cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Penggunaan Benzil Amino Purin dan Boron untuk Meningkatkan Produksi dan Mutu Benih True Shallots Seed Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) di Dataran Tinggi Rini Rosliani; ER Palupi; Yusdar Hilman
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n3.2012.p242-250

Abstract

ABSTRAK. Penggunaan umbi benih untuk bahan perbanyakan bawang merah mempunyai beberapa masalah, antara lain ketidaktersediaan benih bermutu, produktivitas rendah, dan mahal. Salah satu alternatif teknologi yang potensial untuk dikembangkan sebagai benih ialah penggunaan biji botani atau true shallots seed (TSS).  Penelitian dilakukan untuk memproduksi benih bawang merah TSS di dataran tinggi melalui peningkatan pembungaan dan viabilitas serbuk sari menggunakan BAP dan boron.  Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, Jawa Barat (ketinggian 1.250 m dpl.) dari Bulan Agustus 2011 sampai dengan Februari 2012. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan.  Perlakuan terdiri atas dua faktor, yaitu aplikasi benzil amino purin (BAP) 0, 50, 100, 150, dan 200 ppm dan boron 0, 1, 2, 3, dan 4 kg/ha.  Aplikasi  BAP diberikan tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 minggu setelah tanam (MST), dan boron pada umur 3, 5, dan 7 MST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi BAP dapat meningkatkan pembungaan, viabilitas serbuk sari bawang merah, dan produksi benih TSS tetapi tidak meningkatkan mutu benih, sedangkan aplikasi boron efektif meningkatkan semua variabel yang diamati termasuk mutu benih TSS. Konsentrasi BAP yang optimum untuk menghasilkan produksi benih TSS ialah 37,5 ppm, sedangkan dosis boron yang optimum untuk menghasilkan bobot benih per plot yang tinggi dengan mutu benih sesuai standar sertifikasi mutu yaitu 2,88 kg/ha.  Hasil yang diperoleh pada perlakuan boron memberikan peningkatan sebesar 165,69% daripada kontrol. Hasil penelitian ini memberikan informasi teknologi produksi TSS yang dapat dikembangkan untuk memproduksi benih TSS bermutu tinggi. ABSTRACT. Rosliani, R, Palupi, ER, and Hilman, Y 2012. Benzyl Amino Purine and Boron Application for Improving Production and Quality of True Shallots Seed (Allium cepa var. ascalonicum) in Highlands. The use of bulb for propagation material of shallots has several problems including unavailability of quality seeds, low productivity, and expensive. One of the potential alternative technologies to be developed as seed is using true shallots seed (TSS). The aimed of research was to produce TSS in the highlands through increased flowering and pollen viability by using benzyl amino purine (BAP) and boron. The study was conducted at the Experimental Field, Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI) in Lembang, West Java (altitude 1,250 m asl.), from August 2011 to February 2012. The factorial experiment was arranged in a randomized block design with three replications. The treatments consists of two factors, namely the application of BAP 0, 50, 100, 150, and 200 ppm and boron (0, 1, 2, 3, and 4 kg/ha). Benzyl amino purine application was given three times at  1, 3, and 5 weeks after planting (WAP), and boron at  3, 5, and 7 WAP. The results showed that application of BAP improved flowering, pollen viability, and seed production of TSS but did not improve seed quality, while boron application effectively increased all variables including the seed quality of TSS. The efficient concentration of BAP to improve TSS seed weight per plot was 37.5 ppm, while the optimum concentration of boron to improve TSS seed production with the good seed quality (according to the certification standards of seed quality) was 2.88 kg/ha. The yield obtained in the treatment of boron gave an increase of 165.69% compared to the control. The results provide information about TSS production techniques that can be developed to produce  the high seed quality of TSS.
Pengaruh Minyak Cengkeh terhadap Pertumbuhan Koloni dan Sifat Antagonis Cendawan Gliocladium sp. terhadap Fusarium oxysporum f. sp. cubense Emilda, Deni; Istianto, Mizu
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n1.2011.p33-39

Abstract

Minyak cengkeh dan cendawan Gliocladium sp. diketahui memiliki potensi sebagai agens pengendali cendawan Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc), penyebab penyakit layu pada tanaman pisang. Pengujian kompatibilitas antara minyak cengkeh dengan cendawan Gliocladium sp. perlu dievaluasi dalam rangka menyusun paket pengendalian terpadu terhadap penyakit layu Fusarium. Tujuan penelitian ialah mengevaluasi pengaruh minyak cengkeh terhadap pertumbuhan koloni cendawan Gliocladium sp. dan daya hambatnya terhadap cendawan Foc ras 4. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika pada bulan Mei sampai Juli 2008. Perlakuan terdiri atas  minyak cengkeh volume 3, 9, dan 18 µl disusun dalam rancangan acak lengkap dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa miselium cendawan Gliocladium sp. yang mendapat perlakuan minyak cengkeh masih mampu tumbuh hingga memenuhi ruang cawan petri. Jumlah konidia cendawan Gliocladium sp. yang diperlakukan dengan minyak cengkeh terbukti lebih sedikit dibanding cendawan yang tidak diperlakukan dengan minyak cengkeh.  Cendawan Gliocladium sp. yang telah mendapat perlakuan minyak cengkeh masih memiliki sifat antagonistik yang efektif terhadap cendawan Foc. Efektivitas antagonisme cendawan tersebut tidak berbeda nyata dengan efektivitas antagonisme yang tidak diperlakukan dengan minyak cengkeh. Hasil ini memberikan harapan karena minyak cengkeh tidak memberikan efek negatif terhadap aktivitas Gliocladium sp., sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu komponen dalam program pengendalian secara terpadu penyakit layu Fusarium pada pisang. Namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh minyak cengkeh terhadap pertumbuhan tanaman.Clove essential oil and Gliocladium sp.   are known to have the potency for controlling Fusarium oxysporum f.sp cubense (Foc) the causal agent of  wilt banana disease. The compatibility of clove oil and Gliocladium sp. has to be evaluated to establish an integrated pest management against Fusarium disease. The objective of this experiment was to evaluate the effect of clove oil on the growth of Gliocladium sp. colony and the inhibition value of this fungus to Foc race 4. The experiment was conducted  in the Plant Protection Laboratory  of Indonesian Tropical Fruit Research Institute  from May to July 2008. The treatments were volumes of clove oil i.e. 3, 9, and 18 µl that were arranged in a completely randomized design with five replications. The results showed that Gliocladium sp. mycelia treated with clove oil could still grow throughout the available space within petridish. However, Gliocladium sp. treated with this oil had lower number of conidia than that it was untreated. Gliocladium sp. treated with clove oil had still effective antagonism trait to Foc. This effectiveness was not significantly different from  Gliocladium sp. that was untreated with clove oil. This result indicated  that clove oil  had good potency as a component in integrated control program against  wilt disease on banana, because it did not have negative effect to Gliocladium sp. However, further research is still needed to evaluate the effect of clove oil to plant growth.  
Karakterisasi Morfologi dan Evaluasi Daya Hasil Sayuran Polong Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC) Handayani, Tri; Kusmana, Kusmana; Lukman, Liferdi; Hidayat, Iteu M
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p126-132

Abstract

ABSTRAK. Tanaman kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC) memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai jenis sayuran polong. Selama ini, budidaya tanaman kecipir dilakukan secara tradisional sehingga informasi mengenai produksi dan keunggulannya masih sangat terbatas. Balai Penelitian Tanaman Sayuran memiliki koleksi kecipir yang memperlihatkan keragaman morfologi maupun produksi polongnya. Tujuan penelitian adalah memperoleh data karakterisasi tujuh nomor kecipir dan mendapatkan sedikitnya satu nomor kecipir yang berdaya hasil tinggi. Penelitian dilakukan dari bulan Mei sampai Oktober 2013 di Kebun Percobaan Margahayu,  Lembang (1.250 m dpl.). Tujuh nomor kecipir ditanam dengan rancangan acak kelompok lengkap, dengan lima ulangan. Karakterisasi dilakukan mengikuti AVRDC GRSU characterization data sheet. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa tujuh nomor kecipir seragam untuk karakter warna batang (hijau), warna daun (hijau), warna kaliks (hijau), warna bunga (ungu), dan bercak pada polong (tidak ada). Keragaman muncul pada karakter bentuk anak daun, bentuk polong, warna polong, dan warna sayap polong. Anak daun berbentuk ovate lanceolate (KCP A), ovate (KCP C dan KCP D), dan deltoid (KCP B, KCP E, KCP F, dan KCP G). Polong KCP C berbentuk semi datar, sedangkan enam nomor lainnya berbentuk rectangular. Produksi polong muda tertinggi dihasilkan oleh KCP C, yaitu jumlah polong per tanaman (62,84), berat polong per tanaman (800,04 g), dan berat polong per plot (7,82 kg). Keunggulan lain KCP C adalah kandungan serat polong mudanya tertinggi dibanding nomor lain, yaitu 2,89%.
Optimasi Metode Cryotherapy untuk Mengeliminasi Virus pada Tunas Kentang In Vitro (Optimation of Cryotherapy Method to Eliminate Virus on In Vitro Potato Shoot Tips) Ida Ayu Astarini; Angel Chappell; Douglas Scheuring; Sean Michael Thompson; Julian Creighton Miller Jr.
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p97-102

Abstract

Penggunaan benih kentang generasi awal dan bebas virus merupakan kunci keberhasilan produksi kentang berkualitas. Cryotherapy (perendaman dalam nitrogen cair) merupakan teknik terbaru untuk mengeliminasi virus pada benih kentang. Salah satu kendala dalam penerapan teknologi cryotherapy ialah tingkat daya hidup eksplan yang masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas teknik enkapsulasi-dehidrasi untuk mendapatkan tunas yang sehat setelah perendaman dalam nitrogen cair. Ujung tunas in vitro ukuran 2–3 mm dari empat genotipe kentang di prakultur selama 3 hari secara bertahap pada media MS dengan penambahan gula 0,25 M, 0,5 M, dan 0, 75 M. Kemudian tunas dienkapsulasi, didehidrasi selama 5 jam, lalu direndam dalam nitrogen cair selama 60 menit lalu dihangatkan kembali dalam waterbath selama 3 menit. Tunas dalam kapsul kemudian dikulturkan pada media MS +30 g/l sukrosa + 8 g/l agar + 0,4 mg/l BAP + 1 mg/l GA3 untuk pemulihan, lalu dipelihara di ruang kultur dengan suhu 24oC. Daya hidup ujung tunas diamati pada minggu ke-8 dengan menggunakan kriteria skoring sebagai berikut: (1) pemutihan jaringan dan tidak ada respons pertumbuhan, (2) kalus mencokelat, (3) kalus hijau, (4) tumbuh tunas, dan (5) planlet sehat. Hasil penelitian menunjukkan daya hidup ujung tunas bervariasi antargenotipe. Skor daya hidup berkisar 1–2 (frekuensi 2–10) pada perlakuan nitrogen cair, yang menunjukkan tidak ada respons pertumbuhan tunas, beberapa memperlihatkan pertumbuhan kalus. Tunas pada perlakuan kontrol (tanpa perendaman dalam nitrogen cair) menunjukkan skor daya hidup 5 (frekuensi 1–7), di mana ujung tunas mampu beregenerasi menjadi planlet.KeywordsCryopreservation; Solanum tuberosum; Kultur jaringan tanaman; Eliminasi virusAbstractVirus-free, early generation seed is a key in the production of high quality potatoes. Cryotherapy (exposure to liquid nitrogen) is a new and promising method of virus elimination. One bottleneck in cryotheraphy method is survival of the explants after treatment with liquid nitrogen. This study investigated the effectiveness of enkapsulasi-dehidrasi method to obtain survival explants. Shoot tips were precultured for 3 days in MS media with sucrose addition of 0.25 M, 0.5 M and 0.75 M. Shoot tips were then encapsulate, dehydrate for 5 hours, expose to liquid nitrogen for 60 minutes and rewarm in waterbath for 3 minutes. Beads with shoot tips were then cultured in MS media + 30 g/l sucrose + 8 g/l agar + 0.4 mg/l BAP + 1 mg/l GA3 for recovery, and placed in 24oC culture room. Shoot tip survival was assessed at 8 weeks using the following scoring criteria: (1) tissue bleaching and no growth response, (2) brown callus, (3) green callus, (4) shoot growth, and (5) plantlet establishment. Survival was varied among genotypes. Survival scored between 1–2 (frequency 2–10) on liquid nitrogen treatment, showing shoot tips are mostly has no growth response, only some callus growth. Shoot tips on control treatment (without exposure in liquid nitrogen) shows survival scored 5 (frequency 1–7), i.e. shoot tips able to regenerate into plantlets.
Pengendalian Layu Fusarium Menggunakan Mikrobe Antagonis dan Tanaman Resisten pada Lili Wakiah Nuryani; Evi Silfia Yusuf; - Hanudin; Ika Djatnika; Budi Marwoto
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n4.2011.p338-343

Abstract

Lili merupakan tanaman hias penting dan bernilai ekonomi tinggi. Budidaya lili di Indonesia menghadapi kendala utama yaitu penyakit layu Fusarium. Aplikasi bahan kimia sintetik untuk mengendalikan penyakit ini berdampak negatif terhadap kerusakan lingkungan. Aplikasi organisme antagonis dan kultivar resisten merupakan alternatif pengendalian penyakit ramah lingkungan, berdampak positif terhadap kelestariannya, dan meningkatkan produktivitas lili. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi mikrobe antagonis, mikrobe nonpatogenik, dan klon lili yang dapat menekan penyakit  layu Fusarium. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biokontrol dan Rumah Sere, Balai Penelitian Tanaman Hias pada bulan Januari sampai dengan Desember 2007. Tata letak percobaan disusun berdasarkan rancangan acak kelompok pola faktorial denga tiga ulangan. Faktor pertama ialah klon lili yang terdiri dari klon No.1, No 2, No.3 (tahan), dan No.4 (rentan). Faktor kedua ialah perlakuan mikrobe antagonis (1) Gliocladium sp. 107 spora/ml, (2). Trichoderma sp. 107 sel/ml, (3) Fusarium a virulen 107 spora/ml dan, (4) kontrol (tanpa mikrobe antagonis). Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan mikrobe antagonis Gliocladium sp. dan klon resisten paling efektif mengendalikan penyakit busuk umbi Fusarium pada lili. Hal ini dibuktikan dari persentase tanaman layu pada perlakuan aplikasi mikrobe dan penggunaan tanaman resistant dibandingkan dengan tanpa perlakuan. Penanaman tanaman resisten diikuti dengan aplikasi Gliocladium paling efektif menekan layu Fusarium dibanding perlakuan lainnya.Lilium is one of  the most important and the heigest economic value of cut flower in Indonesia. Cultivation of Lilium faces major constrain, that is wilt disease caused by Fusarium. Application of synthetic chemicals to control the diseases is not recommended, because its impact is dangerous for environment and human life. Therefore other control measures that are move environmentally friendly and more effective/efficient have to applied. The use of antagonistic microbes and resistance varieties are the most promising control measures to be recommended in the field. The study was aimed to find out of antagonist and nonpathogenic microbes and plant resistant that were effective to control Fusarium bulb rot on lili.  The experiment was conducted at Laboratory and Glasshouse of Indonesian Ornamental Crops Research Institute (1,100 m asl.) on January to December 2007. Factorial experiment was arranged in a randomized block design with three replications. The first factor was Lilium clones i.e. No.1, No. 2, No. 3 (resistant), and No. 4 (susceptible clone as control). The second factor was antagonism microbes i.e. (1) Gliocladium sp. 107 spora/ml, (2). 107 Trichoderma sp. cel/ml, (3) Fusarium nonpathogenic 107 spora/ml, and (4) control (tap water without antagonist microbe). The results indicated that the use of Gliocladium sp. and resistant clone of Lilium i.e. clone No.3 was effective to control Fusarium bulb rot of Lilium. This proven from lower percentage of disease occurance on the treatment of antagonistics microbes and resistance varieties compared both to those of without treatment (control). The use of resistance plant followed by application of Gliocladium was known to be most effective to control fusarial wilt disease compared to the other treatment combinations.   
Pengelolaan Polen untuk Produksi Benih Melon Hibrida Sunrise Meta dan Orange Meta Agustin Heni; Palupi E.R.; Suhartanto M.R.
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p32-41

Abstract

Pengelolaan polen merupakan salah satu faktor penting dalam sistem produksi benih hibrida. Penelitian bertujuan mempelajari pengelolaan polen untuk produksi benih hibrida melon Sunrise Meta dan Orange Meta. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tajur II, Bogor dan Laboratorium Biologi dan Biofisik Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei 2012 hingga Februari 2013. Penelitian terdiri atas dua percobaan dengan dua tetua jantan M13 dan M21 yang diuji terpisah. Percobaan pertama bertujuan meningkatkan produksi dan viabilitas polen, dilakukan dengan rancangan acak lengkap satu faktor dengan empat perlakuan, yaitu kontrol (tanpa penambahan unsur mikro), boraks 10 kg/ha, aplikasi 200 ppm  AgNO3+1.000 ppm Na2SO4 dan kombinasi perlakuan keduanya. Pengamatan dilakukan terhadap semua bunga jantan saat P1: 22-27 HST, P2: 28-33 HST, P3: 34-39 HST, P4: 40–45 HST, dan P5: 46-51 HST. Peubah yang diamati ialah jumlah polen per antera, viabilitas polen dan jumlah bunga jantan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa aplikasi boraks 10 kg/h dapat meningkatkan jumlah polen per antera M13 dan M21 namun tidak dapat meningkatkan viabilitas polen dan jumlah bunga jantannya. Jumlah polen tertinggi M13 ditemukan pada fase P4, sementara pada M21 terjadi pada fase P4 dan P5. Percobaan kedua dilakukan untuk mempelajari viabilitas polen pada bunga sehari sebelum antesis (A-1) dan saat antesis (A) serta perubahan viabilitas polen selama penyimpanan dalam ultra freezer (-80±2OC) selama 30 hari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa daya kecambah polen segar dari bunga antesis lebih tinggi dibandingkan dengan polen yang dipanen sehari sebelum antesis. Polen dari bunga antesis yang telah disimpan selama 30 hari memiliki daya kecambah lebih tinggi 30,34% (M13) dan 24,86% (M21) dibandingkan dengan polen yang dipanen dari bunga sehari sebelum antesis 2,4% (M13) dan 7,35% (M21). Seluruh polen yang disimpan dapat digunakan untuk produksi benih hibrida di lapangan. Polen yang disimpan tidak berkorelasi dengan seed set di lapangan.
Mortalitas Stadia Pradewasa Hama Penggulung Daun Pisang Erionota thrax (L) yang Disebabkan oleh Parasitoid Ashol Hasyim; Kamisar -; K Nakamura
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n2.2003.p114-119

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui mortalitas stadia pradewasa hama penggulung daun pisang yang disebabkan oleh parasitoid dan fase awal penyerangan parasitoid terhadap inang. Untuk mengetahui parasitoid hama penggulung daun pisang Erionota thrax, telur, larva, dan pupa hama diambil dari pertanaman pisang petani, kemudian dipelihara di laboratorium Kebun Percobaan Bandar Buat, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. Setiap kelompok telur, larva, dan pupa dimasukkan ke dalam stoples plastik berdiameter 13 cm dan tinggi 5 cm, serta diberi makan daun pisang. Pengamatan terhadap stadia telur diamati dengan menghitung telur yang menetas, diserang parasitoid, tidak menetas, dan diserang jamur. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa hama penggulung daun pisang mempunyai dua jenis parasitoid telur, dua jenis parasitoid larva, dan empat jenis parasitoid pupa.  Kedua jenis parasitoid telur Pediobius erionotae dan Ooncyrtus erionotae dapat menyebabkan kematian tertinggi dan membunuh 55,6% stadia telur. Parasitoid larva mulai menyerang stadia larva instar kedua. Indeks parasitisme tertinggi disebabkan oleh parasitoid larva Casinaria sp. adalah 15,7% dan yang paling rendah disebabkan oleh parasitoid pupa, Theronia ze- bra-zebra mencapai 0,8%. Hasil penelitian tentang parasitoid hama penggulung daun pisang ini merupakan informasi dasar dalam rangka pengembangan pengendalian hama secara terpadu. Kata kunci: Musa paradisiaca; Erionota thrax; Hama penggulung daun; Parasitoid; Mortalitas; Stadia pradewasa ABSTRACT. This study was aimed to determine immature mortality of banana leaf roller Erionota thrax (L.) and early susceptible stage of the host parasitoid attacking. To obtain parasitoid, the eggs, larvae, and pupae of banana leaf roller, E. thrax were collected from farmer's banana fields and reared in the laboratory under room temperature at Bandar Buat, West Sumatera Assessment Institute for Agriculture Technology. Each egg mass, larvae, and pupae was isolated in plastic container dimensions of 13 cm in diameter and 5 cm in depth feeding, with a leaf of banana. The following categories were recognized for egg stage, hatched, parasitic by wasps, hatching failure, and fungal diseased. The result indicated that E. thrax had two species of egg parasitoid, two species of parasitoid emerged from larvae, and four species of parasitoid emerged from pupal stages. Both egg parasitoid spe- cies, Pediobius erionotae and Ooncyrtus erionotae, caused the highest mortality and killed 55.6% of the eggs. The earliest parasitized stage of larvae was the second instar. Parasitism rate by larval and pupal parasitoid which was mostly caused by Casinaria sp. was at 15.7% and the lowest caused by pupae parasitoid, Theronia zebra-zebra was 0.8. The results of banana leaf roller parasitoid research provide basic information for the development of integrated pest management.
Evaluasi dan Preferensi Petani Brebes Terhadap Atribut Kualitas Varietas Unggul Bawang Merah Hasil Penelitian Balitsa Rofik Sinung Basuki; Nur Khaririyatun; Luthfy Luthfy
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p276-282

Abstract

Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) telah menghasilkan varietas unggul bawang merah seperti Bima Brebes, Mentes, Katumi, Pancasona, Pikatan, Sembrani, dan Trisula. Namun Balai Penelitian Tanaman Sayuran masih belum mengetahui di antara varietas unggul tersebut varietas mana yang paling baik untuk didiseminasikan secara luas di sentra produksi Brebes dan paling potensial diadopsi petani. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui evaluasi dan preferensi petani Brebes terhadap kualitas varietas bawang merah dari Balitsa. Penelitian dilakukan di Desa Randusari, Brebes pada bulan Juli 2012, bersamaan dengan pelaksanaan Jambore Varietas yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Hortikultura. Metode penelitian yang digunakan adalah Farmer Participatory Research (FPR) yang didukung dengan demplot pertanaman. Varietas Balitsa yang ditanam di demplot adalah Bima Brebes, Mentes, Katumi, Pancasona, Pikatan, Sembrani, dan Trisula. Demplot digunakan sebagai petak observasi bagi sembilan petani partisipan, termasuk dua penangkar benih bawang merah. Data demplot yang dikumpulkan adalah data hasil panen ubinan, sedangkan data FPR dikumpulkan dari jawaban tertulis petani partisipan pada kuesioner yang dibagikan peneliti pada saat petanimelakukan observasi di demplot. Kuesioner berisi pertanyaan tertutup  menggunakan skala numerik. Daftar pertanyaan mengenai tingkat kepentingan atribut kualitas yang digunakan untuk mengukur keunggulan varietas bawang merah, dan tingkat keunggulan atribut kualitas dari varietas bawang merah dari Balitsa. Analisis data menggunakan analisis perceived quality (PQ) dan analisis tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari demplot diketahui varietas Sembrani produktivitasnya paling tinggi (16,92 t/ha), diikuti Bima Brebes (16,02 t/ha), dan Pikatan (15,66 t/ha). Menurut persepsi petani varietas Bima Brebes mempunyai kualitas paling baik dibanding varietas lainnya. Secara kualitatif, kualitas varietas Bima Brebes 15% di atas kualitas varietas Mentes, 31% diatas Katumi, 23% diatas Pancasona, 35% diatas Pikatan, 10% diatas Sembrani, dan Trisula. Mayoritas petani (67%) menyukai varietas Bima Brebes. Varietas Katumi, Sembrani, dan Trisula masing-masing hanya disukai 11% petani, sedangkan varietas Mentes, Pancasona, dan Pikatan tidak disukai.
Pendugaan Heterosis dan Heterobeltiosis pada Enam Genotipe Cabai Menggunakan Analisis Silang Dialel Penuh Abdulah Bin Arif; Sri Sujiprihati; Muhamad Syukur
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n2.2012.p103-110

Abstract

ABSTRAK Produktivitas cabai di Indonesia sampai saat ini masih rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas cabai yaitu melalui program pemuliaan tanaman. Terdapat beberapa rancangan persilangan untuk memilih tetua dalam rangka menghasilkan varietas unggul baru, di antaranya rancangan silang dialel. Tujuan penelitian ini ialah memperoleh informasi heterosis dan heterobeltiosis dari persilangan enam tetua cabai serta mendapatkan calon hibrida cabai yang unggul. Penelitian dilakukan pada November 2008-Mei 2009 di Kebun Percobaan Lwikopo IPB. Materi genetik yang digunakan ialah enam tetua cabai (IPB C2, IPB C9, IPB C10, IPB C14, IPB C15 dan IPB C20) serta turunan pertama dari persilangan enam tetua tersebut. Rancangan persilangan yang digunakan yaitu rancangan silang dialel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada populasi F1 hasil dari persilangan IPB C2 x IPB C10 dan IPB 10 x IPB C2 mempunyai nilai tinggi dikotomous yang relatif lebih tinggi dibandingkan hibrida lainnya. Pada populasi F1 hasil persilangan IPB C2 x IPB C14 dan IPB C14 x IPB C2 mempunyai bobot per buah yang relatif lebih tinggi dibandingkan hibrida lainnya. Nilai heterosis dan heterobeltiosis pada populasi F1 hasil dari persilangan IPB C2 x IPB C10, IPB C2 x IPB C14, IPB C2 x IPB C20, IPB C10 x IPB C2 dan IPB C14 x IPB C2 bernilai positif pada karakter tinggi dikotomous. Nilai heterosis dan heterobeltiosis pada populasi F1 hasil dari persilangan IPB C2 x IPB C14 dan IPB C14 x IPB C2 bernilai positif pada karakter bobot per buah. Calon hibrida yang sesuai dalam program pemuliaan cabai untuk pembentukan varietas unggul ialah populasi F1 hasil dari persilangan IPB C2 x IPB C14 dan IPB C14 x IPB C2.ABSTRACT Abdullah Bin Arif, S. Sujiprihati and M. Syukur. Estimated of Heterosis and Heterobeltiosis in Six Genotypes of Chilli Using Full Diallel Crosses Analysis. Until now productivity of chili in Indonesia is still low. One effort to increase productivity of chilli is by breeding program. There are several cross designs to choose inbred lines to produce new varieties superior, including the design of cross dialel. The aims of this research were to obtain information heterosis and heterobeltiosis from hybrid of six inbred line combination and to gain candidate of hybrids superior. The research was conducted in November 2008-May 2009 at the Garden Experiments Lwikopo IPB. Genetic material used are six inbred lines of chili (IPB C2, IPB C9, IPB C10, IPB C14, IPB C15 and IPB C20) and F1 of the hybridization of combination six inbred lines. The crossing design used was diallel cross. The results showed that population of F1 resulted from crossing of IPB C2 x IPB C10 and IPB 10 x IPB C2 had high dicotomous that was relatively higher than those of other hybrids. The population of F1 obtained from crossing IPB C2 x IPB C14 and IPB C14 x IPB C2 had weight per fruit that was relatively higher than those of other hybrids. Heterosis and heterobeltiosis values in F1 of IPB C2 x IPB C10, IPB C2 x IPB C14, IPB C2 x IPB C20, IPB C10 x IPB C2 and IPB C14 x IPB C2 were positive on high dicotomous character. Heterosis and heterobeltiosis values in F1 IPB C2 x IPB C14 and IPB C14 x IPB C2 were positive on weight per fruit character. The population of F1 that were appropriate used in breeding program to make superior variety were hybrids of IPB C2 x IPB C14 and IPB C14 x IPB C2.
Pengaruh Suhu dan Kelembaban Relatif terhadap Perkecambahan dan Perkembangan Tabung Kecambah Konidia Cladosporium musae Mason Sahlan -
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n3.2003.p197-204

Abstract

Penelitian  dilakukan  di  Laboratorium Fitopatologi  Fakultas  Pertanian,  Universiti  Putra  Malaysia  dari  bulan Januari-Maret 2002. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan kelembabam relatif terhadap perkecambahan dan perkembangan tabung kecambah konidia C. musae. Rancangan percobaan menggunakan faktorial  dengan  suhu  sebagai  faktor pertama  dan  kelembaban  relatif  sebagai  faktor kedua. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa konidia C. musae dapat berkecambah pada kisaran suhu dan kelembaban relatif yang lebar masing-masing 22-34oC dan 88,5-100%. Pada kelembaban relatif yang rendah, rataan jumlah konidia yang berkecambah berkurang secara drastis. Perkecambahan maksimum terjadi pada suhu 26oC dengan kelembaban relatif 99-100%. Tabung kecambah terpanjang 133,64 mm terdapat pada suhu 26oC dengan kelembaban relatif 100% diikuti 116,5 mm  pada suhu 22oC. Panjang tabung kecambah berkurang pada suhu tinggi dan kelembaban relatif rendah. Dibahas juga perbedaan pengaruh suhu dan kelembaban relatif terhadap perkecambahan dan perkembangan tabung kecambah. Kata kunci: Cladosporium musae; Suhu; Kelembaban relatif; Konidia; Perkecambahan; Tabung kecambah. ABSTRACT. The experiment was conducted in Phytopathology Laboratory of Faculty Agriculture, Universiti Putra Malaysia from January-March 2002. The aim of this experiment was to study effect of temperature and RH on the germination and germ tubes development of conidia C. musae. The experimental design used a factorial with temperature as the first factor and RH as the second factor. The results of this experiment showed that conidia of C. musae germinated over a wide range temperature of 22-34oC and of RH 88.5-100%. Mean percent- age conidial germination generally decreased drastically at lower RH. Maximum germination was observed at temper- ature 26oC with RH 99-100%. The longest of germ tubes conidia of C. musae 133.64 mm was occurred at temperature 26oC with RH 100% followed by 116.50 mm 22oC. Germ tubes length was decreased at high temperature and at lower RH. Differences effect of temperature and RH on the conidial germination and germ tubes development are discussed

Page 53 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue