cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Palawija
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan publikasi yang memuat makalah review (tinjauan) hasil penelitian tanaman kacang-kacangan dan umbi umbian. Buletin ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun (Mei dan Oktober) oleh Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
MENINGKATKAN PRODUKSI KACANG TANAH LAHAN ALFISOL DENGAN MENANAM VARIETAS TOLERAN Joko Purnomo
Buletin Palawija No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n10.2005.p78-84

Abstract

Di Indonesia sebagian besar kacang tanah ditanam di tanah Alfisol, dan sering dihadapkan pada masalah ketersediaan dan ketidak-seimbangan hara. Karakteristik alkalis tanah Alfisol sering menjadi kendala peningkatan produksi kacang tanah karena terjadinya kahat Fe. Tidak semua varietas yang sudah dilepas beradaptasi baik di lingkungan Alfisol alkalis, varietas rentan terhadap kadar Fe rendah akan menderita klorosis dan kehilangan hasil bisa mencapai lebih dari 40%. Sampaidengan tahun 2004, di Indonesia telah dilepas sedikitnya 29 varietas unggul kacang tanah dengan berbagai tipe dan karakter, tetapi belum dapat menjawab permasalahan untuk tanah Alfisol. Penggunaan varietas yang diketahui toleran Alfisol alkalis merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan hasil. Balitkabi telah menghasilkan beberapa varietas kacang tanah baru seperti Kancil, Bison, Domba, dan Turangga yang diketahui mampu beradaptasi dengan baik. Di samping itu, beberapa galur harapan seperti K/PI 405132-90-B1-2-57, K/PI390595//K-90-B-54, ICGV 88252/LM-92-B-4, K/PI298115-90-B-16 dan ICGV 87055 ditengarai prospektif untuk lahan Alfisol. Kajian di beberapa lokasi menunjukkan bahwa penggunaan varietas/galur toleran meningkatkan hasil 25–52%, nyata lebih tinggi dibanding lokal setempat.
Indigenous rhizobium and its effect on the success of inoculation Suryantini Suryantini
Buletin Palawija No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n24.2012.p92-98

Abstract

Symbiotic nitrogen fixationis a key factor in the low-input farming systemto sustain long time soil fertility. Symbiotic nitrogenfixation involving host-specific symbiotic interactionsbetween root nodule bacteria, termed rhizobia,and legumes. One of the major strategies forenhancing symbiotic nitrogen fixation by legumesin crop production systems is through rhizobialinoculation. But inoculation not always successfuland one reason is the population of indigenous rhizobiumcontained in the soil. Indigenous rhizobium cancompete with rhizobium inoculant through populationdensity and effectiveness. The high populationof rhizobium in one place relating to the type oflegume that ever grew / grown. When the numberof indigenous population is low, not effective or notcompatible with legumes planted the rhizobiuminoculation is required. But when the number ofindigenous rhizobium population is high, effectiveand compatible with legumes that will be planted(based on observations of root nodules and existingplants), inoculation is not required.
PERANAN ALSINTAN DALAM MENDUKUNG PROGRAM INTENSIFIKASI PADI, JAGUNG DAN KEDELAI DI JAWA TIMUR I Ketut Tastra
Buletin Palawija No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n2.2001.p30-43

Abstract

Penggunaan alsintan merupakan salah satu komponen teknologi yang mendukung upaya pencapaian sasaran program intensifikasi produksi padi,jagung dan kedelai (Gema Palagung) yang pada akhirnya diharapkan bermuara pada peningkatan pendapatan petani produsen. Untuk itu, penerapan tidak semata-mata hanya untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga pada kegiatan usaha tani padat energi (oengolahan tanah, perontokan dan pemipilan) tetapi juga untuk menigkatkan mutu hasil (utamanya saat panen musim hujan), agar daya tawar petani dalama pemasaran hasil dapat ditingkatkan. Namun demikian, penjual jasa alsintan, bengkel alsintan, pedagang pengumpul dan KUD yang terlibat dalam pemasaran hasil hendaknya juga mendapat nilai tambah yang wajar agar keberlanjutan penerapan alsintan dapat dijamin. Pesatnya perkembangan sistem penjualan jasa perontokan dan Pemipilan di Jawa Timur merupakan salah satu contoh di mana baik petani pengguna, penjual jasa alsintan dan bengkel alsintan mendapat sama- sama keuntunganyang wajar. Sebaliknya, belum berkembangnya sistem penjualan jasa pengeringan karena dinilai kurang menguntungkan bagi penjual jasa alsintan akibat pangsa pasar yang kurang dan mobilitas alat yang rendah. Dengan demikian, meskipun secara teknis pengguna jasa pengeringan (petani) akan dapat meningkatkan mutu hasil saat panen musim hujan, namun sulit menjadi kenyataan mengingat masih kecilnya intensif harga jual atas pemenuhan standar mutu dibanding biaya jasa pengeringan, Sementara itu, perhatian pedagang pengumpul dan industri pakan masih belum cukup kuat sebagai pendorong penerapan alsintan yang lebih maju, meskipun Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah menetapakan batas kandungan maksimum Aflatoksin 30 ppb. Karenanya diperlukan strategi yang tepat dalam menerapkan alsintan melalui pendekatan sistem agar keberlanjutannya dapat dijamin. Peluang n=menerpakan alsintan yang lebih maju dari cara tradisional cukup besar mengingat industri pengolahan pangan dan pakan berkembang pesat di Jawa Timur. Peluang tersebut dapat diwujudkan melalui oenumbuhan hubungan kemitraan yang saling menguntungkan antar berbagai pihak(petani, KUD/penjual jasa alsintan, bengkel alsintan dan industri pengguna) yang terlibat dalam sistem agribisnis/agroindustro berbasis tanaman pangan. Untuk itu, perlu dukungan kebijakan yang menjamin.
PENGELOLAAN TANAMAN DAN TUMBUHAN INANG UNTUK PENGENDALIAN THRIPS PADA TANAMAN KACANG HIJAU Sri Wahyuni Indiati; Sagitarius Bambang Ermawan
Buletin Palawija No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n29.2015.p33-45

Abstract

Pengelolaan tanaman dan tumbuhan inang untuk pengendalian thrips pada tanaman kacang hijau. Thrips (Megalurothrips usitatus Bagnall) merupakan salah satu hama penting yang merugikan pada tanaman kacang hijau pada musim kemarau. Serangan thrips pada tanaman umur dua minggu dengan ciri daun-daun trifoliet mengkerut pada pucuk, tanaman tumbuh kerdil, pembentukan bunga terlambat, polong yang terbentuk tidak normal dan hasil rendah. Kehilangan hasil kacang hijau akibat serangan thrips dapat mencapai 63% bergantung pada waktu dan intensitas serangan thrips. Thrips mempunyai inang luas, selain menyerang kacang hijau, thrips juga dapat menyerang tanaman kacang-kacangan lain, tanaman hortikultura, dangulma. Pengendalian thrips pada kacang hijau dapat dilakukan dengan cara pengelolaan tanaman dan tumbuhan inang, melalui sanitasi dan eradikasi,tanaman perangkap kombinasi insektisida kimia dan tanam serentak, waktu tanam dan pergiliran tanaman menggunakan varietas tahan, dan sistemperaturan.
KARAKTERISTIK ROTI MANIS BERBAHAN BAKU UBIJALAR DAN TEPUNG GANDUM LOKAL Rahmi Yulifianti
Buletin Palawija Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v15n2.2017.p49-56

Abstract

Pemanfaatan gandum lokal dan ubijalar sebagai bahan baku dalam pembuatan roti manis merupakan upaya diversifikasi pangan berbahan baku lokal sekaligus mengurangi impor terigu. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik roti manis yang diolah dari campuran tepung gandum lokal dan pasta ubijalar ungu. Tepung gandum lokal varietas Dewata dan pasta ubijalar ungu dari varietas Antin-2 diolah menjadi roti manis menggunakan empat tingkat perbandingan (dalam %) yaitu 100:0; 70:30; 65:35: dan 60:40. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu jenis gandum (sosoh dan tidak sosoh) dan faktor kedua proporsi pasta ubijalar (0%, 30%, 35%, dan 40%). Sebagai kontrol, digunakan roti manis yang diolah dari 100% tepung terigu impor. Pengamatan meliputi: sifat kimia terigu dan ubijalar kukus/pasta serta sifat fisik, kimia dan sensoris roti manis yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa tingkat substitusi pasta ubijalar sampai 40% terhadap tepung gandum lokal menghasilkan roti manis dengan kadar air berkisar antara 23,37-32,51%, abu 1,40-1,90% bk, dan protein 11,64-15,24% bk. Nilai kadar protein ini lebih tinggi dibandingkan dengan roti dari terigu impor yaitu 11,68% bk. Rendemen, kekerasan, warna, dan tingkat pengembangan volume, relatif sama antara tepung gandum sosoh dan tidak sosoh. Namun, untuk roti dari substitusi gandum lokal dan ubijalar memiliki tekstur yang lebih lunak dan tingkat pengembangan volume lebih tinggi dari terigu impor. Demikian juga kesukaan terhadap warna, aroma, dan rasa relatif sama hasilnya dengan roti manis dari 100% terigu. Hal ini dapat dijadikan sebagai peluang untuk memperluas pemanfaatan gandum lokal dan ubijalar serta memacu pengembangan agroindustri berbasis bahan baku lokal.
RESPONS TANAMAN KEDELAI, KACANG TANAH, DAN KACANG HIJAU TERHADAP CEKAMAN SALINITAS Afandi Kristiono; Runik Dyah Purwaningrahayu; Abdullah Taufiq
Buletin Palawija No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n26.2013.p45-60

Abstract

Salinitas yang tinggi merupakan salah satu cekaman lingkungan yang mengakibatkan tanaman mengalami cekaman osmotik, ketidak seimbangan hara, toksisitas ion tertentu, dan cekaman oksidatif. Cekaman tersebut mempengaruhi hampir semua proses fisiologis dan biokimia serta tahap pertumbuhan tanaman. Fase perkecambahan dan pertumbuhan semaian adalah fase kritis terhadap cekaman salinitas bagi sebagian besar tanaman, termasuk kedelai (Glycine max L. Merr.), kacang tanah (Arachis hypogaea L.) dan kacang hijau (Vigna radiata L. Wilczek), sehingga ketahanan tanaman terhadap cekaman salinitas dapat dievaluasi pada fase-fase tersebut. Toleransi tanaman legum terhadap cekaman salinitas beragam antar spesies maupun varietas. Batas kritis tingkat salinitas berdasarkan penurunan hasil pada tanaman kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau berturutturut adalah 5 dS/m, 3,2 dS/m,dan 1–2,65 dS/m. Pemahaman pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan tanaman sangat berguna untuk menentukan strategi pengelolaannya. Informasi mengenai mekanisme toleransi tanaman terhadap salinitas dari aspek morfologis, fisiologis, maupun biokimia tanaman sangat diperlukan dalam mengembangkan kultivar yang toleran. Penggunaan kultivar toleran merupakan salah satu upaya mengatasi masalah salinitas yang praktis dan ekonomis.
Pembentukan Varietas Kacang Tanah Hasil Stabil dan Beradaptasi Luas: Studi Kasus Varietas Jerapah Astanto Kasno; Novita Nugrahaeni; Joko Purnomo; Sumartini Sumartini; Trustinah Trustinah
Buletin Palawija No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n1.2001.p1-14

Abstract

Ragam lingkungan yang besar untuk produksi kacang tanah di Indonesia memerlukan varietas yang berdaptasi luas dan hasilnya stabil. Tersedianya varietas kacang tanah yang hasilnya stabil dan memiliki adaptasi luas sangat membantu upaya penigkatan produksi kacang tanah di Indonesia. Stabilitas hasil dapat ditimbulkan oleh besar heterogenitas genetik di dalam populasi dan ketahanan terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik. Kethanan varietas tehadap penyakit daun, layu bakteri, penyakit bilur dan Aspergillus flavus, serta toleransi terhadap kekeringan dan kemasaman lahan merupakan komponen stabilitas hasil penting. Heterogenitas genetik sebagai penyangga populasi akan terjadi bila di dalam populasi terdiri dari individu-individu secara fenotipik sama, namun secara genotipik berbeda. Seleksi massa pada famili F2 merupakan salah satu cara menghasilkan varietas demikian.Pembentukan kacang tanah yang memiliki stabilitas hasil dan beradaptasi luas, menggunakan varietas jerapah sebagai studi kasus. Kacang tanah varietas jerapah adalah hasil silang tunggal tahun 1988 antara varietas lokal majalengka dengan ICGV 86071. ICGV 86071 adlah varietas tahan penyakit daun asal ICRISAT, India. Dari 1114 famili F2 yang dihasilkan, famili no.16 memilki karakterisitik yang diinginkan. Terhadap famili F2 No.16 dilakukan seleksi massa positif hingga tahun 1991 diberbagai cekaman lingkungan , yakni:kekeringan, lahan masam, serangan penyakit daun, layu, bilur dan A.flavus. Uji daya hasil dilakukan mulai tahun 1992, dan diteruskan dengan uji multilokasi hingga tahun 1997. Uji multilokasi dilakukan di 28 lokasi yang meliputi 11 propinsi. Galur LM/ICGV 86021-88-B-16 lebih unggul dari varietas pembanding. Hasil polong kering rata-rata LM/ICGV 86021-88-B-16 2,0 t/ha. Hasil tertinggi pada lingkungan optimal mencapai 4,0 t/ha. Hasil analisis stabilitas menunjukkan bahwa galur LM/ICGV 86021-88-B-16 hasilnya stabil dan memiki adaptasi umum yang baik. Galur tersebut dinilai toleran kekeringan, agak tahan penyakit daun, dan adaptif pada tanah masam.
Profil dan Peluang Pengembangan Ubi Jalar untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Agroindustri Nasir Saleh; St. A. Rahayuningsih; Yudi Widodo
Buletin Palawija No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n15.2008.p21-30

Abstract

Ubi jalar merupakan tanaman pangan yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan, pakan maupun bahan baku industri. Sejalan dengan program diversifikasi pangan yang menjadikan sumber karbohidrat alternatif selain beras, perkembangan industri kimia berbasis ubi jalar, dan berkembangnya industri pakan ternak, kebutuhan ubi jalar dipastikan akan meningkat tajam sehingga diperlukan peningkatan produksi baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal komoditas tanaman tersebut. Ketersediaan lahan yang masih luas, teknologi produksi dan pasar yang masih terbuka merupakan potensi untuk pengembangan ubi jalar di Indonesia. Potensi sekaligus peluang tersebut dapat direalisasikan melalui upaya pelatihan, bimbingan berkelanjutan dan fasilitasi permodalan, penyediaan sarana produksi bagi petani serta kemitraan yang adil dengan pengusaha/industri berbasis ubi jalar.
POTENSI DAN PELUANG JAWA TENGAH SEBAGAI PENDUKUNG SWASEMBADA KEDELAI Arief Harsono
Buletin Palawija No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n21.2011.p55-62

Abstract

Produksi kedelai di Indonesia hingga tahun 2010 masih belum mencukupi kebutuhan dalam negeri, sehingga pemerintah mencanangkan program peningkatan produksi untuk mencapai swasembada kedelai pada tahun 2014. Jawa Tengah, sebagai sentral produksi kedelai ke dua di Indonesia mempunyai potensi besar untuk mendukung program tersebut. Kontribusi Jawa Tengah terhadap produksi kedelai nasional selama ini mencapai sekitar 18%, apabila berpedoman pada angka tersebut, untuk mendukung swasembada kedelai tahun 2014 Jawa Tengah harus mampu memproduksi kedelai 414 ribu ton pada luas panen 262 ribu ha dengan rata-rata hasil 1,58 t/ha. Target tersebut dapat tercapai apabila areal panen kedelai yang ada di Jawa Tengah saat ini tidak berkurang, 10% bekas padi sawah yang tidak biasa ditanami kedelai dapat ditanami kedelai, 10% areal jagung dapat ditanam sisip kedelai, dan 5% areal ubikayu dapat ditanam tumpangsari dengan kedelai. Pada tahun 2014, dengan asumsi tersebut luas panen kedelai di Jawa Tengah akan dapat mencapai 365 ribu ha dengan produksi sekitar 572 ribu ton, dan mampu menyumbang produksi kedelai sekitar 25% dari kebutuhan nasional. Asumsi tersebut akan dapat tercapai apaila harga dan tataniaga kedelai dapat diperbaiki sehingga usahatani kedelai dapat bersaing dengan komoditas lain, terutama jagung dan kacang tanah.
PENGARUH JENIS DAN TAKARAN PUPUK ORGANIK TERHADAP HASIL KEDELAI DI LAHAN KERING MASAM Andy Wijanarko; Subandi .
Buletin Palawija Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v15n1.2017.p44-48

Abstract

Pemberian bahan organik di tanah masam merupakan salah satu teknologi yang dianjurkan. Penggunaan bahan organik yang diperkaya hara diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Penelitian ini bertujuan menentukanjenis bahan organik dan takaran yang tepat untuk peningkatan hasil kedelai di lahan kering masam. Penelitian dilaksanakan di Sukadana, Lampung Timur pada MT 2010. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok factorial,faktor pertama adalah jenis pupuk kandang, yakni: (1). pupuk kandang sapi, (2). pupuk kandang ayam, (3). pupuk organik SANTAP (formulasi Balitkabi), dan (4). pupuk organik Petroganik;faktor kedua adalah takaran pupuk organik, yaitu: (1). 0 kg/ha (kontrol), (2). 1500 kg/ha,   (3). 2500 kg/ha, dan (4). 3500 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesuburan kimiawi tanah percobaan sangat rendah, reaksi tanah yang sangat masam, konsentrasi hara dan basa-basa dalam tanah rendah hingga sangat rendah serta kejenuhan Al yang tinggi. Pemberian pupuk organik SANTAP dengan takaran 3500 kg/ha memberikan hasil kedelai yang tertinggi, meningkat 134% dibandingkan dengan tanpa pemberian pupuk organik.

Filter by Year

2001 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 14, No 2 (2016) Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 28 (2014) No 27 (2014) No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 26 (2013) No 25 (2013) No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 23 (2012): BULETIN PALAWIJA Mei 2012 No 24 (2012) No 23 (2012) No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 22 (2011) No 21 (2011) No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 20 (2010) No 19 (2010) No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 18 (2009) No 17 (2009) No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 16 (2008) No 15 (2008) No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 14 (2007) No 13 (2007) No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue