cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 394 Documents
PERMASALAHAN DAN POTENSI PESISIR DI KABUPATEN SAMPANG Aries Dwi Siswanto; Wahyu Andy Nugraha
Jurnal Kelautan Vol 9, No 1: April (2016)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v9i1.1034

Abstract

SAMPANG’S COASTAL PROBLEMS AND POTENTIALS One area that has progressive economic value and environmental degradation possibility is a dynamic areas of coastal areas. These characteristics is interesting in the perspective of management and utilization of marine resources and fisheries. The rapid development of the Sampang regency required the government to focus and provide greater attention to minimize the ecological pressures that affect the carrying capacity of the environment, particularly in coastal areas. This study aims to gather information about the problem and the potential that exists in coastal areas of Sampang. Data taken by interviewing respondents lived in coastal communities during April 2015 and the results of the questionnaire were analyzed descriptively. The problems identified include land requirement, the overlapping use, the threat of pollution and environmental degradation, and zoning; whereas the potential that exists include salt, marine tourism, mariculture, and the development of industrial areas and ports. The potential problems identified in coastal areas and beaches in Sampang relatively identical to the Bangkalan. It needs a comprehensive solution to minimize the existing impact as well as efforts to optimize utilization to achieve integrated coastal zone management.Keywords: coastal, CZM, problem, potential, Sampang ABSTRAKSalah satu wilayah yang memiliki nilai ekonomi progresif sekaligus peluang degradasi lingkungan sehingga disebut daerah dinamis adalah wilayah pantai dan pesisir. Karakteristik ini menjadi sesuatu yang menarik dalam perspektif pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan. Pesatnya perkembangan tersebut menuntut pemerintah kabupaten Sampang untuk focus dan memberikan perhatian lebih besar sebagai upaya untuk meminimalkan tekanan ekologis yang berpengaruh terhadap daya dukung lingkungan, khususnya di wilayah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang permasalahan dan potensi yang ada di wilayah pesisir di Kabupaten Sampang. Data diambil dengan metode interview dengan responden masyarakat di daerah pesisir selama bulan April 2015 dan hasil kuisioner dianalisa secara deskriptif. Hasil analisa kuisioner menunjukkan permasalahan yang teridentifikasi meliputi kebutuhan lahan, overlapping wilayah pemanfaatan, ancaman pencemaran dan degradasi lingkungan, dan zonasi pemanfaatan; sedangkan potensi yang ada di wilayah pesisir Kabupaten Sampang meliputi garam, wisata bahari, budidaya laut, dan pengembangan kawasan industri dan pelabuhan. Permasalahan maupun potensi yang teridentifikasi di wilayah pesisir dan pantai di Kabupaten Sampang relative identik dengan Kabupaten Bangkalan. Untuk itu, perlu penyelesaian komprehensif sehingga dapat meminimalkan dampak yang ada sekaligus sebagai upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan dalam upaya mewujudkan pola pengelolaan wilayah pesisir terpadu. Kata kunci: permasalahan, pesisir, potensi, PWP, Sampang
APPLICATION OF GIS FOR ASSESSING PRAWN FARM DEVELOPMENT IN TULLY-CARDWELL, NORTH QUEENSLAND Zainul Hidayah
Jurnal Kelautan Vol 4, No 2: Oktober (2011)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v4i2.882

Abstract

In recent years, Geographical Information Systems (GIS) has been employed for various studies in aquaculture where geographical factors, natural resources and human activities are involved. With an adequate database GIS, can serve as powerful tools in aquaculture. GIS have capabilities of organizing, analyzing, and displaying large, spatially explicit datasets due to spatial nature of the factors involved in aquaculture development particularly for site suitability studies. This study is intended to become a preliminary investigation for the development of prawn farm in Tully-Cardwell region of North Queensland. The aim of this research is to identify suitable sites for development of prawn farming using GIS multi-based criteria based on the basic requirements for prawn farming, for instance: suitable elevation and slope, proximity to water and distance from urban areas. Key words: Geographical Information Systems (GIS), Tully Cardwell, North Queensland, Prawn farm 
KEANEKARAGAMAN, KESERAGAMAN, DAN DOMINANSI BIVALVIA DI AREA BUANGAN LUMPUR LAPINDO MUARA SUNGAI PORONG I Insafitri
Jurnal Kelautan Vol 3, No 1: April (2010)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v3i1.843

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas bivalvia di muara sungai area buangan lumpur Lapindo. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah organisme Makrozoobenthos yaitu kelas bivalvia yang diambil dari perairan sekitar muara Sungai Porong, serta beberapa parameter lingkungan yang dipandang memiliki pengaruh pada kehidupan bivalvia. Analisis stuktur komunitas yang dilakukan meliputi kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ditemukanya bivalvia pada lokasi penelitian di muara sungai Porong, Kata Kunci : bivalvia, muara sungai porong, makrozoobenthos This research aimed to understand the community structure of bivalve in river delta of Porong which used for Lapindo mud wash out. Material in this research was macrozoobenthos collected from Porong river delta and their associated ambient environment parameter. Community structure analysis included were diversity, eveness and dominance index. Result showed that there was no bivalve found in Porong river Delta.Keywords: Bivalve, Porong river delta, Macrozoobenthos
KAJIAN POTENSI EKOWISATA PESISIR NEPA KABUPATEN SAMPANG DENGAN KONSEP MANGROVE PARK A Ahyar; Maulinna Kusumo Wardhani
Jurnal Kelautan Vol 7, No 2: Oktober (2014)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v7i2.802

Abstract

Pentingnya keberadaan hutan mangrove membuat pemerintah dan masyarakat melakukan konservasi terhadap keberadaannya. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga dan melestarikan kestabilan peranan dan fungsinya. Objek wisata Hutan Kera Nepa terletak di Desa Nepa pesisir utara pulau madura dan berjarak ±50 km dari pusat Kota Sampang. Merupakan suatu keunikan tersendiri, seluas 1 km2 di kelilingi oleh sungai air tawar yang bermuara langsung ke laut, merupakan gabungan eksotika pemandangan yang luar biasa. Melalui konsep mangrove park diharapkan menjadi salah satu usaha untuk menjaga kelestarian hutan yang telah ada dan untuk pemberdayaan potensi mangrove demi kesejahteraan masyarakat pesisir.Kata Kunci: Ekosistem Mangrove, Hutan Kera Nepa, Mangrove ParkTHE STUDY OF MANGROVE PARK CONCEPT FOR ECOTOURISM POTENTIAL OF NEPA COAST IN SAMPANG REGENCYABSTRACTThe importance of mangrove forest makes government together with the society conducting conservation. This activity had objective to keep and preserve the stability of mangrove forest’s role and function. The tourism object of Kera Nepa Forest is located at Nepa Village, the north coast of Madura Island, its distance is about 50 km from the center part of Sampang. This place has its own uniqueness, because 1 km2 of its area is surrounded by freshwater river which directly empties into the sea, a combination of amazing and exotic scenery. This mangrove park concept is expected to be one of the efforts to maintain the preservation of existing forest for the empowerment of mangrove’s potential for the sake of coastal communities’ welfareKeywords: Kera Nepa Forest, Mangrove Ecosystem, Mangrove Park
DISTRIBUSI SEDIMEN DASAR SEBAGAI IDENTIFIKASI EROSI PANTAI DI KECAMATAN BREBES MENGGUNAKAN ANALISIS GRANULOMETRI Wisnu Arya Gemilang; Ulung Jantama Wisha; Guntur Adhi Rahmawan
Jurnal Kelautan Vol 10, No 1 (2017)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v10i1.2156

Abstract

Dinamika kawasan pesisir Kecamatan Brebes berupa bencana abrasi dan akresi yang terjadi memiliki dampak besar terhadap kerusakan kawasan mangrove dan pesisir. Fenomena abrasi dan akresi yang terjadi dipengaruhi oleh parameter oseanografi yang dapat mempengaruhi sebaran sedimen di pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pembangkit fenomena abrasi dan akresi di pesisir Kecamatan Brebes serta bentuk mitigasi yang tepat untuk mengurangi bencana abrasi. Metode yang digunakan adalah descriptive kuantitatif dan analisis yang dilakukan adalah pengukuran arus, pengukuran pasang surut, pemetaan batimetri, analisis ukuran butir sedimen dan pemodelan hidrodinamika 2 dimensi. Sedimen berupa pasir, lanau, dan pasir lanauan dengan nilai rerata ukuran butir 5.00 phi – 8.00 phi. Kecepatan arus sepanjang pantai hasil model pada kondisi purnama berkisar 0-0,12 m.s-1 dan pada saat perbani berkisar antara 0-0,08 m.s-1, dengan dominasi arah arus menuju ke Timur dan Timur laut. Perlu dilakukan penataan ulang terhadap kawasan mangrove dan bangunan pelindung pantai serta melakukan pencodetan terhadap sungai – sungai utama yang merupakan sumber pembawa material sedimen sehingga dapat memberikan suplay endapan sedimen di bagian pesisir.Kata Kunci: Brebes, erosi, arus sepanjang pantai, mitigasi, sedimenBED SEDIMENT DISTRIBUTION FOR IDENTIFICATION OF THE COASTAL EROSION IN BREBES SUBDISTRICT USING GRANULOMETRI ANALYSISThe dynamics of erosion and accretion in the coastal area of Brebes Subdistrict have many impacts on mangrove destruction and coastal region. The erosion and accretion are influenced by oceanography parameters that can affect the distribution of coastal sediments. The aims of this research were to determine the characteristics of the phenomenon of erosion and accretion in coastal Brebes Subdistrict and shape appropriate mitigation to reduce the erosion. This research is done with the bed sediment sampling using grab sampler for 26 sampling point. Current and tide measurement are conducted wih ADCP deployment for 15 days’ measurement. Sediment characteristic analysis done with granulometri and statistic analysis. The average of sediment sorting is 1.21, skewness is 0.088 and the kurtosis is 3.76. Generally, bed surface sediment distribution pattern is dominated by clay to sand, the grand size distribution of sediments are sand, silt, sandy silt and silty sand. Longshore current speed ranged between 0-0.12 m.s-1 at the spring tide condition and ranged between 0-0.08 m.s-1at the neap tide condition, the domination of current direction towards to the East and Northeast. The mitigation is very needed to rearrange the mangrove areas, build the coastal protection and recover the main river line which is the sourceof the sediment materials, so that can be provide the supply of sediment deposition in the coastal area. Keywords: Brebes, Erosion, Longshore Current, Mitigation, Sediment
STUDI KOMUNITAS FITOPLANKTON DI PESISIR KENJERAN SURABAYA SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN Lutfia Hariyati; Achmad Fahruddin Syah; Haryo Triajie
Jurnal Kelautan Vol 3, No 2: Oktober (2010)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v3i2.921

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominansi fitoplankton serta hubungan tingkat pencemaran dengan fase saprobitas di pesisir Kenjeran Surabaya. Pengamatan dilakukan 3 kali pengulangan setiap 1 minggu. Lokasi pengambilan sampel dilakukan tegak lurus garis pantai yang terdiri atas 3 stasiun. Setiap stasiun ada 3 titik• Metode pelaksanaan Praktek Kerja Lapang menggunakan metode observasi. Hasil analisa menunjukkan bahwa nilai kelirnpahan fitoplankton pada stasiun 1 = 917 ind/l, pada stasiun 2 = 558 ind/l dan pada stasiun 3 = 361 ind/l. Indeks keanekaragaman (H') fitoplankton di lokasi penelitian mempunyai nilai berkisar antara 2,1644 — 2,3445 dengan kategori tingkat keanekaragaman sedang, indeks keseragaman (E) rnempunyai nilal berkisar antara 0,5377 — 0,5993 dengan kategori tingkat keseragaman sedang, indeks dominansi (D) mempunyai nilai berkisar antara 0,2516 — 0,2969 dengan kategori tingkat dominansi rendah atau tidak ada spesies yang mendominasi, dan nilal indeks saprobik di lokasi penelitian berkisar antara 1,3 — 1.9 menunjukkan kategori tingkat pencemaran ringan dengan fase 13-meso/oligosaprobik dan sangat ringan dengan fase oligo/13-mesosaprobik.Kata kunci : Kelimpahan, Struktur Komunitas, Fitoplankton, dan Fase Saprobitas
PENGGUNAAN ZAT ADITIF RAMSOL DALAM MENINGKATKAN MUTU GARAM RAKYAT Mahfud Efendy; Rahmad Fajar Sidik; Haryo Triajie
Jurnal Kelautan Vol 6, No 1: April (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v6i1.834

Abstract

Garam merupakan benda yang sangat dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembuatannya metode tradisional belum mampu untuk memenuhi kebutuhan garam nasional non industri. Oleh karena itu adanya pengembangan teknologi yang tepatguna, efektif, efisien, serta ramah lingkungan mutlak diperlukan dalam membantu proses pembuatan garam. Adapun tujuan penelitiannya yakni  untuk mendapatkan teknik/metode yang tepat dalam mengaplikasikan zat aditif (ramsol) yang telah beredar di masyarakat. Penelitian ini menggunakan zat aditif (ramsol) produksi PT. Sumber Alam Niagamas Indramayu Jawa Barat dan air tua (20oBe) dengan perlakuan: tanpa zat aditif (kontrol) (R0); metode Indramayu (R1) dan metode Madura (R2) yang dilakukan pada rumah demplot beralas terpal plastik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zat aditif garam (ramsol) memiliki pengaruh dalam proses pembentukan kristal garam. Kualitas (bau, rasa, warna) garam yang dihasilkan secara visual lebih bagus. Metode madura (colok) merupakan teknik terbaik dalam menghasilkan garam Kata kunci: zat aditif, ramsol, mutu, garam rakyat
HAMBUR BALIK AKUSTIK PERMUKAAN SUBSTRAT DASAR PERAIRAN MENGGUNAKAN ECHOSONDER BIM TUNGGAL Baigo Hamuna; Lisiard Dimara; Sri Pujiyati; Nyoman Metta N Natih
Jurnal Kelautan Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v11i1.2892

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai hambur balik permukaan dasar perairan berupa pasir dan lumpur. Echosounder bim tunggal Simrad EK15 frekuensi 200 kHz digunakan untuk perekaman hambur balik akustik permukaan dasar perairan. Hasil penelitian ini menggambarkan nilai rata-rata hambur balik permukaan substrat perairan pasir bervariasi antara -37.48 dB sampai -36.03 dB, dan lumpur bervariasi antara -46.98 dB sampai -45.15 dB. Hal ini juga menunjukkan bahwa substrat pasir memiliki tingkat kekerasan dan ukuran butir yang lebih besar dibandingkan jenis substrat lumpur substratSURFACE BACKSCATTERING STRENGTH OF SEABED SUBSTRATE USING SINGLE BEAM EHOSOUNDERABSTRACTThe objectives of this research are to analyze the surface backscattering strength of seabed. The single beam echosounder Simrad EK15 with 200 kHz of frequencies was used for recordings of seabed acoustic backscattering. Data collection was conducted in April 29 – Mei 2 2017 which located in the Yos Sudarso Bay, Jayapura, Papua Province. Sampling substrate was taken for ground truth data using sedimen grab. The results show that average value of surface backscattering strength of sand varied between -37.48 dB up -36.03 dB, and mud varied between -46.98 dB up -45.15 dB. It shows also that sand has a high substrate roughness, hardness, and grain size larger than the type of mud substrate. In acoustic backscattering values of sand were greater than mud.Keyword: Surface scattering, Sand, Mud, Single beam echosounder,
DAMPAK FAKTOR EKOLOGIS TERHADAP SEBARAN PENYAKIT ICE-ICE Apri Arisandi; Akhmad Farid
Jurnal Kelautan Vol 7, No 1: April (2014)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v7i1.793

Abstract

Faktor ekologis berperan terhadap sebaran infeksi penyakit ice-ice.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan morfologi of Kappaphycusalvarezii dan sebaran infeksi penyakit ice-ice.  Penelitian dilakukan menggunakan metode budidaya dalam rakit apungdan diamati setiap 15 hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa infeksi mulai terlihat sejak awal tanam dan dipengaruhi oleh faktor ekologis.Kata Kunci: ice-ice,sebaran, Kappaphycus alvareziiIMPACT OF ECOLOGICAL FACTORS ON DISTRIBUTION OF DISEASE ICE - ICEABSTRACTEcological factors contribute to the spread of infectious diseases ice-ice. This study aims to determine the morphological changes of Kappaphycus alvarezii and distribution of ice-ice disease infection. The study was conducted using the method of cultivation in a raft and observed every 15 days. The results showed that the infection started seen since early planting and influenced by ecological factors.Keywords: distribution, ice – ice, Kappaphycus alvarezii
TSUNAMI MENTAWAI 25 OKTOBER 2010 (SIMULASI COMCOT 1.7) DAN DAMPAKNYA KINI TERHADAP PANTAI BARAT MENTAWAI Herdiana Mutmainah; Dominika Wara Christiana; Gunardi Kusumah
Jurnal Kelautan Vol 9, No 2: Oktober (2016)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v9i2.1917

Abstract

Tsunami yang terjadi pada 25 Oktober 2010 di Mentawai disebabkan oleh subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Gempa dengan magnitude 7.7 MW ini terjadi pada pukul 14:42:22 UTC atau 21:42:22 WIB dengan lokasi episenter di 3.484 oLS dan 100.114 oBT, pada kedalaman 20.6 kilometer di Samudera Hindia dan berjarak 280 kilometer dari Padang atau 110 kilometer dari Pagai Utara. Gempa ini tergolong tsunami earthquake karena merupakan gempa dasar laut yang menghasilkan gelombang tsunami cukup besar. Simulasi tsunami dilakukan menggunakan COMCOT 1.7 dengan parameter sesar strike 325o, dip 11,62o , dan slip 101.4625o. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tinggi tsunami di enam titik berkisar 3.4 hingga 4.3 meter. Model ini menghitung penjalaran gelombang sampai ke garis pantai menggunakan persamaan linear. Dampak Tsunami tahun 2010 terhadap pantai Barat Mentawai berupa perubahan garis pantai yaitu abrasi parah pada pulau kecil dan hilangnya kawasan serta beberapa jenis mangrove. Kata Kunci : Tsunami earthquake, parameter sesar, dampak Tsunami MentawaiTSUNAMI OF MENTAWAI ON 25 OCTOBER 2010 AND ITS TODAY IMPACT ON THE WEST COAST OF MENTAWAITsunami that occurred on October 25, 2010 in Mentawai caused by the subduction of Indo-Australian plate and the Eurasian. An earthquake with a magnitude of 7.7 MW occurred at 14:42:22 UTC, or 21:42:22 pm with the epicenter at 3.484 locations 0LS and 100.114 0BT, at a depth of 20.6 kilometers in the Indian Ocean and is 280 kilometers from Padang or 110 kilometers of North Pagai. This earthquake was classified as a tsunami earthquake seaquake that generate big enough tsunami waves. Tsunami simulation was performed using 1.7 COMCOT with cesarean parameter strike 325o, dip 11,62o, and slip 101.4625o. The simulation results show that the tsunami height at six points ranging from 3.4 to 4.3 meters. This model calculates wave propagation up to the shoreline using linear equations. 2010 Tsunami impact on the West coast of the Mentawai include changes in the coastline that is severe abrasion on a small island and the loss of the region as well as several species of mangrove.Keywords: Tsunami earthquake, the fault parameters, Mentawai Tsunami