cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pendugaan Keragaman Genetik Beberapa Karakter Pertumbuhan dan Hasil pada 30 Genotipe Tomat Lokal Sutjahjo, Surjono Hadi; Herison, Catur; Sulastrini, Ineu; Marwiyah, Siti
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n4.2015.p304-310

Abstract

Tomat (Lycopersicum esculantum) merupakan jenis sayuran yang terus berkembang menjadi komoditas penting di dunia termasuk Indonesia. Permintaan yang terus meningkat secara kuantitas dan kualitas menuntut ketersediaan varietas unggul tomat. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi keragaman genetik beberapa karakter pertumbuhan dan karakter produksi 30 genotipe tomat lokal. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Agustus 2013 di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB, menggunakan 30 genotipe tomat lokal hasil eksplorasi dari berbagai provinsi di Indonesia, yaitu Aceh, Riau, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur,Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Penelitian disusun berdasarkan rancangan kelompok lengkap teracak dengan tiga ulangan. Tiap unit percobaan terdiri dari 20 tanaman. Penanaman di lapangan dilakukan dalam bedeng berukuran 1 m x 6 m dengan jarak tanam 50 cm x 60 cm. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap karakter tinggi tanaman, jumlah daun, persentase tanaman hidup, jumlah buah total, bobot buah per tanaman, dan persentase pecah buah. Karakter-karakter yang diuji memiliki keragaman genetik yang luas sehingga efektif dilakukan seleksi. Seleksi terhadap karakter bobot buah dapat dilakukan pada generasi awal karena memiliki nilai heritabilitas yang tinggi. Genotipe Aceh5, KEF9,LOM4, MER2, dan PAPUA memiliki potensi hasil yang tinggi. Genotipe KEF12, KEF6, dan MAK1 toleran terhadap pecah buah.
Teknologi Budidaya Tanaman Tomat Melalui Inverted Gardening dan Conventional Gardening Berbasis Pemanfaatan Bakteri Indigenus Widawati, S; Sudiana, IM; Sukara, E; Muharam, Agus
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n3.2012.p224-232

Abstract

ABSTRAK. Inokulan padat Azzofor-wd3 merupakan campuran 16 isolat bakteri indigenus lahan gambut (Rhizobium,  Azotobacter, Azospirillum, dan bakteri pelarut fosfat) masing-masing empat isolat digunakan sebagai pupuk hayati untuk meningkatkan produksi tomat dalam inverted dan conventional gardening. Penelitian bertujuan mengetahui peran potensial inokulan padat Azzofor-wd3 sebagai plant growth promoter dalam kondisi lingkungan ekstrim, khususnya pada lahan gambut. Penelitian dilaksanakan di Pusat Penelitian Biologi, LIPI,  dari Bulan Januari sampai dengan Desember 2011 Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 28 perlakuan penambahan media pupuk pada media tanam dengan tiga ulangan atau pot. Media dasar ialah gambut (50%) dan tambahan pupuk hayati (50%). Perlakuan tambahan media pupuk mencakup : (1) gambut sebagai kontrol, (2) sekam kotoran ayam, (3) kompos, (4) pasir halus, (5) kapur, (6) Azzofor-wd3, (7) sekam kotoran ayam + pasir halus, (8) sekam kotoran ayam + kapur, (9) sekam kotoran ayam + Azzofor-wd3, (10) kompos + pasir halus, (11) kompos + kapur, (12) kompos + Azzofor-wd3, (13) pasir halus + kapur, (14) pasir halus + Azzofor-wd3, (15) kapur + Azzofor-wd3, (16) sekam kotoran ayam + kompos + pasir halus, (17) sekam kotoran ayam + kompos + kapur, (18) sekam kotoran ayam + kompos + Azzofor-wd3, (19) sekam kotoran ayam + pasir halus + kapur, (20) sekam kotoran ayam + pasir halus + Azzofor-wd3, (21) sekam kotoran ayam + kapur + Azzofor-wd3, (22) kompos + pasir halus + kapur, (23) kompos + kapur + Azzofor-wd3, (24) pasir halus + kapur + Azzofor-wd3, (25) sekam kotoran ayam + kompos + pasir halus, (26) sekam kotoran ayam + kompos + pasir halus + Azzofor-wd3, (27) kompos + pasir halus + kapur + Azzofor-wd3, dan (28) sekam kotoran ayam + kompos + pasir halus + kapur + Azzofor-wd3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi tomat tertinggi setelah 3 bulan ialah pada perlakukan media gambut + sekam kotoran ayam + kompos + pasir halus + kapur + Azzofor-wd3 pada inverted dan conventional gardening, masing-masing sebesar 63,9 dan 65,9 g/pot.  Terdapat perbedaan pengaruh perlakukan yang nyata antara inverted dan conventional gardening dalam hal P-tersedia, populasi bakteri, dan aktivitas PME-ase. Namun demikian, tidak ada pengaruh perlakuan yang nyata terhadap produksi tomat antara inverted dan conventional gardening.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Azzofor-wd3 merupakan bakteri pendorong pertumbuhan tanaman yang potensial untuk tanaman tomat yang dibudidayakan pada lahan gambut.  Aplikasi jenis bakteri tersebut sangat bermanfaat dalam  pengayaan tanah gambut untuk pembudidayaan tanaman sayuran. ABSTRACT. Widawati, S, Sudiana, IM, Sukara, E, and Muharam, A 2012. The Technology of Tomato Plant Cultivation Through Inverted and Conventional Gardening Based on Utilization of Indigenous Bacteria. Azzofor-wd3 is a solid inoculant consisted of 16 peat indigenous bacteria isolates i.e. Rhizobium, Azotobacter, Azospirillum, and PSB four isolates respectively were used as biofertilizers to stimulate tomato production on inverted and conventional gardening. An experiment was conducted at the Research Center for Biology, Indonesian Institute of Sciences from January until December 2011. The research was aimed to determine the potential role of Azzofor-wd3 solid inoculant as a plant growth promoter in extremely environmental conditions. The treatments of growth media mixture were arranged in a completely randomized design with three replications. The based media was peat for 50% of mixture. The treatments were the addition of biofertilizers with the same volume of the based media (50%). The treatments were (1) peat only as the control, (2) chicken dunk, (3) compost, (4) fine sand, (5) lime, (6) Azzofor-wd3 inoculant, (7) chicken dunk + fine sand, (8) chicken dunk + lime, (9) chicken dunk + Azzofor-wd3, (10) compost + fine sand, (11) compost + lime, (12) compost + Azzofor-wd3, (13) fine sand + lime, (14) fine sand + Azzofor-wd3, (15) lime + Azzofor-wd3, (16)  chicken dunk + compost + fine sand, (17) chicken dunk + compost + lime, (18) chicken dunk + compost + Azzofor-wd3, (19) chicken dunk + fine sand + lime, (20) chicken dunk + fine sand + Azzofor-wd3, (21) chicken dunk + lime + Azzofor-wd3, (22) compost + fine sand + lime, (23) compost + lime + Azzofor-wd3, (24) fine sand + lime + Azzofor-wd3, (25) Chicken dunk + compost + fine sand, (26) chicken dunk + compost + fine sand + Azzofor-wd3, (27) compost + fine sand + lime + Azzofor-wd3, and (28) chicken dunk + compost + fine sand + lime + Azzofor-wd3. The results showed that the highest production of  tomato in inverted gardening was 63.9 g/pot and in conventional gardening was 65.9 g/pot produced by the plants grown on peat + chicken dunk + compost + sand + lime + Azzofor wd3 inoculant, 3 months after planting. There was significant difference of available-P, bacterial population, and PME-ase activity in inverted and conventional gardening before and after fertilization, whereas there was no significant difference of  tomato yield between inverted and convensional gardening. It can be concluded that  Azzofor-wd3 is potential as a plant growth promoting bacteria for tomato plants grown in peat soil. The application of the bacteria is very helpful to enrich peat soil for growing  vegetable crops.
Pengujian Keefektifan Gliokompos terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Krisan Wasito, Antoro; Marwoto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n4.2003.p229-235

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh aplikasi gliokompos terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman krisan yang dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari bulan September 1999 sampai dengan Januari 2000. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Delapan komposisi media tanam berupa perbandingan volume gliokompos, pupuk kandang, dan tanah sebagai faktor pertama dan tiga varietas, yaitu saraswati, retno dumilah, dan dewi sartika sebagai faktor kedua. Data diperoleh dari beberapa peubah pertumbuhan dan hasil bunga. Penggunaan gliokompos efektif dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman, hasil bunga serta ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit tular tanah. Pertumbuhan dan hasil bunga terbaik ditunjukkan oleh varietas retno dumilah, disusul dengan varietas saraswati dan dewi sartika.  Penggunaan pupuk kandang sebagai media tanam cenderung menurunkan ketahanan tanaman akan serangan beberapa penyakit tular tanah.  Sebaliknya penggunaan gliokompos mampu menekan serangan penyakit tular tanah serta meningkatkan hasil bunga. Kata kunci: Dendrathema grandiflora Tzvelev; Gliokompos; Kesehatan tanaman; Pertumbuhan tanaman; Hasil bunga ABSTRACT. The objective of this experiment was to evaluate effective- ness of gliocompost as soil sterillant on the cutting production and healthiness. Experiment was conducted at Indone- sian Ornamental Research Institute Segunung  from September 1999 to January 2000.  A factorial randomized block design with three replications was used in this experiment.  Eight medium compositions described by volume ratio of gliocompost, chicken manure, and soil, were notated as first factor. Three varieties, namely saraswati, retno dumilah and dewi sartika, were used as second factor. Data collected were plant growth and healthiness as well as flower pro- duction. Based on the available data, concluded that the best plant growth performance and flowers production were showed by retno dumilah, followed by saraswati and dewi sartika. The use of chicken manure as a planting medium tended reduce plant resistance to soil borne diseases. Inversely, the use of gliocompost as planting medium increased plant resistance and  flower production..
Kajian Karakteristik Proses Pengeringan Jamur Tiram (Pleurotus sp.) Menggunakan Mesin Pengering Vakum Asgar, Ali; Zain, S; Widyasanti, A; Wulan, A
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n4.2013.p379-389

Abstract

Jamur tiram memiliki karakteristik mudah rusak karena adanya kandungan air yang tinggi dalam jamur tiram, sehingga memungkinkan terjadinya aktivitas enzim. Penghambatan aktivitas enzim tersebut dapat dilakukan dengan cara pengeringan. Pengeringan dengan menggunakan mesin pengering vakum merupakan cara yang efektif untuk jamur tiram karena dapat menghasilkan jamur tiram yang kualitasnya baik. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pascapanen Balai Penelitian Tanaman Sayuran dari Bulan April - Agustus 2012. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui pengaruh proses pengeringan vakum terhadap laju pengeringan, rasio pengerutan, rasio rehidrasi, dan warna jamur kering. Rancangan yang digunakan ialah acak kelompok pola faktorial yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama ialah suhu pengeringan yang terdiri atas dua taraf (50 dan 60oC) dan faktor kedua ialah tekanan vakum dua taraf (10 dan 20 kPa) dengan enam kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang paling optimal dalam proses pengeringan jamur tiram bagian tudung dan tangkai ialah pada suhu 60oC dengan tekanan vakum 20 kPa. Implikasi dari penelitian ini ialah dapat memberikan manfaat bagi para pengusaha jamur tiram terutama yang bergerak dalam perdagangan ekspor jamur tiram dalam bentuk kering.
Hubungan antara Tingkat Konsentrasi Inokulum Fusarium oxysporum f. sp. cubense VCG 01213/16 dengan Perkembangan Penyakit Layu pada Kultivar Pisang Rentan - Riska; - Jumjumidang; Catur Hermanto
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n2.2012.p156-164

Abstract

ABSTRAK. Peran konsentrasi inokulum awal patogen Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) terhadap insidensi penyakit layu pada pisang perlu diteliti, mengingat patogen ini persisten di dalam tanah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi inokulum Foc VCG 01213/16 dengan laju perkembangan penyakit layu pada pisang. Bahan yang digunakan ialah kultivar pisang rentan (Kilita). Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika pada bulan Mei sampai dengan September 2009. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, perlakuan terdiri atas lima taraf konsentrasi inokulum Foc yaitu 0; 102; 104; 106; dan 108 sel konidia/ml dengan lima ulangan, masing-masing plot berisi lima tanaman. Analisis regresi dan korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi inokulum dengan perkembangan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua taraf konsentrasi inokulum Foc VCG 01213/16 dapat menyebabkan 100% tanaman terserang. Perbedaan konsentrasi berpengaruh nyata terhadap masa inkubasi, intensitas, dan perkembangan penyakit pada pisang Kilita. Makin tinggi konsentrasi inokulum, maka makin cepat masa inkubasi penyakit serta makin tinggi intensitas dan perkembangan penyakit. Terdapat korelasi positif antara konsentrasi inokulum dengan intensitas penyakit pada daun dan bonggol pisang dan korelasi negatif antara masa inkubasi dengan intensitas penyakit pada daun dan bonggol pisang. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat direkomendasikan bahwa pengendalian Foc harus diarahkan pada upaya penurunan konsentrasi inokulum awal di dalam tanah sampai pada tingkat serendah mungkin.ABSTRACT. Riska, Jumjunidang, and Hermanto, C 2012. Relation between Concentration Level of Fusarium oxysporum f. sp. cubense VCG 01213/16 and the Disease Development on Susceptible Banana. Initial inoculum of pathogen is the most important factor to be observed, due to persistent of F. oxysporum f.sp.cubense (Foc) in the soil. The research was aimed to ascertain the relation between concentration levels of Foc VCG 01213/16 and the disease development on susceptible banana. This research was conducted at the Indonesian Tropical Fruits Research Institute from May to September 2009. Kilita as banana variety wich susceptible to Foc was used in the study as plant material. The experiment was arranged in a randomized complete block design with five concentrations of inoculum i.e. 0; 102; 104; 106; and 108 conidia/ml and five replications. Regression analysis was performed to determine the relation between concentration levels of Foc VCG 01213/16 and the disease development on susceptible banana. The results showed that there was no significant difference observed among the concentration levels of Foc inoculums on the percentage of wilted plants.  All the concentrations caused 100% of Kilita bananas to be wilt. The inoculum concentrations of Foc VCG 01213/16 significantly affected incubation period, the disease intensity on leaves and corm and disease development on Kilita. The higher concentration of Foc inoculums, the shorter disease development and incubation period occurred, the higher levels of disease intensity observed. There was a positive correlation between the inocolum concentration and the disease intensity and a negative correlation between the incubation period and the disease intensity on banana leaves and corms of the banana. The result of study, it could be recommended that decreasing initial inoculums of Foc in the soil is important to be done to control the disease severity in the field.
Perlakuan Air Panas dan Pengaturan Suhu Simpan untuk Mempertahankan Kualitas Buah Mangga (Mangifera indica L.) cv. Gedong Ilmi, Nadhirah Karimatul; Poerwanto, Roedhy; Sutrisno, Sutrisno
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p78-87

Abstract

Penanganan pascapanen yang  kurang tepat mengakibatkan kualitas buah mangga rendah dan kehilangan hasil. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan pengujian perlakuan pascapanen berupa perlakuan panas dan suhu penyimpanan pada buah mangga Gedong. Tujuan penelitian adalah menentukan perlakuan yang dapat mempertahankan kualitas pascapanen buah mangga Gedong. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2013 di Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan pola split plot terdiri atas dua faktor yaitu suhu pencucian (60±1°C, 53±1 °C, suhu air normal) dan suhu penyimpanan (suhu 18,1±1°C, 16,1±1°C, suhu ruang). Pencucian dengan suhu 53±1°C dapat digunakan untuk membersihkan buah. Perlakuan yang dapat menghambat perubahan susut bobot, kekerasan buah, kandungan asam (asam tertitrasi total), dan padatan terlarut total adalah penyimpanan pada suhu rendah (16,1±1°C dan 18,1±1°C). Perlakuan yang memberikan penampilan yang baik, dapat menekan perkembangan penyakit antraknos, dan menghambat perubahan warna buah adalah kombinasi perlakuan suhu pencucian 53±1°C  dengan suhu simpan 16,1±1°C.
Mengatasi Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana) dengan Aplikasi Kalsium dan Teknologi Lubang Resapan Biopori Kurniadinata, Odit Ferry; Poerwanto, Roedhy; Efendi, Darda; Wachjar, Ade
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p59-66

Abstract

[The Effect of Calcium and Bio-Pores Absorption Holes Technology to Reduce Yellow Sap Contamination in Mangosteen (Garcinia mangostana)]Cemaran getah kuning pada buah manggis akan menurunkan kualitas buah. Cemaran getah kuning terjadi pada saat getah mencemari permukaan kulit buah atau aril akibat pecahnya saluran getah kuning. Pecahnya saluran getah kuning berkaitan dengan keberadaan kalsium dalam pericarp buah. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendapatkan dosis dan sumber kalsium terbaik dan efisien dalam menurunkan cemaran getah kuning pada buah manggis, (2) mengetahui pengaruh lubang resapan biopori di dalam usaha mengatasi cemaran getah kuning pada buah manggis, dan (3) mengetahui kombinasi terbaik dari aplikasi kalsium dan lubang resapan biopori untuk meningkatkan serapan dan translokasi kalsium ke buah dan dapat menanggulangi cemaran getah kuning pada buah manggis. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) pemberian kalsium, baik bersumber dari dolomit maupun kalsit, mampu menurunkan cemaran getah kuning pada aril maupun kulit buah manggis, (2) berdasarkan efisiensi dan efektifitas maka dosis pupuk kalsium sebesar 1,6 kg kalsium kalsit/pohon/tahun menjadi dosis terbaik dalam mengatasi cemaran getah kuning, (3) teknologi lubang resapan biopori dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan akar muda yang selanjutnya dapat meningkatkan serapan kalsium dan menurunkan cemaran getah kuning setelah 2 tahun aplikasi, (4) kombinasi 1,6 kg kalsium kalsit/pohon/tahun dengan teknologi lubang resapan biopori (LRB) merupakan teknik yang efektif dan mampu meningkatkan persentase produksi buah manggis berkualitas bebas cemaran getah kuning.KeywordsGetah kuning; Manggis; Kalsium; Xylem; Pita kaspari; Biopori; AkarAbstractThe yellow sap contamination caused poor quality of mangosteen fruit. Yellow sap will be an issue when the sap is contaminating the surface of the fruit or aryl caused by the break of yellow sap channels. The break of yellow sap channel is associated with the low concentration of calcium in the fruit pericarp. The study was aimed to: (1) obtain the optimum dose and source of calcium, (2) determine the effect of biopore on efforts to increase the abundance of calcium uptake and translocation to the optimization of calcium in the mangosteen fruit, and (3) determine the best combination of application calcium and biopore to increase the uptake and translocation of calcium to fruit and can cope with yellow sap contamination in the mangosteen fruit. The results show that calcium sources, both of dolomite and calcite, are able to reduce contamination of yellow sap on aryl or mangosteen rind. Based on efficiency and effectiveness, 1.6 kg calcium calcite/tree/year is the best dose to reduce yellow sap contamination. Biopore affects the increase in calcium uptake into fruit pericarp tissues indirectly. The application of 1.6 kg calcium calcite/tree/year and biopore is an effective and easy to apply and is able to increase the percentage of the mangosteen fruit with yellow sap contaminant free.
Pengaruh Glutamin dan Serin terhadap Kultur Anter Anthurium andraeanum cv. Tropical Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n4.2011.p293-305

Abstract

Kultur anter merupakan salah satu teknologi haploid penting dalam produksi tanaman haploid ganda dan berhasil diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman, namun aplikasi pada Anthurium belum pernah dilaporkan. Penelitian dan pengembangan kultur anter Anthurium yang difokuskan untuk mempelajari pengaruh glutamin dan serin terhadap induksi, pertumbuhan, dan regenerasi kalus dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Januari sampai dengan September 2008. Tujuan penelitian ialah mengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi glutamin dan serin terhadap induksi, pertumbuhan, dan regenerasi kalus pada kultur anter Anthurium. Spadik Anthurium andraeanum cv. Tropical, kalus hasil kultur anter serta medium Winarto dan Teixeira digunakan dalam studi ini. Glutamin dan serin pada konsentrasi 0, 250, 500, dan 750 mg/l diuji dalam percobaan ini. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan empat ulangan. Hasil studi menunjukkan bahwa penambahan glutamin dan serin pada medium terseleksi belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap induksi, pertumbuhan, dan regenerasi kalus. Glutamin pada konsentrasi 250 mg/l menginduksi potensi tumbuh anter hingga 48% dengan 21% anter beregenerasi dan 1,3 anter per perlakuan membentuk kalus. Sementara serin pada 500 mg/l merupakan konsentrasi yang paling potensial dalam induksi kalus dengan 55% potensi tumbuh anter, 24% anter beregenerasi, dan 1,4 anter per perlakuan membentuk kalus. Glutamin 250 mg/l merupakan konsentrasi terbaik dibanding konsentrasi yang lain dalam mendukung pertumbuhan dan regenerasi kalus. Perlakuan tersebut tanpa serin mampu menginduksi potensi pertumbuhan kalus hingga 77% dengan volume kalus mencapai 237 mm3 dan empat tunas dihasilkan per eksplan. Sementara perlakuan serin justru mereduksi pertumbuhan dan regenerasi kalus dan menstimulasi senesensi kalus yang berdampak pada pencoklatan dan kematiannya. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan penggunaan glutamin dibanding serin dalam meningkatkan keberhasilan kultur anter Anthurium.Anther culture is one of important haploid technologies in producing double haploid lines and successfully applied in many plants, while the application in Anthurium is not reported yet. Research and development in anther culture of Anthurium focusing on studying the effect of glutamine and serine on callus induction, growth, and its regeneration was conducted at Tissue Culture Laboratory of Indonesian Ornamental Crops Research Institute from January untill September 2008. Objective of this study was to know the effect of glutamine and serine on callus induction, growth, and its regeneration in anther culture of Anthurium. Spadix of Anthurium andraeanum cv. Tropical, callus derived from anther and Winarto and Teixeira medium were utilized in the study. Glutamine and serine of 0, 250, 500, and 750 mg/l were tested in the experiments. Factorial experiment was arranged by completely randomized design with four replications. Results of the study indicate that addition of glutamine and serine in selected culture medium gave moderate significant effect on induction, growth, and regeneration of callus. Glutamine in 250 mg/l induced potential growth of anther up to 48% with 21% regenerated anthers and 1.3 anthers per treatment producing calli, while 500 mg/l of serine was better concentration in callus formation with 55% potential growth of callus, 24% regenerated anthers and 1.4 anthers per treatment producing calli. In growth and regeneration of callus, supplementation of serine reduced callus capacity in growth and production of shoots and stimulated callus senescence causing browning and death of it, while 250 mg/l glutamine exhibited positive effect on them. The treatment without serine was able to induce potential growth of callus up to 77% with 237 mm3 per callus and four shoots produced per explants. Results of the study suggest application of glutamine rather than serine in improving anther culture of Anthurium.
Deteksi Mutan Kentang Hitam Hasil Radiasi Sinar γ Menggunakan Marka ISSR dan RAPD Kusuma Dewi Sri Yulita; Diyah Martanti; Yuyu Suryasari Poerba; Herlina Herlina
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p1-9

Abstract

Umbi kentang hitam [Plectranthus rotundifolius (Poir.) Spreng.] merupakan salah satu sumber pangan alternatif bagi sebagian masyarakat Indonesia. Namun, rendahnya keragaman genetik kentang hitam menjadi kendala dalam perakitan varietas unggul. Pemuliaan tanaman dengan cara mutasi antara lain dengan iradiasi sinar γ diharapkan dapat meningkatkan keragaman genetik kentang hitam. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Januari - November 2010 di Laboratorium Genetika Tumbuhan, PusatPenelitian Biologi LIPI. Penelitian ini bertujuan mendeteksi mutan kentang hitam hasil radiasi sinar γ pada dosis 6, 25, dan 35 gray dengan menggunakan marka ISSR dan RAPD. Lima belas primer ISSR dan RAPD digunakan untuk mengamplifikasi genom DNA total. Di antara ke-15 primer tersebut, hanya empat primer yang menghasilkan pita-pita polimorfik untuk mendeteksi mutan hasil mutasi pada konsentrasi 25 gray yaitu (OPA 13, OPA 18, OPB 18, dan UBC 834) pada aksesi 1#10; 11.3#4; 11.3#5, dan 2.10#8 dan hanya tiga primer yang mampu mendeteksi mutan pada konsentrasi 35 gray (OPA 13, OPB 18, dan UBC 807) pada aksesi 4.10#2, 4.10#1, 4.10#4, 4.10#3, 4.10#5, dan 33d.1#3. Hal ini menunjukkan bahwa marka ISSR dan RAPD dapat digunakan untuk mendeteksi mutan pada kentang hitam.
Uji Kepekaan Gamma-Glob u lin An ti serum Poliklonal Cu cum ber Mo saic Vi rus untuk Deteksi Cepat CMV dengan Metode Elisa Tidak Langsung pada Tanaman Tapak Dara Rahardjo, Indiyarto Budi; Sulyo, Yoyo; Diningsih, Erniawati
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n2.2004.p101-106

Abstract

Vi rus mosaik ketimun merupakan salah satu patogen penting pada berbagai tanaman hortikultura, termasuk tanamantapak dara. Untuk dapat mengetahui secara dini infeksi vi rus pada tanaman, perlu dikembangkan metode deteksicepat. Salah satu metode serologi yang pal ing banyak digunakan dewasa ini untuk deteksi vi rus secara cepat adalahen zyme-linked immunosorbent as say (ELISA). Penelitian ini bertujuan memperoleh gamma-glob u lin murni dari an ti -serum poliklonal cucumber mosaic virus (CMV) dan mengetahui konsentrasi optimalnya untuk deteksi cepat.Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Virologi, Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung, dari bulan Januarisampai Desember 2001. An ti serum diproduksi dengan cara penyuntikan vi rus murni CMV secara bertahap padakelinci dengan konsentrasi setiap penyuntikan sebesar 1 mg/ml yang dilakukan pada penelitian sebelumnya.Pemurnian gamma-glob u lin mengikuti metode Clark & Adam. Konsentrasi gamma-glob u lin diukur denganspektrofotometer pada panjang gelombang 280 nm. Pengujian kepekaan gamma-glob u lin terhadap an ti gen dilakukandengan metode ELISA tidak langsung. Hasil pengujian menunjukkan konsentrasi gamma-glob u lin sebesar 1 mg/mldengan uji ELISA tidak langsung, konsentrasi gamma-glob u lin yang op ti mal untuk deteksi CMV adalah sebesar 1mg/ml dengan pengenceran enzim con ju gated goat antirabbit dan sampel, masing-masing sebesar 1/25.000 dan 1/10atau konsentrasi gamma-glob u lin sebesar 1mg/ml dengan pengenceran enzim con ju gated goat antirabbit dan sampel,masing-masing sebesar 1/10.000 dan 1/100.AB STRACT. Rahardjo, I.B., Y. Sulyo, and E. Diningsih. 2004. Sen si tiv ity test of gamma-glob u lin of cu cum bermo saic vi rus polyclonal an ti serum for rapid de tec tion of CMV with in di rect ELISA on Vinca sp. Cu cum bermo saic vi rus is one of the ma jor patho gens on some hor ti cul ture crops in clud ing Vinca sp. A rapid de tec tion methodshould be de vel oped to sup port the eval u a tion of ini tial in fec tion of the vi rus on crops. A serological method com -monly used for rapid de tec tion of plant vi ruses is ELISA. The ob jec tives were to pro duce pu ri fied gamma-glob u lin ofCMV an ti serum and to de ter mine the op ti mum con cen tra tion for rapid de tec tion of the vi rus. The ex per i ment was donein Virological Lab o ra tory of In do ne sian Or na men tal Crops Re search In sti tute in Segunung, from Jan u ary to De cem -ber 2001. A polyclonal CMV an ti serum had been pro duced by in jec tions of pu ri fied CMV into rab bit with the con cen -tra tion of 1 mg/ml each in jec tion from pre vi ous re search. Clark & Adam method for gamma-glob u lin pu ri fi ca tion wasfol lowed. Gamma-glob u lin con cen tra tion was mea sured with spectrophotometer on wave length of 280 nm. The testof gamma-glob u lin sen si tiv ity was car ried out with in di rect ELISA method. The re sults showed that the gamma-globulincon cen tra tion ob tained in this study was 1 mg/ml. The op ti mum con cen tra tion of the gamma-glob u lin for CMVde tec tion with in di rect ELISA was 1 mg/ml with 1/25,000 and 1/10 of en zyme con ju gated goat antirabbit di lu tion andsam ples, re spec tively, or the op ti mum con cen tra tion of the gamma-glob u lin was 1 mg/ml with 1/10,000 and 1/100 ofen zyme con ju gated goat antirabbit di lu tion and sam ples, re spec tively.

Page 50 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue