cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pengelolaan Hara dan Tanaman untuk Mendukung Usahatani Cabai Merah Menggunakan Input Luar Rendah di Dataran Tinggi Sumarni, Nani; Setiawati, Wiwin; Hudayya, Abdi
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p141-153

Abstract

Usahatani cabai merah konvensional dengan menggunakan input pupuk kimia yang tinggi memberikan dampak pada penurunan produktivitas lahan dan tanaman cabai merah, serta pencemaran lingkungan. Karena itu perlu dicari teknologi alternatif ramah lingkungan menggunakan input luar rendah dengan menggganti sebagian input pupuk kimia sintetik dengan bahan organik, alami, dan hayati (mikroorganisme berguna), serta menggunakan sistem tanam ganda. Penelitian dilakukan di dataran tinggi Lembang dari bulan Maret sampai dengan Oktober 2013 menggunakan cabai merah varietas Kencana. Tujuan penelitian ialah untuk menghasilkan sistem tanam dan pengelolaan hara yang tepat untuk meningkatkan hasil cabai merah dalam usahatani dengan input luar rendah. Rancangan penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama ialah sistem tanam cabai merah (a1= cabai merah monokultur, a2= tumpangsari cabai merah + kubis bunga, dan a3= tumpangsari cabai merah + buncis tegak). Anak petak ialah pengelolaan hara (b1= 30 t/ha pupuk kandang + 1.000 kg/ha pupuk NPK, b2= 30 t/ha kompos pupuk kandang + 750 kg/ha pupuk NPK, b3= 30 t/ha kompos sisa-sisa tanaman + 500 kg/ha pupuk NPK, dan b4= 30 t/ha kompos campuran pupuk kandang dan sisa-sisa tanaman yang diperkaya + 250 kg/ha pupuk NPK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara sistem tanam dan pengelolaan hara terhadap pertumbuhan tanaman, serapan hara, dan hasil buah cabai merah. Sistem tanam tumpangsari cabai merah + kubis bunga dan cabai merah + buncis tegak umumnya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap pertumbuhan tanaman, dan serapan hara, serta hasil buah tanaman cabai merah dibandingkan dengan sistem tanam cabai merah monokrop. Perbedaan pengelolaan hara berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan bobot kering tanaman, serapan hara P dan Mg, serta hasil bobot buah cabai merah. Bobot buah cabai merah tertinggi diperoleh dengan sistem tanam cabai merah monokultur dengan pemberian 30 t/ha kompos pupuk kandang + 750 kg/ha pupuk NPK, yaitu 64 kg/42 m2, sedangkan sistem tanam tumpangsari cabai merah + buncis dan pengelolaan hara 30 t/ha kompos sisa-sisa tanaman + 500 kg/ha pupuk NPK walaupun memberikan hasil buah cabai merah yang lebih rendah (54 kg/42 m2) tetapi lebih baik karena mempunyai tingkat pengembalian marginal tertinggi. Aplikasi hasil penelitian ini dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan meningkatkan produktivitas lahan yang sejalan dengan prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan.
Teknik Pengeringan dalam Oven untuk Irisan Wortel Kering Bermutu Dian Histifarina; Darkam Musaddad; E. Murtiningsih
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n2.2004.p107-112

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengkaji pengaruh suhu dan lama pengeringan terhadap karakteristik mutu sayuran wortelkering. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hasil Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang daribulan Juli sampai Oktober 2000. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok pola faktorial dengantiga ulangan dan dua faktor. Faktor pertama adalah suhu pengeringan (40, 50, dan 60°C) dan faktor kedua adalah lamapengeringan (17, 22, 27, dan 32 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama pengeringan 32 jam yangdikombinasikan dengan suhu pengeringan 50°C menghasilkan wortel kering terbaik berdasarkan nilai kadar air(9,15% bb), kadar beta karoten (0,019%), persentase rehidrasi tinggi (520,44%), dan penilaian sensori terhadap warnaserta tekstur yang baik.AB STRACT. Histifarina, D., D. Musaddad, and E. Murtiningsih. 2004. De hy dra tion tech nique us ing an ovenfor qual ity dried sliced car rot. The aim of this re search was to study the ef fect of tem per a ture and dry ing du ra tion onthe dried car rot qual ity char ac ter is tics. The re search was con ducted at Postharvest Phys i ol ogy Lab o ra tory of In do ne -sian Veg e ta bles Re search In sti tute, Lembang from July to Oc to ber 2000. The ex per i ment was laid in a fac to rial ran -dom ized block de sign with three rep li ca tions and two fac tors. The first fac tor was the tem per a ture (40, 50, and 60°C)and the sec ond fac tor was dry ing du ra tion (17, 22, 27, and 32 hours).The re sult showed that the dry ing du ra tion 32hours com bined with dry ing tem per a ture of 50°C gave the best dried car rot char ac ter is tics based on wa ter con tent(9.15% bb), beta car o tene con tent (0.019%), high est rehydration ca pac ity (520.44%), and sensoriccally best color andtex ture.
Kajian Potensi Predator Coccinellidae untuk Pengendalian Bemisia tabaci (Gennadius) pada Cabai Merah Bagus Kukuh Udiarto
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n1.2012.p76-84

Abstract

Kutukebul Bemisia tabaci (Hemiptera: Aleyrodidae) merupakan hama penting pada pertanaman cabai merah dansatu-satunya penular virus Gemini (virus kuning). Virus kuning keriting yang disebabkan oleh virus Gemini sekarang menjadiepidemik di berbagai daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sumatera Utara, dan Lampung, dengan intensitasserangan antara 20 sampai 100%. Tujuan penelitian untuk mendapatkan predator dari jenis Coccinellidae yang benar-benar efektifuntuk mengendalikan B. tabaci pada pertanaman sayuran khususnya cabai merah. Kajian potensi Coccinellidae sebagai predatorB. tabaci dilaksanakan pada tiga tahap percobaan, yaitu eksplorasi predator, uji daya pemangsaan, dan uji preferensi. Eksplorasipredator dilaksanakan dengan metode survei di tiga provinsi sentra produksi cabai merah dan daerah endemi penyakit virus kuningyaitu Jawa Barat (Kabupaten Cirebon dan Garut), Jawa Tengah (Kabupaten Brebes dan Magelang), dan DI Yogyakarta (KabupatenBantul dan Sleman). Eksplorasi predator dilakukan dengan mengumpulkan secara langsung serangga yang diduga sebagai predator(pendugaan predator berdasarkan pengamatan dan studi literatur), kemudian di inventarisasi dan diuji keefektifannya sebagai musuhalami melalui uji daya pemangsaan dan preferensi terhadap B. tabaci dan hama kutu daun cabai lainnya. Penelitian dilaksanakan ditiga provinsi, yaitu Jawa Barat (Kabupaten Cirebon dan Garut), Jawa Tengah (Kabupaten Brebes dan Magelang), dan DI Yogyakarta(Kabupaten Bantul dan Sleman) dari bulan Mei sampai dengan September 2010. Hasil eksplorasi dan identifikasi ditemukan 11 jenispredator yang berpotensi sebagai musuh alami B. tabaci, yang terdiri atas delapan jenis dari ordo Coleoptera famili Coccinellidae yaituMenochilus sexmaculatus, Coccinella transversalis, Verania lineata, Illeis sp., Curinus coeruleus, Delphastus sp., Harmonia sp., danMenochilus sp., satu jenis dari famili Stapilinidae yaitu Paederus fuscipes, satu jenis dari ordo Hemiptera: famili Miridae (Compylommasp.), satu jenis dari ordo Neuroptera famili Hemerobiidae, dan satu jenis ordo Diptera (Condylostylus sp). Berdasarkan distribusi,kelimpahan, uji daya pemangsaan dan uji preferensi terhadap B. tabaci, maka spesies predator yang berpotensi tertinggi sebagaiagens hayati B. tabaci ialah V. lineata, kemudian diikuti oleh M. sexmaculatus dan C. transversalis (Coleoptera : Coccinellidae).Pemanfaatan predator B. tabaci potensial dapat diuji dan diaplikasikan pada skala yang lebih besar.ABSTRACTWhitefly Bemisia tabaci (Homoptera:Aleyrodidae) is one of important pest on vegetable crops, especially on family of Solanaceae, particularly on chili peppers.Whiteflybecomes very critical pest because it become an important vector for Gemini virus. Many regions in West Java, Central Java,Yogyakarta, South Sumatera, and Lampung became endemic of leafroll yellow virus caused by Gemini virus in the recent year withdisease intensity from 20 till 100%. Objective of this research was to obtain potential and effective predators to control B. tabacifrom West Java, Central Java, and Yogyakarta. Study of Coccinellidae potency as natural enemy to control B. tabaci have beendone through three stages started from predator exploration, predation, and preference test. Predators exploration was done in chilipepper production centre area in three province, namely West Java (Cirebon and Garut Districts), Central Java (Brebes and MagelangDistrict), and Yogyakarta (Bantul and Sleman District). Those areas were choosen as exploration area because beside as chili peppersproduction centre areas, they were also indicated as Gemini virus endemic area. Predator exploration was done by collecting insectsthat were indicated as predator (based on literature study). Predators that found in this exploration then be identified and tested fortheir effectiveness as natural enemies (predation and preference test). From the exploration and identification, there were found11 species of predator, nine of eleven predator were member of Coleoptera (eight of them were member of family Coccinellidae,namely Menochilus sexmaculatus, Coccinella transversalis, Verania lineata, Illeis sp., Curinus coeruleus, Delphastus sp., Harmoniasp., Menochilus sp., and one of them was include in family of Staphylinidae Paederus fuscipes. We also find one species fromordo Hemiptera, i.e. member of Miridae family: Compylomma sp., one species from ordo Neuroptera, family Hemerobiidae, andone species from ordo Diptera (Condylostylus sp). Based on distribution, severity and effectiveness test, it could be concluded thatpredator species which have the highest potency as natural agent for controlling B. tabaci were V. lineata, M. sexmaculatus, and C.transversalis (Coleoptera : Coccinellidae). The use of B. tabaci high potential predators can be tested and applied in higher scale.The use of B. tabaci high potential predators can be tested and applied in higher scale.
Hubungan Laju Pertumbuhan dengan Saat Berbunga Untuk Seleksi Kegenjahan Tanaman Pepaya Muhammad Jawal Anwarudin Syah; Panja Jarot Santoso; F Usman; T Purnama
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n3.2003.p182-189

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara laju pertumbuhan tanaman dengan saat berbunganya beberapa aksesi pepaya di Kebun Percobaan Aripan, Balai Penelitian Tanaman Buah di Solok mulai bulan Agustus 1999 sampai Februari 2000. Penelitian merupakan percobaan pot di lapangan yang dilakukan dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Jumlah aksesi yang diuji sebanyak 40 nomor yang diperoleh dari Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, dan Jawa Timur. Parameter yang diamati meliputi laju tumbuh relatif, laju asimilasi bersih, bobot kering tanaman, tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan saat tanaman mulai berbunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan pertumbuhan serta saat tanaman mulai berbunga antarnomor aksesi pepaya yang diuji bervariasi secara nyata. Komponen laju pertumbuhan tanaman pepaya tidak ada yang berkorelasi secara nyata dengan saat tanaman mulai berbunga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan varietas pepaya genjah tidak dapat dilakukan dengan seleksi terhadap laju pertumbuhan. Aksesi No. 029 merupakan aksesi yang tumbuh cepat dan genjah sehingga dapat dijadikan sebagai calon varietas unggul. Kata kunci: Carica papaya; Laju tumbuh; Pembungaan ABSTRACT. The research has been conducted at Aripan Experimental Station , Indone- sian Fruit Research Institute at Solok from August 1999 to February 2000 in randomized block design with three repli- cations and 40 accessions of papaya as treatments were collected from West Sumatera, Bengkulu, South Sumatera, Lampung, and East Jawa. The research was using container trial in field. The parameters observed were relative growth rate, net assimilation rate, plant dry weight, plant height, leaf number, stem diameter, and flowering time. The results of the experiment indicated that growth rate and flowering time among accessions are enough variations. No correlation between growth rate component and flowering time of papaya. The experiment results indicated that selec- tion of early flowering papaya by exploited of plant growth rate can not be applied. Accesion No. 029 which indicated faster growth and early flowering can be used as an candidate of superior variety.
Potensi Trichoderma spp. sebagai Agens Pengendali Fusarium spp. Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman Stroberi Mutia Erti Dwiastuti; Melisa N Fajri; Yunimar Yunimar
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n4.2015.p331-339

Abstract

Layu yang disebabkan oleh Fusarium spp. merupakan salah satu penyakit penting tanaman stroberi (Fragaria x ananassa Dutch.) di daerah subtropika, yang dapat menggagalkan panen. Penelitian bertujuan untuk mempelajari potensi Trichoderma spp. dalam mengendalikan Fusarium spp. Isolat Trichoderma spp. diisolasi dari rizosfer tanaman stroberi dan Fusarium spp. diisolasi dari tanaman stroberi yang mengalami layu fusarium. Isolat cendawan dimurnikan, dikarakterisasi, dan dibandingkan dengan isolat cendawan acuan. Uji antagonis dilakukan secara in vitro dan in vivo. Uji in vitro dilakukan dengan metode dual culture dan slide culture. Uji in vivo dilakukan di rumah kasa menggunakan dua varietas stroberi, yaitu Santung serta California. Hasil penelitian  in vitro memperoleh dua jenis isolat cendawan antagonis, yaitu Trichoderma sp.1 dan Trichoderma sp.2, dan dua jenis cendawan patogen Fusarium, yaitu Fusarium sp.1 dan Fusarium sp.2. Isolat Trichoderma sp.1 memiliki kemampuan antagonisme lebih tinggi dibandingkan dengan isolat Trichoderma sp.2. Isolat Trichoderma sp.1 mampu menghambat pertumbuhan Fusarium sp.1 dan Fusarium sp.2 secara berturut- turut, yaitu 49,7% dan 49,6%. Isolat Trichoderma sp.2 mampu menghambat pertumbuhan Fusarium sp.1 dan Fusarium sp.2 lebih rendah, yaitu sebesar 45,8% dan 43,4%. Mekanisme antagonis yang terjadi antara cendawan antagonis dan patogen pada uji in vitro, yaitu pembelitan dan intervensi hifa. Hasil pada uji in vivo pada perlakuan I sebelum Fusarium menunjukkan keefektifan pengendalian paling baik (41,72%) dibanding perlakuan lain. Varietas Santung lebih tahan terhadap serangan patogen dibandingkan varietas California. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah, agens hayati Trichoderma spp. lebih optimal digunakan sebagai pencegahan (preventif) tanpa menunggu tanaman terinfeksi penyakit layu fusarium.
Teknik Aplikasi Benzilaminopurin dan Pemeliharaan Jumlah Umbel Per Tanaman untuk Meningkatkan Produksi dan Mutu Benih Botani Bawang Merah (True Shallot Seed) di Dataran Tinggi Rosliani, Rini; Sinaga, Risma; Hilman, Yusdar; Hidayat, Iteu Margaret
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p316-325

Abstract

Pembungaan dan pembentukan biji merupakan kendala dalam produksi benih true shallot seed (TSS) di Indonesia. Aplikasi benzilaminopurin (BAP) dan boron dapat meningkatkan pembungaan, viabilitas serbuk sari maupun produksi, dan mutu benih TSS. Teknik aplikasi BAP yang efisien belum diketahui, sementara jumlah umbel dalam satu tanaman diduga dapat menyebabkan terjadinya persaingan dalam pembentukan kapsul dan biji. Tujuan penelitian yaitu untuk mendapatkan teknik pemberian BAP dan pemeliharaan jumlah umbel yang efisien dalam meningkatkan produksi dan mutu benih TSS di dataran tinggi. Penelitian dilaksanakan di dataran tinggi Lembang (1.250 m dpl.), pada bulan Maret sampai dengan September 2013 menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu aplikasi BAP 37,5 ppm melalui (1) teknik penyiraman BAP tiga kali, (2) kombinasi teknik aplikasi BAP dengan perendaman + penyiraman dua kali, dan (3) teknik perendaman umbi bibit sebelum tanam, sedangkan faktor kedua yaitu pemeliharaan jumlah umbel per tanaman dengan perlakuan (1) pemeliharaan semua umbel, (2) pemeliharaan tiga umbel pada bunga ke-1 sampai dengan ke-3, (3) pada bunga ke-2 sampai dengan ke-4, dan (4) pada bunga ke-3 sampai dengan ke-5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik aplikasi BAP melalui perendaman saja dan perendaman + penyiraman dua kali umur 1 dan 3 minggu setelah tanam (MST) menghasilkan produksi kapsul dan produksi TSS lebih efisien daripada teknik penyiraman tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 MST. Teknik aplikasi BAP melalui perendaman + penyiraman dua kali umur 3 dan 5 MST 30% lebih efisien dan 60% lebih efektif dalam memproduksi TSS daripada teknik penyiraman tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 MST. Namun daya berkecambah pada teknik perendaman + penyiraman lebih rendah daripada penyiraman tiga kali maupun perendaman saja. Pemeliharaan tiga umbel ke-1 sampai dengan ke-3 menghasilkan produksi dan mutu setara dengan pemeliharaan semua umbel. Implikasi penelitian ini adalah teknik produksi TSS yang efisien di dataran tinggi akan mudah dikembangkan oleh pengguna (petani/penangkar benih).
Pengembangan Marka SNAP Berbasis Resistance Gene Analogue Pada Tanaman Pisang (Musa spp.) Sutanto, Agus; Hermanto, Catur; Sukma, Dewi; Sudarsono, Sudarsono
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n4.2013.p300-309

Abstract

Pengembangan kultivar pisang tahan penyakit secara konvensional menghadapi kendala utama, yaitu lamanya waktu yang diperlukan untuk seleksi dan evaluasi tanaman hasil persilangan. Oleh karena itu dilakukan pendekatan bioteknologi melalui pengembangan marka molekuler untuk mempercepat capaian program pemuliaan. Tujuan penelitian ialah mengembangkan marka SNAP untuk seleksi ketahanan tanaman pisang terhadap penyakit berdasarkan substitusi basa nukleotida atau single nucleotide polymorphism (SNP) pada fragmen resistance gene analogue (RGA) asal tanaman pisang (MNBS). Kegiatan penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Molekular Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, mulai Bulan Juli sampai November 2012. Penelitian menggunakan sembilan sekuen MNBS yang terdeposit pada bank data NCBI untuk mendisain primer SNAP yang diperlukan. Dari 30 posisi SNP yang ada pada fragmen MNBS, terdapat 19 posisi SNP yang menyebabkan perubahan asam amino yang disandikan. Delapan posisi SNP di antaranya dapat digunakan untuk pengembangan marka SNAP. Dengan menggunakan perangkat lunak WebSNAPER, primer SNAP berhasil didisain dari delapan posisi SNP. Namun satu posisi SNP menghasilkan seperangkat primer yang tidak layak pakai. Dari 64 alternatif primer SNAP yang dihasilkan berhasil dipilih 14 pasang primer SNAP. Sepuluh dari 14 pasang primer terpilih, dihasilkan dari posisi SNP1, SNP2, SNP4, SNP5, dan SNP6. Sepuluh pasang primer SNAP terpilih juga telah diuji dan berhasil mengamplifikasi marka SNAP menggunakan DNA genom pisang cv. Klutuk Wulung dan Barangan. Sepuluh pasang primer SNAP tersebut berpotensi untuk digunakan sebagai marka ketahanan terhadap penyakit padatanaman pisang secara umum.
Insiden Penyakit Virus Tular Umbi pada Tigabelas Varietas Bawang Merah Asal Jawa Barat dan Jawa Tengah Neni Gunaeni; Astri W Wulandari; Ati Srie Duriat; Agus Muharam
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n2.2011.p164-172

Abstract

Penyakit virus tular umbi merupakan salah satu kendala dalam meningkatkan produksi bawang merah. Hal ini disebabkan oleh virus yang infeksinya bersifat sistemik. Apabila partikel virus berada dalam jaringan benih umbi, maka akan sulit untuk dikendalikan dan dapat membawa masalah baru pada pertanaman berikutnya. Penelitian bertujuan mengetahui insiden penyakit virus tular umbi pada 13 varietas bawang merah yang berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan di Rancaekek (elevasi 650 m dpl.) dan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (elevasi 1.250 m dpl.), sejak bulan Agustus sampai November 2004. Perlakuan terdiri atas 13 varietas bawang merah, yaitu: Lodra, Sumenep, Batu, Merah Maja, Merah Cigugur, Ciniru, Bima, Bima Curut, Bima Timor, Bima Arjuna, Kuning Tablet, Kuning Gombong, dan Philipina. Rancangan yang digunakan ialah acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) insiden penyakit virus tular umbi pada masing-masing varietas bawang merah asal Jawa Barat dan Jawa Tengah berturut-turut yaitu varietas Lodra 84,67%, Sumenep 82,56-100%, Batu 39,86-78,67%, Merah Maja 95,25%, Merah Cigugur 100%, Ciniru 66,27%, Bima Curut 78,57%, Bima 100%, Bima Timor 57,98%, Bima Arjuna 47,96%, Kuning Tablet 57,48%, Kuning Gombong 97,92%, dan Philipina 97,92 %, (2) gejala infeksi virus pada daun umumnya berupa  klorosis, mosaik bergaris kuning vertikal terputus-putus, garis-garis hijau vertikal, dan ukuran daun menjadi kecil, (3) gejala-gejala tersebut bereaksi positif dengan OYDV(onion yellow dwarf virus) dan SYSV (shallot yellow stripe virus) berdasarkan uji DAS-ELISA (double antibody sandwich-enzyme linked immunosorbent assay). Informasi mengenai insiden virus tular umbi pada bawang merah ini sangat penting dalam rangka mengembangkan metode perbenihan bawang merah bebas virus. Virus disease is one of major problems in increasing shallots production, because its infection has a systemic character. If it is already in shallots bulb tissues, the virus is difficult to be controlled and will cause new problems to the next planting. The experiment was aimed to determine incidence of bulb-borne virus diseases on  thirteen varieties of shallots (Allium cepa var. ascalonicum) originated from West  and Central Java. The experiment was carried out at Indonesian Vegetable Research Institute Lembang (1,250 m asl.) and Rancaekek (650 m asl.), from  August to November 2004. The shallot varieties tested were Lodra, Sumenep, Batu, Merah Maja, Merah Cigugur, Ciniru, Bima, Bima Curut, Bima Timor, Bima Arjuna, Kuning Tablet, Kuning Gombong, and Philipina. A randomized complete block design with three replications were used in this experiment. The results of the experiment showed that  (1) incidence of virus diseases in shallots bulb on variety Lodra was 84.67%, Sumenep 82.56-100%, Batu 39.86-78.67%, Merah Maja 95.25%, Merah Cigugur 100%, Ciniru 66.27%, Bima Curut 78.57%, Bima 100%, Bima Timor 57.98%, Bima Arjuna 47.96%, Kuning Tablet 57.48%, Kuning Gombong 97.92%,  and Philipina 97.92 %, (2) the virus symptoms exhibited on infected shallots were  yellow stripe mosaic, chlorosis,  green stripe leaf,  and leaves became small, and (3) the symptoms were associated with OYDV (onion yellow dwarf virus) and SYSV (shallots yellow stripe virus) base on DAS-ELISA (double antibody sandwich-enzyme linked immunosorbent assay). Information on the incidence of viral diseases on shallots bulb is very important to develop the production technology of virus-free shallots bulb.
Metode Penularan Massal untuk Uji Penapisan Ketahanan Cabai Mutan terhadap Begomovirus Gaswanto, Redy; Syukur, Muhammad; Purwoko, B S; Hidayat, S H
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n3.2015.p246-256

Abstract

Hasil iradiasi sinar gamma pada benih lima genotipe cabai telah menghasilkan populasi mutan M2 yang harus diuji ketahanannya terhadap infeksi Begomovirus menggunakan serangga vektor Bemisia tabaci. Keefektifan metode penularan secara individu lebih tinggi dibandingkan metode penularan massal, namun jika uji penapisan diaplikasikan untuk suatu populasi yang besar maka metode yang cocok adalah penularan massal. Penelitian bertujuan (1) mendapatkan metode penularan massal yang keefektifannya sama dengan metode penularan individu, (2) mengetahui tanaman inang yang cocok untuk perbanyakan serangga vektor B. tabaci, (3) mengetahui tingkat ketahanan cabai genotipe Mhasil iradiasi sinar gamma terhadap infeksi Begomovirus, dan (4) mengetahui perbedaan pertumbuhan dan hasil tanaman dari genotipe M2 dan genotipe tetua M2 saat terinfeksi Begomovirus. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kasa dan Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran sejak bulan Mei sampai dengan Agustus 2013. Kajian penularan massal menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima perlakuan dan tiap perlakuan diulang lima kali, sedangkan kajian jenis tanaman inang untuk perbanyakan imago B. tabaci menggunakan rancangan yang sama diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman terung ungu (Solanum melongena) dan kapas (Gossypium hirsutum) cocok dijadikan sebagai tanaman inang dalam usaha perbanyakan serangga vektor B. tabaci. Penggunaan vektor B. tabaci dalam kondisi viruliferous (masa akuisisi 48 jam) dengan jumlah sekitar 20–30 ekor dalam satu kotak sungkup kain kasa dapat digunakan sebagai metode penularan massal untuk populasi 50 bibit tanaman cabai (kondisi 2–4 daun sejati) dengan keefektifan setara dengan metode penularan secara individu. Rerata dari 195 individu cabai genotipe Kencana M2 dan SSP M2 masuk dalam kategori tahan dan agak tahan terhadap infeksi Begomovirus, sedangkan rerata dari 195 individu cabai genotipe Seloka M2, Lembang-1 M2, dan Tanjung-2 M2 masuk dalam kategori rentan-agak rentan. Perubahan karakter kuantitatif dari pertumbuhan dan hasil tanaman pada lima genotipe M2 jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan genotipe tetua M2 saat terinfeksi Begomovirus.
Transformasi cDNA Gen 1-Aminosiklopropan-1-Asam Karboksilat Oksidase untuk Penundaan Kematangan Buah Pepaya Dampit dan Sarirona Makful, -; Purnomo, Sudarmadi; Sunyoto, -; Iswanto, R; Utami, T.I.R.
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n2.2004.p76-83

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari 2002 sampai Februari 2003, bertujuan untuk mendapatkan kalustransforman gen 1-aminosiklopropan-1-asam karboksilat oksidase yang mampu hidup dan dapat berdiferensiasi,wahana untuk membuat pepaya transgenik tahan simpan, telah dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler, BalaiBesar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Bogor. Mutu buah pepaya salah satunyaditentukan oleh kesegaran buah saat dikonsumsi. Proses pemasakan buah pepaya berlangsung sangat cepat, hal inimenyulitkan dalam transportasi pepaya, terutama untuk menjangkau tempat yang jauh. Proses pemasakan buahdikontrol oleh meningkatnya konsentrasi hormon etilen yang disintesis dari 1-aminosiklopropan-1-asam karboksilat.Produksi etilen dapat ditekan dengan memblok jalur biosintesis etilen. Mekanismenya adalah membuat antisens genreg u la tor biosintesis etilen. Transformasi pepaya varietas dampit dan sarirona dilakukan menggunakan bombardemenpartikel. Rancangan percobaan adalah deskriptif kuantitatif dengan rancangan acak lengkap. Sumber eksplan pepayaberupa embrio zigotik yang digunakan untuk optimasi taraf kematian terhadap kanamisin, uji gus menggunakanplasmid pRQ6 (gen gus, NPH, promotor 35S, dan ter mi na tor NOS) dan introduksi gen interes dalam plasmid pGA643SM4 (gen antisens 1-aminosiklopropan-1-asam karboksilat oksidase, NPT II, promotor 35S, dan ter mi na tor NOS)pada me dia seleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua eksplan pepaya op ti mal pada kanamisin 150 mg/l, dimana pada konsentrasi ini eksplan mati seluruhnya. Pengujian gus terbanyak pada varietas sarirona 25% (25 spotbiru) jarak 9 cm, sedangkan varietas dampit 10% (9 spot biru) jarak 5 cm. Spot biru menandakan gen yang disisipitelah terintegrasi pada gen tanaman. Efisiensi gen antisens ACC oksidase pada me dia seleksi kanamisin 150 mg/lmenunjukkan 16% (14 embrio kotiledon) pada varietas dampit, sedangkan varietas sarirona tidak tumbuh.Tumbuhnya transforman pada me dia seleksi menunjukkan eksplan tersebut sudah tersisipi pGA643 SM4 yangmengandung gen tahan terhadap kanamisin (gen NPT II ).Trans for ma tion of cDNAACC ox i dize gene for de lay rip en ing on pa paya dampit and sarirona. This re search was con ducted from Jan u ary2002 to Feb ru ary 2003. The aim of this re search was to find out trans formed cal lus by aminocyclopropane carboxylicacid (ACC) ox i dize gene, there are vi a ble and be able to dif fer en ti a tion, the means to de velop pa paya trans gen ic forde lay rip en ing. The re search was con ducted at the Lab o ra tory of Mo lec u lar Bi ol ogy of Re search In sti tute for Bio tech -nol ogy and Ag ri cul tural Ge netic Re sources, Bogor. One of pa paya qual ity was de ter mined by fruit fresh ness. The pro -cess of pa paya ma tu rity was very fast. This prob lem made dif fi cult for hap pened pa paya trans por ta tion. The pro cess ofma tu rity was con trolled by in creas ing con cen tra tion of eth yl ene hor mone and it was syn the sized from1-aminocyclopropane-1-carboxylic acid. One of ef fort pressed eth yl ene pro duc tion was long dis tance block ingethylene biosynthesis path way. Mech a nism of block ing eth yl ene biosynthesis path way was made antisens of genereg u la tor. The trans for ma tion of pa paya dampit and sarirona va ri ety have been de rived by bom bard ment par ti cle. Theex per i men tal de sign was de scrip tive quan ti ta tive with ran dom ized com plete de sign. The zy gotic em bryo as explantsource were used for op ti miz ing kanamycin lev els, gus as say with pRQ6 plasmid (gus gene, NPH, 35S pro moter, andNOS ter mi na tor) and in tro duc tion in ter est gene with pGA643 SM4 plasmid (antisens ACC ox i dize gene, NPT II, 35Spro moter, NOS ter mi na tor) on the se lec tive me dium. The re sults in di cated the op ti miz ing of both pa paya on 150 mg/lkanamycin. This con cen tra tion made all explant of results. Gus as say pref er ence of sarirona 25% (25 blue spot) in dis -tance 9 cm and dampit 10% (9 blue spot) in dis tance 5 cm. Ef fi ciency of antisens ACC ox i dize gene on se lec tive me -dium con tain ing 150 mg/l kanamycin in di cated 16% (14 cotyledone em bryo) in dampit but in sarirona was not growth.Transforman growth on se lec tive me dium in di cated pGA643 SM4 have in serted to zy gotic em bryo be cause plasmidcon tain ing se lec tion gene of kanamycin (NPT II gene).

Page 48 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue