cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Pengaruh Pemupukan N dan K Terhadap Produksi dan Mutu Dua Varietas Baru Tembakau Madura Mochammad Sholeh; Fatkhur Rochman; Djajadi Djajadi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 8, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v8n1.2016.10-20

Abstract

Dua varietas baru tembakau madura yang memiliki daun 3–5 lembar lebih banyak dibanding varietas praktik Prancak-95, Prancak N-1, dan Prancak N-2, telah diperoleh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi beberapa dosis N dan K terhadap produksi dan mutu dua varietas baru tembakau madura.  Penelitian dilaksanakan di Desa Bajang, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan mulai bulan Januari hingga Desember 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terbagi dan diulang 3 kali. Perlakuan petak utama adalah 2 varietas tembakau madura: Prancak S1 Agribun dan Prancak T1 Agribun. Sebagai anak petak adalah 9 kombinasi jenis dan dosis pupuk N dan K: 1) 40 kg N + 25 kg K2O, 2) 50 kg N + 25 kg K2O, 3) 60 kg N + 25 kg K2O, 4) 40 kg N + 50 kg K2O, 5) 50 kg N + 50 kg K2O, 6) 60 kg N + 50 kg K2O, 7) 40 kg N + 75 kg K2O, 8) 50 kg N + 75 kg K2O, dan 9) 60 kg N + 75 kg K2O/ha. Pupuk SP-36 sebanyak 36 kg P2O5/ha dan pupuk kandang 5 ton/ha diberikan 3 hari sebelum tanam sebagai pupuk dasar. Pupuk N bersumber dari pupuk ZA dan K dari ZK masing-masing 1/3 dosis diberikan pada 10 hari setelah tanam (HST), sedangkan sisa pupuk ZA dan ZK masing-masing 2/3 dosis diaplikasikan pada 21 HST. Pengamatan meliputi pertumbuhan, hasil dan mutu tembakau, rendemen, indeks mutu dan indeks tanaman, serta analisa kadar nikotin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh faktor dua varietas tembakau madura Prancak S1 Agribun dan Prancak T1 Agribun yang diuji relatif sama terhadap pertumbuhan, hasil, dan mutu. Hasil uji kontras menunjukkan bahwa peningkatan dosis pupuk N tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan, hasil, dan mutu. Namun peningkatan dosis pupuk K berpengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan, hasil, dan mutu pada dosis pemupukan N tertentu. Kombinasi pupuk N dan K yang diuji berbeda nyata terhadap parameter panjang dan lebar daun, hasil rajangan kering, rendemen, dan indeks tanaman. Berdasarkan nilai indeks tanaman dan keuntungan tertinggi, bahwa rekomendasi pemupukan untuk varietas tembakau madura Prancak S1 Agribun dan Prancak T1 Agribun adalah 50 kg N + 36 kg P2O5 + 75 kg K2O + 5 ton pupuk kandang/ha.Two varieties of madura tobacco which bears3–5 leaves, more than Prancak-95, Prancak N-1, and Prancak N-2 varieties, had been acquired. This study was aimed to obtain an optimal dose of N and K corresponding to those varieties.  Research was conducted at BajangVillage, PakongDistrict, Pamekasan on January to December 2013. The treatments were arranged in split plots design with varieties were as the main plots and N and K dose rates were a ssubplotwith 3 replicates. The varieties were: PrancakS1 Agribun andPrancakT1 Agribun. The subplots were 9 combinations of type and dose of N and K fertilizers: 1) 40 kg N + 25 kg K2O, 2) 50 kg N + 25 kg K2O, 3) 60 kg N + 25 kg K2O, 4) 40 kg N + 50 kg K2O, 5) 50 kg N + 50 kg K2O, 6) 60 kg N + 50 kg K2O, 7) 40 kg N + 75 kg K2O, 8) 50 kg N + 75 kg K2O, and 9) 60 kg N + 75 kg K2O/ha.Thirty six kg P2O5/ha and 5 tons manure/ha were addedat3 days before transplanting as a basic fertilizers. N was sourced from ZA and K of ZK, one third dose of N and K were added at 10 days after planting (DAP) and the rest of N and K dose were applied at 21 DAP. Observations included growth, yield, and quality of tobacco, rendement, grade and crop indexes, and nicotine analysis. In wet conditions of climate anomalies at the beginning of the dry season of 2013, the results showed that there were no difference between Prancak S1 Agribun and Prancak T1 Agribun varieties of madura tobacco in term of growth, yield, and quality. Contrast test results showed that increasing rates of N fertilizer had no effect on growth, yield and quality. However, increasing dose rates of K affected growth, yield and quality at a given rate of N. Combination of N and K affected length and width leaves, yield, and crop index. Based on crop index and benefit, that the fertilizer recommendation for varieties of madura tobacco Prancak S1 Agribun and Prancak T1 Agribun was 50 kg N + 36 kg P2O5 + 75 kg K2O + 5 tons manure/ha. 
Pengaruh Rizobakteri dalam Meningkatkan Kandungan Asam Salisilat dan Total Fenol Tanaman terhadap Penekanan Nematoda Puru Akar Kristiana Sri Wijayanti; Bambang Tri Rahardjo; Toto Himawan
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 9, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v9n2.2017.53-62

