus memiliki tegangan yang terjadi mampu menahan akibat bending moment dan tidak boleh melebihi dari batas tegangan yang diijinkan. Selanjutnya didapatkan umur kelelahan kapal FRP tersebut, dihitung dari principle stress dari MEH untuk mendapatkan nilai SCF dan diplotkan kedalam kurva S-N. Maka didapatkan umur kekuatan kapal lebih dari 10 tahun. Hal ini dilihat dari hasil damage ratio juga menghasilkan nilai yang cukup baik. STRUCTURE ANALYSIS OF FATIGUE IN 30 GT FISHING VESSEL Indonesian society living as fishermen, need adequate fishing vessels and equipment. It is necessary for the development of the technology on board fishing vessels that are cheap, powerful and modern. Thus developed fishing vessels with capacities of 30 GT with fiberglass. Fiberglass material which has facilities in the process of forming the hull and the process of joining the parts of fishing vessels be developed. At this time of fiberglass boats that have been produced or developed in Indonesia has many deficiencies, including leakage in the join and easily broken due to the high waves. Consequences caused by the burdens of the work, will form a bending moment to be able to be accepted by the structure of the 30 GT fishing vessel. Where modulus structure of the 30 GT fishing vessel will be designed, it should able to withstand tension due to bending moment and shall not exceed the limit allowable tension. Subsequently obtained the fatigue life of the FRP vessels, calculated on the principle stress of MEH to get the value of SCF and plotted into the S-N curve. So we found the age of the ship strength more than 10 years. It is seen from the results of the damage ratio also produces a fairly good value.Keywords: Loading, Strength, Stress, Fatigue
KAJIAN UJI HAYATI AIR LIMBAH HASIL INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT DR. RAMELAN SURABAYA Candra Putra Prakoso; Agus Romadhon; Apri Arisandi
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.899

Abstract

Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui kualitas air limbah hasil pengolahan dan mengkaji respon ikan uji yang digunakan sebagai parameter pengolahan buangan air limbah dengan berbagai konsentrasi yang berbeda. Analisa kualitas air saat percobaan dilakukan pada awal dan akhir percobaan. Parameter kualitas air yang diukur adalah suhu, pH, oksigen terlarut (DO). Metode analisa data dilakukan dengan metode deskriptif dan korelasi statistik. Dari hasil perhitungan statistik dapat disimpulkan bahwa Kualitas air hasil IPAL dari sifat fisika menunjukkan masih dalam taraf dapat ditoleransi, sedangkan untuk sifat kimia khususnya NH3- melebihi baku mutu yang ditetapkan (0,1 mg/L). Batas toleransi spesies uji terhadap konsentrasi air hasil IPAL yang diujikan menunjukkan bahwa konsentrasi 50%  merupakan batas tertinggi yang dapat ditolerir oleh spesies uji. Diatas konsentrasi 50% (75% sampai 100%), spesies uji sudah tidak mampu untuk mentolerir keberadaan unsur yang terkandung dalam air hasil IPAL, utamanya NH3. Kata Kunci : Air limbah, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Uji Hayati
EFEKTIVITAS DAN EFEK TOKSIK EKSTRAK STEROID TERIPANG DAN 17α METILTESTOSTERON PADA MANIPULASI KELAMIN UDANG GALAH Apri Arisandi
Jurnal Kelautan Vol 5, No 2: Oktober (2012)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v5i2.865

Abstract

Testosteron selain dapat dimanfaatkan sebagai obat, juga dimanfaatkan untuk sex reversal pada udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man).  Hormon yang umum dipakai untuk sex reversal jantan adalah 17α metiltestosteron, merupakan hormon sintetis.  Bioassay pada ayam, diketahui bahwa hormon sintetis memberikan efek samping toksik pada hati, limpa dan bursa fabricius.  Agar tidak memberikan efek toksik, salah satu cara dengan menggunakan sumber hormon testosteron alami dari teripang.  Pemberian hormon menggunakan metode dipping, lima perlakuan dan tiga ulangan.  Dosis ekstrak steroid teripang 1, 2 dan 3mg/l, serta 17α metiltestosteron 2mg/l dapat menghasilkan populasi jantan lebih tinggi dari kontrol negatif (tanpa hormon), yaitu 44,15%, 49,65%, 49,72% dan 50,45%.   Kata kunci: ekstrak steroid teripang, 17α metiltestosteron, udang galah
EVALUASI ARAHAN PEMANFAATAN LAHAN TAMBAK DI KABUPATEN SAMPANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Firman Farid Muhsoni
Jurnal Kelautan Vol 6, No 1: April (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v6i1.828

Abstract

Pemanfaatan lahan sering tidak mengindahkan pemeliharaan keamanan tata air, pencegahan banjir dan erosi dan keawetan kesuburan tanah.Tujuan penelitian untuk mengevaluasi arahan pemanfaatan lahan tambak yang sudah ada di Kabupaten Sampang apakah sesuai dengan arahan pemanfaatan lahan yang sesuai.Metode yang digunakan dengan pemodelan spasial menggunakan model indeks. Dasar yang dipergunakan adalah  Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 837/Kpts/Um/11/1980 dan Kepres  nomor 32 tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Hasilnya menunjukkan bahwa daerah yang arahan pemanfaatan untuk kawasan budidaya tanaman semusim dan permukiman dimanfaatkan sebagai tambak seluas 5.1119 ha (4,19%). Wilayah yang seharusnya sebagai sempadan sungai/pantai tapi dimanfaatkan untuk tambak mencapai 577,8 ha.  Kata kunci : Arahan Pemanfaatan lahan, SIG, Tambak
KAJIAN PENGELOLAAN PESISIR DAN LAUT LINTAS NEGARA (REVIEW: PERBANDINGAN TELUK PERSIA DAN INDONESIA) Asep Pranajaya; Maulinna Kusumo Wardhani
Jurnal Kelautan Vol 5, No 1: April (2012)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v5i1.929

Abstract

Kawasan perbatasan suatu negara mempunyai peranan penting dalam penentuan batas wilayah kedaulatan, pemanfaatan sumberdaya alam, serta keamanan dan keutuhan wilayah. Selain itu juga merupakan komitmen dunia terhadap pengelolaan alut yang berkelanjutan. Oleh karena itu, beragamnya kerfasama antar negara ditujukan untuk mencapai pengelolaan pesisir yang berkelanjutan dan program pencegahan polusi lingkungan. Skema pengelolaan di kawasan teluk seperti di Teluk Persia dilakukan dengan menggabungkannya ke dalam legislasi nasional seperti Daerah Perlindungan Laut (DPL) melalui program ROPME. Hal ini merupakan bagian dari program pengelolaan pesisir terpadu yang efektif dan dapat membawa perubahan signifikan di daerah Teluk Persia. Di Indonesia juga terdapat program-program pengelolaan sumberdaya alam lintas negara, antara lain melalui Konferensi Kelautan Dunia WOC (World Ocean Conference) dan Coral Triangle Initiative (CTI). Pertemuan merupakan inisiatif Indonesia dalam rangka penanggulangan perubahan iklim dan penyelamatan terumbu karang yang memiliki nilai strategis di wilayah zona ekonomi eksklusif dan segitiga terumbu karang enam negara.Kata kunci: pengelolaan, WOC, CTI, lintas negara
STUDI KONDISI HIDROLOGIS SEBAGAI LOKASI PENEMPATAN TERUMBU BUATAN DI PERAIRAN TANJUNG BENOA BALI Abd. Rahman As-Syakur; Dwi Budi Wiyanto
Jurnal Kelautan Vol 9, No 1: April (2016)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v9i1.1293

Abstract

STUDY OF HIDROLOGICAL CONDITION FOR ARTIFICIAL REEF LOCATION  IN TANJUNG BENOA BALIOne of the tourism which was demanded by the tourists are underwater activity, namely scuba diving and seawalker, where the main target underwater tourism activities is the beauty of the underwater in the form of coral and reef fish. The purpose of this study is to determine the hydrological condition of artificial reefs in Tanjung Benoa, Bali. The method used in determining the location is a purposive sampling method. Sampling was carried out in three (3) stations and taken randomly in the study site (Tanjung Benoa). Measurement of hydrological conditions include the temperature, salinity, water clarity, current, depth, turbidity, TSS, DO, Nitrate, Phosphate. Hydrological conditions measurements carried out in situ (direct) and in laboratory. Data was analyzed by descriptive qualitative by comparing the quality of water based on the Ministry of the Environment Decree No. 51 of 2004 on Sea Water Quality Standard. Based on the results of hydrological conditions measurements, conditions of environmental parameters are still within the tolerance limit for the growth of marine biota. The basic conditions of the waters is not suitable for the placement of artificial reefs, this is because the substrate is muddy sand, where the basic conditions of these waters will submerge artificial reef into the sand.Keywords: artificial reef, hidrological condition, Tanjung BenoaABSTRAKSalah satu wisata yang sangat diminati oleh para wisatawan adalah wisata bawah air, yaitu scuba diving dan seawalker, dimana dalam kegiatan wisata bawah air yang menjadi target utama yaitu keindahan bawah air berupa terumbu karang dan ikan karang. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi hidrologis terumbu karang buatan di Tanjung Benoa-Bali. Metode yang digunakan dalam penentuan lokasi sampling adalah metode sampling pertimbangan, yaitu metode pengambilan lokasi dan sampel didasarkan atas adanya tujuan tertentu dengan berbagai pertimbangan. Pengambilan sampel dilakukan di 3 (tiga) stasiun yang diambil secara acak di lokasi penelitian (Tanjung Benoa). Pengukuran kondisi hidrologis meliputi suhu, salinitas, kecerahan, kecepatan arus, kedalaman, kekeruhan, TSS, DO, Nitrat, Fosfat. Pengukuran kondisi hidrologis dilakukan secara insitu (langsung) dan pengujian skala laboratorium. Data di analisis secara diskriptif kualitatif dengan membandingkan kualitas air berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Laut. Berdasarkan hasil pengukuran kondisi hidrologis, kondisi parameter lingkungan masih dalam batas toleransi untuk pertumbuhan biota laut. Kondisi dasar perairan sangat tidak cocok untuk penempatan terumbu karang buatan (artificial reef), hal ini dikarenakan substrat dasar perairan yaitu pasir berlumpur, dimana kondisi dasar perairan tersebut akan menenggelamkan terumbu karang buatan (artificial reef) kedalam pasir. Kata Kunci: kondisi hidrologis, terumbu buatan, Tanjung Benoa
KANDUNGAN PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR KULIT PISANG KEPOK (Musa paradisiaca) YANG DIFERMENTASI DENGAN Trichoderma viride SEBAGAI BAHAN PAKAN ALTERNATIF PADA FORMULASI PAKAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) A Agustono; Winda Herviana; Tri Nurhajati
Jurnal Kelautan Vol 4, No 1: April (2011)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v4i1.890

Abstract

Cost for feed is about to 60-70% of fishery production costs, but the current feed price is higher as well, so need feed manipulation such as fermentation and feed ingredients substitution that are usually derived from wastes such as kepok banana peels. Fermentation with Trichoderma viride used 4 treatments and 5 replications for 7 days. Inoculum doses were P0 (0%), P1 (3%), P2 (5%) and P3 (5%). Result of this study showed statistically differences (p0.05) for crude protein contents and the best treatment was P2 (5%) and not statistically differences (p0.05) for crude fibre contents. Fermented banana peels with 5% inoculum dose could be used for feed ingredients substitution as isoenergy to replaced rice flour, corn flour and starch in feed formulation for common carp fish (Cyprinus carpio) that includes as likeable cultured fish and one of omnivore fish that tolerable for high amount artificial feed. Keywords: Waste. Kepok banana peels. Trichoderma viride. Substitution. Feed formula for common carp fish.
PENENTUAN KAWASAN LAHAN KRITIS HUTAN MANGROVE DI PESISIR KECAMATAN MODUNG MEMANFAATKAN TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN PENGINDERAAN JAUH Yoga Ibnu Graha; Zainul Hidayah; Wahyu Andy Nugraha
Jurnal Kelautan Vol 2, No 2: Oktober (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i2.855

Abstract

Fenomena konversi hutan mangrove dijadikan sebagai kawasan pertambakan dan pemukiman banyak dijumpai di kawasan pesisir Kecamatan Modung. Sayangnya, eksploitasi sumberdaya pesisir yang dilakukan selama ini, telah mengidentifikasikan fenomena kerusakan yang tidak hanya mengancam kemampuan ekosistem pesisir dalam menyediakan sumberdaya alam, tapi juga telah mereduksi kemampuannya dalam mencegah  bencana alam di wilayah pesisir. Untuk mengembalikan dan melestarikan funsi-fungsi ekosistem pesisir, maka perlu adaya upaya mengkuantifikasi nilai- nilai dari sumberdaya utama pesisir yang ada melalui Studi Penentuan Lahan Kritis Hutan Mangrove di Pesisir Kecamatan Modung Memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode penelitian menggunakan metode skoring serta analisis data. Untuk menilai Kekritisan Lahan digunakan 3 metode yaitu dengan menggunakan SIG dan Inderaja, Pengukuran langsung dilapang (terestris) dan secara sosial ekonomi. Total Nilai Skoring (TNS) tingkat kekritisan lahan mangrove di pesisir Kecamatan Modung melalui SIG dan Inderaja menunjukkan bahwa diseluruh Desa penelitian masuk kedalam kategori rusak. Sedangkan Total Nilai Skoring secara terestris (survey lapang) menunjukkan bahwa Desa yang termasuk dalam kategori rusak yaitu : Desa Karang Anyar, Suwaan, Langpanggang dan Desa Pangpajung.  Untuk kategori rusak berat terdapat di Desa Modung serta yang termasuk kategori tidak rusak yaitu Desa Patengteng.Total Nilai Skoring dari hasil wawancara terhadap responden menyatakan bahwa Desa Karang Anyar, Modung, Suwaan, Patengteng dan Desa Pangpajung termasuk dalam kategori dimana faktor sosial ekonomi berpengaruh terhadap kerusakan hutan mangrove. Sedangkan Desa Langpanggang termasuk dalam kategori faktor sosial ekonomi kurang berpengaruh terhadap kerusakan hutan mangrove. Kata kunci : Lahan kritis, mangrove, SIG dan Indraja
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA MARTAJASAH KABUPATEN BANGKALAN S Supriadi; Agus Romadhon; Akhmad Farid
Jurnal Kelautan Vol 8, No 1: April (2015)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v8i1.812

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Mengetahui kontribusi tiap jenis mangrove terhadap ekologi kawasan pesisir Desa Martajasah serta mengetahui struktur komunitas mangrove di Desa Martajasah Kabupaten Bangkalan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Indeks Nilai Penting (INP) dengan rumus INP = RDi + RFi + RCi, Indeks keanekaragaman, Indeks Keseragaman, Indeks dominansi Simpson. Bruguiera gymnorrhiza adalah jenis yang dominan dibandingkan jenis mangrove lainnya di ekosistem mangrove Desa Martajasah. Bruguiera gymnorrhiza adalah jenis yang memiliki INP tertinggi (INP=1,245). Hasil penilaian terhadap keanekaragaman (Diversity) mangrove di Desa Martajasah memiliki tingkat keanekaragam rendah serta mengalami tekanan ekologi yang tinggi (H’ ≤ 2,0). Keanekaragaman stasiun 1 yaitu 0,506, stasiun 2 yaitu 0,936 dan stasiun 3 yaitu 0,859. Mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza memiliki peran (dominansi) dan struktur vegetasi mangrove tertinggi (INP=1,245) dibandingkan jenis mangrove lainnya yang ada di Desa Martajasah. Ekosistem mangrove di Desa Martajasah, berada dalam kondisi ekologi tertekan. Kata Kunci: ekologi mangrove, konstribusi mangrove, struktur komunitasTHE STRUCTURE OF MANGROVE COMMUNITY IN MARTAJASAH VILLAGE, BANGKALAN REGENCYABSTRACTThis research aimed to know the contribution of each mangrove for the ecology of coastal area of Martajasah Village, as we want to know the mangrove community structure in Martajasah Village, Bangkalan Regency. The method that is used in this research was Important Value Index (IVI), with IVI formula = RDi + RFi + RCi, Diversity Index, Uniformity Index, Simpson’s Dominance Index. Bruguiera gymnorrhiza is the dominant kind compared to other mangrove types in mangrove ecosystem of Martajasah Village. Bruguiera gymnorrhiza is the kind that had the highest IVI (IVI=1.245). The assessment result toward mangrove diversity in Martajasah Village was low after experiencing high ecology depression (H’ ≤ 2.0). The station 1 diversity was 0.506, whilethe station 2 was 0.936 and station 3 was 0.859. Bruguiera gymnorrhiza type mangrove played role (dominance) and highest mangrove vegetation structure (IVI=1.245) compared to other kinds of mangrove in Martajasah Village. The ecosystem of mangrove in Martajasah Village was in the condition of depressed ecology.Keywords: community structure, mangrove contribution, mangrove ecology