cover
Contact Name
Fauziah Astrid
Contact Email
fauziah.astrid@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtabligh@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Dakwah Tabligh
ISSN : 14127172     EISSN : 2549662X     DOI : -
Tabligh Journal is a scientific publication for research topics and studies on communication and da'wah. The form of publiation that we receive will be reviewed by reviewers who have a concentration in the field of Communication, specifically Da'wah and Communication.We publish this journal twice a year, in June and December. The Tabligh Journal first appeared in the printed version in 2011. This journal is managed by the Tabligh journal team under the Da'wah and Communication Faculty of Alauddin Islamic University in Makassar.
Arjuna Subject : -
Articles 318 Documents
PERSPEKTIF DAKWAH MELALUI FILM Alamsyah Alamsyah
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.304

Abstract

Dakwah pada era saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan dan problematika yang semakin kompleks. Film merupakan media yang begitu pas dalam memberikan influence bagi masyarakat umum. Sejarah mencatat, media dakwah melalui seni dan budaya sangat efektif dan terasa signifikan dalam hal penerapan ideologi Islam. Penonton film seringkali terpengaruh dan cenderung mengikuti seperti halnya peran yang ada pada film tersebut. Hal ini dapat menjadi peluang yang baik bagi pelaku dakwah ketika efek dari film tersebut bisa diisi dengan konten-konten keislaman. Film sebagai media komunikasi bisa menjadi suatu tontonan yang menghibur, dan dengan sedikit kreatifitas bisa memasukan pesan-pesan dakwah pada tontonan tersebut sehingga menjadi tuntunan. Sebelum membuat cerita film, harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya sebagai hiburan, mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter, ataukah menyampaikan pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus, terarah dan sesuai. Di awal millenium baru ini tampaknya mulai ada gairah baru dalam industri film Indonesia terutama film yang mengusung tema dakwah. Seperti halnya film Kiamat Sudah Dekat, Kun Fa Yakun, Perempuan Berkalung Sorban, Ketika Cinta Bertasbih, film Ayat-ayat Cinta yang begitu fenomenal akhir-akhir ini. Dakwah melalui film memang akan lebih efektif dibandingkan dengan media lainnya. Sebab penyajiannya dapat diatur dalam berbagai bentuk dan variasi sehingga kesannya tidak seperti menggurui. Kata Kunci: Perspektif, Dakwah, Film In the current era, Dakwah is faced with various challenges and problems that are increasingly complex. Movie is a great medium to influence general public. It is recorded media through art and culture is very effective and significant in terms of the application of Islam’s ideology. Movie lovers are often affected and tend to follow as well as to what exist in the movie. This can be a good opportunity for Dakwah doers when the effect of the movie that can be filled with Islam’s contents. Movie as a medium of communication can be an entertaining, and can put messages on the Dakwah in it with a little creativity that becomes guidance. Before making the movie, it should define the purpose of making it whether as an entertaiment, phenomenon, education, documentary or a moral one. It is very necessary for the making of the movie is more focused, targeted and appropriate. At the beginning of this new millennium seems to be a new passion for Indonesian movie industry, especially the theme of Dakwah movies such as Kiamat Sudah Dekat, Kun Fa Yakun, Perempuan Berkalung Sorban, Ketika Cinta Bertasbih, and Ayat-Ayat Cinta that is so phenomenal lately. Da'wah through the movies will be more effective than other media because the presentation can be arranged in a variety of shapes and variations, so that the impression does not look like to teach. Keywords: Perspectives, Da’wa, Film
DAKWAH DAN TANTANGANNYA DALAM MEDIA TEKNOLOGI KOMUNIKASI Muhammad Rajab
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.339

Abstract

Abstract; Perkembangan teknologi informasi mengalami kemjauan sangat pesat. Kemajuan tersebut telah mengantarkan umat manusia semakin mudah untuk berhubungan satu dengan lainnya. Berbagai infomasi dan peristiwa yang terjadi dibelahan dunia dengan secara cepat dapat diketahui oleh manusia pada benua yang lain. Era globalisasi yang ditandai oleh semakin majunya teknologi komunikasi juga disebut dengan era informasi. Masyarakat dunia termasuk umat Islam dewasa ini dapat menikmati acara televisi dengan berbagai tayangan. Siaran televisi tersebut bukan hanya terpancar dari jaringan yang bersifat nasional, tetapi juga dapat mengikuti jaringan internasional berkat adanya satelit yang dihubungkan dengan adanya parabola di rumah-rumah penduduk. Komunikasi di satu sisi menyampaikan informasi kepada orang lain terhadap gagasan atau ide kepada orang lain baik menggunakan media maupun tidak menggunakan media sedangkan disisi lain ingin mengubah pola pikir dan tingkah laku masyarakat. Fungsi komunikasi adalah potensi yang dapat digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu. Komunikasi sebagai ilmu, seni dan lapangan kerja sudah tentu memiliki fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan Komunikasi adalah untuk menyampaikan informasi dan mencari informasi kepada mereka agar apayang ingin disampaikan dapat dimengerti sehingga komunikasi yang dilaksanakan dapat tercapai. Suatu informasi atau pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan akan komunikatif apabila terjadi proses psikologis yang sama antara insan-insan yang terlibat dalam proses tersebut. Dengan perkataan lain, informasi yang disampaikan komunikator kepada komunikan adalah situasi komunikatif seperti itu akan terjadi bila terdapat etos pada diri komunikator. Keywords: Challenges, Technology, Communications The development of information technology has kemjauan very rapidly. The advancement has led mankind easier to relate to one another. Various information and events happening parts of the world with rapidly can be known by human beings on other continents. The era of globalization characterized by the rapid advancement of communication technology is also called information age. The world community, including Muslims today can enjoy television programs with a variety of impressions. The television broadcasts emanating not only from a national network, but also can follow the international network thanks to the satellite which is connected with the parabola in people's homes. Communication on one side convey information to others for ideas or ideas to others either use or not use the media while the media on the other hand want to change the mindset and behavior of the people. Communication function is the potential that can be used to meet certain goals. Communication as a science, art and employment is certainly a function that can be used by humans in meeting their needs. Communication goal is to convey information and search for information to be conveyed them to apayang understandable so that communication can be achieved implemented. An information or message conveyed communicator to the communicant to be communicative event of the same psychological process between beings who are involved in the process. In other words, the information conveyed communicator to the communicant is a communicative situation like that would happen if there is a communicator yourself ethos. Keywords: Challenges, Technology, Communications
DAKWAH DAN FENOMENA WANlTA DALAM IKLAN TELEVISI Wahidah Suryani
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i1.295

Abstract

Abstract; Iklan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari media massa, kelangsungan hidup media massa tersebut tergantung ada atau tidaknya iklan. Oleh karena itu, media massa berlomba-lomba mendapatkan iklan dengan melakukan berbagai cara. Sebuah proses komunikasi secara otomatis akan menghadirkan seorang komunikator, pesan, media, komunikan dan efek. Informasi akan diterima secara efektif oleh khalayak bila disalurkan atau disampaikan melalui media yang tepat. Pemilihan saluran yang tepat ini sangat penting karena merupakan salah satu komponen penting berhasil tidaknya proses komunikasi. Televisi acapkali dilihat dengan setengah hati. Di satu sisi ia menjadi hiburan yang menyihir, di sisi lain ia menjadi kecemasan yang berkepanjangan karena itu, tidak aneh muncul ungkapan yang paradoks, cara untuk menyukai televisi justru dengan membencinya. Iklan televisi terkesan "hidup" karena peran yang sangat besar dari copywriter dan visualiser . Iklan yang ditampilkan lewat televisi relatif lebih diingat oleh khalayak dibandingkan media lainnya. Pembaca surat kabar tidak akan pemah bisa mengingat tema lagu suatu iklan. Begitu juga pendengar radio tidak akan pemah bisa melihat bagaimana ekspresi wajah yang mencerminkan kenikmatan ketika model iklan meminum minuman ringan. Pada media televisi, keterbatasan daya ingat khalayak sasaran dalam hal visual dan audio bisa diminimalkan karena dua sisi ini bisa ditampilkan bersamaan. Beberapa implikasi negatif wanita dalam iklan televisi yang bisa ditemukan dalam masyarakat diantaranya: membuat wanita berusaha selalu tampil menarik sesuai dengan gambaran wanita ideal dalam iklan televisi.Kata Kunci; Dakwah, Wanita, Iklan Televisi                                  Advertising is an integral part of the mass media. The survival of the mass media depends on whether there is an advertisement or not. Therefore, the mass media is running on to get  many advertisment by variety of ways. A communication process will automatically bring a communicator, message, media, communicant and effect. Information will be effectively received by the audience when distributed or delivered through appropriate media. The selection of the right channel is very important because it is one of the important components of the success of the communication process. Television is often seen with a half-hearted. On the one hand, it is a good entertainment, but it becomes prolong anxiety. Therefore, there is a paradox saying appears that a way to love television is to hate it. Television commercials seem "alive" because of the enormous role of copywriter and visualiser. Advertisement presents on television relatively more memorizes to the audience than other media. Newspaper reader will never be able to remember the theme song of an advertisement. Likewise, radio listeners will never get to see how the facial expressions that reflect enjoyment when drinking soft drinks advertising model. In the television media, the limitation memory of target audience in terms of visual and audio can be minimized because the two of them can be displayed simultaneously. Some of the negative implications of women in television advertising that can be found in the community are to make women try to always look attractive in the image of the ideal woman in television advertising Keywords; Da'wah, Women, Television Ads
Narasi Sebagai Agen Politik; Seduksi Narrative Empire dalam Bingkai Hegemoni Intertekstualitas. Sebuah Respon Islami Syamsul Asril
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.330

Abstract

Abstract; Politik senantiasa terpaut dengan narasi, bahkan politik adalah sebentuk narasi tentang konflik rasionalitas tentang (definisi dan praktik) keadilan, kepemimpinan dan kekuasaan dalam ruang sosial. Paparan berkebalikan pun bisa diuraikan, bahwa narasi adalah sebentuk politik. Setiap narasi adalah perjuangan tekstual (wicara/bicara-tulisan) untuk membuat sebuah hal-ihwal diterima dan membuat hal-ihwal yang lain ditolak atau setidaknya ditunda untuk diterima dalam ruang sosial. Narasi adalah pewacanaan diri sendiri sang aparatus untuk memenangkan modal sosial berupa expertition (otoritas sebagai ahli) sehingga percakapan/¬pengujarannya sah dikarenakan dilakukan oleh ahli yang terlatih. Empire inilah yang membuat aktor politik dan narasi alternatif kontemporer tersandera habis-habisan dan tidak mampu mengambil posisi lain kecuali menunduk-dalam-nikmat di hadapan agenda tunggal empire yakni akumulasi kapital melalui militerisasi dan digitalisasi industri. Absensi sakralitas merupakan syarat mutlak bagi berlakunya ontologi yang dipaksakan melalui bujukan secara fisik dan simbolik oleh empire. Absensi sakralitas dalam ruang sosial dimulai dengan pengingkaran taksonomi tradisional atas ilmu. Mengikuti pembagian tradisional, ilmu terpilah ke dalam dua bagian besar, yakni ilmu naqliyah (ilmu nukilan yang sumbernya adalah otoritas yang otoritatif tapi tidak otoriter, dikembangkan dengan metodologi taqlidi) dan ilmu ‘aqliyah (ilmu intelektual yang sumbernya adalah akal suci sang intelektual, dikembangkan dengan metodologi tahkiki). kesempurnaan manusiawi di sini termasuk di dalamnya potensi yang dimiliki manusia untuk menyikapi setiap narasi thaguti dalam bingkai profetik dengan jalan mengenali, membelokkan, memparodikan selan¬jutnya mentransendensikan narasi tadi kembali kepada sumbernya. Kata Kunci: Narasi, Agen Politik, Respon Politics is always connected with the narrative, even politics is a form of narrative about the rationality of the conflict (the definition and practice of) justice, leadership and power in the social space. Exposure contrasts can be described, that narrative is a form of politics. Each narrative is a textual struggle (speech / speech-writing) to make an acceptable individual things and make other individual things rejected or at least postponed for acceptance in the social space. Narrative discourse itself is the apparatus to win the social capital of expertition (authority as experts) so that the conversation / ¬saying valid because conducted by trained experts. Empire is what makes political actors and contemporary alternative narrative hostage to all-out and not able to take any other position except down-in-favor in the presence of a single agenda of empire that is the accumulation of capital through militarization and digitizing industry. Sakralitas attendance is a necessary condition for the entry into force of ontologies that are imposed by persuasion physically and symbolically by the empire. Attendance sakralitas in social space starts with the traditional taxonomy on science denial. Following the traditional division, science divided into two major parts, namely science naqliyah (excerpt from the source of knowledge is authority authoritative but not authoritarian, developed the methodology taqlidi) and science 'aqliyah (intellectual knowledge source is a sacred sense of the intellectual, developed by tahkiki methodology). human perfection here including human potentials to address any prophetic narrative thaguti in the frame by way of recognizing, deflect, parodied further transcends narrative was back to its source. Keywords : Narrative, Agent Politic, Response
KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN IKLIM KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI Ida Suryani Wijaya
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i1.318

Abstract

Abstract; Komunikasi merupakan aktivitas dasar manusia, dengan berkomunikasi manusia dapat berhubungan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari dimanapun manusia itu berada. Organisasi adalah sistem yang mapan dari mereka yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan dan pembagian tugas. Salah satu ciri komunikasi organisasi yang paling nyata adalah konsep hubungan (relationship). Organisasi sebagai sebuah jaringan hubungan yang saling bergantung. Jika sesuatu saling bergantung, ini berarti bahwa hal-hal tersebut saling mempengaruhi dan dipengaruhi satu sama lain. Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal. Komunikasi interpersonal sebagai komunikasi anatar komunikator dengan komunikan, dianggap sebagai jenis komunikasi yang paling efektif dalam hal upaya mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang. Komunikasi interpersonal yang berlangsung secara intensif dengan mengutamakan aspek kuantitas dan kualitas yang seimbang, akan menciptakan hubungan interpersonal yang kuat antara atasan dan bawahan serta antarsesama karyawan, sehingga keterbukaan dan kepercayaan yang didapat dari proses komunikasi tersebut dapat turut menentukan perubahan sikap dan tingkah laku dalam organisasi. Kepuasan komunikasi membawa hubungan dengan kepuasan kerja, kepuasan kerja merupakan respons seseorang terhadap bermacam-macam lingkungan kerja yang dihadapinya, seperti teman sekerja, kebijakan, promosi dll. Pentingnya iklim yang mendukung dalam komunikasi organisasi lebih ditekankan untuk mendapatkan kepuasan kerja. Pimpinan sebagai orang yang bertanggung jawab dalam organisasi dapat memberikan kontribusi dalam membangkitkan iklim komunikasi yang baik dalam organisasinya. Kata Kunci : Komunikasi, Interpersonal, Iklim, Organisasi Communication is a basic human activity, with people communicate can relate to each other in everyday life wherever human being. Organization is established system of those who work together to achieve a common goal, through the ranks and division of tasks. One characteristic of most real organizational communication is the concept of the relationship (relationship). Organization as a network of interdependent relationships. If something interdependent, this means that these things affect each other and influenced each other. Interpersonal communication is communication between people face to face, which allows each participant capture the reactions of others directly, either verbally or nonverbally. Interpersonal communication as communication between communicator with communicant, regarded as the most effective type of communication in terms of efforts to change attitudes, opinions, or behavior. Interpersonal communication that takes place intensively with emphasis on the quantity and quality aspects are balanced, will create strong interpersonal relationships between superiors and subordinates and employees between people, so that openness and trust gained from the communication process can also determine changes in attitudes and behavior within the organization. Satisfaction communication carries relationship with job satisfaction, job satisfaction is an individual's response to various working environment it faces, such as coworkers, policy, promotion etc. The importance of a favorable climate in organizational communication is emphasized to obtain job satisfaction. Leadership as a responsible person in the organization can contribute to generate good communication climate in the organization Keywords : Communication , Interpersonal , Climate , Organization
PERAN WARTAWAN MUSLIM DALAM KEGIATAN DAKWAH Abdul Wahid
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.353

Abstract

Abstract; Dunia dakwah mengalami tantangan yang semakin berat terutama sejak berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta semakin kompleksnya masalah kemasyarakatan yang dihadapi oleh manusia. Di sisi lain, perkembangan media komunikasi yang semakin modern tampaknya akan sangat membantu aktivitas dakwah Islam. Peluang dakwah Islam akan semakin terbuka lebar ketika para da’i mampu memanfaatkan media massa dengan meminimalisir dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif dari media yang ada. Eksistensi jurnalis dalam konteks pemberi informasi kepada masyarakat melalui media yang digelutinya sangat urgen dalam ikut membangun opini publik (public opinion) termasuk umat Islam. Dalam bahasa dakwah maka wartawan dapat disepadankan dengan da’i (mubalig), dengan alasan bahwa da’i bertugas memberikan informasi kebenaran dalam masalah keislaman dalam arti seluas-luasnya dan dalam bingkai amar ma’ruf nahi munkar, sementara wartawan bertugas memberikan informasi yang positif terkait dengan berbagai masalah baik politik, sosial, budaya, ekonomi dan lain sebagainya. Dewasa ini, ketika masyarakat semakin pandai dengan adanya perkembangan teknologi dan komunikasi, seharusnya para da’i (juru dakwah) lebih pandai dalam memanfaatkan media yang ada. Media massa baik cetak maupun elektronik menjadi sarana yang dinilai efektif dalam penyampaian pesan dakwah. Sifat pesan dari media massa terutama media-media modern seperti internet adalah lebih luas serta tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Sehingga para mad’u dapat dengan mudah memperoleh materi-materi dakwah kapan saja. Umat Islam sangat mendambakan ada sosok seorang wartawan muslim dalam tataran realitas bukan hanya pada tataran wacana, masih adakah sosok wartawan muslim saat ini di Indonesia khususnya Kata Kunci: Peran, Jurnalis, Aktivitas World da’wa experiencing increasing challenges, especially since the development of science and technology and the increasing complexity of the social problems faced by humans. On the other hand, the development of modern communication media increasingly seems to be very helpful Islamic missionary activity. Islamic missionary opportunities will be open when the preacher is able to utilize the media to minimize the negative impacts and maximize the positive impact of the media. Existence of journalists in the context of a conduit of information to the public through the media that they do very urgent in participating public opinion (public opinion), including Muslims. In the language of da’wa, the reporter can be matched with the preacher, on the grounds that the preacher in charge of providing information of truth in Islamic affairs in the broadest sense and in the frame of commanding the good and forbidding the evil, while the journalist in charge of providing information that is positive associated with various problems either political, social, cultural, economic, and so forth. Today, when the public is getting smarter with the development of technology and communication, should the preacher (preacher) more proficient in using the media. Mass media both print and electronic means, is effective in the delivery of propaganda messages. The nature of the message of the mass media, especially modern media such as the internet is broader and is not limited by space and time. So the mad'u can easily obtain propaganda materials anytime. Muslims are eager there is the figure of a Muslim journalist in levels of reality not only at the level of discourse, there still figure Muslim reporters today in Indonesia, especially Keywords: Role, Journalist, Activity
EKSPRESI BUDAYA LEKSIS SETIA DARI PERSPEKTIF MAKNA DAN NILAI: ANALISIS BERBANTU DATA KORPUS Hishamudin Isam
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.309

Abstract

Abstract; Bahasa dapat melambangkan pemikiran dan mencerminkan identiti penuturnya. Bahasa jugalah yang menentukan pembentukan fikiran berdasarkan bentuk-bentuk dan golongan-golongan yang ada di dalamnya. Konsep SATHYA dengan penerima konsep SATHYA tersebut. Hubungan spiritual ini telah mengikat pengamal konsep SATHYA untuk mempercayai dan mengamalkan konsep tersebut sedaya mungkin. Perincian makna dan nilai konsep SATHYA yang begitu mendalam, khususnya untuk menjelaskan pemahaman aspek keagamaan dan falsafah bagi agama Hindu, telah menimbulkan suatu pertanyaan yang besar iaitu, adakah pengubahsuaian bentuk fizikal dari sathya kepada setia turut mempengaruhi peluasan makna dan nilai leksis tersebut dalam bahasa Melayu. Dalam pengiraan jumlah kekerapan, hanya leksis yang dianggap content atau dominat lexical sahaja yang akan diselidiki prosodi semantiknya, iaitu leksis dari golongan kata nama, kata kerja dan kata adjektif. Keadaan ini disebabkan oleh, hanya leksis yang dianggap content atau dominant lexical sahaja yang dapat menyerlahkan nilai bagi sesuatu leksis. Kecenderungan penutur menggunakan sesuatu leksis dalam pertuturan hariannya sehingga berupaya memancarkan manifestasi makna dan nilai, berupaya menyerlahkan bukti berkenaan ekspresi budaya yang terhasil daripada penggunaan sesuatu leksis. Buktinya, kepelbagaian makna setia yang dipancarkan menerusi penggunaannya, serta nilai yang tersirat di sebalik penggunaan leksis tersebut yang dibincangkan dalam makalah ini, dapat dihurai secara emperikal dan saintifik berdasarkan disiplin linguistik kognitif. Keadaan ini sekali gus dapat membuktikan bahawa terdapatnya jalinan yang tersurat dan tersirat antara realiti penggunaan bahasa. Kata Kunci: Ekspresi, Budaya, Leksis, Setia Language can symbolize and reflect the identity of native speakers. Language can also determine the formation of mind based on the forms and factions within it. The concept of SATHYA does within the recipient. This spiritual relationship has tied SATHYA’s believers to believe and practice the concept as possible they can. The Detail meanings and concept values of SATHYA is so profound, especially to clarify the understanding of religious and philosophical aspects of Hinduism, has raised a great question whether there is any physical form of sathya customized into the loyal also influencing the expansion of the meaning and leksis values in Malay or not. In counting the number of occurrences, only leksis is considered the content or lexical dominance that only to be investigated its semantic prosody such as leksis of word class names, verbs, and adjectives. This situation is caused by that just leksis considered lexical as a content or lexical dominance that only can explain values into leksis. The tendency of speakers to use leksis in daily life that seeks to radiate the manifestation of meanings and values and explains evidence in respect of cultural expression that is brought about by using leksis. It shows that loyal diversity emitted to its users as well as the implicit values in the use of leksis reverse can be empirically and scientifically elucidated based discipline on cognitive linguistics. This situation can prove that there is a presence of reality of language use both explicit and implicit. Keywords: Expression, Culture, Leksic, Loyal
REGULASI MEDIA DI INDONESIA (Tinjauan UU Pers dan UU Penyiaran) Muhammad Anshar Akil
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.344

Abstract

Abstract; Media merupakan salah satu lembaga penting bangsa. Untuk melaksanakan peran dan fungsi media yang benar, media harus menerapkan peraturan secara profesional. Perilaku media tidak dapat dilepaskan dari kepentingan pihak-pihak yang terkait dengan sistem media. Secara umum, pers adalah seluruh industri media yang ada, baik cetak maupun elektronik. Namun secara khusus, pengertian pers adalah media cetak (printed media). Dengan demikian, Undang-Undang Pers berlaku secara general untuk seluruh industri media, dan secara khusus untuk media cetak. Peraturan dapat menjadi hukum yang ditetapkan oleh pemerintah (seperti UU Pers); atau kode etik yang ditetapkan oleh wartawan atau organisasi profesi (seperti Kode Etik Jurnalistik). Peraturan pers di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Untuk mendukung pelaksanaan UU Pers, Dewan Pers menetapkan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Sedangkan peraturan media penyiaran yang ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Sebagai penjabaran dari UU Penyiaran, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menetapkan Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) sebagai proses batas pembuatan program siaran; dan Penyiaran Standar Program (SPS) sebagai batas program siaran dalam pengiriman. besarnya harapan masyarakat terhadap peran media untuk ikut serta dalam mengatasi masalah-masalah bangsa. Perwujudan fungsi normatif media sangat ditentukan oleh profesionalisme media; sedangkan profesionalisme media dapat diketahui dari sejauh mana perilaku media menjunjung tinggi peraturan maupun kode etik media yang berlaku di Indonesia. Kata Kunci: Regulasi Media, Pers, Broadcasting, Profesionalisme Media is one of the important institutions of the nation. To carry out the role and functions of the correct media, the media must apply the rules in a professional manner. The behavior of the media can not be separated from the interests of the parties related to the media system. In general, the press is all over the media industry, both print and electronic. But in particular, the notion of the press is the print media (printed media). Thus, the Press Law applies in general to the entire media industry, and in particular for the print media. Rule of law can be set by the government (such as the Press Law); or code of conduct established by the journalist or professional organizations (such as the Code of Ethics of Journalism). Regulation of the press in Indonesia is regulated by Law No. 40 of 1999 on the Press. To support the implementation of the Law on the Press, Press Council set Journalistic Code of Ethics (KEJ). While the broadcast media regulations established by Act No. 32 of 2002 on Broadcasting. As an elaboration of the Broadcasting Act, the Indonesian Broadcasting Commission (KPI) set Broadcasting Code of Conduct (P3) as the limit of making the broadcast program; and the Broadcasting Standards Program (SPS) as the limit in the broadcast program delivery. the magnitude of society's expectations of the role of the media to participate in solving the problems of the nation. Embodiments of the normative function of media is largely determined by the professionalism of the media; while the media professionalism can be seen from the extent to which the behavior of the media uphold the rules and codes of conduct applicable in Indonesian media. Keywords: Media Regulation, Press, Broadcasting, Professionalism
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI: AKAR REVOLUSI DAN BERBAGAI STANDARNYA Amar Ahmad
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i1.300

Abstract

Abstract; Informasi merupakan unsur pokok yang secara implisit melekat dalam konsep pembangunan yang terencana. Meskipun peranan informasi dalam beberapa dekade kurang mendapat perhatian, namun sesungguhnya kebutuhan akan informasi dan komunikasi itu merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dari kebutuhan sandang dan pangan manusia. Kegiatan pembangunan manapun juga hanya dapat berlangsung dan mencapai sasaran bila dalam setiap tahapannya –perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan- didasarkan pada informasi yang memadai. Informasi memang diperoleh melalui kegiatan komunikasi tetapi yang sesungguhnya yang menentukan nilai komunikasi adalah informasi yang dibawa. Revolusi informasi, biasanya difahami sebagai perubahan yang dihasilkan oleh teknologi informasi. Dua bentuk teknologi komunikasi manusia yang terpenting adalah teknologi untuk menyalurkan informasi dan sistem komputer modern untuk memprosesnya. Dikatakan revolusi karena dapat memberikan perubahan yang amat cepat dalam kehidupan manusia. Hal yang mendasar dari teknologi komunikasi dan informasi adalah standar. Sementara itu, perkembangan jaringan amat membutuhkan sebuah standar sistem operasional. Ketika seseorang menggunakan jaringan untuk berkomunikasi dengan orang lain, maka sesungguhnya dia secara tidak langsung membutuhkan sistem yang kompatibel antara satu dengan lainnya.. Keterikatan antara standar, jaringan dan sistem ibarat perekat dalam menunjang komunikasi bersama. Teknologi memang dapat memberi berbagai dampak positif dan negatif, tetapi dengan pemahaman yang paripurna terkait problematika dan dinamika teknologi yang berkembang, maka setiap individu dan masyarakat yang ada di sebuah Negara akan menjadi Penguasa teknologi dan bukan sebaliknya menjadi masyarakat yang dikuasai dan dikendalikan oleh teknologi. Kata Kunci:Teknologi, Revolusi Komunikasi dan Informasi, Standar Teknologi Information is a fundamental element that is implicitly inherent in the concept of a planned development. Although the role of information in a few decades have received less attention, but the real need for information and communication it is no less important than human food and clothing needs. Any construction activity also can only take place and reach the target when in every stage -Planning, implementation, and controls based on adequate information. Information is obtained through communication activities but true that determines the value of communication is information carried. Information revolution, usually understood as changes generated by information technology. Two forms of human communication that is the most important technology is to distribute information technology and modern computer systems to process it. It said the revolution because it can provide a very rapid change in human life. The fundamental of communication and information technology is standard. Meanwhile, network development in desperate need of a standard operating system. When someone uses the network to communicate with other people, then surely he is not directly require a system that is compatible with one another .. Entanglement between standards, networks and systems like adhesive in the joint communication support. The technology is able to provide a wide range of positive and negative effects, but with a complete understanding of related problems and dynamics of evolving technology, the individual and society is in a state will be the Lord of the technology and not the other way into a society dominated and controlled by technology. Keywords:Technology, Information and communication revolution, Technology standards
DAKWAH MELALUI SINETRON (Fenomena Sinetron Religius) St. Nasriah St. Nasriah
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.335

Abstract

Abstract; Berdakwah itu tidak hanya terbatas pada perbuatan-perbuatan tertentu seperti: ceramah agama, khutbah atau pengajian saja, tetapi meliputi seluruh kegiatan yang dapat memberikan motivasi dan dorongan kepada orang lain untuk berbuat kebajikan dan memperlihatkan syiar Islam. Acara televisi yang paling disukai pemirsa adalah sinetron, sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa sinetron dan iklan menjadi suatu andalan para pemilik stasiun televisi untuk menjaring pemirsanya. Tujuan sinetron, seperti halnya dengan media massa lainnya sinetron pada intinya mempunyai tujuan tertentu dalam penyampainnya, diantaranya yaitu, bertujuan untuk memberikan pendidikan dan hiburan. Salah satu acara di televisi yang beberapa waktu lalu menarik perhatian para pemirsanya adalah tayangan-tayangan sinetron yang bernafaskan mistis religious. Di kalangan akademisi dakwah, munculnya tayangan sinetron mistis yang dikemas dengan menggunakan simbol-simbol kegamaan tersebut memang masih menjadi persoalan, apakah sinetron tersebut dapat disebut sebagai sinetron dakwah atau tidak. untuk memperoleh keberhasilan dalam program penayangan di televisi melalui dua bentuk yaitu dominasi format dan dominasi bintang yang dilengkapi dengan elemen keberhasilan yang terdiri dari konflik, durasi, kekuasaan, konsistensi, energy, timing dan tren. Berdakwah melalui sinetron adalah salah satu peluang bagi umat Islam namun perlu diperhatikan keterlibatan aktif dari berbagai pihak khususnya produsen dan penonton. Produsen harus lebih kreatif untuk membuat sinetron dakwah yang bermutu dan umat Islam juga harus mau menonton hasil dari kreatifitas pembuatan sinetron dakwah tersebut. Kata Kunci: Dakwah, Sinetron Preaching was not just limited to certain acts such as: religious lectures, sermons or lectures alone, but includes all the activities that can provide motivation and encouragement to others to do good and show the greatness of Islam. The most preferred television shows are soap opera viewers, has become common knowledge that soap operas and commercials became a mainstay of the owners of television stations to attract viewers. The purpose soap operas, as well as other mass media soap opera at its core has a specific purpose in penyampainnya, among which, aims to provide education and entertainment. One television show that some time ago attracted the attention of the viewers are the shows that having a mystical religious soap opera. In academic circles propaganda, the emergence sinetrons mystical packaged using of religious symbols is indeed still a problem, if it can be called as a soap opera soap opera propaganda or not. to obtain success in the program aired on television through two forms of domination and domination star format incorporating elements of success which consists of conflict, duration, power, consistency, energy, timing and trends. Preaching through the soap opera is one of the opportunities for Muslims but to note the active involvement of various stakeholders, especially producers and audiences. Manufacturers have to be creative to make soap opera quality propaganda and Muslims also have to be willing to watch the result of the creativity of making da’wa soap operas. Keywords: Da’wa, Soap opera