cover
Contact Name
Nur Arifin
Contact Email
diskursus@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
diskursus@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Diskursus Islam
ISSN : 23385537     EISSN : 26227223     DOI : -
Jurnal Diskursus Islam adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar yang merefleksikan diri sebagai wadah akademik untuk publikasi artikel ilmiah. Jurnal ini menfokuskan pada kajian/studi islam dalam berbagai aspeknya yang diharapkan dapat memberi referensi bagi pembaca dalam pengembangan wawasan akademik dan keilmuan.
Arjuna Subject : -
Articles 357 Documents
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM HUMANISTIK DENGAN PENDEKATAN ACTIVE LEARNING DI MTsN 1 BOMBANA Agus Akmal; Nurman Said; Muhammad Khalifah Mustami
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 3 (2018): December
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i3.6543

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam berbasis humanistik dengan pendekatan active learning di MTs Negeri 1 Bombana; 2) mengetahui hasil pembelajaran pendidikan agama Islam berbasis humanistik dengan pendekatan active learning di MTs Negeri 1 Bombana, 3) mengetahui kendala yang dihadap oleh siswa dan guru pada pembelajaran pendidikan agama Islam berbasis humanistik dengan pendekatan pembelajaran aktif (active learning) di MTs Negeri 1 Bombana. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian yang digunakan adalah: pendekatan konstruktivisme, pendekatan saintifik, pendekatan realistik, dan pendekatan pedagogis. Adapun sumber data penelitian ini adalah: Kepala Madrasah, Wakil Kepala Madrasah, dewan guru, dan peserta didik. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan tiga tahap, yaitu: reduksi data, paparan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa implementasi pembelajaran PAI humanistik dengan pendekatan active learning, harus melalui tiga tahapan yakni: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi, beberapa upaya yang yang harus dilakukan yakni melengkapi berbagai buku referensi atau buku penunjang pembelajaran, guru diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan workshop atau pelatihan, paling tidak sesering mungkin bertukar pikiran dengan guru terkait pembelajaran PAI humanistik dengan pendetan active learning. Implikasi dari penelitian ini adalah: 1) Pembelajaran PAI humanistik dengan pendekatan active learning, perlu dikembangkan terutama terkait implementasi pola pembelajaran PAI yang humanis; 2) Metode Pembelajaran PAI dengan pendekatan active learning harus lebih variatif agar siswa tidak merasa merima pelajaran dengan metode yang monoton. 3) Hasil pembelajaran PAI humanistik dengan pendekatan active learning, harus terpenuhi tiga ranah pendidikan yakni: ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. 4) Partisipasi orang tua pada kegiatan proses pembelajaran hendaknya sejalan dengan program pembelajaran yang diterapkan di sekolah terutama dalam pembelajaran PAI agar program pembelajaran tercapai sesuai yang diinginkan.
EFEKTIFITAS PENGELOLAAN WAKAF DI PROVINSI GORONTALO Ayyub Ishak
Jurnal Diskursus Islam Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v2i2.6519

Abstract

Artikel ini membahas tentang perwakafan di Provinsi Gorontalo dengan fokus pembahasan bertolak dari permasalahan pokok, yaitu bagaimana optimalisasi perwakafan di Provinsi Gorontalo. Jenis Penelitian ini adalah penelitian kualitatif lapangan yang berlokasi di Provinsi Gorontalo, pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan syar’i/teologis normatif, sosiologis, sejarah dan manajemen. Pengumpulan data menggunakan teknik; observasi, wawancara dan dokumentasi. Pengolahan dan analisis data diawali dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perwakafan di Provinsi Gorontalo perlu dioptimalkan penanganan dan pengembangannya, karena umumnya harta wakaf digunakan untuk penyediaan fasilitas ibadah dan pendidikan yang diselenggarakan oleh organisasi kemasyarakatan dan yayasan. Upaya nazir dalam mengelola dan mengembangkan harta wakaf dilakukan melalui program pengklasifikasian jenis harta wakaf, potensi/produktivitas, nazir profesional agar pengelolaan harta wakaf lebih optimal. Pengoptimalan pengelolaan harta wakaf bertujuan untuk memperoleh hasil yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan tujuan dilakukannya wakaf, optimalisasinya diarahkan kepada pengelolaan yang bernilai ekonomi.ABSTRACTThis article discusses about property donated (wakaf) and its endurance in Gorontalo Province. The focus of the discussion is based on the central issue, is how the endurance of property donated (wakaf) in Gorontalo Province. This research is field research which by adapting qualitative research methodology, and using normative theologies approach, sociology approach, historical approach, and management approach. The data source is taken from primer and secondary data. The result of this research shown that the department, the organization or the institute who control the property donated (wakaf)  has been doing socialization of how importance of property donated (wakaf), The effort and the program of the supervisors (nazir) in developing and endeavoring  the potency of property donated  in Gorontalo Province, is shown from their effort in arranging legality formal of the property donated (wakaf) both in certificate of property donated statements and in certificate of land donated, the beneficial of property donated (wakaf) which is still potential and productive. The benefit of productivity of property donated for Muslim societies in Gorontalo Province, is the beneficial of the result of property donated management for the necessity of public societies.
METODE FLEKSIBILITAS GURU-GURU PESANTREN DARUD DAKWAH WAL-IRSYAD MANGKOSO DALAM MENCEGAH FAHAM RADIKALISME Muhsin Muhsin; Moch. Qasim Mathar; Mahmuddin Mahmuddin
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 3 (2018): December
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i3.6548

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang fleksibilitas guru-guru dalam mencegah faham radikalisme dan sekularisme di kalangan santri Pondok Pesantren DDI Mangkoso Barru. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yang dilaksanakan pada Pondok Pesantren DDI Mangkoso Barru. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan multi disipliner yang mencakup pendekatan spiritual, psikologis, pedagogis, yuridis, fenomenologis, dan historis. Sumber data dalam penelitian ini adalah pimpinan pondok pesantren, kepala kampus, wakil kepala kampus, kepala madrasah, wakil kepala madrasah, guru akidah akhlak, pembina asrama, profil pesantren, data tenaga pendidik dan kependidikan serta data santri. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri sebagai key instrumen, artinya peneliti sendiri sebagai instrumen kunci dan penelitian disesuaikan dengan metode yang digunakan. Penulis menggunakan satu jenis instrumen yaitu; “Pedoman Wawancara”. Pengolahan dan analisis data mengikuti teori Miles dan Huberman, melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data (display data) dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga macam, yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fleksibilitas guru-guru pondok pesantren DDI Mangkoso pada dasarnya mendukung semua asumsi dasar dari faham konstruktivisme. Yang menjadi alatnya atau media untuk mengaplikasikan teori fleksibilitas, agar bisa memberikan pengalaman realistis yang berbeda dan otentik kepada setiap individu dalam menangkal faham radikalisme dikalangan santri pesantren DDI Mangkoso, yang peniliti temukan di lapangan adalah guru-guru pondok pesantren DDI Mangkoso dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, ilmu-ilmu ushul yang menjadi kompotensi utama diajarkan.
IMPLEMENTASI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBINAAN AKHLAK MULIA BAGI ANAK PANTI ASUHAN DI KOTA MAKASSAR Husen Sarujin
Jurnal Diskursus Islam Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v2i2.6524

Abstract

Penelitian terhadap Panti Asuhan dianggap penting untuk dilakukan karena dengannya dapat diketahui efektivitas pembinaan anak-anak panti, dan berbagai kendala yang dihadapinya, serta solusinya dalam upaya pembentukan akhlak. Manajemen sarana dan prasarana merupakan kendala utama yang dihadapi panti asuhan di Kota Makassar. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian panti asuhan masih menempati rumah kontrakan padahal tempat tinggal merupakan kebutuhan primer dalam kehidupan. Di samping itu, manajemen keuangan juga menemui hambatan kurangnya perhatian dan bantuan dari pihak pemerintah terkait, seperti Pemerintah Kota (Pemkot) melalui Dinas Sosial, dan dinas lain yang terkait, serta donatur tidak tetap. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga kategori pola pendidikan pada panti asuhan, yakni pendidikan otoriter, demokratis dan permisif, tetapi yang paling dominan adalah pendidikan demokratis. Pola pembinaan akhlak mulia bagi anak panti asuhan di Kota Makassar dapat tercapat dilihat dari ouput berupa akhlak mulia bagi anak panti asuhan, berbeda dengan anak lain yang ada di luar panti asuhan. ABSTRACTThe research about orphanage is considered important to do because it can comprehend the effectiveness of orphans development, the obstacles faced by the orphanage as well as the solutions in an effort of moral formulation. The infrastructure management is a major challenge facing by the orphanage in Makassar. The fact shows that some orphanages are still occupying the rented house when shelter is a primary need in life. In addition, financial management also encounters  obstacles the lack of attention and support from the relevant goverment such as city goverment through social services, other related agencies, and aslo from unfixed donors. This research shows that there are three categories of education pattern of the orpahanage, namely, authoritarian, democratic, and permissive, but the most dominant is democratic education. The pattern of moral building for orphans in Makassar can be regarded successful if those orphans are more noble compared to other children who live outside the orpahanage.
GEORGE WILHELM FREDRICH HEGEL : Metafisika, Epistemologi dan Etika Rafi’ah Gazali
Jurnal Diskursus Islam Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v2i1.6511

Abstract

Hegel merupakan filosof yang memperkenalkan metode dialektika yang terdiri dari apa yang disebut dengan thesis - antitesis dan sintesis. Namun demikian, pada tahapan berikutnya, sintesis akan berubah menjadi tesis baru yang akan berhadapan dengan antitesis yang baru pula, dan begitulah seterusnya. Logika menurut Hegel bukanlah pengertian logika tradisional (yaitu ajaran tentang bentuk-bentuk dan hukum berfikir), melainkan ilmu yang memandang roh atau idea dalam dirinya, bebas dari ruang dan waktu. Persoalan dialektika yang terdiri dari tesis, antitesis dan sintesis tersebut makin lama makin menanjak. Dimulai dari persoalan tentang waktu dan ruang sebagai tempat kejamakan yang tanpa batas, dimana Idea telah tersesat untuk naik kepersoalan keterbatasan individual, yang akhirnya akan menanjak pada roh yang mutlak, melalui tingkatan yang bermacam-macam.ABSTRACTHegel is a philosopher who introduces dialectic method containing what it is called the thesis- antithesis, and synthesis. However, in next stage, the synthesis would become a new thesis that will be dealing with a new antithesis as well and so on. According to Hegel logic is not the logic of traditional sense (that is, a concept about forms and rules of thinking), but is a science seeing spirit or idea in itself, free from space and time. The matter of the dialectic that consists of thesis, antithesis, and synthesis are becoming more and more uphill. It is started from the question of time and place as space of infinite multiplicity, in which the idea has been lost to reach the question of individual limitation, and eventually will climb to the absolute spirit through various stages.
INDAHNYA KEBERSAMAAN [Sebuah Ikhtiar dalam Membangun Kampus Bertaqwa Untuk Membawa Berkah (BERUBAH) dalam Perspektif Hadis] La Ode Ismail Ahmad
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 2 (2018): August
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i2.6554

Abstract

Islam adalah agama kebersamaan. Ajakan agama untuk hidup bersama dilandasi oleh posisi, kedudukan dan kapasitas manusia sebagai makhluk sosial. Salah satu upaya yang efektif dalam memperkukuh kebersamaan adalah kesadaran untuk mengembangkan dialog secara intensif di kalangan anggota masyarakat, baik antara satu individu dan individu lain, maupun antara satu kelompok dan kelompok lain dalam suatu masyarakat. Kebersamaan dalam Islam disebut dengan al-jama’ah. Makna al-jama’ah dalam hadis dari 171 kali penyebutannya, dapat dikategorisasikan –untuk sementara sebagai kajian awal—dalam empat hal, yakni kebersamaan dalam ibadah, kebersamaan merupakan sumber rahmat, kebersamaan merupakan sumber berkah dan kebersamaan melahirkan ‘tangan’ [kekuasaan dan pertolongan] Allah. Kebersamaan merupakan sumber rahmat dari Allah swt., karena rahmat-Nya hanya terdapat pada mereka yang menyebarkan rahmat di muka bumi. Mereka dapat membangun hidup dengan kebersamaan jika tidak ada kebencian dan kecemburuan dalam dada mereka, yang ada hanyalah kasih sayang di antara mereka. Kebersamaan akan melahirkan kebaikan-kebaikan sebagai implikasi dari saling menghormati, saling membantu, saling merasakan dan saling menghargai di antara anggota masyarakat. Prinsip dan karakter seperti ini harus dimiliki oleh setiap orang agar tercipta sebuah kerukunan dalam berinteraksi secara horizontal. Kebersamaan dapat dibangun jika masing-masing individu memiliki sikap untuk saling memberi pertolongan. Pertolongan kepada sesama manusia akan melahirkan pertolongan dari Allah swt. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah, Nabi bersabda, ‘Allah akan selalu memberi pertolongan kepada seseorang selama ia memberi pertolongan kepada saudaranya [sesamanya]. Ungkapan Nabi di atas menunjukkan bahwa pertolongan Allah akan datang melalui kerjasama antara manusia. Sebagai makhluk sosial, seseorang harus sadar bahwa ia tergantung kepada pihak lain, di mana kebutuhannya tidak dapat terpenuhi melalui usahanya, usaha kelompoknya bahkan usaha bangsanya sendiri. Hidup hanya mungkin dan nyaman apabila dibagi dengan orang lain, sehingga masing-masing berperan serta dalam menyediakan kebutuhan bersama.
PENGARUH KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK MTSN 2 BONE KABUPATEN BONE Arisman Arisman; Abd. Rahman Getteng; Nuryamin Nuryamin
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 3 (2018): December
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i3.6544

Abstract

Pokok masalah penelitian ini adalah bagaimana pengaruh kompetensi kepribadian dan profesional guru terhadap motivasi belajar peserta didik MTsN 2 Bone? Pokok masalah tersebut kemudian dijabarkan ke dalam beberapa 3 sub masalah penelitian, yaitu: (1) Bagaimana kompetensi kepribadian guru MTsN 2 Bone? (2) Bagaimana motivasi belajar peserta didik MTsN 2 Bone? (3) Seberapa besar pengaruh kompetensi kepribadian guru terhadap motivasi belajar peserta didik MTsN 2 Bone? Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Kompetensi kepribadian guru MTsN 2 Bone berada pada kategori sedang, dengan frekuensi 10 dan persentase 55% dengan nilai rata-rata 76,01 dari skor idel 80. (2) Motivasi belajar peserta didik MTsN 2 Bone berada pada kategori sedang, dengan frekuensi 54 dengan persentase 64,30% dengan nilai rata-rata 78,55 dari skor ideal 92. (3) Terdapat pengaruh kompetensi kepribadian guru terhadap motivasi belajar peserta didik sebesar 50.3%. Implikasi penelitian ini adalah bahwa kompetensi kepribadian guru lebih ditingkatkan lagi. Kompetensi kepribadian guru dapat terhadap motivasi belajar peserta didik di MTsN 2 Bone. Sebab seorang guru memegang kunci utama dalam menstimulus motivasi belajar peserta didik.
PEMBAGIAN HARTA WARISAN DALAM ISLAM : Studi Kasus pada Keluarga Ulama Banjar di Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan Ahmad Haries
Jurnal Diskursus Islam Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v2i2.6520

Abstract

Hukum kewarisan yang masih dominan tetap eksis dan hidup di tengah-tengah masyarakat, pada pelaksanaan pembagian warisan masyarakat Indonesia adalah berdasarkan hukum Islam dan hukum adat. Hal ini terjadi karena masyarakat Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam dengan berbagai suku yang sangat beragam, yang tentunya pelaksanaan pembagian harta warisan pun akan beragam pula sesuai dengan sistem kekeluargaan yang mereka anut. Salah satu suku yang penduduknya beragama Islam adalah suku Banjar. Di Kalimantan Selatan khususnya, masuk Islam sama dengan masuk Banjar atau sebaliknya masuk Banjar sama artinya masuk Islam. Penelitian ini berlangsung di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Propinsi Kalimantan Selatan. Hal ini dilakukan karena daerah ini dikenal sebagai basis ulama sekaligus sebagai kota santri selain Martapura untuk wilayah Kalimantan Selatan. Pembagian harta warisan dalam keluarga Ulama Banjar ditemukan dalam 2 (dua) bentuk yaitu pembagian harta warisan yang dipengaruhi hukum Islam, pembagian harta warisan yang dipengaruhi hukum adat. Apabila terjadi konflik dalam pembagian harta warisan itu, maka diadakan islah. Sebagian ulama Banjar di Kabupaten Hulu Sungai Utara menganggap bahwa islah juga dibenarkan oleh syariat Islam, karena warisan termasuk bidang muamalah yang pelaksanaannya diserahkan kepada umat, asalkan dalam hal tersebut tidak ada perselisihan. Dalam hal ini mereka melakukan pembagian warisan berdasarkan apa yang mereka sepakati secara damai dan didasarkan pada kemaslahatan mereka.ABSTRACTThe dominant inheritance law in the midst of society still exists and lives and the implementation of inheritance division of Indonesian society is based on Islamic and local laws. This is because the majority populations of Indonesia are Muslim and consist of various ethnics so that the inheritance division also is diversity depending on their own embedded family structures. One of ethnic groups that its majority populations are Muslim is Banjar. In South Kalimantan in particular, converting to Islam means converted to Banjar and also vice versa. This research took place in Hulu Sungai Utara regency, South Kalimantan province. It is done since this place has been well known as the basis of ulama as well as being santri town except Martapura in South kalimantan. There are two kinds of inheritance division in the family of Banjar ulama, namely the inheritance division in virtue of Islamic laws and another based on local laws. If conflict happens in the division, it will do islah. Some Banjar ulama in that region regard that islah is line with Islamic laws, because inheritance is contained in muamalah realm that its implementation is depending on ummah, as long as there is no conflict on it. In that case, they do the division of inheritance based on what they agreed with peacefully and also in virtue of their own general good.
BUDAYA KEKERASAN DALAM GERAKAN ISLAM : Studi tentang Penegakan Doktrin Amar Makruf Nahi Mungkar pada Ormas Front Pembela Islam (FPI) Kota Makassar Mahmuddin Mahmuddin
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6584

Abstract

Studi ini dilakukan dalam rangka menjawab sejumlah permasalahan yang berkaitan dengan sepak terjang Front Pembela Islam (FPI). Kajian ini difokuskan pada pemahaman kelompok ini tentang Amar Makruf Nahi Mungkar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif (descriptive research), Penelitian deskriptif memberikan gambaran yang lebih mendalam tentang gejala-gejala sosial tertentu atau aspek kehidupan tertentu pada masyarakat yang diteliti. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar adalah istilah yang diperkenalkan dari al Qur’an untuk menjelaskan kewajiban seorang muslim melakukan perbuatan baik dan sekaligus mencegah untuk melakukan perbuatan yang jahat. Front Pembela Islam (FPI) merupakan ormas Islam yang dikenal cukup luas di masyarakat. Hal ini disebabkan oleh tindakan-tindakannya yang mengesankan kekerasan seperti dalam memberantas kemaksiatan atau merasia tempat-tempat hiburan. FPI didirikan sebagai respon terhadap kondisi sosial-politik Indonesia, yang tidak berpihak kepada kepentingan umat Islam. Diterapkannya syariat Islam di Indonesia, baik secara substansial maupun formalistis, merupakan visi yang ingin dicapai FPI. Dari berbagai alternatif cara untuk mewujudkan visi tersebut, maka strategi yang dipilih FPI adalah melalui penegakan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu upaya-upaya sistematis untuk mengajak umat Islam agar menjalankan perintah agamanya secara komprehensif, dan mencegah umat Islam agar tidak terjerumus pada kegiatan-kegiatan yang merusak moral dan akidah Islamnya. Tuntutan FPI untuk memberlakukan syariat Islam mendapat tantangan dari berbagai kalangan. Rizieq menga-takan bahwa penentang syariat Islam terbagi dua. Pertama, mereka yang memang fobi terhadap Islam. Dan kedua, mereka yang menolak karena ketidaktahuannya. Dalam rangka menghindari citra negatif terhadap organisasi Front Pembela Islam (FPI) sebagai gerakan atau kelompok radikal perlu memsosialisasikan faham jihad yang benar dan sesuai dengan ajaran Islam serta melakukan pembacaan terus-menerus terhadap sirah Nabi saw.ABSTRACTThis study aims at answering a series of problems related to the Islamic defenders front (FPI) actions. This paper focuses on group’s understanding of amar makruf nahi mungkar . This is a descriptive research that has goal to giving the deep picture of the particular social phenomenon or the certain aspects of life in the communities studied.  The Amar makruf nahi mungkar is a term that is introduced by al-Qur’an which means the explanation of Muslim’s obligation to conduct good deeds as well as to avoid for doing misconducts. The Islamic defenders front (FPI) is a Muslim community organization which is widely known in Indonesian society. This is due to their impressive acts of violence in combating immorality and sweeping entertainment venues. The establishment of FPI is as a response toward social and political circumstances in Indonesia, which not in line with Muslim’s interests. The implementation of syari’ah in Indonesia, either substantially or even formalistically, is the main goal FPI wants to gain. From various ways in applying the objectives, FPI tends to advocating the amar makruf nahi mungkar way, that is, systematic efforts on asking Muslim in order to obey the religious commends comprehensively, and to prevent Muslim from falling into activities damaging moral and Islamic belief. FPI demands to impose syari’ah has been challenged from many elements in society. Rizieq argues that the challengers of syari’ah may be divided into two typologies. The first is people who is phobia with Islam and secondly, those who reject due to their ignorance of syari’ah. To avoid the negative image, FPI as a radical movement should promote the notion of jihad correctly and in accordance with Islamic thoughts as well as doing the continuous reading of the prophet’s history.
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DAN IMPLEMENTASINYA PADA MADRASAH ALIYAH NEGERI DI KOTA MAKASSAR Hamriah Hamriah
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 3 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i3.6635

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana implementasi KTSP pada Madrasah Aliyah Negeri di Kota Makassar. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui eksistensi KTSP pada Madrasah Alaiyah Negeri di Kota Makassar. Jenis penelitian ini adalag kualitatif dengan sampel dipilih secara purposive. Hal penelitian menunjukkan bahwa tingkat implementasi KTSP pada MAN di Kota Makassar dapat dilihat dari 3 hal yaitu eksistensi KTSP pada MAN di kota Makassar apabila dilihat dari segi keberadaan dokumne KTSP baik dokumen I maupun II, semua MAN di Kota Makassar sudah memiliki dokumen KTSP, meskipun dokumen yang disusun tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman penyusunan KTSP dari BSNP. Keberadaan dokumen di madrasah masih mengadopsi contoh KTSP yang diperoleh dari hasil foto copy dengan sekedar mengubah bagian-bagian tertentu sehingga dokumen yang dimiliki masih pada batas pemenuhan kelengkapan administrasi madrasah.ABSTRACTThis research focuses on the existence of KTSP at State Islamic Senior High School (Madrasah Aliyah Negeri-MAN) in Makassar. The purpose of this research is to describe the implementation of KTSP at Madrasah Aliyah Negeri in Makassar. This is a qualitative research using purposive sampling method. The result shows that the level of KTSP implementation at MAN in Makassar may be described from three perspectives; by looking at the existence of KTSP at MAN in Makassar, both document I and II, it can be concluded that all of MANs in Makassar have KTSP documents, even though the documents are arranged and filled out without fully adopting and following the guidelines and procedures of KTSP from BSNP. The presence of the documents at MAN is basically adopting the examples of KTSP by merely changing certain parts. This shows that the existing documents of KTSP at MANs in Makassar are simply prepared to complete the administrative documents of MAN.  

Page 5 of 36 | Total Record : 357