cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 394 Documents
MODEL DINAMIK TINGKAT KERENTANAN PANTAI PULAU POTERAN DAN GILI LAWAK KABUPATEN SUMENEP MADURA Maulinna Kusumo Wardhani; Akhmad Farid
Jurnal Kelautan Vol 10, No 1 (2017)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v10i1.2427

Abstract

Pulau Poteran dan Pulau Gili Lawak Kabupaten Sumenep merupakan pulau-pulau kecil yang berada di sebelah barat Pulau Madura dengan kawasan darat dan perairan yang cukup potensial. Tujuan dari penelitian ini adalah pembuatan model dinamik kerentanan pantai pulau-pulau kecil tersebut berdasarkan aspek ekologi, sosial dan ekonomi sebagai upaya awal menetukan perencanaan pengelolaan yang berkelanjutan dan memetakannya. Analisis yang akan dilakukan pada penelitian ini merupakan penetapan variabel-variabel indeks kerentanan pantai pulau-pulau kecil (PPK) dan memodelkan dinamika kerentanan pantai pulau-pulau tersebut. Variabel-variabel tersebut meliputi, (1) Keterpaparan (Exposure), (2) Kepekaan (Sensitivity) dan (3) Daya Adaptasi (Adaptive Capacity). Pengembangan model simulasi dinamis ini bertujuan untuk mempelajari tingkat kerentanan pantai di Pulau Poteran dan Gili Lawak Kecamatan Talango Kabupaten Sumenep didasarkan pada beberapa asumsi, yaitu: (1) model tersebut berada dalam kondisi tetap atau stabil (steady state), (2) model tersebut dianggap suatu sistem yang tertutup (closed system). Parameter kenaikan muka laut rata-rata tiap tahun, tingkat erosi dan kepadatan penduduk merupakan parameter dinamik yang menyebabkan nilai kerentanan tinggi di Pulau Poteran, sedangkan parameter lamun mengakibatkan dimensi daya adaptif diPulau Gili Lawak menjadi lebih tinggi dari dimensi yang lain.Tingkat kerentanan pantai Pulau Poteran dan Gili Lawak berada pada kategori sedang dan berdasarkan model dinamik yang dibuat kedua pulau tersebut akan berada pada tingkat kerentanan sangat tinggi pada tahun ke 3 jika tidak dilakukan peningkatan kapasitas adaptif habitat pesisir. Kata Kunci: Model Dinamik, Kerentanan, Pulau KecilDYNAMICS MODEL OF COASTAL VULNERABILITY OF POTERAN AND GILI LAWAK ISLAND, SUMENEP, MADURAPoteran and Gili Lawak Island Sumenep Regency is a small islands that located in the west of Madura with potential terrestrial and marine areas. The purpose of this research is the dynamic modeling of coastal vulnerability of small islands are based on ecological, social and economic as an initial effort determine the sustainable management planning and mapping. The analysis will be performed in this study is the determination of variables coastal vulnerability index for small islands and the dynamics models of the vulnerability for coastal islands. These variables include, (1) Exposure, (2) Sensitivity and (3) Adaptive Capacity. The development model of dynamic simulation was done to evaluate the beach vulnerability on the Poteran and Gili Lawak Island at Talango District Sumenep based on several assumptions, they are (1) the model was in a state of permanent or stable (steady state), (2) the model considered a closed system. Mean sea level rise per year, erosion rate and population density are dynamic parameters that causes high of vulnerability value in Pulau Poteran, while the sea-grass parameter on Gili Lawak Island causes the value of adaptive capasity demention is higher than other dimensions.The level of beach vulnerability of Poteran and Gili Lawak Island at middle category and was based on a dynamic model created two islands will be at a very high level of vulnerability in the third yearif not increase the adaptive capacity of coastal habitats. Keywords: Dynamic Model, Beach Vulnerability, Small Island
DETEKSI KEBERADAAN EKOSISTEM PADANG LAMUN DAN TERUMBU KARANG MENGGUNAKAN ALGORITMA LYZENGA SERTA KEMAMPUAN MENYIMPAN KARBON DI PULAU KUDINGARENGLOMPO Eggy Arya Giofandi; Yuliana Safitri; Ahkmad Eduardi
Jurnal Kelautan Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.224 KB) | DOI: 10.21107/jk.v12i2.5803

Abstract

ABSTRACTThe growth of built up land and the dense human activity drive cause the greater production of CO2 on earth, thus impacting on decreasing air quality and the greenhouse effect. This is also marked by the reduction in forest vegetation which causes limited carbon sequestration, aquatic ecosystems have the ability to absorb carbon more than the absorption on land about 55% of carbon in the atmosphere and used for photosynthesis. Blue carbon is the largest carbon storage around the coastline marked by the presence of mangroves, seagrass beds, and coral reefs. The purpose of this study is to monitor the existence of seagrass and coral reef ecosystems using Sentinel-2A imagery through the transformation of lyzenga algorithm in detecting and knowing the ability to store carbon on Kudingarenglompo island. The results of the calculation found that the more dominant area in the form of seagrass (122ha) then the area of coral reefs reached (77ha) rubbel (27ha) and sand (18ha) and the potential for blue carbon storage depends on the density and extent of seagrass distribution. The level of Sentinel-2A image accuracy test in detecting the distribution of seagrass ecosystems and coral reefs produces a value of 87.60%, the accuracy value indicates that the Sentinel-2A image is able to be used in monitoring seagrass and coral reef ecosystems or shallow water substrates.Keyword: seagrass beds, blue carbon, lyzenga, sentinel-2A.ABSTRAKPertumbuhan lahan terbangun serta padatnya aktivitas manusia berkendara menyebabkan semakin besarnya produksi CO2 dibumi, sehingga berdampak pada penurunan kualitas udara dan efek rumah kaca. Hal ini juga ditandai dengan berkurangnya vegetasi hutan yang menyebabkan terbatasnya penyerapan karbon, ekosistem perairan memiliki kemampuan penyerapan karbonnya lebih tinggi dari penyerapan yang ada di darat sekitar 55% karbon yang ada di atmosfer dan digunakan untuk proses fotosintesis. Blue karbon merupakan penyimpan karbon terbesar yang berada disekitar pesisir pantai ditandai dengan adanya keberadaan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Tujuan penelitian ini ialah memantau keberadaan ekosistem padang lamun dan terumbu karang menggunakan citra Sentinel-2A melalui transformasi algoritma lyzenga dalam mendeteksi dan mengetahui kemampuan menyimpan karbon pada pulau Kudingarenglompo. Hasil perhitungan ditemukan luasan yang lebih dominan berupa padang lamun (122ha) kemudian luasan terumbu karang mencapai (77ha) rubbel (27ha) dan pasir (18ha) serta potensi penyimpanan blue karbon tergantung kerapatan dan luas persebaran padang lamun. Tingkat uji akurasi citra Sentinel-2A dalam mendeteksi persebaran ekosistem padang lamun dan terumbu karang menghasilkan nilai sebesar 87,60%, nilai akurasi tersebut menunjukkan bahwa citra Sentinel-2A mampu digunakan dalam memantau ekosistem padang lamun dan terumbu karang atau substrat perairan dangkal. Kata Kunci: padang lamun, blue karbon, lyzenga, sentinel-2A.
OPTIMASI KARAGINAN RUMPUT LAUT ASAL MADURA MELALUI PERIODE PENCAHAYAAN BERBEDA Haryo Triajie
Jurnal Kelautan Vol 3, No 2: Oktober (2010)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1842.027 KB) | DOI: 10.21107/jk.v3i2.919

Abstract

Agar dapat hidup dan tumbuh dengan balk, rumput taut syarat-syarat lingkungan tertentu. Semakin sesuai kondisi lingkungan perairan dengan areal yang akan dibudidayakan akan semakin baik pertumbuhannya dan juga hasil yang diperoleh Rumput taut umumnya dibudidayakan dan dapat tumbuh dengan baik di daerah pasang surut atau di daerah yang selalu terendam air (subtidal) sampai batas ke dalaman 200 meter dimana intensitas cahaya masih dapat tembus. Salah satu faktor yang dapat berpengaruh pada peningkatan senyawa bioaktif yang terkandung dalam suatu tanaman adalah cahaya. Secara fisiologis, cahaya mempunyai pengaruh baik langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh periode pencahayaan terhadap kandungan karaganen yang dilakukan di perairan taut desa Jumiang kabupaten Pamekasan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama adalah periode pencahayaan (P) (Po = Lama pencahayaan 30 hari (kontrol); RI Kedalaman I m selama 7 hari + lama pencahayaan 23 had; P2 = Kedalaman I m selama 14 hari + lama pencahayaan 16 hari; P3 = Kedalaman I m selama 30 hari (sampai panen) dan faktor kedua adalah spesies (S) rumput laut (E. Cottoni  Maumere dan E. Cottoni Lokal). Rancangan penelitian dari perlakuan terdapat 8 kombinasi yang diulang 3 kali. Adapun hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa periode pencahayaan berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput taut (E. cottoni Maumere maupun Lokal dan kandungan karaginan, dimana kandungan karaginan tertinggi terdapat pada spesies E cottonit Lokal sebesar 2,64 g atau sebesar 53,2 % dari bobot sampel rumput taut kering 5 g pada perlakuan 14 hari di dasar dan 16 hari mendapat cahaya (permukaan) dibanding spesies E. cottoni Maumere hanya sebesar 36%.Keyword: E. cottoni, karaginan, cahaya
Karakteristik Geokimia Phosphor Sedimen Permukaan Perairan Mangunharjo (Semarang) Dan Marunda (Jakarta) Noor Syafaat Damardjati; Lilik Maslukah; Sri Yulina Wulandari
Jurnal Kelautan Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.502 KB) | DOI: 10.21107/jk.v12i2.6062

Abstract

ABSTRACTThe waters of Mangunharjo, Semarang and Marunda, Jakarta are located in the area of industrial and dense population. There is the activity of industrial, household, urban waste and agricultural in the land or along the river upstream can potentially as a source of pollutants and impacting the aquatic environment. Pollutants get into the water together with a suspension of sediment through river water flow and precipitation in the coastal environment. The study aims to determine the geochemical characteristics of sedimentary phosphor from two different locations. Determination of the phosphate fraction of sediment, using sequential determination extraction (SEDEX). The results showed that the concentration of the inorganic phosphorus sediment fraction has a similar relative distribution of Mangunharjo and Marunda waters i.e. Fe-P Ca-P Ads-P. The concentration of Ads-P, Ca-P, and Fe-P in Mangunharjo water is between 0.20-0.26 μmol g-1, 2.77-3.60 μmol g-1, and 4.60-5.74 μmol g-1 and Marunda water is between 0.28-0.61 μmol g-1, 2.91-4.13 μmol g-1, and 0.92-2.83 μmol g-1, respectively. The grain size of sediments and current patterns affect the distribution of phosphorus fraction.Keywords: Phosphorus fraction, surface sediments, Mangunharjo, MarundaABSTRAKPerairan Mangunharjo, Semarang dan Marunda, Jakarta berada didaerah kawasan industri dan padat penduduk. Terdapatnya aktivitas industri, rumah tangga, limbah perkotaan dan pertanian di daratan ataupun di sepanjang hulu sungai dapat berpotensi sebagai sumber pencemar dan berdampak bagi lingkungan perairan. Bahan pencemar masuk ke perairan bersama-sama muatan sedimen tersuspensi melalui aliran air sungai dan  mengalami pengendapan di lingkungan pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik geokimia sedimen phosphor dari dua lokasi yang berbeda. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling. Penentuan fraksi phosphat sedimen, menggunakan ekstraksi bertingkat (SEDEX). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi dari fraksi inorganic phosphor sedimen memiliki distribusi relatif yang serupa antara Perairan Mangunharjo dan Marunda yaitu Fe-P Ca-P Ads-P. Konsentrasi Ads-P, Ca-P, dan Fe-P di Perairan Mangunharjo  adalah antara 0.20 - 0.26 μmol g-1, 2.77 - 3.60 μmol g-1, dan 4.60 - 5.74 μmol g-1 dan Perairan Marunda adalah antara 0.28 - 0.61 μmol g-1, 2.91 - 4.13 μmol g-1, dan 0.92 - 2.83 μmol g-1, secara berurutan. Ukuran butir sedimen dan pola arus mempengaruhi konsentrasi fraksi fosfat pada kedua perairan tersebut.Kata Kunci : Fraksi phosphor, Sedimen permukaan, Mangunharjo, Marunda
NUMERICAL MODELING OF LONG SHORE TRANSPORT RATE IN COASTAL STRUCTURE PLANNING Koko Ondara; Hadhrat Khalil
Jurnal Kelautan Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.73 KB) | DOI: 10.21107/jk.v12i2.5309

Abstract

Demak Regency is one of the regencies in the coastal region north of Central Java, which has a abrasion. The coastal area of Surodadi, Sayung Subdistrict, Demak Regency is one of the areas that experienced severe abrasion. The purpose of this study is to analyze the coastal dynamics that occur and design appropriate conservation and rehabilitation systems to reduce the impact of abrasion and coastal protection. This study uses primary data carried out at 2016. The analyzes carried out were wind, wave, tidal analysis, shoreline changes and analysis of recommendation structures. The protection scenorio plan uses two alternative structures namely breakwater and seawall. Analysis using a breakwater indicates that the results of sedimentation due to the structure are unsatisfactory. After 10 years, the breakwater produces ± 100 m sedimentation from the initial coastline. The modeling results show that the seawall can prevent further abrasion in the study site even if it does not cause sedimentation (except on the coastline that juts into the mainland).
KAJIAN KECEPATAN KAPAL PURSE SEINER TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN PROBOLINGGO Ali Muntaha; S Soemarno; Sahri Muhammad; Slamet Wahyudi
Jurnal Kelautan Vol 6, No 1: April (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.458 KB) | DOI: 10.21107/jk.v6i1.830

Abstract

Salah satu faktor penentu keberhasilan operasi purse seine adalah kecepatan kapal yang dapat mengimbangi kecepatan renang ikan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecepatan kapal purse seine terhadap hasil tangkapan yang maksimal. Penelitian menggunakan metode eksperimen, uji kecepatan kapal dilakukan diperairan Probolinggo. Data yang diperoleh analisis statistik selanjutnya ditampilkan dalam bentuk Tabel dan Gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan operasional kapal purse seine di Probolinggo (4 knot) yang memperoleh hasil maksimal hingga 180 kg/ setting, sehingga dapat dikatakan bahwa hasil tangkapan ikan menggunakanpurse seine di perairan Probolinggo relatif rendah.  Kata Kunci : kecepatan kapal, purse seine
PENURUNAN NILAI PADATAN TERSUSPENSI PADA LIMBAH TAMBAK UDANG INTENSIF MENGGUNAKAN KERANG DARAH (Anadara granosa) W Wulandari; Nunik Cokrowati; Baiq Hilda Astriana; Nanda Diniarti
Jurnal Kelautan Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.258 KB) | DOI: 10.21107/jk.v12i2.6346

Abstract

ABSTRACTThe objective of this research is to determine the optimal density of Anadara granosa in decreasing the value of suspended solids in intensive shrimp farm waste and comparing the ability of  filtration rate in decreasing the value of suspended solids in intensive shrimp farm waste. This research was conducted from May 15 to 25, 2019 in Bioecology Laboratory Aquaculture Study Program, University of Mataram. This study used a Completely Randomized Design with five treatments, namely P1 treatment (without Anadara granosa), P2 treatment (5 individu / 10 liters of water), P3 treatment (10 individu / 10 liters of water). P4 treatment (20 individu / 10 liters of water), P5 treatment (30 individu /10 liters of water) and each treatment had 3 replications. The results showed that there was an effect that was not significantly different (p 0.05) on Total Suspended Solid (TSS), but significantly different (p 0.05) on the rate of filtration so that further tests were conducted using Tukey to find out whether or not differences between each individual treatment. The density of P1, P2, P3, P4, and P5 gives results that are not significantly different or have the same effect in absorbing or reducing organic matter in intensive shrimp pond waste and the highest filtration rate obtained in treatment 2 is 46.83 ml / hour.Keyword: Suspended solids, cultivation, absorption, food, organic matter, bivalves.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan kerang darah yang optimal dalam penurunan nilai padatan tersuspensi pada limbah tambak udang intensif dan membandingkan kemampuan laju filtrasi kerang darah dalam penurunan nilai padatan tersuspensi pada limbah tambak udang intensif. Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 15 sampai 25 mei 2019 di Laboratorium Bioekologi Perairan Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan, yaitu perlakuan P1 (tanpa kerang darah), perlakuan P2 (5 ekor/10 liter air), perlakuan P3 (10 ekor/10 liter air), perlakuan P4 (20 ekor/10 liter air), perlakuan P5 (30 ekor 10 liter air) dan setiap perlakuan memiliki 3 ulangan sehingga total percobaan sebanyak 15 unit. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang tidak berbeda nyata (p0,05) terhadap Total Suspended Solid (TSS), namun berbeda nyata (p0,05) terhadap laju filtrasi kerang darah sehingga dilakukan uji lanjut  menggunakan Tukey untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar tiap individu perlakuan. Kepadatan kerang darah pada P1, P2, P3, P4, dan P5 memberikan hasil yang tidak berbeda nyata dalam mengurangi bahan organik pada limbah tambak udang intensif dan kecepatan filtrasi yang paling tinggi yaitu 46.83 ml/jam diperoleh pada perlakuan 2. Kata kunci: Padatan tersuspensi, budidaya, penyerapan, makanan, bahan organik, bivalvia.
KAJIAN SINTASAN DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN BADUT Amphiprion percula (Bloch,1801) YANG DIPELIHARA PADA MEDIA SALINITAS YANG BERBEDA Merlia Donna Johan; S Supono; S Suparmono
Jurnal Kelautan Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v12i2.5810

Abstract

ABSTRACT Salinity is one of the important parameters during the process of seawater ornamental fish cultivation. Clown fish require high salinity in their cultivation and maintenance. And this is also a problem for ornamental fish hobbyists, especially those who live in urban areas. The purpose of this study was to determine the growth of clown fish larvae with different media salinity. The experimental design used was RAL. The parameters measured during the study were survival rate, growth in absolute weight and length, daily growth rate, and water quality. The research was conducted for 40 days. The results showed that there were significant differences in the survival rate of clown fish larvae. Key word: survival rate, salinity, clown fish, growth, media ABSTRAK Salinitas merupakan salah satu parameter yang penting selama proses budidaya ikan hias air laut. Ikan badut sendiri memerlukan salinitas yang cukup tinggi dalam budidaya serta pemeliharaannya. Hal ini juga merupakan masalah tersendiri untuk penghobiis ikan hias khususnya yang tinggal di daerah perkotaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan benih ikan badut dengan salinitas media yang berbeda. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL. Parameter yang diukur selama penelitian adalah survival rate, pertumbuhan berat dan panjang mutlak, laju pertumbuhan harian, dan kualitas air. Penelitian dilakukan selama 40 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang nyata terhadap sintasan benih ikan badut.   Kata Kunci: survival rate, salinitas, ikan badut, pertumbuhan, media
INVENTARISASI TERUMBU KARANG DI PULAU MAMBURIT KEPULAUAN KANGEAN KABUPATEN SUMENEP Badrud Tamam; Apri Arisandi; Mat Saleh
Jurnal Kelautan Vol 6, No 2: Oktober (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.976 KB) | DOI: 10.21107/jk.v6i2.785

Abstract

Inventarisasi terumbu karang adalah satu langkah untuk mengetahui tutupan karang suatu kawasan. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui keragaman spesies dan persentase tutupan karang hidup, serta keragaman spesies ikan karang di pulau Mamburit sebagai data awal untuk menjadikan Sumenep daerah tujuan wisata bahari. Pertumbuhan terumbu karang di pulau mamburit terdapat 11 Genus karang dengan tipe terumbu karang tepi (fringing reef) dari arah pantai menuju tubir membentuk paparan (reef flat).Kata Kunci: inventarisasi, terumbu karang
DETEKSI AWAL HABITAT PERAIRAN LAUT DANGKAL MENGGUNAKAN TEKNIK OPTIMUM INDEX FACTOR PADA CITRA SPOT 7 DAN LANDSAT 8 Anang Dwi Purwanto; Kuncoro Teguh Setiawan
Jurnal Kelautan Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1490.837 KB) | DOI: 10.21107/jk.v12i2.5400

Abstract

ABSTRACTInformation of the existence of the shallow water habitat  is required especially in environmental conservation and monitoring of activities in coastal areas. The component of the shallow water habitat including coral reefs and seagrass. Interpretation of the shallow water habitat is constrained by the location of ecosystem associated with other objects. The aim of study is to determine the best combination of band composites in identifying the shallow water habitat in Pemuteran Beach, Bali. The study used SPOT 7 imagery (acquisition on April 11, 2018) and Landsat 8  imagery (acquisition on April 14, 2018). The data of the shallow water habitat based on the result of field survey was conducted on 7-13 April 2018 at Pemuteran Beach, Bali.  Image data obtained from Remote Sensing Technology and Data Center of LAPAN. Determination of combination of 3 (three) bands the shallow water habitat using Optimum Index Factor (OIF) method where this method used standard deviation value and correlation coefficient from combination of 3 (three) bands. The results show the composite combinations of band 2 (green), band 3 (red) and band 4 (NIR) have the highest OIF values for SPOT 7 image, while the composite combinations of band 2 (blue), band 4 (red) and band 6 (SWIR 1) have the highest OIF values for Landsat 8 image. Interpretation of distribution of shallow water habitat can be done effectively using RGB 423 composite image (SPOT 7) and RGB 642 composite image (Landsat 8). Keywords: Shallow Water Habitat, OIF, SPOT 7, Landsat 8, PemuteranABSTRAKInformasi keberadaan habitat perairan laut dangkal semakin dibutuhkan terutama dalam kegiatan pelestarian lingkungan dan monitoring di wilayah pesisir. Komponen penyusun ekosistem habitat dasar perairan laut dangkal di antaranya terumbu karang dan lamun. Dalam interpretasi ekosistem habitat dasar perairan laut dangkal terkendala oleh lokasi keberadaan ekosistem yang berasosiasi dengan obyek lainnya. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kombinasi komposit kanal terbaik dalam mengidentifikasi obyek habitat dasar perairan laut dangkal di Pantai Pemuteran, Bali. Data citra satelit yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra SPOT 7 akuisisi tanggal 11 April 2018  dan citra Landsat 8 akuisisi tanggal 14 April 2018, sedangkan data terkait informasi sebaran habitat dasar perairan laut dangkal diperoleh berdasarkan hasil survei lapangan yang telah dilakukan pada tanggal 7-13 April 2018 di Pantai Pemuteran, Bali. Data citra satelit diperoleh dari Pusat Teknologi dan Data LAPAN. Untuk menentukan kombinasi dari 3 (tiga) kanal terbaik dalam interpretasi habitat dasar perairan laut dangkal digunakan metode Optimum Index Factor (OIF) dimana metode ini menggunakan nilai standar deviasi dan koefisien korelasi dari kombinasi 3 (tiga) kanal citra yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi komposit 2 (hijau), 3 (merah) dan 4 (NIR) mempunyai nilai OIF tertinggi untuk citra SPOT 7, sedangkan kombinasi komposit 2 (biru), 4 (merah) dan 6 (SWIR 1) mempunyai nilai OIF tertinggi untuk citra Landsat 8. Interpretasi sebaran habitat dasar perairan laut dangkal dapat dilakukan secara efektif dengan menggunakan citra komposit RGB 423 untuk citra SPOT 7 dan RGB 642 untuk citra Landsat 8.Kata kunci: Habitat Dasar Perairan Dangkal, OIF, SPOT 7, Landsat 8, Pemuteran