cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Studi Kerusakan Buah Manggis Akibat Getah Kuning Ni Luh Putu Indriani; Lukitariati S.; - Nurhadi; Muhamad Jawal anwarudinsyah
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v12n4.2002.p%p

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor penyebab timbulnya getah kuning pada buah manggis yang dilakukan di KabupatenLimapuluh Kota dan Kodya Padang, mulai April 1995 - Maret 1996. Perlakuan terdiri dari pembungkusan buah dan tanpa pembungkusan buah. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa munculnya getah kuning pada kulit buah dapat terjadi selama proses perkembangan buah. Intensitas getah pada kulitbuah dipengaruhi oleh hari hujan, suhu min i mum, dan rata-rata suhu harian. Persentase kulit buah manggis yang bergetah dipengaruhi olehpembungkusan, hari hujan, suhu min i mum, dan suhu rata-rata harian. Pembungkusan buah tidak berpengaruh terhadap intensitas getah pada dagingbuah, tetapi berpengaruh pada persentase daging buah yang bergetah. Tidak ada korelasi antara getah yang ada pada kulit buah dengan getah yang adapada daging buah manggis. Hasil penelitian merupakan dasar untuk mengendalikan keluarnya getah kuning pada buah manggis sehingga kualitasbuah dapat ditingkatkan.Kata kunci : Garcinia mangostana; Getah kuning; IklimAB STRACT. Indriyani, NLP., S. Lukitariati, Nurhadi, and M. Jawal A. 2002. Study of man go steen fruit dam age caused yel low la tex stain -ing. The ob jec tives of this re search was to iden tify fac tors which cause the oc cur rence of yel low la tex stainingon man go steen fruits. This re search wascon ducted at Limapuluh Kota and Padang dis trict, from April 1995 un til March 1996. The treat ments con sisted of wrapped and un wrapped fruit. The re -sults showed that in ci dence of yel low la tex on the rind occured dur ing the pro cess of fruit de vel op ment. La tex in ten sity of the rind was af fected by the rainday, minimum tem perature, and average daily tem perature. The percentage of the latex rind was influ enced by fruit wrapping, rainfall, minimum tem pera -ture, and daily av er aged tem per a ture. Fruit wrap ping did not in flu enced la tex in ten sity of the flesh, how ever, it did on the per cent age of flesh con tain ing.There was no cor re la tion be tween the la tex occured on the rind and on the flesh of man go steen. The re sults of this re search is a ba sic in for ma tion to de cidethe con trol of man go steen fruit dam age caused by yel low la tex stain ing for im prov ing fruit qual ity.
Penampilan Fenotipik Beberapa Hibrida F1 Pepaya N L P Indriyani
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n3.2007.p%p

Abstract

Penelitian dilakukan di desa Banjarsari (±5 m dpl), Probolinggo, Jawa Timur, mulai bulan Nopember 2000 sampai September 2001 menggunakan rancangan acak kelompok lengkap. Perlakuan terdiri dari 10 hasil persilangan dan 3 ulangan. Peubah yang diamati adalah saat muncul bunga pertama, letak bunga pertama, letak buah jadi yang pertama, umur panen buah pertama, panjang tangkai buah, panjang buah, diameter buah, tebal buah, jumlah biji, berat buah, jumlah buah, hasil, padatan terlarut total, kadar air, dan kadar vitamin A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua karakter berbeda nyata di antara hibrida F1 kecuali saat muncul bunga pertama, letak bunga pertama, kadar air buah, dan vitamin A. Hibrida F1 dari persilangan 99-015 x 99-020, 99-015 x 99-017, dan 99-020 x 99-017 mempunyai karakter unggul yang paling banyak (7 karakter). Hibrida F1 yang mempunyai letak buah jadi yang pertama yang rendah ditampilkan oleh persilangan 99-015 x 99-020, 99-015 x 99-017, dan 99-020 x 99-017. Hibrida F1 yang mempunyai umur panen buah pertama yang paling cepat ditampilkan oleh persilangan 99-015 x 99-017. Hampir semua hibrida F1 mempunyai hasil yang tinggi kecuali dari persilangan 99-015 x 99-010, 99-014 x 99-010, dan 99-010 x 99-017. Hibrida F1 dari persilangan 99-015 x 99-017 mempunyai keunggulan letak buah jadi yang rendah, umur panen buah pertama yang cepat, hasil tinggi, dan padatan terlarut total yang tinggi. Hasil ini dapat digunakan untuk memilih hibrida F1 dalam rangka peningkatan produktivitas dan kualitas pepaya.ABSTRACT. Indriyani, N.L.P. 2007. Phenotypic Performance of some F1 Hybrids of Papaya. The aim of the research was to obtain the best phenotypic performance of papaya hybrids. The experiment was conducted at Banjarsari (± 5 m asl), Probolinggo, East Java, from November 2000 to September 2001, using a randomized complete block design. The treatment consisted of 10 populations of artificial cross pollination and 3 replications. Parameters observed were time of first flower emergence, first flower position, first fruit position, harvest time of first fruit, length of fruit stalk, fruit length, fruit diameter, flesh thickness, seed number, fruit weight, fruit number, yield, total soluble solid, moisture, and vitamin A. The results showed that almost all of characters observed among the hybrids were significantly different with exception for emergence of first flower, position of first fruit, moisture, and the vitamin A. Among 10 hybrids, 3 F1 hybrids were found to have highest superior character (7 characters). The lowest of first fruit position was presented by F1 hybrid from crossing of 99-015 x 99-020, 99-015 x 99-017, and 99-020 x 99-017. The earliest of harvest time of first fruit was presented by F1 from 99-015 x 99-017. Almost all of F1 hybrids were found to have high yield except for F1 hybrid of 99-015 x 99-010, 99-014 x 99-010, and 99-010 x 99-017. The lowest of first fruit position, the earliest of harvest time of first fruit, high yield, and high total soluble solid was presented by F1 hybrid of 99-015 x 99-017. This results can be used to select F1 hybrid in supporting the productivity and quality of papaya.
Pengaruh Pemangkasan Pucuk terhadap Hasil dan Kualitas Benih Lima Kultivar Mentimun Holil Sutapradja
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n1.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemangkasan pucuk terhadap hasil dan kualitas benih 5 kultivar mentimun. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang pada ketinggian 1.250 m dpl dengan tipe tanah Andosol, mulai bulan Februari sampai Mei 2005. Metode penelitian menggunakan rancangan acak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama terdiri dari kultivar Pluto, Mars, Saturnus, Venus, dan LV 2276. Anak petak terdiri dari tanpa pemangkasan pucuk pada batang utama, pemangkasan pucuk pada ruas ke-15 dan ruas ke-30. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh pemangkasan pucuk baik terhadap hasil maupun kualitas benih tidak bergantung pada kultivar. Pemangkasan pucuk pada ruas ke-15 memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah benih per buah, bobot kering benih per buah, dan bobot kering benih per tanaman, dibandingkan dengan pucuk yang tidak dipangkas. Pemangkasan pucuk tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kualitas benih (daya kecambah, daya muncul, kecepatan berkecambah, dan daya hantar listrik).ABSTRACT. 2008 Sutapradja, H. 2008. The Effect ofof Shoot Pruning on the Yield and Seed Qualility of Five Cucumber Cultivars. The objective of the experiment was to determine the effect of apical shoot pruning on the yield and seed quality of cucumber. The experiment was conducted at experimental garden of Indonesian Vegetable Research Institute, at 1,250 m asl with Andosol soil type, from February to May 2005. The experiment was carried out in split-plot design with 3 replications. The main plot was cucumber cultivars, consisted of Pluto, Mars, Saturnus, Venus, and LV 2276. While the subplot was apical shoot pruning, i.e. without shoot pruning, shoot pruning on the 15th and on the 30th stem internode. Results of the experiment showed that there was no interaction between cultivars and apical shoot pruning. Pruning on the 15th stem internode significantly gave the highest number of seed per fruit, as well as for dry seeds weight per fruit and per plant. However, apical shoot pruning have no effect on seed quality as indicated by seed germination, seedling emergence, germination rate, and electric conductivity
Pengaruh Tanaman Penutup Tanah dan Mulsa Organik terhadap Produksi Cabai dan Erosi Tanah Nani Sumarni; Aang Hidayat; Eti Sumiati
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n3.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Masalah utama budidaya cabai di lahan kering pegunungan dengan kemiringan >15° adalah erosi tanah dan pencucian hara sebagai akibat aliran air di permukaan tanah. Salah satu upaya mengatasinya adalah dengan penggunaan tanaman penutup tanah dan mulsa organik. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dengan tujuan mendapatkan jenis tanaman penutup tanah dan mulsa organik yang cocok untuk penanaman cabai. Penelitian menggunakan strip plot design dengan 4 perlakuan jenis tanaman penutup tanah (tanpa tanaman penutup tanah, kacang jogo, kacang tanah, dan ubi jalar) dan 3 jenis mulsa organik (tanpa mulsa, jerami, dan sisa-sisa tanaman). Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Tanaman penutup tanah dan tanaman cabai ditanam pada waktu bersamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mulsa jerami dan mulsa sisa-sisa tanaman tidak meningkatkan hasil bobot buah cabai, tetapi meningkatkan jumlah buah cabai masing-masing 6,8 dan 4,0% dan menekan erosi tanah sebesar 34,82%. Tanaman kacang jogo dan kacang tanah sebagai tanaman penutup tanah dapat meningkatkan produksi cabai masing-masing sebesar 11,74 dan 33,91%, dan juga dapat menurunkan erosi tanah masing-masing sebesar 22,41 dan 39,65%. Sebaliknya tanaman penutup tanah ubi jalar dapat menurunkan hasil cabai, tetapi paling efektif untuk menekan erosi tanah, yaitu sebesar 41,38%. Tanaman penutup tanah paling baik untuk penanaman cabai adalah kacang tanah karena dapat memberikan peningkatan hasil cabai paling tinggi (33,91%). Penggunaan tanaman penutup dan mulsa organik yang baik diharapkan dapat mempertahankan keberlanjutan produktivitas lahan.ABSTRACT. Sumarni, N., A. Hidayat, and E. Sumiati. 2006. The effect of cover crops and organic mulches on hot pepper yield and soil erosion. The main problem of hot pepper cultivation in dry upland with slope of >15° is the nutrient leaching and soil erosion due to run-off. One of the efforts to overcome this problem is by utilization of cover crops and organic mulches. The aim of the experiment was to determine the best cover crop and organic mulch in hot pepper cultivation. A strip plot design with 3 replications was used. The treatments were 4 kinds of cover crops (without cover crop, red bean, ground peanut, and sweet potato) and 3 kind of organic mulches (without mulch, rice straw, and plant residues). Cover crops and hot pepper were planted at the same time. Results of the experiment indicated that application of rice straw and plant residues mulches did not affect the yield of hot pepper, but increased the fruit number by 6.8% and 4% respectively, and decreased soil erosion by 34.82%. Using red bean and ground peanut as cover crops could increase hot pepper yield by 11.74 and 33.91%, and also decreased soil erosion by 22.41 and 39.65%, respectively. On the other hand, cover crop of sweet potato decreased the growth and yields of pepper, however, it was the most effective for decreasing soil erosion (41.38%). The best cover crop for cultivating hot pepper was ground peanut which gave the highest increased in yield of hot pepper (33.91%). Application of suitable cover crop and organic mulch can maintain soil productivity.
Potensi Individu Amblyseius deleoni et Denmark sebagai Predator Hama Tungau Panonychus citri McGregor pada Tanaman Jeruk L Setyobudi; Mizu Istianto; Oto Endarto
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n1.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Panonychus citri merupakan salah satu hama penting pada tanaman jeruk. Pengendalian terhadap populasi hama tungau ini perlu dilakukan untuk menekan kehilangan hasil pada tanaman jeruk. Salah satu alternatif pengendalian yang perlu dikembangkan adalah pemanfaatan musuh alami. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi individu A. deleoni pemangsa hama P. citri. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 1999-Januari 2000 di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 10 ulangan. Perlakuannya adalah A. deleoni diberi mangsa (1) telur, (2) larva, (3) nimfa, (4) imago, dan (5) campuran stadia P. citri, serta (6) tepungsari bunga pepaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa A. deleoni mampu memangsa P. citri. Individu A. deleoni mampu memangsa telur, larva, nimfa, imago, dan campuran stadia P. citri berturut-turut sebanyak 1,80-2,16 butir/hari, 1,08-2,22 ekor/hari, 0,70-1,52 ekor/hari, 0,47-1,08 ekor/hari, dan 1,15-2,93 ekor/hari. Lama stadia pertumbuhan A. deleoni pada stadia mangsa yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan nyata terhadap tingkat pemangsaan. Jumlah telur yang diletakkan oleh A. deleoni dewasa terbanyak adalah pada perlakuan mangsa telur, yaitu 14,40 butir. Jumlah keturunan F1 terbanyak dari A. deleoni terjadi pada perlakuan mangsa telur, yaitu 11,52 ekor. Hasil ini menunjukkan adanya alternatif predator yang dapat digunakan untuk mengendalikan populasi P. citri pada tanaman jeruk.ABSTRACT. Setyobudi, L., M. Istianto, and O. Endarto. 2007. Individual Potency of Amblyseius deleoni et Denmark as Predator of Panonychus citri McGregor on Citrus. Panonychus citri is one of the most economically important citrus pests in Indonesia. Controlling to this pest population is needed to suppress the crop losses of citrus production. One of the technologies to control mite population is by applying natural enemies. The objective of this research was to evaluate the individual potency of A. deleoni to prey P. citri. The research was arranged in a completely randomized design with 6 treatments and 10 replications This research was conducted from August 1999 to January 2000 in Laboratory of Entomology of Indonesian Citrus and Subtropic Fruit Research Institute Tlekung. The treatments were A. deleoni put in the several stages of P. citri lifecycle i.e. (1) eggs, (2) larva, (3) nymph, (4) adult, (5) mixed stages of P. citri, and (6) pollens of papaya. The results showed that A. deleoni had a potency to prey P. citri. During the treatments, individual of A. deleoni was able to prey 1.80-2.16 eggs/day, 1.08-2.22 larvae/day, 0.70-1.52 nymphs/day, 0.47-1.08 adults/day, 1.15-2.93 mixed stages of P. citri/day. The treatments tended not to have significant influence to longevity of A. deleoni. The largest number of eggs and first generation of A. deleoni found in the treatment of eggs of P. citri as a prey i.e. 14.40 and 11.52 respectively. This results gives an alternative predator that can be used to control the population of P. citri on citrus.
Interaksi Komponen dalam Sistem Usahatani Tanaman-Ternak Pada Ekosistem Dataran Tinggi di Jawa Barat Witono Adiyoga; T A Soetiarso; M Ameriana
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n2.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Kegiatan penelitian dilaksanakan di daerah dataran tinggi Jawa Barat (Lembang: Desa Cibodas dan Suntenjaya, Pangalengan: Desa Pulosari dan Margamulya, dan Ciwidey: Desa Lebakmuncang dan Panundaan) pada bulan Juni-Oktober 2004. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui interaksi antarkomponen dalam sistem usahatani tanaman-ternak pada ekosistem dataran tinggi. Responden di setiap lokasi ditentukan berdasarkan kriteria bahwa responden bersangkutan melakukan usahatani tanaman-ternak. Rincian jumlah responden di masing-masing lokasi adalah: Lembang 40 orang, Pangalengan 45 orang, dan Ciwidey 44 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem usahatani tanaman-ternak dataran tinggi di Jawa Barat merupakan sistem usahatani campuran terdiversifikasi, bukan sistem yang terintegrasi. Komponen sayuran dan sapi perah bersama-sama diusahakan, tetapi cenderung saling berdiri sendiri. Kombinasi 2 jenis usaha ini lebih bersifat saling mereduksi risiko, namun interaksi di antara keduanya cenderung minimal. Aliran hara bersifat linear, karena aktivitas daur ulang sumberdaya yang terjadi cenderung rendah. Interaksi antarkomponen juga bersifat minimal yang tercermin dari kontribusi kuantitatif subsistem ternak sapi perah terhadap kebutuhan total tenaga kerja untuk pengelolaan tanaman sayuran sebesar 0%, kontribusi subsistem ternak terhadap kebutuhan total pupuk kandang untuk pengelolaan tanaman sayuran hanya berkisar antara 0-25%, dan kontribusi limbah sayuran, atau produk sampingan dari sayuran yang diusahakan terhadap kebutuhan total pakan ternak hanya berkisar antara 0-10%. Berkaitan dengan penggunaan sumberdaya, kompetisi penggunaan tenaga kerja, khususnya tenaga kerja keluarga, misalnya, antara tenaga kerja untuk penyiangan/penyemprotan pestisida/pemupukan dengan tenaga kerja untuk keperluan menyabit rumput, sudah dirasakan sangat tinggi/ketat oleh petani. Dampak positif sistem tanaman-ternak yang dianggap nyata terhadap kelestarian lingkungan adalah penanaman rumput pakan ternak di pinggiran terasan (mengurangi erosi tanah) serta penggunaan pupuk kandang (memperbaiki struktur dan kesuburan tanah). Sementara itu, dampak negatif dari sistem tanaman-ternak berupa polusi, gangguan terhadap keseimbangan lingkungan, serta kesehatan manusia akibat pengendalian hama penyakit (tanaman dan hewan) secara kimiawi mulai dianggap nyata dan harus mulai mendapat perhatian lebih besar untuk dicarikan pemecahannya.ABSTRACT. Adiyoga, W., T. A. Soetiarso, and M. Ameriana. 2008. Component Interactions in Crop-livestock System in West Java Highland Ecosystem. This study was carried out in West Java highland areas (Lembang – Cibodas and Suntenjaya village, Pangalengan-Pulosari and Margamulya village, and Ciwidey – Lebakmuncang and Panundaan village) from June to October 2004. The objective of this study was to examine the component interactions of crop-livestock system in highland ecosystem. Respondents surveyed were those who grew vegetables and raised livestock simultaneously. Number of respondents selected were as follows: Lembang 40 respondents, Pangalengan 45 respondents, and Ciwidey 44 respondents. The results showed that crop livestock system (CLS) in West Java highland can be classified as diversified mixed farming systems, not integrated, consist of components such as crops and livestock that co-exist rather independently from each other (minimum interactions). In this case the mixing of vegetable crops and dairy-cows primarily serves to minimize risk and not to recycle resources. Nutrient flows tend to be linear, since the activity of resource-recycling is not significant. Minimum interactions between components were also reflected from zero contribution of labor from dairy-cow subsystem to the total labor requirement for vegetable cultivation; 0-25% contribution of manure from dairy-cow subsystem to the total organic fertilizer requirement for vegetable cultivation, and 0-10% contribution of crop wastes or by-products from vegetable farming to the total feed requirement for dairy-cows farming. Regarding resource utilization, there was high competition in labor-use, especially family labor, between vegetable and dairy-cows farming. Positive impacts of CLS perceived to be significant were the use of leys containing grasses and legumes to reduce erosion and use of manure to improve soil structure and fertility. Meanwhile, the negative impacts of CLS, such as pollution; environmental disruption and health hazards from disease and pest chemical control measures were beginning to be perceived as slightly significant and need more attention for finding the problem solution.
Penekanan Penyakit Akar Gada pada Tanaman Kubis melalui Perlakuan Tanah Pembibitan - Cicu
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n1.2005.p%p

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Kebun Instalasi Penelitian Tanaman Hias Cipanas (ketinggian 1.100 m dpl)dan di Laboratorium Mikologi, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogordari bulan Sep tem ber 2001 hingga Maret 2002. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan tanahpembibitan terhadap penekanan penyakit akar gada pada tanaman kubis. Rancangan percobaan yang digunakanadalah acak kelompok yang diulang tiga kali dan uji jarak berganda duncan taraf 5% digunakan untuk mengetahuiperbedaan pengaruh perlakuan. Perlakuan terdiri atas tanah pembibitan tanpa perlakuan solarisasi dan pupukkandang, tanah pembibitan dengan solarisasi, tanah pembibitan dengan pupuk kandang ayam, tanah pembibitandengan solarisasi dan pupuk kandang ayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tanah pembibitan hanyadengan pupuk kandang ayam dan perlakuan tanah pembibitan dengan solarisai dan pupuk kandang ayam dapatmengurangi keparahan penyakit akar gada di lapangan sebesar 12,4-20,5% dan meningkatkan produksi kubis sebesar58,6-85,8%.Sup pres sion of clubroot dis ease on cab bage by seed bed treat ments. The experimentwas con ducted at Cipanas Or na men tal Plants Re search Sta tion (at el e va tion 1,100 m asl) and Lab o ra tory of My col ogy,De part ment of Plant and Dis eases, Fakulty of Ag ri cul ture, Bogor Ag ri cul tural Uni ver sity from Sep tem ber 2001 toMarch 2002. The ob jec tive was to eval u ate the ef fect of seed bed treat ments on clubroot dis ease of cab bage caused byPlasmodiophora brassicae Wor. This ex per i ments was laid in a ran dom ized block de sign with three rep li ca tions andDMR test at level 5%. The treat ments were: seed bed with out chicken ma nure and solarization, seed bed withsolarization, seed bed with chicken ma nure, and seed bed with solarization and chicken ma nure. The re sults showedthat seed bed treat ments with chicken ma nure only and seed bed treat ment with chicken ma nure and solarization couldde creased the infestation of clubroot disease about 12,4-20,5% and in creased cab bage pro duc tion about 58.6-85.8%re lated to the changes of soil microflora pop u la tions on cab bage seed ling rhizosphere due to or ganic amend ment(chicken ma nure) and soil solarization.
Status Resistensi Spodoptera exigua Hubn. pada Tanaman Bawang Merah Asal Kabupaten Cirebon, Brebes, dan Tegal terhadap Insektisida yang Umum Digunakan Petani di Daerah Tersebut Tonny Koetani Moekasan; Rofik Sinung Basuki
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n4.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian terdiri atas survai dan penelitian laboratorium. Tujuan survai adalah untuk mengetahui perilaku petani dalam menggunakan insektisida untuk mengendalikan ulat bawang dan penelitian di laboratorium bertujuan mengetahui status resistensi ulat bawang terhadap insektisida yang umum digunakan oleh petani. Survai dilakukan terhadap 60 orang petani di Kecamatan Gebang dan Losari (Kabupaten Cirebon), Kecamatan Wanasari dan Larangan (Kabupaten Brebes), dan Kecamatan Dukuhturi dan Margadana (Kabupaten Tegal) pada bulan Juni sampai dengan Juli 2005. Penelitian di laboratorium dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2005. Pengujian menggunakan metode pencelupan potongan daun bawang terhadap larva S. exigua instar ke-2 dan atau ke-3 asal Kecamatan Gebang dan Losari (Kabupaten Cirebon), Kecamatan Wanasari dan Larangan (Kabupaten Brebes), Kecamatan Dukuhturi dan Margadana (Kabupaten Tegal). Penghitungan nilai LC50 tiap jenis insektisida yang diuji dilakukan menggunakan program komputer analisis Probit. Hasil survai menunjukkan bahwa insektisida yang umum digunakan petani untuk mengendalikan ulat bawang adalah spinosad, klorpirifos, triazofos, metomil, betasiflutrin, siromazin, karbosulfan, tiodikarb, dan abamektin. Petani umumnya mencampur 2-5 jenis insektisida dan melakukan penyemprotan 2-3 kali per minggu. Konsentrasi formulasi insektisida yang digunakan pada umumnya di bawah konsentrasi formulasi anjuran, tetapi volume semprot yang digunakan sesuai dengan yang direkomendasikan. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan terdapat perbedaan kerentanan S. exigua, bergantung pada asal (strain) ulat bawang yang diuji. Ulat bawang asal Kecamatan Gebang dan Losari (Kabupaten Cirebon) terindikasi resisten terhadap insektisida spinosad, klorpirifos, triazofos, betasiflutrin, siromazin, karbosulfan, tiodikab, dan abamektin. Ulat bawang asal Kecamatan Wanasari dan Larangan (Kabupaten Brebes) terindikasi resisten terhadap insektisida klorpirifos dan betasiflutrin, sedangkan ulat bawang asal Kecamatan Wanasari terindikasi resisten terhadap insektisida siromazin, karbosulfan, dan abamektin. Ulat bawang asal Kecamatan Dukuhturi dan Margadana (Kabupaten Tegal) terindikasi resisten terhadap insektisida karbosulfan dan tiodikarb, sedangkan ulat bawang asal Kecamatan Dukuhturi terindikasi resisten pula terhadap insektisida spinosad, klorpirifos, dan siromazin.ABSTRACT. Moekasan, T.K. and R. S. Basuki. 2007. Resistance Status of Spodoptera exigua Hubn. on Shallot from Cirebon, Brebes, and Tegal District to Several Insecticide Commonly Used by Farmers. The research consisted of survey and laboratory study. The aim of the survey was to identify farmers behaviour on using insecticide on shallot. While the laboratory study was aimed to find out the resistance status of pest toward pesticides commonly used by farmers. The survey conducted from June until July 2005, at Gebang and Losari Subdistricts (Cirebon District), Wanasari and Larangan Subdistricts (Brebes District), Dukuhturi and Margadana Subdistricts (Tegal District). Number of respondents was 60 farmers. The purpose of the laboratory study was to determine the resistance status of S. exigua larvae to several insecticides commonly used by farmers at those locations. The laboratory study conducted from July until December 2005. The leaf-dip bioassay used on second and third instar of S. exigua larvae from Gebang and Losari Subdistricts (Cirebon District), Wanasari and Larangan Subdistricts (Brebes District), and Dukuhturi and Margadana Subdistricts (Tegal District). The data was analyzed using Probit analyze programme. Results of the survey showed that farmers used spinosad, chlorpyriphos, triazophos, methomyl, betasifluthrin, cyromazin, carbosulfan, tiodicarb, and abamectin to control S. exigua Hubn. Usually farmers mix 2-5 insecticides and spray 2-3 times per week. Concentration of formulation used were under the recommendation, but the spraying volume based on the recommendation. Results of laboratory study showed that S. exigua larvae taken from Gebang and Losari Subdistricts (Cirebon Districts) were resistant to spinosad, chlorpyriphos, triazophos, betasifluthrin, cyromazin, carbosulfan, tiodicarb, and abamectin. Beet armyworm larvae taken from Wanasari and Larangan Subdistricts (Brebes Districts) were resistant to chlorpyriphos and betasifluthrin, and larvae from Wanasari were also resistant to cyromazine, carbosulfan and abamectin. The larvae taken from Dukuhturi and Margadana Subdistrict (Tegal District) were resistant to carbosulfan and tiodicarb, and the larvae from Dukuhturi Subdistrict (Tegal District) were also resistant to spinosad, chlorpyriphos, and cyromazine.
Studi Fenofisiologi Pembungaan Salak Gula Pasir sebagai Upaya Mengatasi Kegagalan Fruit-Set I Nengah Rai; CGA Semarajaya; I Wayan Wiraatmaja
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n3.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Salak Gula Pasir secara alamiah berbunga setiap 3 bulan sekali atau empat kali setahun, tetapi dariempat kali musim pembungaan, hanya satu sampai dua musim pembungaan saja yang menghasilkan buah. Kegagalanfruit-set menyebabkan panen buah salak Gula Pasir bersifat musiman. Penelitian bertujuan mempelajari fenofisiologipembungaan salak Gula Pasir untuk mengatasi kegagalan fruit-set dan memproduksi buah di luar musim. Penelitianmenggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor perlakuan dan 20 ulangan. Perlakuan yang diuji ialah musimpembungaan terdiri atas tiga taraf, yaitu musim pembungaan sela I (April), musim pembungaan gadu (Juli), dan musimpembungaan sela II (Oktober). Penelitian dilakukan di kebun salak Gula Pasir milik petani di Desa Sibetan, KecamatanBebandem, Kabupaten Karangasem, mulai bulan Maret sampai November 2009. Pengamatan dilakukan terhadappertumbuhan bunga dan buah, iklim mikro, kandungan N, P, dan K jaringan daun, dan kandungan N, P, dan K tanah.Data dianalisis dengan sidik ragam sesuai dengan rancangan yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwatanaman salak Gula Pasir yang diteliti dapat berbunga dengan baik pada sela I, gadu, dan sela II, tetapi persentasefruit-set pada gadu sangat rendah (20,53%) atau persentase bunga gugur sangat tinggi (79,47%). Tingginya persentasebunga gugur pada gadu berhubungan dengan kondisi iklim yang kurang mendukung, karena rendahnya intensitascurah hujan dan jumlah hari hujan, sehingga tanaman kekurangan air, yang ditunjukkan oleh rendahnya kandunganair relatif pada daun. Pembuahan salak Gula Pasir di luar musim dapat dilakukan dengan mengurangi persentasebuah gugur melalui pemberian air irigasi sebagai pengganti rendahnya curah hujan dan hari hujan.ABSTRACT. Rai, I. N., C.G.A. Semarajaya, and I. W. Wiraatmaja. 2010. A Study on the FloweringPhenophysiology of Gula Pasir Snake Fruit to Prevent Failure of Fruit-set. Flowering of Gula Pasir snake fruitnaturally occures once every 3 months or four times a year, but only one to two of flowering seasons succeeds toproduce fruit. Fruit-set failure causes the fruit harvest seasonally occurs. This research was aimed to study Floweringphenophysiology of Gula Pasir snake fruit to prevent failure fruit-set and to produce off-season fruit. A randomizedcomplete design with one treatment factor and 20 replications was used in the research. The treatment was floweringseason consisted of three levels i.e. sela I (April), gadu (July), and sela II (October). The research was conductedat a farmer’s snake fruit orchard in Sibetan Village, Bebandem Subdistrict, Karangasem Regency, from March toNovember 2009. Variables observed were flower and fruit growth, microclimate, N, P, and K leaf tissue content,and N, P, and K soil content. The data were analyzed by analysis of variance (anova). The results showed that theability of the crop to flowering was the same between season of sela I, gadu, and sela II. However, the percentageof fruit-set at gadu was very low (20.53%) or flower drop was very high (79.47%). Due to unfavorable climaticecondition that was very low total rain day and rainfall. Therefore, the crop did not obtain sufficient water, that wasindicated by the lowest relative water content on leaf. Off-season fruit production of Gula Pasir snake fruit of couldbe established by decreasing the percentage of flower drop by utilyzing irrigation as the substitution of low totalrain day and rainfall.
Pengaruh Pemotongan Akar dan Umur Bibit terhadap Pertumbuhan dan Jenis Seks Tanaman Pepaya Rahayau Triatminingih
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n1.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Persilangan antartanaman menghasilkan populasi segregasi dengan proporsi seks yang berbeda-beda.Dalam persilangan tanaman, identitas varietas menjadi kunci utama. Di sisi lain teknik identifikasi seks sejak fase benihsangat dibutuhkan dalam upaya mempercepat siklus generasi dan efisiensi dalam uji persilangan. Tujuan penelitianadalah mengetahui tipe seks yang terjadi akibat pengaruh perlakuan pemotongan akar dan umur bibit pada pepaya.Penelitian dilaksanakan di Probolinggo, Jawa Timur, pada bulan April sampai dengan Desember 2001. Penelitianmenggunakan rancangan petak terpisah dengan 4 ulangan. Petak utama adalah varietas yang dikombinasikan denganumur bibit, dan anak petak adalah akar yang tidak dipotong dan dipotong. Hasil penelitian menunjukkan bahwaperlakuan pemotongan akar tidak berpengaruh nyata terhadap persentase hidup dan persentase tanaman berbunga.Umur bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persentase hidup, tetapi berpengaruh nyata terhadap persentaseberbunga. Pemotongan akar mempengaruhi persentase tanaman sempurna dan persentase tanaman betina, tetapi tidakberpengaruh nyata terhadap persentase tanaman berbunga jantan. Untuk meningkatkan persentase tanaman sempurnapada varietas Dampit, bibit ditanam pada umur 3 minggu setelah di polibag. Pemotongan akar pada varietas Sarironaumur bibit 3 minggu dalam polibag menyebabkan penurunan persentase tanaman betina secara nyata. Persentasetanaman sempurna pada varietas Dampit berbeda nyata dengan varietas Sarirona.ABSTRACT. Triatminingsih. R. 2009. The Effects of Root Cutting and Seedling Age on the Growth and SexType of Papaya. Out crossing the plant produces population segregation with variation of sex types in differentproportion. In plant crossing, identity of variety is the main key. On the other hand, sex identification technique atearly seedling stage is needed in order to accelerate generation cycle and to increase efficiency on crossing assessment.The objective of this research was to determine the influence of root cutting and seedling age on the growth and sextype of papaya. The research was conducted in Probolinggo, East Java, from April to December 2001. The split plotdesign with 4 replications was used in this experiment, where combination of variety and seedling age as the mainplot, and root cutting as the subplot. The results of this experiment showed that root cutting did not significantly affectthe percentage of survival and the flowering plant. Seedling age significantly affected the percentage of floweringplant, but not on the percentage of survival. Root cutting at seedling stage could affect the percentage of femaleflower and hermaphrodite flower. Root cutting on papaya seedling Sarirona variety at 3 weeks after transplantingin the polybag could decrease the percentage of female flower. While Dampit variety transplanted after 3-week inthe polybag without root cutting gave higher percentage of hermaphrodite flower. The percentage of hermaphroditeflower on Dampit variety was significantly different from Sarirona variety.

Page 95 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue