cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Perbaikan Pembungaan dan Pembijian Beberapa Varietas Bawang Merah dengan Pemberian Naungan Plastik Transparan dan Aplikasi Asam Gibberelat Sumarni, Nani
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n1.2012.p14-22

Abstract

Masalah utama dalam produksi true shallot seeds (TSS) di Indonesia sebagai sumber benih yang sehat ialah pembungaandan pembijian bawang merah yang masih rendah. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman SayuranLembang (1.250 m dpl.), pada bulan Mei sampai dengan November 2010. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui pengaruh varietas,zat pengatur tumbuh (ZPT) asam gibberelat, dan naungan plastik transparan terhadap pembungaan dan hasil biji bawang merah TSS.Rancangan percobaan yang digunakan ialah petak terpisah, dengan tiga ulangan. Petak utama ialah tiga varietas bawang merah, yaituMaja, Bima, dan Kuning. Anak petak terdiri atas empat kombinasi perlakuan ZPT asam gibberelat dan naungan plastik transparan, yaitutanpa naungan + tanpa asam gibberelat, tanpa naungan + asam gibberelat 200 ppm, naungan plastik transparan + tanpa asam gibberelat,dan naungan plastik transparan + asam gibberelat 200 ppm. Sebelum ditanam, umbi bibit divernalisasi dengan suhu 10oC selama 3minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi yang nyata antara varietas dengan aplikasi asam gibberelat + naungan plastiktransparan hanya terjadi pada persentase jumlah tanaman bawang merah yang berbunga. Jumlah tanaman yang berbunga paling banyakterdapat pada varietas Bima dengan tanpa aplikasi naungan plastik transparan + asam gibberelat, yaitu sebesar 54,06%. Hasil biji bawangmerah TSS paling tinggi diperoleh dengan aplikasi naungan plastik trasparan + 200 ppm asam gibberelat, yaitu pada varietas Majasebesar 16,11 kg/ha, Bima 13,07 kg/ha, sedangkan pada varietas Kuning tidak dapat menghasilkan biji TSS karena bunga-bunganyamenjadi busuk terserang penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Hasil dan kualitas biji TSS yang masih rendah disebabkan keadaancuaca tidak mendukung terjadinya pembuahan dan pembijian bawang merah yang optimal, akibat curah hujan yang cukup tinggi.ABSTRACTThe main problem in producing true shallotseed (TSS) as source of healthy seed in Indonesia is low flowering and seed set of shallots. The experiment was conducted atExperimental Garden of Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), Lembang (1,250 m asl.) from May to November2010. Objective of the study was to evaluate the effect of varieties, gibberellic acid, and transparent plastic shelter on flowering andtrue seed forming of shallots. A split plot design with three replications was used in this experiment. Main plots were three shallotvarieties i.e. Allium ascalonicum cv. Maja, Bima, and Kuning. Subplots were four combinations of gibberellic acid and transparentplastic sheltering i.e. (1) no sheltering and gibberellic acid applying; (2) no sheltering and applying 200 ppm gibberellic acid; (3)transparent plastic sheltering and no gibberellic acid application, and (4) transparent plastic sheltering and application of 200 ppmgibberellic acid. Before planting, mother bulb seed were vernalized in 10oC for 3 weeks. The results showed that there was interactionbetween variety, gibberellic acid, and transparent plastic sheltering on percentage of shallots plant number which produced flower.The highest percentage of shallots plant number producing flower up to 54.06% was obtained on A. ascalonicum cv. Bima withoutapplication of transparent plastic sheltering and gibberellic acid. The highest yield of TSS, viz. 16.11 kg/ha for Maja and 13.07 kg/ha for Bima was determined on application of transparent plastic sheltering and 200 ppm gibberellic acid. The flowers of Kuningvariety did not produce TSS because the flowers were attacked by fungi diseases. The quantity and quality of TSS yield were stilllow due to unsupporting weather for the flowering and seedling of shallots optimally.
Produksi dan Mutu Umbi Klon Kentang dan Kesesuaiannya sebagai Bahan Baku Kentang Gor eng dan Keripik Kentang Kusmana, -; Basuki, Rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n4.2004.p246-252

Abstract

Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan No vem ber 2002 di Pangalengan dengan ketinggiantempat 1.300 m dpl. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui produksi dan mutu serta mendapatkan klon yangcocok sebagai bahan baku keripik dan kentang gor eng. Klon dan varietas yang diuji sebanyak 16, terdiri dari 13 klonyang berasal dari CIP dan tiga varietas pembanding. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan tigaulangan, masing-masing unit penelitian terdiri dari 20 tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa klonmerbabu-17 diikuti klon 380584.3, AGB 69.1, dan MF-II menampilkan hasil tinggi masing-masing 57,9; 44,4; 41;8;dan 41,1 t/ha yang nyata lebih tinggi dari varietas pembanding atlantik (28,5 t/ha) dan panda (25,2 t/ha). Untukproporsi umbi konsumsi tertinggi adalah klon I-1085 (87%), CFQ 69.1 (84%), dan TS-2 (83%) yang nyata lebih tinggidaripada varietas atlantik (60%) dan panda (64%). Spe cific grav ity tertinggi adalah klon TS-2 (1.095), FBA-4 (1.084),378501.3 (1.084), I-1085 (1.084), panda (1.082), atlantik (1.080), dan MF-II (1.072). Klon terbaik untuk industrikeripik adalah TS-2 dan MF-II sementara untuk kentang gor eng adalah TS-2 dan I-1085. Dampak dari penelitian inimemberikan informasi mengenai klon prosesing harapan untuk diusulkan dilepas sebagai varietas baru.Kata kunci : Klon kentang; Umbi bibit; Produksi; Mutu umbi; Kentang olahanAB STRACT. Kusmana and R.S. Basuki, 2004. Yield and qual ity of po tato clones tu bers and meets as raw ma -te rial for chips and french fries. The ex per i ment was con ducted at Pangalengan at el e va tion of 1,300 m asl. Ob jec -tives of the re search were to ob tain promissing clones for raw ma te rial of chips and french fries. Plant ing was done onAu gust and har vest was on No vem ber 2002. The ex per i men tal de sign was ran dom ized com plete block de sign withthree rep li ca tions. Num bers of plant per plot were 20 hills. Num ber of clones tested were 16 in cluded 3 con trol va ri -et ies. The re sults proved that the high yield ing clones were ob tained from clones merbabu-17 (57.9) fol lowed by380584.3 (44.4), AGB 69.1 (41.8) and MF-II (41.1) t/ha and sig nif i cantly dif fer ent from con trol va ri et ies of at lan tic(28.5) and panda (25.2) t/ha. The high est mar ket able yield were ob tained from clones I-1085 (87%), CFQ 69.1 (84%),and TS-2 (83%) sig nif i cantly dif fer ent to at lan tic (60%) and panda (64%). The high of spe cific grav ity were ob tainedfrom clones TS-2 (1.095), FBA-4 (1.084), 378501.3 (1.084), I-1085 (1.084), panda (1.082), at lan tic (1.080), andMF-II (1.072) . The best clones for chip were TS-2 and MF-II. Whereas, the best clones for french fries were TS-2 andI-1085. The im pact of the reserch was pro vide in for ma tion about ad vanced proscessing clones to sub mit for re leas ingthe va ri et ies.
Studi Poliembrioni dan Penentuan Tingkat Kemasakan Fisiologis Benih Japansche Citroen Berdasarkan Warna Kulit Buah Andrini, Anis; Suharsi, Tatiek; Surahman, Memen
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n3.2013.p195-202

Abstract

Buah jeruk JC harus dipetik pada saat masak fisiologis untuk mendapatkan benih bermutu tinggi. Pada umumnya benih masak fisiologis saat berat kering benih optimum dan vigor optimum. Sementara itu benih JC bersifat poliembrioni, diduga dapat memengaruhi mutu benih. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang karakter poliembrioni, menentukan tingkat kemasakan fisiologi benih dan mengetahui pengaruh tingkat kemasakan benih terhadap multiple seedling dan off type pada benih JC. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Terpadu, Nurseri, dan Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, pada Bulan Juli-Oktober 2012. Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui karakter poliembrioni benih JC. Percobaan di nurseri menggunakan rancangan acak kelompok lengkap satu faktor tingkat kemasakan buah dengan tiga ulangan. Pengamatan terhadap beberapa variabel dilakukan untuk mengetahui mutu fisik, fisiologis, genetis, dan jumlah semaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih JC mempunyai 1–6 embrio yang dapat tumbuh menjadi 1–4 semaian. Berat kering benih JC tidak dipengaruhi secara nyata oleh tingkat kemasakan buah karena adanya keragaman tingkat kemasakan embrio di dalam benih. Tingkat kemasakan fisiologis benih JC dapat ditandai dengan indeks vigor, kecepatan tumbuh, dan daya berkecambah optimum yang diperoleh pada saat buah berwarna kuning lebih dari 90% merata dengan karakter warna kulit benih krem kecoklatan dan embrio  dominan krem. Tingkat kemasakan buah tidak berpengaruh nyata terhadap persentase multiple seedling dan persentase semaianoff type. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mendapatkan multiple seedling yang banyak dan semaian off type yang sedikit.
Organogenesis Bunga Aksis Pisang Bergenom AAB dan ABB Lisnandar, Dea Silvia; Fajarudin, A; Effendi, Darda; Tambunan, Ika Roostika
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p1-8

Abstract

Penyimpanan in vitro merupakan teknik yang cocok diterapkan  pada tanaman pisang yang berkembang biak secara vegetatif. Namun demikian, perlu adanya optimasi regenerasi tanaman pisang terlebih dahulu. Regenerasi tanaman pisang melalui bunga aksis masih belum banyak dikembangkan. Tingginya tingkat kontaminasi pada eksplan yang berasal dari anakan (sucker) dan tingkat pencokelatan pada biakan pisang yang mengandung genom B menjadi kendala dalam perbanyakan tanaman pisang secara masal melalui kultur jaringan. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan formulasi media yang efektif untuk morfogenesis bunga aksis pisang yang begenom AAB (Kosta dan Raja Bulu) dan ABB (Kepok, Siem, dan Ayam) yang diregenerasikan secara organogenesis. Percobaan dirancang secara faktorial menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Eksplan yang digunakan dalam penelitian ini adalah potongan bunga aksis dari bunga jantan. Perlakuan pada percobaan ini adalah konsentrasi 6-benzil adenin (BA) (0, 1, 3, dan 5 mg/l), thidiazuron (TDZ) (0 dan 0.1 mg/l) serta kombinasi BA dan TDZ. Hasil sidik ragam menunjukkan tidak terdapat interaksi yang nyata antara BA dan TDZ terhadap pertumbuhan nodul dan tunas pada semua pisang. Benzil adenin secara nyata memengaruhi induksi organogenesis dari bunga aksis dengan taraf terbaik 3 mg/l (varietas Kepok dan Kosta) serta 5 mg/l (Varietas Raja Bulu). Eksplan yang mengalami pencokelatan paling parah adalah Siem dan Ayam, sehingga regenerasinya terhambat atau nodul tidak terbentuk pada formulasi media yang diujikan. Pencokelatan dapat diatasi dengan menambahkan asam askorbat pada media.
Repelensi Minyak Atsiri Tehadap Hama Gudang Bawang Hasyim, Ahsol; Setiawati, Wiwin; Jayanti, Hadis; Krestini, E H
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p336-345

Abstract

Minyak atsiri yang berasal dari tanaman adalah salah satu bahan yang dapat berfungsi seperti fumigan dan mempunyai prospek untuk digunakan dalam melindungi produk yang disimpan di gudang penyimpanan. Minyak atsiri harus mempunyai kemampuan untuk mengusir serangga hama agar serangga tidak masuk ke dalam umbi bawang merah yang disimpan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh minyak atsiri terhadap aktivitas biologi serangga dewasa dan larva hama gudang bawang Ephestia cautella. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang dari bulan Juni sampai dengan Desember 2012 pada temperatur 27± 2C dan kelembaban 75–80%. Penelitian dilaksanakan dalam empat tahapan kegiatan. Penelitian pertama untuk mengetahui repelensi minyak atsiri terhadap serangga dewasa E. cautella, penelitian kedua untuk mengetahui pengaruh minyak atsiri terhadap penghambatan peneluran imago betina E. cautella, penelitian ketiga untuk mengetahui repelensi larva E. cautella terhadap minyak atsiri, dan penelitian keempat untuk mengetahui pengaruh atsiri terhadap indeks nutrisi larva E. cautella instar-3. Rancangan percobaan yang digunakan ialah rancangan acak kelompok terdiri atas enam perlakuan dan diulang empat kali. Metode penelitian yang digunakan ialah metode pencelupan (dipping methods). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa minyak eucalyptus memiliki persentase repelensi imago E. cautella tertinggi mencapai 46% pada 24 jam setelah aplikasi. Penghambatan peneluran E. cautella pada semua perlakuan minyak atsiri menunjukkan persentase lebih dari 75% dan tidak berbeda nyata tetapi minyak atsiri kayu manis memiliki nilai persentase penghambatan peneluran tertinggi mencapai 85,23%. Perlakuan minyak atsiri akar wangi pada pengamatan repelensi larva E. cautella menunjukkan persentase tertinggi (50%) dengan kelas repelensi 3. Pengaruh minyak atsiri jeruk purut terhadap indeks nutrisi larva E.cautella menunjukkan bahwa minyak atsiri ini dibandingkan dengan minyak atsiri lainnya, mampu menghambat penyerapan nutrisi larva sehingga dapat mengganggu pertumbuhan larva, dengan nilai laju pertumbuhan relatif (RGR) 0,11 mg/mg/hari. Manfaat penelitian ini adalah dapat menambah informasi tentang kemampuan minyak atsiri dari bahan eucalyptus, serai wangi, akar wangi, kayu manis, dan jeruk purut sebagai sumber insektisida alami yang dapat digunakan secara aman, murah, dan ramah lingkungan dalam upaya pengendalian hama gudang bawang merah E. cautella. 
Karakteristik Mutu dan Ketahanan Simpan Bunga Potong Sedap Malam di Sentra Produksi - Sunarmani; Dwi Amiarsi
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n2.2011.p191-196

Abstract

Sampai saat ini mutu bunga sedap malam (Polianthes tuberose L.) yang diproduksi oleh petani kecil belum dapat memenuhi mutu sesuai kebutuhan pasar. Penurunan mutu bunga sedap malam diduga berkaitan dengan kurangnya keseragaman diameter tangkai bunga, bentuk tangkai bunga, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi mengenai karakteristik mutu bunga potong sedap malam komersial di sentra-sentra produksi. Mutu bunga sedap malam sangat ditentukan oleh ukuran tangkai bunga dan kesegaran bunga. Penelitian dilakukan sejak bulan Juli 2006 sampai  dengan Februari 2007. Sampel bunga potong sedap malam dipanen dari daerah Cianjur (Jawa Barat), Bandungan (Jawa Tengah), dan Pasuruan (Jawa Timur) masing-masing sebanyak 100 tangkai untuk diamati karakteristik fisiknya, yaitu panjang tangkai bunga, diameter bunga, panjang bunga, warna, dan kesegaran bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bunga potong sedap malam dari daerah Jawa Timur adalah tipe bunga tunggal dengan jumlah bunga per malai 49,1 ± 8,2, stadia kemekaran bunga 1,6±0,5, dan diameter tangkai bunga 10,8±1,5 cm. Aroma bunga sangat tajam, dengan penampilan lebih ramping dibanding bunga potong sedap malam asal Jawa Barat dan Jawa Tengah. Informasi mengenai mutu bunga potong sedap malam  sangat bermanfaat bagi pedagang atau eksportir untuk mendapatkan produk yang diinginkan pasar atau konsumen.Quality of tuberose cut flowers which are produced by small farmers until now has not enough to fulfil market demand. The decrease of tuberose cut flower quality is believed to be related to unavailability of stalk diameter and other flower characteristics. The aim of the study was to determine quality characteristics of fresh tuberose cut flowers harvested from  farmer field  in production centers. Tuberose cut flowers quality is mainly affected by the flowers size and freshness. The research was conducted from July 2006 to February 2007. Tuberose cut flower were freshly harvested at farmer  field in Cianjur (West Java), Bandungan (Central Java), and Pasuruan (East Java), 100 samples collected from each district. The cut flower samples were observed and evaluated for physical appearance i.e. length of flower stalk, diameter, color, and freshness. The results showed that the tuberose cut flower from East Java was a single type with flower number 49.1 ± 8.2, the number of opening flower 1.6 ± 0.5, stem diameter 10.8 ± 1.5 cm. The aroma of the flowers was very keen compared to slimmer appearance of delicate tuberose cut flowers from West Java and Central Java. The information of tuberose cut flowers characteristics will benefit to saler or exporters to obtain the product that demanded by market and consumers.
Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Klon Kentang Unggul Asal International Potato Center di Dataran Tinggi Malino, Sulawesi Selatan Nikardi Gunadi; Asih Kartasih Karjadi; Sirajuddin Sirajuddin
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p102-113

Abstract

Penelitian untuk mengevaluasi klon kentang unggul baru asal The International Potato Center (CIP) dalam rangka mendapatkan klon kentang dengan hasil umbi yang tinggi baik untuk kentang konsumsi (table potato) maupun untuk kentang olahan (processing potato) yang dapat diterima petani secara berkelanjutan telah dilaksanakan di dataran tinggi Malino, yaitu di Desa Bulubalea (1.500 m dpl.), Kelurahan Pattapang, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan sejak bulan Mei sampai dengan bulan Agustus 2012. Dua puluh klon kentang unggul asal CIP sebagai perlakuan dan dua varietas kentang yaitu Granola dan Atlantic sebagai kontrol dievaluasi dengan menggunakan rancangan acak kelompok dan setiap perlakuan diulang tiga kali. Pada penelitian ini, petani kentang dilibatkan untuk mengevaluasi klon kentang baik pada saat pertumbuhan maupun pada saat panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga klon kentang yaitu klon kentang 393708.31, 388615.22, dan 397079.6 menunjukkan hasil umbi per ha tertinggi yang berbeda nyata dengan beberapa klon kentang lainnya dan cv. Granola yang merupakan varietas kentang yang umum ditanam petani kentang di Indonesia. Dalam hal hasil umbi per tanaman, klon kentang 393708.31 memberikan hasil umbi per tanaman yang tertinggi yaitu sebesar 866 g per tanaman, tetapi tidak berbeda nyata dengan klon kentang 388615.22, 397006.18, dan 397079.6, namun berbeda nyata dengan klon kentang lainnya yang ditanam pada penelitian ini. Delapan klon kentang yaitu 388615.22, 393708.31, 397006.18, 397065.28, 397069.5, 397079.6, 399101.1, dan 392822.3, dipilih petani, baik pada saat periode pertumbuhan tanaman dan pada saat panen. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pemilihan klon yang mempunyai keunggulan untuk mendapatkan varietas kentang yang mempunyai hasil umbi tinggi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi petani, sehingga dapat diterima petani secara berkelanjutan.
Mortalitas Stadia Pradewasa Hama Penggulung Daun Pisang, Erionota tharax (L.) yang Disebabkan Oleh Parasitoid Ashol Hasyim; Kamisar -; K Nakamura
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n1.2003.p1-5

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mortalitas stadia pradewasa hama penggulung daun pisang   yang disebabkan oleh parasitoid dan fase awal penyerangan parasitoid terhadap inang. Untuk mengetahui parasitoid hama penggulung daun pisang Erionota thrax, telur, larva, dan pupa hama penggulung daun pisang diambil dari pertanaman pisang petani, kemudian dipelihara di laboratorium Kebun Percobaan Bandar Buat, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. Setiap kelompok telur, larva, dan pupa dimasukkan ke dalam kotak plastik berukuran dengan garis tengah 13 cm dan tinggi 5 cm, serta diberi makan daun pisang. Pengamatan terhadap stadia telur diamati dengan menghitung telur yang menetas, diserang parasitoid, tidak menetas, dan diserang jamur. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa hama penggulung daun pisang mempunyai dua jenis parsitoid telur, dua jenis parasitoid larva, dan empat jenis parasitoid pupa.  Kedua jenis parasitoid telur    Pediobius erionotae dan Ooncyrtus erionotae dapat menyebabkan kematian tertinggi dan membunuh 55,6% stadia telur. Parasitoid larva mulai menyerang stadia larva instar kedua. Indeks parasitisme tertinggi disebabkan oleh parasitoid larva Casinaria sp. Adalah 15,7% dan yang pal- ing rendah disebabkan oleh   parasitoid pupa, Theronia zebra-zebra mencapai 0,8%. Hasil penelitian tentang parasitoid hama penggulung daun pisang ini merupakan informasi dasar dalam rangka pengembangan pengendalian hama secara terpadu. Kata kunci: Musa paradisiacal; Erionata thrax; Hama penggulung daun; Parasitoid; Mortalitas; Stadia pradewasa ABSTRACT. This study aims to contribute to the knowledge of immature mortality of ba- nana leaf roller Erionota thrax (L.) and early susceptible stage of parasitoid attacking the host. To obtain parasitoid, the eggs, larvae, and pupae of banana leaf roller, Erionota thrax (L.) were collected from farmer banana field and reared in the laboratory under room temperature at Bandar Buat, West Sumatera Assessment Institute for Agriculture Technology. Each egg mass, larvae, and pupae were isolated in plastic container dimensions of 13 cm in diameter and 5 cm in dept feeding, with leaf of banana. The following categories were recognized of egg stage, hatched, parasitic by wasps, hatching failure, and fungus diseased. The result indicated that E. thrax had two species of egg parasitoid, two species of parasitoid emerged from larvae, and four species of parasitoid emerged from pupae stages. Both of egg parasitoid species, Pediobius erionotae and Ooncyrtus erionotae, caused the highest mortality and kiled 55,6% of the eggs. The earliest parasitized stage of larva was the second instar. Index of parasitism rate by larval and pupae parasitoid which mostly caused by  Casinaria erionotae was at 15.7% and the lowest caused by  pupae parasitoid, Theronia zebra-zebra was at 0.8. The results of banana leaf roller parasitoid research were to provide basic information for the development of integrated pest managemen.
Penentuan Status Hara Nitrogen pada Bibit Duku Hernita, Desi
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n1.2012.p29-36

Abstract

Nitrogen merupakan unsur yang sangat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan produksi tanaman.  Hara ini merupakan komponen esensial klorofil, protein, hormon, dan enzim. Gejala kekurangan atau kelebihan hara tersebut dapat terdeteksi secara visual pada penampilan daun, sehingga sangat penting untuk mencegah terjadinya kedua kondisi tersebut pada pertumbuhan bibit duku (Lansium domesticum Corr). Penelitian status hara nitrogen dilakukan pada bibit duku umur 2 tahun yang ditanam pada media pasir di Provinsi Jambi dari bulan Maret 2010 sampai dengan Maret 2011.  Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok, dengan lima perlakuan dosis nitrogen: 0, 100, 200, 400, dan 800 ppm/tanaman, diaplikasikan dalam bentuk air irigasi setiap 2 hari sekali dan masing-masing perlakuan terdiri dari tiga tanaman dan tiga ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala kekurangan nitrogen pertama terlihat pada daun tua yang ditandai dengan perubahan warna daun menjadi hijau kekuningan (klorosis), tangkai daun lemah dan berwarna kuning, jumlah daun kurang atau sama dengan 4,2 helai, pertumbuhan terhambat, dan konsentrasi nitrogen daun kurang dari 1,13%. Kecukupan nitrogen ditandai dengan pertumbuhan yang normal, daun berwarna hijau tua, jumlah daun berkisar antara 5 sampai 5,5 helai dan konsentrasi nitrogen daun antara 1,13 sampai 1,44%. Kelebihan nitrogen terlihat pada daun yang berwarna coklat dan mengalami nekrosis, jumlah daun kurang dari 3,78 helai, pertumbuhan bibit terhambat, konsentrasi nitrogen daun lebih dari 1,44%. Pertumbuhan maksimum membutuhkan 381 ppm pupuk nitrogen/tanaman, yang setara dengan 8 g urea/l air atau 77 g Urea/tahun. Rekomendasi pemupukan N ini merupakan salah satu teknologi yang dapat meningkatkan ketersediaan bibit duku bermutu.ABSTRAKNitrogen greatly affects the growth, development and production of crops, since it is an essential component of chlorophyl, proteins, hormones, and enzymes. The deficiency or excessive symptoms of the nitrogen can be easily observed mainly and visually in leaves, so it is important to determine the nitrogen concentration in both conditions.  The status study of the nitrogen on duku (Lansium domesticum Corr) seedling planted in sand was conducted in Jambi Province from March 2010 until March 2011.  The experiment was arranged by a randomized complete block design with five treatments consisting of three plants in each treatment and three replications. The treatments were consisted of five levels of nitrogen fertilization of 0, 100, 200, 400, and 800 ppm/plant. The results showed that nitrogen deficiency symptoms were appeared in old leaves with color changing from light green and yellowish (chlorosis), weak petiole and yellow color, leaf number more than or equal with 4.2, stunted growth with leaf nitrogen concentration less than 1.13%.  Adequate nitrogen was characterized by normal growth, dark green leaves, number of leaves between 5–5.5, and leaf nitrogen concentration from 1.13–1.44%. The symptoms of excessive nitrogen showed brown leaves, dry leaf (necrosis), number of leaves ≤ 3.78, inhibited seedling growth, leaf nitrogen concentration more than 1,44%.  The maximum growth requires 381 ppm of nitrogen fertilizer/crop, equivalent to 8 g of  Urea/l of water or 77 g Urea/year. Recommendation of nitrogen fertilizer is one technology that will increase the availability of qualified duku seedlings.
Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas Sri Hadiati; Sudarmadi Purnomo; Y Meldia; I Sukmayadi; Kartono -
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n3.2003.p157-168

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi dan mengevaluasi karakter-karakter penting beberapa aksesi nanas dalam upaya mendapatkan tetua untuk perakitan varietas unggul. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok mulai bulan  Januari 2001 sampai Februari  2002. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 24 nomor aksesi sebagai perlakuan dan diulang dua kali. Setiap perlakuan terdiri dari empat tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter antaraksesi nanas berbeda, kecuali jumlah dan lebar daun. Aksesi dengan tepi daun tidak berduri ditampilkan oleh aksesi nomor 4C, 5C, 8C, 20C, 26C, 27C, dan 34C. Aksesi yang mempunyai karakter unggul pada komponen buah, yaitu mempunyai mahkota tunggal ditampilkan oleh semua nomor aksesi, kecuali nomor 30H dan 32H; tangkai buah pendek oleh nomor 2Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 26C, 27C, dan 34C; bobot buah>1.000 g oleh nomor 26C, 30H, 32H, dan 34C; mata dangkal oleh nomor 2Q, 16Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 27C, dan 34C; serta aksesi yang mempunyai diameter buah >9,5 cm ditampilkan oleh nomor 3H, 30H, 32H, 4C, 8C, 26C, 27C, dan 34C. Aksesi yang mempunyai karakter unggul pada kualitas buah, yaitu kandungan TSS ³16° Brix adalah nomor 2Q, 16Q, 18Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 27C, dan 34C; vitamin C tinggi aksesi nomor 1MP, 45MP, 3H, 30H, 32H, 10M, 33M, dan 4C; kadar serat rendah ditampilkan oleh semua nomor aksesi kecuali nomor 1MP dan 45MP; rasio daging/hati yang besar oleh nomor 3H, 30H, 32H, 10M, dan 33M. Aksesi yang mempunyai jumlah karakter unggul terbanyak, yaitu tepi daun tidak berduri, mahkota tunggal, tangkai buah pendek, mata dangkal, diameter buah >9,5 cm, TSS ³16° Brix, kadar serat rendah ditampilkan oleh nomor 4C, 8C, 27C, dan 34C. Bobot buah ditentukan oleh karakter diameter dan panjang buah. Pada jarak taksonomi 1,95 terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok A (klon merah, hijau, queen, dan cayenne) dan kelompok B (klon merah pagar). Informasi karakter ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk pemilihan tetua dalam program perakitan varietas unggul. Kata kunci: Ananas comosus; Aksesi; Karakterisasi; Evaluasi;  Pertumbuhan dan hasil; Mutu buah. ABSTRACT. The aim of the research was to characterize and evaluate the important characters of some pineapple accessions to obtain the parents for establishing the superior variety. This research was conducted at Indonesian Fruit Research Institute from January 2001 to February 2002. The experiment was arranged in a com- pletely randomized block design with 24 accessions as treatments and two replications. Each experimental unit con- sisted of four plants. The results showed that all characters were significantly different among accessions, except the number and width of leaves. The leaves margin whithout  spine were showed by accessions number of 4C, 5C, 8C, 20C, 26C, 27C, and 34C; superior characters of fruit component, i.e single crown were showed by all accessions, ex- cept accession number 30H and 32H; short peduncle showed by 2Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 26C, 27C, and 34C; fruit weight >1000 g showed by 30H, 32H, 26C, and 34C; flat eyes showed by 2Q, 16Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 27C, and 34C of accessions number. Superior characters of fruit quality, i.e. TSS ³16°Brix were showed by accessions number of 2Q, 16Q, 18Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 27C, and 34; high vitamin C content showed by 1MP, 45MP, 3H, 30H, 32H, 10M, 33M, and 4C; low fibre content showed by all accessions except accessions number 1MP and 45MP; high flesh/core thickness ratio showed by 3H, 30H, 32H, 10M, and 33M. It’s looked that accessions number 4C, 8C, 27C, and 34C had more su- perior characters than the others, i..e leave margin whithout spine, single crown, short peduncle, fruit diameter >9.5 cm, TSS ³16 °Brix, and low fibre content. Fruit weight was determined by diameter and length of fruit characters. There were two clone groups at 1.95 taxonomic distance, i.e group A consisted of merah, hijau, queen, and cayenne clones, and group B consisted of merah pagar clone. The information about the characters observed could be used to obtain the parents for establishing the superior variety.

Page 51 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue