cover
Contact Name
Nur Arifin
Contact Email
diskursus@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
diskursus@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Diskursus Islam
ISSN : 23385537     EISSN : 26227223     DOI : -
Jurnal Diskursus Islam adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar yang merefleksikan diri sebagai wadah akademik untuk publikasi artikel ilmiah. Jurnal ini menfokuskan pada kajian/studi islam dalam berbagai aspeknya yang diharapkan dapat memberi referensi bagi pembaca dalam pengembangan wawasan akademik dan keilmuan.
Arjuna Subject : -
Articles 368 Documents
OPTIMIZATION OF ZAKAT MANAGEMENT IN MICRO BUSINESS EMPOWERMENT: A CASE STUDY OF BAZNAS PANGKEP REGENCY Anwar, Muhammad; Mahsyar; Semauin, Syahriyah; Andi Bahri; Musmulyadi
Jurnal Diskursus Islam Vol 13 No 2 (2025): Tafsir, Hadis, Syariah, Ekonomi Islam
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v13i2.54818

Abstract

Zakat has a strategic role in the Islamic economic system, not only as a religious obligation but also as an instrument of economic empowerment. This research was conducted to analyze the management of zakat by BAZNAS Pangkajene and Islands Regency, especially in empowering micro businesses as an effort to improve community welfare. The background of this research is the great potential of zakat in Indonesia, which is often not optimally utilized, especially in supporting micro businesses. This research uses a qualitative method with a phenomenological approach. Data were obtained through in-depth interviews with key informants, including BAZNAS managers, mustahik, and muzakki, as well as document analysis. The data collection process involved direct observation, structured interviews and literature study. Analysis was conducted inductively to explore patterns, meanings, and relevant experiences. The results showed that the management of zakat in BAZNAS Pangkajene and Islands Regency was carried out in a structured manner through the stages of planning, organizing, directing, coordinating, and supervising. This approach allows zakat to be distributed effectively and on target. Findings also show that well-managed zakat can help mustahiks develop micro-enterprises, thus contributing to their transformation into muzaki. However, challenges in community education, coordination, and supervision still require attention. The implication of this research is the need for innovation in zakat management to maximize its impact on micro business empowerment. Data-driven approach, cross-sector synergy, and integrated training program can strengthen the role of zakat as an instrument of sustainable economic development. This research provides an important contribution to the development of a more strategic and effective zakat policy.
CHARACTER EDUCATION IN HADITH PERSPECTIVE: A STUDY ON STRENGTHENING MORAL VALUES IN CONTEMPORARY EDUCATION SYSTEM Fatmal, Abd. Bashir; Imawati; La Ode Ismail Ahmad; Amin, Muhammadiyah
Jurnal Diskursus Islam Vol 13 No 2 (2025): Tafsir, Hadis, Syariah, Ekonomi Islam
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v13i2.55499

Abstract

Character education has become an important issue in the global education system, especially in the modern era characterized by rapid social, technological, and cultural changes. This study aims to explore the integration of moral values derived from the hadith of Prophet Muhammad in strengthening character education in the contemporary education system. A qualitative research method was used with a literature study approach and content analysis of hadiths related to character education, such as honesty, justice, empathy, responsibility, and humility. The results showed that hadith as the second source of Islamic teachings after the Qur'an, contains universal values that are relevant to forming noble individual characters. These values include honesty, compassion, justice, patience, and care for the environment, all of which can be integrated in the modern education curriculum. This research confirms that hadith-based character education is able to answer the challenges of moral degradation in the era of globalization, while offering practical solutions in building a young generation with integrity, social responsibility, and noble character. The implications of this research include the development of a hadith-based character education model, increasing the capacity of educators in teaching moral values, and collaboration between schools, families, and communities in strengthening character education. The integration of values from the hadith into the contemporary education system is a strategic step in creating a harmonious, just and civilized society.
GENDER EDUCATION IN HADITH PERSPECTIVE: DEVELOPING EQUALITY IN FORMAL EDUCATION Gusni; La Ode Ismail Ahmad; Muhammadiyah Amin; Abd. Bashir Fatmal
Jurnal Diskursus Islam Vol 13 No 2 (2025): Tafsir, Hadis, Syariah, Ekonomi Islam
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v13i2.55506

Abstract

This study examines gender education in the perspective of hadith as an effort to develop equality in formal education. The study aims to analyze the understanding of the concept of gender in hadith and its implications for formal education in Indonesia. Using a qualitative method with a content analysis approach, the study explores hadith-reports on gender, including the creation of women, conjugal responsibilities, women’s leadership, and partnership between men and women. The results show that the traditions provide an understanding that men and women are equal, albeit with different roles and responsibilities. The main obstacles in gender-related formal education are gender bias in learning materials and stereotyping of gender roles in the school environment. Islamic education plays an important role in removing these biases through contextualized and fair interpretation of hadith. In conclusion, the integration of moral values and gender education in the formal education system can create a more just and harmonious society. The implication is that collaboration between educators, policymakers and communities is needed to ensure gender equality in formal education.
Kambing dalam Perspektif Al-Qur'an: Studi Analisis Ayat QS Al-An'am/6: 143 Takdir, Ahmad Raiyan; Irham, Muhammad; Idris, Mariani
Jurnal Diskursus Islam Vol 13 No 2 (2025): Tafsir, Hadis, Syariah, Ekonomi Islam
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v13i2.60293

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi kambing dalam perspektif Al-Qur’an melalui analisis tafsir QS al-An‘ām/6:143. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana pemaknaan lafadz ma‘iz (kambing) dalam ayat tersebut serta relevansinya dengan konteks sosial, teologis, dan ekologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan tafsir tahlili dengan metode analisis mendalam terhadap mufradāt, munāsabah, asbāb al-nuzūl, serta pandangan ulama klasik dan kontemporer seperti al-Qurṭubī, ath-Thabari, al-Munīr, dan al-Mishbah. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyebutan kambing bukan sekadar penjelasan hukum halal-haram, tetapi juga membongkar praktik penyimpangan kaum musyrik yang menetapkan hukum berdasarkan hawa nafsu. Penulis berargumen bahwa ayat ini menegaskan otoritas hukum hanya milik Allah semata, serta mengajarkan kesadaran akan nikmat dan tanggung jawab ekologis terhadap ciptaan-Nya. Kesimpulannya, kambing dalam ayat ini menjadi simbol penting dalam narasi Al-Qur’an mengenai pemurnian akidah, penyadaran sosial, dan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Kajian ini turut memperkaya khazanah tafsir tematik berbasis fauna dan membuka ruang pembahasan lebih luas tentang relasi manusia dan hewan dalam pandangan Islam.
Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Perempuan dalam Perkara Cerai Gugat di Pengadilan Agama Makassar Kelas 1A Rifdah Nur Amalina; Hamzah Hasan; Achmad Musyahid Idrus
Jurnal Diskursus Islam Vol 13 No 2 (2025): Tafsir, Hadis, Syariah, Ekonomi Islam
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v13i2.61238

Abstract

Meningkatnya angka cerai gugat yang diajukan perempuan di Indonesia menunjukkan adanya dinamika sosial sekaligus problem perlindungan hukum dalam praktik peradilan agama. Meskipun berbagai regulasi telah mengatur hak-hak perempuan pasca perceraian, implementasinya di lapangan masih sering mengalami kendala. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi perlindungan hukum terhadap hak-hak perempuan dalam perkara cerai gugat di Pengadilan Agama Makassar Kelas 1A. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode yuridis normatif dan yuridis empiris. Data diperoleh melalui studi dokumen, wawancara mendalam, dan observasi lapangan, serta dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum terhadap hak-hak perempuan pasca perceraian telah diatur dalam berbagai peraturan, antara lain Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Kompilasi Hukum Islam (KHI), Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 3 Tahun 2018, dan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 3 Tahun 2017. Pengadilan Agama Makassar Kelas 1A menerapkan strategi perlindungan melalui mekanisme penahanan akta cerai dan pemberian hak-hak seperti nafkah iddah, mut’ah, nafkah madliyah, mahar, dan hadanah. Putusan-putusan pengadilan, seperti perkara Nomor 1655/Pdt.G/2024/PA.Mks dan 760/Pdt.G/2023/PA.Mks, mencerminkan komitmen yudisial dalam menjamin pemenuhan hak-hak perempuan. Namun demikian, implementasi perlindungan hukum dihadapkan pada berbagai kendala struktural dan kultural, seperti rendahnya pemahaman hukum, minimnya penggunaan mekanisme eksekusi, serta keterbatasan akses terhadap bantuan hukum. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan hukum belum sepenuhnya efektif dalam menjamin keadilan substantif bagi perempuan pasca perceraian. Oleh karena itu, diperlukan upaya penguatan literasi hukum, sosialisasi regulasi, dan pemberdayaan perempuan melalui sinergi antara lembaga peradilan, akademisi, dan masyarakat sipil.
A Perspektif Alquran tentang Kecerdasan: Indonesia Armimin; Yuzhril; Mahfudz, Muhsin
Jurnal Diskursus Islam Vol 13 No 2 (2025): Tafsir, Hadis, Syariah, Ekonomi Islam
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v13i2.61841

Abstract

Penelitian ini membahas perspektif Al-Qur’an mengenai kecerdasan manusia. Setiap disiplin keilmuan memiliki definisi dan pengklasifikasiannya tersendiri terkait konsep kecerdasan, demikian pula Al-Qur’an memberikan penjelasan yang khas dalam memaknai potensi tersebut. Fokus penelitian ini adalah menguraikan hakikat kecerdasan, perspektif dari berbagai bidang keilmuan, serta relevansi konsep tersebut dalam konteks kekinian. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), melalui pendekatan tafsir, filsafat Barat, filsafat Timur, dan neurosains. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan merupakan anugerah yang sekaligus memerlukan usaha untuk dikembangkan. Dalam kajian psikologi dikenal antara lain kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Sementara itu, Al-Qur’an menyebut beberapa istilah yang terkait dengan dimensi kecerdasan manusia seperti al-ʿaql, al-fu’ād, al-qalb, al-hilm, al-lubb, dan al-fiqh, yang masing-masing memiliki fungsi dan kedalaman makna berbeda. Temuan ini memberikan pemahaman bahwa kecerdasan merupakan potensi dasar manusia yang harus ditumbuhkan dan diarahkan guna menghadapi perkembangan zaman yang semakin maju dan kompleks
GREEN QUR’ANIC HERMENEUTICS AS A NEW PARADIGM OF ECOLOGICAL EXEGESIS IN THE CONTEXT OF SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGS) Muhammad Radiyal; Achmad Abubakar; Sohrah
Jurnal Diskursus Islam Vol 13 No 2 (2025): Tafsir, Hadis, Syariah, Ekonomi Islam
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v13i2.62167

Abstract

This study explores the intersection between Qur’anic interpretation and the global sustainability agenda through the framework of Green Qur’anic Hermeneutics. By re-examining the revelation within the moral horizon of the Sustainable Development Goals (SDGs), this research seeks to demonstrate that the Qur’an not only provides theological foundations for ecological ethics but also offers a comprehensive spiritual framework for environmental sustainability. Employing a qualitative and interpretive method, the study conducts a thematic analysis (tafsīr mawḍū’ī) on selected verses related to environmental balance (mīzān), corruption on earth (fasād fī al-arḍ), stewardship (khilāfah), and moderation (wasatiyyah). These concepts are contextualized within SDG pillars such as clean water, climate action, sustainable consumption, and life on land. The findings reveal that the Qur’anic ecological discourse anticipates modern sustainability paradigms by emphasizing moral restraint, accountability, and the unity of creation under divine order. Moreover, the integration of hermeneutical reflection and environmental ethics provides a new epistemological orientation for Islamic scholarship: from textual exegesis toward eco-ethical praxis. The study concludes that Green Qur’anic Hermeneutics contributes not only to the development of Islamic eco-theology but also to the global effort in realizing SDG principles through faith-based ecological awareness. This approach strengthens the dialogue between religion and environmental science, positioning the Qur’an as a living guide for sustainable civilization.
IKHLAS DAN SABAR SEORANG PENDIDIK MENURUT K.H. M. HASYIM ASY’ARI DALAM KITAB ADABUL ‘ALIM WAL MUTA’ALIM Masduqi, Muh. Adib Musthofa
Jurnal Diskursus Islam Vol 13 No 3 (2025): Desember: Pendidikan, Menajemen, Bahasa Arab
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v13i3.51875

Abstract

Pendidik adalah seseorang yang mengajar dan mendidik generasi penerus bangsa. Pendidik memiliki peranan yang penting bagi agama, nusa, dan bangsa yakni di tangan seorang pendidik lah generasi berikutnya dapat berkembang dan berkontribusi bagi bangsanya. Oleh karena itu K.H. Hasyim Asy’ari yang merupakan ulama’ serta pejuang kemerdakaan indonesia merangkai sebuah kitab “Adabul Alim Wal Muta’alim” yang berisikan tentang etika seorang guru. Menurut beliau sangat penting bagi seorang guru memiliki kode etik tersendiri baik ketika mengajar maupun ketika berbaur dengan masyarakat. Terutama yang harus diperhatikan dari etika seorang guru adalah ikhlas, yang berarti bahwa guru memiliki niat yang konsisten yakni untuk mencerdaskan peserta didik juga tidak mengharapkan sesuatu apapun selain dari ridlo Allah. Tidak kalah dari itu seorang guru harus memiliki sifat sabar baik dalam mendidik. Karena yang disampaikan seorang guru adalah ilmu, dan ilmu ini adalah sesuatu yang sangat mulia tidak boleh disampaikan dengan hati yang kurang bersih seperti marah, letih, dan lesu. Kata Kunci: Ikhlas; Sabar; Pendidik; K.H. Hasyim Asy’ari
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PERSPEKTIF GUS DUR DI ERA DIGITAL Ijad
Jurnal Diskursus Islam Vol 13 No 3 (2025): Desember: Pendidikan, Menajemen, Bahasa Arab
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v13i3.52197

Abstract

The chronic disease of the dichotomy of knowledge seems to still afflict some practitioners of Islamic religious education. This has resulted in discrimination manifested as an extreme separation between "religious knowledge" and "worldly knowledge." The infection of that disease has the potential to become more severe if not treated immediately, considering the advancement of the times that does not hesitate to crush anyone who cannot compromise with the digital era. The antidote to the virus was found in the concept of integrative Islamic religious education initiated by Muslim scholars. Gus Dur became one of the prominent intellectual figures who vocally advocated for integrative Islamic education with a neo-modernist approach. This research discusses integrative Islamic religious education from the perspective of Gus Dur using the library study method, where the research is based on various literature spread across different platforms. The results of this research indicate that Gus Dur has a vision for Islamic education, which should be implemented in both formal and non-formal institutions. It must be philosophically structured in terms of curriculum and teaching materials, incorporating three aspects of knowledge: classical Islamic knowledge, traditional Nusantara knowledge, and modern knowledge. According to Gus Dur, these three aspects must collaborate harmoniously to produce a generation that possesses competence in Islamic knowledge, appreciates local culture, and can keep up with various advancements in the digital era.
PENGARUH BUDAYA SEKOLAH DAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK KELAS XI DI SMA NEGERI 7 MAKASSAR Suhaeni
Jurnal Diskursus Islam Vol 13 No 3 (2025): Desember: Pendidikan, Menajemen, Bahasa Arab
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v13i3.55500

Abstract

Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik agar menjadi individu yang berilmu, berakhlak, dan memiliki integritas moral yang tinggi. Namun, fenomena degradasi karakter di kalangan generasi muda menuntut adanya pendekatan sistematis dalam pendidikan karakter. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh budaya sekolah dan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap pembentukan karakter peserta didik kelas XI di SMA Negeri 7 Makassar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan regresi berganda untuk melihat hubungan antara variabel budaya sekolah, pembelajaran PAI, dan karakter peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya sekolah dan pembelajaran PAI memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan karakter peserta didik. Budaya sekolah yang diterapkan melalui kegiatan religius seperti salat berjamaah, membaca Al-Qur’an sebelum pembelajaran, serta kebiasaan positif seperti disiplin dan saling menghormati, terbukti berkontribusi dalam membangun karakter peserta didik. Pembelajaran PAI yang dilakukan dengan metode inovatif, seperti diskusi interaktif dan praktik ibadah, memberikan pengaruh lebih besar dalam membentuk nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Analisis regresi berganda menunjukkan bahwa 81,5% variasi dalam karakter peserta didik dapat dijelaskan oleh budaya sekolah dan pembelajaran PAI. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi budaya sekolah yang baik dan pembelajaran PAI yang efektif dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki karakter unggul.