cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Alamat Kantor Editor Jurnal Jalan Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111 Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Plasma Nutfah
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14104377     EISSN : 25491393     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Plasma Nutfah (BPN) is an open access scientific journal published by The Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD), The Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD), Ministry of Agriculture. This peer-refereed journal covering the area of genetic resources including exploration, characterization, evaluation, conservation, diversity, traditional knowledge, management and policy / regulation, of all kinds of genetic resources: plants, animals, fishes, insects and microbes. Manuscripts submitted to this journal are those that have never been published in other journals. This journal is published in one volume of two issues per year (June and December). We invite authors to submit the manuscripts to this journal in English or Indonesian. Detail information about the journal, including author guidelines and manuscript template, is available on the website (http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/bpn). The manuscript should be submitted electronically through our submission system. Buletin Plasma Nutfah (BPN) is an open access scientific journal published by Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD), Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD), Ministry of Agriculture. BPN Accredited by Ministry of Research, Technology and Higher Education of the Republic of Indonesia (No. 21/E/KPTP/2018) for period of 2016-2020. This peer-refereed journal covers the area of genetic resources including exploration, characterization, evaluation, conservation, diversity, traditional knowledge, management and policy / regulation related to genetic resources: plants, animals, fishes, insects and microbes which has never been published in other Journal
Arjuna Subject : -
Articles 296 Documents
Kajian Ekologi dan Potensi Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack.) di Kelompok Hutan Sungai Manna-Sungai Nasal, Bengkulu N. M. Heriyanto; Reny Sawitri; Endro Subiandono
Buletin Plasma Nutfah Vol 12, No 2 (2006)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v12n2.2006.p69-75

Abstract

The study indicated that 88 species found belonged to 29 families. The predominant species was Shorea parvifolia (meranti) and Dipterocarpus costulatus (keruing). The highest dominance value belonged to second transect (0,0998) and the lowest dominant value was the fourth transect (0,0526). The highest diversity index value belonged to fifth transect (2,28) and the lowest of diversity index value was fourth transect (1,41). The abundance of pasak bumi was different in transect, for trees level it was 2 individuals/ha (first transect and third transect), however, in the second, fourth and fifth transect were none. For belta level, it was 10 individuals/ha (the first transect), 20 individuals/ha (the third transect) and 20 individuals/ ha (the fifth transect), while in the second and fourth transect were none. For seedling level it was 280 individuals/ ha (the third transect), 60 individuals/ha (the fourth transect) and 100 individuals/ha (the fifth transect), while in the first and the second were none. This intolerant species was adapted in slope and dry areas. The rarity of pasak bumi was not affecting local people because they were seldom used for traditional medicine. AbstrakDari hasil penelitian dijumpai 88 jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam 29 famili. Jenis tumbuhan yang mendominasi tegakan adalah Shorea parvifolia (meranti) dan Dipterocarpus costulatus (keruing). Nilai dominansi tertinggi tingkat pohon dimiliki oleh jalur II (0,0998) dan terendah pada jalur IV (0,0526). Nilai indeks keanekaragaman jenis tertinggi di tingkat ini dimiliki oleh jalur V (2,28) dan terendah pada jalur IV (1,41). Kelimpahan pasak bumi pada setiap jalur berbeda-beda, untuk tingkat pohon adalah 2 pohon/ha pada jalur I dan jalur III. Pada jalur II, IV, dan V tidak dijumpai jenis pohon pasak bumi. Pada tingkat belta dijumpai 10 individu/ha pada jalur I, 20 individu/ha pada jalur III, dan 20 individu/ha pada jalur V. Pada jalur II dan IV tidak dijumpai jenis pasak bumi. Pada tingkat semai dijumpai 280 individu/ha pada jalur III, 60 individu/ ha pada jalur IV, dan jalur V memiliki kelimpahan 100 individu/ha. Pada jalur I dan II tidak dijumpai jenis pasak bumi. Tempat tumbuh yang disukai oleh pasak bumi adalah tanah miring dan tidak pernah tergenang air. Tumbuhan muda tidak toleran pada cahaya langsung. Ancaman terhadap kelangkaan pasak bumi di Bengkulu tidak terlalu merisaukan karena masyarakat setempat jarang yang memanfaatkannya untuk obat tradisional. 
Pengelompokan Plasma Nutfah Gandum (Triticum aestivum) Berdasarkan Karakter Kuantitatif Tanaman Mamik Setyowati; Ida Hanarida; nFN Sutoro
Buletin Plasma Nutfah Vol 15, No 1 (2009): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v15n1.2009.p32-37

Abstract

Clustering of the 65 accessions of wheat have been done based on the quantitave plant characters. The purpose of this study was to identify genetic resources of wheat for breeding programs. Result of the analysis showed that there are 6 clusters. Two of those clusters have short maturiy and high yielding potential. Cluster of accessions having which is short maturity and moderately short plant, 1.000 seeds weight, maximum number of tiller, number of productive tiller, panicle length, exertion length have 12 accessions. While cluster with high potential production, shot panicle and moderate quantitative characters consists of 13 accessions. Therefore, those two clusters could be used as genetic resources for short maturiy and high yield characters of wheat. AbstrakTelah dilakukan pengelompokan 65 aksesi plasma nutfah gandum berdasarkan karakter kuantitatif. Ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi sumber gen untuk perakitan varietas unggul gandum. Hasil analisis gerombol dengan menggunakan peubah kuantitatif diperoleh 6 kelompok aksesi. Dua kelompok di antaranya memiliki karakteristik umur panen cepat dan potensi hasil tinggi. Kelompok aksesi yang memiliki umur panen cepat dan tinggi tanaman pendek, berat 1.000 butir, jumlah anakan maksimum, jumlah anakan produktif, panjang malai dan panjang tangkai malai rata-ratanya sedang terdapat 12 aksesi. Kelompok aksesi yang memiliki potensi hasil tinggi dengan malai pendek serta sifat kuantitatif lainnya sedang terdapat 13 aksesi. Oleh karena itu, untuk kedua kelompok tersebut dapat dijadikan sebagai sumber gen tanaman gandum berumur pendek dan berpotensi hasil tinggi.
Karakter Anatomi Daun Kultur Purwoceng Pascakonservasi In Vitro Rita Ningsih; Ireng Darwati; Rita Megia; Ika Roostika
Buletin Plasma Nutfah Vol 17, No 1 (2011): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v17n1.2011.p30-39

Abstract

Leaf Anatomy Characteristic of Pruatjan Cultures Post In Vitro. Evaluation of anatomical characteristics regenerant planlet of purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) cultivated on conservation medium was observed to determine the difference of characteristics performance of the planlet grown on conservation medium and those that was maintained on the normal medium. Stomata was microscopically observed on abaxial leaf paradermal section that preparated by whole mount method and leaf structure on cross section by paraffin method. The result showed that stomata density was greater on the planlets regenerated in the conservation medium but stomata length was lower than those on the normal medium. Upper epidermis, mesofil and lower epidermis length of the regenerant on the conservation medium were lower than those on the normal medium. Sorbitol and paclobutrazol applied reduced the performance of regenerated spesies than those of planlet maintained on the normal medium. Combination of both application resulted in anatomical character differences on the plants regenerated on normal medium. AbstrakPengujian terhadap karakter anatomi daun regeneran purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) pasca penyimpanan dalam medium konservasi telah dilakukan untuk mengetahui karakter anatomi daun regeneran pascakonservasi dalam medium dengan penambahan kombinasi sorbitol dan paklobutrazol selama 4 dan 8 bulan. Selanjutnya daun regeneran tersebut dibandingkan dengan daun regeneran dalam medium normal (kontrol). Pengamatan stomata dan struktur daun dilakukan secara mikroskopis masing-masing terhadap sayatan paradermal daun yang dibuat melalui metode whole mount dan sayatan melintang yang dibuat melalui metode paraffin. Hasil pengamatan menunjukkan terdapat perbedaan anatomi daun regeneran yang dikultur pada medium konservasi dan daun regeneran pada medium normal (kontrol). Densitas stomata daun regeneran yang tumbuh pada media konservasi rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan daun regeneran pada media kontrol, tetapi stomata lebih pendek dibandingkan dengan daun regeneran pada media kontrol. Panjang epidermis atas, mesofil, dan epidermis lebih pendek dibandingkan dengan kontrol. Penurunan daya regenerasi berkorelasi dengan perbedaan karakter anatomi. Pengaruh sorbitol dan paklobutrazol selama periode konservasi masih bertahan (persisten) pada tanaman regeneran. Kombinasi perlakuan keduanya menghasilkan perbedaan karakter anatomi pada daun regeneran purwoceng.
Adaptasi dan Stabilitas Hasil Delapan Varietas Lokal Padi Sawah Abd. Aziz Syarif; Syahrul Zen
Buletin Plasma Nutfah Vol 18, No 2 (2012): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v18n2.2012.p62-69

Abstract

Adaptation and Yield Stability of Eight Local Lowland Varieties. Abd. Azis Syarif and Syahrul Zen. The availability of improved rice variety adapted to high altitude areas and suitable for consumers preference in West Sumatra is very limited. Majority of rice farmers in high altitude area in West Sumatra grow many adapted local varieties. This activity aimed at estimating yield adaptability and stability of selected local varieties as a requirement for variety release. The yield and other agronomic traits of eight local and one improved varieties (Batang Sumani) were evaluated at six locations in Solok District, using a Randomized Complete Block Design with three replications at each location. Regression technique of varietal yields at each location on environmental index (mean yield of all varieties at correspondent location) was used to assess the adaptability and stability of particular varieties. The results showed that local varieties of Caredek Putih and Caredek Merah gave the highest mean yields, 5.39 and 5.18 t/ha (13.87 and 9.28% higher than that of improved check variety) respectively. These varieties were found to be stable, indicated by non significantly different of their regression coefficient from 1.0 and deviation from regression from 0.0. AbstrakKetersediaan varietas unggul padi yang adaptif pada lahan sawah dataran tinggi dan memiliki rasa nasi yang sesuai dengan preferensi konsumen di Sumatera Barat masih sangat terbatas. Sampai saat ini, kebanyakan petani masih membudidayakan varietas-varietas lokal yang sudah beradaptasi dan disukai konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan stabilitas hasil beberapa varietas lokal padi sawah untuk pengusulan pelepasan sebagai varietas unggul. Delapan varietas lokal padi sawah hasil identifikasi dan seleksi dari beberapa lokasi di Kabupaten Solok (Sumatera Barat) dan satu varietas unggul sebagai pembanding (varietas Batang Sumani) diuji daya hasil dan sifat agronomis lainnya di enam lokasi di Kabupaten Solok. Pada setiap lokasi digunakan rancangan percobaan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Pendugaan adaptabilitas dan stabilitas hasil menggunakan teknik regresi dimana rataan hasil setiap varietas di setiap lokasi diregresikan dengan indeks lingkungan (rataan hasil semua varietas) lokasi yang bersangkutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas local Caredek Putih dan Caredek Merah memberi rataan hasil tertinggi, yakni 5,93 dan 5,18 t/ha (13,8 dan 9,28% lebih tinggi dari varietas pembanding). Kedua varietas ini adaptabilitas umum atau beradaptasi baik pada semua lingkungan dan stabil, ditunjukkan oleh koefisien regresinya yang tidak berbeda nyata dari 1.0 dan simpangan dari regresi yang tidak bebeda nyata dari 0.
Pengelolaan Sumber Daya Genetik Tanaman Obat Spesifik Kalimantan Tengah Amik Krismawati; M. Sabran
Buletin Plasma Nutfah Vol 12, No 1 (2006)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v12n1.2006.p16-23

Abstract

Central Kalimantan Province covers an area of 15,38 million ha which consist of 61,140 ha coastal region, 1,53 million ha open waters, and 13,79 million ha as inland area. The continental area consisted of various type of lands e.g. acid sulphate, peats soil, and up land. In order to explore and conserve potential medicinal plants indigenous to Central Kalimantan, these exploration and characterization activities were conducted. Method of study: (1) exploration, (2) ex situ conservation, (3) characterization, and (4) documentation. The result of these activities are ex situ collection of 15 acessions of medicinal crops. This exploration obtained 15 accessions of medicinal plants which were characterized and conserved in ex situ condition. AbstrakKalimantan Tengah memiliki luas wilayah 15,38 juta ha yang terdiri dari 61,1 ribu ha daerah pantai, 1,53 juta ha daerah perairan umum, dan 17,79 juta ha daratan. Wilayah daratan yang luas ini terdiri atas berbagai tipologi lahan seperti lahan sulfat masam, gambut, dan lahan kering. Untuk menggali potensi dan melestarikan plasma nutfah tanaman obat spesifik Kalimantan Tengah telah dilaksanakan kegiatan eksplorasi dan karakterisasi. Dari kegiatan ini dapat disusun deskripsi berbagai jenis tanaman tersebut untuk inventarisasi, karakterisasi, dan koleksi tanaman obat secara ex situ dalam bentuk kebun pembibitan. Metode kegiatan meliputi (1) eksplorasi, (2) konservasi ex situ, (3) karakterisasi, dan (4) dokumentasi. Hasil kegiatan adalah koleksi secara ex situ tanaman obat sebanyak 15 aksesi.
Keragaman Produksi Plasma Nutfah Pala (Myristica fragrans) di KP Cicurug Sri Wahyuni; Hadad E. A.; nFN Suparman; nFN Mardiana
Buletin Plasma Nutfah Vol 14, No 2 (2008): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v14n2.2008.p68-75

Abstract

Nutmeg known as a major spice in the world. The plant originated from Moluccas island of Indonesia. It is an evergreen tree with 4-10 m height and sometimes up to 20 m. The plant is a dioecious, start bearing fruit at 5 to 8 years after planting, and before reaching generative period it can not be distinguish whether the plant is a male or female plant. Nutmeg has an ovale to rounded fruit shape with 1-10 cm long with thin to thick fleshly fruit and creamy white colour. Nutmeg seed surrounded by arils which is famous known as mace, usually with red colour and the major constituent is myristicin. Collecting of nutmeg at Moluccas, North Sulawesi and Papua obtained 430 seeds from several different locality and the plant were planted with 8 m x 8 m space row at Cicurug garden Sukabumi-West Java, 500 m above sea level, in 1992 and 1993. So far the remaining plant were only 368 trees. Observation of nutmeg yield was carried out in 5 years (2000, 2001, 2002, 2004, and 2005) to those collection to evaluate their yield variation and continuity. T-test were used to estimate the plant with better yield. Result showed that there were high variation in nutmeg fruit yield among and between locality represented value of variation almost 100%. Less than 50 plant have a relative yield continuity, moreover they were only 7 trees which has cumulative yield more than 4000 fruits/tree i.e. Bagea Yan Maliaro 213, Banda 11, Botol 137, Kupal 139, Patani 25, Patani 32, and Patani 33. The cumulative yield per tree ranged from 0-7808 fruits with the average 1195 nut/tree. Harvesting nutmeg fruit at Cicurug garden was done almost all year around, with the peak harvest in Mei to June. AbstrakPala (Myristica fragrans) telah sejak lama dikenal sebagai rempah utama dunia. Merupakan tanaman asli Indonesia, khususnya Maluku, pala tumbuh hingga tinggi tanaman 4-10 m dan kadang mencapai 20 m. Tanaman pala mulai berbuah umur 5-8 tahun, bersifat dioecious (berumah dua), sebelum fase berbuah, antara pohon jantan dan betina sulit dibedakan. Buah berbentuk bulat sampai agak lonjong dengan panjang antara 1-10 cm, berdaging tipis sampai agak tebal dengan warna daging buah krem putih. Biji dengan kulit biji keras dan diselubungi oleh salut biji (arilus) dan lebih dikenal dengan nama fuli, bersifat aromatik dengan kandungan senyawa utama myristicin. Eksplorasi pada berbagai daerah dan sentra produksi pala di kepulauan Maluku, Irian Jaya, dan Sulawesi Utara telah berhasil dikumpulkan 430 nomor pohon yang terdiri dari berbagai tipe yang didasarkan pada daerah asal koleksi. Tanaman ditanam tahun 1992 dan 1993 di KP Cicurug pada ketinggian tempat 500 m dpl, dengan jarak tanam 8 m x 8 m dan yang masih hidup 368 nomor pohon. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap produksi tanaman pala hasil koleksi tersebut untuk mengetahui variasi, distribusi, dan kontinuitas produksi. Pengamatan terhadap produksi dilakukan selama lima tahun produksi, yaitu tahun 2000, 2001, 2002, 2004, dan 2005, kemudian dihitung keragaman dan kontinuitas produksinya dan dilakukan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh nomor berbeda dari tahun ke tahun. Tingkat produksi bervariasi, baik antartipe maupun dalam tipe yang sama dengan nilai keragaman 100%. Kisaran produksi buah per pohon secara kumulatif selama 5 tahun produksi adalah 0-7808 butir per pohon dengan rata-rata 1195 butir/pohon. Dari semua koleksi tanaman hanya 37 nomor yang mempunyai produksi relatif kontinu dan 7 di antaranya memiliki produksi kumulatif di atas 4000 butir per pohon, yaitu Bagea Yan Maliaro 213, Banda 11, Botol 137, Kupal 139, Patani 25, Patani 32, dan Patani 33. Panen buah pala berlangsung hampir sepanjang tahun, namun panen buah terbanyak terjadi pada bulan Mei-Juni.
Karakterisasi Beberapa Sifat Kuantitatif Plasma Nutfah Gandum (Triticum aestivum. L) Sri Gajatri Budiarti
Buletin Plasma Nutfah Vol 11, No 2 (2005)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v11n2.2005.p49-54

Abstract

The aim of the experiment were to rejuvenate and characterize of wheat germplasm. Eighty nine genotypes planted at Kuningan Field Research Instalation, West Java from June to October 2002. Plot size for each genotypes 3 x 1 m2 with spacing 25 x 10 cm. Seeds were planted with 2 seed per hole and thinned out to one plant. Several agronomic characters were observed: date of flowering, date of maturing, plant height, number of productive tiller per hill, seed weight per hill and yield per plot. The results showed that: date of flowering (mean 60.9 days with range 48-77 days), date of maturity (mean 102.7 days with range 87-119 days), plant height (mean 72.4 cm, range 53.5-88.7 cm), number of productive tiller per hill (mean 9.71, range 4.9-24.0), seed weight per hill (mean 11.96 g, range 5.3-34.5 g) and seed yield per plot (200.0- 2624.5 g). Seventeen genotypes have date of flowering <54.3 days, some of them were H40, H80, V219, and V132. There were 25 genotypes have date of harvesting ranged 87-98 days, some of them were H40 (87 days), H85 (91 days), H90 (91 days). There were 16 genotypes have plant height <65.2 cm, some of them were C3 (53.5 cm), C7 (58.4 cm), C14 (59.1 cm). Whereas the highest was C10 (88.7 cm). Nine genotypes have number of productive tiller per hill >17.5, some of them were C8 (23.6), C27 (22.7) and the greatest number was C28 (24.0). Sixty six genotypes have number of productive tiller per hill, ranged 4.9-11.2, some of them were: C34 (4.9), C24 (5.2), H85 (5.6). Seed weight per hill showed that 60 genotypes have seed weight <12.6 g, for example: H71 (5.3 g), H40 (6.6 g), C132 (5,4 g), C34 (6,7 g), whereas the heaviest was C28 (34.5 g). Sixteen three two genotypes that have yield per plot >2000 g were V192 (2016.0 g), and V167 (2624.5 g). AbstrakTujuan penelitian adalah merejuvenasi dan mengkarakterisasi plasma nutfah gandum, terutama morfologi dan agronomi. Penelitian dilaksanakan pada Juni hingga Oktober 2002 di Inlitpa Kuningan, Jawa Barat. Sejumlah 89 genotipe gandum ditanam pada petak berukuran 3 x 1 m2, dengan jarak tanam 25 x 10 cm, secara tugal, dua biji per lubang, dan diperjarang menjadi satu tanaman. Pemupukan dilakukan pada 1 MST secara alur di samping barisan tanaman. Pupuk dasar terdiri dari 100 kg urea, 200 kg SP36, dan 50 kg KCl/ha. Sejumlah 100 kg urea/ha diberikan lagi pada umur 5 MST dan 9 MST. Karakterisasi dilakukan terhadap umur berbunga, umur masak, tinggi tanaman, jumlah anakan produktif per rumpun, bobot biji per rumpun, dan hasil biji per petak. Umur berbunga ratarata 60,9 hari dengan rentang 48-77 hari, umur masak 102,7 hari dengan rentang 87-119 hari, tinggi tanaman 72,4 cm dengan rentang 53,5-88,7 cm, jumlah anakan produktif per rumpun 9,71 dengan rentang 4,9-24, bobot biji per rumpun 11,96 g dengan rentang 5,3-34,5 g, dan hasil biji per petak berkisar antara 200-2624,5 g. Genotipe yang mempunyai umur berbunga <54,3 hari di antaranya adalah H40, H80, V219, dan V132. Genotipe yang mempunyai umur masak 87-98 hari di antaranya adalah H40, H85, dan H90. Genotipe dengan tinggi tanaman <65,2 cm di antaranya adalah C3, C7, dan C14. Genotipe dengan jumlah anakan produktif per rumpun >17,5 di antaranya adalah C28, C8, C27. Genotipe yang mempunyai jumlah anakan produktif 4,9-11,2 di antaranya adalah C34, C24, dan H85. Genotipe yang mempunyai bobot biji <12,6 g, di antaranya adalah H71, H40, V132, C34, dan yang terberat adalah genotipe C28. Dua genotipe yang mempunyai hasil biji per petak >2000 g adalah V192 dan V167.
Potensi Agen Hayati dalam Menghambat Pertumbuhan Phytium sp. secara In Vitro Liza Octriana
Buletin Plasma Nutfah Vol 17, No 2 (2011): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v17n2.2011.p138-142

Abstract

The Potential of Biological Agents to Inhibit Growth of Phytium sp. In Vitro. The study aimed at testing the potential of some antagonistic fungi isolated from durian seedlings media to inhibit growth of Phytium sp. Research was done at the Central Laboratory of Tropical Fruit Research Solok in July-September 2009 by using a complete randomized design with 5 treatments and 4 replications. Tests was conducted by dual culture method on PDA. The results showed that Gliocladium sp., Trichoderma sp.a, Trichoderma sp.b, Aspergilus sp., and Penicillium sp. can inhibit growth of Phytium sp., with growth inhibition of 50, 49.5, 47, 48, and 38.3% respectively. Inhibition mecanism of Gliocladium sp., and Trichoderma sp. were competition, antibiosis, lisis, and parasitism, while Penicillium sp. was antibiosis. Gliocladium sp., Trichoderma sp.a, Trichoderma sp.b, Aspergilus sp., and Penicillium sp. can be used as biological agents to control pathogenic fungi Phytium sp. AbstrakPenelitian bertujuan untuk menguji potensi beberapa cendawan antagonis hasil isolasi dari media pembibitan durian dalam menghambat pertumbuhan Phytium sp. Penelitian dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok pada bulan Juli-September 2010. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Pengujian daya antagonis cendawan dilakukan dengan metode dual culture yang diinokulasikan pada media PDA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gliocladium sp., Trichoderma sp.a, Trichoderma sp.b., Aspergilus sp., dan Penicillium sp. dapat menghambat pertumbuhan Phytium sp. secara in vitro, dengan daya hambat masing-masing 50; 49,5; 47; 48; dan 38,3% secara berurutan. Mekanisme antagonis Gliocladium sp. dan Trichoderma sp. adalah kompetisi, antibiosis, lisis, dan parasitisme, sedangkan Penicillium sp. hanya bersifat antibiosis. Gliocladium sp., Trichoderma sp., Aspergilus sp., dan Penicillium sp. dapat digunakan sebagai agen hayati untuk mengendalikan cendawan patogen Phytium sp.
Evaluasi Plasma Nutfah Rusa Totol (Axis axis) di Halaman Istana Bogor R. Garsetiasih; Nina Herlina
Buletin Plasma Nutfah Vol 11, No 1 (2005)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v11n1.2005.p34-

Abstract

The experiment was done to evaluate the supporting capacity of Bogor Palace yard on the population of deer (Axis axis), and conducted in September to October 2001. Observation of vegetation was done through vegetation analysis to evaluate the vegetation composition, productivity, and palatability of grass. Vegetation analysis of grass used sistematic sample plot 1 x 1 m, first plot determined with purposive random sampling. The result showed that the domination of grass respectively by Axonopus compressus, Chrysopogon aciculatus, Zoysia matrella, Kyllinga monochepala, Euleusin indica, and Centella asiatica. Productivity of grass in Bogor Palace yard was 36,13 kg/ha/day in fresh weight or 12,94 kg/ha/day in dry weight. Based in the grass productivity carrying capacity of deer in Bogor Palace yard are 169 individu until 286 individu or 8-13 individu per ha. Finally grass palatability respectively A. compressus, C. aciculatus, and Z. matrella.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya dukung halaman Istana Bogor terhadap populasi rusa totol (Axis axis), yang dilakukan pada bulan September sampai Oktober 2001. Parameter yang diamati/diukur adalah komposisi vegetasi, produktivitas rumput, palatabilitas, dan nilai gizi rumput serta daya dukung bagi rusa. Pengamatan vegetasi dilakukan melalui analisis vegetasi untuk mengetahui komposisi vegetasi, produktivitas, dan palatabilitas rumput. Analisis vegetasi tumbuhan bawah dilakukan pada petak contoh ukuran 1 x 1 m. Penetapan petak pertama dilakukan secara purposive random sampling. Dari hasil penelitian diketahui bahwa tumbuhan bawah di halaman Istana Bogor didominasi secara berturut-turut oleh Axonopus compressus (rumput pait), Chrysopogon aciculatus (dom-doman), Zoysia matrella (rumput raja), Kyllinga monochepala (rumput teki), Euleusin indica (rumput jampang), dan Centella asiatica (antanan). Produktivitas hijauan rumput di halaman Istana Bogor adalah 36,13 kg/ha/hari bobot segar atau 12,94 kg/ha/hari bobot kering. Berdasarkan hasil perhitungan produktivitas rumput tersebut diketahui bahwa daya dukung halaman Istana Bogor berkisar antara 169-286 ekor atau 8-13 ekor/ha. Hasil pengamatan terhadap palatabilitas rumput menunjukkan bahwa rumput yang paling disukai oleh rusa totol secara berurutan adalah A. compressus, C. aciculatus, dan Z. matrella.
Pengaruh Iradiasi Ultraviolet terhadap Multiplikasi Tunas Aksiler dan Kadar Klorofil Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) Higa Afza; Iriawati Iriawati
Buletin Plasma Nutfah Vol 21, No 1 (2015): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v21n1.2015.p39-46

Abstract

Ultraviolet (UV) is one of the lights spectrum that causes plant cell to damage. The use of ultraviolet irradiation in combination with tissue culture techniques has not been widely used in somaclonal variation method for carnation breeding, whereas the source of ultraviolet irradiation is more easily obtained compared to other sources of irradiation such as gamma rays, x-rays and neutron rays. The purpose of this study was to determine effect of ultraviolet irradiation on the multiplication of axillary shoot in carnation. Explants of internode stem of carnation were grown in multiplication medium Murashige Skoog (MS) consisted of 10-7 M NAA and 5.10-6 M BAP. After four times subculture, the culture bottles were exposed to ultraviolet light C with some variation of irradiation time in combination with storage in light or dark. The results showed that ultraviolet light can reduce the number of shoots formed, shoot length and chlorophyll content of carnation. Based on the results obtained, ultraviolet radiation affected the organs of plants that were formed, but did not cause meristem activity to a standstil. AbstrakSinar ultraviolet (UV) merupakan salah satu sinar gelombang pendek yang dapat menyebabkan kerusakan sel tumbuhan. Penggunaan iradiasi ultraviolet yang dikombinasikan dengan teknik kultur jaringan belum banyak digunakan untuk menginduksi keragaman somaklonal dalam pemuliaan anyelir. Padahal sumber iradiasi ultraviolet lebih mudah diperoleh dibanding dengan sumber iradiasi lain, seperti sinar gamma, sinar x, dan sinar neutron. Tujuan penelitian ini ialah mengamati pengaruh iradiasi ultraviolet terhadap multiplikasi tunas aksiler anyelir. Eksplan buku batang anyelir ditanam pada medium multiplikasi, terdiri atas medium Murashige Skoog (MS) ditambah dengan 10-7 M NAA dan 5.10-6 M BAP. Setelah dilakukan empat kali subkultur, botol kultur dipaparkan pada lampu ultraviolet C dengan beberapa variasi lama waktu penyinaran yang dikombinasikan dengan penyimpanan di tempat terang atau gelap. Sinar ultraviolet ternyata dapat menurunkan panjang ruas, jumlah tunas aksiler yang terbentuk dan kadar klorofil anyelir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iradiasi ultraviolet berpengaruh terhadap organ tanaman yang sudah terbentuk, tetapi tidak menghentikan aktivitas jaringan meristem.

Page 11 of 30 | Total Record : 296