cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02161192     EISSN : 25414054     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian (J.Pascapanen) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian pascapanen pertanian. Jurnal ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 258 Documents
Pengaruh Laju Alir Umpan dan Suhu Inlet Spray Drying pada Karakteristik Mikrokapsul Oleoresin Jahe Sri Yuliani; nFN Desmawarni; Niken Harimurti; Sri S. Yuliani
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n1.2007.18-26

Abstract

Oleoresin merupakan salah satu bentuk ekstraktif rempah yang memiliki karakter aroma dan rasa yang alami karena kandungan minyak atsiri dan resinnya. Oleoresin bersifat sensitif terhadap cahaya, panas dan oksigen sehingga mempunyai masa simpan yang terbatas. Selain itu, bentuknya berupa cairan kental yang lengket menyulitkan penanganannya. Mikroenkapsulasi menawarkan solusi bagi permasalahan tersebut. Dengan mikroenkapsulasi, bahan aktif akan terlindung dari pengaruh lingkungan yang merugikan selama penyimpanan maupun selama pengolahan. Mikroenkapsulasi juga dapat mengkonversi cairan menjadi bubuk padatan sehingga memudahkan penanganan dan pengemasannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi proses spray drying untuk menghasilkan mikrokapsul dengan karakteristik yang memadai. Dalam penelitian ini, oleoresin jahe (10%) dienkapsulasikan dalam bahan pengkapsul maltodekstrin dan natrium kaseinat (nisbah bobot 2:1) menggunakan teknik spray drying. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Faktor yang dipelajari berupa laju alir umpan (A) yang terdiri atas 2 taraf (A1=15 ml/menit dan A2=20 ml/menit) dan suhu inlet (B) yang terdiri atas 4 taraf (B1=160°C, B2=170°C, B3=180°C dan B4=190°C). Variabel respon yang diukur berupa total oil, oil retention, surface oil, kadar air, aktivitas air dan kelarutan. Struktur mikrokapsul dan profil perisa beberapa mikrokapsul terpilih diamati pula. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa laju alir dan suhu inlet spray drying berpengaruh pada surface oil, kadar air dan aktivitas air. Total oil, oil retention dan kelarutan tidak dipengaruhi oleh laju alir dan suhu inlet spray drying. Laju alir yang lebih tinggi menghasilkan mikrokapsul dengan kadar surface oil, kadar air dan aktivitas air yang lebih tinggi. Peningkatan suhu inlet menghasilkan penurunan kadar surface oil, kadar air dan aktivitas air. Laju alir umpan 15 ml/menit dan suhu inlet spray drying 170°C menghasilkan mikrokapsul dengan karakteristik terbaik. Mikroenkapsul yang dihasilkandiharapkan dapat diaplikasikan sebagai perisa produk makanan dan minuman serta sediaan untuk farmasi.
Pengaruh Waktu Pembekuan Dan Penyimpanan Terhadap Karakteristik Irisan Buah Mangga Arumanis Beku Ira Mulyawanti; Kun Tanti Dewandari; nFN Yulianingsih
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v5n1.2008.51-58

Abstract

Mangga merupakan salah satu komoditas hortikultura yang cukup potensial di Indonesia. Dengan jumlah produksinya yang cukup tinggi, mangga dapat diandalkan menjadi salah satu buah tropika yang dapat bersaing di pasar Internasional. Namun demikian, seperti halnya produk hortikultura lainnya, mangga memiliki sifat yang mudah mengalami kerusakan sehingga umur simpannya relatif pendek dan jangkauan distribusi pemasarannya terbatas. Pembekuan merupakan salah satu cara untuk dapat mengantisipasi kerusakan buah mangga, sehingga memiliki umur simpan yang lebih lama. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pencelupan dalam nitrogen cair dan penyimpanan beku terhadap karakteristik irisan buah mangga Arumanis beku. Penelitian pembekuan cepat irisan buah mangga Arumanis matang dilakukan dalam skala laboratorium dengan menggunakan RAL pola faktorial dengan faktor yang ditelaah meliputi waktu pencelupan dalam nitrogen cair sebanyak 4 taraf (0, 30, 40 dan 50 detik) dan lama penyimpanan sebanyak 4 taraf (bulan ke-0, ke-1, ke-2 dan ke-3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu pencelupan dalam nitrogen cair selama 40 detik memberikan karakteristik irisan beku buah mangga Arumanis yang paling baik setelah penyimpanan selama 3 bulan, yaitu dengan pH 4,9, TPT 14,07°Brix, vitamin C 27,66 mg/100g, total asam 0,46, Hue 85,09, Chroma 39,57, dan secara sensori masih disukai oleh panelis. Kandungan TPC 250 koloni/ml masih di bawah standar yang disyaratkan (100.000 koloni/ml).Effect on Period of Freezing and Storage to The Characteristics of Cut Frozen Manggo c. v. ArumanisMango is one of the potential tropical fruits in Indonesia. Its high production in Indonesia, it can be promoted as it tropical which is competitisc at international trade. In general, mango is perishable, thus, having short shelf life and causes limitation on mango distribution. Quick freezing using liquid nitrogen to lengthen its storage life is one of the preservation methode for mango. The aim of this research is to study effect of freezing time and frozen storage time on frozen Arumanis mango sliced characteristic. Research was done at laboratory scale with factorial completely randomized design. Research factors were freezing time (0, 30, 40, and 50 second) and frozen storage time (0, I, 2, and 3 month). Results showed that freezing at 40 second gave the best characteristics for frozen mango after storaging for three month. With pH value 4.9;TSS 14.0rBrix; vitamine C content 27.66 mg/100g;total acid content 0.46%;light value 56.62;Hue 85.09°H;TPC 250 coloni/ml; and sensory properties were accepted by panelist.
Karakteristik Metil Ester Minyak Jarak Pagar Hasil Proses Transesterifikasi Satu dan Dua Tahap Djajeng Sumangat; Tatang Hidayat
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v5n2.2008.18-26

Abstract

Biodiesel (metil ester)  umumnya dihasilkan dari proses transesterifikasi minyak nabati antara lain dari minyak jarak pagar.   Proses transesterifikasi dengan pereaksi metanol dan katalis basa (KOH) dapat dilakukan satu  atau dua tahap pada berbagai variabel suhu reaksi dan nisbah molar metanol dengan minyak. Penelitian ini bertujuan membandingkan  karakteristik físiko-kimia (viskositas, densitas dan bilangan asam) serta persentase  ester asam lemak dari metil ester yang dihasilkan. Digunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan tiga variabel perlakuan yaitu (A) tahap transesterifikasi (A1= satu tahap, A2= dua tahap), (B) suhu reaksi (B1= 30oC, B2= 65oC) dan (C) nisbah molar metanol-minyak (C1=3:1, C2=4:1, C3=5:1 dan C4=6:1), serta dua kali ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa  proses transesterifikasi satu tahap pada suhu 30°C dengan nisbah molar metanol- minyak  5:1 menghasilkan karakteristik metil ester terbaik  yaitu viskositas kinematik 3,89 cSt, densitas 0,88g/cm3  dan bilangan asam 0,48 mg KOH/g sampel. Tidak terdapat perbedaan jenis senyawa ester asam lemak pada metil ester hasil transesterifikasi satu dan dua tahap yaitu berturut-turut metil oleat (47,09-47,46%), metil linoleat (32,20-32,53%), metil palmitat (18,65-18,93) dan metil lignoserat (0,26-0,30%). Jumlah  persentase senyawa ester asam lemak yang  menunjukkan persentase konversi trigliserida menjadi metil ester pada proses satu tahap adalah  100%, sedangkan pada proses dua tahap adalah  99,62%.  Rendemen (yield) metil ester  pada proses satu tahap adalah 77,99%,   lebih tinggi dibandingkan proses dua tahap yaitu 70,80%. Berdasarkan karakteristik dan rendemen metil ester, proses satu tahap lebih baik dibandingkan dua tahap. The Characteristics of Methyl Esther of Jatropha Oil Obtained From One and Two Steps Transesterification Process Biodiesel (methyl esther) is made mainly through transesterification process of vegetable oil such as jatropha oil and generally uses methanol as reagent and KOH as catalyst. There are one-step and two-steps process using variables of reaction temperature and molar ratio of methanol to oil.This experiment aimed comparing physico-chemical characteristic (viscosity, density and acid number) as well as percentage of fatty acid esters of methyl esters as its pararnaters of these two type process. Factorial completely randomized design with two replication was used as experiment design with three variables treatments, namely (A) transesterification steps: (A1) one step, (A2) two steps; (B) reaction temperatues: (Bl) 30°C, (B2) 65°C; and (C) molar ratio of methanol to oil: (CI=3:1, C2=4:1, C3=5:1 dan C4=6:1). it was concluded that the best treatment was one step process at 30°C using molar ratio methanol: oil 5:1. The characteristics of methyl ester were viscosity 3.89 cSt, density 0.88 g/cm3 and acid number 0,48 mg KOH/g sample. The fatty-acids esters of methyl esters of both processes was the same i.e. methyl oleic (47.09-47.46%), methyl linoleic (32.20-32.53%), methyl palmitic (18.65-18.93%) and methyl lignoseric (0.28-0.30%). Total percentage of fatty acid esters in methyl ester of one step process was 100% while that of two steps process was 99.62%. This total percentages could ·indicated as conversion degree of triglyceride into methyl ester. Yields of methyl ester from one-step process was 77.99% which was higher than that of two-steps process (70.80%). In terms of its characteristics and yield of methyl ester, one-step process was better than two-steps process.
Isolasi Dan Karakterisasi Protein Ampas Tahu Nanan Nurdjannah; Sri Usmiati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v3n2.2006.83-95

Abstract

Ampas tahu merupakan hasil samping dari proses pembuatan tahu. Kadar protein ampas tahu cukup tinggi yakni sekitar 6%. Pada umumnya ampas tahu dimanfaatkan untuk pakan ternak atau campuran oncom dan tempe gembus. Ampas tahu mempunyai peluang untuk digunakan dalam pembuatan tepung kaya serat dan protein yang dapat diaplikasikan untuk berbagai produk pangan, dan sebagai media tumbuh dan perkembangan jamur. Pada penelitian ini ampas tahu diisolasi proteinnya dengan cara asam-basa dan dilihat sifat fisik, kimia dan fungsional dari isolat protein yang dihasilkan. Perlakuan penelitian terdiri atas suhu ekstraksi (25 dan 500C) dan pH ekstraksi ( 8,0; 8,5; 9,0; 9,5 dan 10). Rancangan percobaan adalah Rancangan Acak Kelompok, pola faktorial dengan ulangan 1 dan 2 sebagai blok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ampas tahu basah menghasilkan konsentrat protein dengan kualitas yang lebih baik dari ampas tahu kering. Rendemen tepung, kadar protein dan recovery protein yang dihasilkan masih rendah. Suhu dan pH ekstraksi mempengaruhi karakteristik dari protein yang dihasilkan. Hasil pembobotan menunjukkan perlakuan dengan suhu ekstraksi 500C dan pH 10 merupakan kombinasi perlakuan terbaik dengan rendemen tepung 11,68%, recovery protein 25,85%, kadar protein 61,14%, kadar air 6,66%, kadar abu 2,74%, kadar lemak 31,9%, total karbohidrat 4,26%, daya serap air 3,38g air/g protein, daya serap lemak 3,79g lemak terserap/g protein, kapasitas emulsi 61,2%, stabilitas emulsi 69,60%, kapasitas busa 15,71%, stabilitas busa 55,28%, kelarutan tertinggi pada pH 12 yaitu 89,14%.
Perbaikan Proses Pengolahan Dan Mutu Kacang Mete: Studi Kasus Di Madura, Jawa Timur nFN Hoerudin; Edy Mulyono
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v3n2.2006.60-68

Abstract

Proses pengolahan kacang mete yang saat ini dilakukan petani, khususnya di Madura, menghasilkan produk dengan mutu tergolong rendah (hasil kacang mete utuh 60-75%, warna kusam, kadar air lebih dari 5%, dan kurang higienis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan teknis perbaikan proses pengolahan dan mutu kacang mete yang dihasilkan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur pada bulan Oktober sampai Desember 2005. Perbaikan proses pengolahan dilakukan terutama pada tahap persiapan (introduksi proses pengukusan), pengupasan gelondong (introduksi kacip MM-99), dan pengeringan kacang mete berkulit ari (introduksi pengering buatan tipe rak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa introduksi proses pengukusan dapat meningkatkan hasil kacang mete bertesta utuh 24,73%. Kacip MM-99 dapat dioperasikan operator pemula dengan kapasitas pengupasan (23,92 kg/hari) relatif lebih tinggi dibanding kapasitas rata-rata di negara-negara produsen kacang mete (21 kg/hari), dan hasil kacang mete bertesta (berkulit ari) utuh yang tinggi (90,64%). Pengeringan menggunakan pengering tipe rak selama 4 jam menghasilkan kacang mete ose (tanpa kulit ari) berkadar air 4,86%. Proporsi kacang mete ose yang dihasilkan 80-88% dengan penampakan lebih cerah (nilai L 14,51% lebih tinggi, indeks pencokelatan 24,47% lebih rendah) dan bersih dibanding produk lokal. Secara umum produk tersebut memenuhi syarat mutu I Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan karakteristik proksimat sesuai standar Food and Agriculture Organization (FAO). Dengan demikian, perbaikan proses yang dilakukan dapat memperbaiki mutu produk dan secara teknis layak dikembangkan, khususnya di Madura.
Karakterisasi Serta Studi Pengaruh Perlakuan Panas Annealing Dan Heat Moisture Treatment (Hmt) Terhadap Sifat Fisikikimia Pati Jagung nFN Widaningrum; Endang Yuli Purwani
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v3n2.2006.109-118

Abstract

Penelitian pengaruh perlakuan panas annealing dan heat moisture treatment terhadap sifat fisikokimia pati jagung telah dilakukan. Tujuan penelitian yaitu melakukan karakterisasi dan menerapkan dua perlakuan panas (annealing dan heat moisture treatment/HMT) untuk memodifikasi sifat fisikokimia pati jagung dari beberapa varietas. Perlakuan panas dipilih dengan pertimbangan cara fisik dianggap lebih aman dibanding dengan cara kimiawi. Beberapa varietas jagung (jagung ketan, Antasena, Bisma, Kalingga dan C7) difraksinasi untuk mendapatkan serat, germ, gluten, dan pati. Selanjutnya pati diisolasi dari tiga varietas jagung terpilih, dan diberi perlakuan annealing serta HMT. Sebagai kontrol digunakan pati jagung komersial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi varietas dan jenis perlakuan panas berpengaruh nyata terhadap komponen kimia (air, amilosa dan lemak) dan sifat fisik pati (daya serap air). Kadar air, amilosa, dan lemak pati jagung bervariasi antara 2-10%, 17-46%, dan 1-2%, sedangkan daya serap air sekitar 0,4-3%. Sifat-sifat pati jagung yang diteliti sebanding dengan pati jagung komersial. Perlakuan panas mengubah sifat pasta pati jagung yang dievaluasi dengan alat Brabender Amilograph. Berdasarkan kurva Brabender, pasta pati jagung native dari jenis ketan dan Bisma yang semula termasuk dalam tipe A berubah menjadi tipe C setelah perlakuan panas.
Isomerisasi Eugenol Menjadi Isoeugenol Menggunakan Radiasi Gelombang Mikro Edy Mulyono; Tatang Hidayat
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v3n2.2006.69-76

Abstract

Isomerisasi eugenol menjadi isoeugenol merupakan proses pergeseran ikatan rangkap yang terdapat pada gugus alkenil ke posisi konyugasi dengan ikatan rangkap pada cincin benzena dalam eugenol. Proses ini merupakan reaksi katalitik yang memerlukan bantuan katalis dan panas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi katalis rhodium klorida trihidrat (RhCl3.3H2O) dan lama pemanasan yang optimal pada isomerisasi eugenol dengan menggunakan radiasi gelombang mikro. Perlakuan yang diuji terdiri atas dua faktor, yaitu : (A) konsentrasi katalis RhCl3.3H2O dengan tiga taraf : A1 = 0,08 %, A2 = 0,16 %, dan A3 = 0,24 %, dan (B) lama pemanasan dengan radiasi gelombang mikro dengan tiga taraf : B1 = 10 menit, B2 = 15 menit, dan B3 = 20 menit. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial (3x3) dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan yang optimal dicapai pada konsentrasi katalis RhCl3.3H2O sebesar 0,24 % dengan lama pemanasan 15 menit. Kemurnian isoeugenol yang dihasilkan mencapai 91,27 % dengan komposisi isomer cis isoeugenol 18,03 % dan trans isoeugenol 73,24 % atau rasio isomer cis dan trans 1 : 4,1 (0,25). Jumlah bahan yang menguap pada perlakuan yang optimal mencapai 19,08 % atau identik dengan rendemen produk isoeugenol 80,92 %. Produk yang dihasilkan masih perlu dimurnikan untuk mendapatkan kemurnian dan isomer trans isoeugenol yang lebih tinggi, dan memperbaiki sifat fisiko-kimianya.
Uji Ketahanan Dan Kecukupan Panas Terhadap Inaktivasi Populasi Mikroba Pada Pasteurisasi Sari Murni Jeruk Siam Ermi Sukasih; nFN Setyadjit
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v3n2.2006.77-82

Abstract

Penelitian ini dilakukan dalam rangka mendukung kegiatan pengembangan teknologi pengolahan jeruk Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian di lokasi Tebas, Kalimantan Barat. Salah satu keluaran dari kegiatan ini adalah jus jeruk sari murni. Pasteurisasi adalah merupakan tahapan kritis dalam proses pembuatan sari murni jeruk Siam karena menyangkut kecukupan panas yang dihasilkan untuk inaktivasi populasi mikroba. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji ketahanan panas dan kecukupan panas populasi bakteri dan kapang/khamir pada pasteurisasi sari murni jeruk Siam. Uji ketahanan panas populasi mikroba dilakukan dengan metode tabung dengan pemanasan pada kombinasi suhu dan waktu 55,60,65, 70, 75 dan 80oC selama 5,10,15 dan 20 menit. Parameter yang diamati adalah jumlah mikroba awal dan akhir setelah pemanasan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa populasi bakteri pada sari murni jeruk Siam mempunyai ketahanan panas yang lebih tinggi (nilai z = 46,30oC) daripada populasi kapang/khamir (nilai z = 17,24oC). Nilai P pada suhu referensi 85oC untuk pasteurisasi sari murni jeruk Siam dengan sistem pasteurisasi 3D adalah 11,26 menit. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah bahwa untuk memproduksi jus jeruk sari murni di lapang diperlukan proses pasteurisasi pada suhu 85ºC selama 11,26 menit.
Peningkatan Daya Simpan Mi Sagu Basah Pada Suhu Rendah Dengan Aplikasi Kemasan Plastik Dan Kondisi Vakum Evi Savitri Iriani; Endang Yuli Purwani; Yulnia Azriani; Ade Iskandar
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v3n1.2006.24-32

Abstract

Mi sagu merupakan makanan khas Indonesia. khususnya daerah Bogor dan sekitarnya. Saat ini mi sagu dijual dalam bentuk curah dan belum dikemas secara higienis schingga umur simpannya hanya berkisar 1-3 hari pada kondisi kamar. Untuk memperpanjang umur simpan mi sagu dapat dilakukan, antara lain menggunakan kemasan yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan jenis kemasan plastik dan kondisi pengemasan terbaik untuk dapat memperpanjang daya simpan mi sagu basah. Penelitian ini dilakukan dengan mengemas produk mi sagu pada tiga jenis kemasun plastik , yuitu laminasi, polietilen dan polipropilen pada dua kondisi pengemasan yaitu vakum dan nonvakum. Penelitian menggunakan rancangan acak faktorial dengun tiga ulangan. Adapun parameter yang diamati meliputi sineresis, cooking loss, ketengikan, pH, warna dan mikroorganisme total. Mi sagu yang telah dikemas disimpan pada suhu sekitar 50C selama 50 hari dan dilakukan pengamatan setiap 5 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi pengemasan lebih berpengaruh terhadap kualitas mi sagu dibandingkan jenis kemasan. Kemasan polipropilen pada kondisi vakum merupakan jenis kemasan terbaik untuk mempertahankan kualitas mi sagu hingga penyimpanan 40 hari, Prolonging Shelf Life or Sago Noodle At Low Temperature With Flexible Packaging Application and Vacuum ConditionSago starch noodle is a traditional food of lndonesian especially at Bogor area. Currently, sago starch noodles sold at traditional market was not under an hygienic packages so that the shelflife was only between 1-3 days at room conditions. To prolong the shelflife of sago starch noodle can be done by using right packaging techniques. The aim or this research was to find out the best packaging techniques to prolong the shelflife of wet sago starch noodles. This research was conducted using three types of plastic bag (lamination, polypropylene and polyethylene) in two atmospheric conditions (vacuum and non vacuum). Experiment design used was a complete randomized factorial design with three replications. Parameter to be observed were syneresis, cooking loss, rancidity, pH, color and total microorganism. Sago starch noodle was stored at 50C for 50 days and evaluated every 5 days. Results showed that packaging conditions more significantly affected the sago starch noodles quality compare to packaging types. Vacuum condition gave the best results. Overall. the best packaging material for sago starch noodle was polypropylene under vacuum condition which could prolong the shelf life until 40 days.
PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT TUMBUH DAN PENGERINGAN TERHADAP FLAVONOID TOTAL SAMBANG COLOK (Iresine herbstii) Devi Safrina; Wahyu Joko Priyambodo
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v15n3.2018.147-154

Abstract

Sambang Colok (Iresine herbstii) merupakan salah satu tanaman obat yang memberikan efek diuretik, anti-inflamasi, dan antipiretik. Sambang Colok merupakan tanaman yang dapat hidup dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat dipengaruhi oleh lingkungan termasuk ketinggian. Proses pembuatan bahan jamu harus memenuhi beberapa kriteria parameter kualitas simplisia diantaranya flavonoid total. Kandungan kimia simplisia sangat dipengaruhi oleh proses pembuatan simplisia salah satunya adalah proses pengeringan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ketinggian tempat tumbuh dan cara pengeringan terhadap kandungan flavonoid tanaman Sambang Colok. Penelitian yang dilakukan menggunakan variasi ketinggian (1800 mpdl, 1200 mdpl, 600mdpl, dan 200mdpl) serta metode pengeringan (sinar matahari, oven dan kombinasi). Simplisia yang diperoleh selanjutnya dianalisis biomasa dan kadar flavonoid totalnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada perlakuan ketinggian dan pengeringan, dimana perlakuan terbaik adalah pada tempat tumbuh dengan ketinggian 1200 mdpl dan pengeringan dengan menggunakan kombinasi sinar matahari dan oven atau pengeringan menggunakan oven Effect of Altitude and Drying Method on Flavonoid of Sambang Colok (Iresine herbsti)Sambang colok (Iresine herbstii) is one of the medicinal plants which has diuretic, anti-inflammatory, and antipyretic properties. Sambang colok can live inlowlands and highlands. Plant growth and development is strongly influenced by the environment, including altitude. The process of making herbal medicine materials must meet the quality parameters of simplicia, i.e. total flavonoid content. Chemical content of simplicia is strongly influenced by the manufacturing process, one of which is the drying process. The aim of this research was to study the influence of altitude of planting land and drying methods on flavonoid content of sambang colok. The research was conducted using variations of altitude planting land (1800 masl, 1200 masl, 600masl, and 200masl) as well as the drying method (sun drying, oven drying and combination). Simplicia then analyzed for total biomass and flavonoid content. The result showed that altitude and drying methods gave significant effect on simplicia sambang colok, where the best result for flavonoid content obtained with altitude of 1200 masl and oven drying and combination of drying methods.

Filter by Year

2004 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Journal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian More Issue