cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Elastisitas Penawaran Output dan Permintaan Input Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah (Elasticity of Output Supply and Input Demand of Shallot Farming in Demak District, Central Java) Dewi Sahara; nFN Chanifah
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p281-288

Abstract

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai peran strategis bagi perekonomian Indonesia. Untuk meningkatkan produksi bawang merah, petani menggunakan beberapa input produksi. Perubahan harga bawang merah akan berdampak pada penawaran output dan permintaan input. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan harga output dan harga input terhadap penawaran output dan permintaan input usahatani bawang merah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan di Desa Raji, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak pada bulan September – Desember 2016. Penelitian menggunakan data primer yang dikumpulkan melalui metode survey terhadap 30 responden. Data dianalisis dalam bentuk pangsa permintaan input dengan metode Seemingly Unrelated Regression (SUR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penawaran bawang merah elastis terhadap perubahan harga bawang merah dan harga umbi benih, namun kurang elastis terhadap perubahan upah tenaga kerja, serta tidak elastis terhadap perubahan harga pupuk. Permintaan input (umbi benih, pupuk, dan tenaga kerja) bersifat elastis terhadap harga masing-masing input tersebut, dan sebagian besar bersifat inelastis terhadap harga input lainnya. Oleh karena itu untuk meningkatkan penawaran bawang merah, pemerintah seyogyanya mampu menjaga stabilisasi harga bawang merah dan mendorong menggunakan biji bawang merah (true seed shallot) sebagai alternatif untuk mengurangi pemakaian benih umbi bawang merah.KeywordsBawang merah; Perubahan harga; Penawaran output; Permintaan inputAbstractShallot is one of the vegetable crops that have a strategic role for the Indonesian economy. To increase the production of shallot, the farmers using several of input production. Changes of shallot would have an impact to output supply and input demand. This study aimed to determine the effect of changes in input and output prices to output supply and input demand of shallot farming. The study was conducted in Raji Village, Demak Subdistrict, Demak District in September - December 2016.  Primary data was collected through survey method by interviewing 30 respondents. The data was analyzed in the form of input demand share by Seemingly Unrelated Regression (SUR) method.  The results showed that supply of shallot is elastic to the price changes of shallot and price of seed bulbs, but less elastic to changes in labor wages and inelastic to changes in fertilizer prices. Demand for production input is elastic to the price of each input, and are largely inelastic with respect to other input prices. Therefore, to increase the shallot supply, the Government should be able to maintain the stabilization of shallot prices and encourage the use of true seed shallot as an alternative to reduce the use of shallot seeds.
Isolasi dan Uji Kemampuan Rizobakteri Indigenous sebagai Agensia Pengendali Hayati Penyakit pada Tanaman Cabai K, Sutariati GA; Wahab, Abdul
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n1.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Sejumlah cendawan patogen merupakan penyebab berbagai penyakit pada tanaman cabai (Capsicum annuum L.). Oleh karena fungisida sintetik berpengaruh negatif terhadap lingkungan, akhir-akhir ini penggunaan mikroorganisme antagonis sebagai agensia alternatif pengendali berbagai jenis patogen tanaman semakin banyak diteliti dan dikembangkan. Jenis mikroorganisme tersebut ialah bakteri rizosfir nonpatogenik yang mengolonisasi perakaran tanaman, dikenal sebagai plant growth promoting rhizobacteria. Berbagai jenis rizobakteri telah banyak digunakan untuk mengendalikan penyakit, di samping untuk memacu pertumbuhan tanaman. Tujuan penelitian ialah mengisolasi rizobakteri indigenous Sulawesi Tenggara dari perakaran tanaman cabai yang dieksplorasi dari Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Kendari, Muna, dan Buton serta menguji kemampuan isolat tersebut untuk menghambat pertumbuhan koloni cendawan patogen (Colletotrichum capsici dan Fusarium oxysporum) di laboratorium. Dari hasil penelitian diperoleh 20 isolat rizobakteri indigenous potensial (masing-masing 14 isolat P. fluorescens, dua isolat Serratia spp., dan empat isolat Bacillus spp.). Ke-20 isolat tersebut memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan koloni patogen target (C. capsici dan F. oxysporum) dan berpotensi dikembangkan sebagai agensia hayati pada tanaman cabai. ABSTRACT. Sutariati, G.A.K and A. Wahab. 2010. Isolation and Efficacy Trial of Indigenous Rhizobacteria as Biocontrol Agents of Fungal Diseases of Hot Pepper. A number of fungal pathogens have caused various diseases in hot pepper (Capsicum annuum L.). Since the utilization of chemical fungicides has negative impact to the environment, application of naturally available antagonistic microorganisms has been developed to control fungal pathogens. Rhizobacteria have been used for disease control and plant growth enhancement. The objectives of this experiment were to isolate local rhizobacteria from surrounding hot pepper roots, explored from Southeast Sulawesi especially from Konawe, South Konawe, Kendari, Muna, and Buton Regencies, and to characterize the effectiveness of the isolates to inhibit colony growth of hot pepper fungal pathogens, namely Colletotrichum capsici and Fusarium oxysporum. In this experiment, 20 potential isolates of indigenous rhizobacteria were found, i.e 14 isolates of P. fluorescens, two isolates of  Serratia spp., and four isolates of Bacillus spp.. All of the 20 isolates were able to inhibit colony growth of fungal pathogens and potential to be used as biocontrol agents of fungal diseases of hot pepper.
Pendekatan Fenetik Taksonomi dalam Identifikasi Kekerabatan Spesies Anthurium Martasari, C; Sugiyatno, Agus; Yusuf, H M; Rahayu, D L
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n2.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Identifikasi kekerabatan Anthurium koleksi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropikadilakukan menggunakan pendekatan fenetik. Hasil identifikasi kekerabatan ini akan sangat bermanfaat dalam kegiatanpemuliaan Anthurium untuk menghasilkan varietas baru. Sumber data yang digunakan adalah parameter morfologi,organ vegetatif, organ reproduksi, dan polen. Penentuan hubungan kekerabatan Anthurium dilakukan mengikutipetunjuk Sokal dan Michener (1958). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Balai Penelitian TanamanJeruk dan Buah Subtropika, Tlekung Batu dan Laboratorium Biologi Universitas Negeri Malang dari bulan Juni2005 hingga Januari 2006. Dari hasil penelitian diperoleh ciri-ciri umum dan khusus dari masing-masing spesiesAnthurium yang selanjutnya ciri-ciri tersebut dianalisis dan disusun dalam bentuk matriks jumlah pasangan satuantaxonomi operasional (STO). Fenogram dibentuk dari perhitungan koefisien asosiasi matriks. Berdasarkan fenogramdiperoleh 5 kelompok kekerabatan berturut-turut dari yang terdekat sampai yang terjauh. Spesies yang tergabungdalam kelompok pertama (A. ferriense dan A.macrolobim) dan kedua (A. amnicola Dressler. dan A. andraeanumLinden) termasuk berkerabat dekat di mana indeks kesamaannya masing-masing 65 dan 57,1%. Kelompok 3 (A.halmoreii Croat. dan A. jenmanii Engl.), dan kelompok 4 (A. crystallinum Linden & Andre dan A. andicola Liebm.)merupakan pasangan-pasangan yang berkerabat jauh, yaitu dengan indeks kesamaan 53,7 dan 47,8%. Kelompokkelima (A. superbum Madison dan A. correa Croat) merupakan pasangan yang berkerabat paling jauh dengan indekskesamaan 32,8%. Indeks kesamaan antara kelompok 1 dan kelompok 2 sebesar 29%, kelompok 3 dan kelompok 4sebesar 26%, dan indeks kesamaan kelompok 5 terhadap keempat lainnya adalah sebesar 25,3%.ABSTRACT. Martasari, C., A. Sugiyatno, H.M.Yusuf, and D. L. Rahayu. 2009. The Phenetic TaxonomyApproach to Identify Relationship of Anthurium Species. Identification of relationship of Anthurium species,collection from Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute (ICISFRI) was conducted using phenetictaxonomy approach method. The study was very useful to developed new superior variety of Anthurium. The data usedin the study were morphological, vegetative organ, reproductive organ, and pollen parameters. Anthurium relationshipwas defined based on Sokal and Michener method (1958). The research was carried out at both Indonesian Citrusand Subtropical Fruits Research Institute (ICISFRI) Breeding Laboratory and the Biology Laboratory, Malang StateUniversity from June 2005 to January 2006. The general and specific descriptors obtained from the experiment wereanalyzed and arranged in a matrices of STO pair number. Phenogram was created from the calculation of matricescoefficient association. According to the phenogram it was shown that 5 related groups of Anthurium species laid fromnear to far distance based on their relationship. The first group consist of A. ferrience and A. macrolobin, it had a neardistance with group 2 (A. amnicola Dressler. and A. andraeanum Linden) with their similarity index 65 and 57.1%respectively. Group 3 (A. halmoreii Croat and A. jenmanii Engl.), and group 4 (A. crystallinum Linden & Andre andA. andicola Liebm.) had a far distance with similarity index 53.7 and 47.8%. The last group (A. superboom Madisonand A. correa Croat.) was the furthest distance with similarity index 32.8%. The similarity index between first andsecond group, third and fourth group, and the fifth group to others was 29, 26, and 25.3%, respectively.
Seleksi Substrat untuk Perbanyakan Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin dan Infektivitasnya terhadap Hama Penggerek Bonggol Pisang, Cosmopolites sordidus Germar Hasyim, Ahsol; Yasir, H; Azwana, -
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n2.2005.p%p

Abstract

Seleksi substrat untuk perbanyakan Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin dan infektivitasnya terhadap hama penggerek bonggol pisang, Cosmopolites sordidus Germar. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2002 di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui media substrat yang terbaik untuk perbanyakan B. bassiana dan infektivitasnya dalam mengendalikan hama penggerek bonggol pisang. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari lima jenis media substrat yaitu beras, jagung, pupuk kandang, dedak halus, dan kontrol (air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat variabilitas daya kecambah isolat B. bassiana yang dibiakkan pada substrat jagung, beras, pupuk kandang, dan dedak. Daya kecambah isolat B. bassiana yang dibiakkan pada media substrat jagung dan beras lebih tinggi (86,47 dan 76,67%) dibandingkan media substrat dedak dan pupuk kandang yaitu 31,67 dan 24,00%. Produksi konidia pada jagung dan beras lebih tinggi dan berbeda sangat nyata (2,8 x 108 konidia ml/l dan 1,96 x 108 konidia ml/l) dibandingkan dengan dedak dan pupuk kandang dengan jumlah konidia paling rendah berturut-turut 1,26 x 106 konidia ml/l dan 4,57 x 106 konidia ml/l. Mortalitas hama penggerek bonggol pisang, C. sordidus paling tinggi diperoleh setelah diaplikasikan dengan jamur B. bassiana hasil biakan pada substrat jagung dan beras berturut-turut yaitu 86,67 dan 76,67%. Sedangkan jamur B. bassiana hasil biakan pada substrat pupuk kandang dapat menyebabkan kematian hama penggerek bonggol paling rendah yaitu 29,54% (LT50). Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa substrat jagung dan beras merupakan media perbanyakan B. bassiana yang baik untuk mengendalikan hama penggerek bonggol pisang. Selection of substrates for mass production of Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin and their infectiveness to control banana weevil borer, Cosmopolites sordidus Germar. Experiment was conducted at Entomological Laboratory of Indonesian Fruit Research Institute from June to December 2002. The aim of this study was to find out the best substrates for mass production of B. bassiana and their infectivity to control banana weevil borer. The research used a randomized complete block design with five treatments and three replications. Treatments consisted of five substrates such as rice, maize, animal manure, rice siftings, and control (water). The results showed that there was variability in germination of fungal B. bassiana culture on solid media (maize, rice, animal manure, and rice siftings). Germination rate of B. bassiana cultured in maize and rice substrate were higher (86.47 and 76.67% respectively), than the germination rate of B. bassiana cultured in animal manure and rice siftings substrate (31.67 and 24.00% respectively). A total of conidia production on maize and rice substrate were significantly higher i.e. 2.8 x 108 conidia ml/l and 1.96 x 108 conidia ml/l respectively, than that of B. bassiana isolate on animal manure and rice siftings substrate (1.26 x 106 conidia ml/l and 4.57 x 106 conidia ml/l) respectively. The highest mortalities of adult banana weevil borer, Cosmopolites sordidus was obtained by application of B. bassiana produced form maize and rice substrates i.e. 86.67 and 76.67% respectively. While B. bassiana produced form animal manure caused lowest death of C. sordidus i.e. 29.54% (LT50). This study was undertaken to provide more information of maize and rice substrates as a media for mass production of B. bassiana to control banana weevil borer.
Keefektifan Teknik Perangsangan Pembungaan pada Kelengkeng Yulianto, -; Susilo, J; Juanda, D
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n2.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Pengkajian ini bertujuan untuk memperoleh teknik perangsangan pembungaan pada tanaman kelengkeng yang efektif. Pengkajian teknik perangsangan pembungaan kelengkeng dilaksanakan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mulai bulan Juli hingga Desember 2005. Teknik perangsangan pembungaan yang dikaji meliputi (a) pemberian zat pengatur tumbuh paklobutrazol, (b) pemberian pupuk tambahan hara mikro, (c) perundukan dahan, (d) pemangkasan cabang dan tunas air, dan (e) tanpa perlakuan sebagai pembanding. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa teknik perangsangan pembungaan kelengkeng yang diintroduksikan mampu meningkatkan jumlah pohon berbunga serta meningkatkan kerapatan bunga dan buah per pohon. Aplikasi paklobutrazol mampu meningkatkan jumlah pohon berbunga paling banyak daripada perlakuan lainnya, tetapi kerapatan buah yang terbentuk lebih rendah daripada perlakuan lainnya. Kerapatan buah tertinggi dihasilkan dari tanaman-tanaman yang diperlakukan dengan perundukan dahan. Kerapatan buah yang tinggi berikutnya terjadi pada perlakuan pemangkasan, pemberian hara mikro, dan aplikasi paklobutrazol.ABSTRACT. Yulianto, J. Susilo, and D. Juanda. 2008. The Effectiveveness of Flowerwerwering Induction Techechechniques on Dragon’s Eye Fr uit. The objective of this experiment was to find out the effective flowering induction technique on dragon’s eye fruit. This study was conducted in Temanggung District from July to December 2005. The treatments were several flowering induction techniques i.e. (a) application of paclobutrazol growth regulator, (b) application of micronutrient fertilizer, (c) branches bent down, (d) pruning, and (e) without treatment (control). The assessment indicated that all of flowering induction techniques applied were able to induce flowering and increased yield per tree. Paclobutrazol application produced more flowers than other treatments, but gave less fruit density. The highest fruit density was produced on the trees with bent down branches, followed by pruning, addition of micronutrient, and paclobutrazol treatments.
Identifikasi dan Karakterisasi Manggis di Provinsi Bengkulu dan Bangka-Belitung Mansyah, E; Anwarudin syah, Muhammad Jawal; Muas, I; Usman, F
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n2.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Agustus 2003 sampai Agustus 2004 pada sentra produksi manggis di Provinsi Bengkulu dan Bangka-Belitung. Tujuan dari penelitian ini mengetahui keragaman aksesi manggis di Provinsi Bengkulu dan Bangka-Belitung. Penelitian dilaksanakan dengan metode eksplorasi. Pengamatan dilakukan terhadap karakter morfologi dan genetik. Pengamatan morfologi dilakukan terhadap karakter kualitatif dan kuantitatif serta pengamatan secara genetik dilakukan menggunakan teknik RAPD pada 8 aksesi contoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi manggis di Provinsi Bengkulu dan Bangka-Belitung menunjukkan variasi morfologi dan genetik, yaitu dalam bentuk kanopi tanaman dan bentuk buah. Bentuk kanopi terdiri atas piramid, elips, dan semisirkuler, sedangkan bentuk buah terdiri atas bulat, agak gepeng, seperti jantung, dan tidak beraturan. Berdasarkan data analisis RAPD menggunakan primer OPH-13 (CACGCCACAC) dan OPN-16 (AAGCGACCTG) dari 8 aksesi diketahui bahwa manggis dari Provinsi Bengkulu dan Bangka-Belitung mempunyai koefisien kesamaan genetik antara 0,78-1,0 dan terbagi ke dalam 2 kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 6 aksesi yang terpisah ke dalam 2 genotip yang berbeda dengan tingkat kesamaan genetik sekitar 0,90. Kelompok kedua terdiri dari 2 aksesi dengan tingkat kemiripan sebesar 0,87. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa kedelapan aksesi contoh tersebut terdiri dari 4 genotip berbeda yaitu (1) BLT-03, BKL-01, dan BKL-06, (2) BLT-08, BLT-12, dan BKL-09, (3) BLT-10, dan (4) BKL-07. Pengelompokan aksesi belum mencerminkan perbedaan secara morfologi. Hasil analisis ini masih perlu dilanjutkan untuk semua aksesi dengan primer yang berbeda. Informasi hasil penelitian ini memperkuat data tentang adanya keragaman pada manggis.ABSTRACT. Mansyah, E., M. Jawal A.S, I. Muas, Hendri, and F. Usman. 2007. Identification and Characterization of Mangosteen at Bengkulu and Bangka-Belitung Provinces. The research was conducted by exploration at mangosteen production center at Bengkulu and Bangka-Belitung Provinces from August 2003 to August 2004. The objective of this study was to find out the variability of mangosteen at Bengkulu and Bangka-Belitung Provinces. The parameters observed were morphology and genetic characters. Morphology characters observed were qualitative and quantitative while genetic observation was conducted by using RAPD technique. The results showed that mangosteen accessions at Bengkulu and Bangka-Belitung have morphology variations. The variations were on canopy and fruit shape. The canopy could be devided into 3 forms of pyramid, elliptical, and semicircular. Fruit shape described as round, flattened, ovoid, and irregular. RAPD analysis of 8 mangosteen accessions by using 2 primers OPH-13 (CACGCCACAC) and OPN-16 (AAGCGACCTG) showed that the accessions devided into 2 main groups with genetic similarity coefficient 0.78 to 1.0. First group consist of 8 genotypes which separated into 2 different genotypes with genetic similarity coefficient of 0.90. The second group consist of 2 genotypes with genetic similarity coefficient about 0.87. In general the 8 accessions could be separated into 4 different genotypes (1) BLT-03, BKL-01, and BKL-06, (2) BLT-08, BLT-12, and BKL-09, (3) BLT-10, and (4) BKL-07. Accessions grouping based on RAPD bands were not in accordance with morphology characters. Further evaluation by molecular marker was needed to clarify the genetic variability. This results strengthened the support about the presence of genetic variability on mangosteen.
Kemangkusan Amblyseius swirskii dan Orius laevigatus dalam Mengendalikan Hama Thrips parvispinus pada Paprika Prabaningrum, Laksmini; Moekasan, Tony Kustoni
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n4.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian yang bertujuan mengetahui kemurnian predator introduksi, keamanan jaring kasa Agronet(568 lubang/cm²), serta kemangkusan predator introduksi Amblyseius swirskii dan Orius laevigatus, dilaksanakansejak bulan Oktober 2007 sampai dengan April 2008 di Laboratorium Entomologi dan Fitopatologi Balai PenelitianTanaman Sayuran Lembang (±1.250 m dpl.) dan di Rumah Kasa CV ASB Farm di Desa Cigugurgirang, KecamatanParongpong, Kabupaten Bandung Barat (±1.100 m dpl.). Uji kemurnian dan keamanan dilakukan di laboratorium,sedang uji kemangkusan predator dilaksanakan di rumah kasa dalam mengendalikan hama T. parvispinus padatanaman paprika. Penelitian di rumah kasa menguji empat macam perlakuan pengendalian, yaitu dengan: (A) 75ekor A.swirskii/m2, (B) O.laevigatus 5 ekor/m2, (C) kombinasi 40 ekor A.swirskii + 3 ekor O.laevigatus/m2, dan (D)kontrol (tanpa predator). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kemasan predator introduksi A.swirskii danO.laevigatus hanya dijumpai kedua jenis predator tersebut dan tungau tepung sebagai makanan A.swirskii. Organismehama dan penyakit tidak ditemukan dalam kemasan, sehingga kedua predator tersebut layak diintroduksi ke Indonesia.Jaring kasa Agronet yang digunakan memiliki anyaman yang cukup rapat, sehingga tidak memungkinkan predatorpredatortersebut melaluinya. Dengan demikian, jaring tersebut aman digunakan sebagai dinding rumah kasa. Daripercobaan di rumah kasa diketahui bahwa A.swirskii efektif mengendalikan trips, sehingga hasil panen paprika dapatdipertahankan.ABSTRACT. Prabaningrum, L. and T.K. Moekasan. 2010. Effectiveness of Amblyseius swirskii and Oriuslaevigatus Against Thrips parvispinus on Sweet Pepper. The experiment was aimed to determine the purity ofintroductory predators, safety of the Agronet screen (568 holes/cm²), and effectiveness of introductory predatorsA. swirskii and O.laevigatus. The research was conducted from October 2007 until April 2008 in the Laboratory ofEntomology and Phytopathology Division of Indonesian Vegetables Research Institute (IVEGRI) (1,250 m asl.) andin the Greenhouse of CV ASB Farm in Cigugurgirang Village, Parongpong Subdistrict, West Bandung District (1,100m asl.), West Java. Purity and safety tests were conducted in the laboratory and the effectiveness test was conductedin the greenhouse. Four treatments were tested in the greenhouse i.e. the application of (A) A.swirskii (75/m2), (B)O.laevigatus (5/m2), (C) A.swirskii (40/m2) + O.laevigatus (3/m2), and (D) check (without predators). The resultsshowed that there were only A.swirskii, O.laevigatus, and powder mites as food in the containers of the introductorypredators. There were no pests and diseases in the container, so that the predators can be introduced. The net of thescreen was plaited closely, so that A.swirskii and O.laevigatus did not able to pass through. It was indicated that thescreen was safe to be used as the wall of screenhouse. The experiment in the screenhouse indicated that A.swirskiisuppressed thrips population effectively, so that the sweet pepper yield would be sustained.
Pengaruh KNO3 dan (NH4)2SO4 terhadap Pertumbuhan Bibit Anggrek Vanda Widiastoety, Dyah
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n3.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sumber nitrogen antara KNO3 dan (NH4)2SO4 terhadap pertumbuhan bibit anggrek Vanda. Unsur N diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sere Balai Penelitian Tanaman Hias di Pasarminggu, mulai bulan November 2006 sampai dengan Mei 2007. Bahan penelitian yang digunakan adalah bibit anggrek Vanda dengan ukuran tinggi 3 cm dan jumlah daun 5 helai. Media tumbuh yang digunakan adalah arang dan sabut kelapa. Metodologi penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah 0 (kontrol), 0,4%, 0,5%, dan 0,6% KNO3, 0,4%, 0,5%, dan 0,6% (NH4)2SO4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan KNO3 0,5% memperlihatkan pertumbuhan tinggi bibit, panjang daun, lebar daun, luas daun, jumlah daun, dan jumlah akar paling baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Penggunaan KNO3 sebagai sumber nitrogen lebih baik bila dibandingkan dengan (NH4)2SO4 pada pertumbuhan anggrek Vanda.ABSTRACT. Widiastoety, D. 2008. The Effect of KNO3 and (NH4)2SO4 on the Growth of Vanda Seedling. The objective of the research was to determine the nitrogen sources from KNO3 and (NH4)2SO4 on the growth of Vanda seedling. N nutrient is needed for vegetative growth. The experiment was conducted in the Greenhouse of Indonesian Ornamental Crops Research Institute at Pasarminggu, from November 2006 to May 2007. Vanda seedlings used in the experiment were 3 cm of height with initially had 5 leaves. The seedlings were grown on the media of charcoal and coconut husk mixture. The experiment was arranged in a randomized block design with 7 treatments and 4 replications. The treatments were control, 0.4%, 0.5%, and 0.6% KNO3, 0.4%, 0.5%, and 0.6% (NH4)2SO4. The results showed that 0.5% KNO3 indicated the best growth of leaf length, leaf width, leaf area, leaf number, and root number compared to other treatments. The use of KNO3 as nitrogen source was better than (NH4)2SO4 on the growth of Vanda seedling.
Distribusi Penyakit Layu Fusarium dan Layu Bakteri Ralstonia pada Lokasi Sumber Bibit dan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu Pisang di Sumatera Barat Nasir, Nasril; Jumjunidang, -; Riska, -
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 3 (2005): September 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n3.2005.p%p

Abstract

Sumatera Barat merupakan provinsi paling parah yang diserang oleh dua patogen layu pisang, Fusarium oxysporum cubense dan Ralstonia solanacearum. Diperkirakan lebih dari 60% areal pertanaman pisang tradisional di Sumatera Barat sudah rusak oleh kedua patogen ini. Penelitian ini bertujuan mendapatkan lokasi tanaman pisang yang bebas dari serangan kedua patogen tersebut, digunakan sebagai sumber bibit pisang. Di samping itu, penelitian juga bertujuan menentukan lokasi Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) sebagai lokasi pendidikan lapang bagi petani. Seleksi lokasi sumber bibit dilakukan secara survei selama bulan Juli 2002, sedangkan untuk lokasi SLPHT didasarkan pada pertimbangan endemis serangan kedua patogen ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari seleksi lahan, ditemukan hanya dua lokasi yang dapat direkomendasikan sebagai lahan sumber bibit pisang, yaitu Desa Surian Randah dan Baruah Gunung di Kabupaten Limapuluh Kota. Di kedua lokasi tersebut, serangan patogen penyakit layu kurang dari 10%. Sedangkan lokasi SLPHT dipersiapkan masing-masing di Baso, Kabupaten Agam dan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar.Distribution of fusarium and ralstonia wilt diseases at the source of planting material sites of banana and field integrated pest management course in West Sumatera. West Sumatera is the most severe province attacked by two wilt pathogens, Fusarium oxysporum cubense and Ralstonia solanacearum. It was assumed that more than 60% of traditional banana cultivation has been destroyed by both of the phatogens. This study was aimed to select the plantation free from both wilt diseases, to be used for source of planting material for banana. The study was also purposed to locate the Field Integrated Pest Management Course (FIPMC), as a field course for growers. Selection on the location for source of planting material site for banana was conducted through survey during the month of July 2002, while for FIPMC was based on the endemic of both of the pathogens. This study found that only two villages could be recommended for the source of planting material site for banana, those were Surian Randah and Baruah Gunung in Distric of Limapuluh Kota. At both of the villages, the attack of wilt diseases was less than 10%. While the area for FIPMC were decided in Baso Kabupaten Agam and Salimpaung Kabupaten Tanah Datar.
Tanggapan Distribusi Asimilat dan Luas Daun Spesifik Tanaman Tomat terhadap Aplikasi ZnSO pada Dua Interval Penyiraman Amalia Tetrani Sakya; Endang Sulistyaningsih; Didik Indradewa; BH Purwanto
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n4.2015.p311-317

Abstract

Seng (Zn) merupakan salah satu unsur hara yang berperan penting dalam aktivitas enzim karbonik anhidrase dan enzim ribulose 1,5 biphosphate karboxilase (RuBPC) yang  dalam kegiatan fotosintesis akan memproduksi bahan kering. Penelitian bertujuan untuk mengetahui distribusi bahan kering tanaman tomat pada penyiraman 2 dan 12 hari sekali dengan adanya aplikasi ZnSO4. Penelitian dilakukan di Banguntapan Yogyakarta pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2014. Penelitian menggunakan dua unit percobaan masing-masing untuk penyiraman 2 hari sekali dan 12 hari sekali. Pada masing-masing unit percobaan digunakan rancangan acak kelompok lengkap faktorial dengan tiga faktor perlakuan dan tiga ulangan. Ketiga faktor tersebut adalah metode aplikasi ZnSO4  (melalui tanah dan daun), dosis ZnSO4 (0, 40, dan 60 mg/kg), dan kultivar (Permata dan Tyrana). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi asimilat ke batang dan akar sama antara aplikasi ZnSO4 melalui daun maupun tanah, tetapi proporsi asimilat ke daun lebih rendah pada aplikasi ZnSO4 melalui daun, baik pada kultivar Tyrana maupun Permata dengan penyiraman 2 hari maupun 12 hari sekali dan aplikasi ZnSO4 melalui tanah pada penyiraman 2 maupun 12 hari sekali mengakibatkan daun semakin luas dan tebal. Hasil penelitian akan menambah wawasan dalam upaya meningkatkan produksi bahan kering tanaman melalui aplikasi hara mikro, khususnya Zn.  

Page 90 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue