cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005" : 16 Documents clear
Regenerasi Tanaman Sedap Malam Melalui Organogenesis dan Embriogenesis Somatik Rostika, Ika; Mariska, Ika; Purnamaningsih, R
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara konvensional perbanyakan tanaman sedap malam dilakukan melalui umbi. Semakin kecil ukuran umbi semakin lama tanaman berbunga. Penerapan teknik kultur in vitro diharapkan dapat membantu perbanyakan tanaman secara masal. Hingga saat ini, teknik kultur in vitro tanaman sedap malam belum pernah dilaporkan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan memperoleh formulasi media yang efektif menginduksi organogenesis dan embriogenesis kultur in vitro tanaman sedap malam serta memacu regenerasinya. Percobaan dibagi menjadi 4 tahap, yaitu (1) induksi tunas, (2) multiplikasi tunas, (3) induksi kalus embriogenik, dan (4) regenerasi kalus embriogenik. Media induksi tunas yang diuji adalah MS+BA 0 ppm, MS+BA 3 ppm, MS+BA 5 ppm, dan MS+BA 7 ppm. Pemacuan multiplikasi tunas lanjut dilakukan pada media subkultur MS+BA 7 ppm+glutamin 100 ppm, MS+BA 7 ppm, DKW+TDZ 7 ppm, dan DKW+TDZ 7 ppm+glutamin 100 ppm. Untuk induksi kalus embriogenik, media induksi kalus yang diujikan adalah MS+2,4-D 2,5 ppm, MS +2,4-D 5 ppm, dan MS+2,4-D 10 ppm. Untuk meregenerasikan kalus embriogenik, media yang diujikan MS+BA 2 ppm+TDZ 0,2 ppm, MS+BA 3 ppm+TDZ 0,4 ppm, MS+zeatin 1ppm+kinetin 1ppm, dan MS+zeatin 0,5 ppm+kinetin 2 ppm. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pembentukan tunas terbanyak diperoleh dari media BA 3 ppm (80%) namun inisiasi tunas tercepat dihasilkan pada media BA 0 ppm. Formula media MS+BA 7 ppm+glutamin 100 ppm menghasilkan jumlah tunas dan akar terbanyak. Penggunaan MS+2,4-D 5 ppm dapat menginduksi kalus embriogenik dengan persentase pembentukan nodul sebesar 18,75% dan jumlah nodul yang terbentuk sebanyak 3,6 dengan visual kalus yang paling baik. Setelah disubkultur, calon tunas terbanyak (17) dihasilkan dari perlakuan MS+BA 2 ppm+TDZ 0,4 ppm. Kalus embriogenik pada media MS+zeatin 0,5 ppm+kinetin 2 ppm dapat berkembang membentuk benih somatik.Regeneration of tuberose through organogenesis and embryogenesis. Tuberose is normally propagated by the tuber. The smaller size of tuber the longer time plant to flower. The application of in vitro culture technique might be used for mass propagation. Up to know, the research of in vitro culture of tuberose in Indonesia has not been reported. The objective of the study was to find out media formulation for organogenesis and embryogenesis. The experiments consisted of 4 steps of (1) shoot induction, (2) shoot multiplication, (3) induction of embryogenic callus, and (4) regeneration of embryogenic callus. The treatments for shoot induction were MS+BA 0 ppm, MS+BA 3 ppm, MS+BA 5 ppm, and MS+BA 7 ppm. The shoots were multiplied on media MS+BA 7ppm+glutamine 100ppm, MS+BA 7 ppm, DKW+TDZ 7 ppm, and DKW+TDZ 7 ppm+glutamin 100 ppm. For induction of embryogenic callus, the treatments were MS+2.4-D 2.5 ppm, MS+2,4-D 5 ppm, and MS+2.4-D 10 ppm. For regeneration of embryogenic callus, the treatments were MS+BA 2 ppm+TDZ 0.2 ppm, MS+BA 3 ppm +TDZ 0.4 ppm, MS+zeatin 1ppm+kinetin 1ppm, and MS+zeatin 0.5 ppm+kinetin 2 ppm. The results showed that the highest shoot formation was obtained from media MS+BA 3 ppm but the earliest shoot initiation was obtained from media MS+BA 0 ppm. The media formulation of MS+BA 7 ppm+glutamine 100 ppm gave the highest number of shoot and root. The application of media MS+2.4-D 5 ppm could induce embryogenic callus with high percentage of nodul formation (18.75%) and high number of nodul (3.6) with the best visual calli. After subculturing, the highest number of nodul (17) was obtained from media MS+BA 2 ppm+TDZ 0.4 ppm. The embryogenic callus from media MS+zeatin 0.5 ppm+kinetin 2 ppm could develop to form somatic seed.
Evaluasi Daya Hasil 7 Genotip Kentang pada Lahan Kering Bekas Sawah Dataran Tinggi Ciwidey Basuki, Rofik Sinung; Kusmana, -
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Waktu penelitian mulai bulan April sampai dengan Agustus 2002. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAK dengan ulangan 4 kali, jumlah genotip yang diuji sebanyak 7 genotip kentang hasil introduksi dari CIP termasuk varietas pembanding. Setiap plot percobaan ditanami 30 tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk menghasilkan 1 atau lebih genotip kentang yang bisa ditanam pada lahan sawah dataran tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotip yang mempunyai potensi hasil tinggi pada lahan sawah Ciwidey adalah 380584.3 (43,3 t/ha), Atlantik (37,6 t/ha), dan Panda (36,5 t/ha) yang nyata lebih tinggi dari varietas pembanding Granola (27,6 t/ha).Tuber yield evaluation of 7 potato genotypes on dry land after irrigated rice field of highland Ciwidey. The experiment was conducted in April until August 2002. The experimental design was RCBD with 4 replications. An experimental unit consisted of a 30 hills plot. The objective of the research was to select one or more potato genotypes adapted to rice field of highland. The results indicated that the highest yield were obtained from clones 380584.3 (43.3 t/ha), Atlantic (37.6 t/ha), and Panda (36.5 t/ha) which were significantly higher than Granola (27.6 t/ha) as control.
Uji Efektivitas Biopestisida sebagai Pengendali Biologi terhadap Penyakit Antraknos pada Cabai Merah Gunawan, O S
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk menguji efektivitas PfM BO 001 50 WP biopestisida dan BsBE 001 50 WP terhadap penyakit antraknos pada cabai merah. Penelitian dilakukan di rumahkaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang pada bulan September sampai Desember 2003, menggunakan benih cabai merah varietas Jetset. Inokulasi cendawan patogen Colletrotrichum gloeosporioides dilakukan pada 70 hari setelah tanam dengan (4-5)x106 konidia. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari 8 perlakuan dengan 4 ulangan. Jenis perlakuan yang diuji yaitu PfMBO 001 50 WP 0,7 g/l, PfMBO 001 50 WP 0,35 g/l, PfMBO 001 50 WP 0,175 g/l, BsBE 001 50 WP 0,7g/l, BsBE 001 50 WP 0,35 g/l, BsBE 001 50 WP 0,175 g/l, fungisida Bion 1/48 WP 2 g/l, dan kontrol. Interval waktu aplikasi 7 hari setelah muncul buah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa formulasi biopestisida PfMBO 001 50 WP dan BsBE 001 50 WP masing-masing konsentrasi 0,7 g/l, mempunyai potensi yang baik menekan intensitas serangan penyakit antraknos sebesar 2,60% dan 2,76% yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan fungisida standar Bion 1/48 WP 2g/l sebesar 2,07% dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.Effectivity of biopesticides as biological control to anthracnose disease on red pepper. Objectives of the experiment was to determine the effect of various concentration formulation of Pseudomonas fluorescens PfM BO 001 50 WP and Bacillus subtilis BsBE 001 50 WP to anthracnose disease on red pepper. The experiment was conducted at the greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute Lembang from September to December 2003. Jetset variety of pepper was used. The experiment was arranged in a randomized block design, consisted of 8 treatments, i.e., PfMBO 001 50 WP (concentration: 0.7 g/l, 0.35 g/l, 0.175 g/l), BsBE 001 50 WP (concentration: 0.7g/l, 0.35 g/l, 0.175 g/l), fungicide Bion 1/48 WP 2 g/l, and control using water, with 4 replications. Results of this study showed that application of biopesticide formulation of PfMBO 001 50 WP and BsBE 001 50 WP 0.7 g/l, gave the best result to suppresed the intensity of anthracnose disease at 2.60% and 2.76% and was not significantly different with standard fungicide Bion 1/48 WP 2 g/l (2.07 %), and significantly different with the other treatments.
Uji Stabilitas Hasil Umbi 7 Genotip Kentang di Dataran Tinggi Pulau Jawa Kusmana, -
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk mengetahui stabilitas 7 genotip kentang pada berbagai kondisi lingkungan di Pulau Jawa, telah dilakukan uji multilokasi. Lokasi pengujan adalah 2 kali di Pangalengan dan Garut, masing-masing sekali di Lembang, Cipanas, Ciwidey, Magelang, Banjarnegara, dan Pasuruan. Rancangan percobaan yang digunakan acak kelompok dengan 4 ulangan setiap petak percobaan ditanami 30 tanaman. Hasil percobaan menunjukkan bahwa satu-satunya genotip yang stabil adalah I-1085 dengan nilai koefisien regresi b=1 dan simpangan regresi δij=0. Genotip Atlantik menghendaki lingkungan yang menguntungkan ditandai dengan nilai b>1, sebaliknya genotip Panda dapat beradaptasi pada lingkungan yang kurang menguntungkan dengan nilai b<1. Potensi hasil tinggi ditampilkan oleh genotip 380584.3 (33,5 t/ha) dan genotip FBA-4 (28,1 t/ha) dengan b=1 namun δij=0.Yield stability evaluation of 7 potato genotypes in highland of Jawa Island. The aim of the research was to observe tuber yield stability of 7 potato genotypes at different environment of Jawa Island. Multilocation trials were located at Pangalengan and Garut for 2 seasons, Lembang, Cipanas, Ciwidey, Magelang, Banjarnegara, and Pasuruan (1 season) respectively. Experimental was arranged in a randomized complete block design with 4 replications, consisted of 30 plants per plot. The results of the experiment indicated that genotypes of I-1085 were stable to all location, showed by b=1and δij =0. Whereas, Atlantic was adapted to favorable environments showed by b>1. Panda was adapted to unfavorable environment showed by b<1. The highest tuber yield were obtained from genotypes 380584.3 (33.5 t/ha) and FBA-4 (28.1 t/ha), with b=1 but δij=0.
Parasitoid E. argenteopilosus sebagai Agens Pengendali Hayati Hama H. armigera, S. litura, dan C. pavonana pada Tumpangsari Tomat dan Brokoli Setiawati, Wiwin; Uhan, Tinni S; Somantri, A
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehilangan hasil tomat akibat serangan H. armigera dapat mencapai 52%. Usaha pengendalian hingga saat ini masih mengandalkan pada penggunaan insektisida, namun masih belum mampu menekan serangan hama tersebut. Penggunaan parasitoid E. argenteopilosus dikombinasikan dengan insektisida diharapkan dapat menekan populasi H. armigera. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan/efikasi parasitoid E. argenteopilosus dalam menekan perkembangan populasi dan serangan hama H. armigera, S. litura, dan C. pavonana pada sistem tumpangsari tomat dan brokoli. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang sejak bulan Juni sampai dengan November 2002. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terpisah dengan 4 ulangan. Sebagai petak utama adalah pelepasan parasitoid yang terdiri atas tanpa pelepasan dan dengan pelepasan. Sebagai anak petak adalah penggunaan insektisida terdiri atas tanpa insektisida, Spinosad, dan Deltametrin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelepasan parasitoid E. argenteopilosus mampu menekan serangan C. pavonana dan S. litura pada tanaman brokoli masing–masing sebesar 24,71 dan 97,24% serta H. armigera pada tanaman tomat sebesar 18,45%. Penggunaan insektisida Spinosad 120 SC efektif untuk mengendalikan C. pavonana dan S. litura pada tanaman brokoli masing-masing sebesar 95,41 dan 100% serta H. armigera pada tanaman tomat sebesar 94,83%. Tingkat parasitasi E. argenteopilosus tertinggi terjadi pada H. armigera sebesar 38,96%, C. pavonana 25,83%, dan S. litura sebesar 24,44%. Pelepasan parasitoid E. argenteopilosus dan penggunaan insektisida mampu mempertahankan hasil panen brokoli dan tomat dengan hasil panen cukup tinggi. Penggunaan insektisida dapat mengurangi populasi E. argenteopilosus sebesar 3,27% untuk insektisida Spinosad dan 50,42% untuk insektisida Deltamethrin 25 EC. Perpaduan antara penggunaan parasitoid dan insektisida selektif diharapkan dapat menghasilkan teknologi ramah lingkungan dan hasil panennya aman dikonsumsi.Eriborus argenteopilosus as a bio–control of H. armigera, S. litura, and C. pavonana on tomato and broccoli cropping system. Yield loss due to H. armigera up to 52%. Chemical pesticide has been intensively used in pest control, but did not totally control the pests. Integration of parasitoid with insecticide can reduce population of pests. The purpose of this experiment was to know the efficacy of E. argenteopilosus against H. armigera, S. litura, and C. pavonana on tomato and broccoli cropping system. The experiment was conducted in the field of Indonesian Vegetables Research Institute from June to November 2002. Split plot design was used in this experiment with 4 replications. Released of parasitoid was used as main plot, consisted of released and without released of parasitoid. Insecticide was used as subplot, without insecticide, Deltamethrin and Spinosad insecticide. The results of this experiment indicated that augmentation released of E. argenteopilosus parasitoid can reduce population of C. pavonana and S. litura on broccoli ca. 24.71 and 97.24% respectively and H. armigera on tomatoes up to 18.45%. The use of Spinosad can reduce population of C. pavonana and S. litura on broccoli ca. 95.41 and 100% respectively and H. armigera on tomatoes up to 94.83%. The highest parasitism was found on H. armigera ca. 38.96%, C. pavonana ca. 25.83% and S. litura ca. 24.44%. Augmentation released of parasitoid and the use of insecticide gave the highest yield compare to control. The use of insecticide can reduce population of parasitoid up to 3.27% for Spinosad and 50.42% for Deltamethrin. Pest control using integration of parasitoid with selective insecticide could promote environmental and food safety.
Pengendalian Kutu Kebul dan Nematoda Parasitik Secara Kultur Teknik pada Tanaman Kentang Setiawati, Wiwin; Asandhi, Aziz Azirin; Marwoto, Budi; Sumantri, A; Hermawan, -
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bemisia tabaci dan Meloidogyne spp. merupakan OPT penting pada tanaman kentang. Pengendalian secara kultur teknik merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah OPT tersebut. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang sejak bulan Juni sampai dengan Nopember 2002. Tujuan penelitian adalah mengetahui efektivitas pengendalian B. tabaci dan Meloidogyne spp. secara kultur teknik pada tanaman kentang agar aman dikonsumsi dan ramah lingkungan. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah dengan 4 ulangan. Sebagai petak utama adalah pengelolaan tanah yang terdiri atas tanpa solarisasi dan tanpa subsoiling serta solarisasi dan subsoiling. Sebagai anak petak adalah sistem tanam, yang terdiri atas kentang monokultur, kentang–bawang daun, kentang–tagetes, dan kentang–lobak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian OPT secara kultur teknik (pengelolaan tanah dan sistem tanam) dapat menekan populasi OPT penting pada tanaman kentang. Tumpangsari antara kentang-bawang daun, kentang–tagetes, dan kentang–lobak dapat menekan serangan hama B. tabaci, M. persicae, P. operculella, dan T. palmi, serta nematoda Meloidogyne spp. pada tanaman kentang, sementara perlakuan subsoiling dan solarisasi serta tumpangsari antara tanaman kentang dengan tagetes dapat menekan populasi hama B. tabaci, M. persicae, P. operculella, dan T. palmi, masing–masing sebesar 46,25; 78,65; 31,48, dan 35,38%. Di samping itu, perlakuan subsoiling dan solarisasi serta tumpangsari antara tanaman kentang dengan tagetes dapat menekan populasi nematoda Meloidogyne spp. dan nematoda lainnya seperti Rotylenchulus sp, Helicotylenchus sp, Tylenchulus sp., Xiphynema sp., dan Trichodorus sp pada tanaman kentang, dengan hasil panen cukup tinggi yang berkisar antara 9,36–10,05 t/ha. Pengelolaan tanah dan penggunaan tanaman yang bersifat antagonis dan perangkap di dalam sistem tumpangsari, ternyata dapat mengurangi kepadatan populasi OPT pada tanaman kentang.Cultural practices control technique of whitefly and parasitic nematode on potato. Bemisia tabaci and Meloidogyne spp. are important pests on potato. Cultural practices are alternative control to these pests. The study was conducted at Indonesian Vegetables Research Institute (IVEGRI) from June to November 2002. The purpose of this experiment was to determine effectiveness of cultural practices control technique for B. tabaci and Meloidogyne spp. nematode which environmental and food safety concern. Split plot design was used in this experiment with 4 replications. Soil management was used as main plot, consisted of without solarization and without subsoiling; and solarization and subsoiling. Cropping system used as subplot were potato monocrop, potato–buncing onion, potato–marigold and potato–radish. The results showed that cultural practices control (soil management and cropping system) could reduce population of pests on potato. Population of pests such as B. tabaci, M. persicae, P. operculella, T. palmi, and nematode were lower on cropping system between potato–buncing onion, potato–marigold, and potato–radish. The use of subsoiling, solarization and cropping system between potato and marigold could reduce population of B. tabaci, M. persicae, P. operculella, T. palmi up to 46.25, 78.65, 31.48, and 35.38% respectively. The used of subsoiling, solarization, and cropping system between potato and marigold suppressed population of Meloidogyne spp. and other nematoda such as Rotylenchulus sp., Helicotylenchus sp., Tylenchulus sp., Xiphynema sp., and Trichodorus sp. on potato and gave the highest yield up to 9.36–10.05 t/ha compared with other treatments. Soil management and the used of antagonistic or trap crop in cropping system could effectively retard the population of pest and deseases on patato.
Analisis Luas Minimum Usahatani Bunga Krisan Potong Kahmir, Hilmi Ridwan; Nurmalinda, -; Supriadi, H
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui luas minimum usahatani bunga krisan potong yang harus ditetapkan, apabila target pendapatan petani pertahun sebesar US$ 2000 sampai US$ 3500. Kegiatan penelitian ini merupakan survei lapangan usahatani bunga krisan potong di Kecamatan Parongpong, Bandung, Jawa Barat yang dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2003. Hasil analisis biaya dan pendapatan usahatani krisan menunjukkan bahwa pada skala usaha rataan rumah tangga petani seluas 2.237,5 m2 diperoleh pendapatan bersih sebesar Rp.24.426.500,- dalam 4 bulan atau Rp.73.279.500,- dalam setahun. Jika pendapatan usahatani dalam setahun hanya diharapkan sebesar Rp.29.750.000,- (US$ 3500), maka luas usahatani krisan minimum yang diperlukan adalah 908,39 m2. Sementara itu untuk mencapai pendapatan sebesar Rp.17.000.000,- (US$ 2000), diperlukan usahatani krisan minimum seluas 519,08 m2.Economic analysis of minimum land area for chrysanthemum farming system. The purpose of the research was to find out the minimum land area of chrysanthemum farm for targeted yearly revenue of US$ 2000 to US$ 3500. The research was conducted directly in the region of Parongpong Bandung, West Java, from July to December 2003. The results showed that based on cost benefit analysis with land area of 2,237.5 m2 could provide profit Rp.24,426,500,- within 4 months or Rp. 73,279,500,- a year. Based on minimum land area of chrysanthemum farm, if the expected net profit Rp.29,750,000,- (US $ 3500) the land area for chrysanthemum farm was only 908.39 m2. Meanwhile, to reach the expected net profit Rp.17.000.000,- (US$ 2000) a year, the minimum land area was 519.08 m2.
Keragaman Genetik Plasma Nutfah Anggrek Spathoglottis Kartikaningrum, Suskandari; Effendie, K
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Plasma nutfah diperlukan untuk menjaga agar suatu spesies atau kultivar tidak punah dan dapat digunakan sebagai sumber keragaman genetik dalam menciptakan atau merakit varietas unggul baru. Keragaman tanaman sangat penting dalam program pemuliaan tanaman, untuk memperbaiki kualitas genetik tanaman pada masa mendatang. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, pada bulan Juli 2004-Februari 2005. Penelitian bertujuan mengetahui heritabilitas dan keragaman genetik koleksi plasma nutfah anggrek Spathoglottis. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap, terdiri atas 15 genotip anggrek Spathoglottis, masing-masing spesies digunakan 5 klon sebagai ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman genetik yang luas dimiliki oleh karakter panjang daun, lebar daun, pertambahan jumlah anakan, panjang bunga, lebar bunga, panjang bibir, dan lebar bibir. Karakter-karakter, seperti pertambahan jumlah anakan, panjang dan lebar daun, panjang tangkai bunga, diameter tangkai bunga, panjang dan lebar bibir, rasio panjang-lebar bibir, panjang dan lebar bunga mempunyai nilai duga heritabilitas tinggi.Genetic variability of the germplasm of Spathoglottis. Orchid need to be kept as a species or cultivar to avoid from totally extinct. They can be used as the source of genetic variability in developing new superior varieties. Variability of the crop is very importance in plant breeding program to improve plant genetic quality in the future. The research was conducted in Indonesian Ornamental Crops Research Institute (IOCRI) from July 2004–February 2005. The aim of the research was to study the genetic variability and heritability of germplasm collection of Spathoglottis orchid. Randomized completely design was used consisted of 15 orchid genotypes. Five clones from each genotype were used as replication. The result indicated that wide genetic variability was related to length and width of leaf, number of shoot increament, length and width of flower, length and width of lip. Characters, such as number of shoot increament, length and width of leaf, length and diameter of flower stalk, length and width of lip, ratio of lip length-width, length and width of flower showed high heritability value.
Analisis Luas Minimum Usahatani Bunga Krisan Potong Hilmi Ridwan Kahmir; - Nurmalinda; H Supriadi
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n4.2005.p%p

Abstract

Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui luas minimum usahatani bunga krisan potong yang harus ditetapkan, apabila target pendapatan petani pertahun sebesar US$ 2000 sampai US$ 3500. Kegiatan penelitian ini merupakan survei lapangan usahatani bunga krisan potong di Kecamatan Parongpong, Bandung, Jawa Barat yang dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2003. Hasil analisis biaya dan pendapatan usahatani krisan menunjukkan bahwa pada skala usaha rataan rumah tangga petani seluas 2.237,5 m2 diperoleh pendapatan bersih sebesar Rp.24.426.500,- dalam 4 bulan atau Rp.73.279.500,- dalam setahun. Jika pendapatan usahatani dalam setahun hanya diharapkan sebesar Rp.29.750.000,- (US$ 3500), maka luas usahatani krisan minimum yang diperlukan adalah 908,39 m2. Sementara itu untuk mencapai pendapatan sebesar Rp.17.000.000,- (US$ 2000), diperlukan usahatani krisan minimum seluas 519,08 m2.Economic analysis of minimum land area for chrysanthemum farming system. The purpose of the research was to find out the minimum land area of chrysanthemum farm for targeted yearly revenue of US$ 2000 to US$ 3500. The research was conducted directly in the region of Parongpong Bandung, West Java, from July to December 2003. The results showed that based on cost benefit analysis with land area of 2,237.5 m2 could provide profit Rp.24,426,500,- within 4 months or Rp. 73,279,500,- a year. Based on minimum land area of chrysanthemum farm, if the expected net profit Rp.29,750,000,- (US $ 3500) the land area for chrysanthemum farm was only 908.39 m2. Meanwhile, to reach the expected net profit Rp.17.000.000,- (US$ 2000) a year, the minimum land area was 519.08 m2.
Keragaman Genetik Plasma Nutfah Anggrek Spathoglottis Kartikaningrum, Suskandari; Effendie, K
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n4.2005.p%p

Abstract

Plasma nutfah diperlukan untuk menjaga agar suatu spesies atau kultivar tidak punah dan dapat digunakan sebagai sumber keragaman genetik dalam menciptakan atau merakit varietas unggul baru. Keragaman tanaman sangat penting dalam program pemuliaan tanaman, untuk memperbaiki kualitas genetik tanaman pada masa mendatang. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, pada bulan Juli 2004-Februari 2005. Penelitian bertujuan mengetahui heritabilitas dan keragaman genetik koleksi plasma nutfah anggrek Spathoglottis. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap, terdiri atas 15 genotip anggrek Spathoglottis, masing-masing spesies digunakan 5 klon sebagai ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman genetik yang luas dimiliki oleh karakter panjang daun, lebar daun, pertambahan jumlah anakan, panjang bunga, lebar bunga, panjang bibir, dan lebar bibir. Karakter-karakter, seperti pertambahan jumlah anakan, panjang dan lebar daun, panjang tangkai bunga, diameter tangkai bunga, panjang dan lebar bibir, rasio panjang-lebar bibir, panjang dan lebar bunga mempunyai nilai duga heritabilitas tinggi.Genetic variability of the germplasm of Spathoglottis. Orchid need to be kept as a species or cultivar to avoid from totally extinct. They can be used as the source of genetic variability in developing new superior varieties. Variability of the crop is very importance in plant breeding program to improve plant genetic quality in the future. The research was conducted in Indonesian Ornamental Crops Research Institute (IOCRI) from July 2004–February 2005. The aim of the research was to study the genetic variability and heritability of germplasm collection of Spathoglottis orchid. Randomized completely design was used consisted of 15 orchid genotypes. Five clones from each genotype were used as replication. The result indicated that wide genetic variability was related to length and width of leaf, number of shoot increament, length and width of flower, length and width of lip. Characters, such as number of shoot increament, length and width of leaf, length and diameter of flower stalk, length and width of lip, ratio of lip length-width, length and width of flower showed high heritability value.

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue