cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Studi Kultur Anther pada Aksesi Anthurium Lokal Budi Winarto; N A Mattji
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n4.2009.p%p

Abstract

Kultur anther merupakan salah satu terobosan teknologi dalam kultur jaringan untuk menyediakantanaman homozigot dalam waktu yang singkat. Aplikasi kultur anther pada aksesi Anthurium lokal dapat dilakukanuntuk menyediakan tetua homozigot yang tahan terhadap penyakit hawar daun. Penelitian bertujuan menguji responsbeberapa aksesi Anthurium lokal terseleksi dalam kultur anther dan kemampuan regenerasi kalus pada berbagai mediaregenerasi. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Januarihingga Desember 2006. Anther diisolasi dari aksesi Anthurium lokal Cipanas Merah, Cipanas Putih, Cihideung-Lembang Merah, Sukabumi Putih, dan Salatiga Putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa aksesi Anthuriumlokal memberikan respons yang berbeda terhadap kemampuan induksi kalus. Aksesi Cipanas Putih merupakan aksesiyang paling responsif dibandingkan aksesi lainnya dengan persentase pembentukan kalus tertinggi (5,2%). Kalus yangterbentuk dalam kultur anther memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap inkubasi terang dan tumbuh lebihcepat dibandingkan dengan aksesi yang lain. Kalus hasil kultur anther aksesi Cipanas Putih memiliki kemampuanregenerasi yang tercepat (1,5-2,5 bulan) dan jumlah bakal tunas terbanyak (2,2-5,7 tunas). Media MMS-IIIR danMMS-TBN merupakan media yang sesuai untuk regenerasi tunas dari kalus hasil kultur anther aksesi Cipanas Putih.Media tersebut juga sesuai untuk inisiasi kalusABSTRACT. Winarto, B. and N.A. Mattjik. 2009. Studies on Anther Culture of Local Accessions of Anthurium.Anther culture is a technological breakthrough in tissue culture to provide homozygot plants in a shorter periodcompared to conventional method. Anther culture applied for local Anthurium accession for getting desistant motherplant against light blight. Anther culture application aimed to evaluate responses of anther culture of local accessionof Anthurium and capacity of callus regeneration derived from it, in different regeneration media. The study wasconducted at Tissue Culture Laboratory and Glasshouse of Indonesian Ornamental Crops Research Institute fromJanuary to December 2006. Anthers of local accession of Cipanas Merah, Cipanas Putih, Cihideung-Lembang Merah,Sukabumi Putih, and Salatiga Putih were used in this research. The results indicated that among local accessions ofAnthurium tested had different responses in their capacity to produce callus. Cipanas Putih accession was the mostresponsive accession in callus formation (5.2%). Callus derived from this accession grew better and faster than otheraccessions and easily adapted under light incubation. Callus resulted from anther culture of Cipanas Putih accessionexhibited faster regeneration (1.5-2.5 months) and produced highest number of shoots per callus (2.2-5.7 shoots).The MMS-IIIR and MMS-TBN media were the appropriate media for shoot regeneration of callus produced fromanther culture of Cipanas Putih accession. The media was also suitable for callus initiation.
Perbaikan Produksi Jamur Tiram dengan Modifikasi Bahan Baku Utama Media Bibit Ety Sumiati; E Suryaningsih; - Puspitasati
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n2.2006.p%p

Abstract

Faktor budidaya jamur tiram yang terpenting adalah aplikasi media bibit induk yang berkualitas. Penelitian dilakukan di laboratorium Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl.) dari bulan September 2003 sampai Maret 2004.Tujuan penelitian untuk mendapatkan jenis bahan baku media bibit jamur tiram dan lama waktu perebusan yang terbaik sebelum disusun sebagai formula media bibit. Kriteria kualitas media bibit dinyatakan dalam satuan waktu, yaitu kecepatan waktu awal dan waktu akhir miselium tumbuh memenuhi botol wadah media bibit. Rancangan percobaan menggunakan RAK pola faktorial dengan 2 ulangan. Faktor pertama lama waktu perebusan awal bahan baku. Faktor kedua jenis bahan baku utama media terdiri atas 21 jenis. Formula media bibit induk juga menggunakan standar formula petani. Bibit jamur tiram menggunakan spesies Pleurotus ostreatus strain Florida dari Applied Plant Research, Belanda. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa hampir semua jenis bahan baku yang dicoba dapat digunakan sebagai media bibit kecuali biji oat. Bahan baku utama media bibit induk jamur tiram yang terbaik adalah millet + SKG 1:1, yaitu  menghasilkan koloni miselium yang kompak, berwarna putih bersih, dan pertumbuhannya konsisten. Bahan baku SKG, beras merah, dan millet tidak perlu direbus, sedangkan oat, wheat, jali lokal tidak dikupas, jali impor, kacang merah, dan kacang hijau perlu direbus selama 15-30 menit.The  very  important step in oyster mushrooms cultivation is application of high quality  of  spawn media. The study was conducted at Ecophysiology Lab. Indonesian Vegetables Research Institute in Lembang (1,250 m asl) from September 2003 to March 2004. The goals of this experiment were to get proper kinds of raw materials for spawn media, and the duration of media sterilization. Criteria of good raw materials for spawn media is expressed in minimum total days needed for the growth of mycelium to cover the spawn media (full colonization). A randomized block design with a factorial pattern was set up. The first factor was duration of sterilization by boiling of main raw materials for 0, 15, 30, and 45 minutes, respectively. The second factor was 21kinds of raw materials including formula for spawn media used by farmers. All treatment combinations were replicated 2 times. Oyster mushroom species used in the experiment was white Pleurotus ostreatus strain  Florida from Applied Plant Research, Netherlands. Research results revealed that in general almost all kinds of raw materials and their combinations were suitable for spawn media of oyster mushroom, except oat grains. The best raw material for spawn media was millet grains+sawdust 1:1. This combination gave the highest quality of mycelium performance with compact colonization, consistent growth, and very clean-white mycelium. Sawdust, red rice, and millet were the best spawn media and can be used directly, while oat, wheat, local jali, imported jali, red bean, and mungbean can be used through 15-30 minutes sterilization.
Teknik Enfleurasi dalam Proses Pembuatan Minyak Mawar - Yulianingsih; Dwi Amiarsih; Sabari Sosro Diharjo
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n4.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Hias Jakarta dari bulan Juni 1998 sampai bulan Mei 1999. Penelitian bertujuan memperoleh jenis dan komposisi lemak hewan yang tepat untuk proses enfleurasi minyak mawar. Teknik enfleurasi dalam proses pembuatan minyak mawar dicoba dengan bahan dasar bunga mawar merah tabur asal Bandungan, Jawa Tengah. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan 3 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah (a) campuran lemak sapi + lemak ayam (1:1; 1:2; 1:3, 2:1, dan 3:1), (b) campuran lemak kambing dan lemak ayam (1:1, 1:2, 1:3, 2:1, dan 3:1), dan (c) campuran lemak sapi + kambing + ayam (2:1:0,5 dan 2:1:1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik adalah campuran lemak hewan dengan perbandingan lemak sapi:lemak kambing:lemak ayam sebesar 2:1:1, yang mempunyai tingkat kekerasan 13,2 mm/5 detik/50 g pemberat, dan bertekstur halus. Rendemen absolut yang dihasilkan mencapai 0,076-0,174% dengan indeks bias 1,46-1,53 dan komponen utama penyusun absolut mawar adalah fenil etil alkohol (11,76-22,34%), sitronelol (2,71-6,05%), dan geraniol (3,37-4,99%). Teknik enfleurasi dapat digunakan dalam produksi minyak mawar bermutu.ABSTRACT. Yulianingsih, D. Amiarsi, and Sabari S. 2007. The Enfleuration Tehnique for Producing Rose Oil. The research was conducted at Indonesian Ornamental Plant Research Institute Laboratory in Jakarta from June 1998 to May 1999. The aim of the experiment was to find out the appropriate composition and kinds of animal fat for enfleuration process for producing rose oil. The enfleuration technique was used to produce volatile oil from red rose flowers from Bandungan, Central Java. Experiment was arranged in a factorial completely randomized design with 3 replications. The treatments were (a) mixture of animal fat of cow + chicken with ratio (1:1, 1:2, 1:3, 2:1, and 3:1), (b) mixture of animal fat of goat + chicken (1:1, 1:2, 1:3, 2:1, and 3:1), and (c) mixture of animal fat of cow + goat + chicken (2:1:0,5 and 2:1:1). The results of the experiment indicated that the best treatment was absorbent mixture of animal fat of cow, goat, and chicken with ratio of 2:1:1 with consistency of 13.2 mm/5 sec/50 g ballast, soft enough, and smooth texture. The rendement of absolute was about 0.076-0.174%, with refraction index 1.46-1.53, and the main components were phenyl ethyl alcohol (11.76-22.34%), citronellol (2.71-6.05%), and geraniol (3.37-4.99%). This enfleuration technique can be used to produce rose absolute with high quality.
Cara Aplikasi dan Takaran Pupuk terhadap Pertumbuhan dan Produksi Krisan Rahayu Tedjasarwana; Evi Dwi Nugroho; Yusdar Hilman
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n4.2011.p306-314

Abstract

Krisan merupakan salah satu tanaman hias penting dalam industri florikultura di Indonesia. Dalam budidayanya, pertumbuhan dan produktivitas krisan sangat dipengaruhi oleh pemberian pupuk yang sesuai dan optimal. Pupuk N, P, dan K sering diaplikasikan tanpa memperhatikan cara aplikasi dan takaran yang tepat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui cara aplikasi dan takaran pupuk terhadap pertumbuhan dan produksi bunga krisan. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaaan  Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung 1.100 m dpl. dari bulan Januari sampai dengan Desember 2007. Bahan tanaman yang digunakan adalah krisan varietas Puspita Nusantara. Pupuk yang digunakan yaitu Urea, KNO3, dan SP-36. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama ialah cara aplikasi pupuk butiran dan fertigasi. Sebagai anak petak ialah takaran pupuk, yaitu tanpa pupuk, ½ takaran anjuran, 1 takaran anjuran, dan 1½ takaran anjuran. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian pupuk dengan cara ditabur dan fertigasi memberikan pengaruh yang sama, sedangkan takaran pupuk 1½ takaran anjuran menunjukkan pertumbuhan vegetatif dan jumlah bunga lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya (diameter batang terbesar 5,90 mm, panjang daun 8,41 cm, jumlah daun/tanaman tertinggi 37,5 helai, dan 10,5 kuntum/tanaman). Chrysanthemum is one of important ornamental crops on the floriculture industry in Indonesia. In Chrysanthemum cultivation, growth and productivity of it are significantly affected by application of appropriate fertilizer in optimal dosage. N, P, and K fertilizer were frequently applied without taking into consideration on its application method and appropriate dosage. The objective of this study was to determine effect of application method and dosage of fertilizer on plant growth and production of Chrysanthemum. The experiment was carried out at Segunung Field Experiment Station of Indonesian Ornamental Crops Research Institute 1,100 m asl. from January to December 2007. The material used in the experiment was Puspita Nusantara varieties. The fertilizer utilized in the study were Urea, KNO3, and SP-36. The treatments were arranged in split plot design with three replications. The main plot was application method of fertilizer i.e. spreading and fertigation. The subplot was without fertilizer, ½ recommended suggestion dosage, 1 recommended suggestion dosage, and 1½ recommended suggestion dosage. Results showed that application of fertilizer both spreading and fertigation gave the same effect on growth and production of Chrysanthemum. Fertilizer dosage at 1½ recommended suggestion gave higher effect on vegetative plant growth and number of flower than those others (highest stem diameter 5.90 mm, highest leaf length 8.41 cm, highest leaf number/plant 37.5 leaves, and 10.5 flowers/plant).
Pengaruh Bahan Organik dan Interval serta Volume Pemberian Air terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kentang di Rumah Kaca N Sutrisna; Y Surdianto
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n3.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Kentang merupakan sumber kalori dan mineral penting bagi pemenuhan gizi masyarakat dan permintaannya setiap tahun terus meningkat, sehingga produksi dan produktivitasnya harus ditingkatkan. Lembang merupakan salah satu sentra produksi kentang di Jawa Barat, petaninya sudah menggunakan bibit bermutu baik dan menerapkan teknologi pemupukan sesuai dengan rekomendasi setempat, namun produktivitasnya hingga saat ini masih tergolong rendah, yaitu 16,12 t/ha. Rendahnya produktivitas kentang di Lembang antara lain disebabkan oleh menurunnya kandungan bahan organik tanah dan sistem pengairan masih tradisional terutama pada musim kemarau, yaitu dengan sistem leb dan tidak disesuaikan dengan kebutuhan air tanaman kentang. Oleh karena itu pengelolaan lahan dan air dalam usahatani kentang di Lembang sangat penting, di antaranya dengan pemberian bahan organik dan interval serta volume pemberian air pada periode tumbuh tanaman. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Kabupaten Bandung pada bulan Juni sampai September 2004. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh takaran bahan organik dan interval serta volume pemberian air terhadap pertumbuhan dan hasil kentang. Percobaan menggunakan rancangan petak-petak terpisah dan kombinasi perlakuannya disusun dalam rancangan acak lengkap dengan 3 ulangan. Petak utama adalah bahan organik terdiri dari 3 taraf, yaitu (B0) tanpa bahan organik, (B1) 0,125 kg/tanaman, dan (B2) 0,250 kg/tanaman. Anak petak adalah interval pemberian air yang terdiri dari 3 taraf, yaitu (I1) 3 hari, (I2) 6 hari, dan (I3) 9 hari. Anak-anak petak adalah volume pemberian air yang terdiri dari 4 taraf, yaitu (P1) 211,01 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 581,53 ml/hari pada periode vegetatif + 787,51 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen, (P2) 422,02 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 290,76 ml/hari pada periode vegetatif + 787,51 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen, (P3) 422,02 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 581,53 ml/hari pada periode vegetatif + 393,75 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen, dan (P4) 422,02 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 581,53 ml/hari pada periode vegetatif + 787,51 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) takaran bahan organik dan interval, serta volume pemberian air masing-masing memberikan pengaruh yang berbeda terhadap tinggi tanaman kentang, bobot kering tanaman, nisbah bobot kering akar, jumlah umbi per tanaman, persentase kelas umbi, bobot umbi per tanaman, dan hasil kentang per hektar dan (2) takaran bahan organik 0,250 kg/tanaman, interval pemberian air 6 hari, dan volume pemberian air 211,01 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 581,53 ml/hari pada periode vegetatif + 787,51 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan yang diuji lainnya terhadap tinggi tanaman pada umur 50 dan 60 hari setelah tanam, hasil kentang pertanaman dan per hektar di lahan dataran tinggi Lembang.ABSTRACT. Sutrisna, N. and Y. Surdianto. 2007. Effect of Organic Manuring and Interval and Water Supply on Growth and Yield of Potato in the Greenhouse. Potato is an important source of calorie and minerals for human diet and the demand of potato increase every year, so that its production and productivity should be improved. Lembang is a center of potato production in West Java and the potato farmers have implemented good quality potato seeds and recommended fertilization, but until now the productivity was still low. This were caused by degradation of organic matters in the soil and unsufficient irrigation system in dry season, namely ‘leb’ system and did not in accordance with the need of potato plant. Therefore, the soil and water management in the potato farming system is important, such as the application of organic matters, interval and water supply at the growth period. Study on the effect of organic matters, interval and water supply was carried out at the greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, Bandung from June until September 2004. The objectives of the research were to observe the effect of organic matters, the interval and water supply on the growth and yield of potato in the highland. The design was split-split plot and the treatment was completely randomized design with 3 replications. The main plot was the organic matters, consisted of 3 levels (B0) without organic matters, (B1) 0,125 kg/plant, and (B2) 0,250 kg/plant. The subplot was the water supply interval, conssisted of 3 levels (I1) 3 days interval, (I2) 6 days interval, and (I3) 9 days interval. Sub-subplot was the water supply volume in accordance with the plant growth period, consisted of 4 levels: (P1) 211,01 ml/day at the beginning of growth period + 581,53 ml/day at the vegetative period + 787,51 ml/day at the tuber formation + 265,02 ml/day at just before harvested, (P2) 422,02 ml/day at the beginning of growth period + 290,76 ml/day at the vegetative period + 787,51 ml/day at the tuber formation + 265,02 ml/day at just before harvested, (P3) 422,02 ml/day at the beginning of growth period + 581,53 ml/day at the vegetative period + 393,75 ml/day at the tuber formation +
Pengaruh Formulasi Biofungsida Berbahan Aktif Cladosporium sp. Terhadap Penyakit Karat Putih Pada Tanaman Krisan (Effect of Biofungcide Formulation Based on Cladosporium sp. Against White Rust Disease on Chrysanthemum) Evi Silvia Yusuf; Wakiah Nuryani; Kurniawan Budiarto
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p91-102

Abstract

Pengendalian penyakit karat putih pada tanaman krisan dengan menggunakan agens hayati merupakan salah satu upaya penting dalam mewujudkan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Penelitian bertujuan mengevaluasi kemangkusan biofungisida berbahan aktif Cladosporium sp. pada beberapa formulasi (WP-1, WP-2, dan WP-3) dibandingkan dengan penggunaan fungisida sintetik dan asam salisilat dalam mengendalikan penyakit karat pada krisan cv. Puspita Nusantara. Penelitian berlangsung selama 1 tahun dari bulan Januari hingga Desember 2016, dilakukan melalui dua tahap, yaitu penelitian super impose di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias dengan menggunakan rancangan acak lengkap terdiri atas enam perlakuan (WP-1, WP-2, WP-3, AS, FS, dan kontrol) dengan lima ulangan, setiap ulangan terdiri atas 100 tanaman. Aplikasi dilakukan setiap minggu pada sore hari dan verifikasi kemangkusan di lahan petani menggunakan uji t berpasangan terdiri atas dua perlakuan (WP-1 2 g/l dan fungisida sintetik berbahan aktif pyraclostrobin 250 g/l) dengan 10 ulangan. Hasil evaluasi kemangkusan perlakuan biofungisida menunjukkan bahwa seluruh formulasi mampu menekan serangan penyakit karat sebesar 17% hingga 27%. Demikian juga dengan hasil uji di lahan petani formulasi WP-1 mampu mengimbangi fungisida sintetik dengan menyisakan serangan karat 1,6% dan 1,7%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa seluruh formulasi biofungisida mempunyai keefektifan yang sama dalam menurunkan intensitas dan perkembangan penyakit karat, dengan fungisida sintetik berbahan aktif pyraclostrobin 250 g/l dengan kualitas bunga yang cenderung lebih baik dibandingkan dengan kultur teknis petani yang berbasis fungisida sintetik.KeywordsDendranthema grandiflora; Agens hayati; Intensitas serangan; Evaluasi lapanganAbstract The application of biological agents to control white rust on chrysanthemum is one important issues in the era of ecofriendly and sustainable agriculture, including in chrysanthemum production system. The research was carried out to evaluate the application of several biofungicide formulations with the active ingredient of Cladosporium sp., i.e. WP-1, WP-2, and WP-3, synthetic fungicide and salicylic acid for white rust control in chrysanthemum cv. Puspita Nusantara. The research was conducted from January to December 2015, through two subsequent experiments, i.e. super-impose experiment that located in Indonesian Ornamental Crops Research Institution using a complete randomized design consisting of six treatments (WP-1, WP-2, WP-3, AS, FS, and control) and five replications and verification of biofungicide effectivess at the growers’ nursery using paired t test consisting of dua treatments (WP-1 2 g/l) dan synthetic fungicide with active ingridient pyraclostrobin 250 g/l) and 10 replications. The results of evaluation of biofungicide treatment efficacy showed that all of formulations biofungicide formulation were able to suppress rust attack by 17% to 27%. Likewise with the results of tests on farmer land the WP-1 formulation was able to compensate for synthetic fungicide with 1.6% and 1.7% rust attack. The results of this experiment showed that all of biofungicide formulations and synthetic fungicides had the same effectiveness in reducing the intensity and development of rust disease and improved flower quality compared to farmers’ technical culture based on synthetic fungicides.
Pemanfaatan Mikoriza, Bahan Organik, dan Fosfat Alam terhadap Hasil, Serapan Hara Tanaman Mentimun, dan Sifat Kimia pada Tanah Masam Ultisol Rini Rosliani; Yusdar Hilman; Nani Sumarni
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n1.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilakukan di lahan petani di daerah Kabupaten Lebak, Banten. Jenis tanah Ultisol dengankandungan P rendah dan karakteristik fisik yang buruk. Tujuan percobaan adalah mempelajari pengaruh inokulasicendawan mikoriza arbuskula, penyediaan bahan organik dari pupuk kandang domba, dan dosis fosfat alam terhadapserapan P oleh tanaman, hasil mentimun, dan kandungan hara tanah masam Ultisols. Penelitian dilaksanakan daribulan Juli sampai Oktober 2004. Perlakuan terdiri atas 3 dosis fosfat alam, pupuk kandang domba, dan inokulasimikoriza. Kombinasi perlakuan seluruhnya ada 12 dengan 3 ulangan yang disusun dalam rancangan acak kelompokfaktorial. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang domba meningkatkan efisiensi penggunaanfosfat alam, bobot buah, dan serapan hara. Interaksi antara mikoriza dengan pupuk P dan bahan organik denganpupuk P berpengaruh nyata terhadap serapan P. Tanpa pupuk kandang domba maupun tanpa mikoriza, dosis P yangdibutuhkan untuk menghasilkan buah mentimun adalah 200 kg P2O5 /ha, sedangkan dengan pupuk kandang dombamaupun dengan mikoriza dosis P yang dibutuhkan untuk menghasilkan buah mentimun yang sama hanya 100 kgP2O5 /ha dan kombinasi perlakuan tersebut meningkatkan ketersediaan P tanah. Inokulasi mikoriza tanpa bahanorganik menurunkan pH tanah. Penggunaan fosfat alam pada dosis tinggi dengan adanya bahan organik meningkatkansenyawa Ca-P pada tanah Ultisols. Teknologi yang diperoleh dari penelitian ini sangat berguna untuk pengembangantanaman sayuran pada tanah-tanah masam atau lahan marginal seperti Ultisols.ABSTRACT. Rosliani, R. , Y. Hilman, and N. Sumarni. 2009. The Effect of Rock Phosphate Fertilizer and SheepManure Application, and Arbuscular Mycorrhizae Fungi Inoculation on the Growth and Yield of Cucumberin Ultisol Acid Soil. The experiment was conducted at the farmer field in Lebak District of Banten Province. Thesoil was Ultisols with low available P and poor physical property. The objectives of this experiment was to study theeffect of rock phosphate and sheep manure application, and arbuscular mycorrhizae fungi inoculation on the growth,P uptake, and yield of cucumber in acid soil. The treatments consisted of 3 levels of rock phosphate, 2 levels of sheepmanure, and 2 levels of mycorrhizae inoculation. All treatment combinations were arranged in factorial randomizedblock design with 3 replications. The results showed that sheep manure supply could increased the efficiency ofrock phosphate application, growth, yield of cucumber, and nutrient uptake. The effect of mycorrhizae inoculationwas more clear when accompanied by sheep manure supply. Interaction of sheep manure and rock phosphate ormycorrhizae inoculation and rock phosphate significantly increased P uptake. Without sheep manure supply andwithout mycorrhizae inoculation, 200 kg P2O5/ha of rock phosphate was needed compare with sheep manure supplyand mycorrhizae inoculation, which only required 100 kg P2O5/ha of rock phosphate to reach the same productivity ofcucumber fruit, and these treatment combination P availability were also increased. Mycorrhizae inoculation withoutsheep manure could decrease the soil pH. Rock phosphate at high dosage with sheep manure could increase Ca-Pon Ultisols acid soil. The results of the experiment could be benefit for the development of vegetables on acid soilsor marginal land such as Ultisols.
Preferensi Petani Brebes terhadap Klon Unggulan Bawang Merah Hasil Penelitian rofik Sinung Basuki
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n3.2009.p%p

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui preferensi petani Brebes terhadap klon unggulan bawangmerah hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang. Penelitian dilakukan di Desa Slatri,Brebes, pada bulan Juni sampai Agustus 2003. Metode penelitian yang digunakan adalah kombinasi antara percobaanlapangan dan penelitian partisipatif petani. Percobaan lapangan dimanfaatkan sebagai petak observasi bagi 20 petanipartisipan. Percobaan lapangan menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuan terdiri dari 9 klon unggulanbawang merah dan kontrol varietas lokal Bima Brebes dengan 3 ulangan. Data penelitian partisipatif dikumpulkandari jawaban tertulis petani partisipan pada kuesioner yang dibagikan peneliti pada saat petani melakukan observasilapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara agronomis, daya hasil dan ukuran umbi klon unggulan Balitsatidak lebih unggul dibanding varietas lokal Bima Brebes kecuali klon No. 9. Di antara klon unggulan yang diuji,klon No. 8 merupakan klon yang paling potensial diadopsi petani karena pertumbuhan tanaman dan hasil panennyadisukai petani. Klon No. 9 kurang disukai petani karena warnanya pucat, sehingga perlu perbaikan warna umbiuntuk meningkatkan peluang adopsi oleh petani. Preferensi petani dan pemulia terhadap klon unggulan berbedasangat nyata. Klon No. 9 yang paling disukai pemulia namun kurang disukai petani. Penelitian preferensi petaniperlu diintegrasikan dalam penelitian perakitan varietas unggul untuk meningkatkan peluang adopsi varietas unggultersebut setelah dilepas.ABSTRACT. Basuki, R.S. 2009. Farmers’ Preferences in Brebes to Shallots Promising Clones Generatedfrom IVEGRI. The objective of the research was to understand farmer’s preferences to promising shallots clonescreated by the Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI). Research was conducted in Slatri, Brebes, fromJune to August 2003. A combination of field experiment and farmer’s participatory was used in the research. Thefield experiment was used as an observation plot for 20 farmer participants. The field experiment was arranged in arandomized complete block design with 3 replications. The treatments consisted of 9 promising shallots clones and alocal variety of Bima Brebes as control. Data from farmer participatory research were collected from farmer’s writtenanswers on the questionnaire distributed by researchers. Results showed that agronomically the yield and tuber sizeof the promising clones, except clone No.9, were not significantly higher or bigger than that of local variety of BimaBrebes. Among the promising clones, only clone No.8 has the potential to be adopted by farmers because farmerswas in favor with the growth and tuber quality of the clone. In order to increase the potential adoption of clone No.9improvement of the tuber color from pale red to red is needed. Farmers and breeder preferences to the promisingclones were significant difference, due to the different criteria used in evaluating the clones. Research on farmerspreference should be integrated into the research on creating a new variety to increase the potential adoption of thenew variety after released.
Aplikasi Teknologi Marka Molekuler untuk Verifikasi Identitas Genetik Varietas Sayuran Komersial - Bahagiawati; E M Septiningsih; M Yunus; J Prasetiyono; A Dadang; - Sutrisno
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 3 (2005): September 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n3.2005.p%p

Abstract

Salah satu syarat yang harus dipenuhi agar suatu varietas dapat disebut varietas baru dalam rangka perlindungan varietas tanaman adalah varietas tersebut harus berbeda dari varietas-varietas yang ada sebelumnya. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya perbedaan adalah teknik marka molekuler. Penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi perbedaan genetik dari beberapa tanaman sayuran yang dikomersialkan, yaitu tiga set varietas tomat, dua set varietas cabai merah, dan satu set varietas terong yang diproduksi oleh dua produsen benih berbeda yang disinyalir mempunyai kesamaan genetik. Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian di Bogor dari Juni s/d September 2004. Metode yang digunakan adalah PCR dengan menggunakan marka mikrosatelit yang dielektroforesis pada gel poliakrilamida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih-benih tomat, cabai merah, dan terong yang diverifikasi tersebut adalah sama secara genetik dengan kesamaan genetik >90%.Application of molecular marker technique to verify genetic identity of some commercial vegetable varieties. One of requirements for a new variety in terms of plant variety protection is that the variety must be distinct from the previous varieties. One of the strategies to detect the distinctness is by using molecular marker technology. The objective of this experiment was to verify the distinctness of some commercial vegetable varieties e.g. three set tomatoes, two set peppers and one set eggplant varieties produced by two different seed producers which were suspected to be genetically similar. This experiment was conducted at Indonesian Agricultural Research and Development Center for Biotechnology and Genetic Resources, Bogor, from June to September 2004. The method employed was PCR-based micro-satellite markers run using polyacrylamide gel electrophoresis. The results of this experiment showed that the tested varieties of tomato, pepper, and egg plant were genetically identical at genetic similarity >90%.
Formulasi Biopestisida Berbahan Aktif Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, dan Corynebacterium sp. Nonpatogenik untuk Mengendalikan Penyakit Karat pada Krisan Hanudin Hanudin; Wakiah Nuryani; Evi Silvia; Ika Djatnika; Budi Marwoto
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n3.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Karat putih yang disebabkan oleh Puccinia horiana merupakan salah satu penyakit pada krisan yangdapat menimbulkan kehilangan hasil sampai 100% . Selama ini untuk mengendalikan patogen tersebut, petani seringmenggunakan pestisida kimiawi. Hal tersebut sangat mengkhawatirkan mengingat penggunaan fungisida sintetiksecara berlebihan dapat mencemari lingkungan yang membahayakan bagi kehidupan makhluk hidup. Oleh karenaitu, cara pengendalian alternatif yang efektif dan aman bagi lingkungan diperlukan untuk mengendalikan penyakitkarat putih pada krisan. Salah satu alternatif cara pengendalian penyakit karat yaitu dengan mengaplikasikanbiopestisida yang ramah lingkungan. Penelitian dilakukan di laboratorium, rumah kaca, dan rumah plastik KebunPercobaan Balai Penelitian Tanaman Hias (1.100 m dpl), pada bulan April 2009 sampai Februari 2010. Tiga spesiesbakteri antagonis sebagai bahan aktif biopestisida (Bacillus subtilis Cs 1a, Corynebacterium sp.1, dan Pseudomonasflurescens 3 Sm) dan bahan pembawa (campuran antara ekstrak kascing, molase, gula pasir, dan atau kentang),masing-masing diformulasi dalam 12 jenis formula biopestisida cair. Formulasi biopestisida difermentasikan selama3 minggu dalam keadaan aerobik menggunakan biofermentor. Viabilitas bahan aktif dalam bahan pembawa diujisetiap bulan, yaitu pada periode sebelum dan sesudah fermentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi bahanaktif setelah difermentasi selama 3 minggu selalu meningkat, populasi bahan aktif sebelum fermentasi sejumlah 105cfu/ml meningkat menjadi 106-7 cfu/ml. Dua bulan setelah fermentasi, populasi bahan aktif biopestisida masih tetaptinggi yaitu berkisar antara 106-11 cfu/ml. Perlakuan ekstrak kascing + gula pasir + B. subtilis + P. fluorescens +Corynebacterium pada tingkat konsentrasi 0,3% merupakan perlakuan terbaik. Disamping dapat menekan intensitasserangan P. horiana (38,49%), formulasi biopestisida tersebut juga dapat menaikkan hasil panen bunga krisan layakjual sebanyak 14,58%.ABSTRACT. Hanudin, W. Nuryani, E. Silvia, I. Djatnika, and B. Marwoto. 2010. Formulation of BiopesticideContaining Bacilllus subtilis, Pseudomonas fluorescens, and Corynebacterium sp. for Controlling WhiteRust Disease on Chrysanthemum. White rust caused by Puccinia horiana is one of the contagious diseases ofchrysanthemum that is able to cause yield losses up to 100%. Chemical synthetic fungicides have been used tocontrol the disease. Because of harmful effects of the synthetic fungicides, the other alternative measure to controlthe disease have to be developed in order to support the sustainable farming system. One of the recommended controlmeasures is the application of biopesticide which is environmentaly friendly. The experiments were conducted inthe laboratory, glasshouse, and plastichouse of Indonesia Ornamental Crops Research Institute (1,100 m asl), fromApril 2009–February 2010. Three candidates of biocontrol agents, i.e. B. subtilis Cs 1a, Corynebacterium sp.1, andP. fluorescens 3 Sm, were formulated with organic basal medium made from fermented worm manure, molasses,sugar, and or potatoes extracts. Twelve formulations were tested for their effectiveness to control the disease in thefield. The viability of the biocontrol agents in the formulations was monthly tested before and after fermentationprocess during storage. Population of the biocontrol agents, after fermentation for 3 weeks was increased from 105to 106-7 cfu/ml. Two months after fermentation the population of the biocontrol agents was still high (106-11 cfu/ml).The results showed that the formulation of vermicompost + sugar + B. subtilis + P. fluorescens + Corynebacteriumat the concentration level of 0.3%, was proven to be the best treatment. The treatment was effective to supress whiterust up to 38.49%, and could also increase the yield of marketable chrysanthemum flowers up to 14.58%.

Page 88 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue