cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Pengaruh Perlakuan Pelapisan Benih (seed coated) terhadap Viabilitas Benih Tiga Varietas Kapas (Gossypium hirsutum L.) Taufiq Hidayat RS; Nurindah Nurindah; Anik Herawati
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n1.2019.16-23

Abstract

Seed coated merupakan teknologi pelapisan benih dengan bahan tertentu untuk mempertahankan mutu benih dan membuat bentuk benih lebih teratur. Prosesing benih kapas saat ini masih menggunakan bahan kimia seperti asam sulfat (acid seed delinted) untuk menghilangkan kabu-kabu (linter) yang masih menempel pada biji setelah proses pemisahan serat dan biji. Acid Seed delinted memungkinkan terjadinya kerusakan kulit hingga lembaga biji dan dapat menimbulkan masalah lingkungan dari limbah yang dihasilkan dalam proses tersebut. Teknik pelapisan benih (seed coated) berpeluang untuk diterapkan dalam proses perbenihan kapas, sehingga proses tersebut menjadi ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pelapisan benih pada tiga varietas terhadap viabilitas benih kapas. Penelitian ini menggunakan Rancangan Faktorial dalam rancangan acak kelompok (RAK). Faktor Pertama terdiri atas empat perlakuan benih yaitu benih berkabu tanpa perlakuan (kontrol), benih diperlakukan dengan acid delinted, benih dilapisi (coated) dengan tapioka, kaolin, dan arabic gum. Faktor kedua terdiri atas varietas kapas yaitu Kanesia 10, Kanesia 18, dan Kanesia 19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan benih dengan arabic gum menghasilkan viabilitas benih yang terbaik dan benih kapas varietas Kanesia 10 menunjukkan persentase keserempakan tumbuh, persentase daya berkecambah, dan persentase potensi tumbuh maksimum terbaik masing-masing 92,25%; 96,25% dan 98,00%. Perlakuan coated benih kapas dengan arabic gum berpotensi untuk diterapkan dalam perbenihan kapas sebagai alternatif teknik acid delinting yang kurang ramah lingkungan Effect of Seed Coating on the Seeds Viability of Three Cotton Varieties (Gossypium hirsutum L.)Seed coating technology with certain materials is objected to maintain seed quality and to make seed shapes more regular. Currently, cotton seeds processing is using chemicals such as sulfuric acid (acid seed delinted) to remove the linter which is still attached to the seeds after the separation of fibers and seeds. Acid seed delinting could causing damage on the seed skin as well as to the seed embryo and also cause environmental problems from the waste produced in the process. Seed coated technology has the prospect to be applied in the process of cotton seeding, so the process becomes environmentally friendly. This study aims to evaluate the effect of seed coating treatment on three cotton varieties on the seed viability. This study uses Randomized Block Design Factorial. The first factor consisted of four seed treatments namely fuzzy seed (control), seed delinted, seed coated with tapioca and kaolin and seed coated with arabic gum. The second factor were cotton varieties namely Kanesia 10, Kanesia 18, and Kanesia 19. The results showed that the interaction between seed treatments with cotton varieties significantly affected the radicular length parameters and produced a coefficient of varians 9.85%. Seed coated with arabic gum showed the best results for all observation parameters. Kanesia 10 showed the best of growing simultaneity, germination, and the potential maximum growth by 92%, 96%, and 98%, recpectively. The cotton cotton seed coated with arabic gum is prospective to be applied in the cotton seeding process as an alternative to the acid delinting technique that is not environmentally friendly.
Uji Kinerja Dekortikator Sistem Kering Untuk Daun Sisal Gatot Suharto Abdul Fatah; Dwi Adi Sunarto; Yoga Angangga Yogi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 2 (2019): OKTOBER 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n2.2019.86-92

Abstract

Tanaman sisal (Agave sisalana L.) merupakan tanaman serat alam yang dimanfaatkan untuk membuat tali, kertas, kain, alas kaki, topi, tas, karpet, papan permainan, dan bahan industri penting lainnya. Pengembangan sisal berada di daerah marginal dengan ciri utamanya keterbatasan ketersediaan air, sehingga kegiatan usaha tani sisal mulai dari budidaya hingga pasca panen harus mempertimbangkan kondisi tersebut. Untuk proses penyeratan daun sisal diperlukan mesin penyerat atau dekortikator.  Mesin dekortikator yang tersedia saat ini berkerja dengan sistem basah menggunakan aliran air. Untuk mendukung pengembangan sisal di Indonesia, dekortikator tersebut perlu dimodifikasi fungsinya untuk penyeratan daun sisal dengan sistem kering atau tanpa aliran air.  Tujuan dari penelitian ini adalah menguji kinerja dekortikator yang bekerja untuk proses penyeratan daun sisal dengan sistem kering. Penelitian dirancang menggunakan rancangan percobaan acak lengkap (RAL) dengan jumlah ulangan berbeda (5-10 ulangan), dan perlakuan disusun secara faktorial. Faktor pertama terdiri dari 2 perlakuan yaitu sistem penyeratan kering dan sistem penyeratan basah (pembanding). Faktor kedua terdiri dari 4 perlakuan kecepatan putaran silinder mesin yaitu 600 rpm, 700 rpm, 800 rpm, dan 900 rpm. Sampel daun segar yang digunakan dalam setiap perlakuan sebanyak 5 pelepah daun dengan berat total berkisar 3,5 - 5 kg.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dekortikator dapat berfungsi untuk proses dekortikasi atau penyeratan daun sisal dengan sistem kering. Kapasitas penyeratan sebesar 101 – 127 kg daun segar per jam dengan rendemen hasil serat kering sebesar 4,66 – 4,86 % serat kering per jam pada kecepatan putaran silinder 600 – 900 rpm. Perlakuan kecetapan silinder 600 rpm merupakan kecepatan yang paling efisien. PERFORMANCE TEST OF DRY SYSTEM DECORTICATOR FOR SISAL LEAVES Sisal plant (Agave sisalana L.) is a natural fiber plant that is used to make ropes, paper, cloth, footwear, hats, bags, carpets, board games, and other important industrial materials. Sisal crop development is in marginal areas with the main characteristic i.e., the limited availability of water, therefore sisal farming activities for cultivation to post-harvest must consider these conditions. To obtained sisal fibers, decorticator is needed . Currently available decorticator is set to wet systems, i.e., using water flow. To support the development of sisal in Indonesia, the function of the decorticator needs to be modified for sizing the sisal leaves with a dry or no water flow system. The purpose of this study is to test the performance of dry sysrwm decorticator to sisal-leaf-fibering process. The study was designed using a completely randomized design (CRD) with a number of different replicates (5-10 replicates), and treatments arranged in factorial. The first factor consists of 2 treatments, namely a dry system and a wet system (as comparison). The second factor consisted of 4 treatments of engine cylinder rotation speed of 600 rpm, 700 rpm, 800 rpm and 900 rpm. Fresh leaf samples used in each treatment were 5 leaf midribs with a total weight ranging from 3.5 - 5 kg. The results showed that the decotator could function for the process of decortication for sisal leaves with a dry system. Fibrous capacity of 101 - 127 kg of fresh leaves per hour with dry fiber yields of 4.66 - 4.86% per hour at cylinder rotation speed of 600 - 900 rpm. The 600 rpm cylinder speed treatment is the most efficient speed.
Pengaruh Ukuran Sampel dan Lama Waktu Destilasi terhadap Rendemen Minyak Atsiri Tembakau Lokal Indonesia Elda Nurnasari; Heri Prabowo
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 2 (2019): OKTOBER 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n2.2019.47-57

Abstract

Tanaman tembakau merupakan tanaman yang memiliki aroma yang khas, hal ini menunjukkan bahwa tembakau mengandung minyak atsiri. Ekstraksi minyak atsiri tembakau terkendala rendahnya rendemen minyak atsiri yang dihasilkan. Minyak atsiri tembakau merupakan salah satu diversifikasi produk tembakau non rokok yang dapat dimanfaatkan dalam bidang biofarmaka (antibakteri) dan kosmetik (parfum badan). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ukuran sampel dan lama waktu destilasi terhadap rendemen minyak atsiri tembakau lokal Indonesia. Daun tembakau berasal dari enam daerah sentra tembakau di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Enam daerah tersebut antara lain Temanggung, Yogyakarta, Purwodadi, Boyolali, Blitar dan Probolinggo. Minyak atsiri tembakau diperoleh dengan metode destilasi uap-air dengan variasi ukuran sampel daun tembakau dan lama waktu destilasi. Penelitian dilakukan dengan dua kali ulangan. Lama waktu destilasi yang digunakan adalah 2; 4; dan 6 jam, sedangkan ukuran serbuk daun tembakau yang digunakan adalah 6; 8; dan 10 mesh. Rendemen tertinggi diperoleh pada daun tembakau ukuran 10 mesh tembakau Boyolali yakni sebesar 3,39% dengan waktu destilasi selama 6 jam.Effect of Sample Size and Destilation Time on Rendement of Indonesian Tobacco Essential OilTobacco plants are plants that have a distinctive aroma, this shows that tobacco contains essential oils. Tobacco essential oil extraction is constrained by the low yield of essential oil produced. Tobacco essential oil is a diversification of non-tobacco products that can be utilized in the field of biopharmaca (antibacterial) and cosmetics (body perfume). This study aims to extract local tobacco essential oil and increase its yield through variations in leaf powder size and distillation time. Tobacco leaves originate from six tobacco centers in Central and East Java. The six regions are Temanggung, Yogyakarta, Purwodadi, Boyolali, Blitar and Probolinggo. Tobacco essential oil is obtained by the steam water distillation method with variations in the size of the tobacco and the time of distillation. The study was conducted with two replications. The duration of distillation used is 2; 4; and 6 hours, while the size of tobacco leaf powder used is 6; 8; and 10 mesh. The highest yield was obtained in Boyolali tobacco leaf size of 10 mesh which is 3.39% with a distillation time of 6 hours.
Genetika Ketahanan Tanaman Kenaf Terhadap Nematoda Patogen Parnidi Parnidi; Lita Soetopo; Damanhuri Damanhuri; Marjani Marjani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 2 (2019): OKTOBER 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n2.2019.65-72

Abstract

Nematoda puru akar merupakan salah satu nematoda parasit pada tanaman yang menyerang akar tanaman. Penurunan hasil pertanian diseluruh dunia akibat gangguan nematoda patogen mencapai 19-67%. Penggunaan tanaman resisten terhadap nematoda merupakan cara pengendalian yang efektif untuk menekan kepadatan populasi nematoda dan membatasi kerusakan, sehingga dapat menekan kehilangan hasil tanaman. Tulisan ini merupakan tinjauan yang membahas genetika ketahanan tanaman kenaf terhadap nematoda patogen. Untuk mengetahui ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit tidak dapat terlepas dari pola pewarisan ketahanan genetik dari tanaman itu sendiri. Pola pewarisan sifat ketahanan suatu varietas terhadap nematoda puru akar, tipe ketahanan, mekanisme ketahanan, dan sumber ketahanan genetik perlu diketahui sebelum memulai program perbaikan ketahanan tanaman. Pola pewarisan genetik atau heritabilitas merupakan parameter yang menggambarkan daya waris individu kepada keturunannya atau derajat kemiripan diantara keduanya untuk sifat tertentu dalam menganalisis pengaruh genetik dan lingkungan terhadap kemiripan tersebut. Pola pewarisan ketahanan genetik tanaman terhadap nematoda puru akar bersifat monogenik sederhana, oligogenik atau bahkan poligenik. Jumlah gen pengendali sifat ketahanan tanaman terhadap nematoda patogen berkisar antara satu hingga empat gen. Ketahanan tanaman kenaf terhadap nematoda patogen yang dikendalikan oleh gen monogenik adalah sebesar 52%, oligenik sebesar 28% dan sebesar 20% dikendalikan oleh gen poligenik. Ketahanan tanaman kenaf terhadap nematoda Meliodogyne sp. dikendalikan oleh gen monogenik yang bersifat dominan. Genetic Resistance of Kenaf to Root-knot NematodeRoot-knot nematode is one of the parasitic nematodes in plants that attack plant roots. Decline in agricultural yields worldwide due to pathogenic nematode infection reaches 19–67%. The use of plants resistant to nematodes is an effective control method to reduce the population density of nematodes and limit damage, so as to reduce the loss of crop yield. This paper is a review that discusses the genetic of kenaf resistance to pathogenic nematodes. To find out the resistance of plants to pests and diseases can not be separated from the inheritance patterns of genetic resistance of the plants themselves. The inheritance pattern of a variety's resistance characteristics to root-knot nematodes, the type of resistance, the mechanism of resistance, and the source of genetic resistance need to be known before starting a plant resistance improvement program. The pattern of genetic inheritance or heritability is a parameter that describes an individual's inheritance to his offspring or the degree of similarity between the two for certain traits in analyzing genetic and environmental influences on these similarities. The pattern of inheritance of plant genetic resistance to root purebred nematodes is simple, oligogenic or even polygenic. The number of genes controlling the nature of plant resistance to pathogen nematodes ranges from one to four genes. The resistance of kenaf plants to pathogenic nematodes controlled by monogenic genes is 52%, oligenic is 28% and 20% is controlled by polygenic genes. The resistance of kenaf plants to Meliodogyne sp. nematodes is controlled by dominant monogenic genes
Efektifitas Dolomit Dalam Mempertahankan pH Tanah Inceptisol Perkebunan Tebu Blimbing Djatiroto Basuki Basuki; Vega Kartika Sari
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 2 (2019): OKTOBER 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n2.2019.58-64

Abstract

Produktivitas tebu dipengaruhi oleh lingkungan biotik dan abiotik. Lingkungan abiotik salah satunya adalah pH tanah yang dipengaruhi oleh bahan induk tanah, dan pupuk. Penggunaan pupuk anorganik secara terusmenerus menurunkan pH tanah. Penggunaan amelioran seperti dolomit dan kapur pertanian (kaptan) dapat menjadi solusi untuk meningkatkan pH tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dolomit terhadap pH tanah inceptisol di perkebunan tebu. Penelitian menggunakan metode observasi dan eksperimen. Eksperimen dengan perlakuan: A. 160 kg N/ha + 72 kg P2O5 /ha + 60 kg K2O/ha; B. 160 kg N/ha + 72 kg P2O5 /ha + 60 kg K2O/ha+ kaptan 2.000 kg/ha; dan C. 160 kg N/ha +72 kg P2O5 /ha + 60 kg K2O/ha+ dolomit 2.000 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengunaan dolomit dengan dosis 2.000 kg/ha lebih efektif mempertahankan pH tanah dibandingkan kaptan. Dolomit mempertahankan pH tanah hingga 17 bulan setelah aplikasi. Nilai pH 17 bulan setelah aplikasi dolomite adalah 6,64; sedangkan pada perlakuan kaptan memiliki pH tanah 5,56. Reaksi dolomit di tanah dalam mempertahankan pH tanah adalah 1, 26 kali lebih efektif dibandingkan kaptanThe Effectiveness of Dolomite in Maintaining Inceptisol Soil pH of Blimbing Sugarcane Plantation in DjatirotoSugarcane productivity is influenced by the biotic and abiotic environment. One of the abiotic environments is soil pH. Soil pH is influenced by soil parent material, and fertilizer. The use of inorganic fertilizers continuously reduces soil pH. The use of ameliorants such as the use of dolomite and agricultural lime can be a solution. This study aims to determine the effectiveness of dolomite on the soil pH of inceptisol soil Sugar Cane Plantation. The research method uses observation and experimental methods. Experiments with treatment included A. 160 kg nitrogen / hectare + 72 kg P2O5 / hectare + 60 kg K2O / hectare; B. 160 kg nitrogen / hectare + 72 kg P2O5/ hectare + 60 kg K2O / hectare + 2,000 kg agricultural lime / hectare; C. 160 kg nitrogen / hectare + 72 kg P2O5 / hectare + 60 kg K2O / hectare + dolomite 20 quintal / hectare. The results showed the use of dolomite at a dose of 2,000 kg / hectare was more effective in maintaining soil pH compared to agricultural lime. Dolomite maintains soil pH for up to 17 months after application. The pH value, the dolomite treatment was 6.64, while the agricultural lime soil pH treatment was 5.56. Dolomite reaction in the soil in maintaining soil pH of 1.26 times agricultural lime.
Kekerabatan Plasma Nutfah Tebu Berdasarkan Karakter Morfologi Ruly Hamida; Parnidi Parnidi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n1.2019.24-32

Abstract

Karakterisasi morfologi tanaman tebu (Saccharum officinarum) sangat diperlukan sebagai pendukung perakitan varietas unggul melalui identifikasi sumber plasma nutfah yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memanfaatkan peluang data morfologi deskriptif, untuk menduga jarak dan hubungan kekerabatan genetik antar aksesi. Analisis clustering dilakukan menggunakan program Minitab 15, berdasar metode complete lingkage atau berdasarkan jarak terbesar dari 105 aksesi tebu. Hasil analisis menghasilkan 8 komponen utama dengan proporsi keragaman 75,4%. Selanjutnya analisis clustering pada 105 aksesi plasma nutfah tebu terbagi menjadi 15 kelompok pada derajat kemiripan 60%. Karakter bentuk telinga daun berkontribusi paling besar terhadap keragaman total. Genetic Relationship of Sugarcane Germplasm from Study on Morphological CharactersMorphological characterization of sugarcane (Saccharum officinarum) is required to support superior variety improvement by identification of germplasm resources. The purpose of this research was to know the diversity and genetic relationship of sugarcane germplasm from exploration in Java, based on morphological data as a contribution in the plant breeding process. The clustering analysis was done on Minitab 15 software by the complete linkage method or the greatest distance for 105 sugarcane accessions. The results showed there have 8 major components with the 75.4% of diversity proportion. While, clustering analysis for 105 sugarcane accession was divided into 15 groups with 60% degree of similarity. Shape of auricle had significant contribution to the total diversity of sugarcane. Keywords: Saccharum officinarum, germplasm, morphology, genetic relationship
Penyakit Zebra Pada Sisal (Agave spp.): Tantangan Bagi Pengembangan Sisal di Indonesia dan Managemen Pengendaliannya Titiek Yulianti; Kristiana Sri Wijayanti; Untung Setyobudi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n1.2020.12-21

Abstract

ABSTRAKPenyakit Zebra merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman sisal. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophthora nicotianae Breda de Haan. Ada tiga fase infeksi jamur ini pada tanaman sisal, yaitu fase bercak daun zebra, busuk batang (bole rot), dan busuk ujung daun (spike rot). Infeksi pada daun akan menurunkan mutu serat, bahkan pada tingkat kejadian yang parah dapat menyebabkan lembaran daun tidak dapat dipanen dan kematian tanaman. Pengembangan tanaman sisal di Indonesia bagian Timur dengan menggunakan varietas introduksi H11648 yang rentan terhadap penyakit ini perlu diwaspadai dan diantisipasi kejadian dan penyebarannya. Makalah ini mengulas tentang penyakit zebra dan manajemen pengendaliannya secara terpadu, mulai dari upaya pemuliaan, pengendalian hayati, penggunaan ekstrak nabati dan fungisida sintetis. Untuk mendukung pengembangan sisal di NTB dan NTT yang baru dimulai, diperlukan penelitian terutama yang berkaitan dengan pengendalian penyakit ini.  Zebra  Zebra Disease of Sisal: Challenge for Sisal Development in Indonesia and Its Control ManagementABSTRACTZebra disease is one of important diseases of Sisal (Agave spp.), which is caused by a fungus Phytophthora nicotianae Breda de Haan. There are three stadia of the disease, ie: zebra leaf spot, bole rot, and spike rot. Infection on lamina would decrease fibre quality, and severe infection would caused yield loss and death of the plant. The development sisal plant using the new variety H11648, which is susceptible to the disease should be anticipated its outbreak and spread. This paper reviews the zebra disease and its integrated control management including breeding program, biological control, the use of botanical and synthetic fungicides. The development program in NTB and NTT should be supported with adequate research program, especially in controlling the disease.
Pemetaan Tipologi Lahan dan Kesesuaian Tipe Kemasakan Varietas Tanaman Tebu di Jatiroto Lumajang; Basuki Basuki
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n1.2020.34-44

Abstract

Tebu merupakan tanaman industri penting di Indonesia. Produktivitas tanaman tebu menurun dari tahun ke tahun. Fakta menunjukkan bahwa varietas yang ditanam belum disesuaikan dengan tipologi lahan, sehingga diperlukan pemetaan tipologi lahan dan penataan varietas tanaman tebu yang disesuaikan dengan sinergi kesesuaian dengan tipologi wilayah.  Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pemetaan tipologi lahan dan penataan varietas tanaman tebu berdasarkan tipe kemasakan varietas di Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2019 sampai dengan Januari 2020. Metode penelitian yang digunakan adalah survei secara eksplorasi lapang dengan 3 tahap kegiatan yaitu pra survei, survei, dan pasca survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Jatiroto terbagi atas 5 tipologi lahan yaitu BPJ (3.153,444 ha), BPL (546,377 ha), RPL (660,550 ha), RHJ (143,094 ha), RHL (1.455,456 ha). Varietas VMC 76-16 dan CMG Agribun, 90% sesuai dengan tipol ogi lahan di Kecamatan Jatiroto, sedangkan varietas Kidang Kencana, PS 881, Cenning, Kentung, PSDK 923, PS 882, PS 865, TLH 1, GMP 1, X 03, PSMLG 1 Agribun, dan NXI 4T membutuhkan lahan yang spesifik di Kecamatan Jatiroto, sehingga  penanaman varietas tersebut untuk memperoleh hasil yang optimal perlu memperhatikan kondisi lahan yang sesuai dengan varietas tersebut. Land Typology Mapping and Suitable Maturity Stage of Sugarcane Varieties in Jatiroto LumajangSugar cane is an important industrial plant in Indonesia. Sugarcane productivity decreases from year to year. The facts show that the planted varieties have not been adapted to the typology of the land, so it is necessary to map the typology of land and the arrangement of sugarcane varieties that are adjusted to the synergy of confirmed typology of the area. The purpose of this study is to map the typology of land and the arrangement of sugarcane varieties according to the type of sugarcane varieties in Jatiroto District, Lumajang Regency, East Java. The study was conducted in November 2019 to January 2020. The research method used was a field survey in exploration with 3 stages pre survey, survey and post survey. The results showed that Jatiroto District was divided into 5 land typologies, namely BPJ (3.153.444 ha), BPL (546.377 ha), RPL (660.550 ha), RHJ (143.094 ha), RHL (1455.456 ha). Sugarcane VMC 76-16 and Agribun CMG varieties have 90% suitability to land typology in Jatiroto District, while Kidang Kencana, PS 881, Cenning, Kentung, PSDK 923, PS 882, PS 865, TLH 1, GMP 1, X 03, PSMLG 1 Agribun, and NXI 4T varieties require specific land in Jatiroto District, so planted these varieties, it is necessary to pay attention to the conditions of the land to obtain optimal production.
Resistensi Galur-galur Tembakau Kasturi Terhadap Phytophthora nicotianae, Ralstonia solanacearum dan Cucumber Mosaic Virus Cece Suhara; Nurul Hidayah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n1.2020.22-33

Abstract

Penyakit utama tembakau disebabkan oleh Phytophthora nicotianae vßdH var. nicotianae Waterhouse, Ralstonia solanacearum dan Cucumber Mosaic Virus (CMV).  Sampai saat ini belum diperoleh varietas tembakau kasturi yang tahan terhadap penyakit utama tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi ketahanan galur-galur unggul tembakau kasturi terhadap penyakit utama. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok diulang tiga kali. Galur yang dievaluasi sebanyak 10 galur dengan kontrol varietas tahan dan rentan sebagai pembanding. Masing-masing unit ditanam 10 tanaman. Benih tumbuh ditanam pada polybag dengan 10 L tanah steril. Inokulum P. nicotianae, R. solanacearum dan CMV diambil dari tanaman sakit yang diperoleh dari lokasi tanaman tembakau di Jember. Isolasi jamur P. nicotianae menggunakan metode baiting pada buah apel dan perbanyakannya menggunakan media CMA.  Inokulasi P. nicotianae melalui akar yang dilukai pada umur 2 minggu setelah pindah tanam di polybag, dengan menuangkan suspensi jamur 10 mL per tanaman (kepadatan spora 106/mL).  Isolasi dan perbanyakan bakteri R. solanacearum pada media buatan CPG (Casein Pepton Glucose) dan inokulasi melalui akar tanaman dengan menuangkan suspensi bakteri sebanyak 10 mL per tanaman (kerapatan bakteri 106cfu/mL).  Pemurnian inokulum CMV secara berantai dan inokulasinya secara mekanis pada umur dua minggu setelah tanam.  Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terdapat 4 galur tahan terhadap P. nicotianae (Dark A, Dark B, Jepon Pote dan Marakot); 8 galur tahan terhadap R. solanacearum (Dark A, Dark B, Penang pendek, Jepon Pote, Marakot, Kasturi 1, Kasturi 2, dan Asal Petani), dan tidak ada galur yang tahan terhadap CMV. Resistance Level of Kasturi Tobacco Lines to Phytophthora nicotianae, Ralstonia solanacearum, and Cucumber Mosaic VirusABSTRACT The main tobacco diseases are caused by Phytophthora nicotianae vßdH var. nicotianae Waterhouse, Ralstonia solanacearum and Cucumber Mosaic Virus (CMV). There has not been any variety of kasturi tobacco which is resistant to those major diseases. The purpose of this study was to evaluate the resistance level of kasturi tobacco lines to the main tobacco diseases. The study was arranged in a Randomized Group Design with three replicates. Ten lines were evaluated with control of resistant and susceptible varieties as a comparison. Each unit is planted with 10 plants. Growing seeds were planted in polybags with 10 L of sterile soil. Inoculum of P. nicotianae, R. solanacearum and CMV were taken from infected plants obtained from tobacco plant in Jember. Isolation of P. nicotianae using the baiting method on apples and propagation using CMA media. Inoculation of P. nicotianae through injured roots at 2 weeks after transplanting in polybags, by pouring the inoculum suspension of 10 mL per plant (spore density 106/mL). Isolation and propagation of R. solanacearum were on CPG (Casein Pepton Glucose) media and inoculation through plant roots by pouring bacterial suspension as much as 10 mL per plant (bacterial density 106 cfu/mL).  Purification of the CMV inoculum was in chain and mechanical inoculation was done at two weeks after planting. The evaluation results showed that there were 4 lines resistant to P. nicotianae (Dark A, Dark B, Jepon Pote and Marakot); 8 lines are resistant to R. solanacearum (Dark A, Dark B, Short Penang, Jepon Pote, Marakot, Kasturi 1, Kasturi 2, and Farmer Origins), and no lines are resistant to CMV. 
Pemanfaatan Lignin dari Biomassa Tanaman Serat Untuk Sumber Bioenergi Farida Rahayu; Mala Murianingrum; Nurindah Nurindah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 2 (2019): OKTOBER 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n2.2019.73-85

Abstract

AbstrakBiomassa lignosellulosa memiliki potensi sebagai material penghasil bahan kimia dan biomaterial.  Lignin adalah polimer alami yang ketersediaannya paling melimpah kedua setelah selulosa. Lignin merupakan biopolimer berbasis fenol dan memiliki kandungan karbon lebih tinggi daripada oksigen yaitu dengan ratio 2:1 sehingga kandungan energinya lebih besar daripada selulosa. Hal ini menjadikan lignin sebagai bahan baku untuk  memproduksi bahan bakar dan senyawa aromatik seperti fenol, benzene, toluene, xilen, karbon fiber, karbon aktif dan material komposit lainnya. Bahan-bahan tersebut digunakan secara berkelanjutan dalam suatu produksi, sebagai sumber energi, katalis dan untuk mengatasi polusi lingkungan atau kontaminasi. Tersedia berbagai sumber lignin, termasuk tanaman serat seperti agave, kenaf dan rami. Sifat fisik dan sifat kimia lignin akan berbeda antara satu dengan lainnya tergantung dari asal sumbernya dan metode ekstraksi yang digunakan. Keberhasilan dalam mencapai tujuan pemanfaatan lignin tergantung pada pengembangan teknologi untuk mengatasi tantangan-tantangan, seperti: 1) teknologi pretreatmen yang efisien dan teknologi ektraksi untuk pemisahan lignin dengan kemurnian tinggi; 2) analisis dan karakterisasi kuantitatif yang tepat untuk lignin dalam proses transformasi kimia; 3) pendekatan baru untuk konversi lignin menjadi produk berharga. Tinjauan ini merangkum inovasi mutakhir terbaru dari konversi lignin dengan fokus pada tiga aspek utama yang disebutkan di atas serta potensi tanaman serat sebagai sumber lignin yang terbarukan.Abstract Utilization of Lignin from fiber crops biomass for bioenergy resources Lignocellulosic biomass has the potential to produce chemicals and biomaterials. Lignin is a natural polymer whose availability is the second most abundant after cellulose. Lignin is a phenol-based biopolymer and has a higher carbon content than oxygen in a ratio of 2: 1, so that the energy content is greater than cellulose. This makes lignin as a raw material for producing fuels and aromatic compounds such as phenols, benzene, toluene, xylene, carbon fiber, activated carbon and other composite materials. These materials are used sustainably in a production, as a source of energy, as a catalyst and to overcome environmental pollution or contamination. Various sources of lignin are available, including fiber plants such as agave, kenaf and flax. The physical and chemical properties of lignin differ from one another depending on the origin of the source and the extraction method used. Success in achieving the goal to utilize lignin depends on developing technology to overcome the following challenges, such as: 1) efficient pretreatment technology and extraction technology for the separation of high-purity lignin; 2) appropriate quantitative analysis and characterization for lignin in the process of chemical transformation; 3) a new approach to the conversion of lignin into valuable products. This review summarizes the latest up-to-date innovations of lignin conversion with a focus on the three main aspects mentioned above and the potential of fiber crops as a source of renewable lignin