cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Preferensi Konsumen Hotel terhadap Bunga Potong Gerbera - Nurmalinda; A Yani
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n4.2009.p%p

Abstract

Gerbera merupakan salah satu jenis bunga potong yang banyak diminta pasar. Dilihat dari besarnyapenjualan bunga potong gerbera di pasar bunga Rawabelong, berarti terbuka peluang bagi petani untuk meningkatkanproduksi bunga potong tersebut. Namun demikian, satu hal yang harus diperhatikan bahwa jenis bunga potonggerbera cukup banyak, sehingga perlu dipilah jenis-jenis yang paling disukai konsumen. Tujuan penelitian adalahuntuk mengetahui preferensi konsumen hotel terhadap bunga potong gerbera. Penelitian dilakukan di hotel-hotelberbintang 4 dan 5 di wilayah DKI Jakarta, pada bulan September 2005-Februari 2006. Pemilihan hotel berbintang 4dan 5 adalah dengan pertimbangan bahwa hotel tersebut merupakan sentra kegiatan pelaku bisnis yang menggunakanrangkaian bunga segar sebagai dekorasi ruangan. Responden penelitian adalah konsumen antara, yaitu floris-florishotel yang menyediakan bunga untuk dekorasi ruangan hotel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang palingmemengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian bunga potong adalah pendidikan. Dari sisi produk, gerberayang banyak dicari konsumen adalah yang berkualitas tetapi harga tidak terlalu mahal dan diantar ke tempat olehsupplier. Promosi bunga melalui pameran merupakan salah satu kemudahan bagi responden untuk mendapatkaninformasi mengenai bunga potong umumnya dan gerbera khususnya. Selain itu, konsumen floris menyukai gerberaintroduksi yang sudah lama dikembangkan di Indonesia atau sering disebut sebagai jenis lokal, semua warna, ukuranbunga sedang, ketahanan bunga sekitar 5 hari.ABSTRACT. Nurmalinda and A. Yani. 2009. Hotel Consumer Preference on Gerbera Cut Flower. Gerberais one of cut flowers that has high market demand. High selling of gerbera cut flower in Rawabelong is a signal forfarmers to increase their production. However, it should be noted that the type of gerbera is quite a lot. Therefore,farmer should be aware of the type of gerbera mostly desired. This study was intended to examine hotel consumerpreference on gerbera cut flower. The research was carried out in 4 and 5 star hotel in Jakarta from September 2005to February 2006. Ten of 4 star hotels and 9 of 5 star hotels were selected purposively based on the potential ofbussinesmen using flower arrangement for room decoration. The florists of these hotels who provided flower forroom decoration were chosen as respondents. The results indicated that the main factor influenced the consumersto buy flower was education. In term of product, gerbera mostly demanded by consumers was of best quality, withreasonable price, and delivered by supplier. Flower exhibition provided an easy opportunity to get information oncut flowers in general and especially for gerbera. Furthermore, florist prefered gerbera that has been introduced anddeveloped in Indonesia for decades, or so called local variety of all color, medium size, 5 days vaselife.
Respons Tanaman Tomat terhadap Penggunaan Pupuk Majemuk NPK 15-15-15 pada Tanah Latosol pada Musim Kemarau Subhan, -; Nurtika, Nunung; gunadi, Nikardi
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n1.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Percobaan bertujuan mendapatkan dosis pupuk majemuk NPK 15-15-15 yang optimal untuk pertumbuhandan hasil, serapan N, P, dan K pada tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan pada tanah Latosol milik petani di DesaSukaresik (700 m dpl), Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada bulan Mei sampai November 2005. Perlakuan pupukmajemuk NPK 15-15-15 dosis 0, 250, 500, 750, 1.000, dan 1.250 kg/ha disusun dalam rancangan acak kelompokdengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk majemuk NPK 15-15-15 dosis 1.000 kg/hamemberi pengaruh terbaik terhadap tinggi tanaman, serapan N, P, dan K, bobot basah dan kering tanaman serta hasilbuah tomat. Kebutuhan pupuk untuk tanaman tomat pada tanah Latosol di Sumedang adalah 213,07 kg N/ha, 28,51kg P/ha, dan 35,69 kg K2O/ha.ABSTRACT. Subhan, N. Nurtika, and N. Gunadi. 2009. Response of Tomato Plant to Compound FertilizerNPK 15-15-15 in Dry Season. An experiment was set up to determine the optimum dosage of compound fertilizerNPK 15-15-15, and uptake of N, P, and K on tomato grown in Latosol soil type. The experiment was conducted atfarmer’s field in the village of Sukaresik Sumedang District (700 m asl), West Java from May until November 2005.The treatments were dosages of compound fertilizer NPK 15-15-15, i.e. 0, 250, 500, 750, 1,000, and 1,250 kg/ha,arranged in a randomized block design with 3 replications. The results showed that dosage of NPK 15-15-15 at 1,000kg/ha gave the best results to the plant height, N, P, K uptake, wet and dry weight of tomato plant, as well as yield oftomato. It could be recommended that fertilization on tomato on latosol soil type in Sumedang was 213.07 kg N/ha,28.51 kg P/ha, and 35.69 kg K2O/ha.
Pengaruh Enzim Organik Campuran terhadap Kualitas Bibit Bawang Daun dalam Penyimpanan Soedomo, Raden Prasodjo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n3.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Kebiasaan penanaman bawang daun oleh petani di Indonesia menggunakan anakan, induk, dan hampir tidak ada yang menggunakan biji. Pengiriman bibit ke luar daerah sering mengalami kerusakan sebelum sampai ke tempat tujuan. Percobaan ini bertujuan mengetahui pengaruh enzim organik campuran guna mengetahui pengaruhnya terhadap daya simpan bibit bawang daun. Percobaan dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (1.250 m dpl), Jawa Barat, pada bulan Agustus sampai Desember 2005 untuk penyimpanan dan di lapangan untuk tes pertumbuhan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap untuk di laboratorium dan acak kelompok untuk di lapangan, dengan model rancangan petak-petak terpisah dengan 3 ulangan. Kombinasi perlakuan ada 24, rincian perlakuan terdiri atas media simpan (petak utama): A (A1= pembanding/tanpa menggunakan media/kering, A2=kontrol/menggunakan air, A3=Dufic 0,1 ml/l air, A4=Dufic 0,2 ml/l air), ukuran bibit (anak petak): B (B1=super/ panjang batang palsu >15 cm dan diameternya >15 mm, B2=medium/panjang batang palsu 10-15 cm, dan diameter batang 10-15 mm dan B3=kecil atau pendek/panjang batang palsu <10cm, dan diameter batang <10 mm), lokasi penyimpanan (anak-anak petak): C (C1=tempat terbuka/greenhouse, C2=tempat tertutup/Laboratorium Benih). Hasil percobaan menunjukkan bahwa bibit bawang daun dapat disimpan maksimum 6 hari dengan syarat batangnya tidak terendam larutan Dufic 508 dosis 0,1 ml/l air dan bibit yang ukurannya besar mampu menstimulir aktivasi metabolisme sel dalam bentuk rendahnya kerusakan bibit dan berpengaruhnya terhadap partumbuhan tinggi tanaman. Interaksi perlakuan terbaik adalah penggunaan Dufic 508 dosis 0,1 ml/l air dan ukuran bibit super yang disimpan di dalam ruangan tertutup.ABSTRACT, Soedomo, R.P. 2006. The effect of organic enzyme mixture on bunching onions planting material quality in storage. Commonly Indonesian farmers use sucker of bunching onion as a planting material and never use seeds. Planting material transportation outside region encountered damages before reached the destination. The objective of this trial was to determine the effect of mixture of organic enzyme (Dufic 508) on bunching onions planting material storage quality. The experiment was carried out in the laboratory of Seed Technology and in the field of Indonesian Vegetable Research Institutes (1,250 m asl), West Java, from August to December 2005. The experimental design was a RBD for seed laboratory study and a RCBD for field test, a split split plot design with 3 replications. The treatment combinations were: keeping media (main plot) (A1=standard/without media/dry, A2=control/used water, A3=Dufic 0.1 ml/l of water, A4=Dufic 0.2 ml/1 of water), B. Planting material size (subplot) (B1=super/length of stem >15 cm and diameter > 15mm, B2 = Medium/length of stem 10-15 cm and diameter 10-15 mm, B3=small or short/stem <10 cm and diameter <10 mm), C. Storage (subsubplot) (C1=open storage/greenhouse, C2=close storage in the seed laboratory). The results showed that the planting material of bunching onion could be kept maximum for 6 days with unsoaked stem, Dufic 508 dosage 0.1 ml/1 liter of water in combination with super size of planting material could stimulate metabolism activation of plant cells described by decreasing of planting material damages and increasing of plant height. Interaction between Dufic 508 with dosage 0.1 ml/l of water, super size of planting material and keep in closed storage was the best.
Aktivitas Antijamur Minyak Atsiri terhadap Penyakit Antraknos Buah Pisang di Penyimpanan pada Kondisi Laboratorium Mizu Istianto; - Eliza
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n2.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Antraknos yang disebabkan oleh Colletotrichum sp. merupakan penyakit penting yang menyerangbuah pisang pada penyimpanan. Teknologi yang direkomendasikan untuk mengendalikan penyakit ini adalah denganpenerapan perlakuan panas dan penggunaan fungisida. Teknologi alternatif yang mempertimbangkan keamanankonsumen dan lingkungan sangat diperlukan untuk menggantikan penggunaan fungisida. Tujuan penelitian adalahmengevaluasi aktivitas antijamur beberapa minyak atsiri yang diekstrak dari daun kayu manis, sereh wangi, dankulit jeruk besar terhadap penyakit antraknos. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman BalaiPenelitian Tanaman Buah Tropika pada suhu ruang mulai dari bulan Januari sampai Mei 2007. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa minyak atsiri mampu menekan perkembangan miselium jamur Colletotrichum sp.. Minyakatsiri yang diekstrak dari daun kayu manis mempunyai nilai penghambatan tertinggi (65-72%) terhadap pertumbuhanmiselium Colletotrichum sp., diikuti oleh nilai penghambatan minyak atsiri sereh wangi (62-64%), dan kulit jerukbesar (14-19%). Hasil ini menunjukkan bahwa minyak atsiri mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkansebagai teknologi alternatif yang mempertimbangkan keamanan konsumen dan lingkunganABSTRACT. Istianto, M. and Eliza. 2009. Antifungal Activity of Essential Oils Against Anthracnose Disease onBanana Fruit During Storage at Laboratory Conditions. Anthracnose, caused by Colletotrichum sp., is importantdisease attacking banana fruit during storage. The technologies recommended to control anthracnose were fungicideand heat treatment application. Alternative technologies that considered safe to consumer and environment areneeded to replace the use of fungicides. The aim of this experiment was to evaluate antifungal activity of essentialoils extracted from Cinnamomum burmanni, Cymbopogon nardus, and Citrus grandis against anthracnose disease.The experiment was conducted in the Plant Protection Laboratory of Indonesian Tropical Fruit Research Institute atroom temperature from January to May 2007. The results showed that essential oils was able to suppress the growthof Colletotrichum sp’s mycelial. Essential oil extracted from C. burmanni had highest inhibition value (65-72%) tothe mycelial growth of Colletotrichum sp., followed by C. nardus (62-64%), and C. grandis (14-19%). This resultsindicated that essential oils had good potential to be developed as alternative technology to control anthracnose diseaseconsidering the consumer and environment safety.
Kebergantungan Dua Kultivar Pepaya terhadap Cendawan Mikoriza Arbuskula Irwan Muas
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n2.2005.p%p

Abstract

Dua kultivar pepaya telah diinokulasi dengan lima spesies cendawan mikoriza arbuskula (CMA) dalam sebuah percobaan di rumahkaca. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebergantungan dua kultivar pepaya terhadap cendawan mikoriza. Penelitian dilaksanakan di Rumahkaca Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung, dari bulan Agustus sampai November tahun 2001. Penelitian ini disusun menurut rancangan acak kelompok dalam pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah isolat CMA, terdiri dari lima jenis ditambah kontrol (kontrol, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata, dan Scutellospora heterogama). Faktor kedua adalah kultivar pepaya, yaitu dampit dan sarirona. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua kultivar pepaya dapat berasosiasi dengan lima spesies CMA. Isolat A. tuberculata dan G. etunicatum serta kultivar sarirona, secara mandiri memberikan nilai lebih tinggi terhadap serapan fosfor, bobot kering pupus, dan relative mycorrhizal dependency (RMD). Acaulospora tuberculata dan G. etunicatum meningkatkan bobot kering pupus berturut-turut 1.137 dan 1.768% lebih tinggi dibanding kontrol, dengan nilai RMD 89,18 dan 94,29%. Kultivar sarirona mempunyai serapan fosfor, bobot kering pupus, dan nilai RMD yang lebih tinggi dibandingkan dampit. Penggunaan CMA mempunyai prospek yang baik untuk meningkatkan produktivitas pepaya terutama pada lahan bereaksi masam dan rendah fosfor.Mycorrhizal dependency of two papaya cultivars. Two papaya cultivars were inoculated with five species of arbuscular mycorrhizal fungus (AMF) in a greenhouse experiment. The aim of this experiment was to study mycorrhizal dependency on two papaya cultivars. The experiment was conducted at the Screenhouse of Agriculture Faculty of Padjadjaran University, Bandung, from August until November 2001. This experiment was laid in a randomized blocks design in factorial pattern with three replications. The first factor was the AMF isolates i.e. five AMF isolates plus control (control, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata, and Scutellospora heterogama). The second factor was papaya cultivars, consisted of dampit and sarirona. The results showed that both papaya cultivars could associated with five species AMF isolates. Acaulospora tuberculata, and G. etunicatum isolates, and sarirona cultivar independently gave higher phosphorus uptake, shoot dry weight, and relative mycorrhizal dependency (RMD). Acaulospora tuberculata, and G. etunicatum isolates increased shoot dry weight 1,137 and 1,768% respectively higher than control, with RMD values were 89.18 and 94.29%. Sarirona cultivar showed higher phosphorus uptake, shoot dry weight, and RMD values than dampit cultivar. The utilization of AMF has good prospect to increase papaya productivity, especially on acid and low phosphorus soils.
Pengaruh Durasi Pemanasan terhadap Keberadaan Chrysanthemum Virus-B pada Tiga Varietas Krisan Terinfeksi Budiarto, K; Sulyo, Y; Rahardjo, B; Pramanik, D
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n2.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Chrysanthemum virus-B (CVB) merupakan salah satu jenis virus penting yang dapat menyebabkan degenerasi pertumbuhan pada tanaman krisan. Usaha eliminasi virus pada tanaman terinfeksi merupakan salah satu upaya untuk mendapatkan kembali tanaman sehat dengan potensi genetik yang sesuai dengan varietas asalnya. Usaha eliminasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kombinasi metode pemanasan dan kultur meristem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi pemanasan terhadap kandungan partikel CVB pada plantlet 3 varietas krisan terinfeksi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Laboratorium Virologi Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari bulan Februari hingga Agustus 2005. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 5 ulangan. Faktor pertama adalah 3 varietas krisan yaitu Cut Nyak Dien, Sakuntala, dan Yellow Fiji. Faktor kedua adalah durasi terapi pemanasan dengan 3 taraf, yaitu 1, 2, dan 3 minggu pemanasan suhu 38-40oC. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan toleransi antarvarietas yang dicoba terhadap durasi suhu tinggi akibat perlakuan pemanasan. Pada ketiga varietas yang dicoba, jumlah plantlet hidup pascaperlakuan pemanasan menurun seiring dengan semakin lamanya durasi pemanasan. Persentase plantlet bebas virus semakin meningkat seiring dengan lamanya durasi pemanasan yang dilakukan dan perlakuan pemanasan selama 3 minggu yang diikuti kultur meristem secara efektif dapat membebaskan plantlet krisan dari infeksi CVB.ABSTRACT. Budiarto, K., Y. Sulyo, I.B. Rahardjo, and D. Pramanik. 2008. The Effect of Duration of Heat Treatment on Chrysanthemum Virus-B at Three Varieties of Infected Chrysanthemum. Chrysanthemum virus-B (CVB) is one of the important pathogenic viruses caused significant degeneration on chrysanthemum growth. Efforts have been made to get the healthy protocols by eliminating virus from the infected plants. One of the promising methods was the combination of heat treatments and meristem culture. The research was conducted to find out the influence of heat durations of meristem culture on the existence of CVB on infected chrysanthemum plants. The experiment was carried out in Tissue Culture Laboratory and Virology Laboratory of The Indonesian Ornamental Crops Research Institute from February until August 2005. A randomized completely block design with 5 replications was used. The first factor was 3 chrysanthemum varieties, namely Cut Nyak Dien, Sakuntala, and Yellow Fiji. The second factor was duration of heat treatments; 1, 2, and 3 weeks heat treatments at 38-40oC. The results of the experiment showed that different responses existed among varieties to heat durations. The plantlet survival rates also decreased in line with the length of heat duration. However, the percentage of virus-free plantlets increased along with the lengthened heat treatments. Three weeks heat treatment of meristem culture, effectively eliminated CVB from infected plantlets.
Karakter Fisiologis dan Peranan Antibiosis Bakteri Perakaran Graminae terhadap Fusarium dan Pemacu Pertumbuhan Tanaman Pisang Munif, A; Djatnika, I; Widodo, -
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n2.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Perakaran tanaman famili Graminae memiliki kerapatan populasi bakteri yang tinggi dan berpotensi digunakan sebagai agensia pengendalian hayati. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakter fisiologis bakteri rizosfer dan endofit perakaran tanaman famili Graminae serta peranannya sebagai bakteri antibiosis terhadap Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) secara in vitro dan pemacu pertumbuhan tanaman. Tanaman indikator yang digunakan dalam uji kemampuan bakteri dalam memacu pertumbuhan tanaman adalah mentimun. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikologi dan Rumah Kaca Institut Pertanian Bogor, berlangsung dari bulan Juni sampai November 2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perakaran rumput gajah memiliki kerapatan populasi bakteri rizosfer yang paling tinggi yaitu 8,12 log cfu/g bobot basah akar, sedangkan populasi bakteri endofit yang tertinggi ditemukan pada perakaran sorgum yaitu 4,02 log cfu/g bobot basah akar. Empat puluh dua isolat dari 182 isolat diuji karakter fisiologisnya menggunakan medium spesifik. Semua isolat yang diuji, masing-masing sebesar 60,41, 52,08, 4,16, 18,75, 52,09, dan 18,75%, memiliki kemampuan aktivitas selulolitik, proteolitik, kitinolitik, produksi HCN, mela-rutkan fosfat, dan fluoresensi. Berdasarkan hasil uji secara in vitro menggunakan rancangan acak lengkap, diketahui bahwa 21,45% dari isolat bakteri yang diuji, memiliki kemampuan antibiosis terhadap Foc, dan lebih sepertiganya (7,70%) berasal dari bakteri endofit perakaran padi. Persentase daya hambat bakteri pada media TSA lebih tinggi dibandingkan pada media PDA dan PDA+TSA. Dari hasil uji secara in vivo pada tanaman mentimun menggunakan rancangan acak kelompok, diketahui bahwa 22,92% dari 52 isolat bakteri yang diuji, dapat meningkatkan secara nyata pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa bakteri yang berasal dari rizosfer dan endofit perakaran Graminae mempunyai kemampuan menghambat perkembangan F. oxysporum f.sp. cubense secara in vitro dan meningkatkan pertumbuhan tanaman.ABSTRACT. Eliza, A. Munif, I Djatnika, and Widodo. 2007. Physiological Characters and Antibiosis Activity of Gramineous Crops Rhizobacteria, Againts Fusarium and Banana Growth Promoting. Roots of Gramineous colonized by various populated bacteria are potential as biological control agents to various soil-borne plant pathogens. This research was conducted to study some physiological characteristics, antibiosis activity to Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc), and plant growth promoting effect of gramineous crops roots bacteria to bananas. Cucumber was used as an indicator plant to detect plant growth activity. The experiment was conducted at Mycology Laboratory and Glasshouse Bogor Agriculture Institute from June until November 2003. Highest level population density of rhizobacteria (8.12 log cfu/g fresh root) was showed by giant grass roots, while endophytic bacteria were indicated by sorghum roots (4.02 log cfu/g fresh root). Forty two isolates of 182 isolates was physiologically characterized using specific medium. Among of tested bacteria, 60.41, 52.08, 4.16, 18.75, 52.09, and 18.75%, showed the capability in cellulolitic, proteolitic, HCN production, phosphate solubilization, and fluorescent activities, respectively. Using dual culture test of a randomized complete design, 21.45% of 182 isolates showed antibiosis activity against Foc, and more than one third (7.7%) of those were endophytic bacteria from rice roots. Inhibition ability of bacteria on TSA medium was higher than on PDA or PDA + TSA. Based on bioassay test in greenhouse used randomized block design, 22.92 % of 52 isolates have growth promoting activity on tested plant. Bacteria from rhizosphere and endophytic of Gramineous roots have ability to inhibit of F. oxysporum f. sp. cubense and increasing plant growth.
Pengaruh Penambahan Auksin dan Sitokinin terhadap Pertumbuhan Tunas Bawang Putih Karyadi, Asih Kartasih; Buchory, Abuchoir
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n4.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. � � � � o� o� K� � � � �� � � � Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh dari penambahan auksin dan sitokinin terhadap pertumbuhan tunas bawang putih kultivar Lumbu Kuning. Perlakuan yang diuji adalah media dasar B5 yang dikombinasikan dengan picloram (0, 0,1, dan 0,2 mg/l), BAP(0, 1, dan 2 mg/l), dan 2-ip (0, 1, dan 2 mg/l). Ada 18 komposisi media perlakuan. Sebagai eksplan digunakan jaringan meristematik bawang putih. Pengamatan dilakukan secara visual terhadap pertumbuhan eksplan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan dapat tumbuh dan berkembang di semua komposisi media. KoKontaminasi hanya terjadi pada beberapa kultur. Pertumbuhan eksplan yang normal ditunjukkan oleh pertumbuhan daun yang baik, lurus, dan mengarah ke atas. Tidak didapatkan perbedaan nyata pengaruh penambahan hormon picloram, 2-ip, dan BAP terhadap pertumbuhan plantlet. Namun secara umum kombinasi antara picloram dan 2-ip dapat mempercepat pertumbuhan tunas.ABSTRACT. Karjadi, A.K. and Buchory A. 2007. The Effect of Auxin and Cytokinin Concentration on Shoot Induction of Garlic. The experiment was conducted at tissue culture laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute. The objectives of the experiment were to find out the influence of picloram and cytokinin (BAP, 2-ip) concentration on shoo t induction of garlic cv. Lumbu Kuning. The experiment consisted of 18 media compositions, those were basal medium of B5 combined with picloram (0, 0.1, and 0.2 mg/l), BAP (0, 1, and 2 mg/l), and 2–ip (0, 1, and 2 mg/l) and the explants were from meristematic tissue/shoo t tip. Results of experiment showed that explants could be proliferated in all medium composition. There were no significant differences on medium with hormone picloram, 2–ip, or BAP. However combination of hormone picloram and 2–ip in the medium could accelerate shoo t growth of garlic.
Isolasi, Identifikasi, dan Karakterisasi Jamur Entomopatogen dari Rizosfir Pertanaman Kubis Nuraida, -; Hasyim, Ahsol
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n4.2009.p%p

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dan mengkarakterisasi jamur entomopatogen dari rizosfirpertanaman kubis. Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Entomologi dan Penyakit Tumbuhan, FakultasPertanian Universitas Andalas dan Laboratorium Entomologi, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok dariMaret sampai Agustus 2006. Pengujian sporulasi jamur entomopatogen menggunakan rancangan acak lengkap polafaktorial dengan 2 faktor yaitu jenis isolat dan substrat. Sebanyak 500 g tanah diambil dari pertanaman kubis di PadangPanjang (Desa Koto Panjang) dan Alahan Panjang (Desa Rimbo Data) kemudian dimasukkan ke dalam kotak plastik.Sebanyak 10 ekor Tenebrio molitor stadia larva instar ketiga yang baru berganti kulit dimasukkan ke dalam kotakyang berisi tanah, kemudian ditutup dengan selapis tipis tanah dan dilembabkan dengan menyemprotkan akuadessteril di atasnya sebanyak 100-150 ml. Kotak tersebut diletakkan di laboratorium dengan kelembaban >90%. Larvayang terinfeksi setelah 3-4 hari digunakan sebagai sumber isolat jamur entomopatogen. Hasil penelitian menunjukkanbahwa jamur yang menginfeksi T. molitor adalah jamur entomopatogen yang dapat menyebabkan kematian hamakrop kubis Crocidolomia pavonana F.. Enam jenis jamur patogen serangga berhasil dibiakkan pada media SDAY.Genus jamur patogen tersebut adalah Fusarium sp., Beauveria sp., Metarhizium sp., Nomuraea sp., Paecilomycessp., dan Achersonia sp.. Beras dan gandum adalah substrat yang paling baik bagi perbanyakan dan pertumbuhankoloni jamur dibandingkan substrat lainnya. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa spesies jamur entomopatogentersebar secara alami di lingkungan kebun tanaman kubis.ABSTRACT. Nuraida and A. Hasyim. 2009. Isolation, Identification, and Characterization of EntomopathogenicFungi from Rhizosphere of Cabbage Plant. This experiment was conducted at Entomology and PhytopathologyLaboratory Faculty of Agriculture, Andalas University and Entomology Laboratory of Tropical Fruit ResearchInstitute, Solok, West Sumatera, from March to August 2006. A factorial completely randomized design with 2factors, i.e. fungi isolates and its substrates was applied. About 500 g soil samples were collected from cabbagefields in Padang Panjang (Koto Panjang Village) and Alahan Panjang (Rimbo Data Village) and placed into plasticbags. The soils were screened for the presence of entomopathogenic fungi. The new third instars larvas of Tenebriomolitor L. were used as baits. About 10 larvae were placed on the soil surface in plastic bowl and covered withlid. Then the bowl was incubated under laboratory condition with >90% RH. The infected larvas, after 3-4 days,were used as source of entomopathogenic fungi isolate. The results showed that fungi isolated from T. molitor baitwere all entomopathogenic causing mortality of Crocidolomia pavonana. Six entomopathogens were successfullycultured on SDAY. These were Fusarium sp., Beauveria sp., Metarhizium sp., Nomuraea sp., Paecilomyces sp., andAchersonia sp.. Rice and wheat produced better cultures and growth of fungal colony than those other substrates.The present study has provided strong evidence that entomopathogenic fungal species were naturally spread in thesoil environment of cabbage field.
Keragaman Genetik Plasma Nutfah Anggrek Spathoglottis Kartikaningrum, Suskandari; Effendie, K
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n4.2005.p%p

Abstract

Plasma nutfah diperlukan untuk menjaga agar suatu spesies atau kultivar tidak punah dan dapat digunakan sebagai sumber keragaman genetik dalam menciptakan atau merakit varietas unggul baru. Keragaman tanaman sangat penting dalam program pemuliaan tanaman, untuk memperbaiki kualitas genetik tanaman pada masa mendatang. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, pada bulan Juli 2004-Februari 2005. Penelitian bertujuan mengetahui heritabilitas dan keragaman genetik koleksi plasma nutfah anggrek Spathoglottis. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap, terdiri atas 15 genotip anggrek Spathoglottis, masing-masing spesies digunakan 5 klon sebagai ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman genetik yang luas dimiliki oleh karakter panjang daun, lebar daun, pertambahan jumlah anakan, panjang bunga, lebar bunga, panjang bibir, dan lebar bibir. Karakter-karakter, seperti pertambahan jumlah anakan, panjang dan lebar daun, panjang tangkai bunga, diameter tangkai bunga, panjang dan lebar bibir, rasio panjang-lebar bibir, panjang dan lebar bunga mempunyai nilai duga heritabilitas tinggi.Genetic variability of the germplasm of Spathoglottis. Orchid need to be kept as a species or cultivar to avoid from totally extinct. They can be used as the source of genetic variability in developing new superior varieties. Variability of the crop is very importance in plant breeding program to improve plant genetic quality in the future. The research was conducted in Indonesian Ornamental Crops Research Institute (IOCRI) from July 2004–February 2005. The aim of the research was to study the genetic variability and heritability of germplasm collection of Spathoglottis orchid. Randomized completely design was used consisted of 15 orchid genotypes. Five clones from each genotype were used as replication. The result indicated that wide genetic variability was related to length and width of leaf, number of shoot increament, length and width of flower, length and width of lip. Characters, such as number of shoot increament, length and width of leaf, length and diameter of flower stalk, length and width of lip, ratio of lip length-width, length and width of flower showed high heritability value.

Page 89 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue