cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Kualitas Buah Tomat pada Pertanaman dengan Mulsa Plastik Berbeda D Setyorini; D Indradewa; E Sulistyaningsih
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n4.2009.p%p

Abstract

Kondisi lingkungan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman. Memodifikasikondisi lingkungan selain akan memengaruhi pertumbuhan tanaman juga dapat memengaruhi kualitas buah yangdihasilkan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian, sertaLaboratorium Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Gadja Mada, Yogyakarta, pada bulanFebruari sampai Juni 2004. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok, 5 perlakuan warna mulsa plastikdengan 4 kali ulangan. Variabel pengamatan meliputi jumlah buah per tanaman, buah rusak per plot, berat per buah,diameter dan panjang buah, kekerasan buah, nilai kematangan buah, total padatan terlarut dalam buah, kandunganvitamin C buah, dan kandungan asam dominan buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna mulsa plastikberpengaruh terhadap parameter kualitas spesifik buah tomat. Penggunaan mulsa plastik merah dapat memperkecilpersentase buah rusak, namun menurunkan nilai koefisien kematangan buah, sedangkan penggunaan mulsa plastikbiru dapat meningkatkan kekerasan buah. Sementara itu, mulsa plastik hitam perak dapat meningkatkan kadar asamdominan yang cocok untuk budidaya tomat olahanABSTRACT. Setyorini, D., D. Indradewa, and E. Sulistyaningsih. 2009. Fruit Quality of Tomato Planted inDifferent Plastic Mulch. Environment conditions is one of important factor that may affect plant growth. Modificationof environment conditions will not only affect plant growth, but also fruit quality. This study was carried out in TheExperimental Garden and Horticultural Laboratory of College of Agriculture, Gadjah Mada University. The experimentwas set up in a randomize block design with 5 levels of treatments (plastic mulch color) and 4 replications. Parameterobserved were fruit number per plant, damaged fruit per plot, fruit weight, diameter and length of fruit, fruit firmness,coefficient of fruit ripening, total soluble solid, vitamin C, and dominant acid. The results showed that the color ofplastic mulch had a specific effect on tomatoes fruit quality parameter. The use of red plastic mulch reduce thepercentage of damage fruits but decreased the coefficient of fruit ripening. The blue plastic mulch had a significanteffect on increase fruit firmnes. Meanwhile, the silvery black plastic mulch could increase the dominant acid contentthat was suitable for growing processing tomatoes.
Pengaruh Campuran Insektisida terhadap Ulat Bawang Spodoptera exigua Hubn. Tonny Koetani Moekasan; Rini Murtiningsih
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n1.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efikasi campuran empat insektisida yaitu spinosad (Tracer), metomil (Metindo), tiodikarb (Larvin), dan klorpirifos (Dursban) terhadap larva Spodoptera exigua pada tanaman bawang merah di lapangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai September 2007 di Desa Kendawa, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten DT II Brebes, Jawa Tengah (± 2 m dpl.). Delapan perlakuan termasuk kontrol dan pembanding diuji menggunakan rancangan acak kelompok dan masing-masing perlakuan diulang empat kali. Perlakuan yang diuji adalah (a) spinosad + metomil, (b) spinosad  + tiodikarb, (c) klorpirifos  + metomil, (d) spinosad, (e) tiodikarb, (f) klorpirifos, (g) metomil, dan (h) kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga macam campuran yang diuji, campuran spinosad + metomil paling efektif menekan S. exigua dan dapat mempertahankan hasil panen bawang merah. Selain itu berdasarkan harga resmi pestisida pada tahun 2007, harga  campuran insektisida spinosad + metomil  lebih murah jika dibandingkan dengan harga spinosad tunggal. Selisih pendapatan dalam perlakuan campuran spinosad + metomil lebih tinggi dengan selisih pendapatan perlakuan spinosad tunggal. ABSTRACT. Moekasan, T.K. and R. Murtiningsih. 2010. The Effect of Insecticides Combination Against Beat Armyworm Spodoptera exigua Hubn. The purpose of the study was to determine the efficacy of combination of four insecticides, i.e. spinosad (Tracer), methomyl (Metindo), thiodicarb (Larvin), and chlorpyrifos (Dursban) against beat armyworm, S. exigua on shallots. The experiment was conducted from April until September 2007 at Kendawa Village, Jatibarang Subdistrict, Brebes District, Central Java (± 2 m asl). The treatments were (a) spinosad + methomyl, (b) spinosad + thiodicarb, (c) chlorpyrifos + methomyl, (d) spinosad, (e) thiodicarb, (f) chlorpyrifos, (g) methomyl, and (h) check. The treatments were arranged in a randomized block design with four replications. The results showed that spinosad + methomyl was the most effective insecticide combination to suppress S. exigua. This combination could sustain the high yield and the price of spinosad + methomyl combination was cheaper than the spinosad price singly. Therefore, the application of spinosad + methomyl was more profitable compare to spinosad singly.
Kontaminasi Residu Pestisida pada Cabai Merah, Selada, dan Bawang Merah (Studi Kasus di Bandungan dan Brebes Jawa Tengah serta Cianjur Jawa Barat) - Miskiyah; S J Munarso
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n1.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Sayuran merupakan salah satu komoditas hortikultura yang rentan terhadap serangan hama dan penyakittanaman. Sehingga penggunaan pestisida tidak dapat dihindari, akibatnya sayuran sering terkontaminasi oleh residupestisida. Aspek mutu dan keamanan pangan merupakan masalah utama dalam produksi dan pemasaran sayuran, yangterkait juga dengan meningkatnya kepedulian konsumen terhadap mutu dan kesehatan. Penerapan teknologi produksidan penanganan pascapanen yang seadanya, penggunaan pupuk serta pestisida yang tidak proporsional telah membawaproduk sayuran Indonesia pada status jaminan keamanan pangan yang rendah dan tingkat kontaminasi yang tinggi.Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen, Bogor dari bulanMei sampai Oktober 2005. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kontaminasi residu pestisida yangterdapat pada sayuran. Terdapat 17 residu pestisida yang diujikan pada 3 jenis sayuran, yaitu cabai merah, selada,dan bawang merah yang diperoleh dari petani, pedagang, dan pasar swalayan di Jawa Tengah (Bandungan untuk cabaimerah dan selada, Brebes untuk bawang merah), dan Jawa Barat (Cianjur untuk cabai merah, selada, dan bawangmerah). Analisis residu pestisida menggunakan gas chromathography (GC). Data yang diperoleh diinterpretasikan,didiskripsikan, kemudian dibandingkan dengan standar yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu pestisidagolongan organoklorin lebih dominan, diikuti dengan golongan organofosfat dan karbamat untuk semua jenis sampelsayuran yang diamati baik di tingkat petani, pedagang, dan pasar swalayan. Hasil juga menunjukkan bahwa dari semuajenis sampel sayuran yang diamati, kandungan residu pestisidanya masih dibawah ambang batas maksimum residupestisida (BMR), sehingga relatif aman untuk dikonsumsi. Mengingat sifat pestisida dan tingkat degradasinya yangberbeda, maka diperlukan penanganan residu pestisida lebih lanjut untuk menjamin keamanannya.ABSTRACT. Miskiyah and S. J. Munarso. 2009. Pesticide Residue on Red Pepper, Lettuce, and Shallots “CaseStudy on Bandungan and Brebes (Central Java) and Cianjur (West Java)”. Vegetable is one of horticulturecommodities that susceptible to diseases and pests, hence pesticides application can not be avoided, which causepesticide contamination in the produce. Quality and food safety aspect are the main problem on the production andmarketing of vegetables, this is in connection with increasing consumer concern on quality and health. Minimaltechnology application in the production and post harvest handling, as well as unappropriate application of fertilizerand pesticides, resulted in low quality assurance and high pesticide recidue. The research was conducted at Laboratoryof Indonesian Center for Agriculture Postharvest Research and Development.The aim of the study was to find outthe level of pesticide residue on vegetable. There were 17 pesticides residue tested on 3 kind of vegetables, i.e. redchili, lettuce, and shallots from farmer, trader, and supermarket at Central Java (Bandungan for sample of red chiliand lettuce, and Brebes for shallots) and West Java (Cianjur for red chili, lettuce, and shallots). Pesticide residue wasanalyzed by using gas chromatography (GC). The data were interpreted, descripted, and compared to the standard.Pesticides residues from organochlorine group were more dominant, followed by organophosphate, and carbamatesgroup for all vegetables tested from farmer, trader, and supermarket. The results also showed that pesticide residuesfrom all vegetables tested were lower than maximum residue limit (MRL), hence it was relatively safe for consumption.Since the characteristic of pesticide and its degradation level were varied, pesticide residue handling was neededfor safety assurance.
Analisis Trend Hasil Per Satuan Luas Tanaman Sayuran Tahun 1969-2006 di Indonesia Witono Adiyoga
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n4.2009.p%p

Abstract

Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juni 2008 menggunakan data sekunder tahunan produksi danareal panen sayuran mencakup periode 1969-2006. Jenis sayuran yang dianalisis adalah buncis, bawang daun, bawangmerah, bawang putih, cabai merah, kentang, kubis, lobak, mentimun, petsai, terung, tomat, dan wortel. Penelitianbertujuan menganalisis pola temporal produksi dan hasil per satuan luas sayuran di Indonesia menggunakan (a)analisis trend hasil per satuan luas, (b) analisis trend pertumbuhan produksi, areal panen, dan hasil per satuan luas,serta (c) analisis trend stabilitas hasil per satuan luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis trend jangkapanjang 1969-2006 tidak menunjukkan indikasi adanya perlambatan hasil per satuan luas. Namun, pada analisis trendper sepuluh-tahunan, indikasi perlambatan hasil per satuan luas ditunjukkan oleh buncis, bawang merah, bawangputih, cabai merah, lobak, dan petsai pada periode-periode tertentu. Selama periode 1969-2006, tingkat pertumbuhanproduksi rerata tahunan terendah diperlihatkan oleh bawang putih (–6,3%), sedangkan tertinggi ditunjukkan olehwortel (8,5%). Pertumbuhan areal panen terendah ditunjukkan oleh bawang putih (–7,5%), sedangkan tertinggi olehtomat dan wortel (6,6%). Sementara itu, pertumbuhan hasil per satuan luas rerata tahunan berkisar antara –2,5%(cabai merah) sampai 6,8% (buncis). Sumber dominan peningkatan produksi bawang merah, cabai merah, kentang,lobak, mentimun, petsai, tomat, dan wortel selama periode 1969-2006 adalah peningkatan areal panen. Peningkatanhasil per satuan luas merupakan sumber dominan bagi pertumbuhan produksi buncis, bawang daun, bawang putih,kubis, dan terung. Selama periode 1969-2006, variabilitas absolut hasil per satuan luas lobak meningkat, sedangkanmentimun dan petsai menurun. Dalam jangka panjang, stabilitas relatif hasil per satuan luas buncis, bawang daun,bawang merah, bawang putih, cabai merah, mentimun, petsai, terung, tomat, dan wortel terhadap trend pertumbuhannyadapat dikategorikan lebih stabil. Secara agregat dalam kurun waktu 1969-2006, koefisien variasi hasil per satuan luasterendah ditunjukkan oleh petsai, sedangkan tertinggi diperlihatkan oleh cabai merah. Upaya peningkatan produksibawang daun, bawang putih, kentang, kubis, petsai, dan wortel perlu diawali dengan identifikasi penyebab ketidakstabilanareal panen, terutama berkaitan dengan profitabilitas komoditas sayuran tersebut. Sementara itu, upayapeningkatan produksi buncis, bawang merah, cabai merah, lobak, mentimun, terung, dan tomat perlu ditempuhmelalui identifikasi penyebab ketidak-stabilan hasil per satuan luas dari sisi penelitian, penyuluhan, maupun kebijakan.Merespons indikasi perlambatan hasil per satuan luas untuk beberapa jenis sayuran, kegiatan penelitian pemuliaanberorientasi peningkatan daya hasil masih perlu mendapat prioritas. Orientasi penelitian pemuliaan yang memberipenekanan ketahanan terhadap hama penyakit serta cekaman lingkungan juga perlu mendapat perhatian lebih besarberkaitan dengan potensinya untuk mengurangi variabilitas hasil per satuan luas.ABSTRACT. Adiyoga, W. 2009. Yield Trend Analysis of Vegetable Crops in Indonesia 1969-2006. The study wascarried out in April to June 2008 by utilizing secondary data of annual vegetable production and harvested area that coveredthe period of 1969-2006. Vegetable crops included in this study were kidney bean, bunching onion, shallots, garlic, hotpepper, potato, cabbage, chinese radish, cucumber, chinese cabbage, eggplant, tomato, and carrot. The objective ofthis study was to analyze the temporal trend of vegetable production and yield in Indonesia using yield trend, growthtrend, and yield stability trend analysis. The results indicated that long-term trend analysis of 1969-2006 period did notshow any slowing yield growth for all vegetable crops studied. However, the ten-years periods trend analysis suggeststhe trend of slowing yield growth for kidney bean, shallots, garlic, hot pepper, chinese radish, and chinese cabbage incertain ten-year periods. During the period of 1969-2006, the lowest average annual production growth was shownon garlic (-6.3%), and the highest was on carrot (8.5%). The lowest annual growth in harvested area was shown bygarlic (-7.5%), while the highest was indicated by tomato and carrot (6.6%). The lowest annual yield growth was foundon hot pepper (-2.5%), while the highest was on kidney bean (6.8%). The production growth of shallots, hot pepper,potato, chinese radish, cucumber, chinese cabbage, tomato, and carrot in 1969-2006 has been dominantly harvestedarea-led. Meanwhile, yield growth has been a dominant source of kidney bean, bunching onion, garlic, cabbage, andeggplant production growth. During 1969-2006, absolute yield variability for chinese radish was increasing, while forcucumber and chinese cabbage was decreasing. Furthermore, a decreasing relative yield variability, i.e. more stableyield, was indicated for kidney bean, bunching onion, shallots, garlic, hot pepper, cucumber, chinese cabbage, eggplant,tomato, and carrot. The lowest yield coefficient of variation was shown by chinese cabbage, while the highest wasshown by hot pepper. The effort for increasing bunching onion, garlic, potato, cabbage, chinese cabbage, and carrotproduction should be initiated by identifying the causes of harvested area variability that have to be sorted in terms offactors such as relative profitability and other constraints. Meanwhile, since a greater contribution of yield variabilityto production variability was identified, the effort for increasing kidney bean, shallots, hot pepper, chinese radish, cucumber, eggplant, and tomato production suggests the need for identifying the causes of yield variability in termsof research, extension, and policy measures. Responding to a slowing yield trend for some vegetable crops, breedingresearch activities that are increasing yield frontier-oriented still need to be prioritized. Moreover, breeding researchactivities that are generating reduction in yield variability, such as disease and pest resistance and environmentalstressedtolerance should also be emphasized.
Cara Pengendalian Nonkimiawi terhadap Serangga Vektor Kutudaun dan Intensitas Serangan Penyakit Virus Mosaik pada Tanaman Cabai Merah Nani Gunaeni; AW Wulandari
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n4.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penyakit virus mosaik pada cabai merupakan salah satu penyakit penting yang disebabkan olehvirus dan dapat menular dari tanaman sakit ke tanaman sehat lain melalui vektor kutu daun. Penelitian bertujuanmendapatkan cara pengendalian vektor dan penyakit virus mosaik pada cabai yang efektif dan ramah lingkungan.Perlakuan pengendalian nonkimiawi disusun dalam rancangan acak kelompok dengan empat kali ulangan. Penelitiandilakukan di Subang pada 700 m dpl. sejak bulan Juni sampai dengan Desember 2005. Perlakuan yang diuji ialah:(1) perangkap baki kuning, (2) tanaman pinggiran kubis, (3) mulsa plastik perak, (4) mulsa plastik hitam, (5) mulsajerami, (6) insektisida dengan bahan aktif imidakloprid dan profenofos 1x /minggu, dan (7) kontrol. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa perlakuan mulsa plastik perak maupun hitam berpengaruh paling baik terhadap penekananpopulasi vektor sebesar 78-88%, serangan penyakit virus mosaik sebesar 68-77% ataupun hama sebesar 57-73% danpenyakit cabai lainnya 50-60% (penyakit antraknos, lalat buah, dan penyakit busuk buah), serta meningkatkan hasilbuah cabai sehat sekitar 2-4 kali hasil pada perlakuan kontrol.ABSTRACT. Gunaeni, N. and A.W. Wulandari. 2010. Nonchemical Control Methods on Vector Populationand Plant Damages Due to Mosaic Virus Diseases on Hot Pepper. Mosaic diseases of pepper is one of the mostimportant problems caused by viruses. The disease spread from the infected plants to healthy ones via aphids as viralvectors. The obejective of this study was to obtain effective and environmentally friendly control measures of viralvectors and mosaic virus diseases. The experiment was conducted at Subang with the elevation of about 700 m asl.from June to December 2005. A randomized block design with four replications was used in this experiment. Thetreatments were: (1) yellow traps, (2) cabbage plants as a border, (3) silver plastic mulch, (4) black plastic mulch, (5)straws mulch, (6) spray with insecticide with active ingredient imidakloprid and profenofos 1 x/week, and (7) control.The results showed that: (1) the treatment did not affect plant height, but did to canopy width, (2) the silver and blackplastic mulch gave the best effect in suppressing vector population 78-88%, intensities of mosaic virus diseases 68-77%, other pest 57-73% and diseases on hot pepper 50-60% i.e. anthracnose, fruitfly, and fruit root disease, and (3)the treatments maintained yield of healthy fruit up to four times, over the control treatment.
Seleksi Tanaman Tomat Berdasarkan Ketahanan Pasif dan Aktif terhadap CMV R Gaswanto; Nani Gunaeni; Ati Srie Duriat
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n4.2009.p%p

Abstract

Tujuan penelitian ialah menentukan cara seleksi yang efektif ketahanan tanaman secara pasif maupunaktif terhadap CMV untuk mendukung program pemuliaan tanaman tomat. Penelitian terdiri atas 2 tahap. Tahappertama dilakukan pada Juni-Desember 2001 dan tahap kedua dilakukan pada September 2002- Agustus 2003.Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.200 m dpl.). Hasil penelitian menunjukkanbahwa seleksi ketahanan pasif tanaman tomat terhadap CMV efektif apabila diarahkan pada karakter morfologi daun.Tanaman yang tahan CMV memiliki karakteristik jumlah daun yang sedikit, tetapi berbulu lebat dengan jumlahstomata banyak. Seleksi ketahanan aktif tanaman tomat terhadap CMV efektif bila didasarkan pada indeks penyakitsecara visual yang ditunjang dengan teknik serologi melalui uji ELISA, karena tingginya peran gen aditif dalammengendalikan karakter konsentrasi virusABSTRACT. Gaswanto, R., N. Gunaeni, and A.S. Duriat. 2009. Tomato Selection Based on Passive and ActiveResistancy to CMV. The aim of this experiment was to determine the effective selection method either using activeor passive resistancy to CMV on tomato, for supporting tomato breeding program. The experiment was conductedat Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang consisted of 2 steps. The first step was conducted on June toDecember 2001, while the second step was held on September 2002 to August 2003. The results showed that passiveresistance selection to CMV on tomato would be effective if it was focused on the characters of leaf morphology.The plants resistant to CMV had fewer leaf number, dense leaf pubescence, and abundance of stomata numbers.Meanwhile, active resistance selection would be effective if it was based on index disease symptom supported byELISA test, because of high role of additive gene in controlling virus concentration
Alternatif Model Usahatani Konservasi Tanaman Sayuran di Hulu Sub-DAS Cikapundung Nana Sutrisna; Santun RP Sitorus; B Pramudya; Harianto Harianto
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n3.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Hulu Sub-DAS Cikapundung merupakan lahan kering dataran tinggi. Penggunaan lahan yang tidaksesuai dengan kesesuaian, menyebabkan lahan mengalami degradasi. Tujuan utama penelitian ini adalah merancangalternatif model usahatani konservasi tanaman sayuran di hulu Sub-DAS Cikapundung, sedangkan tujuan antara ialah(1) mengevaluasi kesesuaian penggunaan lahan existing sesuai dengan kesesuaian lahannya, (2) mengarakterisasiusahatani existing, dan (3) menganalisis komponen yang paling berpengaruh pada subsistem usahatani konservasi.Penelitian menggunakan metode survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kesesuaian penggunaan lahanexisting di hulu Sub-DAS Cikapundung tergolong sesuai marginal (S3) dengan faktor pembatas pH, KB, KTK,ketersediaan oksigen, dan lereng. Kegiatan usahatani yang dilakukan petani di hulu Sub-DAS Cikapundung sudahberorientasi agribisnis, sehingga penggunaannya sangat intensif, namun belum sepenuhnya menerapkan teknologikonservasi. Komponen yang paling berpengaruh pada subsistem usahatani adalah jenis tanaman, sistem penanaman, danpenggunaan bahan amelioran, sedangkan pada subsistem konservasi adalah konservasi mekanik dan penggunaan mulsa.Lima alternatif model usahatani konservasi tanaman sayuran di hulu Sub-DAS Cikapundung yang diperoleh, yaitu (1)model A: sistem usahatani konservasi teras bangku, bedengan memotong lereng, menggunakan pupuk kandang+kapur,sistem penanaman sayuran tumpangsari/tumpang gilir kelompok I+III atau II+III, (2) model B: sistem usahatanikonservasi teras bangku, bedengan memotong lereng, menggunakan pupuk kandang, dipasang mulsa plastik, sistempenanaman sayuran tumpangsari/tumpang gilir kelompok I+III atau II+III, (3) model C: sistem usahatani konservasiteras bangku, bedengan memotong lereng, menggunakan pupuk kandang+kapur, dipasang mulsa plastik, sistempenanaman sayuran tumpangsari/tumpang gilir kelompok I+III atau II+III, (4) model D: sistem usahatani konservasiteras gulud, bedengan searah lereng, menggunakan pupuk kandang+kapur, sistem penanaman sayuran tumpangsari/tumpang gilir kelompok I+III atau II+III, dan (5) model E: sistem usahatani konservasi teras gulud, bedengan searahlereng, menggunakan pupuk kandang+kapur, dipasang mulsa plastik, sistem penanaman sayuran tumpangsari/tumpang gilir kelompok I+III atau II+III. Model A, B, dan C diarahkan untuk dapat diterapkan pada lahan dengankemiringan 16-25%, sedangkan model D dan E diarahkan pada lahan dengan kemiringan 8-15%. Untuk mempercepatpenerapan model usahatani konservasi oleh petani diperlukan kelembagaan penunjang usahatani konservasi.ABSTRACT. Sutrisna, N., Santun R.P. Sitorus, B. Pramudya, and Harianto. 2010. The Alternative ConservationFarming System Model on Vegetable Plants in Upstream Areas of Subwatershed Cikapundung. The upstreamarea of Subwatershed Cikapundung are located in the dry highland. Inappropriate land usage that doesn’t utilize itsland suitability causes land degradation. The main objective of this research was to design the alternative conservationfarming system model on vegetable plants in upstream areas of subwatershed Cikapundung. The other objectives were(1) to analyze suitability of existing land utilization, (2) to characterize existing farming system, and (3) to analyzethe most effective component of the conservation farming system. This research was conducted by using a surveymethod. The results showed that the category in accordant to existing land use was belong to marginally suitable(S3). The limited factors were pH, base saturation, CEC, drainage, and slope. The most influence component of theconservation farming system were kinds of vegetation, cropping system, ameliorant, conservation techniques, andplastic mulch. There were five alternative models of conservation farming system that can be used in upstream areas ofsubwatershed Cikapundung. Those were (1) model A: conservation farming system bench terraces, the embankmentcrosses the slope, uses of organic matter and lime, and planting of vegetables cropping system with categoriesI+III or II +III, (2) model B: conservation farming system bench terraces, the embankment crosses the slope, usesorganic matter, uses mulch, and planting of vegetables cropping system with categories I+III or II+III, (3) model C:conservation farming system bench terraces, the embankment one-way the slope, use organic matter and lime, usesmulch, and planting of vegetables cropping system with categories I+III or II+III, (4) model D: conservation farmingsystem gulud terraces, the embankment one-way the slope, uses organic matter and lime, and planting of vegetablescropping system with categories I+III or II+III, and (5) model E: conservation farming system gulud terraces, theembankment one-way the slope, uses organic matter and lime, uses mulch, and planting of vegetables cropping systemwith categories I+III or II+III. The alternative models A, B, and C can be used at sloping land 16-25%, meanwhilethe alternative models D and E at sloping land 8-15%. To accelerate the implementation of farming system modelby farmers, the supporting institution of conservation farming system is required.
Inokulasi Mikoriza Glomus sp. dan Penggunaan Limbah Cacing Tanah untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah, Serapan Hara, dan Hasil Tanaman Mentimun Rini Rosliani; Yusdar Hilman
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n1.2005.p%p

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Wera, Subang mulai bulan Agustus sampai No vem ber2000. Tujuan penelitian adalah (i) mempelajari pengaruh inokulum mikoriza Glomus sp. dan limbah atau kotoranbekas cacing tanah (kascing) terhadap sifat-sifat kimia tanah, serapan N, P, dan K dan hasil buah mentimun, (ii)mengetahui efek inokulasi mikoriza dalam mengurangi pemakaian pupuk buatan NPK, dan (iii) mendapatkankombinasi pupuk hayati (mikoriza Glomus sp. dan kascing) dan pupuk NPK yang tepat dan efisien untuk mentimun.Rancangan penelitian menggunakan split-plot de sign dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas petak utama yaitupemberian mikoriza (tanpa dan dengan mikoriza), dan anak petak yaitu enam kombinasi penggunaan kascing + NPK.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kascing + NPK berpengaruh nyata terhadap serapan P vegetatiftanaman dan serapan N, P, dan K buah. Perlakuan mikoriza dan kascing dapat meningkatkan kesuburan (sifat kimiadan biologi) tanah. Dalam hal bobot buah, kascing dengan dosis 2,5 t/ha + ¾ x standar NPK merupakan aplikasi yangpal ing baik di antara perlakuan yang diuji.In oc u la tion of my cor rhi zal Glomus sp. and the use ofvermicompost to im prove soil fer til ity, nu tri ent up take, and cu cum ber yield. An experiment was conducted atWera ex per i men tal farm, Subang from Au gust to No vem ber 2000. The ob jec tives of the ex per i ment were: (i) to studymycorrhiza Glomus sp. in oc u la tion and vermicompost in im prov ing soil chem i cal prop er ties; NPK up take and yield ofcu cum ber, (ii) to find out the ef fect of my cor rhi za Glomus sp. in oc u la tion on the re duc tion of NPK fer til izer us age, and(iii) to screen the most ap pro pri ate and ef fi cient treat ment com bi na tion of biofertilizers (mycorrhyza) andvermicompost + NPK fer til izer on cu cum ber. A split plot de sign with three replications was used. Treat ments con -sisted of in oc u la tion of my cor rhi za (with and without in oc u la tion) as a main plot and six com bi na tions ofvermicompost + NPK fer til iz ers as subplot. Re sults of the ex per i ment in di cated that my cor rhi za and vermicompostap pli ca tion can im prove soil chem i cal and bi o log i cal fer til ity. Ap pli ca tion of vermicompost + NPK fer til izer sig nif i -cantly in flu enced P up take in plant veg e ta tive growth as well as N, P, and K up take in fruits. In terms of fruit weight,ap pli ca tion of vermicompost of 2.5 t/ha + ¾ x NPK stan dard was the best.
Skrining Kemangkusan Mikroba Antagonis terhadap Penyakit pada Tanaman Krisan - Suhardi; - Hanudin; W Handayati; Asep Saepulloh
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n2.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian untuk mengetahui efikasi agens hayati terhadap penyakit pada tanaman krisan telah dilakukan di rumah kaca dan di lapangan. Sebanyak 20 isolat bakteri telah diuji efektivitasnya dengan cara disemprotkan dengan konsentrasi 108 cfu/ml merata seluruh tanaman. Evaluasi terhadap intensitas penyakit dilakukan pada saat panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di rumah kaca penyakit hawar daun kurang bisa berkembang, namun penyakit yang bukan merupakan target berkembang cukup berarti, yaitu penyakit layu fusarium dan embun tepung (Oidium sp). Di lapangan selain Pseudomonas cichorii dijumpai penyakit karat putih yang disebabkan oleh Puccinia horiana, dan penyakit busuk basah yang disebabkan oleh Erwinia sp.. Pseudomonas fluorescens isolat Pf 2 dan Pf 4A, serta Bacillus subtilis isolat Ba 13, Ba 16, dan Ba 17 efektif menekan intensitas penyakit hawar daun. Pseudomonas fluorescens isolat Pf 2, Pf 4A, dan Pf 16 efektif terhadap penyakit karat putih. Semua isolat yang diuji tidak efektif terhadap penyakit busuk basah dan penyakit layu fusarium. Pseudomonas fluorescens isolat Pf 2, MR 9, dan B. subtilis isolat Ba 9 efektif terhadap embun tepung di rumah kaca.Bacillus subtilis; Agens hayati; Pengendalian biologi.ABSTRACT. Suhardi, Hanudin, W. Handayati, and A. Saepulloh. 2007. Screening of the Efficacy of Biological Agents Against Pseudomonas cichorii and Other Diseases of Chrysanthemum. Research to know the efficacy of biological agents to control the diseases on chrysanthemum were done in a glasshouse and field. As many as 20 bacterial isolates were tested by spraying bacterial cells at 108 cfu/ml until run off. Evaluation was done at the harvest time in relation to disease intensity. Results indicates that leaf blight did not develop in the glasshouse, but other diseases such as fusarium wilt and powdery mildew progressed significantly. In the field, besides leaf blight, other diseases were found i.e. white rust caused by Puccinia horiana and soft rot caused by Erwinia sp.. Pseudomonas fluorescens isolate Pf 2 and Pf 4A, Bacillus subtilis isolate Ba 13, Ba 16, and Ba 17 were effectively suppressed blight intensity. Pseudomonas fluorescens isolate Pf 2, Pf 4A, and Pf 16 were effective to white rust. All isolates were not effective against soft rot. Pseudomonas fluorescens isolate Pf 2 and MR 9 and B. subtilis isolate Ba 9 were effective in controlling powdery mildew on chrysanthemum in glasshouse.
Efikasi Isolat Cendawan Mikoriza Arbuskula Indigenous Pisang terhadap Nematoda Radopholus similis pada Pisang Ambon Hijau = Jumjunidang
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n2.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Serangan nematoda parasit akar Radopholus similis Cobb merupakan salah satu kendala dalammeningkatkan produksi pisang. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA) adalah simbion obligat yang dapat meningkatkanserapan hara dan ketahanan tanaman terhadap nematoda parasit. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh inokulasibeberapa isolat CMA indigenous terhadap serangan nematoda parasit R. similis pada pisang Ambon Hijau. Penelitiandilakukan di Laboratorium Penyakit dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok, pada bulanFebruari sampai Desember 2004. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan,masing-masing ulangan terdiri dari 2 tanaman. Perlakuan adalah 5 isolat CMA indigenous pisang yang berasal daribeberapa daerah dan 1 CMA campuran koleksi Balitbu, yaitu: CMA asal Batu Sangkar (var.Buai), CMA asal 50 Kota(var. Raja Serai), CMA asal Sawahlunto Sijunjung (var. Udang), CMA asal Padang (var. Kepok), CMA asal PadangPariaman (var. Manis), CMA campuran koleksi Balitbu (Biorhiza 02 G), dan kontrol (tanpa CMA). Varietas pisangyang digunakan adalah Ambon Hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat CMA yang diuji mampumenekan reproduksi R. similis pada tanaman pisang dan dapat mengurangi kerusakan tanaman yang ditimbulkannyadibanding dengan kontrol. Isolat CMA terbaik untuk mengendalikan nematoda R. similis adalah isolat yang berasaldari Padang dan Biorhiza 02 G, karena mampu menekan reproduksi nematoda dan mengurangi kerusakan tanamanpada tingkat yang paling rendah. Isolat CMA yang berasal dari 50 Kota dan Batu Sangkar mampu meningkatkantoleransi tanaman dengan mengurangi kerusakan yang ditimbulkan nematoda pada tingkat yang sama dengan isolatCMA dari Padang dan Biorhiza 02 G. Cendawan mikoriza arbuskula berpotensi digunakan sebagai agensia hayatiuntuk mengendalikan nematoda R. similis pada tanaman pisang.ABSTRACT. Jumjunidang. 2009. Efficacy of Indigenous Arbuscular Mycorrhizae (AM) Isolates of BananasAgainst the Damage Caused by Nematode Radopholus similis. on Banana cv. Ambon Hijau. The incidence of rootparasitic nematode Radopholus similis Cobb is one of the constraints on banana production. Arbuscular mycorrhizaeis obligate symbiont which can increase nutrient uptake and the resistance of plant against parasitic nematodes. Theobjective of this experiment was to determine the effects of inoculation of various indigenous AM isolates to controlR. similis on banana cv. Ambon Hijau. The experiment was conducted at Disease Laboratory and Screenhouse ofIndonesian Tropical Fruit Research Institute at Solok, from February to December 2004. The experiment was arrangedin a randomized block design with 7 treatments and 4 replications. Each treatment consisted of 2 plants. The treatmentscomprised of 5 indigenous AM isolates from several areas of bananas plantation, i.e.; AM from Batu Sangkar (var.Buai), AM from 50 Kota (var. Raja Serai), AM from Sawahlunto Sijunjung (var. Udang), AM from Padang (var.Kepok), AM from Padang Pariaman (var. Manis), one mixed AM of Indonesian Tropical Fruit Research Institutecollection (Biorhiza 02 G), and control. The results showed that all of AM isolates were significantly suppress thereproductive of R. similis on banana and also significantly decrease plant damages caused by that nematode. Thebest AM isolates in controlling R. similis were isolates from Padang and Biorhiza 02 G because they were not onlyable to suppress reproductiveness of nematode, but also decrease plant damages to lowest level. Isolates from 50Kota and Batu Sangkar were able to increase plant tolerance by showing lower damages comparable to AM isolatesfrom Padang and Biorhiza 02 G. Arbuscular mycorrhizae had the potency as biocontrol agent in controlling parasiticnematode R. similis on banana.

Page 97 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue