cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepedulian Konsumen terhadap Sayuran Aman Residu Pestisida Mieke Ameriana; R S Natwanidjaja; B Arief; - Rusidi; M H Karmana
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n1.2006.p%p

Abstract

Permasalahan adanya kandungan pestisida pada sayuran merupakan masalah yang cukup serius dan harus segera ditangani oleh semua pihak yang berkepentingan, karena sudah menjadi isu global. Untuk tujuan tersebut telah dilakukan suatu penelitian yang bersifat studi pendasaran dengan tujuan untuk  mengkaji tingkat kepedulian konsumen terhadap residu pestisida serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, khususnya  pada buah tomat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2003 di Kota Bandung, menggunakan metode survei. Pengambilan data dilakukan dengan mewawancarai 162 orang responden yang dipilih dengan menggunakan metode pengambilan contoh berklaster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepedulian konsumen terhadap adanya residu pestisida pada buah tomat dipengaruhi oleh faktor-faktor motivasi konsumen, pengetahuan konsumen, serta persepsi konsumen terhadap risiko. Sementara itu, pengetahuan konsumen dipengaruhi oleh informasi yang diterima konsumen serta tingkat pendidikan formal konsumen. Tingkat kepedulian konsumen di Kota Bandung masih dapat ditingkatkan, dengan cara memberikan informasi yang lebih intensif mengenai residu pestisida serta bahayanya terhadap kesehatan.Since it is global issue, the problem of pesticide residue on vegetables has become more serious and needs immediate attention from all related parties. With regards to this concern, a baseline study was carried out to assess consumers awareness of pesticide residue and factors that may influence this awareness, especially on tomato. A consumer survey was conducted in May-June 2003 in Bandung. Data were collected from interviewed with 162 respondents who were selected by using cluster sampling method. The results showed that consumers’ awareness of pesticide residue on tomatoes was influenced by motivation, knowledge, and consumers’ perception on risks.  Knowledge was influenced by information received and the level of formal education attended.  The level of consumers’ awareness in Bandung could still be increased by providing information on pesticide residue and its danger on health more intensively.
Analisis Korespondensi untuk Mengetahui Atribut Unggulan Jeruk Pamelo: Studi Kasus Pada Empat Aksesi Jeruk Pamelo di Magetan (Correspondence Analysis to Identified the Superior Attribute of Pummelo: Case Study on Four Pummelo Accession in Magetan) Budiyati, Emi; Pramesti, Arin; mufidah, lyli
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p129-136

Abstract

Pamelo (Citrus maxima) memiliki potensi untuk dikembangkan di Indonesia merujuk karakteristiknya yang unik, baik dari sisi ukuran, rasa, dan lama penyimpanan. Beberapa aksesi yang dibudidayakan di Magetan meliputi Nambangan, Magetan, Sri Nyonya, dan terdapat juga klon Adas yang belum dilepas. Analisis korespondensi dilakukan mengetahui atribut unggulan pada keempat aksesi jeruk pamelo tersebut, dengan menggunakan data primer dari panel terbatas atas 132 sampel buah, yang dilakukan pada tahun 2014. Beberapa tahapan yang dilakukan: (1) cleaning data yang bersumber dari penilaian panelis mengelompokkan data berdasarkan kesukaan, (2) melakukan uji asosiasi tabel kontingensi antara varietas pamelo dan kriteria unggul, dan (3) analisis korespondensi terhadap aksesi pamelo. Hasil yang diperoleh menunjukkan varietas Nambangan melekat dengan atribut unggul kebersihan, bentuk buah, warna, dan tebal kulit ; varietas Magetan terikat dengan jumlah biji, varietas Sri Nyonya dengan tebal, tekstur, dan rasa daging buah; serta klon Adas dengan warna daging buah. Berdasarkan hasil dari penilaian panelis atribut unggul utama dari penampilan dalam adalah rasa daging buah (18,98%) dan untuk penampilan luar adalah bentuk buah (18,32%). Hal ini menjadikan varietas Sri Nyonya menjadi pilihan pertama panelis (27,37%). Hasil tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran kepada petani terkait kesesuaian aksesi yang dipilih dengan pasar yang dibidik (terkait atribut unggulan yang disukai), serta menjadi acuan bagi pembuat kebijakan, terutama Pemerintah Kabupaten Magetan, terkait aksesi yang diprioritaskan untuk dikembangkan, mengingat pasar dalam negeri dan ekspor masih terbuka.KeywordsPamelo; Analisis korespondensi; Atribut unggul AbstractPummelo (Citrus maxima) has the potential to be developed in Indonesia, referring to its unique characteristics, both in terms of size, taste, and length of storage. Some accessions that common cultivated in Magetan are Nambangan, Magetan, Sri Nyonya, and there are also Adas clone that have not been released. Correspondence analysis was conducted to determine the superior attributes of the four pummelo citrus accessions, using primary data from limited panels for 132 fruit samples, which was carried out in 2014. Several steps were done: (1) cleaning data sourced from panel appraisal to group data based on their preference, (2) test the association of contingency tables between pummelo accessions and superior criteria, and (3) conduct correspondence analysis of pummelo accessions. The results show that the Nambangan variety is inherent with superior attributes of cleanliness, fruit shape, color, and thickness of the skin; the Magetan variety is tied to the number of seeds, while Sri Nyonya variety with thick flesh, flesh texture, and fruit flavor; while Adas clone with fruit flesh color. Based on the results, the panelist’s assessed the main superior attribute for internal appearance was fruit flesh flavor (18.98%) while the outer appearance was fruit shape (18.32%), where Sri Nyonya variety was the panelist’s first choice (27.37%). This result are expected to provide an overview to farmers regarding the suitability of the selected accessions, which will be developed, with targeted markets, as well as being reference for policy makers, especially Magetan district government, regarding the accessions that become priority to be developed, given that the domestic and export markets for this product are still widely open. 
Pengaruh Ekstrak Bahan Nabati dalam Menginduksi Ketahanan Tanaman Cabai terhadap Vektor dan Penyakit Kuning Keriting Ati Srie Duriat
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n4.2008.p%p

Abstract

Penyakit kuning keriting pada tanaman cabai yang disebabk an oleh virus Gemini merupakan penyakit yang epidemik di berbagai daerah. Percobaan untuk menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap virus dan vektor penyakit kuning keriting dengan mengg unakan ekstrak nabati telah dilakukan di Rumah Kasa Virologi dan Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang selama 6 bulan (Agustus 2003 – Februari 2004). Kegiatan dilakukan 2 tahap di rumah kasa dan di lapangan. Penelitian di rumah kasa mengg unakan rancangan petak terpisah, petak utama terdiri atas 11 perlakuan induksi dengan bahan nabati, yaitu eceng gondok, rumput laut, tembakau, nimba, bunga pagoda, lamtoro, bunga pukul empat, bayam duri, dan kecubung, benzotiadiazol (sebagai pembanding positif), dan kontrol tanpa perlakuan. Anak petak adalah waktu dilakukan infeksi (challenged) dengan virus Gemini pada 24 jam, 5, dan 10 hari setelah induksi dengan ekstrak nabati (perlakuan petak utama). Percobaan kedua di lapangan menggggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan induksi 11 macam ekstrak nabati seperti kegiatan di rumah kaca, dan tanaman cabai yang sudah diinduksi langsung ditanam di lapangan. Hasil penelitian menunjukk an bahwa (1) perlakuan ekstrak nabati umumnya dapat menaikk an tingg i tanaman, menurunkan preferensi serangg a Bemisia terhadap tanaman cabai, memperpanjang masa inkubasi gejala, menekan perkembangan penyakit, dan menaikk an hasil panen, (2) ekstrak nabati yang paling baik untuk menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap virus Gemini adalah berturut-turut bunga pukul empat (Mirabilis jalapa), bayam duri (Amaranthus spinosus), lamtoro (Leucaena glauca), dan bunga pagoda (Clerodendrum japonicum), masing-masing >50%, (3) masa retensi ketahanan sistemik pada tanaman cabai berbeda-beda, yang paling baik adalah 24 jam setelah induksi ekstrak. Makin lama jeda waktu antara induksi dengan terjadinya infeksi (challenging) virus makin rendah daya hambat induser terhadap serangan virus Gemini, dan (4) kecuali bunga pagoda, ekstrak tumbuhan lain meningk atkan hasil panen buah cabai antara 15-37 % di atas kontrol.ABSTRACT. Duriat, A.S. 2008. The Influence of Plant Extract for Inducing Resistance of Chili Pepper Plant Against Pathogen and Vector of Yellow Leafcurl Disease. Yellow leafcurl disease of pepper caused by Gemini virus was epidemic in various areas. An experiment to induce plant resistance on this disease using botanical extract was done in Lembang for 6 months (August 2003-February 2004). The trials were arranged in a split plot design for screenhouse experiment and in a randomized block design for field experiment. The main plot in screenhouse were 11 treatments of extract plant resistence inducer (Eichornia crassipes, Euchema alvarezii, Nicotiana tabacum, Azadirachta indica, Clerodendrum japonicum, Leucaena glauca, Mirabilis jalapa, Amaranthus spinosus, Datura stramoium, plant activator benzothiadiazole, and control). While the subplot consisted of 3 levels of challenging time of Gemini virus, namely: 24 hour, 5 days, and 10 days after inducing time. Field trial was done to determine the influence of extract inducing plant resistance to the yield of pepper pod. The results indicated that (1) extract inducing treatments increased plant height, influenced preference of vector, delayed incubation time of virus symptoms, suppressed virus symptoms, and increased yield of pepper pods, (2) the best botanical extract to suppress virus symptoms were M. jalapa, A. spinosus, L. glauca, and C. japonicum (> 50%), respectively, (3) the best influence of induced systemic resistance was shown at 24 hours after inducing, more time of virus infection would be lower the disease suppression, and (4) except C. japonicum, all botanical extracts increased pod pepper yield between 15-37 % above control.
Pengendalian Hama dan Penyakit Penting Cabai dengan Pestisida Biorasional E Suryaningsih; A W W Hadisoeganda
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n3.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Akibat samping penggunaan pestisida sintetik yang berlebih pada budidaya cabai telah dideteksi di berbagai tempat. Dalam upaya mengurangi kuantum aplikasi pestisida sintetik dapat dengan jalan menggantinya dengan pestisida lain, yang disebut dengan pestisida biorasional. Percobaan lapang telah dilaksanakan di kebun petani di Rancaekek (elevasi 650 m dpl), Bandung, Jawa Barat, dari Juli 2001 sampai dengan Februari 2002. Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok 4 ulangan dan 4 perlakuan dengan perlakuan-perlakuan sebagai berikut. Pestisida biorasional 866 (campuran ekstrak kasar A. indica 8 bagian + A. nardus 6 bagian + A. galanga 6 bagian), TdNt 102 (campuran T. diversifolia 10 bagian + N. tabacum 2 bagian), TdMa 106 (campuran T. diversifolia 10 bagian + M. azedarach 6 bagian), tigonal 1066 (campuran ekstrak kasar T. diversifolia 10 bagian + A. nardus 6 bagian + A. galanga 6 bagian). Keempat formula tersebut diaplikasikan dengan interval 4 hari dan 7 hari. Insektisida sintetik pirethroid 2.5 EC 0,2% dan fungisida sintetik propineb 70 WP 0,2% diaplikasikan dengan interval 7 hari. Selama percobaan berlangsung, hama dan penyakit yang paling prevalen adalah C. capsici, C. gloeosporioides, T. palmi, dan A. gossypii. Hasil penelitian memberi indikasi bahwa semua biorasional yang digunakan ternyata sama efektifnya dengan pestisida sintetik dalam mengendalikan hama dan penyakit cabai, dengan tingkat efikasi yang bervariasi. Perlakuan yang paling efektif untuk mengendalikan C. capsici adalah biorasional yang mengandung A. indica sebagai komponennya, sedangkan biorasional dengan komponen T. diversifolia ternyata lebih efektif dalam mengendalikan C. gloeosporioides dan T. palmi. Dipihak lain, biorasional yang mengandung komponen M. azedarach dan N. tabacum ternyata efikasinya dalam mengendalikan T. palmi dan A. gossypii sama dengan insektisida sintetik pirethroid 2,5 EC 0,2%. Hasil penelitian ini mencatat bahwa pestisida biorasional yang digunakan dalam penelitian ini dapat digunakan untuk menggantikan peran pestisida sintetik dalam mengendalikan hama dan penyakit penting pada cabai.ABSTRACT. Suryaningsih, E. and A.W.W. Hadisoeganda. 2007. Control Measure for Important Pests and Diseases of Hot Pepper by Applying Biorational Pesticide. The side effects of the overuse of synthetic pesticides on pepper cultivation have been detected in various locations. The use of other pesticide, such as biorational pesticide could reduce the quantity of synthetic pesticide application. A field experiment was conducted at farmers’s field in Rancaekek (elevation 650 m), Bandung, West Java, from July 2001 to February 2002. A randomized block design with 4 replications was employed in this experiment.The treatments were biorational pesticide agonal 866 (crude extract mixture of A. indica 8 parts + A. nardus 6 parts + A. galanga 6 parts), TdNt 102 (mixture of T. diversifolia 10 parts + N. tabacum 2 parts), TdMa 106 (mixture of T. diversifolia 10 parts + M. azedarach 6 parts), tigonal 1066 (crude extract mixture of T. diversifolia 10 parts + A. nardus 6 parts + A. galanga 6 parts). The treatments were applied at 4 and 7 days interval. Synthetic insecticide pirethroid 2.5 EC 0.2% and propineb 70 WP 0.2%, both applied at 7 days interval. During the experiment, the most prevalent pests and deseases were C. capsici, C. gloeosporioides, T. palmi, and A. gossypii, respectively. The results of the experiment indicated that all of the biorational applied were as effective as synthetic pesticides in controlling pests and diseases of pepper with varying degree of efficacy. The most effective in controlling C. capsici were biorationals which contain A. indica component, while biorationals with T. diversifolia as a component seem to be much more effective in controlling C. gloeosporioides as well as T. palmi, respectively. On the other hand, biorationals with M. azedarach and N. tabacum component were found to be as effective as synthetic insecticide pirethroid 2.5 EC 0.2% in controlling T. palmi and A. gossypii. The results of the experiment showed that biorational pesticides can be used to replace synthetic pesticide in controlling important pests and diseases on pepper.
Pengaruh Ukuran Batang Bawah dan Batang Atas terhadap Pertumbuhan Durian Monthong, Hepe, dan DCK-01 - Sudjijo
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n1.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Sumani, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, mulaibulan Februari sampai dengan Oktober 2007. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh sambung pucuk dariberbagai ukuran batang bawah dengan 3 varietas batang atas durian. Perlakuan terdiri dari berbagai ukuran diameterbatang bawah, yaitu ukuran kecil (KCL= 0,35-0,40 cm), sedang (SDN= 0,45-50 cm), dan besar (BSR= 0,55-60cm). Varietas lokal DCK-01 digunakan sebagai batang bawah, selanjutnya batang bawah tersebut disambung denganmenggunakan batang atas Monthong (MNT), Hepe (HP), dan DCK-01. Batang bawah berasal dari semaian biji durianlokal DCK-01 yang berumur 2 bulan, sedangkan batang atas berasal dari pucuk durian varietas Monthong dan Hepeyang berasal dari koleksi plasma nutfah Balitbu Tropika. Rancangan percobaan menggunakan acak kelompok dengan3 ulangan, setiap perlakuan terdiri dari 10 tanaman. Parameter yang diamati meliputi ukuran diameter sambungan,jumlah tunas yang keluar, jumlah daun, tinggi tanaman, jumlah daun dalam tunas, dan bobot kering akar. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa varietas lokal DCK-01 ukuran sedang (0,45-0,55 cm) dan ukuran besar (0,55-0,60cm) dapat dipergunakan sebagai batang bawah dalam penyambungan dengan batang atas varietas Monthong, Hepe,dan DCK-01. Kompatibilitas penyambungan terbaik terjadi antara batang bawah DCK-01 ukuran besar (0,55-0,60cm) dengan batang atas Hepe menghasilkan diameter sambungan 1,00 cm, jumlah tunas 2,93, tinggi tanaman 32,07cm. Hasil penelitian ini bermanfaat dalam upaya perbaikan sistem perbenihan tanaman durian.ABSTRACT. Sudjijo. 2009. The Influence of Rootstok Sizes on the Growth of Scion Monthong, Hepe, andDCK-01 Durian Varieties. The research was conducted at Sumani experimental field of ITFRI from February toOctober 2007. The objective of this research was to know the influence of rootstock diameter sizes on the growth ofscion of 3 durian varieties. The treatments consist of several diameter sizes of rootstock namely of small sizes 0.35-0.40 cm, medium 0.45-0.50 cm, and big 0.55-0.60 cm. Local variety of DCK-01 was used as rootstock. The rootstockswas grafted on scion of DCK-01, Hepe (HP), and Monthong (MNT). The rootstocks were originally from 2 monthseedlings of local variety DCK-01 meanwhile scions were from germplasm collection of ITFRI. Randomized blockdesign with 3 replications was used in this research, hence, there were 10 plants in each treatments. The parametersobserved were grafting diameter, bud break number, flush number, leaves number, plant height, leaves numberon flush, and root dry weight. The results showed that medium and big diameter size of local variety DCK-01 couldbe used as rootstock on the grafting with Monthong, Hepe, and DCK-01 scion. The best compatibility of graftingwas showed by big diameter size of DCK-01 rootstock (0.55-0.60 cm) on Hepe scion, with grafted diameter 1.00cm, number of flush 2.93 and height of plant 32.07 cm. This research was useful for improving the availability ofdurian seedling.
Komposisi dan Konsentrasi Senyawa dalam Minyak Atsiri Jeruk Manis dan Jeruk Besar terhadap Perkembangan Tungau Panonychus citri McGregor Mizu Istianto; K Untung; - Mulyadi; Y A Trisyono; T Yuwono
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n1.2006.p%p

Abstract

Tungau Panonychus citri (Acarina: Tetranychidae)  adalah salah satu hama penting yang menyerang tanaman jeruk di Indonesia. Salah satu kunci sukses untuk mengendalikan populasi P. citri adalah memahami interaksi hama ini dengan inangnya. Namun demikian, informasi dalam bidang ini masih sangat terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh minyak atsiri dari kulit buah jeruk manis dan jeruk besar terhadap perkembangan dan kemampuan reproduksi  tungau P. citri serta mengidentifikasi faktor penyebabnya.  Penelitian dilakukan di Laboratorium  Loka Penelitian Jeruk, Tlekung-Batu, Malang dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mulai bulan Februari sampai Juli 2003. Perlakuannya adalah beberapa konsentrasi minyak atsiri, yaitu 10, 20, 40, 80 ppm, serta parafin dan kontrol.  Tiap perlakuan diulang 15 kali menggunakan  rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri jeruk manis Pacitan dan jeruk besar Nambangan mampu menghambat perkembangan  dan menurunkan kemampuan reproduksi tungau P. citri pada kondisi laboratorium. Perkembangan yang terhambat  terlihat pada umur pradewasa yang menjadi lebih lama  dan umur dewasa lebih pendek dibanding perlakuan parafin dan kontrol.  Penurunan kemampuan reproduksi terlihat pada lebih sedikitnya telur yang diletakkan dan menetas dibanding perlakuan parafin dan kontrol.  Pengaruh negatif ini disebabkan oleh adanya senyawa limonen yang merupakan senyawa dominan dalam minyak atsiri jeruk.  Minyak atsiri jeruk besar Nambangan  mempunyai pengaruh negatif yang lebih kuat terhadap perkembangan dan kemampuan reproduksi P. citri dibanding minyak atsiri dari jeruk manis Pacitan.  Perbedaan pengaruh tersebut karena perbedaan kandungan senyawa linalool, di mana pada minyak atsiri jeruk besar kandungannya lebih sedikit dibanding pada minyak atsiri jeruk manis.  Linalool berperan mengurangi pengaruh negatif yang disebabkan oleh senyawa limonen. Hasil ini mengungkapkan ada peluang lain dalam mengendalikan tungau P. citri, yaitu memanfaatkan senyawa atsiri yang dihasilkan oleh tanaman itu sendiri dengan komposisi tertentu.  Panonychus citri is one of the most economically  important citrus pests in Indonesia. One of the key success for controlling the population of the pest is understanding the relationship between this mite and its host.  However, information in this area is not well understood. The objectives of this research were to evaluate the influences of essential oil  extracted from sweet orange and pummelo fruit peels on the development and reproductive capacity of P. citri and to understand the mechanism responsible for the different effects that will be useful to develop management program.  The research was conducted in the laboratory from February to July 2003 in Tlekung-Batu, Malang and Gadjah Mada University Yogyakarta. The treatments were 10, 20, 40, 80 ppm of essential oil, parafin and control. Each treatment was replicated 15 times and arranged  in a completely randomized design. The results showed that the essential oil  extracted from Pacitan sweet orange and Nambangan pummello fruit peels could inhibit the development and reduced  the reproductive capacity of P. citri. The essential oils prolonged the life cycle and reduced the fecundity of P. citri.  These negative effects were caused by limonene, a dominant compound in the citrus essential oil.  The negative effects of essential oil extracted from Nambangan pummelo were found to be more pronounced than that from Pacitan sweet orange. Concentration of linalool was found to be responsible for the differences, and it worked oppositely with limonene by reducing the negative effects of limonene on P. citri. Essential oil of Pacitan sweet orange contained more linalool than pummelo. This result gives an alternative technology to control P. citri by using volatile compounds produced by the plant itself with certain composition.
Eksplorasi, Karakterisasi, dan Evaluasi Beberapa Klon Bawang Putih Lokal - Hardiyanto; Nirmala Friyanti Devy; Arry Supriyanto
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n4.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Bawang putih lokal saat ini sangat sulit dijumpai di pasaran setelah membanjirnya bawang putih impor ke Indonesia. Hal ini tentunya diperlukan upaya perbaikan produktivitas dan kualitas bawang putih lokal sekaligus sebagai konservasi. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai karakter morfologi beberapa klon bawang putih lokal dan mendapatkan klon-klon bawang putih lokal hasil evaluasi yang potensial dan prospektif yang dapat bersaing dengan bawang putih impor. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Banaran, Batu pada ketinggian 900 m dpl. mulai bulan Juli sampai Oktober 2005. Eksplorasi dilakukan di beberapa daerah sentra produksi bawang putih. Karakterisasi dan evaluasi dilakukan berdasarkan descriptor lists dari IPGRI yang meliputi morfologi tanaman, produksi, dan kualitas umbi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok terdiri dari 10 klon diulang 3 kali. Hasil eksplorasi diperoleh 3 klon bawang putih baru, yaitu Teki, Ciwidey, dan Lumbu Kayu. Daya tumbuh 10 klon bawang putih yang ditanam di KP Banaran, Batu umumnya tinggi yaitu sekitar 95%. Dilihat dari umur panen, klon dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu umur panen pendek (90-110 hari setelah tanam) meliputi NTT, Teki, Sanggah, dan Lumbu Kuning, umur panen sedang (111-131 hari setelah tanam) meliputi Saigon, Lumbu Hijau, Krisik, Tawangmangu, dan Ciwidey, dan umur panen dalam (di atas 131 hari), yaitu Tiongkok. Tinggi batang semu bervariasi antara 9-26 cm. Klon Ciwidey dan Tiongkok terlihat paling pendek dibandingkan dengan klon lainnya. Diameter batang semu klon Tawangmangu terlihat paling besar dibandingkan klon lainnya meskipun tidak berbeda nyata dengan klon Teki. Terhadap jumlah daun, klon Ciwidey paling sedikit (9 helai) dibandingkan klon lainnya (11-15 helai). Hasil dan komponen hasil terlihat bahwa klon Tawangmangu dan Krisik memiliki bobot umbi yang paling tinggi, yaitu masing-masing 66,67 g dan 58,33 g/tanaman dibandingkan 8 klon lainnya. Sedangkan klon Sanggah dan NTT memiliki bobot umbi terendah, yaitu hanya 23,67 g dan 24,33 g/tanaman. Adapun produksi total tertinggi dicapai oleh klon Tawangmangu dan Lumbu Hijau masing-masing mencapai 33,21 t/ha dan 29,49 t/ha.ABSTRACT. Hardiyanto, N.F. Devy, and A. Supriyanto. 2007. Exploration, Characterization, and Evaluation of Several Local Garlic Clones. Currently local garlics were rarely found in the market due to the flooding of imported garlic to Indonesia. Therefore, some efforts are needed to improve the productivity and quality as well as the conservation of local garlic clones. The aim of this research was to obtain some information on morphological characteristics of local garlic clones and the potential and prospective of local garlic clones which can compete with imported garlic. This research was conducted in Banaran Experimental Garden, Batu (900 m asl) from July to October 2005. Exploration was carried out in several centers of local garlic production. Characterization and evaluation were based on descriptor lists published by IPGRI such as morphology, yields, and quality. Randomized block design was used in this research consisted of 10 clones with 3 replications. Three new garlic clones were collected through exploration, those were Teki, Ciwidey, and Lumbu Kayu. Growth percentage of 10 local garlic clones grown in Banaran Experimental Garden, Batu was relatively high, it was 95%. Based on harvesting time, clones were classified into 3 groups, those were short period (90-110 days after planting) i.e: NTT, Teki, Sanggah, and Lumbu Kuning; medium period (111-131 days after planting) i.e.: Saigon, Lumbu Hijau, Krisik, Tawangmangu, and Ciwidey; and long period (more than 131 days after planting) i.e. Tiongkok. Plant height was varied between 9-26 cm. Plant height of Ciwidey and Tiongkok were relatively shorter than others, whereas diameter of Tawangmangu and Teki were relatively bigger than others. Total leaf number of Ciwidey (9 leaves) was lower than others (11-15 leaves). Based on yields and yield components, bulb weight of Tawangmangu and Krisik were higher than others, i.e. 66.67 g and 58.33 g/plant respectively, whereas Sanggah and NTT were lower than others, i.e. 23.67 g and 24. 33 g/plant. The high yield were performed by Tawangmangu and Lumbu Hijau, it reached 33.21 t/ha and 29.49 t/ha, respectively.
Peningkatan Pertumbuhan dan Regenerasi Eksplan Hasil Kultur Anther Anthurium Melalui Perbaikan Media Kultur Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n4.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Regenerasi kalus merupakan bagian yang paling sulit dalam kultur anther anthurium (Anthuriumandraeanum), karena respons pembentukan tunas yang lambat. Studi pertumbuhan dan regenerasi eksplan hasil kulturanther anthurium pada media regenerasi yang berbeda dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai PenelitianTanaman Hias dari bulan Januari sampai Desember 2008. Penelitian bertujuan mengetahui respons pertumbuhandan regenerasi variasi eksplan hasil kultur anther anthurium pada media regenerasi yang berbeda. Penelitian inimenggunakan kalus tumbuh lambat, kalus haploid, daun, dan petiol muda tanaman haploid sebagai eksplan. MediumWinarto (MW) dan Winarto-Rachmawati (MWR) merupakan media dasar yang digunakan dalam penelitian ini.Penelitian terdiri atas tiga percobaan untuk mempelajari pertumbuhan dan regenerasi, yaitu (1) kalus tumbuh lambat,(2) kalus haploid pada media regenerasi yang berbeda (MR-1 s/d MR-6), dan (3) daun dan petiol muda dari tanamanhaploid menggunakan medium regenerasi terseleksi. Percobaan pertama dan kedua disusun menggunakan rancanganacak lengkap (RAL), sementara percobaan ketiga disusun menggunakan RAL pola faktorial masing-masing denganempat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan kemampuan regenerasi eksplan hasil kulturanther anthurium berhasil ditingkatkan melalui perbaikan media kultur. Pertumbuhan kalus terbaik dari eksplan kalustumbuh lambat ditemukan pada MR-4, sedang kalus haploid pada MR-1. Jumlah bakal tunas per eksplan mencapaisekitar 20 bakal tunas, tetapi pembentukan tunas tertinggi yaitu 4,8 tunas per eksplan ditemukan pada MR-6. Daunmuda tanaman haploid no. 400 merupakan jenis eksplan dan tanaman haploid dengan respons pembentukan tunastertinggi yang mencapai 6,0 tunas per eksplan dibandingkan eksplan dan tanaman haploid yang lain. Media terseleksihasil penelitian dapat diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah regenerasi eksplan pada kultur in vitro anthuriumyang lain.ABSTRACT. Winarto, B. 2010. Increase of Growth and Explants Regeneration Derived from Anther Cultureof Anthurium via the Improvement of Culture Medium. Callus regeneration was an important problem in antherculture of anthurium due to slow response in shoot regeneration. A study of growth and regeneration of explantsderived from anther culture of anthurium in different regeneration media were conducted at Tissue Culture Laboratoryof Indonesian Ornamental Crops Research Institute from January to December 2008. The objective of the researchwas to determine the growth and regeneration of explants on different regeneration media. Slow growth, haploidcallus, young leaf, and petiole of different haploid plants were used in the study, while media of MW and MWRwere two basic media applied in the experiment. There were three experiments in the research i.e. to study thegrowth and regeneration of (1) slow growth, (2) haploid callus on different regeneration media, and (3) young leafand petiole of different haploid plants on selected regeneration medium. The experiment I and II were arranged witha completely randomized design (CRD) and the experiment III used factorial CRD with four replications. Resultsof the studies indicated that growth and regeneration capacity of explants derived from anther culture of anthuriumwere successfully increased via culture medium improvement. The best growth response of slow growth callus wasdetermined on MR-4, while haploid callus was on MR-1. Initial shoots produced per explant were up to ± 20 initialshoots, but the highest shoot number up to 4.8 shoots produced per explant was established on MR-6. Young leavesof haploid plant no. 400 were the appropriate explant and the donor plant in obtaining the highest callus formation,growth and regeneration with 6.0 shoots per explant. The selected media established in the study can be applied toovercome explant regeneration problems in in vitro culture of other anthuriums.
Pengaruh Kerapatan Tanaman dan Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh terhadap Produksi Umbi Bibit Bawang Merah Asal Biji Kultivar Bima Nani Sumarni; Ety Sumiati; - Suwandi
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 3 (2005): September 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n3.2005.p%p

Abstract

Tujuan penelitian adalah menentukan kerapatan tanaman dan konsentrasi aplikasi ZPT mepiquat klorida 50 AS yang tepat untuk produksi umbi bibit bawang merah asal biji botani (TSS). Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terpisah dengan tiga ulangan. Tiga macam kerapatan tanaman 5 x 5 cm (400 tanaman/m2), 5 x 7,5 cm (266 tanaman/m2), dan 5 x 10 cm (200 tanaman/m2) ditempatkan sebagai petak utama dan empat konsentrasi ZPT mepiquat klorida 50 AS, 0, 2, 4 dan 6 ml/l ditempatkan sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan tanaman paling tepat untuk produksi umbi bibit bawang merah asal TSS adalah 400/m2 (5 x 5 cm) dengan jumlah umbi berukuran kecil (2,5-5 g/umbi) paling banyak dan tidak menghasilkan umbi bibit mini (1-2 g/umbi). Kerapatan tanaman 200/m2 lebih cocok digunakan untuk produksi umbi konsumsi asal TSS dengan 50% umbi yang dihasilkan berukuran besar (>7,5 g/umbi). Aplikasi ZPT mepiquat klorida 50 AS tidak meningkatkan pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah asal TSS, tetapi pada konsentrasi 6 ml/l dapat meningkatkan persentase jumlah umbi berukuran besar (>7,5 g/umbi). Hasil penelitian diharapkan berguna untuk meningkatkan produksi dan kualitas umbi bibit bawang merah.Effect of plant densities and application of plant growth regulator on seed bulb yield of shallot from true seed of cultivar bima. The objectives were to determine the proper plant density in combination with application of mepiquat chloride 50 AS for production of seed bulb of shallot from true seed. A split plot design with three replications was set up in this experiment. Three levels of plant densities of 5 x 5 cm (400 plants/m2), 5 x 7.5 cm (266 plants/m2), and 5 x 10 cm (200 plants/m2) were assigned to main plots and plant growth regulator mepiquat chloride 50 AS concentrations of 0, 2, 4, and 6 ml/l were assigned to subplots. The results revealed that proper plant density to produce seed bulb from true seed was 400 plants/m2 which produced the highest percentage of small size bulb (2.5-5 g/bulb) and did not produce mini shallot bulb (1-2 g/bulb). Plant density of 200 plants/m2 was proper to produce consumption bulb from true seed, this treatment produced big size bulb (>7.5 g/bulb) more than 50%. Application of PGR mepiquat chloride 50 AS did not increase growth and bulb yield of shallot, however at concentration of mepiquat chloride 50 AS 6 ml/l could increase number of big size bulb (>7.5 g/bulb). This results can improve quality and production of shallot seed.
Identifikasi Patogen Penyebab Busuk Pangkal Batang pada Tanaman Jeruk di Tanah Karo A E Marpaung; Frit H Silalahi; EIY Purba
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n3.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Pertanaman jeruk saat ini, di Kabupaten Karo, memperlihatkan produktivitas rendah dan umur tanamanyang pendek. Hal tersebut disebabkan oleh serangan Phytophthora spp. yang merupakan patogen penyebab penyakitbusuk pangkal batang pada tanaman jeruk. Penelitian bertujuan mengidentifikasi Phytophthora spp., patogen penyebabpenyakit busuk pangkal batang pada tanaman jeruk. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit, Kebun PercobaanTanaman Buah Berastagi dalam bulan Januari-Februari 2007. Daerah pengambilan sampel ialah di Desa SumbulKecamatan Kabanjahe, dan Desa Barusjahe Kecamatan Barusjahe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamurPhytophthora palmivora, P. citrophthora, dan P. parasitica ditemukan di Desa Sumbul. Jamur P. citrophthora danP. parasitica juga diperoleh di Desa Barusjahe. Sporangia dan misellium P. palmivora di Desa Sumbul berwarnamerah jambu dan putih, P. citrophthora berwarna putih dan hijau kehitaman, serta P. parasitica berwarna putihdan kuning muda, sedangkan di Desa Barusjahe P. citrophthora berwarna putih dan merah jambu dan P. parasiticaberwarna putih. Ukuran (panjang x lebar) sporangia P. palmivora (33-45) x (30-50) μm, P. citrophthora di DesaSumbul (40-50) x (34-50) μm, dan di Desa Barusjahe (30-45) x (30-45) μm, P. parasitica di Desa Sumbul (33-35) x(29-30) μm, dan di Desa Barusjahe (30-40) x (28-30) μm. Ukuran sporangiofor P. palmivora pada umumnya sebesar6,25-250 μm, panjang sporangiofor P. citrophthora di Desa Sumbul antara 25-68,75 μm dan di Desa Barusjahe12,5-100 μm, sedangkan panjang sporangiofor P. parasitica di Desa Sumbul 43,75-162,5 μm dan di Desa Barusjahe6,25-150 μm. Spesies phytophthora yang paling banyak ditemukan di Desa Sumbul adalah P. palmivora, sedangkandi daerah Barusjahe adalah P. citrophthora. Hasil identifikasi yang diperoleh dari penelitian ini akan bermanfaatdalam menentukan cara pengendalian Phytophthora spp. pada tanaman jeruk.ABSTRACT. Marpaung, A.E., F.H. Silalahi, and E.I.Y. Purba. 2010. Identification of the Causal Agent ofBrown Rot Gummosis on Citrus in Karo Region. Citrus cultivation in Karo region has exhibited low yieldingand short plant lifetime. This condition was caused by the infection of Phytophthora spp., the causal agent of brownrot gummosis on citrus. The objectives of the research was to identify the occurence of Phytophthora spp. on citrusplants. The research was conducted in Berastagi Fruits Plant Research Farm, from January to February 2007. Thesamples were collected from Kabanjahe District at the viilage of Sumbul and Barusjahe. The results indicated, thatPhytophthora palmivora, P. citrophthora, and P. parasitica were obtained from Sumbul village, while P. citrophthoraand P. parasitica were also found in Barusjahe village. The color of sporangia and misellium of P. palmivora originatedfrom Sumbul Village was white, P. citrophthora was white and dark green, and P. parasitica were pink and yellow,meanwhile the color of at P. citrophthora obtained from Barusjahe village were white and pink and P. parasitica waswhite. The size of sporangia P. palmivora was (33-45) x (30-50) μm, P. citrophthora at Sumbul Village was (40-50)x (34-50) μm, and from Barusjahe Village was (30-45) x (30-45) μm, P. parasitica at Sumbul Village was (33-35)x (29-30) μm and Barusjahe Village was (30-40) x (28-30) μm. The general length of sporangiofor P. palmivorawas 6.25-250 μm. The length of sporangiofor P. citrophthora at Sumbul Village was 25-68.75 μm and at BarusjaheVillage was 12.5-100 μm, even though P. parasitica at Sumbul Village was 43.75-162.5 μm and Barusjahe Village was6.25-150 μm. The most species of phytophthora found at Sumbul Village was P. palmivora and at Barusjahe Villagewas P. citrophthora. The result of the identification wil beneficial for the development of easier control measures ofPhytophthora spp. disease on citrus.

Page 86 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue