cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Komposisi Formula Biobakterisida Berbahan Aktif Rizobakteri untuk Pengendalian Penyakit Busuk Lunak Pada Anggrek Phalaenopsis Hanudin Hanudin; Abdjad Asih Nawangsih; Budi Marwoto; Boedi Tjahjono
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n3.2013.p244-254

Abstract

Penyakit busuk lunak (PBL) yang disebabkan oleh Pectobacterium carotovorum subsp. carotovorum atau Pseudomonas viridiflava merupakan kendala utama dalam budidaya anggrek. Serangan patogen tersebut sangat merugikan petani, mengingat biaya investasi produksi anggrek tergolong tinggi. Oleh karena itu patogen tersebut harus dikendalikan menggunakan metode pengendalian yang ramah lingkungan, yaitu dengan mengaplikasikan biobakterisida berbahan aktif rizobakteri, seperti Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens. Tujuan penelitian ini ialah (1) mendapatkan komposisi bahan aktif dan bahan pembawa biobakterisida yang efektif mengendalikan penyakit busuk lunak pada anggrek Phalaenopsis, (2) mengetahui perubahan reaksi kimia formula biobakterisida dan pertumbuhan populasi bahan aktif (rizobakteri B. subtilis dan P. fluorescens) pada kondisi sebelum dan setelah difermentasikan, dan (3) mengetahui kompatibilitas antara B. subtilis, P. fluorescens, dan bahan pembawa biobakterisida. Percobaan dilaksanakan mulai Bulan Mei sampai dengan Desember 2009 di Laboratorium Bakteriologi Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, dan Laboratorium Bakteriologi serta Rumah Kaca, Balai Penelitian Tanaman Hias, di Segunung, Cianjur, Jawa Barat. Ruang lingkup penelitian meliputi pembuatan propagul rizobakteri sebagai bahan aktif biobakterisida, pembuatan formula biobakterisida, uji viabilitas bahan aktif, dan uji kemangkusan biobakterisida pada tanaman anggrek di rumah kaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perlakuan gabungan antara B. subtilis B12 dan P. fluorescens Pf10 yang difermentasikan dalam media ekstrak kotoran cacing (kascing) dan molase, merupakan perlakuan yang konsisten dapat menekan PBL pada anggrek Phalaenopsis dengan persentase penekanan sebesar 80%, (2) reaksi kimia formula biopestisida pada kondisi sebelum dan setelah fermentasi diindikasikan dengan perubahan pH basal medium yang sebelum fermentasi menunjukkan pH 3,75 dan berubah menjadi pH 3,50 setelah difermentasikan. Pertumbuhan populasi mikrob antagonis setelah fermentasi meningkat secara signifikan bila dibandingkan pada kondisi sebelum difermentasikan, dan (3) isolat bahan aktif (B. subtilis dan P. fluorescens) bersifat kompatibel dengan bahan pembawanya (ekstrak kascing dan molase).
Uji Laboratorium Azospirillum sp. yang Diisolasi dari Beberapa Ekosistem Widawati, S; Muharam, Agus
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n3.2012.p258-267

Abstract

ABSTRAK. Beberapa mikrob yang bersifat nonpatogenik dan nonsimbiotik yang efektif menambat nitrogen dari udara serta mampu melarutkan P terikat pada Ca, Al, dan Fe dalam tanah, dapat hidup dalam berbagai ekosistem di alam. Sebagian bakteri tersebut dapat diisolasi dari daerah perakaran tanaman hortikultura. Penelitian bertujuan mengetahui peran Azospirillum sp. yang potensial sebagai pendorong pertumbuhan tanaman pada ekosistem pantai dan kondisi lingkungan yang ekstrim. Pengujian terhadap isolat bakteri yang dikumpulkan dari berbagai kondisi ekosistem dilaksanakan di Laboratorium Ekofisiologi, Pusat Penelitian Biologi, LIPI, Bogor dari Bulan Januari sampai dengan Desember 2011. Sebanyak 34 isolat Azospirillum sp. diuji dengan berbagai metode, yaitu (1) uji kualitatif kemampuan isolat Azospirillum sp.  dalam menambat (fiksasi) nitrogen dan kemampuan hidup pada media Okon padat yang mengandung NaCl, (2) uji kualitatif kemampuan isolat Azospirillum sp. dalam melarutkan P terikat pada  Ca3(PO4)2 dalam media  Pikovskaya padat dan indeks efisiensi pelarutan fosfat,  (3) uji kualitatif kemampuan isolat Azospirillum sp. dalam melarutkan P terikat pada media  Pikovskaya cair  dan aktivitas enzim PME-ase asam dan basa, serta kondisi pH selama inkubasi 7 hari pada kultur murni (pH asal= 7), dan (4) analisis kemampuan Azospirillum sp. dalam memproduksi indole acetic acid (IAA).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) semua isolat bakteri yang diuji mampu menambat nitrogen dalam media Okon padat,  (2) isolat B2, B4, B6, B12,  B14, PS2, dan FR13 mampu melarutkan P dari Ca3(PO4)2 dalam medium Pikovskaya padat dengan masing-masing indeks efisiensi pelarutan sebesar  120, 160, 140, 100, 110, 120, dan 100,  (3) isolat B1, B2, B3, B4, B6, B14, B17, PS1, PS2, PS3, FR1, FR5, FR7, FR8, FR10, FR12, dan FR13 mampu tumbuh dalam medium Okon dengan kandungan NaCl sebesar 0, 2, 4, atau 6%, (4)  konsentrasi tertinggi P terlarut dihasilkan oleh isolat B4 (5,80 mg/l), B6 (5,84 mg/l), dan PS2 (5,45 mg/l) dengan PME-ase sebesar 0,58 u m/l, 0,58 u m/l, 0,57 u m/l (asam), 0,52 mg/l, 0,50 mg/l, 0,48 mg/l (basa), dan dengan  pH : 4,20, 4,30, dan 4,22,  dan (5) isolat B4 dan B6 yang diisolasi dari pertanaman padi di pantai Rambut Siwi, Bali, mampu memproduksi IAA tertinggi, yaitu masing-masing sebesar 0,6749 dan 0,4694 ppm pada hari pertama setelah perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian ini terbukti bahwa isolat Azospirillum sp. berpotensi sebagai plant growth promoter  untuk ekosistem di daerah pesisir atau pantai. Bakteri tersebut sangat penting untuk pengkayaan nutrisi pada lahan di daerah dataran rendah atau pantai dalam rangka pengembangan tanaman termasuk komoditas hortikultura.ABSTRACT. Widawati, S and Muharam, A 2012. The Laboratory  Test of  Azospirillum sp. Isolated  from Several  Ecosystems. Microbes that are nonpathogenic  and nonsymbiotic bacteria which are effectively fixed up nitrogen from air, and are able to dissolve phosphated bounded on Ca, Al, and Fe in soil, are able to growth in different ecosystems in nature. Some of the bacterial species can be isolated from rizosphere of horticultural crops. The research was aimed to determine the potential role of Azospirillum sp.  as a plant growth promoter in coastal ecosystem and extremely environmental conditions. The laboratory test of Azospirillum sp. isolated from several ecosystems was carried out in the Ecophysiology Laboratory, Research Center for Biology, Indonesian Institute of Sciences, Bogor from January until December 2011. Thirty-four isolates of Azospirillum sp. (B1 to B17;PS1 to PS3; FR1 to FR 14) were investigated with some methods i.e. (1) the qualitative test of the capability of Azospirillum sp. to fix up nitrogen in solid Okon medium containing NaCl, (2) the qualitative test of the capability of Azospirillum sp. in dissolving bounded P in solid Pikovskaya medium and phosphate dissolution efficiency index,  (3) the qualitative test of the capability of Azospirillum sp. in dissolving bounded P in liquid Pikovskaya medium and the activity of acid and base PME-ase, and pH condition after 7 days incubation in pure media, and (4) analysis of the capability of Azospirillum sp. in producing indole acetic acid (IAA).  The results pointed out that : (1) all tested isolates of Azospirillum sp. were  capable to fix up nitrogen in solid Okon medium, (2) isolates of B2, B4, B6, B12,  B14, PS2, and FR13 were capable to solubilize P on Ca3(PO4)2 in solid Pikovskaya medium with its efficiency of  120, 160, 140, 100, 110, 120, and 100, respectively, (3) isolates of B1, B2, B3, B4, B6, B14, B17, PS1, PS2, PS3, FR1, FR5, FR7, FR8, FR10, FR12, and FR13 were able to grow in Okon medium with 0, 2, 4, or 6% of NaCl doses, (4) the highest concentrations of solubilized P was resulted by isolates B4 (5.80 mg/l), B6 (5.84 mg/l), and PS2 (5.45 mg/l) with PME-ase i.e. 0.58 u m/l, 0.58 u m/l, 0.57 u m/l (acid), 0.52 mg/l, 0.50 mg/l, 0.48 mg/l (base), and with pH : 4.20, 4.30, and 4.22, and (5) isolates of B4 and B6 isolated from rice field at Rambut Siwi beach, Bali, were capable to produce highest IAA hormone i.e. 0.6749 and 0.4694 ppm respectively  on the first day after the treatment. Based on the result of this experiment it can be concluded that Azospirillum sp. is a potential plant growth promoting Rhizobacteria for coastal ecosystem. The bacterial species is very important to enrich coastal areas for crop cultivation, including horticulture.
Teknologi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Budidaya Kentang Toleran Suhu Tinggi Laksminiwati Prabaningrum; Tonny Koestoni Moekasan; Juniarti P Sahat
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p44-53

Abstract

Pengembangan kentang di dataran medium dihadapkan pada kendala serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Oleh karena itu diperlukan teknologi pengendalian untuk mengatasinya. Tujuan penelitian adalah untuk merakit teknologi pengendalian OPT yang dikombinasikan dengan penggunaan klon toleran suhu tinggi. Penelitian dilaksanakan di Desa Cibulakan (600 m dpl.), Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dari bulan Juni sampai Oktober 2012. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Macam perlakuan yang diuji adalah (A) teknologi pengendalian OPT (a1= rakitan teknologi PHT dan a2= rakitan teknologi konvensional) dan (B) klon/varietas kentang ( b1= MB 17, b2= CIP 394614.117, b3= CIP 392781.1, dan b4= Granola). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rakitan teknologi PHT mampu menekan serangan trips, tungau, kutudaun, kutukebul, dan ulat grayak hingga di bawah ambang pengendalian, kecuali penyakit layu bakteri. Dengan penerapan rakitan teknologi PHT penggunaan pestisida dapat ditekan sebesar 97–100%. Klon CIP 392781.1 lebih toleran terhadap penyakit layu bakteri dan hasil panennya lebih tinggi dibandingkan dengan klon CIP 394614.117. Selain itu kandungan bahan kering CIP 392781.1 cukup tinggi sebesar 18,22%. Klon CIP 392781.1 mempunyai harapan untuk dikembangkan lebih lanjut dengan dukungan teknologi pengendalian penyakit layu bakteri dan teknologi untuk menurunkan suhu tanah agar hasilnya optimum.
Pengaruh Densitas Awal Kalus dalam Perbanyakan Melalui Embriogenesis Somatik terhadap Daya Multiplikasi dan Stabilitas Genetik Planlet Siam Kintamani Nirmala Friyanti Devy; F Yulianti; Hardiyanto Hardiyanto
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n4.2012.p309-315

Abstract

Optimasi metode pada setiap tahapan perbanyakan melalui embriogenesis somatik perlu dilakukan, mencakup aspek eksplan, media, dan lingkungan tumbuh.  Tujuan penelitian ialah mengetahui pengaruh kepadatan awal (initial density) kalus dalam kultur embriogenesis somatik terhadap laju multiplikasi dan stabilitas genetik planlet yang dihasilkan dari perbanyakan dengan metode SE pada tanaman siam Kintamani. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium SE, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) mulai Bulan Maret 2009 sampai dengan Februari 2011. Penelitian terdiri atas dua tahap, yaitu (1) perlakuan densitas awal dan (2) analisis stabilitas genetik planlet yang dihasilkan dari perbanyakan SE  siam Kintamani. Kegiatan I terdiri atas lima perlakuan densitas kalus (ID100–ID300), yaitu  100, 150, 200, 250, dan 300 mg yang dikulturkan pada 25 ml media cair MS + 500 mg/l malt ekstrak (ME) + 1,5 mg/l BA, yang disusun dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan, tiap ulangan terdiri atas lima erlenmeyer, sedangkan pada penelitian analisis stabilitas genetik, sampel yang digunakan ialah tanaman hasil perbanyakan SE pada stadia planlet hasil subkultur 1–6. Planlet tersebut diuji keragamannya dengan teknik PCR menggunakan penanda intersimple sequence repeat (ISSR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, jaringan nuselus yang digunakan sebagai eksplan dapat tumbuh dengan memuaskan pada 12–45 hari setelah kultur pada media inisiasi kalus.  Pertambahan berat basah kalus pada setiap subkultur sangat beragam.  Pertambahan berat basah tertinggi terjadi pada ID100 subkultur ke-5, sedangkan pertambahan berat secara total tertinggi ditemukan pada perlakuan ID200. Tanaman hasil perbanyakan SE pada stadia planlet secara genetik seragam dengan induknya. Namun pengujian stabilitas genetik pada tanaman hasil SE masih harus terus dilakukan seiring dengan semakin lama tanaman dipelihara di dalam kultur, mengingat frekuensi mutasi dapat meningkat seiring dengan semakin lamanya periode kultur. Implikasi hasil penelitian ini ialah proses multiplikasi kalus dan induksi embriogenesis somatik berlangsung optimal dan tidak mengakibatkan off-type pada tanaman yang dihasilkan
Inventarisasi dan Identifikasi Patogen Tular-tanah pada Pertanaman Kentang di Kabupaten Purbalingga Lukassus Soesanto; E Mugiastuti; R F Rahayuniati
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n3.2011.p254-264

Abstract

atogen tular-tanah di lahan kentang merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap pertumbuhan, produksi, dan kualitas hasil tanaman. Inventarisasi dan identifikasi patogen tular-tanah di lahan kentang dengan metode purposive sampling telah dilakukan di Kabupaten Purbalingga, yang meliputi Dusun Gunung Malang di Desa Serang dan Dusun Bambangan dan Kutabawa di Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja dari bulan November 2008 sampai Januari 2009. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis dan virulensi patogen tular-tanah di lahan kentang di lokasi tersebut. Isolasi dan uji virulensi dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Peubah yang diamati yaitu karakter morfologi mikrobe patogen, kepadatan di dalam tanah, dan reaksi hipersensitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh spesies patogen ditemukan di lahan kentang, yaitu Fusarium oxysporum, F. solani, Ralstonia solanacearum, Curvularia sp., Phytophthora infestans, Helminthosporium purpureum, dan Pseudomonas kelompok berpendar. Populasi mikrobe di lahan kentang yang paling dominan ialah R. solanacearum, yaitu 71,6%, disusul oleh F. oxysporum sebesar 16,87%. Sebaran mikrobe di masing-masing lahan kentang berbeda. Semua lahan kentang di Kabupaten Purbalingga sudah terkontaminasi patogen tular-tanah penting sehingga perlu disehatkan kembali secara hayati.Soilborne plant pathogens in potato land are one of important factors influencing plant growth, production and yield quality. Inventarization and identification of soilborne diseases using purposive sampling method  were conducted at potato land in Purbalingga Regency consisted of Guning Malang location at Serang Village and Bambangan and Kutabawa locations at Kutabawa Village, Karangreja District from November 2008 to January 2009.  The study aimed to determine type and virulence of soilborne pathogens at the locations.  Isolation and virulence test were carried out at the Laboratory of Microbiology, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. Variable observed in the research was morphological characteristics of pathogenic microbes, their density in soils, and response of hypersensitive test. Result of the research showed that seven pathogenic species were found at the land, i.e., Fusarium oxysporum, F. solani, Ralstonia solanacearum, Curvularia sp., Phytophthora infestans, Helminthosporium purpureum, and fluorescent Pseudomonad. The dominant microbe population in potato land was R. solanacearum with 71.6% followed by F. oxysporum with 16.87%. The microbes were spread differently in every potato land. All potato lands in Purbalingga Regency have been contaminated by the important potato pathogens so that soil bioremediation is needed.
Pengaruh Ketinggian Tempat Terhadap Pembungaan, Produksi, dan Mutu Benih Botani Bawang Merah Yusdar Hilman; Rini Rosliani; Endah Retno Palupi
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p154-161

Abstract

Kendala produksi benih bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) asal biji atau TSS di dataran rendah adalah rendahnya persentase pembungaan dan pembentukan biji (seed-set).Untuk meningkatkan pembentukan biji, bawang merah memerlukan suhu 17–19oC. Di Indonesia, suhu udara tersebut hanya terdapat di dataran tinggi>1.000 m dpl.. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang (1.250 m dpl.) dan di Kebun Percobaan Paseh Subang (100 m dpl.) yang sekaligus merupakan perlakuan percobaan. Penelitian dimulai dari bulan Agustus 2011 sampai Agustus 2012. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari pembungaan, viabilitas serbuk sari, produksi, dan mutu benih TSS di dataran tinggi dan dataran rendah. Pengujian viabilitas serbuk sari serta mutu benih dilakukan di Laboratorium Benih Balitsa Lembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pembungaan dan produksi biji di dataran tinggi lebih besar daripada di dataran rendah, sebaliknya mutu benih yang dihasilkan di dataran rendah lebih baik daripada di dataran tinggi. Implikasi penelitian ini adalah dataran tinggi sangat potensial untuk pengembangan produksi biji bawang merah, di mana biji bawang merah dapat menghasilkan umbi bibit yang jauh lebih baik daripada umbi bibit yang beredar di pasar.
Pendugaan Umur Simpan Kentang Tumbuk Instan Berdasarkan Kurva Isotermi Sorpsi Air dan Stabilitasnya Selama Penyimpanan Histifarina, Dian
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n2.2004.p113-120

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar air kritis berdasarkan kurva sorpsi isotermi dan mengkaji stabilitasproduk kentang tumbuk instan selama penyimpanan, serta menduga umur simpannya. Penelitian dilaksanakan diLaboratorium Rekayasa Proses Pangan dan Pi lot Plan Pusat Studi Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor dariFebruari – Sep tem ber 2002. Bahan yang digunakan adalah kentang varietas atlantik. Penelitian terdiri dari dua tahap,yaitu kadar air kesetimbangan dan pendugaan umur simpan kentang tumbuk instan. Penelitian tahap pertama adalahpenentuan kadar air kesetimbangan kentang tumbuk instan secara absorbsi menggunakan 21 jenis larutan garamjenuh. Penelitian tahap kedua meliputi perlakuan kemasan PET 12/Aluvo 7/LLDPE 40, PET 12/LLDPE 25, danHDPE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan PET 12/Aluvo 7/LLDPE 40 memberikan umur simpan pal -ing lama (209 hari) berdasarkan perubahan kadar air maupun nilai asam barbiturat, dengan nilai kadar air 10,43% bkdan nilai asam thiobarbiturat 1,072 mg/kg untuk sampel pada 8 minggu penyimpanan.AB STRACT. Histifarina, D. 2004. Pre dict ing the self life of mashed po tato in stant based on sorp tion iso thermscurve and its sta bil ity dur ing stor age. The ob jec tive of this re search was to know the crit i cal mois ture con tent basedon sorp tion iso therms curve and to study of mashed po tato in stant sta bil ity dur ing stor age and its selflife pre dic tion.The ex per i ment was con ducted at Lab o ra tory Rekayasa Food Pro cess and Pi lot Plan PSPG IPB from Feb ru ary un tilSep tem ber 2002. At lan tic va ri ety was used on these ex per i ment. The ex per i ment con sists of two steps i.e mois turecon tent equi lib rium of mashed po tato in stant and pre dict ing the selflife of pack aged mashed po tato in stant. The firststage was found out mois ture equi lib rium by ab sorp tion method us ing 21 kinds of salt sat u rated so lu tion. The sec ondex per i ment was com par ing of three type of pack ages those were PET 12/Aluvo 7/LLDPE 40, PET 12/LLDPE 25, andHDPE. The re sult showed that the pack age of PET 12/Aluvo 7/LLDPE 40 gives the lon ger selflife (209 days) based onchange of mois ture con tent and thiobarbiturat acid value with mois ture con tent value was 10.435% db andthiobarbiturat acid value was 1.072 mg/kg sam ple dur ing 8 weeks of stor age.
Karakter Fisiologis dan Kemangkusan Rizobakteri Indigenus Sulawesi Tenggara sebagai Pemacu Pertumbuhan Tanaman Cabai Sutariati, GAK
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n1.2012.p57-64

Abstract

Sejumlah besar mikroorganisme yang terdapat pada rizosfer tanaman diketahui berperan penting dalam pertanianberkelanjutan karena potensinya sebagai agens pengendali hayati dan pemacu pertumbuhan tanaman. Percobaan bertujuanmengevaluasi kemampuan isolat rizobakteri indigenus Sulawesi Tenggara yang dieksplorasi dari Kabupaten Konawe, Konawe Selatan,Kendari, Muna, dan Buton dalam memproduksi hormon tumbuh indole acetic acid (IAA) dan melarutkan fosfat. Evaluasi jugadilakukan untuk mengetahui kemangkusan isolat rizobakteri sebagai pemacu pertumbuhan tanaman cabai. Penelitian dilaksanakandi Laboratorium Agronomi dan Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Haluoleo Kendari, Sulawesi Tanggara, daribulan April sampai dengan Oktober 2009. Hasil percobaan menunjukkan bahwa isolat rizobakteri yang diuji memiliki kemampuanyang berbeda dalam mensintesis IAA . Rizobakteri dari kelompok Bacillus spp. memiliki kemampuan menghasilkan IAA dengankonsentrasi lebih tinggi (5,32–146,97 μg/ml) dibandingkan dengan Pseudomas fluorescens C179, (0,78 μg/ml), sementara Serratiasp. C175 tidak dapat mensintesis IAA. Di lain pihak, semua isolat rizobakteri yang diuji mampu melarutkan fosfat. Sementara itu,hasil pengaruh perlakuan benih dengan rizobakteri menunjukkan bahwa dari 10 isolat yang diuji, hanya isolat Bacillus spp. C061, P.fluorescens C179, dan Serratia sp.C175 yang konsisten memberikan efek yang lebih baik terhadap viabilitas benih dan pertumbuhanbibit cabai dibandingkan dengan kontrol dan isolat uji lainnya. Oleh karena itu isolat Bacillus spp. C061, P. fluorescens C179, danSerratia sp. C175 dapat direkomendasikan sebagai agens pemacu pertumbuhan cabai.ABSTRACTA vast number of microorganisms presentin rhizosphere have been considered as important in sustainable agriculture because of their biocontrol potential and ability topromote plant growth. The experiment was conducted at Agronomy Laboratory and Experimental Garden of Agriculture Faculty;Haluoleo University, Kendari, Southeast Sulawesi, from April till October 2009. The objective of this experiment was to evaluatethe ability of Southeast Sulawesi indigenous rhizobacteria isolates explorated and isolated from Konawe, South Konawe, Kendari,Muna, and Buton Regencies, to produce indole acetic acid (IAA), and solubilize phosphate. The experiments was also conductedto evaluate the effectiveness of those isolates as plant growth promoting rhizobacteria of hot pepper seedlings. Results of theexperiment showed that the rhizobacteria isolates had different ability to produce IAA. Rhizobacteria from Bacillus spp. producedhigh concentrations (5.32–146.97 μg/ml) of IAA. Pseudomonas fluorescens C179 produced IAA 0.78 μg/ml, while Serratia sp. C175did not produced IAA. On the other hand, all of isolates tested were able to be a solubilize phosphate. Meanwhile, results of theeffect of rhizobacterium-seed treatment showed that of 10 isolates tested, only isolates of Bacillus spp. C061, P. fluorescens C179,and Serratia sp. C175 who consistently provide a better effect on seed viability and seedling growth of hot peppers compared withcontrol and other isolates. Therefore Bacillus spp. C061, P. fluorescens C179, and Serratia sp. C175 isolates can be recommendedas promoting agents of hot peppers. 
Lalat Pengorok Daun Liriomyza sativae Blanchard Hama Baru pada Beberapa Sayuran Dataran Rendah - Susilawati
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n4.2004.p279-286

Abstract

Lalat pengorok daun Liriomyza sativae Blanchard merupakan hama baru yang pada tahun 1996 ditemukan menyerangberbagai jenis sayuran dataran rendah di Karawang. Di dataran rendah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah,survai terhadap hama ini dilaksanakan di tujuh lokasi dari bulan Januari hingga Juli 2002. Tujuan dari kegiatan iniadalah untuk mengetahui keberadaan/sebaran lalat pengorok daun L. sativae dan tingkat kerusakan yang disebabkanhama tersebut pada berbagai sayuran dataran rendah. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa lalat pengorok dauntelah menyerang berbagai tanaman sayuran dataran rendah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Tingkatkerusakan yang ditimbulkannya bervariasi menurut jenis sayuran dan waktu pertanaman. Pada bulan Januari danMaret atau musim hujan, tigkat serangannya mencapai 10-45% dan pada bulan Mei atau awal musim kemarau, tingkatserangan hama sebesar 70%. Tanaman buncis di daerah Indra Sari dan Bincau pada musim kemarau adalah yangpaling parah terserang dengan kerusakan 70% dan untuk kacangpanjang di Kalampangan kerusakannya mencapai60%.Kata kunci : Liriomyza sativae; Dataran rendah; Tingkat kerusakan.AB STRACT. Susilawati. 2004. Leafminer Liriomyza sativae Blanchard a new pest on sev eral low landvegatables. Leafminer Liriomyza sativae Blanchard was a new pest that at tacked veg e ta ble crops in low landKarawang on 1996. Sur vey to this pest in low land of South and Cen tral Kalimantan were con ducted in seven lo ca tionsdur ing Jan u ary-July 2002. The ob jec tives of this ac tiv ity were to de ter mine the ex is tence of the in sect and to know thelevel of its dam ages. Re sults in di cated that leafminer L. sativae at tacked al most all veg e ta bles in South and Cen tralKalimantan. Level of dam ages was var ied ac cord ing to kind of veg e ta bles and time of planted. On Jan u ary and Marchor of rainy sea son, the level of dam ages reached 10-45% while on May or of be gin ning dry sea son, the dam ages leveldue to the this pest was 70%. Frenchbean planted at Indra Sari and Bincau was most se verely at tacked up to 70% dam -ages while for yardlongbean at Kalampangan was at tacked by such pest at 60% dam ages.
Bioefikasi Klon-Klon Kentang Transgenik RB Hasil Silangan terhadap Penyakit Hawar Daun Phytophthora infestans dan 2) Karakter Agronomi di Lapangan Uji Terbatas Alberta Dinar Ambarwati; Tri Handayani; Eri Sofiari
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n4.2015.p340-349

Abstract

Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans menyerang lebih dari 50% dari luas area pertanaman kentang di Indonesia dan dapat menyebabkan kehilangan hasil 10–90%. Perakitan tanaman kentang tahan terhadap penyakit hawar daun P. infestans  melalui penyisipan gen RB kemudian disilangkan dengan varietas kentang komersial Atlantic dan Granola telah menghasilkan beberapa klon yang mengandung gen RB. Pengujian di lapangan uji terbatas (LUT) telah dilakukan untuk melihat ekspresi gen RB pada klon-klon turunannya terhadap P. infestans. Selain ekspresi ketahanan terhadap P. infestans,  diamati pula karakter agronominya terutama hasil umbi. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan bioefikasi gen RB pada klon-klon kentang transgenik hasil silangan Atlantic atau Granola dengan transgenik Katahdin SP951 terhadap P. infestans, serta mengamati  karakter agronomi. Penelitian dilakukan di Banjarnegara, Jawa Tengah pada ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut dari bulan Desember 2013 sampai dengan April 2014. Klon-klon yang diuji terdiri atas empat klon silangan Atlantic x transgenik Katahdin SP951, yaitu klon B35, B163, AKRb 134, dan AKRb 354 serta enam klon silangan Granola dengan transgenik Katahdin SP951, yaitu klon D12, D48, D38, D37, GKRb 181, dan GKRb 401. Atlantic dan Granola digunakan sebagai tetua rentan, sedangkan tetua tahan adalah transgenik Katahdin SP951. Percobaan menggunakan dua perlakuan penyemprotan fungisida, yaitu 2 dan 10 kali. Berdasarkan skor ketahanan dan nilai AUDPC, klon-klon kentang transgenik hasil silangan menunjukkan lebih tahan terhadap P. infestans dibandingkan Atlantic atau Granola, dan tidak berbeda nyata ketahanannya dengan transgenik Katahdin SP951, meskipun dengan penyemprotan fungisida secara minimal, 2 dan 10 kali. Pengamatan tinggi tanaman pada 53 hari setelah tanam (HST) menunjukkan tidak ada beda nyata antara klon-klon kentang transgenik hasil silangan dengan tetua-tetuanya atau masih berada dalam kisaran tinggi tanaman kedua tetuanya. Jumlah batang utama klon-klon kentang transgenik hasil silangan adalah 3,3 – 4,6 berbeda nyata dibandingkan Atlantic atau Granola dengan jumlah batang berkisar 2,6 – 2,9. Diameter batang berkisar antara 0,87 – 0,93 cmtidak berbeda nyata dibandingkan Atlantic, Granola atau transgenik Katahdin SP951. Klon-klon kentang transgenik hasil silangan  menghasilkan berat umbi per plot berkisar 3.210 – 4.489 g dengan dua kali penyemprotan fungisida, sedangkan Atlantic, Granola, dan transgenik Katahdin SP951, masing-masing 1.355 g, 467 g, dan 3.544 g. Pada perlakuan 10 kali penyemprotan fungisida, hasil umbi per plot paling tinggi diperoleh untuk klon AKRb354 (8.401 g) diikuti B35 (6.557 g), B163 (5.333 g), dan AKRb134 (4.666 g), sedangkan Atlantic dan transgenik Katahdin SP951, masing-masing 3.297 dan 6.808 g. Klon D48 dan D37 mempunyai berat umbi per plot sebesar 7.577 g dan 6.653 g, berbeda nyata dengan Granola (2.230 g).

Page 54 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue