cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009" : 26 Documents clear
Uji Adaptasi beberapa Galur Cabai Merah di Dataran Medium Garut dan Dataran Tinggi Lembang Kusmana, -; Kirana, Rinda; Hidayat, Iteu Margareta; Kusandriani, Yeni
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut dan di Kebun Percobaan BalaiPenelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang, Kabupaten Bandung. Jumlah galur yang diuji sebanyak 13 macamdan 3 varietas pembanding. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 3 ulangan. Jumlahtanaman per plot sebanyak 20 batang. Tujuan pengujian untuk mengetahui daya adaptasi beberapa galur cabai yangdihasilkan oleh Balitsa pada lokasi dataran tinggi Lembang dan dataran medium Garut. Terdapat 3 galur cabai besaryang menampilkan hasil di atas 600 g/tanaman pada kedua lokasi penelitian, yaitu galur 2699, Lbg 33-15-4-4, danSF-3, sedangkan galur 349-1, SF-1, SF-2, dan SFK-2 hanya berpotensi hasil tinggi di Lembang, dan galur AHP 24-12-6-8 dan SFK-1 hanya berpotensi hasil tingggi di Garut.ABSTRACT. Kusmana, R. Kirana, I. M. Hidayat, and Y. Kusandriani. 2009. Adaptation Trial of Some ChiliLines in Mid Elevation of Garut and Highland Lembang. The experiment was conducted at Wanaraja, Garut andLembang, Bandung. Number of genotypes tested were 16 including 3 check varieties. A randomized block designwith 3 replications was used. The experiment unit consisted of 20 hills per plot. The objective of the research wasto find out high yielding lines for Garut and Lembang as well as for others similar ecosystem. The results indicatedthat 3 lines showed high yielding at both Garut and Lembang, these were 2699, Lbg 33-15-4-4, and SF-3. Two linesAHP 24-12-6-8 and SFK-1 showed high yielding in Garut, while 4 lines 349-1, SF-1, SF-2, and SFK-2 gave highproductivity at Lembang.
Seleksi Tanaman Tomat Berdasarkan Ketahanan Pasif dan Aktif terhadap CMV Gaswanto, R; Gunaeni, Nani; Duriat, Ati Srie
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ialah menentukan cara seleksi yang efektif ketahanan tanaman secara pasif maupunaktif terhadap CMV untuk mendukung program pemuliaan tanaman tomat. Penelitian terdiri atas 2 tahap. Tahappertama dilakukan pada Juni-Desember 2001 dan tahap kedua dilakukan pada September 2002- Agustus 2003.Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.200 m dpl.). Hasil penelitian menunjukkanbahwa seleksi ketahanan pasif tanaman tomat terhadap CMV efektif apabila diarahkan pada karakter morfologi daun.Tanaman yang tahan CMV memiliki karakteristik jumlah daun yang sedikit, tetapi berbulu lebat dengan jumlahstomata banyak. Seleksi ketahanan aktif tanaman tomat terhadap CMV efektif bila didasarkan pada indeks penyakitsecara visual yang ditunjang dengan teknik serologi melalui uji ELISA, karena tingginya peran gen aditif dalammengendalikan karakter konsentrasi virusABSTRACT. Gaswanto, R., N. Gunaeni, and A.S. Duriat. 2009. Tomato Selection Based on Passive and ActiveResistancy to CMV. The aim of this experiment was to determine the effective selection method either using activeor passive resistancy to CMV on tomato, for supporting tomato breeding program. The experiment was conductedat Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang consisted of 2 steps. The first step was conducted on June toDecember 2001, while the second step was held on September 2002 to August 2003. The results showed that passiveresistance selection to CMV on tomato would be effective if it was focused on the characters of leaf morphology.The plants resistant to CMV had fewer leaf number, dense leaf pubescence, and abundance of stomata numbers.Meanwhile, active resistance selection would be effective if it was based on index disease symptom supported byELISA test, because of high role of additive gene in controlling virus concentration
Studi Kultur Anther pada Aksesi Anthurium Lokal Winarto, Budi; Mattji, N A
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kultur anther merupakan salah satu terobosan teknologi dalam kultur jaringan untuk menyediakantanaman homozigot dalam waktu yang singkat. Aplikasi kultur anther pada aksesi Anthurium lokal dapat dilakukanuntuk menyediakan tetua homozigot yang tahan terhadap penyakit hawar daun. Penelitian bertujuan menguji responsbeberapa aksesi Anthurium lokal terseleksi dalam kultur anther dan kemampuan regenerasi kalus pada berbagai mediaregenerasi. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Januarihingga Desember 2006. Anther diisolasi dari aksesi Anthurium lokal Cipanas Merah, Cipanas Putih, Cihideung-Lembang Merah, Sukabumi Putih, dan Salatiga Putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa aksesi Anthuriumlokal memberikan respons yang berbeda terhadap kemampuan induksi kalus. Aksesi Cipanas Putih merupakan aksesiyang paling responsif dibandingkan aksesi lainnya dengan persentase pembentukan kalus tertinggi (5,2%). Kalus yangterbentuk dalam kultur anther memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap inkubasi terang dan tumbuh lebihcepat dibandingkan dengan aksesi yang lain. Kalus hasil kultur anther aksesi Cipanas Putih memiliki kemampuanregenerasi yang tercepat (1,5-2,5 bulan) dan jumlah bakal tunas terbanyak (2,2-5,7 tunas). Media MMS-IIIR danMMS-TBN merupakan media yang sesuai untuk regenerasi tunas dari kalus hasil kultur anther aksesi Cipanas Putih.Media tersebut juga sesuai untuk inisiasi kalusABSTRACT. Winarto, B. and N.A. Mattjik. 2009. Studies on Anther Culture of Local Accessions of Anthurium.Anther culture is a technological breakthrough in tissue culture to provide homozygot plants in a shorter periodcompared to conventional method. Anther culture applied for local Anthurium accession for getting desistant motherplant against light blight. Anther culture application aimed to evaluate responses of anther culture of local accessionof Anthurium and capacity of callus regeneration derived from it, in different regeneration media. The study wasconducted at Tissue Culture Laboratory and Glasshouse of Indonesian Ornamental Crops Research Institute fromJanuary to December 2006. Anthers of local accession of Cipanas Merah, Cipanas Putih, Cihideung-Lembang Merah,Sukabumi Putih, and Salatiga Putih were used in this research. The results indicated that among local accessions ofAnthurium tested had different responses in their capacity to produce callus. Cipanas Putih accession was the mostresponsive accession in callus formation (5.2%). Callus derived from this accession grew better and faster than otheraccessions and easily adapted under light incubation. Callus resulted from anther culture of Cipanas Putih accessionexhibited faster regeneration (1.5-2.5 months) and produced highest number of shoots per callus (2.2-5.7 shoots).The MMS-IIIR and MMS-TBN media were the appropriate media for shoot regeneration of callus produced fromanther culture of Cipanas Putih accession. The media was also suitable for callus initiation.
Tanggap Pertumbuhan Mawar Mini dan Produksi Bunga pada Berbagai Daya Hantar Listrik dan Komposisi Media Tanam Tedjasarwana, Rahayu; Nugroho, ED S; Herlinaa, Debora; Darliah, -
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budidaya mawar mini Rosa sinensis Hort. var. Red Baby Rose pada pot memerlukan daya hantar listrik(DHL) media dan komposisi media tanam yang tepat agar pertumbuhan dan hasil bunga tinggi. Tujuan percobaanuntuk mendapatkan informasi tentang DHL media dan komposisi media tanam yang tepat. Percobaan diselenggarakanpada pot dalam naungan rumah plastik pada ketinggian 1.100 m dpl. di Kebun Percobaan Segunung Balai PenelitianTanaman Hias, Pacet, Cianjur, pada bulan Desember 2004-Juni 2005. Petak-petak percobaan disusun menurutrancangan petak terpisah dengan 3 ulangan. Perlakuan petak utama adalah 3 DHL media tanam >0,35-0,50, >0,50-0,75, dan >0,75-1,00 mS/cm, sedangkan anak petak yaitu komposisi media tanam cocopeat (1v), arang sekam (1v),cocopeat : arang sekam (2:1 v/v), (1:2 v/v), (1:1 v/v), dan moss:arang sekam (4:1 v/v). Hasil percobaan menunjukkanbahwa tidak terjadi interaksi yang berbeda nyata antara DHL media tanam dan komposisi media terhadap semuapeubah yang diamati. Panjang tangkai bunga tertingi (5,54 cm) diperoleh pada DHL media tanam >0,50-0,75 mS/cm. Tinggi tanaman tertinggi 22,17 cm, jumlah tunas terbanyak 18,60 buah/tanaman, jumlah klorofil tertinggi 45,87unit, diameter bunga kuncup tertinggi 8,54 mm, diameter bunga mekar tertinggi 4,46 cm, diameter neck tertinggi 1,39mm, diameter tangkai bunga tertinggi 1,84 mm, produksi bunga tertinggi 9,18 kuntum/tanaman, dan lama kesegaranbunga terlama 12,38 hari, diperoleh dari komposisi media tanam moss:arang sekam (4:1 v/v). Hasil penelitian inibermanfaat sebagai acuan petani mawar mini dan pengguna lainnyaABSTRACT. Tedjasarwana, R., E.D.S. Nugroho, D. Herlina, and Darliah. 2009. Response of Mini Rose Growthand Flower Yield at Various Electrical Conductivity and Growing Media Compositions. Mini rose, Rosa sinensisHort var. Red Baby Rose pot plant need proper media electrical conductivity (EC) and growing media compositionto obtain good growth and high flower production. The objective of the experiment was to find out the best growingmedia EC and media composition. Experiment was conducted on the pot in the plastichouse at Segunung FieldExperiment, Indonesian Ornamental Crops Research Intitute, Pacet, Cianjur, West Java (1,100 m asl.) from December2004 up to June 2005. The experiment was arranged in a split plot design with 3 replications. The main plots wasEC of growing media, namely >0.35-0.50, >0.50-0.75, and >0.75-1.00 mS/cm. While the subplot was 6 growingmedia composition, namely cocopeat (1 v), ricehull charcoal (1 v), cocopeat : ricehull charcoal (2:1 v/v), (1:2 v/v),(1:1 v/v), and moss: ricehull charcoal (4:1 v/v). The results of this experiment showed that there was no significantinteraction between growing media EC and growing media composition in all variables observed. The highest offlower stem length (5.54 cm) was found in >0.50-0.75 mS/cm of growing media EC. The highest plant height (22.17cm), buds number (18.6 buds/plant), chlorophyl contains (45.87 units), flower bud diameter (8.54 mm), blossomdiameter (4.46 cm), neck diameter (1.39 mm), flower stem diameter (1.84 mm), flower yield (9.18 flowers/plant),and flower vaselife (12.38 days), were found from growing media composition of moss: rice hull charcoal (4:1 v/v).The results of this experiment can be used as reference for mini rose farmer and any other usage.
Kualitas Buah Tomat pada Pertanaman dengan Mulsa Plastik Berbeda Setyorini, D; Indradewa, D; Sulistyaningsih, E
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi lingkungan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman. Memodifikasikondisi lingkungan selain akan memengaruhi pertumbuhan tanaman juga dapat memengaruhi kualitas buah yangdihasilkan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian, sertaLaboratorium Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Gadja Mada, Yogyakarta, pada bulanFebruari sampai Juni 2004. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok, 5 perlakuan warna mulsa plastikdengan 4 kali ulangan. Variabel pengamatan meliputi jumlah buah per tanaman, buah rusak per plot, berat per buah,diameter dan panjang buah, kekerasan buah, nilai kematangan buah, total padatan terlarut dalam buah, kandunganvitamin C buah, dan kandungan asam dominan buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna mulsa plastikberpengaruh terhadap parameter kualitas spesifik buah tomat. Penggunaan mulsa plastik merah dapat memperkecilpersentase buah rusak, namun menurunkan nilai koefisien kematangan buah, sedangkan penggunaan mulsa plastikbiru dapat meningkatkan kekerasan buah. Sementara itu, mulsa plastik hitam perak dapat meningkatkan kadar asamdominan yang cocok untuk budidaya tomat olahanABSTRACT. Setyorini, D., D. Indradewa, and E. Sulistyaningsih. 2009. Fruit Quality of Tomato Planted inDifferent Plastic Mulch. Environment conditions is one of important factor that may affect plant growth. Modificationof environment conditions will not only affect plant growth, but also fruit quality. This study was carried out in TheExperimental Garden and Horticultural Laboratory of College of Agriculture, Gadjah Mada University. The experimentwas set up in a randomize block design with 5 levels of treatments (plastic mulch color) and 4 replications. Parameterobserved were fruit number per plant, damaged fruit per plot, fruit weight, diameter and length of fruit, fruit firmness,coefficient of fruit ripening, total soluble solid, vitamin C, and dominant acid. The results showed that the color ofplastic mulch had a specific effect on tomatoes fruit quality parameter. The use of red plastic mulch reduce thepercentage of damage fruits but decreased the coefficient of fruit ripening. The blue plastic mulch had a significanteffect on increase fruit firmnes. Meanwhile, the silvery black plastic mulch could increase the dominant acid contentthat was suitable for growing processing tomatoes.
Metode Pengakaran Batang Bawah Mawar Bebas Prunus Necrotic Ringspot Virus Secara In Vitro Diningsih, Erniawati; Rahmawati, Fitri; Sulyo, Yoyo; Darliah, -
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode untuk memproduksi batang bawah mawar bebas virus sudah diperoleh pada penelitiansebelumnya. Untuk mendapatkan bibit bebas virus diperlukan metode pengakaran yang tepat secara in vitro. Pengakaranmerupakan salah satu tahap penting dalam teknik kultur jaringan untuk perbanyakan bibit tanaman secara cepat.Penelitian bertujuan mendapatkan jenis media terbaik untuk pengakaran batang bawah mawar bebas virus. Penelitiandilaksanakan di Laboratorium Virologi dan Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung, Cianjur, JawaBarat (1.100 m dpl), dari bulan Januari sampai Desember 2003. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompokpola faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah 3 kultivar batang bawah mawar bebas virus (Rosa multiflora,Rosa sp. cv. Multic, dan cv. Natal Brior). Faktor kedua adalah 7 komposisi media pengakaran (MS+IBA 0,5 mg/l,MS+IBA 1,0 mg/l, MS+NAA 0,5 mg/l, MS+NAA 1,0 mg/l, MS+IAA 0,5 mg/l, MS+IAA 1,0 mg/l, dan MSO (tanpaZPT)). Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pengakaran yang paling baik untuk memproduksi batang bawahmawar bebas virus yaitu dengan komposisi MS+IBA 0,5 mg/ml. Implikasi hasil penelitian ini adalah tersedianyateknologi pengakaran in vitro untuk batang bawah mawarABSTRACT. Diningsih, E., F. Rahmawati, Y. Sulyo, and Darliah. 2009. In Vitro Rooting Method for ProducingFree-Virus Rose Rootstock. The method for producing virus free plantlet of rose rootstock had been obtained inprevious study. In obtaining virus-free seed, availability of appropriate in vitro rooting method is needed. Rootingis one of the important step in tissue culture technique for plant rapid multiplication. The purpose of this experimentwas to obtain the best rooting medium for producing virus-free rose rootstock. The experiment was conducted in theVirology Laboratory of the Indonesian Ornamental Crop Research Institute, Segunung, Cianjur, West Java (1,100 masl.) from January to December 2003. The research was laid in a factorial randomized block design with 3 replications.The first factor was 3 virus-free rose rootstock cultivars (Rosa multiflora, Rosa sp. cv. Multic, and cv. Natal Brior)resulted from the previous experiment. The second factor was 7 compositions of medium (MS+IBA 0.5 mg/l, MS+IBA1.0 mg/l, MS+NAA 0.5 mg/l, MS+NAA 1.0 mg/l, MS+IAA 0.5 mg/l, MS+IAA 1.0 mg/l, and MSO (without PGR)).The results showed that the best rooting medium for producing virus-free rose rootstock was MS+IBA 0.5 mg/l.
Isolasi, Identifikasi, dan Karakterisasi Jamur Entomopatogen dari Rizosfir Pertanaman Kubis Nuraida, -; Hasyim, Ahsol
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dan mengkarakterisasi jamur entomopatogen dari rizosfirpertanaman kubis. Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Entomologi dan Penyakit Tumbuhan, FakultasPertanian Universitas Andalas dan Laboratorium Entomologi, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok dariMaret sampai Agustus 2006. Pengujian sporulasi jamur entomopatogen menggunakan rancangan acak lengkap polafaktorial dengan 2 faktor yaitu jenis isolat dan substrat. Sebanyak 500 g tanah diambil dari pertanaman kubis di PadangPanjang (Desa Koto Panjang) dan Alahan Panjang (Desa Rimbo Data) kemudian dimasukkan ke dalam kotak plastik.Sebanyak 10 ekor Tenebrio molitor stadia larva instar ketiga yang baru berganti kulit dimasukkan ke dalam kotakyang berisi tanah, kemudian ditutup dengan selapis tipis tanah dan dilembabkan dengan menyemprotkan akuadessteril di atasnya sebanyak 100-150 ml. Kotak tersebut diletakkan di laboratorium dengan kelembaban >90%. Larvayang terinfeksi setelah 3-4 hari digunakan sebagai sumber isolat jamur entomopatogen. Hasil penelitian menunjukkanbahwa jamur yang menginfeksi T. molitor adalah jamur entomopatogen yang dapat menyebabkan kematian hamakrop kubis Crocidolomia pavonana F.. Enam jenis jamur patogen serangga berhasil dibiakkan pada media SDAY.Genus jamur patogen tersebut adalah Fusarium sp., Beauveria sp., Metarhizium sp., Nomuraea sp., Paecilomycessp., dan Achersonia sp.. Beras dan gandum adalah substrat yang paling baik bagi perbanyakan dan pertumbuhankoloni jamur dibandingkan substrat lainnya. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa spesies jamur entomopatogentersebar secara alami di lingkungan kebun tanaman kubis.ABSTRACT. Nuraida and A. Hasyim. 2009. Isolation, Identification, and Characterization of EntomopathogenicFungi from Rhizosphere of Cabbage Plant. This experiment was conducted at Entomology and PhytopathologyLaboratory Faculty of Agriculture, Andalas University and Entomology Laboratory of Tropical Fruit ResearchInstitute, Solok, West Sumatera, from March to August 2006. A factorial completely randomized design with 2factors, i.e. fungi isolates and its substrates was applied. About 500 g soil samples were collected from cabbagefields in Padang Panjang (Koto Panjang Village) and Alahan Panjang (Rimbo Data Village) and placed into plasticbags. The soils were screened for the presence of entomopathogenic fungi. The new third instars larvas of Tenebriomolitor L. were used as baits. About 10 larvae were placed on the soil surface in plastic bowl and covered withlid. Then the bowl was incubated under laboratory condition with >90% RH. The infected larvas, after 3-4 days,were used as source of entomopathogenic fungi isolate. The results showed that fungi isolated from T. molitor baitwere all entomopathogenic causing mortality of Crocidolomia pavonana. Six entomopathogens were successfullycultured on SDAY. These were Fusarium sp., Beauveria sp., Metarhizium sp., Nomuraea sp., Paecilomyces sp., andAchersonia sp.. Rice and wheat produced better cultures and growth of fungal colony than those other substrates.The present study has provided strong evidence that entomopathogenic fungal species were naturally spread in thesoil environment of cabbage field.
Eradikasi Tanaman Pisang Terinfeksi Fusarium Menggunakan Glifosat dan Minyak Tanah Hermanto, Catur; Eliza, -; Emilda, Denny
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit layu fusarium merupakan salah satu kendala utama produksi pisang di dunia, karenanyapengelolaan tanaman terinfeksi menjadi isu penting dalam pengendalian penyakit. Penelitian bertujuan untukmendapatkan informasi tentang perkembangan cendawan fusarium dari jaringan terinfeksi dan mencari metodeeradikasi tanaman yang terserang penyakit. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman dan KebunPercobaan Aripan, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika dari bulan Juli 2007 sampai Maret 2008, terdiri dari 3tahap kegiatan, yaitu (1) sporulasi cendawan Fusarium oxysporum f.sp. cubense pada jaringan pembuluh vaskularsecara in vitro, (2) sporulasi cendawan fusarium akibat pemotongan batang semu pada tanah steril, dan (3) eradikasitanaman terinfeksi secara kimiawi. Hasil penelitian menunjukkan (a) pemotongan jaringan terinfeksi merangsangpembentukan konidiofor, sporulasi, dan produksi konidia, (b) peningkatan luas permukaan jaringan yang terinfeksipenyakit yang terbuka sampai 4,5 kali yang dapat meningkatkan produksi konidia sampai 14,83 kali, (c) fitotoksispada tanaman pisang terserang penyakit layu fusarium yang dieradikasi dengan herbisida glifosat terjadi pada 3-4hari setelah aplikasi dan mencapai nekrotik pada 14-16 hari setelah aplikasi, dan (d) injeksi 10 ml glifosat merupakanmetode eradikasi yang paling baik terhadap tanaman yang terserang penyakit layu fusarium karena mengakibatkanintensitas dan insidensi nekrosis daun, serta kematian patogen yang paling tinggi. Hasil penelitian dapat digunakansebagai dasar dalam pengelolaan tanaman pisang yang terserang penyakit layu fusarium secara tepatABSTRACT. Hermanto, C., Eliza, and D. Emilda. 2009. Eradication of Fusarium Infected Banana PlantUsing Glyphosate and Kerosene. Fusarium wilt disease is one of the major constraints of world banana production.Management of diseased plants becomes a critical issue in disease control. Research was aimed to gain information offusarium development from infected tissue and method to eradicate dying-infected plant. The research was conductedin Plant Protection Laboratory and Aripan Experimental Farm, Indonesian Tropical Fruit Research Institute from July2007 to March 2008, consisting of 3 steps, namely (1) in vitro sporulation of fusarium from dying-infected tissue,(2) study of fusarium sporulation from dying-infected tissue on sterile soil, and (3) chemical eradication of fusariumwilt dying plants. The results showed that (a) cutting of dying-infected tissue stimulated conidiophore formation,sporulation, and conidial production, (b) increase of the surface of dying-infected tissue by 4.5 times resulted inincrease of conidial production until 14.83 times, (c) phytotoxic of banana plant started appearing on 3-4 days afterapplication of glyphosate herbicide, and reached total necrotic on 14-16 days, and (d) 10 ml glyphosate injectioncaused phytotoxis on leaves, petioles, pseudostem, and fruits, resulting in the best eradication method for fusariumwilt dying plant with highest severity and incidence of leaf necrosis, and pathogen mortality. The results can be usedto properly manage fusarium wilt dying-infected banana plant.
Pengujian Kisaran Inang Nematoda Bentuk Ginjal (Rotylenchulus reniformis Linford dan Oliveira) Marwoto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rotylenchulus reniformis merupakan salah satu nematoda semiendoparasit penting yang menyerangberbagai jenis tanaman hortikultura di Indonesia. Nematoda ini dapat ditemukan di dataran rendah maupun datarantinggi di Indonesia. Salah satu cara yang efektif untuk mengendalikan R. reniformis ialah melalui penerapan rotasitanaman dan sanitasi lingkungan, termasuk memusnahkan tanaman inang alternatif. Untuk itu, diperlukan pengujianstatus inang berbagai jenis tanaman dan spesies gulma terhadap R. reniformis. Penelitian dilaksanakan pada bulan April2002 sampai Januari 2003 di Rumah Kaca dan Laboratorium Nematologi Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung,Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur (1.100 m dpl.). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5ulangan. Sebanyak 84 jenis tanaman sayuran, tanaman hias, dan berbagai spesies gulma digunakan sebagai perlakuan.Setiap tanaman diinokulasi dengan 1.000 ekor nematoda yang merupakan campuran larva, nematoda jantan, dan betinapradewasa. Status inang ditentukan dengan kriteria faktor reproduksi R. reniformis lebih dari 1 = tanaman inang R.reniformis dan faktor reproduksi kurang dari 1 = bukan tanaman inang. Faktor reproduksi merupakan perbandinganantara populasi akhir dan populasi awal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 41 jenis tanaman sayuran yangdiuji, 24 di antaranya merupakan tanaman inang R. reniformis. Cabai, wortel, dan bawang-bawangan bukan inangR. reniformis. Tujuh spesies gulma berdaun lebar dapat digolongkan sebagai inang R. reniformis. Semua gulmamonokotil yang diuji bukan inang R. reniformis. Populasi R. reniformis tidak dapat berkembang pada hibrida Tagetespatula dan T. erecta, Crotalaria usaramoensis, dan Ricinus communisABSTRACT. Marwoto, B. 2009. Study of Host Range of Reniform Nematode (Rotylenchulus reniformis Linfordand Oliveira ). Rotylenchulus reniformis is one of the most important semiendoparasitic nematode attacking differentspecies of horticultural crops and weeds in Indonesia. The nematode can be found in the lowland and highland areasin Indonesia. One of the most reliable control measures of the nematode in the field is by applying crop rotation anderadicating alternative hosts. Before applying those control measures, a research on the host status of different cropsand weed species to the nematode is necessarily to be done. This study was conducted on April 2002 to January2003 at the Greenhouse and Nematology Laboratory of The Research Institute for Ornamental Crops, Cianjur, WestJava (1,100 asl.). A completely randomized design with 5 replications was used in this study. A total of 84 speciesand varieties of vegetables, ornamental crops, and weeds were used as treatments. Every variety of the crops and theweeds were inoculated with 1,000 nematode population, comprised of larvae, male, and pre-adult female. Host statuswas determined by the following criteria reproductive factor: >1=host plant and reproductive factor; and <1=non-hostplant; where reproductive factor was ratio between initial population and final population. The results showed that ofthe 41 species and varieties of vegetable crops tested, 24 species were determined as non-host of R. reniformis. Amongthem were chili pepper, carrot, shallots, and garlic. Seven weed species were categorized as host of R. reniformis.Monocot weeds were mostly proven as non-host of R. reniformis. Population of R. reniformis could not grow onTagetes patula and T. erecta hibryds, Crotalaria usaramoensis, and Ricinus communis
Preferensi Konsumen Hotel terhadap Bunga Potong Gerbera Nurmalinda, -; Yani, A
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerbera merupakan salah satu jenis bunga potong yang banyak diminta pasar. Dilihat dari besarnyapenjualan bunga potong gerbera di pasar bunga Rawabelong, berarti terbuka peluang bagi petani untuk meningkatkanproduksi bunga potong tersebut. Namun demikian, satu hal yang harus diperhatikan bahwa jenis bunga potonggerbera cukup banyak, sehingga perlu dipilah jenis-jenis yang paling disukai konsumen. Tujuan penelitian adalahuntuk mengetahui preferensi konsumen hotel terhadap bunga potong gerbera. Penelitian dilakukan di hotel-hotelberbintang 4 dan 5 di wilayah DKI Jakarta, pada bulan September 2005-Februari 2006. Pemilihan hotel berbintang 4dan 5 adalah dengan pertimbangan bahwa hotel tersebut merupakan sentra kegiatan pelaku bisnis yang menggunakanrangkaian bunga segar sebagai dekorasi ruangan. Responden penelitian adalah konsumen antara, yaitu floris-florishotel yang menyediakan bunga untuk dekorasi ruangan hotel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang palingmemengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian bunga potong adalah pendidikan. Dari sisi produk, gerberayang banyak dicari konsumen adalah yang berkualitas tetapi harga tidak terlalu mahal dan diantar ke tempat olehsupplier. Promosi bunga melalui pameran merupakan salah satu kemudahan bagi responden untuk mendapatkaninformasi mengenai bunga potong umumnya dan gerbera khususnya. Selain itu, konsumen floris menyukai gerberaintroduksi yang sudah lama dikembangkan di Indonesia atau sering disebut sebagai jenis lokal, semua warna, ukuranbunga sedang, ketahanan bunga sekitar 5 hari.ABSTRACT. Nurmalinda and A. Yani. 2009. Hotel Consumer Preference on Gerbera Cut Flower. Gerberais one of cut flowers that has high market demand. High selling of gerbera cut flower in Rawabelong is a signal forfarmers to increase their production. However, it should be noted that the type of gerbera is quite a lot. Therefore,farmer should be aware of the type of gerbera mostly desired. This study was intended to examine hotel consumerpreference on gerbera cut flower. The research was carried out in 4 and 5 star hotel in Jakarta from September 2005to February 2006. Ten of 4 star hotels and 9 of 5 star hotels were selected purposively based on the potential ofbussinesmen using flower arrangement for room decoration. The florists of these hotels who provided flower forroom decoration were chosen as respondents. The results indicated that the main factor influenced the consumersto buy flower was education. In term of product, gerbera mostly demanded by consumers was of best quality, withreasonable price, and delivered by supplier. Flower exhibition provided an easy opportunity to get information oncut flowers in general and especially for gerbera. Furthermore, florist prefered gerbera that has been introduced anddeveloped in Indonesia for decades, or so called local variety of all color, medium size, 5 days vaselife.

Page 1 of 3 | Total Record : 26


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue