cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Studi Bedengan Kompos Permanen Untuk Budidaya Kentang di Pekarangan Sumiati, Etty; Hidayat, Achmad
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v12n4.2002.p%p

Abstract

Abstrak. Sumiati, E. dan A. Hidayat. 2000. Studi Bedengan Kompos Permanen untuk Budidaya Kentang di Pekarangan.Kebutuhan pupuk buatan/kimia untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil umbi kentang, sebagian dapat disubstitusi melaluipemanfaatan bahan limbah organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pengomposan dan efektivitas bedengan komposuntuk budidaya tanaman kentang di lahan kering. Penelitian dilakukan di dataran tinggi Samarang-Garut, Jawa Barat. Rancanganpercobaan digunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan 6 ulangan. Perlakuan pada bedengan permanen terdiri atas 4 macam for -mula, yaitu menggunakan komposisi berbagai macam campuran limbah organik, serta pupuk kandang sapi sebagai kontrol. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa bedengan permanen yang digarit dan diisi limbah organik pupuk kandang sapi 20 tha-1 ditambah NPK(15-15-15) 40 kgha-1, memberikan pertumbuhan serta hasil dan kualitas umbi kentang kultivar Gra nola yang tertinggi. Selain itu,proses dekomposisi limbah organik pupuk kandang sapi, sangat cepat yang tercermin dari nilai C/N yang terendah setelah 1 bulanterjadi proses pengomposan.Kata kunci : Solanum tuberosum L., limbah organik, pengomposan, hasil umbi.Abstract. Sumiati, E. dan A. Hidayat. 2000. Study on the permanent plot of organic waste materials for cultivation of potato onthe dry-land area. The application of several kinds of organic waste materials hopefully may support and substitute the need ofchemical fertilizers to increase the growth and yield of potato which sustainable and lower environmental pollution. Research activityhave been conducted in highland area of Samarang-Garut, West Java. A Randomized Block Design with six replication was set up inthe field. Treatments on the permanent plots comprised of mixture of several kinds of waste organic materials, including cattle manureas control. Research results revealed that the permanent plot with cattle manure of 20 tha-1 + NPK (15-15-15) 40 kgha-1, gave the bestgrowth and the highest yield of potato cultivar Granola. Moreover, the decomposition process of cattle manure was the faster whichwas identified by the lowest C/N value gained after one month of decomposition process took place.
Regenerasi Kultur Lengkeng Dataran Rendah cv. Diamond River melalui Embriogenesis Somatik Roostika, Ika; Arief, V N; Sunarlim, N
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n1.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Beberapa kultivar lengkeng toleran dataran rendah telah diintroduksi ke Indonesia termasuk lengkengcv. Diamond River. Kultivar tersebut telah dibudidayakan secara komersial di daerah Kalimantan Barat. Namun,pengembangannya menghadapi kendala dalam hal penyediaan bibit. Dalam rangka memperoleh bibit lengkengdalam jumlah yang berlimpah, perlu penerapan teknik kultur in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk menginduksidan meregenerasikan kalus embriogenik lengkeng cv. Diamond River. Induksi kalus dilakukan menggunakan daunmuda sebagai eksplan. Regenerasi kalus embriogenik dilakukan dalam 4 tahap. Pada tahap pertama digunakan airkelapa pada konsentrasi 5 dan 10%. Pada tahap kedua, diuji pengaruh auksin (IBA dan NAA) serta sitokinin (BAdan kinetin) masing-masing pada taraf 0,5 ppm. Pada tahap ketiga, diuji pengaruh auksin IBA dan NAA pada taraf0,1; 0,5; dan 1 ppm. Pada tahap keempat diuji perlakuan sukrosa pada taraf 2 dan 3% dengan atau tanpa auksin(IBA dan NAA) masing-masing pada taraf 0,5 dan 1 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regenerasi melaluiembriogenesis somatik berpeluang diterapkan pada tanaman lengkeng cv. Diamond River. Respons kalus embriogeniklebih dominan ke arah pembentukan akar daripada tunas. Penggunaan media yang mengandung NAA 1 ppm mampumeningkatkan pembentukan tunas hingga mencapai lebih dari 30%, sedangkan penggunaan sukrosa 3% tanpa auksinmampu meningkatkan pembentukan planlet hingga mencapai 12%. Persentase keberhasilan aklimatisasi adalahsebesar 14%.ABSTRACT. Roostika, I., V.N. Arief, and N. Sunarlim. 2009. Regeneration of Lowland Longan cv. DiamondRiver through Somatic Embryogenesis. Several low-land longan cultivars have been introduced to Indonesia,including cultivar of Diamond River. This cultivar has been planted commercially and produced well in WestKalimantan. Unfortunately, the development of this cultivar was facing a problem on the availability of plantingmaterials. In order to provide large number of Diamond River seedlings, tissue culture technique was used. Theaim of the study was to induce and regenerate embryogenic calli of longan cv. Diamond River. A research on callusinduction was conducted using young leaves as explants source. Regeneration of embryogenic calli was conductedin 4 steps. The first, coconut water at the rate of 5 and 10% were used. The second, the auxin (IBA and NAA) andcytokinin (BA and kinetin) at the level of 0.5 ppm, respectively were tested. The third, the IBA and NAA at thelevel of 0.1, 0.5, and 1 ppm were used. The fourth, the sucrose at the level of 2 and 3% with or without addition ofIBA and NAA at the level of 0.5 and 1 ppm were used respectively. The results showed that somatic embryogenesisregeneration was potentially applied to longan cv. Diamond River. The root formation was more dominant than theshoot formation. The use of 1 ppm NAA could increase the shoot formation up to more than 30% whereas the useof 3% sucrose without auxin could increase the plantlet formation up to 12%. The 14% of plantlet produced by thistechnique grew well during acclimatization period.
Identifikasi Kekerabatan Genetik Klon-klon Bawang Putih Indonesia Menggunakan Isozim dan RAPD Hardiyanto, -; Devy, Nirmala Fiyanti; Martasari, Chaereni
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n4.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Beberapa klon bawang putih (Allium sativum L.) lokal di Indonesia umumnya diberi nama oleh petani berdasarkan nama daerah atau lokasi, sehingga klon yang secara genetik sama kemungkinan dapat berbeda namanya. Dengan demikian identifikasi klon bawang putih berdasarkan marka biokimia maupun molekuler sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi mengenai keragaman dan kekerabatan genetik klon bawang putih lokal. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Banaran, Batu mulai bulan Juni sampai dengan November 2005, sedangkan untuk analisis isozim dan RAPD masing-masing dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler, Universitas Brawijaya, Malang dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor. Berdasarkan metode isozim dan RAPD, kisaran nilai kekerabatan genetik yang dihasilkan hampir sama, masing-masing 0,53-0,91 dan 0,54-0,94. Tingkat kekerabatan genetik klon bawang putih lokal cukup rendah. Metode isozim dan 2 primer RAPD, yaitu OPG 18 dan OPN 06 dapat digunakan untuk identifikasi dan penamaan ulang klon bawang putih lokal.ABSTRACT. 2008 Hardiyanto, N.F. Devy, and C. Martasari. 2008 . Identification of Genetic Relationship among Indonesian Garlic Clones Using Isozyme and RAPD. Local garlic clones (Allium sativum L.) in Indonesia mostly was named by growers based on region or location, thus many genetically-identical clones may have different name. Therefore, identification of garlic clones through biochemical and molecular markers were needed. The aim of this research was to obtain the information of genetic variation and relationship of local garlic clones. This research was carried out at Banaran Experimental Garden Batu, from June to November 2005, whereas isozyme and RAPD analyses were conducted in Molecular Biology Laboratorium, Brawijaya University and Indonesian Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research Institute, Bogor, respectively. The value of genetic relationship showed by isozyme and RAPD methods was almost the same, these were 0.53-0.91 and 0.54-0.94, respectively. Level of genetic relationship among local garlic clones was quite low.Isozyme and 2 primers of OPG 18 and OPN 06 were useful for identification and denomination of local garlic clones.
Efek Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula dan Pupuk KaliumTerhadap Pertumbuhan dan Produksi Pisang Ketan (Effects of Arbuscular Mycorrhizal Fungi and Potash Fertilizer Application on the Growth and Production of Banana cv. Ketan) Irwan Muas; nFN Jumjunidang; nFN Hendri; Deni Emilda; Dewi Fatria
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p61-68

Abstract

Aplikasi mikroba inducer dan pemupukan merupakan komponen teknologi yang dapat memengaruhi keberhasilan pengelolaan tanaman pisang. Informasi tentang pemanfaatan mikroba induser dan pemupukan kalium untuk meningkatkan produktivitas tanaman pisang di Indonesia masih sangat terbatas sehingga penelitian mengenai hal tersebut perlu dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efek aplikasi fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan pemupukan kalium terhadap pertumbuhan   dan produksi pisang ketan. Penelitian disusun berdasarkan rancangan petak terbagi dan diulang tiga kali. Sebagai petak utama adalah aplikasi FMA (tanpa inokulasi dan diinokulasi FMA), sedangkan anak petak adalah pemberian pupuk kalium (0, 200, 400, dan 600 g K2O/ tanaman/tahun). Pengamatan karakter tanah   dilakukan sebelum dan setelah percobaan, antara lain terhadap  pH,  N total, P , K, Ca, Mg, dan  KTK efektif.   Pengamatan  karakter pertumbuhan tanaman (vegetatif dan generatif) meliputi tinggi  tanaman  , jumlah daun, diameter batang, yang dilakukan   1 bulan sekali, serta saat keluar jantung. Pengamatan terhadap  kandungan hara makro pada daun (N, P, K, Ca, Mg)  dan kolonisasi FMA pada akar pisang  dilaksanakan pada kondisi tanaman akan memasuki fase generatif. Parameter produksi  yang diamati meliputi bobot buah per tandan,  jumlah sisir per tandan dan jumlah buah per tandan. Jumlah tanaman sampel yang diamati adalah sebanyak delapan tanaman dari setiap perlakuan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi aplikasi FMA dan pupuk kalium terhadap parameter pertumbuhan dan komponen produksi. Aplikasi FMA  memberikan pengaruh terhadap saat keluar jantung dan bobot buah/tandan, tetapi tidak memberikan pengaruh terhadap beberapa parameter produksi seperti saat panen, jumlah sisir serta jumlah buah per sisir.  Pemberian pupuk kalium   dapat meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, mempercepat saat keluar jantung, saat panen dan meningkatkan produksi.. Implikasi dari penelitian ini adalah dalam meningkatkan produksi pisang perlu dilakukan aplikasi FMA dan pemupukan kalium. KeywordsPisang;Fungi mikoriza arbuskula; Kalium; Produksi dan kualitasAbstractApplication of microbial inducer and fertilization is part of technology components that can affect the success of the banana cultivation management. Information about the use of microbial inducers and pottasium fertilizer to increase the productivity of banana plants in Indonesia is still very limited, further reseach is needed. The objective of this study was to determine the effects of application of arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and potassium fertilization on the growth and production of banana (var. Ketan).   The study is based on split plot design and repeated three times. As main plot was application of arbuscular mycorrhizal fungi (without and with inoculation) while as subplot was different dose of potassium fertilizer (0, 200, 400 and 600 g K2O/plant/year). Observations of soil characteristics were carried out before and after the experiment, including pH, N total, P, K, Ca, Mg, and effective CEC. Observation of plant growth characters (vegetative and generative), including plant height, number of leaves, stem diameter, which is done once a month, and bud appearing. Observation of macro nutrient content in leaves (N, P, K, Ca, Mg) and FMA colonization on banana roots, carried out on plant conditions will enter the generative phase. Production parameters observed included fruit weight per bunch, hand number   and fnger number per bunch. The number of plants observed was 8 plants from each treatment. The results showed that there was no interaction effect between application arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and potassium fertilizers to growth parameters, and production.  Application of FMA accelerated bud appearing and increased the yield of banana (fruit weight/bunch) but it did not give a real impact on some production parameters such as the harvesting time, hand number and finger number per bunch.  Application of potassium fertilizer increasedA plant height, stem diameter, accelerated bud appearing, harvesting time and increased the yield of banana (fruit weight/bunch). The implication of this research is to improve banana production with application FMA and potassium fertilizer.
Perbanyakan Anyelir Secara In Vi tro Melalui Induksi Pembentukan Tu nas Adventif WIarto, Budi; Aziz, M A; Rashid, A A; Ismail, M R
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n1.2005.p%p

Abstract

Perbanyakan anyelir secara in vi tro melalui induksi pembentukan tu nas adventif sangat potensial untukproduksi masal bahan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik perbanyakan secara in vi tro yangsesuai untuk D. caryophyllus L. cv. Mal dives melalui pembentukan tu nas adventif, penggandaan tu nas, pengakaran,dan aklimatisasinya. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kul tur Jaringan, dan rumahkaca IPPT, UPM, Ma lay siadari bulan Mei 2000 hingga No vem ber 2001. Tiga jenis eksplan (daun muda pertama, kedua, dan internodus muda)dan me dia MS dengan lima konsentrasi BA dan NAA yang berbeda (2,0 mg/l + 0,9 mg/l, 0,9 mg/l + 0,3 mg/l, 3,0 mg/l +0,9 mg/l, 0,1 mg/l BA + 0,1 mg/l, dan 0,1 mg/l + 0,01 mg/l) diseleksi, diikuti dengan perbanyakan tu nas pada me diaterseleksi, pengakaran dan diaklimatisasi pada me dia yang berbeda. Percobaan menggunakan rancangan acakkelompok pola faktorial dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun muda pertama yangberkembang penuh dan me dia MS yang mengandung 0,1 mg/l BA dan 0,01 mg/l NAA merupakan eksplan dankonsentrasi hormon yang sesuai untuk induksi pembentukan tu nas adventif. Konsentrasi tersebut juga sesuai untukmempersiapkan tu nas yang diakarkan. Tu nas mudah diakarkan pada me dia setengah MS. Plantlet mudahdiaklimatisasikan pada me dia campuran antara hu mus dan arang sekam (1:1 v/v) dengan ketahanan hidup hingga100%. Me dia tersebut juga menghasilkan plantlet yang vigor dan tumbuh cepat. Abnormalitas tanaman adalah 6%dari to tal plantlet yang diaklimatisasikan. Tanaman berbunga pada 4,5 hingga 5 bulan setelah aklimatisasi. Hasil studiini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam perbanyakan masal anyelir melalui induksi tu nasadventif. In vi tro prop a ga tion of car na tionthrough in duc tion of ad ven ti tious shoot for ma tion. The tech nique has an im por tant role in mass pro duc tion ofplant ing ma te rial. The ob jec tive of this study was to ob tain suit able in vi tro prop a ga tion of D. caryophyllus L. cv. Mal -dives through in duc tion of ad ven ti tious shoot for ma tion, fol lowed by mul ti pli ca tion of shoots, root ing and ac cli ma ti -za tion. The study was con ducted at Tis sue Cul ture Lab o ra tory and Glass house of IPPT, UPM, Ma lay sia from Mei2000 to No vem ber 2001. Three dif fer ent types of explant (first and sec ond young fully de vel oped leaves and younginternodus) and MS me dium at five dif fer ent con cen tra tions of BA and NAA (2.0 mg/l + 0.9 mg/l, 0.9 mg/l + 0.3 mg/l,3.0 mg/l + 0.9 mg/l, 0.1 mg/l + 0.1 mg/l dan 0.1 mg/l + 0.01 mg/l were se lected, shoots ob tained from the sys tem weremultiplied, rooted and acclimatized in different media. Factorial experiment was arranged in randomized com pleteblock de sign with four rep li ca tions. Re sults of the ex per i ment ex hib ited that the first young fully de vel oped leaves andMS me dium con tain ing 0.1 mg/l BA and 0.01 mg/l NAA was the ap pro pri ate explant and con cen tra tion of BA andNAA to pro duce high est num bers of ad ven ti tious shoot. The con cen tra tion of BA and NAA was also suit able for pre -par ing rooted shoots. Shoots were eas ily rooted on half-strength of MS me dia. Plantlets were sim ply ac cli ma tized in amix ture me dium of kossas peat and paddy char coal (1:1 v/v) with 100% of sur viv abil ity. Vig or ous and healthyplantlets were also re sulted in the me dium. Ab nor mal ity of plants was 6% from to tal ac cli ma tized-plantlets. Theplantlets flow ered at 4.5 to 5 months af ter ac cli ma ti za tion. The re sults ex pected can be used as a stan dard pro to col inmass-pro duc tion of car na tion through ad ven ti tious shoot for ma tion.
Karakterisasi Patogen CVPD pada Tanaman Jeruk dan Vektor CVPD Menggunakan Teknik Polymerase Chain Reaction Asaad, Muhammad
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n4.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penyakit CVPD yang disebabkan oleh bakteri Liberobacter asiaticum merupakan penyakit yang paling merusak pada tanaman jeruk di banyak negara penghasil jeruk di Asia dan Afrika. Fragmen 16S rDNA patogen CVPD dideteksi pada daun-daun jeruk yang terinfeksi CVPD dengan berbagai tipe gejala menggunakan teknik PCR. Penelitian bertujuan mendeteksi keberadaan patogen CVPD pada tanaman jeruk dan vektor di Malaysia dan Indonesia menggunakan teknik PCR. Penelitian di lakukan di laboratorium Penyakit Tanaman dan Biologi Molekular, Universitas Putra Malaysia dari bulan Januari - September 2001. Sampel daun dari pohon jeruk terinfeksi CVPD dikumpulkan dari beberapa sentra jeruk yaitu Bertam Valley, Serdang, dan Marang (Malaysia), serta Jeneponto, Sidrap, dan Selayar (Sulawesi Selatan, Indonesia). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4 tipe gejala khas penyakit CVPD yang ditemukan adalah belang-belang (tipe I), klorosis sedang dengan tulang daun hijau (tipe II), klorosis keras dengan tulang daun hijau (tipe III), dan klorosis dengan tulang daun menguning (tipe IV). Tipe gejala II dan III paling banyak ditemukan pada pohon jeruk terinfeksi, kemudian diikuti tipe I. Fragmen 16S rDNA patogen CVPD pada ukuran yang diharapkan, yaitu 1160 pb, dideteksi pada setiap tipe gejala yang dikumpulkan dari semua daerah sentra. Fragmen ini juga dideteksi pada vektor CVPD (Diaphorina citri) yang dikumpulkan dari pohon jeruk yang terinfeksi CVPD. Analisis enzim restriksi DNA yang teramplifikasi menunjukkan bahwa patogen CVPD di Malaysia dan Indonesia adalah spesies L. asiaticumABSTRACT. Asaad, M. 2006. Detection of greening organisms in citrus plants and vector by polymerase chain reaction technique. Greening disease caused by greening organism (GO: L. asiaticum) is one of the most destructive disease of citrus in many parts of Asia and Africa. The 16S rDNA fragments of the GO were detected by PCR technique in leaves of infected mandarin trees showing one of the various typical symptoms. The objective of the experiment was to detect the presence of GO on citrus plants and vectors in Malaysia and Indonesia by PCR. The experiment was conducted in Phytopathology and Molecular Biology Laboratory, University of Putra Malaysia from January to September 2001. Leaves were collected from GO-infected mandarin trees at Bertam Valley, Serdang, Marang (Malaysia), and Jeneponto, Sidrap, and Selayar (South Sulawesi, Indonesia). Results of experiment indicated that 4 kinds of symptoms, namely mottling (type I), mild chlorosis with green vein (type II), severe chlorosis with green vein (type III), and vein yellowing (type IV) on leaves were observed in GO-infected mandarin trees. Symptoms of types II and III were the most common found in mandarin trees, followed by type I. The 16S rDNA fragments of the GO in expected size of 1160 bp were detected in each of the typical symptoms (type I, II, III) collected from each citrus area. These fragments were also detected in an insect vector (D. citri) collected from GO-infected mandarin trees. Restriction enzyme analysis of amplified DNA revealed that GO in Malaysia and Indonesia was L. asiaticum.
Uji Adaptasi beberapa Galur Cabai Merah di Dataran Medium Garut dan Dataran Tinggi Lembang Kusmana, -; Kirana, Rinda; Hidayat, Iteu Margareta; Kusandriani, Yeni
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n4.2009.p%p

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut dan di Kebun Percobaan BalaiPenelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang, Kabupaten Bandung. Jumlah galur yang diuji sebanyak 13 macamdan 3 varietas pembanding. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 3 ulangan. Jumlahtanaman per plot sebanyak 20 batang. Tujuan pengujian untuk mengetahui daya adaptasi beberapa galur cabai yangdihasilkan oleh Balitsa pada lokasi dataran tinggi Lembang dan dataran medium Garut. Terdapat 3 galur cabai besaryang menampilkan hasil di atas 600 g/tanaman pada kedua lokasi penelitian, yaitu galur 2699, Lbg 33-15-4-4, danSF-3, sedangkan galur 349-1, SF-1, SF-2, dan SFK-2 hanya berpotensi hasil tinggi di Lembang, dan galur AHP 24-12-6-8 dan SFK-1 hanya berpotensi hasil tingggi di Garut.ABSTRACT. Kusmana, R. Kirana, I. M. Hidayat, and Y. Kusandriani. 2009. Adaptation Trial of Some ChiliLines in Mid Elevation of Garut and Highland Lembang. The experiment was conducted at Wanaraja, Garut andLembang, Bandung. Number of genotypes tested were 16 including 3 check varieties. A randomized block designwith 3 replications was used. The experiment unit consisted of 20 hills per plot. The objective of the research wasto find out high yielding lines for Garut and Lembang as well as for others similar ecosystem. The results indicatedthat 3 lines showed high yielding at both Garut and Lembang, these were 2699, Lbg 33-15-4-4, and SF-3. Two linesAHP 24-12-6-8 and SFK-1 showed high yielding in Garut, while 4 lines 349-1, SF-1, SF-2, and SFK-2 gave highproductivity at Lembang.
Perbaikan Teknologi Produksi Jamur Tiram dengan Variasi Waktu Perendaman Media Tumbuh Serbuk Kayu Gergaji Sumiati, Ety; Djuariah, Dini
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 3 (2005): September 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n3.2005.p%p

Abstract

Substrat serbuk kayu gergaji harus bebas polutan dan mempunyai kadar air 65-70% untuk mendukung pertumbuhan optimal miselium dan hasil maksimal jamur tiram. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan lama perendaman bahan baku serbuk kayu gergaji (SKG) yang optimal untuk perbaikan produksi bobot jamur tiram. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama adalah spesies jamur tiram, yaitu Pleurotus sayor-caju, P. flabellatus, P. cystuidiosus, P. ostreatus strain florida, dan P. pulmonarius strain sylvan 301. Anak petak yaitu waktu perendaman substrat SKG, yaitu 0, 3, 6, 9, dan 12 jam. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P. ostreatus strain florida dan P. sayor-caju masing-masing menghasilkan bobot jamur segar tertinggi (970,27 dan 942,26 g/kg substrat basah). Efisiensi biologis tertinggi berasal dari P. cystidiosus (48,84%) dan P. sayor-caju (43,74%) yang dibudidayakan pada substrat SKG yang direndam selama 12 jam. Improving oyster mushrooms production technology by dipping time variation of sawdust medium. Sawdust as main raw material of substrate must be free from pollutant with its water content of 65-70%, to obtain high yield of oyster mushrooms. The goal of this experiment was to gain the optimum dipping time of sawdust as growing media to improve oyster mushrooms yield. A split plot design was arranged with three replications. Main plot was oyster mushrooms species of Pleurotus sayor-caju, P. flabellatus, P. cystuidiosus, P. ostreatus strain florida, and P. pulmonarius strain sylvan 301. Subplot was dipping time of sawdust of 0, 3, 6, 9, and 12 hours, respectively. Research activities was carried out at Indonesian Vegetable Research Institute Lembang, West Jawa. Research results revealed that P. ostreatus strain florida and P. sayor-caju independently produced the highest yield, viz: 970.27 and 942.26 g/kg wet substrate. The highest values of biological efficiency were found from P. cystuidiosus (48.84%) and P. sayor-caju (43.74%) cultivated on the substrate with 12 hours dipping time. Sawdust must be dipped at least for 6 hours prior to set up substrate formula in order to catch sufficient water content (65-70%) for better growth of mycelium and finally produce high yield of oyster mushrooms.
Efektivitas Fungisida untuk Pengendalian Penyakit Berdasarkan Curah Hujan pada Mawar Suhardi, -
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n4.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Percobaan untuk mengetahui efektivitas penyemprotan fungisida terhadap penyakit penting pada tanaman mawar telah dilakukan di Kebun Percobaan Segunung pada bulan September 2002 dan Januari 2003 menggunakan rancangan petak terpisah. Petak utama berupa 2 kultivar mawar, yaitu cv. Holland dan cv. Cherry Brandy, sedang anak petak ialah penyemprotan fungisida dengan interval 2 kali per minggu, 1 kali per minggu, dan penyemprotan apabila terjadi hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada musim kemarau (September 2002) di samping terdapat serangan penyakit bercak hitam (Marssonina rosae) dijumpai pula serangan penyakit embun tepung (Oidium sp.) dengan tingkat serangan yang tinggi. Kultivar Holland dan Cherry Brandy rentan terhadap bercak hitam dan embun tepung. Penyemprotan fungisida setelah terjadi hujan efektif terhadap penyakit bercak hitam dan embun tepung pada musim kemarau. Pada musim hujan (Januari 2003), penyemprotan fungisida setelah terjadi hujan tidak efektif terhadap penyakit bercak hitam. Efektivitas perlakuan fungisida tidak saja ditentukan oleh curah hujan, tapi juga oleh jumlah hari hujan.ABSTRACT. Suhardi. 2007. The Efficacy of Fungicide for Diseases Control, Based on Rain Fall on 2 Rose Cultivars. A trial to find out the efficacy of fungicide application after rain to control the diseases on roses was carried out at Experimental Station Segunung on September 2002 and January 2003 using a split plot design. The main factor was rose cultivar (cv. Holland and Cherry Brandy) and the subplot was fungicide application (twice a week, once a week, and after rain). The results indicated that on dry period (September 2002) both black spot and powdery mildew occurred on cv. Holland and Cherry Brandy. Both cultivars were susceptible to black spot and powdery mildew. Fungicide application after the rain occurred was effective to suppress black spot and powdery mildew only on dry periode. On rainy period (January 2003) fungicide applications after the rain occurred was not effective to suppress black spot. The efficacy of fungicide application was not only determined by rain precipitation but also on number of rainy days as well.
Analisis Tingkat Preferensi Petani Brebes terhadap Karakterisitik Hasil dan Kualitas Bawang Merah Varietas Lokal Asal Dataran Medium dan Tinggi Basuki, rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n4.2009.p%p

Abstract

Varietas lokal bawang merah asal dataran medium dan tinggi potensial ditanam di dataran rendah Brebessebagai usaha untuk mengurangi penggunaan varietas impor. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi varietaslokal asal dataran medium dan tinggi yang adaptif dan disukai petani dibanding varietas impor di sentra produksi diKabupaten Brebes. Penelitian di lakukan di Desa Kemukten, Kabupaten Brebes pada bulan Juli-September 2006.Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian partisipatif yang didukung dengan percobaan lapangan. Percobaanlapangan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Delapan perlakuan yang diteliti adalah 3 varietaslokal dataran medium (200-700 m dpl.), 2 varietas dataran tinggi (>700 m dpl.), 2 varietas impor, serta 1 varietas lokaldataran rendah (0-200 m dpl.) sebagai pembanding. Plot percobaan lapangan digunakan untuk mengetahui daya hasilvarietas yang diuji dan sebagai petak observasi bagi 30 petani partisipan dalam menentukan tingkat preferensi darivarietas yang diuji. Data penelitian partisipatif dikumpulkan dari jawaban tertulis petani partisipan pada kuesioneryang dibagikan peneliti pada saat petani melakukan observasi pada plot percobaan lapangan. Data petani berupa skortingkat preferensi (TP) petani terhadap atribut karakteristik daya hasil, jumlah anakan, bentuk umbi, ukuran umbi,warna umbi, dan aroma dari 8 varietas yang diteliti dan dianalisis menggunakan metode perceived quality. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa dari 5 varietas lokal dataran medium dan tinggi yang diuji, varietas Menteng Kupadan Maja adalah yang paling disukai petani. Walaupun secara agronomis tingkat hasil dan ukuran umbi varietas imporlebih unggul dibanding varietas Menteng Kupa dan Maja, namun nilai TP total petani terhadap varietas lokal MentengKupa, Maja, dan Bima Curut lebih tinggi 16-21% dibanding TP total petani terhadap varietas impor Tanduyung danIlokos. Hal ini terjadi karena total karakteristik Menteng Kupa dan Maja dalam hal daya hasil, jumlah anakan, bentukumbi, ukuran umbi, warna umbi, dan aroma lebih disukai petani dibanding total karakteristik yang dimiliki keduavarietas impor tersebut. Varietas Menteng Kupa dan Maja merupakan varietas yang sesuai digunakan di Brebessebagai alternatif dari penggunaan varietas impor.ABSTRACT. Basuki, R.S. 2009. Analysis of Farmers Preference in Brebes to the Yield and Quality Characteristicsof Local Variety Shallots from Medium and High Altitude. Local variety shallots from medium and high altitude ispotential to be planted at lowland area of Brebes as an alternatif in reducing the use of imported varieties. The objectiveof this research was to identify local variety of shallots from medium and high altitude which adaptable and morepreferred by farmers in Brebes than that of imported variety. Research was conducted in Kemukten Village, BrebesDistrict from July to September 2006. The approach of research was farmer participatory research supported by fieldtrial plot. The field trial design used was RCBD, with 8 treatments and 3 replications. The treatments were 8 varietiesof shallots consist of 3 local varieties of shallots from medium altitude (200-700 m asl.), 2 local varieties from highaltitude (>700 m asl.), 2 imported varieties, and 1 local variety from lowland (0-200 m asl.) as control. The field trialplot was used to measure the adaptability of the varieties tested and as an observation plot for 30 farmers partisipants.Data from farmer participatory research were collected from farmer’s written answers on the questionnaire distributedby researchers. Farmer’s data were the level of preference (LP) of farmers to the characteristics of yield, number ofsprouts, bulb shape, bulb size, bulb color, and aroma of 8 shallots varieties tested in the field trial. The data was analyzedusing perceived quality methods. The results showed that local varieties from medium altitude namely Menteng Kupaand Maja were the most preferred by farmers. Agronomically, the yield of imported varieties were higher, and the bulbwere bigger than that of Menteng Kupa and Maja, despite of that the farmer’s level of preference on Menteng Kupaand Maja were 16-21% higher than that of the imported varieties of Tanduyung and Ilokos. The reason was that thetotal characteristics of Menteng Kupa and Maja in terms of yield, number of shoots, bulb shape, bulb size, bulb color,and aroma was preferred by farmers more than that of the total characteristics of imported varieties. Local varietiesMenteng Kupa and Maja were suitable varieties to be used in Brebes as an alternative of imported varieties.

Page 91 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue