cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Palawija
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan publikasi yang memuat makalah review (tinjauan) hasil penelitian tanaman kacang-kacangan dan umbi umbian. Buletin ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun (Mei dan Oktober) oleh Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
CYANIDE REDUCTION IN CASSAVA ROOT PRODUCTS THROUGH PROCESSING AND SELECTION OF CULTIVARS IN RELATION TO FOOD SAFETY Erliana Ginting; yudi Widodo
Buletin Palawija No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n25.2013.p26-36

Abstract

About 47% of cassava production in Indonesia was used for human consumption, both as a staple food and snacks. In terms of food safety, the natural presence of cyanogenic glucosides in cassava roots is of concern as they may release free cyanide (HCN), which is highly toxic. At high levels, it may cause acute poisoning, leading to death as well as iodine deficiency and neurological disorders for long-term ingestion. The cyanogenic glucosides content in different cultivars of cassava varied from 1 up to >1,000 mg HCN/kg fresh weight, while 10 mg HCN/kg dry weight was considered to be the safe level for consumption. Various processing methods were reported to be effective in reducing the cyanide content in cassava products. A decrease of 25-50% was observed during overnight soaking, while it was much higher (81%) when subsequent drying and milling into flour was performed. During boiling, steaming, deep-frying, baking and fermentation, a reduction of 45-50%, 17%, 13%, 14% and 38-84% was noted, respectively. Crushing the fresh roots and subsequent sun-drying was the most effective method with >95% of HCN removal. It suggests that low cyanide content of cassava cultivars (mostly sweet/local varieties) are obviously required for direct consumption purposes. This is particularly important for traditional food processors to be selective in obtaining fresh cassava as raw material and choosing proper processing methods. While for gaplek, starch, flour, and mocaf purposes, where washing, soaking, shredding, fermentation, pressing, drying and milling were involved, the bitter cultivars (mostly improved varieties) with relatively high cyanide content can be used. Therefore, breeding selection for cassava cultivars with low cyanide content and high potential yield is essentially needed. Selected improved varieties and promising clones seem to meet this criteria. Regulation for food industries to provide information on cyanide level in cassava food labels would also protect the consumers and promote safe cassava foods.
Profil Varietas Unggul Ubijalar Sari: Beradaptasi Luas, dan Berumur Genjah St. A. Rahayuningsih
Buletin Palawija No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n5-6.2003.p57-67

Abstract

Jumlah varietas unggul ubijalar yang telah dilepas relatif sedikit daripada tanaman pangan lain. Preferensi terhadap ubijalar sangat beragam, tergantung peruntukannya. Untuk konsumsi langsung varietas lokal masih merupakan pilihan utama, akan tetapi varietas lokal memiliki beberapa karakter yang kurang disukai petani sebagai produsen antara lain berumur dalam, rentan terhadap penyakit kudis, dan potensi hasil rendah. Pada tahun 2001 Balitkabi berhasil melepas varietas ubijalar yang berumur genjah, potensi hasil tinggi, tajuk kecil, dan keragaan umbi bagus yaitu varietas Sari. Varietas Sari merupakan hasil persilangan antara varietas lokal Genjah Rante dengan varietas Lapis yang dalam proses seleksi diberi nama MIS 104-1. Uji multilokasi pada MT 1999/2000 dan MK I 2000 di 18 lokasi menunjukkan bahwa varietas Sari daya adaptasinya luas dan stabil, dan rata-rata produksi 28 t/ha (rentang 15–44 t/ha). Produksi varietas Sari 40% lebih tinggi dibandingkan hasil Muaratakus. Reaksi varietas Sari terhadap delapan strain penyakit kudis tahan, dan tahan terhadap hama penggerek batang. Hasil uji olahan umbi varietas Sari berupa tepung, mie basah dan kue cake dengan substitusi 10% tepung ubijalar disukai panelis. Kualitas umbi kukus termasuk dalam kategori sedang, tekstur tidak lembek dan tidak kering, dengan rasa manis. Kandungan β-karoten umbi 380,92 mg/100 g bahan, kadar gula 5,23%, dan kadar serat 1,63%. Petani menanam varietas Sari di dataran tinggi Kawi untuk konsumsi langsung (umbi kukus), dan di daerah Tumpang (Malang) dan Pacet (Mojokerto) untuk pasokan pabrik saos.
POTENSI DAN DUKUNGAN TEKNOLOGI UNTUK PENGEMBANGAN KEDELAI DI LAHAN KERING MASAM LAMPUNG TENGAH Arief Harsono
Buletin Palawija No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n13.2007.p8-15

Abstract

Potensi lahan kering masam untuk pengembangan kedelai di Lampung Tengah cukup besar. Petani di kabupaten ini sebagian besar bertanam jagung dan ubi kayu dengan area tanam sekitar 86 ribu ha dan 90 ribu ha/tahun. Dengan distribusi curah hujan yang mencapai 7–9 bulan basah dan 2–4 bulan kering/tahun, memungkinkan untuk bertanam kedelai monokultur setelah jagung atau tumpangsari ubi kayu + jagung /kedelai terutama di tanah ber pH >4 menggunakan varietas tahan masam. Petani akan tertarik bertanam kedelai apabila harganya cukup baik dan aspek agribisnisnya mulai dari penyediaan sarana produksi (up-stream agribusiness), teknik budidaya (on-farm agribusiness), hingga pengolahan hasil dan tataniaga (down-stream agribusiness) dapat diperbaiki dan bersinergi dengan baik. Apabila 60% petani jagung dan ubi kayu tertarik bertanam kedelai dan dapat mencapai hasil 70% dari hasil penelitian kedelai monokultur yang dapat mencapai 2,0 t/ha dan tumpangsari 1,0 t/ha, maka Lampung Tengah akan mampu memberi sumbangan produksi kedelai sekitar 100 ribu ton/tahun dengan tanpa mengurangi produksi jagung dan ubi kayu.
“TALAM 1” VARIETAS KACANG TANAH UNGGUL BARU ADAPTIF LAHAN MASAM DAN TOLERAN Aspergillus flavus Astanto Kasno
Buletin Palawija No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n19.2010.p19-26

Abstract

Galur kacang tanah (Arachys hipogaea L.), J/91283-99-C-90-8 adalah keturunan dari persilangan pasangan induk betina varietas Jerapah dengan induk jantan ICGV 91283, yang dilakukan pada tahun 1999. Seleksi dan penggaluran dilakukan menggunakan metode pedigri. Galur J/91283-99-C-90-8 tergolong ke dalam kacang tanah tipe Spanish (2 biji/polong) dan bijinya berwarna merah muda dengan ukuran biji sedang sesuai dengan preferensi pasar domestik, terutama untuk kacang garing. Dalam pengujian galur J/91283-99-C-90-8 memiliki keunggulan dalam hasil, toleransi terhadap lahan masam dan Aspergilus flavus. serta tahan terhadap penyakit bercak daun. Pada lingkungan yang relatif produktif hasilnya mencapai 2,5 t/ha polong kering lebih tinggi dari hasil varietas pembanding Jerapah (2,30 t/ha polong kering), dan potensinya mencapai 3,2 t/ha polong kering. Kacang tanah galur J/91283-99-C-90-8 disetujui untuk dilepas sebagai varietas unggul baru dengan nama TALAM 1 pada tanggal 13 Juli 2010 Selain itu, galur tersebut menunjukkan toleran terhadap kutu kebul.
Peluang Pengembangan Kacang Tanah di Lahan Kering Nusa Tenggara Timur Rozi, Fachrur; Sutrisno, Imam; Rahmianna, A.A.
Buletin Palawija Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v14n2.2016.p71-77

Abstract

Peluang pengembangan kacang tanah di lahan kering Nusa Tenggara Timur. Potensi pertanian lahan kering di Nusa Tenggara Timur (NTT) cukup luas sekitar 1.528.308 ha dan di daerah ini cocok untuk dikembangkan kacang tanah. Tanaman kacang tanah masih dibudidayakan secara subsisten sehingga perlu diidentifikasi faktor-faktor penghambat dan pendukung dalam upaya pengembangannya. Penelitian dilakukandi Kabupaten Sumba Timur pada musim tanam 2015 dengan cara ‘Rapid Rural Appraisal (RRA)’. Metode analisis data yaitu analisis SWOT, tabulasi dan tingkat daya saing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kesesuaian lahan untuk kacang tanah total nilai bobot (TNB=2,0)dan biomassa kacang tanah termanfaatkan untuk pakan (TNB=1,1) menjadi faktor penguat internal pengembangan kacang tanah di NTT. Sedang penguat eksternalnya adalah pasar kacang tanah sudah terbentuk (TNB = 2,3) dan permintaan kacang tanah tinggi (1,6). Meskipun ada penghambat seperti faktor benih kacang tanah bermutu rendah (TNB=1,2) dan ada ancaman seperti faktor kekeringan (TNB=1,2), tetapi pengaruhnyalebih kecil dibanding penguat dan potensi sumberdaya yang dimiliki. Strategi pengembangan yang digunakan adalah (1) pengelolaan usahatani yang saat ini harus dilakukan lebih intensif dengan penggunaan VUB kacang tanah dan teknologi tanam, (2) peningkatan skala usahadengan memanfaatkan lahan-lahan kosong dan peningkatan indeks pertanaman (IP). Komoditas kacang tanah dapat berkompetisi dengan jagung dan sorgum dan peningkatan daya saingnya mudah dilakukan dengan penggunaan VUB kacang tanah yang telah tersedia sesuaidengan agroekologi dan preferensi petani di NTT. Nilai ekonomi dalam pendapatan komoditas kacang tanah saat ini berkontribusi sebesar 30% terhadap pengeluaran keluarga dan berpeluang dapat ditingkatkan.
Pemanfaatan Spodoptera litura Nuclear Polyhedrosis Virus (SlNPV) Untuk Pengendalian Ulat Grayak (Spodoptera litura Fabricius) Pada Tanaman Kedelai Bedjo Bedjo
Buletin Palawija No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n7-8.2004.p1-9

Abstract

Ulat grayak (Spodoptera litura Fabricius) merupakan salah satu hama penting pada tanaman kedelai. Kehilangan hasil akibat serangan hama tersebut dapat mencapai 85%. Ketergantungan terhadap insektisida kimia untuk pengendalian hama kedelai sampai saat ini masih sangat tinggi. Akibat penggunaan insektisida kimia yang tidak tepat, tidak hanya mencemari hasil pertanian dan lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan kekebalan dan resurgensi hama dan musnahnya musuh alami. Sejalan dengan upaya pengendalian hama yang ramah lingkungan, perlu dicari cara-cara pengendalian alternatif yang lebih efisien dan aman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Spodoptera litura Nuclear Polyhedrosis Virus (SlNPV) berpotensi untuk mengendalikan S. litura karena efektifitas bioinsektisidanya sangat tinggi. Formulasi SlNPV dengan Tween-80 maupun kaolin sebanyak 40% dari volume semprot 300 l/ha, efektif mengendalikan S. litura, dengan tingkat mortalitas 70–82%. Bahan pembawa tersebut dapat melindungi kepekaan SlNPV terhadap radiasi sinar matahari. SlNPV pada dosis 200 ml/ha atau 100 ml/ha, efektif menurunkan populasi S. litura sampai 100% pada 6 sampai 12 hari setelah aplikasi. SlNPV dalam bentuk tepung yang dikemas dengan aluminium foil, dan disimpan di dalam refrigerator dengan suhu 10 0 C masih tetap efektif hingga penyimpanan selama 6 bulan. Mengingat SlNPV sebagai salah satu agens hayati pengendali S. litura efektif dan dapat diformulasikan serta dapat diproduksi secara in vivo maka SlNPV layak dikembangkan sebagai bioinsektisida.
PENGENDALIAN HAMA THRIPS KACANG HIJAU DENGAN INSEKTISIDA NABATI DAN KIMIA Sri Wahyuni Indiati
Buletin Palawija No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n27.2014.p39-51

Abstract

Thrips, Megalurothrips usitatus (Bagnall) merupakan salah satu hama penting kacang hijau pada musim kemarau. Berdasarkan hasil penelitian, kehilangan hasil kacang hijau akibat serangan thrips berkisar antara 12–64%, tergantung varietas, umur tanaman dan musim. Serangan thrips pada awal pertumbuhan vegetatif dicirikan dengan gejala keriting pada daun pucuk, sehingga tanaman menjadi kerdil. Gejala serangan pada fase berbunga mengakibatkan dengan rontoknya bunga, polong tidak terbentuk, sehingga mengurangi hasil kacang hijau. Pengendalian thrips pada kacang hijau dengan ekstrak air (rendaman) serbuk biji mimba (SBM), bawang putih, rimpang jahe, daun pepaya, dan rendaman campuran cabai, bawang, dan jahe (LBJ) sebagai insektisida nabati mempunyai keefektifan yang hampir sama. Namun bila dibandingkan dengan insektisida kimia, keefektifan insektisida nabati lebih rendah. Intensitas serangan thrips dapat ditekan sampai 2% dengan penggunaan fipronil, imidakloprid, formetanate hydrocloride 1–2 ml/l seminggu sekali, penggunaan diafentiuron hanya mampu menekan intensitas serangan thrips sampai 32%. Sedangkan pada petak kontrol serangan thrips mencapai 100%. Aplikasi fipronil 2 ml/l pada 10 HST yang diikuti dengan aplikasi rendaman rimpang jahe 20 g/l pada 17, 24, 31 HST efektif mengendalikan serangan thrips sampai 6,8%. Kombinasi insektisida kimia dan nabati dapat mengurangi penggunaan insektisida kimia antara 50–75%.
Jenis dan Populasi Artropoda dan Dampaknya terhadap Kerusakan Polong Kacang Hijau Yuliantoro Baliadi; Yusmani Prayogo
Buletin Palawija Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v16n1.2018.p17-26

Abstract

Tingkat keragaman artropoda sangat menentukan dinamika jenis dan populasi hama, musuh alami dan artropoda berguna pada pertanaman kacang hijau (Vigna radiata L.). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kelimpahan populasi artropoda dan dampaknya terhadap kerusakan polong kacang hijau. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Ngale, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur pada musim kemarau (MK) II 2015, menggunakan varietas Vima 1, rancangan acak kelompok dengan ulangan lima kali. Lima perlakuan waktu aplikasi pestisida kimia yang diuji adalah; P1 (aplikasi insektisida kimia mulai umur 14 hari setelah tanam (HST) hingga panen); P2 (aplikasi insektisida kimia mulai umur 8 dan 35 HST hingga panen); P3 (aplikasi insektisida kimia mulai umur 8, 14, 21, 28, dan 35 HST); P4 (tanpa aplikasi insektisida kimia); dan P5 (aplikasi insektisida kimia mulai awal pertumbuhan hingga panen). Pengamatan jenis dan populasi artropoda dilakukan melalui pengamatan langsung, pitfall trap, sticky trap dan sweep net mulai umur 14 HST hingga panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dan populasi artropoda di pertanaman kacang hijau sangat beragam tergantung fase pertumbuhan kacang hijau dan aplikasi insektisida kimia. Lima ordo sebagai musuh alami potensial di lahan kacang hijau yaitu: Araneida, Collembola, Coleoptera, Hymenoptera dan Diptera, sedangkan empat ordo yang berfungsi sebagai hama adalah: Diptera, Homoptera, Hemiptera, dan Orthoptera. Artropoda hama utama di fase awal pertumbuhan adalah Ophiomyia phaseoli, di fase vegetatif adalah Bemisia tabaci dan Aphis sp., sedangkan di fase pembentukan polong adalah Riptortus linearis, Nezara viridula, Piezodorus hybneri, dan Maruca testulalis yang dapat menyebabkan penurunan hasil 9,35-26,03%.
Klorosis Tanaman Kacang Tanah Di Alfisol Kapuran Achmad Ghozi Manshuri
Buletin Palawija No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n17.2009.p33-40

Abstract

Klorosis tanaman kacang tanah di Alfisol kapuran. Klorosis pada tanaman kacang tanah di Tuban disebabkan oleh pH tanah tinggi (pH >7). Di Alfisol masam Lamongan (pH <7) kacang tanah tumbuh normal tidak mengalami klorosis. Tingkat ketersediaan hara makro dan mikro Alfisol kapuran Tuban rendah, ditandai dengan nilai SQ <0,5, kecuali Ca dan Mg masing-masing mempunyai SQ = 0,78 (sedang). Pemberian bahan organik 5 t bahan organik.ha–1 meningkatkan ketersediaan hara N, P, K, S, Mg, Mn dan Zn, namun tidak berpengaruh terhadap tingkat ketersediaan hara Fe. Varietas Badak tidak sesuai untuk Alfisol kapuran dan masam baik dengan pemberian atau tanpa pemberian bahan organik. Galur-galur ICGV 87055, K/SHM 2-88-B-7 adaptive di Alfisol kapuran, sedangkan varietas Macan, Biawak, Mahesa dan Kancil sesuai untuk Alfisol kapuran dan masam. Varietas Kidang, Kelinci dan Zebra respon terhadap pemberian 5t bahan organik.ha–1 di Alfisol masam. Varietas Kidang mencapai hasil tinggi 25.7 g biji.dua tanaman–1 di Alfisol masam tanpa pemberian bahan organik, namun hasilnya rendah bila tanpa pemberian bahan organik. Pencegahan klororis daun pada kacang tanah dapat diatasi dengan: Pemberian 30–40 kg FeSO4.ha–1. Pemberian 20t pupuk kandang.ha–1. Pemberian 300–400 kg bubuk belerang.ha–1, yang diberikan dalam alur tanaman. Kombinasi antara 20t pupuk kandang.ha–1 dengan 200kg bubuk belerang.ha–1. Penyemprotan dengan larutan yang mengandung 1% FeSO4 + 0,1% asam sitrat + 3% amonium sulfat (ZA) + 0,2% urea pada umur 30, 45 dan 60 hari serta dengan cara memperbaiki drainase dan aerasi tanah.
UPAYA MODIFIKASI PATI UBIKAYU MELALUI PEMULIAAN TANAMAN Kartika Noerwijati
Buletin Palawija Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v13n1.2015.p92-100

Abstract

Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz.) merupakan penghasil pati tertinggi dibandingkan padi dan jagung, dengan kadar pati antara 73,7–84,9%(basis kering). Ubi kayu juga merupakan tanaman paling efisien dalam mengubah energi matahari menjadi karbohidrat per unit area. Pati ubi kayumempunyai manfaat yang luas baik dalam industri pangan maupun non pangan. Pati ubi kayu terdiri atas dua polimer yaitu amilosa dan amilopektin. Pemanfaatan pati ubi kayu sangat tergantung pada sifat fisiko-kimia pati, yang berkaitan dengan proporsi amilopektin dan amilosa. Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan kualitas pati yaitu secara fisik, kimia, enzimatis, dan genetik. Modifikasi secara fisik, kimia dan enzimatis dilakukan terhadap pati yang dihasilkan, sedangkan modifikasi genetik untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas pati ubi kayu dilakukan melalui upaya rekayasa metabolisme biosintesis pati ubi kayu. Tujuan modifikasi pati secara genetik di antaranya adalah untuk membentukklon unggul ubi kayu yang memiliki kadar amilosa rendah, amilosa tinggi, atau untuk mengubah ukuran granula pati. Rasio amilosa dan amilopektindalam pati serta ukuran granula pati sangat berpengaruh terhadap kualitas pati yang dihasilkan. Modifikasi pati secara genetik memiliki prospek yang bagus. Indonesia telah melakukan penelitian modifikasi pati secara genetik yaitu melalui mutasi dan pembentukan tanaman transgenik.Penelitian tanaman transgenik dilakukan secara kerjasama dengan Universitas Wageningen. Teknik modifikasi pati secara genetik melalui metode konvensional juga dapat dilakukan apabila sudah diketahuisecara mendetail karakteristik genotipe-genotipe yang akan digunakan sebagai tetua persilangan.

Filter by Year

2001 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 14, No 2 (2016) Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 28 (2014) No 27 (2014) No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 26 (2013) No 25 (2013) No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 23 (2012): BULETIN PALAWIJA Mei 2012 No 24 (2012) No 23 (2012) No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 22 (2011) No 21 (2011) No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 20 (2010) No 19 (2010) No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 18 (2009) No 17 (2009) No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 16 (2008) No 15 (2008) No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 14 (2007) No 13 (2007) No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue