cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Sifat Inovasi dan Aplikasi Teknologi Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat dalam Pengembangan Agribisnis Jeruk di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat Hilmi Ridwan Kahmir; Agus ruswandi; - Winarno; Agus Muharam; - Hardiyanto
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n4.2008.p%p

Abstract

Untuk meningkatkan produksi dan mutu buah jeruk di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura telah melaksanakan program penelitian dan pengkajian penerapan pengelolaan terpadu kebun jeruk sehat (PTKJS) di beberapa provinsi sentra produksi jeruk. Pengelolaan terpadu kebun jeruk sehat meliputi (a) penggunaan bibit jeruk berlabel bebas penyakit, (b) pengendalian OPT terutama vektor penyakit CVPD, (c) sanitasi kebun yang baik, (d) pemeliharaan tanaman secara optimal, dan (e) konsolidasi pengelolaan kebun. Tujuan penelitian adalah mengetahui sifat inovasi teknologi PTKJS yang berpengaruh terhadap adopsi inovasi oleh petani. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, dari bulan April sampai Desember 2006, menggunakan metode survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua inovasi teknologi PTKJS diadopsi oleh petani jeruk di Kabupaten Sambas. Inovasi teknologi yang tidak diadopsi oleh petani memiliki sifat inovasi yang berkategori nilai rendah. Inovasi teknologi tersebut adalah penggunaan perangkap kuning, penyiraman tanah dengan insektisida, penggunaan sex feromon, pemberongsongan, penyulaman dengan bibit berlabel, pemangkasan arsitektur, penyiraman tanaman dan pemanenan secara benar, serta konsolidasi pengelolaan kebun. Inovasi teknologi PTKJS yang sangat cepat diadopsi oleh petani adalah penyaputan batang menggunakan bubur (belerang) Kalifornia. Faktor nonteknis yang mempengaruhi adopsi teknologi PTKJS adalah kurang dukungan benih bermutu dari instansi berwenang, kurang dukungan penyediaan input produksi, khususnya belerang, rendahnya harga jual, dan kurangnya modal finansial petani.ABSTRACT. Ridwan, H.K., A. Ruswandi, Winarno, A. Muharam, and Hardiyanto. 2008. I���v�����Innovation Characteristics and Technologies Application of Integrated Crop Management for Healthy Citrus Orchid (ICMHCO) on the Development of Citrus Agribusiness in Sambas District, West Kalimantan. To increase production and quality of citrus in Indonesia, the Indonesian Center for Horticulture Research and Development has conducted research and assessment program of ICMHCO in several provinces. Integrated Crop Management for Healthy Citrus Orchid consists of (a) labelled and free diseases planting materials use, (b) pests and diseases control especially for the CVPD vector, (c) good field sanitation, (d) optimum cultural practices, and (e) field management consolidation. The objectives of this research was to evaluate characteristics of ICMHCO innovatory technologies that affect the adoption of the innovations by the farmers. The research was conducted in Sambas District, West Kalimantan, from April to December 2006, using survey method. The results showed that only a part of the innovatory technologies of ICMHCO were adopted by the citrus farmers in Sambas District. The non-adopted technologies generally have low value of technology characteristics. The technologies were labelled free diseases planting materials, yellow trap application, drenching with insecticide solutions, sex pheromon application, pruning, fruit wraping, irrigation and good harvesting practices. The innovatory technologies promptly adopted by the citrus farmers was California (sulphur) paste application. Non-technical factors that affect the adoption of the innovatory technologies of ICMHCO were less quality seed support institutionally, less support of production input from the proper institution especially for sulphur, low selling price and less financial capital of the farmers.
Optimalisasi Cara, Suhu, dan Lama Blansing sebelum Pengeringan Kubis Ali Asgar; Darkam Musaddad
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n4.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan mengetahui media, kombinasi suhu, dan lama blansing yang optimum untuk pembuatan kubis kering. Penelitian dilakukan dari Oktober sampai dengan November 2004. Penelitian menggunakan metode eksperimen di laboratorium menggunakan rancangan acak kelompok pola petak terpisah. Petak utama yaitu media blansing yang terdiri dari (1) media air dan (2) media uap. Anak petak yaitu kombinasi suhu dan lama blansing yang terdiri dari (1) suhu 65°C selama 15 menit, (2) 65°C selama 30 menit, (3) 75°C selama 10 menit, (4) 75°C selama 20 menit, (5) 85°C selama 5 menit, dan (6) 85°C selama 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara media dan kombinasi suhu dan lama blansing berpengaruh terhadap rendemen, rasio rehidrasi, kadar air, dan kandungan vitamin C. Berdasarkan hasil uji organoleptik, kubis kering terbaik adalah hasil perlakuan blansing yang menggunakan media air pada suhu 75°C dengan lama blansing 10 menit. Kubis kering hasil perlakuan ini mempunyai kadar air 7,71%, rendemen 4,32%, rasio rehidrasi 747,24%, dan vitamin C 83,128 mg/100 g.ABSTRACT. Asgar, A. and D. Musaddad, 2006. Optimizing of method, temperature, and time of blanching for processing of dried cabbage. The purpose of this research was to study the effect of method, temperature, and time of blanching on the characteristics of dried cabbage. The research was conducted from October to November 2004. The research was arranged in a split plot design with 2 x 6 factorial, 3 replications and followed by Duncan’s test. Main plot consisted of (1) steam blanching and (2) water blanching. Subplot consisted of temperature and time of blanching (1) 65°C 15 minutes, (2) 65°C 30 minutes, (3) 75°C 10 minutes, (4) 75°C 20 minutes, (5) 85°C 5 minutes, and (6) 85°C 10 minutes. The results showed that interaction between the method, temperature, and time blanching of significantly affect on dry matter, rehydration ratio, moisture, and ascorbic acid content. The organoleptic test of dried cabbage processed with water medium at 75°C for 10 minutes was the best. On this treatment dried cabbage were 7.71% of water content, 4.32% of dry matter, 747.24% of rehydration ratio, and 83.128 mg/100 g of vitamin C.
Pengaruh Jarak Tanam dan Ukuran Umbi Bibit terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kentang Varietas Granola untuk Bibit Holil Sutapradja
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n2.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK . Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu Lembang, Balai Penelitian Tanaman Sayuran dengan ketinggian 1.250 m dpl dari bulan Juni sampai dengan September 2005. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Masing-masing perlakuan adalah (a) umbi bibit <2,5 g dengan jarak tanam 80x15 cm, (b) umbi bibit <2,5 g dengan jarak tanam 80x30 cm, (c) umbi bibit 2,6-5 g dengan jarak tanam 80x15 cm, (d) umbi bibit 2,6-5 g dengan jarak tanam 80x30 cm, (e) umbi bibit >5,1 g dengan jarak tanam 80x15 cm, dan (f) umbi bibit >5,1 g dengan jarak tanam 80x30 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam dan ukuran umbi bibit berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil kentang varietas Granola untuk bibit. Jarak tanam 80x30 cm dengan ukuran umbi bibit <2,5 g memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan dan hasil kentang Granola dibandingkan perlakuan yang lain.ABSTRACT. Sutapradja, H. 2008.The Effect of Planting Dintance and Seed Size on the Growth and Yield of Granola Potato Variety for Seed Production. This experiment was conducted at Indonesian Vegetable Research Institute with the altitude of 1,250 m asl from June until September 2005. The experiment used a randomized block design with 6 treatments and 4 replications. The treatments were (a) seed size <2.5 g with spacing of 80x15 cm, (b) seed size <2.5 g. with spacing of 80x30 cm, (c) seed size 2.6-5 g with spacing of 80x15 cm, (d) seed size 2.6-5 g with spacing of 80x30 cm, (e) seed size >5.1 g with spacing of 80x15 cm, and (f) seed size >5.1 g with spacing of 80x30 cm. The results indicated that planting distance and size of seed significantly affect the growth and tuber yield of potato for seed production. Planting distance of 80x30 cm and seed size <2.5 g gave the better yield of potato seed compare with others.
Pengaruh Transportasi, Kultivar Anggrek Pot terhadap Kesegaran Bunga Selama Peragaan pada Berbagai Kondisi Ruangan Dwi Amiarsi; - Yulianingsih; S D Sabari
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n1.2006.p%p

Abstract

Penelitian bertujuan mendapatkan ketahanan segar tanaman anggrek pot berbunga pada beberapa kondisi ruangan dengan atau tanpa pengangkutan. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Juli 1998 sampai bulan April 1999. Tiga jenis tanaman pot anggrek Dendrobium berbunga (Candy Strip, Bunjet Pink dan Kyomeisabin) diperoleh dari petani bunga di daerah Cibubur, Bogor, Jawa Barat. Tanaman pot anggrek Dendrobium berbunga yang digunakan dalam penelitian ini merupakan tanaman yang berbunga pertama atau kedua. Pada sebagian tanaman pot dilakukan pengangkutan Jakarta–Bandung pulang pergi selama 10 jam (±308,3 Km). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap, pola faktorial dengan 3 ulangan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa anggrek Dendrobium Candy Strip pot berbunga yang ditempatkan di rumah sere penyinaran 55% tanpa dan dengan transportasi, mempunyai masa peragaan masing-masing 48,3 hari dan 43,9 hari, dengan bunga pertama layu mencapai 28,0 hari dan 24,2 hari, dan bunga mekar mencapai 100% setelah peragaan selama 24,7 hari dan 17,9 hari. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mempertahankan mutu dan masa peragaan anggrek pot Dendrobium sp. berbunga selama pengangkutan, sehingga distribusi pemasarannya dapat lebih luasExperiment was conducted to find out the self-life of flowered potted Dendrobium at several rooms conditions with or without transportation treatment. The experiment was done at Indonesian Ornamental Crops Research Institute from Juli 1998 to April 1999. Three Dendrobium cultivars (Candy Strip, Bunjet Pink and Kyomeisabin) as potted plant were bought from farmers orchid at Cibubur, Bogor, West Jawa. Flowering  Dendrobium with potted plant used in this experiment was at first or second flowering. Potted plant was transported from Jakarta–Bandung vice versa for about 10 hours (±308.3 km). A completely randomized design with 3 replications was used. The results showed that without and with transportation potted plant Dendrobium Candy Strip placed in a screenhouse of 55% lighting, indicated shelf life of 48.3 and 43.9 days, with first flowers wilting and 100% flower opening at 28.0 and 24.2 days and 24.7 and 17.9 days, respectively. This research results were useful to maintain the quality and shelf-life during transportation so that their marketing distribution can be extended.
Preferensi Konsumen terhadap Atribut Kualitas Empat Jenis Sayuran Minor Thomas Agus Soetiarso
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n4.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Keberadaan kelompok sayuran minor (under-utilized/indigenous) mulai terancam kepunahan karenadigantikan oleh beberapa spesies kultivasi. Kurang berkembangnya kelompok sayuran minor diindikasikan oleh atributkualitas yang dimiliki oleh komoditas tersebut yang relatif belum sebanding dengan kelompok sayuran prioritas, sepertikentang, kubis, dan tomat. Penelitian bertujuan mengidentifikasi preferensi konsumen terhadap atribut kualitas sayuranminor. Penelitian dilaksanakan melalui survai konsumen di Kelurahan Sukabungah, Kecamatan Sukajadi, KotamadyaBandung, Jawa Barat sejak bulan April sampai dengan Juni 2007. Pemilihan lokasi kotamadya dilakukan secara sengaja,sedangkan pemilihan kecamatan, kelurahan, dan responden ibu rumah tangga sebanyak 50 orang dilakukan secaraacak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Pada penelitianini komoditas sayuran minor yang diteliti adalah koro, katuk, labu siam, dan kecipir. Preferensi konsumen terhadapatribut kualitas sayuran minor dianalisis dengan teknik peringkat (ranking) dan diuji dengan uji Chi-square. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa, preferensi konsumen terhadap atribut kualitas ialah: (1) koro: ukuran polong besar(panjang 3 cm, dan lebar 2 cm), warna kulit ungu tua, kekerasan polong renyah, warna daging putih, dan rasanyagurih, (2) katuk: warna daun hijau muda, ukuran daun sedang (panjang 4 cm dan lebar 2 cm), jumlah daun/tangkaibanyak, dan rasanya agak manis, (3) labu siam: ukuran buah sedang (panjang 12 cm dan lebar 8 cm), warna kulithijau muda, kulit tanpa duri, kekerasan kulit sedang, kandungan getah sedikit, dan rasa agak manis, (4) kecipir: warnakulit hijau muda, panjang sedang (18 cm), permukaan kulit halus, bentuk buah lurus, kekerasan buah renyah, danrasanya agak manis. Sayuran minor (koro, katuk, labu siam, dan kecipir) merepresentasikan sayuran murah tetapitermasuk sumber nutrisi berkualitas tinggi. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk memperbaikiatribut sayuran minor sesuai dengan preferensi konsumen serta upaya untuk meningkatkan potensi ekonomis danpengembangan komoditas tersebut.ABSTRACT. Soetiarso, T. A. 2010. Consumer’s Preference on Quality Attributes of Four Minor Vegetables. Theexistence of minor (under-utilized/indigenous) vegetables is beginning to extinct because they are replaced by somecultivated species. Slow development of minor vegetables is also caused by the product quality attributes of thosevegetables that have not been recognized compared to the priority vegetables, such as potato, cabbage, and tomato.The study was aimed to identify consumer preference on quality attributes of four minor vegetables. A consumersurvey was carried out in Sukabungah Village, Sukajadi Sub-district, Bandung, West Java from April to June 2007.Location of survey was purposively selected, while 50 household mothers were randomly chosen. Data were collectedthrough interviews by using a structured questionnaire. Minor vegetables included in this study were lima bean,star gooseberry, chayote, and winged bean. Consumer preference on product attributes of minor vegetables wereanalyzed by using the ranking technique and tested with Chi-square. Results indicated that consumer preferences onquality attributes for minor vegetable were as follows: (1) lima bean: large pod size (20 cm length and 2 cm width),dark purple skin color, crisp pod hardness, white flesh color, and delicious taste, (2) star gooseberry: light green leafcolor, medium leaf size (4 cm length and 2 cm width), much number of leaves/branches, and slightly sweet taste,(3) chayote: medium fruit size (12 cm length and 8 cm width), light green skin color, thornless skin, medium skinhardness, little sap content, and slightly sweet taste, (4) winged bean: light green skin color, medium length about18 cm, smooth skin surface, straight fruit shape, crisp fruit hardnes, and slightly sweet taste. Minor vegetables (limabean, star gooseberry, chayote, winged bean) represent inexpensive but high quality nutritional contents. The resultsof this consumer survey may be used as a preference-based feedback for improving the product attibutes of minorvegetables to increase their economic potentials.
Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Bahan Penstabil terhadap Mutu Produk Velva Labu Jepang Bram Kusbiantoro; H Herawati; A B Ahza
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 3 (2005): September 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n3.2005.p%p

Abstract

Penelitian dilakukan di BPTP, Lembang, Jawa Barat, mulai bulan Maret sampai Agustus 2003. Tujuan penelitian adalah mengetahui jenis dan konsentrasi bahan penstabil terhadap mutu produk velva labu jepang, baik mutu organoleptik maupun fisikokimia. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua ulangan. Rasio puree dengan air yang digunakan adalah 2:1, 1;1 dan 1:2, sedangkan untuk konsentrasi gula adalah 25, 30, dan 35% dari berat. Pada penelitian utama, bahan penstabil yang digunakan adalah CMC dan gum arabic, dengan rentangan konsentrasi 0, 0,25, 0,5, 0,75%, dan 1% dari berat puree. Berdasarkan hasil uji pembobotan yang dirangkum dari penerimaan panelis terhadap keseluruhan parameter organoleptik diperoleh velva labu jepang dengan rasio puree dengan air 1:2, konsentrasi gula 35%, dan penambahan CMC 0,75% dengan nilai kesukaan 5,11 yang berarti paling disukai. Sedangkan berdasarkan analisis terhadap produk terpilih diperoleh bahwa: kadar air 70,23%, overrun 27,76%, padatan terlarut total 26%, total asam 1,71%, total karoten 36,20 ppm, pH 4,39, kecepatan pelelehan 18,56, kadar vitamin C 93,79 mg/100g, kadar gula 27,5%, kadar lemak 0,05%, kadar serat kasar 0,72%, dan total kalori 69,36 per 100 g.Effect of kind and concentration of stabilizers on kabocha velva. The experiment was conducted at AIAT (Assesment Institute of Agriculture Technology) Lembang West Jawa, from March to August 2003. The aim of this study was to find out the kind and concentration of stabilizers, through organoleptic and physicochemical test. The experiment used was completely randomized design with two replications. Puree and water ratio used were 2:1, 1;1 and 1:2, with sugar concentration of 25, 30, and 35% based on puree weight. In the main research, modified velva by CMC and gum arabic with concentration of 0, 0.25, 0.5, 0.75, and 1% from puree weight were used. Based on rating test of the sensory evaluation of parameter, it was found out that best kabocha velva was at puree and water ratio 1:2, 35% sugar content, 0.75% CMC content with preferrence value 5.11 that the most preferred than others. Physicochemical analysis on selected product showed the content of 70.23% water, 27.76% overrun, 26% of total soluble solid, 1.71% total acid, 36.20 ppm of total carotene, 4.39 pH, 18.56 minutes melting point, 93.79 mg/100 g vitamin C, 27.5% sugar, 0.05% fat, 0.72% fiber, 69.36 total calorie/100 g product.
Dinamika Populasi dan Pola Infestasi Liriomyza huidobrensis Blanchard pada Tanaman Kentang di Musim Kemarau dan Musim Hujan Wiwin Setiawati; Aang Somantri; - Purwati
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v12n4.2002.p%p

Abstract

Liriomyza huidobrensis merupakan hama baru pada tanaman kentang. Hama ini pertama kali dilaporkan menyerangtanaman kentang di Puncak, Jawa Barat pada tahun 1994 dan diduga telah resisten terhadap berbagai jenis insektisidaseperti organofosfat, karbamat, dan piretroid sintetik. Upaya pengendalian diarahkan pada pengendalian hamaterpadu yang penerapannya bergantung pada bioekologi serangga hama. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui dinamika L. huidobrensis dan musuh alaminya, serta pola infestasi pada tanaman kentang di musimkemarau dan musim hujan. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang,sejak bulan Juni 1999 sampai dengan bulan Pebruari 2000. Rancangan percobaan yang digunakan adalah PetakBerpasangan, terdiri atas dua perlakuan dan diulang enam kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L. huidobrensismulai menyerang tanaman kentang sejak umur tiga minggu setelah tanam (MST) dan mencapai puncaknya pada umurempat, enam, dan delapan MST. Keberadaan kompetitor sangat mempengaruhi fluktuasi populasi L. huidobrensis.Selain itu faktor lingkungan abiotik seperti suhu, kelembaban, dan angin juga mempengaruhi fluktuasi populasi L.huidobrensis. Keberadaan musuh alami H. varicornis tidak mampu menekan serangan L. huidobrensis. Penggunaaninsektisida bensultaf 50 WP cukup efektif untuk mengendalikan L. huidobrensis. Pada musim kemarau serangan L.huidobrensis lebih tinggi bila dibandingkan dengan musim hujan. L. huidobrensis lebih memilih daun bawah dantengah sebagai tempat peletakan telur.Kata kunci : Solanum tuberosum; Dinamika populasi; Pola infestasi; Liriomyza huidobrensis; Musim kemarau;Musim hujan.AB STRACT. Setiawati, W., A. Somantri, and Purwati. 2002. Pop u la tion dy namic and in fes ta tion pat tern ofLiriomyza huidobrensis on po tato in dry sea son and rainy sea son. The leafminer flies are newly re corded as a peston po tato in In do ne sia. It was firstly re ported to at tack po tato in Puncak, west Java in 1994 and its has be came re sis -tance to sev eral in sec ti cide such as organophospate, carbamat, and syn thetic pyrethroid. In te grated pest man age mentis the best way to con trol this pest and in for ma tion of bioecology of this pest is im por tant to sup port im ple men ta tion ofin te grated pest man age ment (IPM) tech nol ogy in the field. The ob jec tives of this ex per i ment were to know pop u la tiondy namic of L. huidobrensis and its nat u ral en e mies and in fes ta tion pat tern of this pest on po tato in dry and rainy sea -son. This ex per i ment was con ducted at Re search In sti tute for Veg e ta bles (Lembang, West Java) from June 1999 toFeb ru ary 2000. Comparation paired de sign was used in this ex per i ment with two treat ments and rep li cated six times.Re sults of this ex per i ment in di cated that L. huidobrensis in vaded and at tacked po tato plants start ing from the shootemer gence stage or at three weeks af ter plant ing. Pop u la tion of L. huidobrensis fluc tu ated dur ing the grow ing pe riodof plants, and there were three pop u la tion peaks oc curred at four, six, and eight weeks af ter plant ing. Com pet i tors andabiotic fac tors such as tem per a ture, hu mid ity, and wind were more in flu enced L. huidobrensis pop u la tion thanparasitoid ac tiv ity. Bensultaf 50 WP in sec ti cide was ef fec tive to con trol L. huidobrensis. Pop u la tion of L.huidobrensis was higher in dry sea son than in rainy sea son. The adult of L. huidobrensis pre ferred to feed and ovipositon leaves lo cated in the bot tom and mid dle part of po tato plants.
Efek Pemberian Fosfor terhadap Pertumbuhan dan Status Hara pada Bibit Manggis Liferdy Lukman
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n1.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Fosfor (P) dikatakan sebagai salah satu kunci kehidupan, karena fungsinya yang sangat sentral dalam proses kehidupan. Fungsi utama P dalam tanaman adalah menyimpan dan mentransfer energi dalam bentuk  ADP dan ATP. Energi diperoleh dari fotosintesis dan metabolisme karbohidrat yang disimpan dalam campuran fosfat untuk digunakan dalam proses-proses pertumbuhan dan produksi. Tanpa P, proses-proses tersebut tidak dapat berlangsung. Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2004 sampai Mei 2006 di Kebun Pembibitan Pusat Kajian Buah Tropika Institut Pertanian Bogor, Tajur, Bogor pada ketinggian 200 m dpl.. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan pengaruh P terhadap pertumbuhan dan status hara P pada bibit manggis. Tanaman manggis umur 17 bulan digunakan dalam penelitian ini. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok, dengan enam perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan terdiri atas enam tingkat dosis pupuk P, yaitu 0, 25, 50, 100, 200, dan  400 ppm/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit manggis, terutama untuk peubah tinggi tanaman, panjang cabang, jumlah cabang, dan jumlah daun. Konsentrasi P daun berdasarkan hasil analisis, statusnya dikelompokkan sebagai berikut: <0,05% = sangat rendah, 0,05-<0,10% = rendah, 0,10-<0,19 = sedang, dan >0,19% = sangat tinggi. Untuk mendapatkan pertumbuhan maksimum dibutuhkan dosis pupuk P optimum sebanyak 130 ppm P/tanaman bibit. Bila mempergunakan model linear plateau maka dosis yang direkomendasikan adalah 84 ppm P/tanaman bibit. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah sebagai pedoman dalam menyusun rekomendasi pemupukan P untuk bibit manggis.ABSTRACT. Liferdi, L. 2010. The Effect of Phosphor Application on the Growth and Nutrient Status of Mangosteen Seedling. Phosphor (P) is often called as a key in life because of it’s central function in the living process.  The most essential function of P in plant is energy storage and transfer within adenosine di and tri phosphates (ADP and ATP) forms. Energy obtained from photosynthesis and metabolism of carbohydrate is stored in phosphate compounds for subsequent use in growth and reproduction processes. Without P, those processes can not occur. The experiment was conducted on June 2004 until May 2006 at the nursery of Center for Tropical Fruits Study, Bogor Agricultural University (elevation 200 m asl.). The objective of this experiment was to examine the effect of P on the growth and nutrient status of mangosteen seedling. The experiment was arranged in a randomized complete block design, consisting of  six treatments with six replications. The treatments were six levels of P dosage: 0, 25, 50, 100, 200, and 400 ppm/plant. All treatments were applied on 17-months mangosteen seedlings. The results showed that P significantly affected plant height, branch length, branch number, and leaf number of mangosteen seedlings. Based on leaf tissue analysis, the leaf with concentration of P less than 0.05% was classified as very low, 0.05 to <0.10% was low, 0.10 to <0.19% was medium, and >0.19% was very high. To obtain the maximum growth of mangosteen seedling the optimum dosage of P of 130 ppm P/plant was needed. By using a linear plateau model, the recommended dosage was 84 ppm P/plant. The results  of this research can be used as a guide to estimate  P fertilization, especially  for mangosteen seedling.
Pengaruh Konsentrasi Benzil Adenin terhadap Kualitas Pascapanen Dracaena sanderiana dan Codiaeum variegatum Muhammad Fuadi; Yusdar Hilman
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n4.2008.p%p

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan pengaruh berbagai konsentrasi benzil adenin �B� � � (BA) terhadap kualitas Dracaena sanderiana dan Codiaeum variegatum pada saat simulasi pengangkutan melalui laut (di ruang gelap). Perlakuan terdiri dari konsentrasi BA: 0 (kontrol), 75, 150, 225, dan 300 mg/l. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitias D. sanderiana dan C. variegatum pada parameter laju fotosintesis, konduktansi stomata, kadar klorofil, tinggi tanaman, dan kelas tanaman dipengaruhi oleh benzil adenin. Pada D. sanderiana laju fotosintesis (6,74 μmol/m2/det) dan kandungan klorofil tertinggi dicapai pada konsentrasi 300 mg/l, sedangkan pada C. variegatum tertinggi (5,40 μmol/m2/det) pada konsentrasi 150 mg/l. K� � � � Kadar fotosintesis meningkat dengan meningkatnya kandungan klorofil. Kadar fotosintesis pada perlakuan ini 2 kali lipat bila dibandingkan dengan perlakuan lain. Konduktansi stomata, berat segar daun, dan kelas tanaman juga dipengaruhi oleh konsentrasi BA. Kadar fotosintesis dan kandungan klorofil pada D. sanderiana di mana tanaman yang diberi perlakuan 300 mg/l BA menunjukkan bahwa tanggap tanaman lebih baik dan kebutuhan C. variegatum memerlukan konsentrasi yang lebih rendah (150 mg/l BA). Kelas tanaman yang lebih baik seperti warna daun hijau gelap dan segar. Dracaena sanderiana dan C. variegatum masing-masing menghendaki konsentrasi BA 300 mg/l (4,50 = kualitas sangat baik) dan 150 mg/l (4,17 = kualitas sangat baik).ABSTRACT. Fuadi, M. and Y. Hilman. 2008. The Effect of Benzyl Adenine Concentration on Postharvest Quality of Dracaena sanderiana and Codiaeum variegatum. This study was carried out with the main objective of looking at the effects of benzyl adenine (BA) on the growth and quality retention of Dracaena sanderiana and Codiaeum variegatum during simulation of subsequent shipping conditions (in the dark chamber). Concentrations of BA applied were 0 (control), 75, 150, 225, and 300 mg/l. The results showed that the growth and plant quality of D. sanderiana and C. variegatum in terms of photosynthesis rate, stomatal conductance, chlorophyll content, plant height, and plant grade were significantly (p<0.05) affected by BA. The highest photosynthesis rate (6.74 μmol/m2/sec.) and chlorophyll content were found on D. sanderiana sprayed with 300 mg/l BA, while C. variegatum gave the highest photosyntesis rate (5.40 μmol/m2/sec.) at application of 150 mg/l BA. As expected, photosynthesis rate increased with higher chlorophyll content. The photosynthesis rate for both treatments were double compared to the other treatments. Stomatal conductance, leaf fresh weight, and plant grade were also significantly (p<0.05) affected with different concentrations of BA. Similar to the photosynthesis and chlorophyll content of D. sanderiana, plants sprayed with 300 mg/l BA showed a better growth response, while C. variegatum needs lower concentrations (150 mg/l BA). In order to obtain a good plant grade in term of leaf freshness, D. sanderiana and C. variegatum required BA concentration of 300 mg/l (4.50 = excellent quality) and 150 mg/l (4.17 = excellent quality) respectively
Optimalisasi Cara, Suhu, dan Lama Blansing sebelum Pengeringan pada Wortel Ali Asgar; Darkam Musaddad
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n3.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan mengetahui cara, suhu, dan lama blansing yang optimum sebelum pengeringan wortel. Penelitian dilakukan dari Oktober sampai dengan November 2004. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen di laboratorium menggunakan rancangan kelompok pola petak terpisah. Petak utama yaitu cara blansing menggunakan air dan uap. Anak petak yaitu kombinasi suhu dan lama blansing yang terdiri dari (1) suhu 65°C selama 15 menit, (2) 65°C selama 30 menit, (3) 75°C selama 10 menit, (4) 75°C selama 20 menit, (5) 85°C selama 5 menit, dan (6) 85°C selama 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk wortel kering yang terbaik yaitu hasil blansing menggunakan air dengan suhu 85°C selama 10 menit (1,533 = sangat disukai) dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Perlakuan tersebut mempunyai kadar air 7,53%, rendemen 9,27%, rasio rehidrasi 340,83%, vitamin C 68,55 mg/100 g, dan β-karoten 0,197%.ABSTRACT. Asgar, A. and D. Musaddad, 2006. Optimizing of method, temperature, and time of blanching for processing of dried carrot. The purpose of this research was to find out the method, temperature, and time of blanching on the characteristics of dehydrated carrot. The research was conducted from October to November 2004. The research was arranged in a split plot design with 2 x 6 factorial and, 3 replications. Main plot consisted of steam blanching and water blanching. Subplot consisted of temperature and time of blanching (1) 65°C for 15 minutes, (2) 65°C for 30 minutes, (3) 75°C for 10 minutes, (4) 75°C for 20 minutes, (5) 85°C for 5 minutes, and (6) 85°C for 10 minutes. The results of this research showed that dried carrot processed using water blanching at 85°C for 10 minutes was the best, with the properties of dried carrot were 7.53% moisture, 9.27% dry matter, 340.83% rehydration ratio, 68.55 mg/100 g ascorbic acid, and 0.197% β-caroten.

Page 93 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue