cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Tingkat Efisiensi Usahatani Bunga Potong Mawar dalam Pengembangan Agribisnis di Indonesia H Supriadi; - Nurmalinda; H Ridwan
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n3.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian efisiensi usahatani bunga potong mawar telah dilakukan di Kecamatan Parompong (Lembang) dan Kecamatan Cipanas (Cianjur) Jawa Barat dari bulan Juli-Desember 2003. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi potensi dan kelemahan dari sistem budidaya bunga potong mawar dengan dan tanpa naungan dan mencari alternatif perbaikan yang dapat meningkatkan efisiensi dan pendapatan petani. Data primer diperoleh melalui wawancara terstruktur dengan petani dan pedagang. Analisis data kualitatif dilakukan secara deskriptif, sedangkan analisis biaya dan pendapatan dilakukan dengan metode analisis finansial statik. Analisis kekuatan dan kelemahan dari sistem usahatani yang ada menghasilkan alternatif pengembangan usahatani bunga potong mawar. Permasalahan utama usahatani bunga potong mawar adalah kurang efisiennya penggunaan pestisida, tenaga kerja intensif, dan biaya pemasaran tinggi. Produktivitas bunga potong mawar di tingkat petani hanya berkisar (2-10) tangkai/m2, sedangkan potensinya dapat 18 tangkai/m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani bunga potong mawar cukup menguntungkan dengan rerata pendapatan bersih petani dengan sistem naungan sebesar Rp. 125 juta/ha, sedangkan tanpa naungan menghasilkan Rp. 109 juta/ha. Kenyataan menunjukkan bahwa kedua tingkat efisiensi usahatani kedua sistem budidaya relatif masih rendah, yaitu B/C = 0,90 (sistem naungan) dan B/C = 0,91 (sistem tanpa naungan). Kesimpulan menunjukkan bahwa pada usahatani dengan dan tanpa sistem naungan, efisiensi perlu ditingkatkan terutama untuk menekan biaya penggunaan pestisida, tenaga kerja, irigasi, dan biaya pemasaran. Pada sistem naungan, biaya konstruksi naungan dan kebergantungan bibit impor juga perlu diperhatikan. Secara umum dapat dikatakan bahwa usahatani bunga potong mawar yang efisien dan menguntungkan memenuhi kriteria produksi dan frekuensi panen tinggi, produk berkualitas dengan nilai tinggi sesuai permintaan pasar, banyak alternatif varietas, biaya produksi rendah, dan serangan hama/penyakit rendah.ABSTRACT. Supriadi, H., Nurmalinda, and H. Ridwan. 2008. Efficiency Rate of Rose Farming System in Indonesian Floriculture Agribusiness Development. The research on rose farming system efficiency was conducted in the region of Parompong (Lembang) and the region of Cipanas (Cianjur) West Java, from July to December 2003. The purpose of this research was to evaluate the strengths and weakness both of shading and unshading system of rose cut flower cultivation and to find out the alternative farming system for improving the production efficiency and farmer’s income. Primary data were collected by structural interviews with the farmers and traders. Qualitative data analysis was conducted descriptively, while cost and income analysis was done using static financial method. The strengths and weakness analysis of existing farming system would give the opportunity in improving the farming system.The main problems of rose cut flower agribusiness were unefficiency of pesticides application, labour intensif, and high cost of marketing. The productivity of rose cut flowers on farm level was (2-10) stem/m2, while potential productivity was up to 18 stem/m2. The average net income of farmers by shading system was Rp. 125 million/ha and without shading was Rp. 109 million/ha, with B/C of ratio of 0.90 (shading system) and 0.91 (without shading system). The conclusion showed that both of with and without shading systems, improvement of efficiency was needed especially on pesticides application, labour used, and marketing cost. Especially for shading system, efficiency also needed to minimize the cost of shading construction and import seedling. Generally, the rose farming system would be profitable and efficient with the criteria of high productivity, high quality, and frequent harvest of flower, market oriented, many alternative of varieties, low production cost, and low pest and diseases investation.
Perkembangan dan Kemampuan Reproduksi Tungau Panonychus citri McGregor (Acarina:Tetranychidae) yang Resisten dan Peka terhadap Akarisida M Istianto
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n2.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Panonychus citri adalah salah satu hama penting tanaman jeruk. Perbedaan sifat kepekaan tungau ini terhadap pestisida diduga menyebabkan perubahan karakter tungau ini. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan perkembangan dan kemampuan reproduksi tungau P. citri yang resisten dan peka terhadap akarisida pada saat tanpa dan dengan perlakuan minyak atsiri jeruk. Populasi tungau diambil dari kebun jeruk Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung, Batu, Malang dan kebun jeruk Kusuma Agrowisata Batu, Malang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2003-Februari 2004 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung. Tingkat kepekaan tungau P. citri terhadap akarisida dianalisis dengan analisis probit. Untuk mengetahui perbedaan perkembangan dan kemampuan reproduksi dan pengaruh minyak atsiri terhadap tu-ngau P. citri asal kedua kebun tersebut dilakukan menggunakan analisis uji-T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk dapat membunuh 50-95% populasi P. citri asal Kusuma Agrowisata diperlukan konsentrasi propargite dan amitraze yang lebih tinggi dibanding P. citri asal Tlekung. Perkembangan dan kemampuan reproduksi tungau P. citri dari kedua lokasi tersebut tidak menunjukkan perbedaan nyata ketika tidak diperlakukan dengan minyak atsiri jeruk. Pada perlakuan minyak atsiri jeruk, tungau P. citri asal Kusuma Agrowisata relatif lebih toleran dibanding tungau asal Tlekung. Tungau asal Kusuma Agrowisata menghasilkan jumlah telur dan larva yang lebih banyak dibanding tungau asal Tlekung. Fakta ini menunjukkan bahwa resistensi hama sangat merugikan, karena selain hama tidak dapat dikendalikan dengan bahan kimia, sistem kekebalan yang dimiliki tanaman melalui metabolit sekunder juga menjadi tidak efektif. Oleh sebab itu aplikasi pestisida harus dilakukan hati-hati agar resistensi hama dapat dicegah.ABSTRACT. Istianto, M. 2007. The Development and Reproductive Capacity of Panonychus citri McGregor (Acarina:Tetranychidae) that is Resistance and Susceptible to Acaricides. Panonychus citri mite is one of the most economically important citrus pests in Indonesia. The different status of mite susceptibility to acaricides is suspected causing the characters of P. citri change. The objectives of this research were to understand the differences of development and reproductive capacity of P. citri that was resistance and susceptible to acaricides with or without citrus essential oil treatment. Samples of P. citri were collected from citrus orchards of Kusuma Agrowisata and Indonesian Citrus and Subtropic Fruit Research Institute, Tlekung. The studies were conducted from October 2003 to February 2004 in Indonesian Citrus and Subtropic Fruit Research Institute,Tlekung, Batu, Malang and Gadjah Mada University, Yogyakarta. The susceptibility level of P. citri populations to acaricides were analysed by probit analyses while development and reproductive capacity due to citrus essential oil application were analysed by T-test. The results showed that higher concentration of propargite and amitraze acaricides were needed to kill 50-95% of P. citri population from Kusuma Agrowisata than those from Tlekung. The development and reproductive capacity of P. citri from both locations were not significantly different in the condition without citrus essential oil treatment. Citrus essential oil treatment indicated that P. citri population collected from Kusuma Agrowisata was more tolerant than from Tlekung. The number of eggs laid and larva of P. citri from Kusuma Agrowisata were higher than those from Tlekung. This facts indicated that resistance insidence could cause more disadvantage effects. Resistance of miles to pesticides also caused secondary metabolites as resistance agent of plant to pests not effective. Pesticides must be applicated at exact time, target, and concentration to avoid extended disadvantages
Pengaruh Jenis Kemasan dan Daya Simpan Umbi Bibit Bawang Merah terhadap Pertumbuhan dan Hasil di Lapangan Raden Prasodjo Soedomo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n3.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Dalam pengiriman umbi bibit bawang merah ke suatu daerah, seringkali mengalami kendala di dalam sistem kemasan, sehingga ketika bibit sampai ke lokasi, umbi bibit banyak yang rusak sebelum ditanam, karena serangan penyakit. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis bahan pengemas yang terbaik guna memperpanjang daya simpan umbi bibit bawang merah dan dampaknya terhadap pertumbuhan dan hasil di lapangan. Percobaan dilakukan di Laboratorium Benih dan uji pertumbuhan di lapangan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl), pada bulan Oktober 2004–Februari 2005. Penelitian di lapangan selanjutnya untuk observasi terhadap penampilan umbi bibit. Menggunakan rancangan acak lengkap untuk penelitian di penyimpanan dan rancangan acak kelompok untuk uji lapangan, dengan model rancangan petak terpisah, terdiri atas 4 ulangan dan 7 perlakuan, yaitu (1) kantong plastik + batu kapur (CaCO3), (2) kantong plastik + batu kapur (CaCO3) + O2, (3) kantong plastik + Aquastore, (4) kantong plastik + Aquastore + O2, (5) rajut plastik, 6) kantong kertas semen + batu kapur (Ca CO3), dan (7) kantong kertas semen + Aquastore. Hasil menunjukkan bahwa jenis pengemas jaring plastik adalah yang terbaik dengan kerusakan 12%, daya simpan mencapai 45 hari, persentase yang tumbuh di lapangan 96,0%, jumlah anakan 8,20 dan tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, dan 56 hst masing-masing adalah 12,70, 22,2, 27,50, dan 33,10 cm. Bobot umbi per rumpun basah dan kering masing-masing 120,5 dan 84,83 g. Pengemas dalam kondisi tertutup yang dapat dipergunakan adalah kertas semen, baik menggunakan bahan penyerap batu kapur maupun Aquastore dengan nilai kerusakan di penyimpanan masing-masing adalah 13,0 dan 15,5%, daya simpan masing-masing 52,0 hari, daya serap kelembaban mencapai 42,28 dan 516,0%. Persentase yang tumbuh di lapangan 96,6 dan 98,4%, jumlah anakan 7,95 dan 8,10, tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, dan 56 hst masing masing adalah 12,90, 19,20, 24,40, dan 30,71 cm (penyerap kapur) serta 12,80, 19,30, 24,50, dan 30,66 cm (penyerap Aquastore). Bobot hasil per rumpun basah dan kering 115,0 dan 82,10 g (penyerap kapur) dan 111,0 dan 80,50 g (penyerap Aquastore).ABSTRACT. Soedomo, R.P. 2006. The effect of the packing material on storage life of shallot seedbulbs and its impact to the growth and yield in the field. In the transportation of shallot seedbulb often encounter a lot of damages due to diseases attacked caused by unproper packing material. The objectives of the study were to find out the best packing material to lengthen of keeping quality of shallot seedbulbs and its impact to the growth and yield in the field. The study were conducted at the laboratory and in the field of Indonesian Vegetables Research Institute at Lembang (1,250 m asl) on October 2004 to February 2005. The subsequent planting was done in the research field of the institute to observe the performance of the seedbulbs. The experimental design was CRD for the storage study and RCBD for the field study, with a split plot design. There were 7 treatments with 4 replications. The treatments were (1) polyethylene wrap + CaCO3, (2) polyethylene wrap + CaCO3 + O2, (3) polyethylene wrap + Aquastore, (4) polyethylene wrap + Aquastore + O2, (5) polyethylene plastic net, (6) cement paper bag + CaCO3, and (7) cement paper bag + Aquastore. The results showed that plastic net packing material was the best with seed damages only 12%, stored for 45 days, with growing capacity in field was 96.0%, the plant height at 14, 28, 42, and 56 days after planting (dap) were 12.70 cm; 22.20 cm; 27.50 cm; and 33.10 cm respectively and the number of bulblet was 8.20. The wet-weight and dry-weight of the bulb were 120.5 and 84.83 g respectively. The closed packaging using cement paper, with absorber materials of lime stone or Aquastore indicated that shallot seedbulbs can be stored for 52 days with seed damaged of 13.0 and 15.5% respectively. The capacity to absorb humidity were 42.28% (lime stone) and 5.16% (Aquastore). Growing capacity of seedbulb in the field were 96.6% (lime stone) and 98.4% (Aquastore). Plant height at 14, 28, 42, and 56 dap were, 12.90, 18.20, 24.40, and 30.71 cm (lime stone absorber) and 12.80; 19.30; 24.50 and 39.66 cm (absorber Aquastore) respectively. Number of bulblet 7.95 (lime stone) and 8.10 bulblet (Aquastore). The wet-weight dry-weight of the bulb per plant were 115.0 and 82.10 g (lime stone absorber) and 111.0 and 80.50 g (Aquastore absorber) respectively.
Penekanan Hayati Penyakit Layu Fusarium pada Subang Gladiol Dian Wisnu Wardhana; Loekas Soetnto; D S Utami
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n2.2009.p%p

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan agensia hayati terbaik dalam menekan intensitasserangan Fusarium oxysporum f.sp. gladioli in planta melalui perlakuan subang gladiol. Penelitian dilakukan diRumah Kasa Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, dari bulan Agustus 2005 sampaiJanuari 2006. Antibiotika 2,4-diasetilfloroglusinol (Phl), Bacillus subtilis, serta Trichoderma harzianum isolat jahe danginseng digunakan dalam penelitian ini, dengan kontrol fungisida benomil dan air hangat. Percobaan menggunakanrancangan acak kelompok dengan 8 perlakuan dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antagonis yangpaling baik dalam menekan penyakit layu Fusarium in planta adalah T. harzianum isolat jahe dengan masa inkubasi,intensitas penyakit, dan jumlah populasi, masing-masing sebesar 64,13 HSI, 15,55%, dan 20 upk/g tanah atauberpotensi menurunkan intensitas penyakit 83,34%. Selain itu, T. harzianum isolat jahe paling baik memengaruhitinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah subang dan akar, bobot basah batang dan daun, bobot kering batang dandaun, masing-masing 111,950 cm, 6,625 helai, 31,963 g, 39,338g, dan 6,075g. Panjang tangkai bunga dan jumlahfloret per tangkai bunga paling baik ditunjukkan oleh perlakuan antibiotika Phl, yaitu masing-masing 83,33 cm dan6,13 floret per tangkai bunga.ABSTRACT. Wardhana, D.W., L. Soesanto, and D.S. Utami. 2009. Biological Suppression of Fusarial Wilt onGladiolus Corms. The research was aimed to find out the best biological agent in suppressing Fusarium oxysporum f.sp.gladioli in planta on gladiolus corms. This research was carried out at the Screenhouse of Agricultural Faculty, JenderalSoedirman University, Purwokerto from August 2005 up to January 2006. Antibiotic of 2,4-diacetylphloroglucinol(Phl), Bacillus subtilis, Trichoderma harzianum isolated from ginger and ginseng were used with benomyl and warmwater as control. Randomized block design was used with 8 treatments and 4 replications. Results of the researchshowed that the best antagonist in suppressing the disease was T. harzianum ginger isolate with incubation period,disease intensity, and number of late population of 64.13 days after inoculation, 15.55%, and 20 cfu/g soil, respectively,or potentially decrease the disease up to 83.34%. The ginger isolate was the best isolate to improve crop height, leafnumber, corm and root fresh weight, leaves and stalk fresh weight, and leaves and stalk dry weight of 111.950 cm,6.625 sheet, 31.963 g, 39.338 g, and 6.075 g, respectively. The best flower stalk length (83.33 cm) and floret numberper stalk (6.13) were obtained from the use of antibiotic Phl treatment.
Induksi Akar Batang Bawah Mawar dan Aklimatisasinya Y Supriati; W H Adil
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n2.2005.p%p

Abstract

Mawar merupakan salah satu komoditas tanaman hias yang populer, karena nilai estetik bunga yang tinggi. Saat ini permintaan pasar terhadap mawar sangat tinggi, tetapi ketersediaan bibit masih menjadi faktor penghambat. Metode pembibitan yang biasa dilakukan petani adalah dengan teknik penyambungan antara batang bawah dari satu varietas dengan batang atas dari varietas mawar lain. Dengan teknik penyambungan ini diharapkan meningkatkan produktivitas tanaman. Kendala yang dihadapi adalah batang bawah yang tersedia di tingkat petani banyak terserang penyakit yang disebabkan oleh virus. Teknik kultur in vitro dapat membantu pengadaan bibit secara cepat, seragam, dan bebas patogen. Percobaan untuk mendapatkan media pertunasan telah diperoleh dari percobaan tahun pertama. Percobaan ini difokuskan kepada skrining formulasi media untuk merangsang sistem perakaran dan dilanjutkan dengan uji aklimatisasi di rumahkaca. Perlakuan yang dicoba untuk induksi perakaran adalah membandingkan dua jenis media dasar MS dan gamborg (1 dan 0,5 formula) yang dikombinasikan dengan zat pengatur tumbuh IBA (0,1,2, dan 3 mg/l) dan IAA (0, 1, 2, dan 3 mg/l). Perlakuan disusun secara faktorial dengan rancangan lingkungan acak lengkap. Pada pengujian aklimatisasi di rumahkaca dibandingkan empat jenis media tanam berikut, (1) kompos, (2) casting, (3) serbuk gergaji, (4) tanah, (5) kompos + casting (1:1), (6) kompos + tanah (1:1), dan (7) kompos+casting+tanah (1:1:1). Parameter yang diamati di laboratorium adalah jumlah tunas dan buku, jumlah dan panjang akar, sementara di rumahkaca adalah tinggi tanaman, jumlah cabang dan jumlah buku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mawar lokal, media pengakaran terbaik adalah menggunakan ½ MS atau gamborg tanpa memakai zat pengatur tumbuh. Sedangkan untuk mawar introduksi memerlukan formulasi MS maupun gamborg secara penuh, juga tanpa zat pengatur tumbuh. Pada percobaan aklimatisasi diperoleh hasil bahwa untuk mawar lokal, media tumbuh yang terbaik adalah campuran antara kompos dan casting (1:1), sedangkan untuk mawar introduksi, semua jenis media, baik secara tersendiri maupun kombinasinya memberikan hasil sangat baik dengan tingkat keberhasilan 100%. Untuk meningkatkan efisiensi, disarankan dalam aklimatisasi mawar introduksi, sebaiknya menggunakan media kompos.Root induction of Rosa multiflora and its acclimatization for rootstock propagation. Rose is one of ornamental plant which is very popular due to its esthetic and economic value. Nowdays, the demand of rose is increasing, but good seedling availability is limited. The most popular technique for rose propagation is grafting between the rootstock of one variety with upper plant of another variety which has specific flower type and color. The main constraint on grafting system is unavailability of rootstocks which free from virus, the presence of virus can cause unsuccessful grafting. In vitro culture technique has an important role in plant propagation. The new plant which is resulted by these techniques are genetically uniform, free from pathogen. Formula for buds multiplication was succesfully obtained in the first year of this study, therefore in the second year research were emphazised on root induction formula and its acclimatization at greenhouse. The trials for root induction were comparing two kind of basic media (MS and gamborg) in the composition of a half and full formula, and in combination with four rates (0,1,2, and 3 mg/l) of two kinds of growth regulators (IBA and IAA). Trials were conducted with CRD in factorial arrangement. Acclimatization of the plant which was produced by in vitro culture had been done with the treatment of four kind of plant media (soil, green manure, casting, and sawmill) and their combinations as follows (1) green manure, (2) casting, (3) sawmill, (4) soil, (5) green manure + casting, (6) green manure + soil, and (7) green manure + casting + soil. The parameters observed in the laboratory were number of buds and roots, and length of the roots, while in the greenhouse were plant height, number of branch and internode. The experiment showed that local rose needed only a half formula of MS or gamborg media without plant growth regulator, while introduction rose required full formula without plant growth regulator. The best media for acclimatization of local rose was combination of manure and casting (1:1), while for introduction rose was all of kind of media and also its combination with the success rate of 100%. Meaningly, the most efficient in acclimatization of introduction rose was using compost of green manure.
Pengaruh Media Regenerasi terhadap Pembentukan Tunas Aksiler dan Adventif pada Philodendron c.v. Moon Light Budi Winarto; S Rianawati; Deborah Herlina
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n1.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Philodendron merupakan tanaman hias daun yang menarik dan banyak digemari oleh konsumen, tetapi pengembangan tanaman ini secara komersial masih dihadapkan pada masalah perbanyakan benih. Studi ini bertujuan mengetahui pengaruh beberapa media regenerasi terhadap induksi tunas aksiler dan adventif, penyiapan plantlet, dan aklimatisasinya. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dari bulan November 2004 hingga Mei 2005. Bahan tanaman adalah philodendron c.v. Moon Light. Sebagian percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media MR-2 yang mengandung 0,2 mg/l BAP + 0,01 mg/l NAA + 15 g/l sukrosa dan 15 g/l glukosa merupakan media regenerasi yang terbaik pada perbanyakan philodendron cv. Moon Light secara in vitro. Media ini mampu menginduksi penggandaan tunas aksiler dan tunas adventif terbaik dibanding media regenerasi yang lain dengan persentase regenerasi mencapai 90% untuk tunas aksiler dan 50% untuk tunas adventif. Produksi tunas mencapai 6,2 tunas per eksplan untuk tunas aksiler dan 3,1 tunas per eksplan untuk tunas adventif. Dengan mengganti agar Swallow dengan gelrite, media ini juga menjadi media terbaik untuk penyiapan plantlet untuk tujuan aklimatisasi, terutama pada tunas yang telah mengalami 4-5 subkultur. Plantlet yang dihasilkan juga mudah diaklimatisasi pada media arang sekam dengan keberhasilan mencapai 94%.ABSTRACT. Winarto, B., S. Rianawati, and D. Herlina. 2007. Effect of Regeneration Media on Axillary and Adventitious Shoot Formation of Philodendron c.v Moon Light. Philodendron is one of fascinating ornamental foliage plants which has high preference from user, but for commercial development of the plant is still faced by big problem on its propagation. The study aimed to find out the effect of regeneration media on axillary and adventitious shoot induction, plantlet preparation, and its acclimatization. The research was conducted at Tissue Culture Laboratory and Glass-house of Indonesian Ornamental Crop Research Institute from November 2004 till May 2005. Philodendron cv. Moon Light was used as a donor plant. A part of the experiment was arranged in completely randomized design with 4 replications. Results of this study indicated that MR-2 medium was the appropriate medium for in vitro propagation of the plant. The medium was able to induce the highest axillary and adventitious shoot multiplication compared to others with high percentage of shoot regeneration up to 90% for axillary shoots and 50% for adventitious shoots. Shoot production was up to 6.2 per explant for axillary shoot and 3.1 per explant for adventitious shoot. By changing Swallow agar with gelrite was the best medium for plantlet preparation, especially in 4-5 subcultured-shoots for acclimatization purposes. Plantlets resulted from this experiment were easily acclimatized on burn-rice husk with 94% survivability.
Efektivitas Model dan Ketinggian Perangkap dalam Menangkap Hama Lalat Buah Jantan, Bactrocera spp Ahsol Hasyim; - Muryati; W J de Kogel
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n4.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui model dan ketinggian perangkap yang efektif dalam menangkap lalat buah, Bactrocera spp. Penelitian ini dilakukan di kebun petani di Kenagarian Kacang pada pertanaman polikultur dan Alahan Panjang pada pertanaman monokultur, Solok mulai Maret 2003-Desember 2004. Model alat perangkap yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perangkap bekas botol air mineral, modifikasi gipsy moth, modifikasi perangkap steiner, perangkap delta, dan perangkap McPhail. Masing-masing perangkap diberi umpan dengan 0,5 ml metil eugenol atau cue lure yang diteteskan pada sepotong kapas dan digantungkan di dalam perangkap. Untuk mengetahui ketinggian perangkap yang efektif untuk menangkap lalat buah, penelitian dilakukan dengan memasang perangkap dari botol air mineral pada ketinggian 0,5, 1, 1,5, 2, dan 2,5 m dari permukaan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah lalat buah yang tertangkap per perangkap/hari pada masing-masing jenis perangkap yang digunakan berbeda nyata. Lalat buah yang paling banyak tertangkap per perangkap/hari adalah pada perangkap McPhail yaitu 52 ekor dan yang paling sedikit diperoleh pada perangkap gipsy moth yaitu 6 ekor/perangkap/hari. Ketinggian perangkap terlihat berbeda nyata, di mana lalat buah yang paling banyak tertangkap adalah pada perangkap dengan ketinggian 1,5 m dari permukaan tanah. Penggabungan antara model perangkap dengan atraktan sintetis, seperti metil eugenol atau cue lure meningkatkan kemampuan tidak hanya sebagai perangkap lalat buah yang potentsial tetapi juga sebagai alat monitoring hama lalat buah.ABSTRACT. Hasyim, A., Muryati, and W. J. de Kogel. 2006. Trap type and trap height effectiveness on catching male fruit flies, Bactrocera spp. The objective of the research was to understand trap types and trap position that most effective on catching male fruit flies, Bactrocera spp. The research was conducted at Kenagarian Kacang of polyculture plantation and Alahan Panjang of monoculture plantation, Solok from March 2003 to December 2004. The types of trap used in this experiment were the trap made from used bottle of mineral water, the modified of gipsy moth trap, the steiner trap, delta trap, and McPhail trap. One piece of cotton, soaked in 0.5 ml methyl eugenol were hung in each trap. To determine the trap height effectiveness, the trap made from used bottle of mineral water were set at several height of 0.5, 1, 1.5, 2, and 2.5 m above the ground level, respectively. The results showed that the number of flies cought/trap/day was significantly different in respect to trap types. The highest number of flies cought/day/trap was found in McPhail trap (52 flies), and the lowest number of flies cought/day/trap was found in modified gypsy moth traps (6 flies), the trap positions was significantly affect the number of fruit flies cought and the higest number of flies cought/trap/day was obtained by 1.5 m trapped height. The combination types of trap and syntetic attractant such as methyl eugenol or cue lure could increase the capacity, not only as a potential trapped but also as a monitoring tool for fruit flies.
Analisis Kelayakan Teknis dan Ekonomis Teknologi Budidaya Bawang Merah dengan Benih Biji Botani dan Benih Umbi Tradisional Rofik Sinung Basuki
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n2.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kelayakan teknis dan ekonomis teknologi budidaya bawangmerah menggunakan benih biji botani dibandingkan dengan benih umbi tradisional. Percobaan dilakukan di lahan petanidi Brebes, ketinggian + 8 m dpl, dengan jenis tanah Aluvial, pH = 6,7, pada musim kemarau dari bulan April sampaidengan Agustus 2008. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuanyang dicoba adalah 13 macam perlakuan, terdiri dari 10 perlakuan pengaturan kerapatan tanaman dari benih bijibotani (TSS) varietas Tuk Tuk dan Hibrida dengan mengkombinasikan faktor jarak tanam, jumlah bibit ditanam perlubang, serta asal persemaian bibit, dan 3 perlakuan benih umbi menggunakan varietas lokal Bima Curut yang dibelidari toko dan asal petani serta varietas impor Tanduyung yang dibeli dari toko sebagai pembanding. Analisis budgetpartial digunakan untuk menilai kelayakan ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan TSS layaksecara teknis karena dapat meningkatkan hasil sampai 2 kali lipat dibanding penggunaan benih umbi tradisional danlayak secara ekonomis karena dapat meningkatkan pendapatan bersih antara 22-70 juta rupiah per ha dibanding benihumbi tradisional. Penggunaan TSS varietas Tuk Tuk yang memberikan tingkat hasABSTRACT. Basuki, R.S. 2009. Analysis of Technical and Economical Feasibility of Shallots Cultivation fromTrue Shallot Seed and Traditional Bulb Seed. Experiment was conducted in farmer’s field in Brebes (altitude + 8 masl, Aluvial soil type and pH = 6.7), from April to August 2008. The experiment was arranged in a randomized blockdesign with 3 replications. The total of 13 treatments was applied, consisted of 10 treatments of plant population ofTSS of Tuk Tuk and Hibrida varieties by combining plant spacing, number of seedling per hole, and source of seedling,and 3 control treatments of traditional bulb seed, i.e. local variety of Bima Curut bought from store and from farmer,and imported variety of Tanduyung. Budget partial analysis was used to measure the economical feasibility. Results ofthe research showed that the use of TSS was technically feasible because it increased the yield of shallots 2 times ascompared to bulb seed, and economically feasible because it increased the net income from 22 to 70 million IDR/haas compared to bulb seed. The highest yield and net income from TSS as compared to bulb seed was obtained byplanting single seedling of TSS with population of 150 plants per m2.
Pemupukan Fosfat Alam, Pupuk Kandang Domba, dan Inokulasi Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Mentimun pada Tanah Masam Rini Rosliani; Yusdar Hilman; Nani Sumarni
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n1.2006.p%p

Abstract

Percobaan dilaksanakan di lahan petani Kabupaten Lebak, Banten, mulai bulan Juli sampai Oktober 2001.  Jenis tanah masam adalah ultisols yang mempunyai ketersediaan P rendah dan sifat fisik jelek. Tujuan percobaan adalah mempelajari pengaruh inokulasi cendawan mikoriza arbuskula, penyediaan bahan organik dari pupuk kandang domba dan dosis fosfat alam (P) terhadap pertumbuhan, serapan P, dan hasil mentimun. Perlakuan terdiri atas 3 dosis fosfat alam, pupuk kandang domba, dan inokulasi mikoriza. Kombinasi perlakuan seluruhnya ada 12 dengan 3 ulangan yang disusun dalam rancangan acak kelompok faktorial. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang domba meningkatkan efisiensi penggunaan fosfat alam, pertumbuhan, bobot buah, dan infeksi akar.  Pengaruh mikoriza tampak jelas jika disertai penggunaan pupuk kandang domba.  Tanpa  pupuk kandang domba maupun tanpa mikoriza, dosis P yang dibutuhkan untuk menghasilkan buah mentimun adalah 200 kg P2O5 /ha, sedangkan dengan pupuk kandang domba maupun dengan mikoriza dosis P yang dibutuhkan untuk menghasilkan buah mentimun yang sama hanya 100 kg  P2O5 /ha.  Tanpa pupuk kandang, mikoriza, dan pupuk P (kontrol), tanaman tidak menghasilkan buah mentimun. Teknologi yang diperoleh dari penelitian ini sangat berguna untuk pengembangan tanaman sayuran pada tanah-tanah masam atau lahan marginal seperti ultisols.The experiment was conducted at the farmer field in Lebak Distric of Banten Province, from July until October 2001. The soil type was ultisols with low P availability and poor physical property. The objectives of this experiment was to study the effect of application of rock phosphate, sheep manure, and arbuscular mycorrhiza fungi inoculation on the growth, P uptake, and yield of cucumber in acid soil.  The treatments consisted of three rates of rock phosphate, 2 rates of sheep manure and 2 rates of mycorrhiza inoculation. All treatment combinations were arranged in a factorial randomized block design with 3 replications. The results showed that sheep manure application increased the efficiency of rock phosphate application, growth, yield of cucumber, and root infection. The effect of mycorrhiza inoculation was distinct when accompanied with sheep manure supply. Without sheep manure supply and without mycorrhiza inoculation, 200 kg P2O5/ha of rock phosphate was needed to produce cucumber, while sheep manure supply and mycorrhiza inoculation, only 100 kg P2O5/ha of rock phosphate was needed to produce equivalence cucumber fruit. Without rock phosphate application, sheep manure supply, and mycorrhiza inoculation (control), the plant did not produce any cucumber fruit. The results of the experiment can be usefull for developing vegetables cultivation on acid soils or marginal land such as ultisols.
Penggunaan Jenis Entris, Posisi Sambungan, dan Posisi Penyisipan Entris pada Batang Bawah terhadap Keberhasilan Penyambungan dan Pemacuan Pertumbuhan Bibit Manggis Jawal Muhammad Anwarudinsyah; Roedhy Poerwanto; Nono Sutrisno; T Purnama; D Fatria
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n4.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Bibit manggis yang dihasilkan melalui teknik sambung pucuk berbuah lebih cepat dengan habitus tanamanrendah, sehingga akan mudah dikelola. Populasi tanaman persatuan luas lebih banyak karena jarak tanam yang rapat.Namun, pertumbuhan bibit yang dihasilkan dengan teknik tersebut sangat lambat dengan arah pertumbuhan yangmenyamping, sehingga bentuk kanopinya tidak menarik. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh jenis entris, posisisambungan, dan posisi penyisipan entris pada batang bawah terhadap keberhasilan sambung pucuk dan pemacuanpertumbuhan bibit manggis. Penelitian dilaksanakan di Rumah Pembibitan Balai Penelitian Tanaman Buah TropikaSolok mulai bulan Juli 2003 sampai dengan Maret 2005. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompokfaktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama ialah jenis entris yang terdiri atas entris tengah dan samping. Faktorkedua ialah posisi sambungan, yaitu penyambungan pada bagian batang bawah yang masih sukulen dan pada bagianyang sudah berkayu. Faktor ketiga ialah penyisipan entris, yaitu entris disisipkan pada bagian yang lebar dan bagianyang sempit dari batang bawah. Setiap unit perlakuan terdiri atas lima tanaman. Peubah yang diamati meliputikeberhasilan penyambungan, frekuensi pecah tunas, jumlah daun, tinggi tanaman, diamater batang, jumlah cabanglateral, dan persentase bibit sambung yang tumbuh menyamping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tunas tengahdan samping dapat digunakan sebagai entris dengan tingkat keberhasilan penyambungan dan pertumbuhan bibitsambung yang relatif sama (79-80%). Posisi penyambungan yang terbaik adalah pada ruas batang bawah yang berkayu.Penyisipan entris pada bagian yang lebar atau bagian sempit dari ruas batang bawah tidak banyak memengaruhitingkat keberhasilan penyambungan dan pertumbuhan bibit sambung manggis.ABSTRACT. Jawal, M. Anwarudin Syah, R. Poerwanto, N. Sutrisno, T. Purnama, and D. Fatria. 2010. TheEffect of Scion Type, Grafting Position, and Scion Insertion Position on the success of Rootstock Grafting andthe Growth of Grafted Mangosteen. The objective of this study was to determine the best scion type, grafting, andscion insertion position on rootstock on grafted mangosteen. This study was conducted at the Nursery of IndonesianTropical Fruit Research Institute Solok from July 2003 to March 2005 by using a factorial randomized block designwith three replications. The first factor was the scion types (autotroph and plagiotroph), the second factor was thegrafting position (in suculent and wooden tissues), and the third one was the scion insertion position on rootstock i.e.scion was inserted on the wide and narrow parts of rootstock. The observed variable were grafting successfulness,the frequency of flush, leaf number, plant height, stem diameter, and the number of lateral branch. The results of theexperiment indicated that autotroph and plagiotroph scions can be used for mangosteen grafting. Best position forgrafting was wooden part of rootstock. Inserting scion on the wide and narrow parts of rootstock did not affect thegrafting growth successfulness.

Page 87 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue