cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Uji Ketahanan Klon-klon Harapan Tebu terhadap Kekeringan Prima Diarini Riajaya; Djumali Djumali; Bambang Heliyanto
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n1.2020.1-11

Abstract

Pengembangan tebu di lahan kering harus didukung oleh ketersediaan varietas tebu tahan kering dan mempunyai rendemen yang tinggi. Penelitian rumah kaca bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan klon-klon harapan tebu terhadap cekaman kekeringan.  Sebanyak 13 klon-klon harapan tebu masak awal sampai awal tengah dan satu varietas pembanding ditanam di dalam pot mulai Juni sampai Desember 2018 menggunakan benih budchip.  Rancangan perlakuan menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan tiga ulangan, petak utama terdiri dari tiga perlakuan kekeringan yaitu (A) kadar air tanah tersedia (KAT) dipertahankan suboptimal 40% (kisaran 38-43%) dan (B) KAT dipertahankan 70% (68-73%) dan (C) KAT dipertahankan optimal 100% (95-100%) saat tanaman berumur setelah satu bulan sampai empat bulan setelah tanam (fase pembentukan anakan).  Anak petak teridiri dari 14 klon/varietas pembanding (PS 881).  Hasil penelitian menunjukkan tingkat ketahanan klon-klon unggul tebu terhadap kekeringan bervariasi dari sangat rentan sampai sangat toleran, yaitu sembilan klon ungggul dengan ketahanan kekeringan yang lebih baik dibanding varietas pembanding (rentan) yaitu MLG 26, MLG 12, MLG 55, dan MLG 11 (moderat), MLG 24 (toleran), MLG 9, MLG 14, MLG 4,  dan MLG 49 (sangat toleran).  Terdapat tiga klon unggul dengan ketahanan yang sama dengan varietas pembanding yaitu MLG 38, MLG 5, dan MLG 52 (rentan), serta satu klon dengan ketahanan tidak lebih baik dibanding varietas pembanding yaitu MLG 56 (sangat rentan).            Drought Resistance Test of Sugarcane Promising ClonesABSTRACT             The development of sugarcane in dry land must be supported by the availability of sugarcane dry-resistant varieties and high yield. A greenhouse research was done to determine the level of resistance of sugarcane clones to drought stress using bud chips planted in plastic pots from June to December 2018. The experiment was arranged in a Split Plot Design with three replicates. The main plots consisted of three moisture availability to provide the available soil water (ASW) content maintained at 40% (range 38-43%), 70% (68- 73%) and 100% (95-100%) at the age 1-4 months after planting. Sub plots consisted of 13 clones and one check variety (PS 881). The results showed the level of drought resistance of sugarcane clones varied from very vulnerable to very tolerant,  nine clones with better drought resistance compared to check variety (susceptible) namely MLG 26, MLG 12, MLG 55, and MLG 11 (moderate), MLG 24 (tolerant), MLG 9, MLG 14, MLG 4, and MLG 49 (very tolerant). There are three clones with the same level of drought resistance with check variety namely MLG 38, MLG 5, and MLG 52 (susceptible), and one clone namely MLG 56 is very susceptible.
Mikropropagasi Pada Tanaman Stevia rebaudiana (Bertoni) Parnidi Parnidi; Aprilia Ridhawati
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n1.2020.45-53

Abstract

Stevia merupakan salah satu tanaman penghasil pemanis alami. Mikropropagasi stevia melalui kultur jaringan dapat menyediakan bahan tanaman secara massal dan cepat yang diperlukan untuk pengembangan stevia. Pada mikropopagasi melalui kultur jaringan diperlukan komposisi media yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji komposisi media yang sesuai untuk mikropropagasi  tanaman stevia. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada Februari - Juni 2016. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) setiap perlakuan diulang tiga kali. Induksi tunas stevia menggunakan media dasar Murashige and Skoog (MS) dengan penambahan Benzil Amino Purin (BAP) dengan konsentrasi 0; 0,25; 0,5; 0,75 dan 1 mg/L. Induksi perakaran stevia menggunakan media dasar MS dengan dengan penambahan 1; 1,5; 2 dan 2,5 mg/L IAA, IBA dan NAA dan media MS tanpa penambahan ZPT sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media MS + BAP 0,5 mg/L menunjukkan pertumbuhan terbaik dengan rerata jumlah tunas 17,80 dan rerata panjang tunas 3,25 cm. Media perakaran terbaik terdapat pada perlakuan media MS + IAA 1mg/L yang menghasilkan jumlah akar dengan rerata 4,60 dan panjang akar 2,27 cm.ABSTRACTMicropropagation of Stevia rebaudiana (Bertoni)Stevia is one of the plants that produces natural sweeteners. Stevia micropropagation through tissue culture can provide a large of amount and fast plant material needed for stevia plantation. Micropropagation through tissue culture requires a proper media composition. This study aims to examine the composition of media suitable for stevia micropropagation. The study was conducted at the Tissue Culture Laboratory, Indonesian Sweeteners and Fiber Crops Research Institute in February - June 2016; using a completely randomized design (CRD) with three replicates. The treatment for shoot induction using Murashige and Skoog (MS) basic medium plus Benzyl Amino Purin (BAP) with concentrations: 0; 0.25; 0.5; 0.75 and 1 mg/L.  The treatment for root induction using MS basic medium with the addition of 1; 1,5; 2 and 2,5 mg/L IAA, IBA and NAA and for control using MS basic medium without the addition of plant growth regulators. The results showed that the best growth of stevia shoots with mean of shoots number 17.80 and mean of shoots length 3.25 cm was found in MS basic medium + BAP 0.5 mg/L. The best stevia root growth with mean of root number 4.60 and mean of root length 2.27 cm was found in MS basic medium + IAA 1 mg/L.
Peluang Pengembangan Pengendalian Penyakit Luka Api pada Tebu di Indonesia Nurul Hidayah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n2.2020.94-108

Abstract

Penyakit luka api merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman tebu. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Sporisorium scitamineum yang menginfeksi tanaman melalui mata tunas. Tanaman yang terinfeksi memiliki gejala yang sangat khas yakni terbentuknya cambuk pada bagian ujung tanaman. Cambuk ini terdiri atas teliospora jamur yang berperan sebagai sumber inokulum yang ditularkan melalui angin. Penyakit luka api akan berkembang dengan baik pada kondisi panas dan kering. Saat ini penyakit luka api telah menyebar di hampir seluruh pertanaman tebu di Indonesia. Varietas tebu yang tadinya diklaim tahan terhadap penyakit luka api, saat ini dilaporkan banyak yang terinfeksi juga. Pengetahuan tentang jamur S. scitamineum dan infeksinya pada tanaman tebu yang menyebabkan gejala penyakit luka api ini sangat penting untuk dapat menentukan metode pengendalian yang tepat. Review ini bertujuan membahas peluang teknik pengendalian luka api pada tebu yang dapat diterapkan pada agroekosistem tebu di Indonesia. Oleh karenanya dalam review ini akan memaparkan informasi tentang morfologi dan biologi jamur, mekanisme infeksi penyakit, mekanisme ketahanan tebu terhadap patogen, penyebarannya di Indonesia dan dunia, serta strategi pengendalian dan peluang pengembangannya di Indonesia.The Opportunity to Develop Control Methods of Smut Disease on Sugarcane in IndonesiaAbstractSmut disease caused by a basidiomycete fungus, Sporisorium scitamineum, is one of important diseases on sugarcane. The fungus infects the cane through the buds. The infected cane has a very distinctive symptom i.e. the emergence of whip-like structure at the top of the plant. This structure consists of fungal teliospores covered by a thin layer of plant tissue. These teliospores play a significant role as a source of primary inoculum which can be transmitted by wind assistance. The disease was favored by dry warm climates. Currently, the sugarcane smut disease has been widely spread to almost all of sugarcane plantations in Indonesia. In addition, sugarcane variety, which was previously known as a resistant variety, it becomes susceptible. It is important to understand the behavior of the pathogen, mechanism of infection and factors affecting disease development to determine a proper control method for the disease. This review aims to discuss the opportunity of strategy for the control of smut disease on sugarcane which can be applied on sugarcane agroecosystem in Indonesia. Therefore, the review will elaborate the characteristics of the pathogen including its morphology and biology, mechanism of infection, resistance mechanisms of the host to pathogen infection, distribution of the disease in Indonesia and across the world, factors affecting disease development, and management of disease control for the smut disease and its opportunity to be developed in Indonesia.
Analisis Input-Output Produksi Tebu di Provinsi Jawa Timur Duwi Yunitasari; Teguh Hadi Priyono
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol.13 No. 1 (2021) April 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v13n1.2021.36-47

Abstract

ABSTRAKTebu sebagai bahan baku industri gula merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi keterkaitan ke depan dan ke belakang komoditas tebu terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur, dan kontribusi dampak pengganda (multiplier effect) yang ditimbulkanya terhadap multiplier output dan pendapatan di Jawa Timur. Metode yang digunakan adalah perhitungan Tabel Input-Output dari data Badan Statistik Nasional tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budi daya tebu sebagai input antara untuk industri gula yang bersifat hilir, keterkaitannya sangat tinggi. Keberadaan sektor tebu kurang kuat pengaruhnya dalam meningkatkan output pada sektor tebu dan sektor-sektor ekonomi secara keseluruhan.  Pengganda pendapatan usaha tani tebu adalah tipe I dan tipe II yang bermakna bahwa sektor tebu cukup besar dalam meningkatkan pendapatan dari usaha tani tebu dan sektor-sektor ekonomi secara keseluruhan.   ABSTRACTInput-Output Analysis of Sugarcane Production in East Java Sugar cane as a raw material for the sugar industry has a strategic role in the economy in Indonesia. This study aims to analyze the contribution of forward and backward linkages of sugarcane to economic growth in East Java, and the contribution of the multiplier effect on the multiplier output and income in East Java. The method used was the calculation of the Input-Output Table from the 2015 National Statistics Agency data. The results showed that sugarcane cultivation as an intermediate input for the downstream sugar industry, had a  very high relationship. The existence of the sugarcane sector was less powerful in increasing the output of the sugarcane sector and overall economic sectors. However, the income multipliers of sugarcane farming are type I and type II, which means that the sugarcane sector is quite large in increasing the income from sugarcane farming and the overall economic sectors.  
Penggunaan Teknik Analisis AMMI Biplot Untuk Mengenali Aksesi Wijen Tahan Salin Firmansyah Firmansyah; Sri Adi Kadarsih; Taryono Taryono
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n2.2020.86-93

Abstract

Kendala dalam produksi wijen di lahan salin yaitu salinitas yang mengakibatkan perubahan kondisi morfologi, fisiologi, biokimia dan molekuler pada tanaman. Analisis AMMI (Additive Main Effect and Multiplicative Interaction) adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk menjelaskan dan menginterpretasikan tanggapan genotipe terhadap keragaman lingkungan, mencari model yang tepat, menjelaskan interaksi antara genotipe dengan lokasi, meningkatkan keakuratan dugaan tanggapan interaksi antara genotipe dengan lokasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap bobot biji per tanaman pada enam aksesi wijen dan menentukan aksesi wijen yang stabil pada lingkungan salin dengan menggunakan analisis AMMI Biplot. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM  mulai bulan Maret hingga Juli 2012. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial dua faktor yang terdiri dari tiga ulangan. Faktor pertama enam aksesi wijen dan  faktor kedua 6 konsentrasi NaCl (0 g/L, 2 g/L, 4 g/L, 6 g/L, 8 g/L dan 10 g/L). Sifat yang diamati adalah bobot biji per tanaman. Data dianalisis menggunakan metode AMMI Biplot. Hasil menunjukkan bahwa genotipe III det 36 (G2) dan Sbr 3 (G3) adalah genotipe yang stabil di lingkungan salin dengan bobot biji per tanaman di atas rerata umum sehingga berpotensi dikembangkan dilahan salin, sedangkan genotipe Lokal Hitam (G5) tergolong stabil di lingkungan salin namun dengan bobot biji per tanaman lebih rendah dari rerata umum. AMMI biplot dapat digunakan untuk mengenali aksesi wijen tahan salin.ABSTRACTConstraints to production of sesame in saline fields are salinity which causes changes in morphological, physiological, biochemical and molecular conditions in plants. AMMI (Additive Main Effect and Multiplicative Interaction) analysis is a method that can be used to explain and interpret genotypic responses to environmental diversity, find the right model, explain the interaction between genotype and location, increase the accuracy of the predicted interaction responses between genotype and location. The aim of the study was to determine the effect of salinity on seed/plant weight in six sesame accessions and determining sesame accessions that are stable in the saline environment using the AMMI Biplot. This research was conducted at Faculty of Agricultural Greenhouse, UGM from March to July 2012. The method used was a two-factor factorial completely randomized design consisting of three replications. The first factor was 6 sesame accessions and the second factor was 6 concentrations of NaCl (0 g/L, 2 g/L, 4 g/L, 6 g/L, 8 g/L and 10 g/L). The trait observed was seed weight per plant. Data were analyzed using the AMMI Biplot method. The results showed that the genotypes III det 36 (G2) and Sbr 3 (G3) were stable in the saline environment with seed/plant weights above the general average so that it has the potential genotypes to be developed in saline soil while the local black genotypes (G5) were classified as stable in the saline environment but with seed/plant weight lower than the general average. The AMMI biplot can be used to recognize saline resistant sesame accessions
Tindakan Pengembalian Residu Panen Tebu untuk Meningkatkan Kualitas Tanah dan Produktivitas Tebu (Saccharum officinarum L.) Rivandi Pranandita Putra; Muhammad Rasyid Ridla Ranomahera; Nindya Arini; Whisnu Febry Afrianto
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol.13 No. 1 (2021) April 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v13n1.2021.48-66

Abstract

Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan stretegis di Indonesia. Penanaman tebu secara monokultur yang sering dilakukan selama bertahun-tahun di suatu wilayah yang sama di Indonesia menyebabkan penurunan kualitas fisik, kimia, maupun biologi tanah. Hal tersebut berdampak pada penurunan produktivitas tebu. Implementasi metode green cane harvesting-trash blanketing dapat membantu mempertahankan, bahkan meningkatkan kualitas tanah. Green cane-trash blanketing dilakukan dengan cara memanen tebu secara manual tanpa membakar residu (green cane harvesting), kemudian residu tersebut dicacah dan dikembalikan ke lahan tebu. Cacahan residu tebu akan terdekomposisi dan menjadi sumber bahan organik di lahan tersebut. Implementasi metode green cane-trash blanketing di perkebunan tebu juga memberikan berbagai manfaat lainnya, antara lain meningkatkan populasi makro- dan mikrofauna tanah, menurunkan tingkat pertumbuhan gulma, dan mengurangi evaporanspirasi tanah atau menjaga kadar air tanah. Beberapa studi juga melaporkan peningkatan hasil dan produktivitas tebu pada lahan yang menerapkan metode green cane-trash blanketing. Dalam prakteknya, green cane-trash blanketing dapat dilakukan secara manual atau mekanis, baik pada tanaman baru maupun keprasan. Prosesnya dimulai dari pemanenan tebu secara manual atau tanpa pembakaran, pencacahan serasah tebu, aplikasi di atas lahan, penambahan (bio)aktivator, dan inkorporasi serasah dengan tanah. Green cane-trash blanketing perlu diterapkan oleh petani tebu dan pabrik gula untuk meningkatkan kualitas tanah, yang pada akhirnya berimbas pada peningkatan hasil dan produktivitas tebu.
Pengaruh Penambahan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dan Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Benih Tembakau Cerutu Besuki (Nicotiana tobacum L.) Oria Alit Farisi; Raden Soedradjad
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n2.2020.55-66

Abstract

Penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) secara tepat dengan dosis yang sesuai maka dapat menunjang pertumbuhan tanaman tembakau sehingga memberikan hasil pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Bibit tembakau yang berkualitas baik, media pesemaian merupakan faktor yang penting. Media tanam merupakan tempat berkembangnya akar dan hampir semua unsur hara yang dibutuhkan tanaman diserap melalui akar. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian ZPT dan berbagai komposisi media tanam pada benih tembakau dengan lama simpan terhadap pertumbuhan bibit tembakau cerutu besuki. Penelitian ini smenggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) faktorial terdiri dari 3 faktor. Faktor pertama lama simpan yaitu Benih disimpan dalam 13 tahun (B1), Benih disimpan dalam 8 tahun (B2), Benih disimpan dalam 3 tahun (B3). Faktor kedua yaitu pencampuran IAA, BAP, dan GA3 dengan konsentrasi 100 ppm (N1), 200 ppm (N2), 300 ppm (N3). Faktor ketiga yaitu tiga komposisi media yaitu tanah (control), tanah + kompos kambing, tanah + kompos ayam. Terdapat interaksi kombinasi antara perlakuan lama simpan benih tembakau, yang terbaik dalam merespon perlakuan aplikasi pada penelitian yaitu pada benih simpan 8 tahun. Kombinasi perlakuan yang paling baik adalah media tanam dengan campuran tanah+kotoran ayam yaitu 6,0 cm, sedangkan pada dosis ZPT tertinggi yaitu 200 ppm. Pemberian ZPT dengan dosis yang lebih sedikit atau melebihi kebutuhan bibit maka dapat menurunkan luas daun. Aplikasi penambahan media tanam tanah+kotoran ayam pada pembibitan tembakau dengan dosis ZPT 200 ppm meningkatkan hasil rata-rata tertinggi sekitar 0,85 cm, dibanding dengaan perlakuan kontrol (tanah).Effect of Addition of Growth Regulatory Substances (ZPT) and Planting Media on Changes in Besuki Cigar Tobacco Seeds (Nicotiana tobacum L.) ABSTRACTThe addition of plant growth regulators (PGR) with appropriate dosages can support optimal growth of tobacco plants. Growing media is a place for root development and almost all nutrients needed by plants are absorbed through the roots. This study aims to evaluate the aplication of PGR and various composition of the planting medium to the growth of besuki tobacco seeds. This research was used a factorial completely randomized design (RAL) consisting of two factors. The first factor was the composite of IAA, BAP, and GA3 with concentrations of 100 ppm (Z1), 200 ppm (Z2), 300 ppm (Z3). The second factor was three media compositions, namely soil (control), soil + goat compost, soil + chicken compost. A total of 1 gram of tobacco seed was sown in a germination tank. All treatments were repeated 3 times. Observations were made once a week until the age of 45 days after planting. The parameters observed included plant height (cm), stem diameter (cm), number of leaves, root length (cm), root volume (mL), leaf area (cm2) and parameters of chemical compounds observed i.e protein content (mg / g) , chlorophyll levels (mg / L), and nicotine levels (%) in leaves. The results showed that the aplication of soil growing media with chicken compost and 200 ppm PGR was the optimal treatment to obtain good tobacco growing seeds.
Keragaman Mutan Wijen (Sesamum indicum L.) Berdasarkan Karakter Kualitatif Vina Eka Aristya; Rani Agustina Wulandari; Taryono Taryono
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol.13 No. 1 (2021) April 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v13n1.2021.1-13

Abstract

ABSTRAKSesamum indicum L. adalah salah satu tanaman alternatif penghasil minyak nabati penting. Pendekatan pemuliaan melalui induksi mutasi berusaha untuk menghasilkan variabilitas baru populasi wijen, yang secara umum tersusun dari individu homozigot. Karakter morfologi berguna untuk mengidentifikasi galur dan memastikan hasil pemuliaan mutasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keragaman morfologi wijen hasil mutasi berdasarkan 26 karakter kualitatif. Penggalian informasi dengan metode analisis kelompok juga dikaji untuk menggambarkan variabilitas genetik pada 57 galur mutan wijen (jenis hitam dan putih) generasi M4 dan M5. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap: tahap pertama terdiri 18 galur generasi M4, dievaluasi pada Maret-Agustus 2015; tahap kedua terdiri atas 39 galur M5, ditanam pada November 2015 hingga April 2016. Pemeriksaan penampilan kualitatif mengikuti panduan descriptor list untuk wijen. Secara umum, penilaian representatif dari sifat kualitatif pada galur mutan wijen generasi M4 akan diikuti oleh keturunan generasi M5. Dendrogram dibangun untuk membedakan galur menjadi kelompok berdasarkan matriks tingkat kemiripan. Struktur populasi utama dari 57 galur berdasarkan sifat kualitatif dikategorikan dalam dua kelompok besar. Materi genotipe kelompok I diklasifikasikan menjadi dua sub-kelompok, terdiri 17 dan 31 galur. Sub-kelompok ini menjadi bagian distribusi genotipe terbesar. Kelompok II tersusun oleh 9 galur, mayoritas dari M4. Nilai korelasi antar karakter bervariasi antara 0,7176 hingga 1,0. Keragaman morfologi antar galur wijen dipengaruhi oleh sifat genetik dibandingkan faktor lingkungan. Studi ini membantu seleksi galur terpilih berdasarkan kestabilan fenotipe. Evaluasi keragaman struktur populasi wijen mutan bermanfaat untuk program pemuliaan.ABSTRACTDiversity of Sesame Mutants (Sesamum indicum L.) Based on Qualitative CharactersSesamum indicum L. is one of the alternative crops that produces vegetative oil. The plant breeding approach through mutation induction could produce new genetic variability in sesame populations, which are generally composed of homozygous individuals. The study aims were to determine the diversity of sesame-mutant lines based on 26 qualitative characters. Cluster analysis method was carried out to describe the genetic variability of 57 sesame mutant lines (consist of black and white types) 4th (M4) and 5th generations (M5). The study was done in two phases, the first phases consisted of 18 M4 lines planted in March-August 2015; the second phase consisted 39 M5 lines planted in November 2015 to April 2016. Analyses of qualitative morphological characters followed the descriptors list for sesame. In general, a representative assessment of qualitative traits in M4 lines will be followed by the offspring of M5. Dendrogram showed that the 57 mutant lines categorized into two major clusters. Cluster I were composed of two sub-clusters, consisting 17 and 31 lines. This sub-cluster was the largest part of the genotype distribution. Cluster II composed of 9 lines, where M4 were the majority. The correlation value between characters ranged from 0.7176 up to 1.0. Morphological diversity among lines were largely influenced by genetic rather than environmental factors. This study supports the selection of lines based on phenotype stability. Evaluation of the structural diversity of mutant-sesame populations could be applied in sesame-breeding programs.
Karakteristik Biodiesel Kemiri Sunan dengan Katalis NaOH dan KOH Garusti Garusti; Ahmad Dhiaul Khuluq; Joko Hartono; Prima Diarini Riajaya; Rully Dyah Purwati
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n2.2020.78-85

Abstract

Minyak non pangan seperti minyak biji kemiri sunan berpeluang digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Masalah yang muncul dalam pembuatan biodiesel adalah reaksi transesterifikasi tanpa katalis berlangsung sangat lambat sehingga dikhawatirkan reaksinya tidak stabil, serta kebutuhan input energi yang sangat tinggi menjadikan tidak layak teknis. Oleh karena itu, untuk mempercepat reaksi transesterifikasi diperlukan katalis. Penggunaan KOH 1% dan NaOH 0,75% sebagai katalis pada proses transesterifikasi dapat mempercepat reaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biodiesel dari minyak biji kemiri sunan, campuran dari beberapa aksesi, yang dihasilkan dengan katalis NaOH 0,75% dan KOH 1 % dibandingkan dengan SNI 04-7182-2015 tentang Biodiesel. Metode pembuatan biodiesel yang digunakan meliputi tahapan degumming, transesterifikasi, separasi dan pencucian. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Tanaman Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Malang pada bulan Agustus-Desember 2019. Biodiesel kemiri sunan menggunakan katalis NaOH 0,75% memiliki nilai kadar air 0,03%, densitas 0,89 (g/cm3 ), angka asam 0,38 mg/KOH/g, angka iod 42,67, viskositas kinematik pada suhu 40 °C 5,45 °C, dan titik nyala 173 °C. Biodiesel dengan penambahan katalis NaOH 0,75% menghasilkan mutu lebih baik dari penambahan katalis KOH 1%. Biodiesel dengan katalis NaOH 0,75% sudah memenuhi SNI 04-7182-2015 tentang Biodiesel pada parameter mutu yang diukur (kadar air, densitas, angka asam, angka iod, viskositas kinematik, dan titik nyala). Parameter lain dalam SNI 04-7182-2015 yang belum dilaporkan dalam penelitian ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk biodiesel minyak kemiri sunan menggunakan katalis NaOH 0,75%.Characteristics of Toxic-Candlenut Biodiesel with NaOH and KOH CatalystsNon-food oils, such as toxic candlenut seed oil, have the opportunity to be used as raw material for biodiesel. The problem that arises in biodiesel process is the slowly transesterification reaction, when without a catalyst will cause unstable reaction, need very high energy inputs, so that makes it technically unfeasible. Therefore, a catalyst is needed to accelerate the transesterification reaction. The use of 1% KOH and 0.75% NaOH in the transesterification process can accelerate the reaction. This study was aimed to determine the characteristics of biodiesel from toxic candlenut oil, a mixture of several accessions of the toxic candlenuts, which was produced with 1% KOH and 0.75% NaOH catalyst.  The results were then compared to the characteristics of those determined in SNI 04-7182-2015 of Biodiesel. The method in producing biodiesel included the stages of degumming, transesterification, separation and washing. The experiment was conducted in Phytochemical Laboratory of IRSFCRI in August to December 2019. Toxic candlenut biodiesel using 0.75% NaOH catalyst has a value of moisture content (0.03%), density (0.89 g/cm3), acid number (0.38 mg/KOH/g), iodine number (42.67), kinematic viscosity at temperature 40°C (5.45°C), and flash point (173°C). Biodiesel quality with 0.75% NaOH is better than that of 1% KOH catalyst. Biodiesel with 0.75% NaOH catalyst has achieved the requirement of the SNI 04-7182-2015 on Biodiesel on almost all parameters (i.e., water content, density, acid number, iodine number, kinematic viscosity, and flash point). Other parameters in SNI 04-7182-2015 that have not been reported in this study need further research on biodiesel of toxic candlenut oil using 0.75% NaOH catalyst. Toxic candlenut biodiesel is expected to be used for biofuel.
Pemanfaatan Biopori Serasah Daun Kering Untuk Memperbaiki Kesuburan Tanah Pada Pertanaman Kemiri Sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) Budi Santoso; Mohammad Cholid
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol.13 No. 1 (2021) April 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v13n1.2021.14-25

Abstract

Pengembangan kemiri sunan diarahkan pada lahan kering marginal, yang umumnya memiliki keterbatasan dalam menyediakan hara dan air bagi tanaman.   Tingkat kesuburan lahan marginal dapat diperbaiki dengan teknologi biopori. Kondisi lahan marginal memiliki kandungan bahan organik rendah, sementara serasah daun kering kemiri sunan yang rontok melimpah pada saat menjelang musim kemarau. Daun kering kemiri sunan berpeluang dimanfaatkan sebagai pengisi biopori untuk meningkatkan bahan organik tanah, dan  kapasitas memegang air. Tujuan penelitian untuk mengukur sumbangan bahan organik daun kering kemiri sunan melalui proses biopori terhadap perbaikan kesuburan tanah entisols. Penelitian dilakukan pada tahun 2017-2018 di Asembagus, ketinggian 5,5 m dpl, dan curah hujan sekitar 1.500 mm per tahun.  Perlakuan  disusun dalam Racangan  Acak Kelompok (RAK), dengan 5 ulangan.  Susunan perlakuan adalah a) Tanpa biopori dan daun kering (0); b) Biopori 20 cm, diisi 410 g daun kering; c) Biopori 30 cm, diisi 615 g daun kering; d) Biopori 40 cm diisi daun 820 g daun kering; dan e) Biopori 50 cm diisi 1.025 g daun kering. Tabung biopori (Æ13 cm) ditanam di bawah tajuk pohon kemiri sunan (umur 3 tahun), sebanyak 2 buah  tabung, di sebelah kanan dan kiri.  Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah cabang, lebar kanopi, Carbon, Nitrogen, C/N ratio dan bahan organik tanah. Setelah 90 hari aplilkasi hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan biopori dengan pemberian daun kering kemiri sunan belum berpengaruh terhadap parameter vegetatif  kemiri sunan tetapi berpengaruh nyata terhadap C-organik, N-total, C/N-ratio.  Dari penelitian ini belum dapat diukur secara kuantitatif sumbangan bahan organik daun kering kemiri sunan dalam memperbaiki kesuburan tanah entisolAbstractToxic candlenut growing is directed at marginal dry land which generally has limitations in nutrients and water. Fertility can be improved with biopore technology. The  dry leaves of toxic candlenut have the opportunity to be used as biopore litter to increase soil organic matter, water holding capacity and soil fertility. The aim of the research was to  study the contribution of  dry leaf of  toxic candlenut through the biopore process to improve soil fertility of Entisols soil. The research was conducted in 2017-2018 at Asembagus with altitude of 5.5 m asl, and a rainfall of around 1500 mm per year. The treatments were arranged using a Randomized Block Design with 5 replicates i.e. a) Without  biopore without  dry leaves; b) 20 cm  biopore length, filled with 410 g of  dry leaves; c). 30 cm  biopore length, filled with 615 g of  dry leaves; d) 40 cm  biopore length, filled with 820 g of  dry leaves and e) 50 cm  biopore length, filled with 1025 g of  dry leaves.  Biopore tubes planted under the canopy of the 3 years old candlenut tree, in right and left of trunk. The parameters observed included plant height, stem diameter, number of branches, canopy width,  soil Carbon, Nitrogen, C/N ratio and organic matter. The results showed that biopore treatment with  dry toxic candlenut leaves had not affected on vegetative parameters, but had a significant effect on organic C, N-total, C/N-ratio and organic matter which would improve the soil fertility,   However, the contribution of the candlenut leaves to improve the fertility of entisol soil has not been quantitively measured.