cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02161192     EISSN : 25414054     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian (J.Pascapanen) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian pascapanen pertanian. Jurnal ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 258 Documents
Sifat Fisikokimia Dan Sensori Bakso Kerbau Dari Berbagai Jenis Daging Karkas Dan Bahan Pengisi Sri Usmiati; nFN Miskiyah
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v3n1.2006.33-40

Abstract

Aspek penting dalam pembuatan bakso adalah daging sebagai bagian dari karkas dan sifat fisikokimianya. Komposisi kimia dan sifar Iisik daging bervariasi tergantung kepada letak dan fungsi daging di dalam tubuh. Dalam pcmbuatan bakso, bahan lain yang diperlukan adalah bahan pengisi yang berfungsi memperbaiki emulsi, memperkecil penyusutan dan menambah berat produk sehingga dapat menekan biaya produksi. Bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan bakso adalah bahan pengisi yaitu: adalah tepung tapioka dan tepung sagu. Penelitian penggunaan daging dari bagian karkas kerbau yang berbeda dengan perbandingan tapioka dan pati sagu yang berbeda perlu dilakukan untuk melihat sifat Iisikokimia dan sensori bakso yang dihasilkan Penelitian menggunakan kombinasi dua komponen perlakuan yaitu: A = daging dari bagian karkas (tiga bagian yaitu A1 =jantung. A2=paha belakang, dan A3=campuran yaitu 50% daging leher:50% daging rusuk ), dan B= perbandingan jenis bahan pengisi (4 macam perbandingan tapioka.pati sagu yaitu B1 =1:0. B2= 1:1. B3=2:1. dan B4=1:2). Peubah yang diamati meliputi pH adonan, daya mengikat air, tingkat keempukan, kadar air, abu, protein. dan lemak, serta uji hedonik terhadap rasa, warna, aroma, tekstur, kekenyalan, dan penampakan umum. Analisis data sifat fisikokimia nggunakan Kruskal-Wallis , sedangkan data uji hedonik diuji statistik parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter bakso kerbau yang paling baik adalah bakso yang dibuat menggunakan daging campuran daging leher dan daging rusuk pad a seluruh perbandingan tapioka dengan pati sagu ditandai oleh kadar protein yang tinggi (12,6%). kadar lemak yang sedang (0,5%) dan tingkat keempukan yang baik (23,7 mm/det) dengan tingkat kesukaan panelis berkisar pada nilai hedonik :3-4 (netral-suka) Bakso kerbau yang berasal dari daging campuran dianggap lebih ekonomis karena harga) daging campuran lebih murah dibandingkan daging paha belakang. Physico Chemical and Sensory Properties of Buffalo Meatball Made From Various Kind of Meat Carcass and FillerThe important aspects of meatball production as type of meat as part of carcass and its physicochemical properties. Chemical compositions and physical properties of meal vary depend on its function and location on the body. The other material which is needed in meatball production is filler that has a function to improve emulsion, to minimize cooking loss and to increase yield of product so it can reduce the production cost Occasionally, filler which is used in meatball making are tapioca and sago starch. Research on usage of meat from different part of carcass  and various comparison of tapioca and sago starch needs to be conducted in order to know the buffalo meatball physicochemical and sensory. Research was using combination of two components: A= flesh from different parts of buffalo Carcass (three parts: A1=heart. A2=silverside and A3=mixed/50%chuck and 50%rib), and B= comparison or different filler (4 comparisons or tapioca and sago starch: B1=1:0; B2=1:1. B3=2:1 and B4=1:2). Parameters observed were pH of clough, WHC (water holding capacity). tenderness. moisture content, concentration of protein. fat, and ash. hedonic test on taste, color, aroma, texture and elasticity. Physicochemical data was analyzed by Kruskal-Wallis test. while hedonic result was analyzed by parametrix statistical. Result of research indicated that best character or buffalo meatball was made from flesh mixed (chuck and rib) at all comparisons or tapioca and sago starch marked by high protein concentration (12.6%), good in fat concentration (0.5%) and tenderness (23.7 mm/s) as well as panelist reference around hedonic value 3-4 (neutral-prefer) and this buffalo meatball was assumed more economic because price of mixed flesh cheaper than silverside.
Seleksi dan Formulasi Media Pertumbuhan Bakteri Penghasil Xilanase Nur Richana; Tun Tedja Irawadi; Anwar Nur; Illah Sailah; Khaswar Syamsu
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v3n1.2006.41-49

Abstract

Seleksi bakreri penghasil xilanase dan formulasi media pertumbuhan bakteri penghasil xilanase telah dilakukan di laboratorium Bioproses, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pcrtanian. Seleksi isolat bakteri dilakukan terhadap lima isolat penghasil xilanase yaitu RXAI-5, RXAII-5, RXAIII-1, RXAIII-5 dan RXNI-3), dengan membandingkan hasil kultivasi meliputi biomasa, protein terlarut, akrivitas xilanase dan aktivitas spesifik. Formulasi media dilakukan dengan mengoptimasi konsentrasi peptone, ekstrak khamir sebagai sumbcr nitrogen dan oat spelt xylane sebagai sumber karbon. Analisis percobaan menggunakan rancangan acak faktorial, faktor (A) peptone terdiri atas empat taraf yaitu A1=0, A2=0,I; A3=0,3; A4=0,5% Faktor (B) ekstrak khamir terdiri alas tiga taraf (B1=0,1; B2=0,2; B3=0,3%) dan faktor (C) oat spelt xylene terdiri atas tiga taraf (C1=0,5; C2=0,75; C3=1,0%) dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat baktcri Bacillus pumilus RXAIII-5 dinyatakan sebagai isolat bakteri unggul diantara kelima isolat bakteri penghasil xilanase. Pada formulasi media ternyata protein terlarut tertinggi (0,596 g/l) pada media dengan komposisi 0,75% xilan, pepton 0,5%, ekstrak khamir 0.2%. Aktiviras xilanase dan aktivitas spesifik tertinggi berturut-turut adalah 186,37 u/ml dan 436,45 U/mg protein. Keduanya dicapai pada komposisi media yang sama yaitu pepton 0, 1 %, ekstrak khamir 0, I %, dan xilan 0,5%. Dcngan demikian komposisi tersebut merupakun komposisi mcdi a terpilih yang optimum. Isolat bakteri unggul bersifat alkali ini diharapkan dapar menghasilkan xilanase yang tahan pada pH tinggi sehingga dapat digunakan untuk proses pemutihan kertas yang ramah  lingkungan. Selection and Growth Medium-Formulation of Xylanase Producing BacteriumThis research was carried out in the bioprocess laboratory of Indonesian Center for Agricultural Postharvest Research and Development, Bogor. Selection of five isolates (RXAI-5, RXAII-5. RXAIII-1, RXAIII-5 and RXNI-3). xylanase producing bacteria Were based on comparative study of cultivation yield consists of biomass of bacterium cells, dissolved protein, xylanase activity and specific activity, Formulation of growth medium using peptone and yeast extract as nitrogen source and oat spclt xylan as carbon source. Design experiment used at formulation of growth medium was randomized factorial design. with factor A) peptone consist of four level, A 1=0. A2=0.1; A3=0.3; A4=0.5%, factor (8) yeast extract consist or third level (131=0.1, 132=0.2; 133=0.3%) and factor (C) oat spelt xylan consist of three level (CI=0.5; C2=0.7S; C3=1.0%), with three replication. Research result showed that Bacillus pumilus RXAIII-5 is the best bacterium isolate among five isolates of xylanase producing bacteria. In growth medium formulation showed that highest dissolved protein (0.596 g/l) was achieved in the medium containing 0.75% xylan, 0.5% pepton, and 0.2% yeast extract. The highest value of both of xylanase activity and specific activity are 186.37 u/ml and 436.45 U/ml respectivelly. In fact these were reached at similar growth medium composition of 0.1 % pepton, 0.1 % yeast extract, and 0.5% xylan, and consequently became the best of growth media formulation. The potential alcaliphilic bacterial isolate is expected to produce xylanase with high pH stability. The enzyme can be used as environmentaly safe agent for paper bleaching.
Pengaruh Ekstrak Rimpang Jahe (Zingiber Officinale Roscoe) Segar Dan Tunas Jahe Terhadap Proliferasi Beberapa Alur Sel Kanker Iceu Agustinisari; Fransiska R. Zakaria
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v3n1.2006.50-59

Abstract

Penelitian tentang aktivitas perlindungan sel oleh ekstrak rimpang jahe segar dan tunas jahe telah dilakukan secara in vitro terhadap sel limfosit mencit. Komponen fenol yang mempunyai aktivitas antioksidan diperkirakan dapat melindungi sel dari kerusakan dan kematian. Penelitian lain mengungkapkan bahwa komponen fenol terbukti memiliki aktifitas antiproliferatif dan efek toksik terhadap sel kanker. Sel kanker adalah: sel normal yang bermutasi menjadi ganas, Tujuan penelitian ini udalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak rimpang jahe segar dan tunas jahe terhadap aktivitas proliferasi: sel kanker K562 (kanker darah) dan A549 (kanker paru-paru) yang berasal dari manusia. Terdapat enam jenis ekstrak juhe yang digunukun sebagi perlakuan, yaitu (1) ekstrak air rimpang jahe segar, (2) ekstrak air tunas jahe, (3) ekstrak air rimpang jahce segar dengan berat molekul kurang dari 8000 dalton, (4) ekstrak air tunas jahe dengan berat moJekul kurang dari 8000 dalton, (5) ekstrak etanol rimpang jahe segar dan (6) ekstrak etanol tunas jahe. Setiap jenis ekstrak jahe terscbut diencerkan, 0 kali (tanpa pengenceran), 2,3 dan 4 kali pengenceran. Setiap jenis ekstrak jahe ditambahkan ke dalam kultur sel  kanker K562 dan A549 yang kemudian diinkubusi selama 4 hari. Pada hari ke tiga di lakukun penambahan 3H timidin untuk menandai DNA sel kanker yang berproliferasi. Hasil penghitungan sel menunjukkan bahwa ekstrak air rimpung jahe segar cenderung menghambat proliferasi sel kanker K562 lebih baik daripada ekstrak lainnya, dengan indeks penghambatan mencapai 80,57%, Sementara itu, ekstrak air tunas jahe dengan berat molekul kurang dari 8000 dalton (8 k Da)ternyata cenderung Iebih menghambat proliferasi sel kanker A549 dibandingkan jenis ekstrak jahe lainnya, dengan bcsar indcks pcnghambatan 51.72%. The Effect of Fresh and Ginger Shoot (Zingiber officinale Roscoe) Extracts on Cancer Cell Line ProliferationCell protection activity of fresh ginger rhizome and ginger shoot on mouse spleen limphocyre had been reported Phenolic compound which has antioxidative activity is expected could protect cell from damage and death. Other research result indicated that, some of phenolics compound had been proven that it had antiproliferative activity and toxic effect to cancer cell. Cancer cell comes from normal cell which mutated becomes malignant sel. The aim of this research was to find out the effect of fresh ginger rhizome and ginger shoot extracts on proliferative activity or K562 (crythroleukemic) and A549 (lung carcinma) human cancer cell lines. There were six kinds of ginger extracts were applied as treatments, They were, (1) water extract fresh ginger rhizome, (2) water extract ginger shoot, (3) Water extract fresh ginger rhizome which had molecule weight less than 8000 daltons (8 kDa), (4) water extract ginger shoot which had molecule weight less than 8000 daltons, (5) ethanol extract fresh ginger rhizome and (6) ethanol extract ginger shoot. Each extract was diluted with RPMI-1640 (0,2,3 and 4 times dilution). Ginger extracts were added into K562 and A549 Cancer cell culture and incubated for four days, AI the third day, 3H thymidine was added to sign the DNA of cancer cell which proliferated. The result of cell counting showed that water extract fresh ginger rhizome lent to inhibit cancer cell line K562 (human erythroleukemic cell) proliferation better than the others, with 80,57% index inhibition. Water extract ginger shoot which had molecule weight less than 8000 daltons tent to inhibit cancer cell line A549 (human lung carcinoma) better than the others with 51,72% index inhibition.
Ekstraksi dan Karakterisasi Pektin Dari Kulit Labu Kuning Nanan Nurdjanah; Sri Usmiati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v3n1.2006.13-23

Abstract

Peningkatan pemanfaatan buah labu kuning akan berdampak terhadap limbah kulit labu kuning yang lcbih banyak. Salah satu komponen yang terdapat pada kulit labu kuning adalah pektin. Oleh karena itu ada kemungkinan kulit labu kuning dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai berupa pektin. Metode yang digunakan untuk mengekstrak pektin dari jaringan tanaman sangat beragam. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui proses ekstraksi pektin yang optimal dari kulit labu kuning sehingga dihasilkan pektin yang bermutu. Penelitian dilakukan melalui dua tahap yaitu penelitian pendahuluan berupa analisis proksimat bahan baku kulit labu kuning dan penentuan rentang suhu dan waktu ekstraksi. dan penelitian utama berupa ekstraksi dan karakterisasi dari pektin yang dihasilkan. Penelitian utama menggunakan perlakuan kombinasi suhu dan waktu ekstraksi (sembilan kombinasi perlakuan) dengan 2 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rcndemen pektin yang dihasilkan berkisar antara 6,31-8,70%, dengan kadar pektin sekitar 24,97-47,99%. Pektin yang dihasilkan termasuk jenis pektin bermetoksil rendah sekitar 2.93-4,09% (<7%). Dilihat dari nilai kadar air, kadar abu, dan kadar galakturonat, pektin yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi mutu pektin kering dari Kodeks Makanan Indonesia. Kondisi ckstraksi dan isolasi pektin dari kulit labu kuning yang optimum adalah perlakuan kombinasi suhu 800C dengan waktu 80 menit. Extraction and Characterization of Pectin Derived from Pumpkin ShellIncrease of pumpkin diversification will produce more pumpkin shell as waste. One of compounds in pumpkin shell is pectin. For that reason. there is possibility that pumpkin shell can be processed to be a higher value product named pectin. There are several methods to extract pectin from plant tissue. The objective of this research is to find the optimum pectin extraction process from pumpkin shell 10 produce high quality pectin. The research was done in two steps, first was preliminary step which was done to analyze the physical and chemical characteristic of pumpkin shell as raw material and to determine the temperature and time of ex traction to be applied on the main experiment as the second step of experiment. The second step were done to find out the optimum extraction lime and temperature to produce pectin from pumpkin shell. The treatments was used combination of temperature and time of extraction (nine combination treatments) with two replications. The result showed that the yield of the pectin produced was between 6.31-S.70% with 24.97-47.99% pectin content. Pectin produced included to the low methoxyl pectin with methoxyl content about 2.93 4.09% (<7%). Based on the water, ash and galacturonate content, pectin produced met the dried pectin qualification from Indonesian Food Codex. The optimum temperature and time of pumpkin shell extraction was 800C and 8O minutes respectively.
PENGARUH KONSENTRASI NATRIUM BENZOAT DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP MUTU MINUMAN SARI NANAS (Ananas comosus L.) Salfauqi Nurman; nFN Muhajir; Virna Muhardina
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v15n3.2018.140-146

Abstract

Sari buah nanas merupakan salah satu olahan buah nanas yang bertujuan untuk memperpanjang masa simpan nanas serta meningkatkan daya guna, ada beberapa faktor yang mempengaruhi mutu minuman sari nanas diantaranya penambahan natrium benzoat dan lama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan dua variabel penambahan natrium benzoate (N) 0,00%, 0,02%, 0,004% dan 0,06% dan lama penyimpanan (P) 10 hari, 20 hari dan 30 hari. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa konsentrasi natrium benzoate (N) berpengaruh sangat nyata (P≤ 0,01) terhadap pH, uji organoleptik (warna, aroma dan rasa), total asam, total padatan terlarut dan total mikroba. Lama penyimpanan (P) berpengaruh sangat nyata (P≤ 0,01) terhadap pH, uji organoleptik (warna, aroma dan rasa), total asam, total padatan terlarut dan total mikroba. Interaksi antara penambahan natrium benzoate dan lama penyimpanan (NP) berpengaruh nyata (P≤ 0,01) terhadap pH, uji organoleptik (warna, aroma dan rasa), total asam, total padatan terlarut dan total mikroba. Perlakuan terbaik dari hasil penelitian ini adalah penambahan natrium benzoat 0,06% dan lama penyimpanan 10 hari (N4P1) dengan pH 3,59, uji organoleptik warna 3,16 (cukup suka), aroma 3,86 (suka), rasa 3,66 (cukup suka), total asam 0,36%, total padatan terlarut 21,87% dan total mikroba 3,4x103 koloni/mL. The Influence of Sodium Benzoic Concentration and Long Storage Quality Cider to Drink Pineapple (Ananas Comosus L)Pineapple juice is one of the pineapple fruit processing which aims to prolong the pineapple storage time and improve the usability, there are several factors that affect the quality of pineapple juice such as the addition of sodium benzoate and storage time. This research uses two variable of sodium benzoate (N) addition of 0.00%, 0.02%, 0.004% and 0.06% and storage time (P) 10 days, 20 days and 30 days. The results of this research showed that the concentration of sodium benzoate (N) had significant effect (P≤ 0.01) on pH, organoleptic test (color, flavor and taste), total acid, total dissolved solid and total microbial. The storage time (P) had a very significant effect (P≤ 0.01) on the pH, organoleptic test (color, flavor and taste), total acid, total dissolved solids and total microbial. The interaction between the addition of sodium benzoate and storage time (NP) had significant effect (P≤ 0.01) to pH, organoleptic test (total color, flavor and taste), total acid, total dissolved solid and total microbial. The best treatment of the results of this study was the addition of 0.06% sodium benzoate and 10 days of storage time (N4P1) with pH 3.59, color 3.16 (quite like), flavor 3.86 (like), taste 3.66 (quite like), total acid 0.36%, total dissolved solids 21.87% and total microbial 3.4x103 colonies/mL.
PENGARUH PERBANDINGAN TEPUNG REBUNG (Dendrocalamus asper) DAN TEPUNG TERIGUTERHADAP KARAKTERISTIKKIMIA DAN KARAKTERISTIK SENSORI COOKIES Doddy A Darmajana; Novianti Wulandari; Rima Kumalasari; Ade Chandra Irwansyah
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v16n1.2019.47-55

Abstract

Cookies adalah camilan selingan praktis yang menjadi pilihan masyarakat saat ini dengan rasa yang manis, gurih seimbang, dan memiliki nilai fungsional bagi kesehatan. Rebung merupakan tunas muda bambu yang memiliki manfaat bagi kesehatan akan tetapi, semua rebung mengandung HCN (asam sianida) yang merupakan senyawa beracun dengan konsentrasi beragam. Tujuan penelitian ini adalah mensubstitusi sebagian tepung terigu dengan tepung rebung dalam formula pembuatan cookies. Manfaat penelitian untuk diversifikasi produk olahan pangan lokal dan diharapkan menambah alternatif  olahan pangan lokal dan meningkatkan nilai ekonomis rebung. Metode penelitian menggunakan eksperimental dengan rancangan percobaan acak lengkap dengan perlakuan prosentase substitusi tepung rebung dan suhu pemanggangan. Hasil penelitian menunjukkan kadar HCN pada tepung rebung tanpa perebusan sebesar 29.0621 ppm, dengan perebusan 20 menit sebesar 4,86 ppm, dan perebusan 40 menit sebsar 4,32 ppm. Nilai IC50 pada tepung rebung tanpa perebusan sebesar 597,7900 ppm, dengan perebusan 20 menit sebesar 2495,7371 ppm, dan perebusan 40 menit sebsar 4644,2749 ppm. Tepung rebung dengan waktu 20 menit digunakan sebagai tepung dalam penelitian selanjutnya. Waktu pemanggangan cookies rebung berpengaruh terhadap respon organoleptik dan kadar air cookies. Waaktu pemanggangan yang digunakan adalah 10 menit, 12 menit, dan 15 menit. Waktu pemanggan cookies rebung terpilih berdasarkan respon organoleptik dan kadar air adalah waktu pemanggangan 10 menit berdasarkan respon organoleptik (rasa manis, warna cokelat, kerenyahan, aroma, dan after taste pahit) dan kadar air sebesar 3,4606. Influence of Ratio of Bambooshoot Flour (Dendrocalamus asper) and Wheat Flour on The Chemical Characteristics and Sensory Characteristics of CookiesThe aims of this research are to determine the influence of the ratio of bamboo shoot flour with wheat flour to the chemical and sensorycharacteristics of cookies. The research method uses experimental methods, completely randomized design with one treatment, namely the ratio of bamboo shoot flour with wheat flour. Ratio of bamboo shoot flour and wheat flour consists of 3 levels, namely: 1:2, 2: 1 and 3: 1. All experimental unit data averaged three replications. The experimental results of HCN levels showed that bamboo shoots without boiling flour were 29.0621 ppm, with boiling of 20 minutes of 4.86 ppm, and boiling of 40 minutes of 4.32 ppm. While the results of the flour composition experiment showed that the ratio of bamboo shoot flour and wheat flour significantly affected the water content, ash, protein, fat and crude fiber content of cookies made. The higher the level of bamboo shoot flour(3:1), the higher the ash content of cookies(2,53%), the lower the level of protein cookies(5,46%), the lower the fat content of cookies(19,17%), and the higher the level of crude fiber cookies(13,80%).Ratioof bamboo shoot flour and wheat flour significantly affected the sensory properties of bamboo shoot cookies.
PENGARUH PENGGUNAAN PELARUT DAN TEKNIK EKSTRAKSI TERHADAP MUTU GELATIN KAKI AYAM nFN Miskiyah; nFN Juniawati; Elmi Kamsiati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v16n1.2019.10-18

Abstract

Proses produksi gelatin dari bahan baku alternatif diperlukan untuk mengatasi kebutuhan gelatin halal. Saat ini, terdapat batasan penggunaan gelatin, terkait dengan aspek kehalalannya. Eksplorasi proses produksi gelatin dari limbah pemotongan ayam memerlukan berbagai modifikasi agar memenuhi standar mutu gelatin yang telah ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia (SNI). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sifat fisikokimia gelatin yang dihasilkan dari kaki ayam dan karakteristiknya dari proses modifikasi gelatin. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian adalah bahan pelarut (A) (A1: HCl 1%,, A2: NaOH 1%,; A3: CH3COOH 1%) dan metode ekstraksi (B) (B1: pemanasan menggunakan water bath dan B2: menggunakan panci bertekanan/presto). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kaki ayam memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan baku untuk produksi gelatin. Perlakuan terbaik adalah 2 hari ekstraksi menggunakan pelarut CH3COOH 1%, dengan proses ekstraksi menggunakan water bath selama 1 jam. Rendemen gelatin 6,75 ± 1,89%; kadar air 10,41 ± 0,63%; kadar abu 3,90 ± 0,43%; kandungan lemak 9,68 ± 1,21%; kandungan protein 77,21 ± 0,58%; pH 5,62 ± 0,13; bersifat larut; viskositas 6,67 ± 1,53 cPs; kekuatan gel 164,75 ± 3,40 g bloom; kandungan residu Cu 4,52 ± 0,71 ppm; Zn 9,92 ± 0,22 ppm; As 0,000 ± 0,00 ppm; dan Sulfit 5.56 ± 0,30 ppm. Proses produksi gelatin dengan menggunakan metode asam dan proses ekstraksi dengan water bath belum menghasilkan gelatin yang sesuai dengan standar mutu gelatin (SNI), sehingga perlu perbaikan dalam metode ekstraksi. Production process of gelatin from alternatif material is needed to overcome the supply of halal gelatin. There are several obstacles to the use of gelatin, one of this related to religious aspects, that is prohibition of consuming ingredients from pigs. Explorations of production process of gelatin from waste of chicken slaughtering house need some modiifications, so can meet to the Indonesian Standard Regulation (SNI). The purpose of this research was to know the physicochemical properties of gelatin produced from chicken feet, and their characteristics from modification process of gelatin. The results showed that chicken feet has a high enough protein content, so it was potential to be used as a raw material for gelatin production. The best treatment was 2 days exraction using CH3COOH 1% solvent, followed by heating using waterbath for 1 hour. Yield of gelatin 6.75 ± 1.89%; water content 10,41 ± 0,63%; ash content 3,90 ± 0,43%; fat content 9.68 ± 1.21%; protein content 77,21 ± 0,58%; pH 5.62 ± 0.13; solubility was soluble; viscosity 6.67 ± 1.53 cPs; gel strength 164.75 ± 3.40 bloom; Cu residue content of 4.52 ± 0.71 ppm; Zn 9,92 ± 0,22 ppm; As 0,000 ± 0.00 ppm; Sulfite 5.56 ± 0.30 ppm. However, it is need improvement to reduce the fat content in gelatin product
PEMILIHAN STARTER CAIR UNGGUL UNTUK FERMENTASI BIJI KAKAO nFN Misgiyarta; Anas Miftah Fauzi; Khaswar Syamsu; S Joni Munarso
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v16n1.2019.19-27

Abstract

Kualitas biji kakao fermentasi rendah  karena kualitas starter mikroba untuk fermentasi biji kakao rendah. Seleksi starter mikroba diperlukan untuk mendapatkan starter yang unggul. Ada dua jenis starter, yaitu starter cair dan starter kering. Starter cair banyak digunakan untuk fermentasi biji kakao. Starter yang diuji adalah starter cair, yaitu starter Inoka, starter cair BB-Pasca, dan starter yoghurt. Seleksi starter mikroba dilakukan dengan memfermentasi pulp biji kakao selama 24 jam pada berbagai suhu fermentasi (20oC, 30oC, dan 40oC). Parameter yang diamati adalah jumlah total mikroba, laju pertumbuhan mikroba starter, tingkat konsumsi gula pereduksi oleh mikroba starter, total asam yang diproduksi, tingkat penurunan pH, dan peningkatan suhu fermentasi serta korelasi antara parameter pengamatan penelitian. Starter cair unggul yang terpilih adalah starter cair Inoka. Karakteristik starter Inoka adalah memiliki tingkat laju pertumbuhan μ = 0.470, konsumsi gula pereduksi oleh mikroba starter 12%, peningkatan asam total 7%, penurunan pH 5,2, dan peningkatan suhu fermentasi 1,56oC  serta korelasi antara parameter penelitian di atas 0,61. Selection of Superior Liquid Starters for Cocoa Beans FermentationThe quality of fermented cocoa beans varies because the microbial starter for fermented cocoa beans varies. The selection of starter is needed to get a superior starter. The starter tested is a liquid starter, that is the Inoka starter, the BB-Pasca liquid starter, the yoghurt. The selection of starter is done by fermenting cocoa bean pulp for 24 hours at various fermentation temperatures (20oC, 30oC and 40oC). The parameters observed were total microbial count, microbial growth rate of starter, consumption of reducing sugars by starter microbes, total acid produced, decrease of pH, and increase of fermentation temperature and the correlation between the parameters of the study. The selected superior liquid starter is the Inoka liquid starter. The characteristics of Inoka starter are to have a growth rate of μ = 0.470, consumption of reducing sugars by starter microbes 12%, total acid increase of 7%, decrease in pH 5.2, and increase in fermentation temperature of 1.56oC and correlation between research parameters above 0.61.
EFEKTIVITAS METODE BLANSIR TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS SIMPLISIA TEMU MANGGA (CURCUMA MANGGA VAL.) SETELAH MASA SIMPAN Devi Safrina; Mery Budiarti Supriadi
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v16n1.2019.28-33

Abstract

Temu mangga (Curcuma mangga Val) termasuk tumbuhan dari famili Zingiberaceae yang telah umum dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan baku dalam pengobatan tradisional. Rimpang temu mangga diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antitumor, antijamur, antibakteri dan antialergi. Sediaan rimpang temu mangga sebagai bahan baku jamu atau obat tradisional dimasyarakat umumnya berupa simplisia kering sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lama. Faktor lama masa penyimpanan simplisia diketahui dapat mempengaruhi kualitas suatu jenis simplisia. Dilain hal, terdapat metode blansir yang dikenal sebagai salah satu tahapan dalam proses pengawetan bahan organik, seperti sayur dan buah. Fungsi penting metode blansir, diantaranya mampu menurunkan kadar air, meminimalkan cemaran mikroba dan menginaktifasi enzim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan blansir terhadap kualitas simplisia temu mangga setelah masa simpan tertentu. Tahapan penelitian ini meliputi pemilihan sampel sediaan simplisia rimpang temu mangga, perlakuan blansir yang dilakukan dengan variasi waktu yaitu 1, 3 dan 5 menit, serta pengujian kualitas sampel yang mencangkup parameter kadar susut pengeringan, angka cemaran mikroba, kadar sari larut air dan alkohol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan blansir dapat menurunkan angka cemaran mikroba, tetapi tidak berpengaruh terhadap kualitas sampel simplisia temu mangga, selanjutnya perlu dilakukan pengamatan pengaruh suhu blansir terhadap kualitas simplisia temu mangga tersebut. Temu mangga (Curcuma mangga Val is a species of the family Zingiberaceae that have been commonly used by society as raw material in traditional medicine. Reports have shown that rhizome of C. mangga to be used as antioxidant, antitumor, antifungal, antibacterial and allergen. The rhizome inventory of mango rhizome as the raw material of herbal medicine or traditional medicine in the community is generally in the form of simplicia so it can be stored for a long time. Length of storage can affect the quality of the mango rhizome. Blanching is known as one of the stages in the process of preserving organic materials. The important function of blanching method, such as able to reduce water content, minimize microbial contamination. During the blanching process, the sample is given heat treatment to allow for dissolved extractive value while it is a description of the chemical content contained in simplicia. The aim of this study is the effectiveness of blanching treatment on the quality of simplicia, especially microbial contamination and the levels of extracts contained in certain shelf life of C. mangga simplicia. This study was conducted by selecting samples of C. mangga simplicia preparations, which were then treated with blanch time variations 1, 3 and 5 minutes, and testing the quality of simplicia including loss on drying, the number of microbial contamination, water soluble and alcohol extract. The results of the study showed that blanching treatment could effectively reduce the rate of microbial contamination to meet standards. Blanching has no effect on the level of water soluble extract, but it has a significant effect on the levels of soluble alcohols.
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK FLAKE BERBAHAN TEPUNG JAGUNG (ZEA MAYS L.), TEPUNG KACANG HIJAU (PHASEOLUS RADIATUS) DAN LABU KUNING LA3 (CUCURBITA MOSCHATA) Mukhammad Fauzi; nFN Giyarto; Triana Lindriati; Hema Paramashinta
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v16n1.2019.34-46

Abstract

Flake dapat dibuat dari tepung jagung, dicampur dengan tepung kacang hijau dan labu kuning LA3. Kombinasi yang tepat antara tepung jagung, tepung kacang hijau dan labu kuning LA3 dapat menghasilkan flake dengan nilai gizi yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dan formulasi terbaik dalam pembuatan flake berbahan tepung jagung, tepung kacang hijau dan labu kuning LA3. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal, yaitu rasio tepung jagung, tepung kacang hijau dan labu kuning LA3 berturut-turut, (80:15:5; 70:20:10; 60:25:15; 50:30:20 dan 40:35:25), dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi tepung jagung, tepung kacang hijau dan labu kuning LA3 berpengaruh terhadap warna, tekstur, daya rehidrasi, betakaroten dan kadar air flake yang dihasilkan. Berdasarkan uji efektifitas dari penelitinan ini, proporsi flake terbaik diperoleh pada perlakuan P3 yaitu flake dengan variasi tepung jagung 60%, tepung kacang hijau 25% dan labu kuning LA3 15% dengan nilai lightness 62,38, tekstur 347,34 g/mm, daya rehidrasi 30,79%, betakaroten 1,94 mg/100g, kadar air 3,11%, kadar abu 2,4%, kadar protein 8,71%, kadar lemak 8,45%, karbohidrat 77,59%, total energi 421,25 kkal/100gram, nilai kesukaan warna 3,64 (netral hingga suka), nilai kesukaan tekstur 4,08 (suka), nilai kesukaan rasa 3,60 (netral hingga suka), nilai kesukaan aroma 3,64 (netral hingga suka) dan nilai kesukaan keseluruhan 4,20 (suka hingga sangat suka).Physicochemical and Organoleptic Characteristics of Flake Made from Corn (Zea mays L.), Mung Bean (Phaseolus radiatus) and Yellow Pumpkin LA3 (Cucurbita moschata) Flour.Flake can be made from corn flour (source of carbohydrate), mixed with mung bean flour (source of protein) and yellow pumpkin LA3 (source of vitamins). The best combination of corn flour, mung bean flour and yellow pumpkin LA3 can produce flake with good nutrition. The aim of the research was to characteristic and best ratio of flake made from corn corn flour, mung bean flour and yellow pumpkin LA3. This research was conducted using Completely Randomized Design (CRD) single factors with ratio of corn corn flour, mung bean flour and yellow pumpkin LA3 (80:15:5; 70:20:10; 60:25:15; 50:30:20 and 40:35:25), and repeated thrice each parameters. The results revealed that the proportions of corn flour, mung bean flour and yellow pumpkin LA3 influenced the color, texture, rehydration power, beta-carotene and water level of the resulting flake. Based on the effectiveness test of this research, the best flake proportion was obtained in P3 treatment that was flake with the variations of corn flour 60%, mung bean flour 25% and yellow pumpkin LA3 15%, had a lightness value of 62.38, texture of 347.34 g/mm, rehydration power of 30.79%, beta-carotene of 1.94 mg/100g, water level of 3.11%, ash content of 2.4%, protein content of 8.71%, fat content of 8.45 %, carbohydrate of 77.59%, total energy of 421.25 kcal/100gram, color preference value of 3.64 (neutral up to like), texture preference value of 4.08 (like), taste preference value of 3.60 (neutral up to like), aroma preference value of 3.64 (neutral up to like) and the whole preference value of 4.20 (like up to very like).

Filter by Year

2004 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Journal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Pascapanen Pertanian Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian More Issue