cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pengendalian Getah Kuning Pada Buah Manggis Dengan Irigasi Tetes dan Antitranspiran Chitosan I Nyoman Rai; I Wayan Wiraatmaja; Cokorda Gede Alit Semarajaya; IGK Dana Arsana; NK Alit Astiari
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p307-315

Abstract

Manggis merupakan buah segar terbanyak yang diekspor Indonesia, namun hanya 12,79% dari total produksi buah manggis Indonesia yang layak ekspor karena kualitasnya rendah. Gangguan getah kuning merupakan penyebab utama rendahnya kualitas buah manggis. Penelitian bertujuan mengendalikan getah kuning pada buah manggis dengan irigasi tetes dan antitranspiran Chitosan. Penelitian dilakukan di kebun manggis petani di Desa Munduk Bestala, Kecamatan Seririt, Buleleng, pada musim panas (April–November 2011). Perlakuan yang dicoba terdiri atas dua faktor, disusun secara petak terpisah dengan rancangan acak kelompok dan sembilan ulangan. Faktor utama adalah perlakuan irigasi tetes terdiri atas dua taraf, yaitu dengan irigasi tetes (I) dan tanpa irigasi tetes/kontrol (I (A1), dan 0,30% (A2k), sedangkan subplot adalah konsentrasi antitranspiran Chitosan, terdiri atas tiga taraf yaitu 0% (A). Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara irigasi tetes dan konsentrasi antitranspiran berpengaruh tidak nyata terhadap getah kuning pada buah manggis. Perlakuan irigasi tetes meningkatkan secara nyata persentase buah yang dagingnya tidak bergetah kuning. Buah yang dagingnya tidak bergetah kuning pada perlakuan irigasi tetes mencapai 83,70%, sedangkan pada kontrol hanya 36,30%. Demikian pula pemberian antitranspiran Chitosan menurunkan secara nyata buah yang dagingnya tidak bergetah kuning. Buah yang dagingnya tidak bergetah kuning pada antitranspiran Chitosan konsentrasi 0,15% dan 0,30% masing masing 60,00% dan 64,44%, sedangkan pada kontrol hanya 55,56%. Disamping itu, antitranspiran Chitosan tidak menurunkan proses fotosintesis yang tercermin dari tidak turunnya kandungan gula pereduksi, gula total, dan sukrosa daun. 
Evaluasi Daya Gabung Lima Galur Mentimun (Cucumis sativus L.) Hasil Persilangan Dialel Gungun Wiguna; A Purwantoro; Nasrullah Nasrullah
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n4.2013.p310-317

Abstract

Produktivitas mentimun di Indonesia dapat ditingkatkan melalui penggunaan varietas hibrida. Untuk mendapatkan hibrida unggul, informasi tentang daya gabung umum (DGU) dan daya gabung khusus (DGK) sangat diperlukan sebagai pedoman dalam memilih tetua dan kombinasi persilangan unggul secara efektif dan efisien. Penelitian bertujuan menduga nilai daya gabung lima galur mentimun hasil persilangan dialel berdasarkan metode 2 model 1 Griffing. Galur mentimun yang digunakan merupakan koleksi plasma nutfah Balai Penelitian Tanaman Sayuran yang memiliki umur genjah, produktivitas tinggi, dan warna buah bervariasi. Evaluasi tetua dan F1 dilakukan di Kebun Percobaan Margahayu lembang dan Kebun Percobaan Subang pada Bulan Juli sampai dengan Oktober 2012, menggunakan rancangan acak kelompok Lengkap dengan tiga ulangan di tiap lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi DGU×lokasi nyata pada karakter umur bunga betina pertama mekar, berat per buah, panjang buah, dan diameter buah. Interaksi DGK×lokasi nyata pada karakter umur bunga betina pertama mekar, tinggi tanaman, jumlah ruas, dan diameter buah. Galur LV 2908 dan LV 2902 memiliki nilai DGU tinggi untuk beberapa karakter agronomi, hasil dan komponen hasil di dua lokasi pengujian. Persilangan yang berumur genjah dengan nilai DGK terbaik dihasilkan oleh LV 2904×LV 6501. Persilangan yang memiliki nilai DGK tinggi untuk karakter hasil ialah LV 2908×LV 2904, LV 2908×LV 6501, LV 2904×LV 6501, dan LV 2902×LV 1043.
Perbandingan Teknik Inokulasi Puccinia horiana dan Seleksi Bakteri Antagonis untuk Mengendalikan Penyakit Karat Putih pada Krisan Hanudin, -; Nuryani, Waqiah; Yusuf, Evi Silvia; Djatnika, Ika; Soedarjo, Muchdar
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n2.2011.p173-184

Abstract

Penyakit karat pada krisan (Dendranthema grandiflora) yang disebabkan oleh Puccinia horiana, merupakan kendala utama dalam budidaya krisan.  Kehilangan hasil krisan oleh patogen tersebut dapat mencapai 100%. Penelitian ini bertujuan (1) mendapatkan teknik inokulasi P. horiana yang efektif menimbulkan gejala penyakit dan (2) mendapatkan bakteri antagonis yang secara efektif dapat mengendalikan penyakit karat putih pada tanaman krisan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias (1.100 m dpl.) sejak Juni sampai  dengan Desember 2009. Penelitian terdiri dari dua kegiatan. Rancangan yang digunakan pada masing-masing kegiatan ialah acak kelompok dengan 11 perlakuan yaitu pustul karat direndam dalam air, pustul karat pecah direndam dalam air, pustul karat direndam dalam air disimpan 10oC 12 jam, pustul karat pecah direndam dalam air10oC 12 jam, pustul ditempel di atas daun, pustul pecah ditempel di atas daun, pustul ditempel di bawah daun, pustul pecah ditempel dibawah daun, tanaman plus pustul disimpan di samping tanaman uji disungkup, tanaman pustul pecah disimpan di samping tanaman uji disungkup, dan kontrol dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode inokulasi P. horiana  isolat yang paling efektif menimbulkan gejala penyakit karat putih pada krisan ialah perlakuan peletakan tanaman yang terinfeksi P. horiana  dengan pustul yang belum maupun telah pecah di samping tanaman sehat.  Dari hasil uji antagonistik diketahui bahwa isolat bakteri antagonis Corynebacterium-2, merupakan isolat yang paling efektif mengendalikan P. horiana. Kemangkusan bakteri antagonis tersebut dalam menekan P. horiana sebanding dengan fungisida sintetik berbahan aktif azoksistrobin 0,1%. Isolat Corynebacterium-2 berpotensi untuk digunakan lebih lanjut sebagai bahan aktif biopestisida yang efektif untuk mengendalikan penyakit karat putih pada krisan. Pegembangan biopestisida tersebut diharapkan dapat menekan penggunaan pestisida sintetik.White rust disease caused by P. horiana is one of the serious problems on chrysanthemum cultivation. The pathogen causes yield losses  up to 100%. The research was aimed (1) to determine the effective inoculation technique and (2) to select antagonistic bacteria  for effectively controlling the pathogen. The research was carried out  in the Laboratory and  Glasshouse of Indonesian Ornamental Crops Research Institute (IOCRI), from June to December 2009.  The research consisted of two experiments. Each experiments was arranged in a randomized completely block design with 11 treatments i.e. rust pustuls dipped in water, mature rust pustuls dipped in water, rust pustuls dipped in water and stored at 10oC during 12 hours, mature rust pustuls dipped in water and stored at 10oC during 12 hours, pustuls adhered on the leaf, mature pustuls adhered on the leaf, pustuls adhered beneath the leaf, mature rust pustuls adhered beneath the leaf, the plant + pustuls stored beside tested plants covered by transparent plastic, mature pustuls plants stored beside tested plants covered by transparent plastic, and control with three replications. The results indicated that the most effective inoculation technique for the pathogen was locating and infected plant with immature or mature pustuls  surounding  a healthy plant. The effective antagonistic bacteria against the pathogen was Corynebacterium-2. The effectiveness of  the antagonistic bacteria in suppressing P. horiana  was equivalent to synthetic fungicide  azoksistrobin 0.1%. The Corynebacterium-2 isolate will be potentially used as an active ingredient of biopesticide for controlling white rust disease on chrysanthemum. The development of the biopesticide is expected to decrease to utilization of synthetic pesticides.
Precooling dan Konsentrasi Etilen dalam Degreening untuk Membentuk Warna Jingga Kulit Buah Jeruk Siam Taruna Shafa Arzam; I Hidayati; Roedhy Poerwanto; Y A Purwanto
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n3.2015.p257-265

Abstract

Degreening pada buah jeruk tropika dataran rendah seringkali gagal menghasilkan buah jeruk berwarna jingga, tetapi kuning. Warna jingga terbentuk dari campuran dua pigmen kulit jeruk, yaitu β-cryptoxanthin (kuning) dan ß-citraurin (kuning kemerahan). ß-citraurin sering kali tidak terbentuk pada buah jeruk tropika dataran rendah karena pembentukannya terjadi apabila buah terpapar suhu rendah saat pertumbuhannya. Precooling buah jeruk tropika dataran rendah diharapkan dapat mendorong pembentukan ß-citraurin karena jeruk yang sudah dipanen masih melakukan metabolisme. Konsentrasi etilen adalah salah satu faktor pembatas keberhasilan degradasi klorofil dalam degreening. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh precooling sebelum degreening dan konsentrasi etilen terbaik pada degreening buah jeruk siam. Buah dipetik di kebun jeruk rakyat di Jember dan perlakuan degreening dilaksanakan di Laboratorium Pascapanen, Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor pada bulan Februari 2014. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dua faktor. Faktor pertama adalah perlakuan precooling (dengan precooling dan tanpa precooling). Faktor kedua adalah konsentrasi etilen (0, 100, 200, 300 ppm). Perlakuan degreening buah jeruk siam asal Jember yang diawali dengan perlakuan precooling pada suhu 5oC menghasilkan jeruk berwarna jingga, sedangkan yang tanpa precooling menghasilkan warna kuning. Etilen 100 ppm adalah konsentrasi terbaik dalam degradasi klorofil. Perlakuan precooling dan degreening tidak berpengaruh buruk pada kandungan asam dan gula buah jeruk.
Patogenisitas Penyakit Speckle Daun Pisang (Cladosporium musae Ma son) pada Tanaman Pisang ZAM Ahmad; S Meon; Z Wahab; G Singh
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n2.2004.p91-100

Abstract

Penelitian dilakukandi Laboratorium Fitopatologi Fakulti Pertanian Universiti Putra Ma lay sia dari bulan Juni sampaiSep tem ber 2002. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui patogenisitas cendawan Cladosporium musae Ma sonpada tanaman pisang sebagai tanaman inangnya. Bibit tanaman pisang barangan (AAA) umur 8 minggu yang berasaldari kul tur jaringan dan potongan daun bibit pisang barangan umur 8 minggu diinokulasi dengan cara disemprotsuspensi konidia C. musae (106 konidia per ml). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun bibit pisang barangan yangdiinokulasi dengan suspensi konidia C. musae dan dipelihara di dalam rumah kaca gagal menunjukkan gejala spesifikpenyakit speckle daun. Meskipun demikian, patogenisitas C. musae dapat dibuktikan melalui inokulasi potongandaun bibit pisang barangan dengan suspensi konidia cendawan tersebut. Pengujian secara mikroskopis menunjukkanbahwa infeksi penyakit terjadi melalui stomata. Selain itu pengujian secara histologis menunjukkan bahwa di dalamsel-sel daun, hifa C. musae tumbuh dan berkembang baik secara intrasel maupun antarsel.Patho ge nic ity study of ba nanaleaf speckle (Cladosporium musae Ma son) on ba nana. The ex per i ment was con ducted in Phytopathology Lab o ra -tory Fac ulty of Ag ri cul ture, Uni ver sity of Putra Ma lay sia from June - Sep tem ber, 2002. The aim of this ex per i mentwas to es tab lish and con firm the patho ge nic ity of Cladosporium musae Ma son on ba nana as the host plant. The ba nanaseed lings of barangan (AAA) of 8 weeks old pro duced by tis sue cul ture and de tached ba nana leaves of barangan werein oc u lated by spray ing with conidia sus pen sion of C. musae (106 conidia per ml). The re sults of this ex per i mentshowed that in oc u la tion of barangan seed lings which were main tained un der glass house con di tions was failed show -ing the speckle dis ease symp tom on ba nana leaves. How ever, ev i dence of patho ge nic ity was ob tained by a sim i lar in -oc u la tion done on de tached leaves of barangan. Mi cro scopic ex am i na tions re vealed hyphal pen e tra tion via stomatare sult ing in ne cro sis of the cells ad ja cent. Histological ex am i na tions also showed intracellular and intercellular growthof C. musae within leaf cells.
Pengaruh Konsumsi Metil Eugenol dan Protein Hidrolisat Terhadap Kebugaran Lalat Buah Bactrocera carambolae Kiki Yolanda; A. Arifin Rivaie
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p247-257

Abstract

Informasi yang lebih lengkap tentang pemanfaatan zat pemikat metil  eugenol (ME) dan protein hidrolisat (PH) pada Bactrocera carambolae secara bersamaan dibutuhkan untuk mengoptimalkan strategi pengendalian massal di lapangan. Telah dilakukan percobaan yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi kombinasi ME dan PH terhadap kebugaran lalat buah B. carambolae di Laboratorium Entomologi Dasar, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, dari bulan Oktober 2009 sampai Maret 2010. Perlakuan disusun menurut rancangan acak lengkap dengan lima ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ME tidak berpengaruh terhadap fekunditas imago lalat buah. Fekunditas betina lebih ditentukan oleh konsumsi PH. Jumlah larva dan jumlah pupa pada perlakuan betina mengonsumsi PH yang dikawinkan dengan jantan diberi ME lebih rendah dibandingkan pada perlakuan betina yang dikawinkan dengan jantan tidak diberi ME. Tidak ada perbedaan yang nyata antara jumlah imago perlakuan jantan mengonsumsi ME dengan jantan tanpa mengonsumsi ME yang dikawinkan dengan betina  mengonsumsi PH, jumlah imago perlakuan jantan tanpa mengonsumsi ME lebih banyak daripada perlakuan jantan mengonsumsi ME. Nisbah kelamin lalat buah B. carambolae pada perlakuan jantan mengonsumsi ME dan betina mengonsumsi PH adalah 0,47, sedangkan nisbah kelamin padaperlakuan jantan tanpa mengonsumsi ME dan betina mengonsumsi PH adalah 0,49.
Respons Tanaman Induk Klon Unggul Krisan terhadap ZPT dan Frekuensi Aplikasi Fungisida dalam Sistem Budidaya Lahan Terbuka Antoro Wasito
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n4.2004.p269-273

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknologi produksi dan pemeliharaan terhadap induk klon-klon/varietasunggul krisan yang adaptif dibudidayakan di lahan terbuka. Penelitian dilaksanakan pada lahan terbuka tanpanaungan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung, berlangsung dari bulan Juli sampaiDesember 2002. Petak-petak percobaan disusun menurut rancangan petak-petak terpisah dengan tiga ulangan. Limaklon harapan digunakan sebagai perlakuan petak utama, aplikasi ZPT so dium nitroquaicol (tanpa dan denganaplikasi) digunakan sebagai anak petak, sedangkan aplikasi fungisida (1 dan 2 kali seminggu) digunakan sebagaianak-anak petak. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semua klon tanaman induk mampu tumbuh dan dapatmenghasilkan stek pucuk pada kondisi lahan terbuka. Jumlah stek pucuk, bobot stek, di am e ter pangkal stek pucukdan kemampuan berakar dipengaruhi oleh klon, namun tidak dipengaruhi oleh perlakuan aplikasi ZPT so diumnitroquaicol dan perlakuan aplikasi fungisida. Ketahanan stek pucuk terhadap gejala serangan penyakit karat selamapengakaran dipengaruhi oleh klon yang ditanam, tetapi tidak dipengaruhi oleh aplikasi ZPT so dium nitroquaicol danperlakuan aplikasi fungisida.Kata kunci: Chry san the mum; Tanaman induk; ZPT; Fungisida; Budidaya lahan terbukaAB STRACT. Wasito, A. 2004. Re sponse of chry san the mum prom is ing clones stock plant to ward growthreg u la tors and fun gi cides ap pli ca tion at out door cultivation. The ob jec tive of this study was to find out the tech -nol ogy of cut ting pro duc tion on the chry san the mum prom is ing clones un der out door con di tion. The ex per i ment wascon ducted at the ex per i men tal gar den of In do ne sian Or na men tal Crop Re search In sti tute, Segunung 1,100 m asl fromJuly to De cem ber 2002. A split-split plot de sign was used con sisted of three fac tors with three rep li ca tions. The firstfac tor was five chyrsanthemum prom is ing clones, the sec ond fac tor was two lev els so dium nitroquaicol growth reg u -la tor ap pli ca tion (with and with out ap pli ca tion), and the third fac tor was two level fun gi cide ap pli ca tion (once aweek and twice a week). The re sults showed that five prom is ing clones of stock plant well grown and pro duced cut -ting eventhought un der out door con di tions. The prom is ing clones were sig nif i cantly af fected the num ber of cut ting,cut ting weight, cut ting di am e ter, root ing ca pa bil ity and white rust re sis tance, but not by growth reg u la tor and fun gi -cide application.
Uji Ketahanan terhadap Tomato Yellow Leaf Curl Virus pada Beberapa Galur Tomat Neni Gunaeni; Eti Purwati
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n1.2013.p65-71

Abstract

Infeksi virus tomato yellow leaf curl virus (TYLCV) merupakan salah satu penyebab rendahnya produksi tomat di Indonesia. TYLCV termasuk ke dalam kelompok Gemini virus yang ditularkan oleh kutukebul (whitefly = Bemisia tabaci). Pengendalian virus TYLCV yang aman dan menguntungkan ialah dengan penggunaan varietas tahan yang merupakan salah satu cara pengendalian hayati penyakit virus. Cara ini mempunyai kelebihan dibandingkan pengendalian menggunakan pestisida dan kultur teknis. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan 30 galur tomat terhadap virus TYLCV. Penelitian dilakukan di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang pada ketinggian 1250 m dpl.. Penelitian dilakukan dari Bulan Agustus sampai dengan Desember 2008. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga galur tomat termasuk ke dalam kelompok agak tahan (moderate resistance) yaitu Mirah, 5048, dan 1927 dengan intensitas serangan virus berkisar 11,85–18,98%. Delapan galur tomat termasuk ke dalam kelompok  agak rentan (moderate susceptible) yaitu 1176, 823, CL-6064, 1941, 2208, 4377, 4507, dan 1184 dengan intensitas serangan virus berkisar antara 20,55–29,81%. Empat belas  galur tomat termasuk ke dalam kelompok rentan (susceptible) yaitu CLN 2026 – 3, CLN – 399, LV 3644, Oval, 5016, 1450, 1923,  1426, 3075, 2204, 4574, 2245, 4968, dan 4491 dengan intensitas serangan virus berkisar 30,92–49,94%. Lima galur tomat termasuk  ke dalam kelompok sangat rentan (highly susceptible) yaitu 1217, TKU, 4444, 5014, dan PETO#86 dengan intensitas serangan virus berkisar 51,85–69,14%. Virus TYLCV berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan bobot buah tomat.
Penggunaan Gliocompost untuk Mengendalikan Penyakit Layu Fusarium dan Meningkatkan Produktivitas Bunga Krisan Potong Wakiah Nuryani; Evy Silvia Yusuf; Indiarto Budi Rahardjo; Ika Djatnika
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n3.2012.p285-291

Abstract

ABSTRAK. Layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum. f. sp. tacheiphillum merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman krisan. Penyakit ini sulit dikendalikan karena patogennya bersifat tular tanah. Penelitian bertujuan mengetahui peranan  penggunaan Gliocompost dalam upaya mengurangi penggunaan pestisida sintetik dan pupuk kimia yang berlebih tetapi murah, efektif, ramah lingkungan, dan dapat meningkatkan kualitas serta hasil bunga potong krisan. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dan Rumah Plastik  Kelompok Tani Sekar Poncokusumo,  Malang – Jawa Timur (850 m dpl.), mulai Bulan Januari sampai dengan Desember 2010. Penelitian menggunakan  rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan.  Perlakuan terdiri atas delapan paket  yaitu: (A)  pupuk kandang sapi (organik) setara 50 t/ha (cara Poncokusumo); (B) pupuk kimia sintetik sesuai  SOP  (200 kg/ha Urea, 300 kg/ha SP-36, dan 350 kg/ha ZK); (C) pupuk  kandang sapi (organik) sesuai SOP (30 t/ha) + pupuk kimia sintetik sesuai SOP (200 kg/ha Urea, 300 kg/ha SP-36, dan 350 kg/ha ZK); (D) Gliocompost (4 t/ha); (E) Gliocompost (4 t/ha) + pupuk kimia sintetik sesuai SOP (200 kg/ha Urea, 300 kg/ha SP-36, dan 350 kg/ha ZK ); (F) Gliocompost (4 t/ha) + cara Poncokusumo (100%), yaitu pupuk kimia sintetik ( 200 kg/ha Urea, 300 kg/ha SP-36, dan 350 kg/ha ZK) + fungisida (piraklostrobin 250 g/l dan azoksistrobin 200 g/l + difenokonazol 125 g/l); (G) Gliocompost (4 t/ha) + cara Poncokusumo (50%), yaitu pupuk kimia sintetik (100 kg/ha Urea, 150 kg/ha SP-36, dan 175 kg/ha ZK) + fungisida (piraklostrobin 125 g/l dan azoksistrobin 100 g/l + difenokonazol 62,5 g/l); dan (H) kontrol negatif (tanpa menggunakan pupuk dan fungisida). Hasil percobaan menunjukkan bahwa paket penggabungan antara Gliocompost (4 t/ha) + cara Poncokusumo (50%), yaitu pupuk kimia sintetik  (100 kg/ha Urea, 150 kg/ha SP-36, dan 175 kg/ha ZK) + fungisida (piraklostrobin 125 g/l dan azoksistrobin 100 g/l + difenokonazol 62,5 g/l), merupakan teknik pengendalian yang paling efektif dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia serta pestisida sintetik masing-masing 50%. Aplikasi Gliocompost dapat mengurangi penggunaan pestisida sintetik dan pupuk anorganik sebesar 50%. Selain itu perlakuan Gliocompost dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, produksi, dan lama kesegaran bunga potong pada suhu ruangan. ABSTRACT. Nuryani, W, Silvia Yusuf, E, Rahardjo, IB, and Djatnika, I 2012. The Use of Gliocompost for Control Fusarium wilt Disease and Increasing Productivity of Chrysanthemum Cut Flower. Fusarium wilt  caused by Fusarium oxysporum. f. sp. tacheiphillum is one of the important disease on chrysanthemum plant. The disease is difficult to control because the pathogen is a soil borne disease. This study was aimed to identify the role of the use of Gliocompost in an effort to reduce using of synthetic pesticides and chemical fertilizers were excessive but cheap, effective, environmentally friendly, and improve quality and yield of chrysanthemum cut flower. The experiment was conducted at the Laboratory of Indonesian Ornamental Plant Research Institute and Sekar Farmers Group Plastichouse Poncokusumo, Malang - East Java (850 m asl.), from January to December 2010. The study was used a randomized block design which three replications. The treatment consisted of eight packages, that is: (A) cow manure (organic) equivalent of 50 t/ha (Poncokusumo ways), (B) synthetic chemical fertilizers according to SOP (200 kg/ha Urea, 300 kg/ha SP-36, and 350 kg/ha ZK), (C) cow manure (organic) in accordance with SOP (30 t/ha) + synthetic chemical fertilizers according to SOP (200 kg/ha Urea, 300 kg/ha SP-36, and 350 kg/ha ZK), (D) Gliocompost (4 t/ha), (E) Gliocompost (4 t/ha) + synthetic chemical fertilizers according to SOP (200 kg/ha Urea, 300 kg/ha SP-36, and 350 kg/ha ZK), (F) Gliocompost (4 t/ha) + Poncokusumo ways (100%), a synthetic chemical fertilizer (200 kg/ha Urea, 300 kg/ha SP-36, and 350 kg/ha ZK) + fungicide (pyraclostrobin 250 g/l and azocsistrobin 200 g/l + difenokonazol 125 g/l), (G) Gliocompost (4 t/ha) + Poncokusumo ways (50%), a synthetic chemical fertilizer (100 kg/ha Urea, 150 kg/ha SP-36, and 175 kg/ha ZK) + fungicide (pyraclostrobin 125 g/l and azocsistrobin 100 g/l + difenokonazol 62.5 g/l), and (H) negative control (without fertilizer and fungicides). The results showed that combination package between Gliocompost (4 t/ha) + Poncokusumo ways (50%), synthetic chemical fertilizers (100 kg/ha Urea, 150 kg/ha SP-36, and 175 kg/ha ZK) + fungicide (pyraclostrobin 125 g/l and azocsistrobin 100 g/l + difenokonazol 62.5 g/l), was the most effective control techniques and could reduce the use of chemical fertilizers and synthetic pesticides 50% respectively. Gliocompost application could reduce the use of synthetic pesticides and inorganic fertilizers by 50%. However, application of Gliocompost also could increase plant growth, production, and long freshness of cut flowers at room temperature.
Keragaan Pertumbuhan, Kualitas Buah, dan Kelayakan Finansial Dua Varietas Cabai Merah Thomas Agus Soetiarso; Wiwin Setiawati; Darkam Musaddad
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n1.2011.p77-88

Abstract

Cabai merah merupakan komoditas unggulan yang banyak diusahakan petani karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Namun demikian, dalam pengusahaannya masih ditemui berbagai kendala, baik kendala teknis maupun ekonomis. Penelitian bertujuan mengkaji keragaan pertumbuhan, kualitas buah, dan kelayakan finansial dua varietas cabai merah (Hot Chili dan Tanjung-2). Penelitian dilaksanakan di lokasi pengembangan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) cabai merah, yaitu di Desa Kawali Mukti, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dari bulan Maret-September 2007. Penelitian dilaksanakan tanpa menggunakan rancangan dan ulangan, dengan luasan 2.500 m2 per perlakuan. Perlakuan yang diuji yaitu penggunaan varietas cabai merah (Hot Chili dan Tanjung-2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hot Chili menunjukkan pertumbuhan tinggi tanaman dan lebar kanopi, serta produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan Tanjung-2. Tingkat kematangan buah Tanjung-2 lebih serempak, waktu panen lebih singkat (10 kali), serta buahnya berwarna merah lebih menarik bila dibuat pasta. Tanjung-2 relatif toleran terhadap serangan trips (Thrips parvispinus), kutudaun (Myzus persicae), dan kutukebul (Bemisia tabaci), namun lebih rentan terhadap penyakit busuk batang (Phytophthora capsici) dan layu bakteri (Ralstonia solanacearum). Dari segi kualitas, dengan ukuran panjang dan diameter buah yang hampir sama, bobot buah Tanjung-2 lebih ringan (8,75 g) dibandingkan dengan Hot Chili (14,02 g), tekstur buah yang lebih lembek (agak lentur) dapat menekan kerusakan selama transportasi, serta lebih mudah untuk digerus. Kadar air buah Tanjung-2 lebih rendah, sehingga  menjadi lebih kental bila dibuat pasta. Secara teknis, produksi Tanjung-2 lebih rendah dibanding Hot Chili. Penggunaan Hot Chili lebih menguntungkan dengan memberikan tingkat pengembalian marjinal sebesar 165,76% dibandingkan dengan Tanjung-2. Produktivitas bukan satu-satunya faktor pendorong adopsi teknologi. Dua faktor lain yang menjadi pertimbangan petani di Kawali-Ciamis dalam mengadopsi teknologi cabai yaitu ketersediaan modal kerja dan umur  panen tanaman.Hot pepper is a priority vegetable crop that is widely grown by farmers because of its high economic value. However, they are some challenging technical and economical constraints that are still being problem for  hot pepper growers. The objective of this study was to assess growth performance, fruit quality and financial feasibility of two hot pepper varieties i.e. Hot Chili and Tanjung-2. The study was conducted in the development area of hot pepper integrated crop management (ICM), Kawali Mukti Village, Kawali Sub-district, Ciamis District of West Java Province, from March to September 2007. This study was an on-farm research without using an experimental design or replication. Each variety was grown on the farm size of 2,500 m2. Results show that Hot Chili has higher plant height, wider canopy and higher yield than Tanjung-2 . However, Tanjung-2 showed more simultaneous fruit maturity, less number of harvests (10 times), and  had more attractive fruit color, especially for chili paste. This variety was also relatively tolerant to thrips (Thrips parvispinus), aphid (Myzus persicae), and white flies (Bemisia tabaci), but more susceptible to stem rot (Phytophthora capsici) and bacterial wilt (Ralstonia solanacearum). In terms of fruit quality, with similar fruit length and diameter, Tanjung-2, had a lighter weight (8.75 g) than Hot Chili (14.02 g) and also softer texture that may reduce fruit damage during transportation and be easier to process. Water content of Tanjung-2 was lower, hence it was thickened more easily if used for paste. Agronomically, the yield of Tanjung-2 was lower than Hot Chili. The use of Hot Chili, however, was more profitable than Tanjung-2, because it exhibited higher marginal rate of return (165.76 %). Yield was not the only factor affecting farmers in technology adoption. Two other factors that had important roles in influencing farmers in Kawali-Ciamis in adopting hot pepper technologies were working capital availability, and plant age (time needed from planting to harvesting).

Page 55 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue