cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 394 Documents
PENGARUH PEMBERIAN FeCl3 TERHADAP PERTUMBUHAN Chaetoceros calcitrans Cahya Laila Oktaviana Putri; I Insafitri; Indah Wahyuni Abida
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.905

Abstract

Besi termasuk unsur yang esensial bagi makhluk hidup. Pada tumbuhan termasuk algae, besi berperan sebagai penyusun sitokrom dan klorofil. Selain itu, besi juga berperan dalam sistem enzim dan transfer elektron pada proses fotosintesis. Namun, belum diketahui konsentrasi yang tepat untuk pengunaannya oleh algae sehingga diperlukan penelitian yang dapat mengetahui konsentrasi pemakaian FeCl3 untuk perkembangan algae terutama untuk C. calcitrans. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian FeCl3 terhadap kepadatan C. calcitran sehingga dapat mengetahui konsentrasi FeCl3 yang paling baik terhadap kepadatan C. calcitran. Serta untuk Mengetahui kepadatan C. calcitran berdasarkan hari. Penelitian ini diawali dengan menyetock C. calcitran hingga kepadatan 400 ribu sel/ml kemudian dilanjutkan dengan mengkultur C. calcitran pada toples yang telah dibuat sama parameternya kecuali pemberian FeCl3 sesuai dengan perlakuan. Untuk menganalisa pengaruh pemberian FeCl3 pada konsentrasi yang bebeda terhadap kepadatan C. calcitrans digunakan analisa sidik ragam (ANOVA) dua langkah dengan bantuan software SPSS 12 dan dilakukan uji lanjut Tukey (Multiple Comparisons) untuk melihat perlakuan yang berbeda dengan membandingkan berbagai hasil perlakuan. Pada konsentrasi FeCl3 0 mg/l berbeda nyata (P0,05) sedangkan konsentrai FeCl3 0,02 mg/l, 0,2  mg/l, 2 mg/l berbeda signifikan terhadap kepadatan C. calcitrans sehingga hanya konsentrasi FeCl3 0 mg/l yang mempengaruhi kepadatan C. calcitrans. Ini disebabkan karena pemberian konsentrasi terlalu sedikit dan selisih konsentrasi yang kecil sehingga tidak mempengaruhi kepadatan C. calcitrans. Sedangkan untuk hari  diperoleh hari ke-1 dan ke-7 merupakan hari yang signifikan terhadap kepadatan C. calcitrans.  Kata Kunci : Chaetoceros calcitrans, FeCl3 dan kepadatan
FORMULASI MODEL MATEMATIK 1 DIMENSI UNTUK SEBARAN POLUTAN DI ESTUARIA Maulinna Kusumo Wardhani
Jurnal Kelautan Vol 5, No 2: Oktober (2012)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v5i2.872

Abstract

Estuaria secara umum dimanfaatkan manusia sebagai tempat pemukiman, penangkapan dan budidaya sumberdaya ikan, jalur transportasi, pelabuhan dan kawasan industri yang secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan perubahan lingkungan di wilayah tersebut. Salah satu yang dihasilkan dari aktifitas tersebut adalah limbah buangan baik dari pemukiman maupun aktifitas industri yang mencemari perairan. Besarnya konsentrasi pencemar yang terdapat dalam perairan pantai ditentukan salah satunya berdasarkan pergerakan air.  penggambaran gerak arus di laut adalah dengan pemodelan terhadap pergerakan arus yang membawa pencemar dengan menghubungkan variabel-variabel seperti lebar, panjang, kedalaman dan lebar mulut estuaria serta kondisi pasang surut, tinggi elevasi muka air laut, kedalaman laut, dan kecepatan arus,  sehingga diharapkan akan diperoleh gambaran gerak arus yang mewakili kondisi sebenarnya. Sebaran polutan pada estuaria baji garam (tipe A) dapt diformulasikan menggunakan model matematika satu dimensi (1 D) dengan menyusun model hidrodinamika dengan menyederhanakan model untuk berbagai pola percampuran dan sirkulasi karakteristik aliran menjadi model matematika 1 dimensi sehingga dapat dibuat solusi numeriknya. Kata kunci: Estuaria, sebaran polutan, model matematika
APLIKASI TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN PENGINDERAAN JAUH UNTUK PENENTUAN KONDISI DAN POTENSI KONSERVASI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI KECAMATAN KWANYAR KABUPATEN BANGKALAN Wahyu A'idin Hidayat; Zainul Hidayah; Wahyu Andy Nugraha
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.899 KB) | DOI: 10.21107/jk.v2i1.896

Abstract

Ekosistem mangrove adalah ekosistem khas pantai tropis yang memiliki fungsi ekologis tinggi namun rentan terhadap pengrusakan. Penelitian ini dilakukan di wilayah pesisir Kecamatan Kwanyar Kabupaten Bangkalan untuk mengetahui kondisi ekosistem mangrove sekaligus mengkaji potensi upaya pelestarian mangrove di wilayah tersebut. Penelitian ini mengkombinasikan data pengamatan lapang dan citra satelit Landsat ETM/7 akuisisi 2002, yang kemudian diolah menggunakan Sistem Informasi Geografis. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penentuan tingkat kekritisan lahan yang ditetapkan oleh Departemen Kehutanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ekosisyem mangrove di 6 lokasi pengamatan berada pada kondisi rusak.  Kata kunci : Mangrove, Kwanyar, Sistem Informasi Geografis
INVENTARISASI SPESIES BINTANG MENGULAR (Ophiuroidea) DI PANTAI BILIK, TAMAN NASIONAL BALURAN, JAWA TIMUR Rendy Setiawan; Fresha Aflahul Ula; Santi Feronika Sijabat
Jurnal Kelautan Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v12i2.5838

Abstract

ABSTRACT The Brittle stars is a member of the Phylum Echinodermata that lives in habitats in the intertidal, subtidal, and deep sea zones. Brittle stars can be found in areas of coral reefs, sand, seagrass, macroalgae (seaweed), and dead coral fragments. One of the many intertidal areas of the habitat is in the Baluran National Park Bilik Beach. Ophiuroidea is important to be studied in the conservation area, Baluran National Park, because it is a natural conservation area that has native ecosystems and is managed with a zoning system and utilized for natural tourism, research, science and education purposes. This study aims to determine the type of brittle stars found on the Baluran National Park. The method used in this research is descriptive method with road sampling technique in the Bilik Beach area. The brittle stars species found and described are 8 species, namely Ophiomastix annulosa, Ophiocoma scolopendrina, Ophiocoma brevipes, Ophioplocus imbricatus, Ophiolepis cardioplax, Ophiolepis superba, Ophiarachna parvispina, and Macrophiothrix longipeda. Keywords: Baluran National Park, Brittle stars.ABSTRAKBintang mengular merupakan anggota dari filum Echinodermata yang hidup pada habitat di zona intertidal, subtidal, dan laut dalam. Bintang mengular dapat ditemukan di area terumbu karang, pasir, lamun (seagrass), makroalga (seaweed), dan pecahan karang mati. Salah satu wilayah intertidal yang banyak terdapat habitat tersebut adalah di Pantai Bilik Taman Nasional Baluran. Ophiuroidea menjadi penting untuk dikaji di area konservasi yaitu Taman Nasional Baluran, karena merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli dan dikelola dengan sistem zonasi serta dimanfaatkan untuk tujuan pariwisata alam, penelitian, ilmu pengetahuan, dan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis bintang mengular yang terdapat di Pantai TN Baluran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik road sampling di area Pantai Bilik. Spesies bintang mengular yang ditemukan dan dideskripsikan sebanyak 8 spesies, yaitu Ophiomastix annulosa, Ophiocoma scolopendrina, Ophiocoma brevipes, Ophioplocus imbricatus, Ophiolepis cardioplax, Ophiolepis superba, Ophiarachna parvispina, dan Macrophiothrix longipeda.Kata Kunci: Bintang mengular, Taman Nasional Baluran
FORTIFIKASI GARAM DENGAN BAWANG DAYAK UNTUK MENINGKATKAN NUTRISI GARAM KONSUMSI Hairil Budiarto; Dyah Ayu Sulistyo Rini
Jurnal Kelautan Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.628 KB) | DOI: 10.21107/jk.v12i2.5323

Abstract

ABSTRACTPhysically salt is a white crystal with the largest chemical compound content is sodium chloride (NaCl) 80%, and other compounds such as magnesium chloride (MgCl2), magnesium sulfate (MgSO4), and calcium chloride (CaCl2). Fortification is an effort made to add micronutrients such as vitamins and minerals to food to improve the quality of nutrients that are useful for public health. Water content analysis on Dayak Onion Fortification Salt Products was 0.73% for Fortified Salt using Aquadest material, and 0.34% Using Ethanol, while salt onion dayak fortification using Methanol mixture contained 0.42% water content. salt fortification with onion dayak which uses color methanol which is produced higher or the resulting color is better and preferred by many consumers, pure white pure salt which is favored by consumers, salt fortification with onion dayak which uses maceration of methanol extract which is much preferred by consumers.Keywords: Dayak Onion, Consumption Salt, AntioxidantsSecara fisik garam dapur merupakan Kristal berwarna putih dengan kandungan senyawa kimia terbesar adalah natrium klorida (NaCl) 80%, serta senyawa lainnya seperti magnesium klorida (MgCl2), magnesium sulfat (MgSO4), dan kalsium klorida (CaCl2). Fortifikasi merupakan sebuah upaya yang dilakukan untuk menambahkan mikronutrien seperti vitamin dan mineral ke dalam makanan untuk meningkatkan kualitas nutrisi yang berguna bagi kesehatan masyarakat. analisis Kadar Air pada Produk Garam Fortifikasi Bawang Dayak adalah 0,73% untuk Garam Fortifikasi dengan menggunakan bahan Aquadest, dan 0,34% Dengan Menggunakan Bahan Etanol, sedangkan garam fortifikasi bawang dayak dengan menggunakan campuran Methanol mengandung kadar air seberat 0,42%. garam fortifikasi dengan bawang dayak yang menggunakan methanol warna yang dihasilkan semakin tinggi atau warna yang dihasilkan semakin bagus dan disukai banyak konsumen, garam murni dengan  warna putih bersih  yang banyak disuka oleh konsumen, garam fortifikasi dengan bawang dayak yang menggunakan maserasi ekstrak methanol  yang banyak disuka oleh para konsumenKata Kunci : Bawang Dayak, Garam konsumsi, Antioksidan
REGENERASI RUMPUT LAUT Gracilaria sp. MELALUI PROPAGASI SECARA EX VITRO Siti Fadilah; Dhini Arum Pratiwi
Jurnal Kelautan Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.875 KB) | DOI: 10.21107/jk.v12i2.5783

Abstract

ABSTRACT This study aims to observe the growth of Gracilaria sp. seaweed seedlings through ex vitro propagation. Thallus was cut into thallus fragments measuring ± 2-3 cm. The treatments tested were different types of nutrients and thallus densities. The nutrients used were Provasoli Enriched Sea Water (PES) 20 mL/L, organic fertilizer A (0,05 mL/L), organic fertilizer B (0,05 mL/L) and without fertilizer; while the densities of the thallus fragment tested were 2 g/L; 2,5 g/L and 3 g/L. Thallus fragments were maintained for 8 weeks with media renewal and thallus weighing every week. Shoot length was measured and number of shoots was calculated at the end of the observation. Then, the seedlings were acclimatized at the sea for 8 weeks by binding every 10 thallus fragments to each clump rope in a net box with a side length of 50 cm. Growth was observed by weighing thallus fragments every 4 weeks. The results showed that organic fertilizer A provided better seedling growth compared to other types of fertilizers. The highest Daily Growth Rate (DGR) and shoot length occurred at a density of 2 g/L, but the number of shoots at three densities did not differ at an average of 5 shoots per thallus fragment. The highest average DGR of seedlings during acclimatization reached 4,85%/day in the first month, then decreased to 2,05%/day in the second month. Ex vitro propagation can be used as an alternative effort to propagate the seedlings of Gracilaria sp. by paying attention to the physical condition of the growth environment, especially the temperature and light intensity. Keywords: ex vitro, Gracilaria sp., propagation, regeneration ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pertumbuhan bibit rumput laut Gracilaria sp. melalui propagasi ex vitro. Talus dipotong menjadi fragmen talus berukuran ±2-3 cm. Perlakuan yang diuji yaitu jenis nutrisi dan kepadatan talus yang berbeda. Nutrisi yang digunakan adalah Provasoli’s Enriched Seawater (PES) sebanyak 20 mL/L, pupuk organik A (0,05 mL/L), pupuk organik B (0,05 mL/L) dan tanpa pupuk; sedangkan kepadatan fragmen talus yang yang diuji adalah 2 g/L; 2,5 g/L dan 3 g/L. Fragmen talus dipelihara selama 8 minggu dengan pembaruan media dan penimbangan bobot talus setiap minggu. Panjang tunas diukur dan jumlah tunas dihitung di akhir pengamatan. Kemudian, bibit diaklimatisasi di laut selama 8 minggu dengan mengikat tiap 10 fragmen talus pada tiap tali rumpun dalam kotak hapa dengan panjang sisi 50 cm. Pertumbuhan diamati dengan menimbang fragmen talus setiap 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik A memberikan pertumbuhan bibit yang lebih baik dibandingkan jenis pupuk yang lain. Laju Pertumbuhan Harian (LPH) dan panjang tunas tertinggi terjadi pada kepadatan 2 g/L, namun jumlah tunas pada tiga kepadatan tidak berbeda yaitu rata-rata 5 tunas per fragmen talus. Rataan LPH tertinggi saat aklimatisasi mencapai 4,85 %/hari pada bulan pertama, kemudian menurun menjadi 2,05 %/hari di bulan kedua. Propagasi ex vitro dapat dijadikan salah satu upaya alternatif perbanyakan bibit Gracilaria sp. dengan memperhatikan kondisi fisik pemeliharaan, terutama suhu dan intensitas cahaya. Kata kunci : ex vitro, Gracilaria sp., propagasi, regenerasi
PENYEMAIAN DAN PENANAMAN RHIZOPHORA APICULATA DI DAERAH PASCA PENAMBANGAN TIMAH INKONVENSIONAL (TI) DI MUARA KUDAI KABUPATEN BANGKA U Umroh
Jurnal Kelautan Vol 8, No 1: April (2015)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.196 KB) | DOI: 10.21107/jk.v8i1.808

Abstract

Mangrove forest at the Kudai Estuary, Bangka has destructed, caused by tin mining unconventional  activities (TI). Mangrove conversion to non-conventional mining affected directly or indirectly for mangrove (Rhizophora apiculata) ecosystem. Based on the condition, rehabilitation needed to do straightforward to sustainability and sustainable aspect. Aims of the study were cultivated planting analysis of mangrove at Kudai Bangka Regency and to observed the participation on mangroves planting. This research was conducted on April 2010 to August 2011. Planting has done on tin post-mining Kudai Estuary, Bangka. The results showed that the seeding accomplishment are 100% and planting 99,6%. Substrat composition on tin post-mining area at Kudai Estuary are 60% sand, 30% clay and suitable substrat for mangrove (Rhizophora apiculata) growth. The seedling accomplishment and planting were supported by environmental parameters, such as pH, salinity, substrate, and organic materials.Keywords: Devastation, Unconventional Tin Mining (TI), Planting, Rhizophora apiculata
KAJIAN FILOGENETIK IKAN TUNA (Thunnus spp) SEBAGAI DATA PENGELOLAAN DI PERAIRAN SEKITAR KEPULAUAN MALUKU, INDONESIA Nebuchadnezzar Akbar; Muhammad Aris; Muhammad Irfan; Irmalita Tahir; Abdurrachman Baksir
Jurnal Kelautan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.679 KB) | DOI: 10.21107/jk.v11i2.3459

Abstract

Ikan tuna (Thunnus Spp) adalah ikan pelagis yang memilili kemampuan migrasi dan nilai komersial. Kondisi oseanografie Maluku Utara dan Ambon mendukung kelimpahan stok populasi sumberdaya. Pengetahuan filogenetik dapat membantu menunjukan hubungan evolusioner dari suatu organisme yang disimpulkan dari data morfologi dan molekuler. Tujuan penelitian untuk mengetahui filogenetik ikan tuna di perairan Maluku Utara dan Ambon. Penelitian ini menggunakan metode PCR-Sequencing. Analisis molekuler menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan primer CRK-CRE, elektroforesis. Rekonstruksi pohon filogenetik menggunakan metode Neighbor joining dan model evolusi Kimura 2-parameter dilakukan dengan aplikasi MEGA5. Hasil penelitian filogenetik menemukan terdapat empat empat clade spesies ikan tuna yang saling berbeda (tuna mata besar ; tuna sirip kuing ; tuna alalunga ; cakalang ). Jarak genetik tuna mata besar (T.obesus)  dengan tuna sirip kuning (T.albacares)  adalah 0.09, tuna mata besar (T.obesus)  dengan tuna alalunga (T.albacore) adalah 0.19, tuna sirip kuning (T.albacares)  dengan tuna alalunga (T.albacore),  sebesar 0.21,  tuna mata besar (T.obesus)  dengan tuna alalunga (T.albacore)  cakalang (K.pelamis) adalah 0.34, cakalang (K.pelamis) dengan tuna alalunga (T.albacore) adalah  0.39 dan tuna sirip kuning (T.albacares)  dengan Cakalang (K.pelamis) adalah 0.34. Semua hasil menunjukan perbedaan genetik yang signifikan, genetik spesies tuna berasal dari satu kelompok dan filogeografi memiliki batas distribusi yang nyata antar satu dengan yang lain.Kata Kunci :     Thunnus, Polymerase Chain Reaction (PCR), Pohon Filogenetik, primer CRK-CRE, , Neighbor joining, Kimura 2-parameter, jarak genetik, MEGA5, filogeografi.  ABSTRACTTuna (Thunnus Spp) is a pelagic fish that has migration capabilities and commercial value. The condition of North Maluku and Ambon oceanographies supports the abundance of resource population stocks. Phylogenetic knowledge can help show the evolutionary relationship of an organism inferred from morphological and molecular data. The aim of the study was to determine phylogenetic of tuna in the waters of North Maluku and Ambon. This study used the PCR-Sequencing method. Molecular analysis uses a polymerase chain reaction (PCR) with CRK-CRE primer, electrophoresis. Reconstruction of the phylogenetic tree using the Neighbor joining method and the Kimura 2-parameter evolution model was carried out with the MEGA5 application. The results of phylogenetic research found that there were four four different clades of tuna species (bigeye tuna; kuing fin tuna; alalunga tuna; cakalang). The genetic distance of big eye tuna (T.obesus) with yellow fin tuna (T.albacares) is 0.09, bigeye tuna (T.obesus) with tuna alalunga (T.albacore) is 0.19, yellow fin tuna (T.albacares) with tuna alalunga (T.albacore), for 0.21, big eye tuna (T.obesus) with alalunga tuna (T.albacore) cakalang (K.pelamis) is 0.34, cakalang (K.pelamis) with alalunga tuna (T.albacore) is 0.39 and yellow fin tuna (T.albacares) with Cakalang (K. pelamis) are 0.34. All results show significant genetic differences, genetic tuna species come from one group and filogeography has a real distribution boundary between one another.Keywords: Thunnus, Polymerase Chain Reaction (PCR), Phylogenetic Tree, CRK-CRE primer, Neighbor joining, Kimura 2-parameter, genetic distance, MEGA5, filogeography.
IMUNITAS UDANG VANNAME (Litopenaeus vannamei) YANG DIBERI PAKAN TAMBAHAN DAUN KASEMBUKAN (Paederia foetida Linn.) I Ismawati; R. Amilia Destryana; Nailiy Huzaimah
Jurnal Kelautan Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v12i2.5998

Abstract

ABSTRACTOne of the efforts to prevent crop failure in vanname shrimp (Litopenaeus vannamei) can be done by increasing immunity in vanname shrimp. Increased shrimp immunity by chemical means has a weakness that can create resistance to bacteria. To overcome the positive impact of the use of antibiotics in preventing infection in vanname shrimp by utilizing a natural ingredient with medicinal properties namely kasembukan (Paederi foetida Linn.) The research aims to determine the immunity of vanname shrimp and survival ratio. The  research used a Completely Randomized Design with the treatment of paederia leaf concentration added to commercial shrimp feed, namely A1; A2; A3; A4; A5 (0%; 10%; 20%; 40%; 80%). Observations were made on day 0, day 10, day 20 and day 30. The results of research using ANOVA showed that there was an effect of treatment on immune vanname shrimp based on total vanname shrimp hemocytes. Duncon's further tests showed that the treatment of adding 10% and 20% of the paederia leaves had the same effect while the addition of 0%, 40% and 80% of the paederia leaves had a reduced effect on the total haemocyte of vanname shrimp. The survival ratio (SR) of vanname shrimp for each treatment for 30 days were A1: 80%, A2: 100%, A3: 90%, A4: 91% and A5: 96%.Keywords: Immunity, feed, Litopenaus vannamei, Paederia foetida L.ABSTRAKUpaya dalam mencegah kegagalan panen pada budidaya udang vanname (Litopenaeus vannamei) salah satunya dapat dilakukan dengan cara meningkatkan imunitas pada udang vanname. Peningkatan imunitas udang dengan cara kimia memiliki kelemahan yaitu dapat membuat resistensi pada bakteri. Untuk menanggulangi dampak positif penggunaan antibiotik dalam mencegah infeksi pada udang vanname yaitu dengan cara memanfaatkan bahan alami berkasiat obat yaitu kasembukan (Paederi foetida Linn.) Penelitian bertujuan untuk mengetahui imunitas udang vanname serta kelulus hidupan udang yang diberi pakan tambahan daun ksembukan sebagai imunostimulan. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan konsentrasi tepung daun kasembukan yang ditambahkann pada pakan udang komersil yaitu A1; A2; A3; A4; A5 (0%; 10%; 20%; 40%; 80%). Pengamatan dilakukan pada hari ke 0, hari ke 10, hari ke 20 dan hari ke 30. Hasil penelitian menggunakan ANOVA menunjukkan terdapat pengaruh perlakuan terhadap imun udang vanname berdasarkan total hemosit udang vanname. Uji lanjut Duncon menunjukkan bahwa perlakuan penambahan 10% dan 20% daun kasembukan memiliki pengaruh yang sama sedangkan penambahan 0%, 40% dan 80% daun kasembukan memiliki pengaruh yang bereda terhadap total hemosit udang vanname. Kelulus kehidupan udang vanname untuk masing-masing perlakuan selama 30 hari yaitu A1:80%, A2:100%, A3:90%, A4:91% dan A5:96%.Kata Kunci: Imunitas, kasembukan, pakan, udang vanname
MIKROPLASTIK PADA BULU BABI DARI RATAAN TERUMBU PULAU GILI LABAK SUMENEP David Lolodo; Wahyu Andy Nugraha
Jurnal Kelautan Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.145 KB) | DOI: 10.21107/jk.v12i2.6267

Abstract

ABSTRACTMikroplastic is a fragment of plastic that have size less than 5 mm. Microplastic mainly came from plactic debris as the result of degradation. The research about mikroplastic on sea urchine, water and sedimen had been done on Gili Labak Island Waters, Sumenep Regency, East Java. The purpose of this research is to know the amount, weight, and the type of microplastic on Gili Labak Island Waters and the correlation between each type of samples. The method that were used are random sampling and then laboratorium analyse. The part that had been tested on sea urchin are the gut which then add with KOH 10% as much as three times the sample weigh. The sample tha net using paper net for 100 sea water. For sedimen taken 50gr and added with NaCl as much as three times the weigh of the sample. The result from the netting than observe on stereo microscope to determine the type and the amount and then weighted on analytical scale. The result that obtained are the amount of microplastic on water are 189 particles with weight of 0,656gr, on sediment obtain 130 particle with weight of 0,0402gr and on sea urchin obtained 155 particle with weight of 0,0757gr. The types of microplastic that had been found are fragment, fiber, microfiber and film. From the anova test it happened to be know the signivicance value of both sample are above 0,05 which showed the difference between microplastic on each sample.Key words: Gili Labak, Bulu Babi, mikroplastikABSTRAKMikroplastik merupakan potongan plastik yang memiliki ukuran kuranag dari 5 mm. Mikroplastik sendiri umumnya berasal dari sampah plastik yang mengalami degradasi.. Penelitian terhadap mikroplastik pada bulu babi, air dan sedimen di dilakukan di Perairan Pulau Gili Labak, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah, berat dan jenis mikroplastik yang ada di perarian di Pulau Gili Labak dan hubungan antara mikroplastik pada masing-masing jenis sampel. Metode yang digunakan dalam mengambil sampel adalah random sampling, kemudian dilakukan analisa laboratorium. Pada bulu babi yang dianalisa adalah bagian sistem pencernaan yang kemudian ditambahkan KOH 10% sebanyak 3x berat sampel. Pada sampel air dilakukan penyaringan secara langung dengan kertas saring terhadap 100ml air laut. Untuk sedimen diambil sebanyak 50gr dan ditambahkan NaCl pekat sebanyak 3xberat sampel. Hasil penyaringan kemudian diamati pada mikroskop stereo untuk menentukan jenis dan jumlah kemudian ditimbang di neraca analitik. Hasil yang didapat adalah total mikroplastik pada air berjumlah 189 partikel dengan berat 0,646gr, pada sedimen 130 partikel dengan berat 0,0402gr dan pada bulu babi 155 partikel dengan berat 0,0757gr. Jenis mikroplastik yang ditemukan adalah fragmen, film, fiber dan mikro fiber. Dari hasil uji anova kemudian diketahui nilai significance terhadap masing-masing sampel lebih dari 0,05 yang menunjukkan adanya perbedaan antara jumlah mikroplastik pada masing-masing sampel.Kata kunci: Gili Labak, Sea Urchin, Microplastcs