Abstract

 Penyakit puru akar pada tanaman kenaf (Hibiscus cannabinus L.) yang disebabkan oleh nematoda Meloidogyne spp. mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas serat. Kolonisasi rizobakteri dalam rizosfer berperan sebagai antagonis yang dapat dimanfaatkan dalam ketahanan tanaman terhadap patogen.  Peran rizobakteri sebagai bioprotektan dapat menurunkan populasi nematoda yang akan mempengaruhi perkembangan patogen penyebab penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rizobakteri yang potensial dalam meningkatkan ketahanan tanaman kenaf terhadap infeksi nematoda Meloidogyne spp. melalui pembentukan metabolit sekunder diantaranya kandungan total fenol dan asam salisilat. Aplikasi rizobakteri dengan cara perendaman dan tanpa perendaman baik secara tunggal maupun konsorsium.  Rizobakteri yang digunakan terdiri dari 3 jenis yaitu Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis, dan Azotobacter sp. Pengamatan kandungan total fenol dan asam salisilat diamati pada 15 dan 25 hari setelah inokulasi dengan menggunakan alat spektrofotometer. Peningkatan total fenol dan asam salisilat tertinggi diperoleh ketika benih kenaf direndam dengan bakteri P. fluorescens berturut-turut sebesar 513,45% dan 235,99%. Terdapat peningkatan bobot kering tanaman kenaf dengan aplikasi rizobakteri dibandingkan dengan kontrol. Effect of Rhizobacteria  in Content  of Salicylic Acid and Total Phenol of Kenaf Against Nematodes Infections Root knoot disease of kenaf caused by nematodes Meloidogyne spp. is an important disease since it lowers quality and quantity of the fiber. Colonization of rhizobacteria in rhizosphere acts as an antagonist that can be utilized in plant resistance to pathogens. The role of rhizobacteria as a bioprotectan could reduce nematode population, and thus affect development of the disease. This study aimed to evaluate the potency of rhizobacteria in improving kenaf resistance against root knot nematode by inhibiting the production of total phenols and salicylic acid. Application of rhizobacteria was done by soaking or without soaking kenaf seeds either singly or in consortium. There were three rhizobacteria used in this study, i.e: Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis, and Azotobacter sp. The content of total phenols and salicylic acid was observed at 15 and 25 days after inoculation using a spectrophotometer. The highest elevation level of total phenols and salicylic acid was obtained when kenaf seeds were soaked in P. fluorescens 513,45% and 235,99% respectively. There is an increase dry weight of kenaf with aplication of rhizobacteria compared with controls.
Efisiensi Penggunaan Mulsa Plastik dalam Pengendalian Uret (Lepidiota stigma Fabricius) pada Tanaman Tebu Dwi Adi Sunarto; Subiyakto Subiyakto
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 10, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v10n2.2018.55-63

Abstract

Uret Lepidiota stigma FABRICIUS merupakan hama penting pada tanaman tebu yang ditanam di lahan kering. Penggunaan mulsa plastik adalah teknologi pengendalian uret yang paling efektif untuk daerah endemik. Pengendalian menggunakan mulsa plastik termasuk teknologi yang cukup mahal, sehingga perlu dikaji tingkat efisiensi dalam penerapannya.  Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efisiensi penerapan teknologi pengendalian hama uret tebu dengan teknologi mulsa plastik pada tanaman tebu.  Penelitian dilaksanakan di lahan petani di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo pada bulan Nopember 2015–Desember 2016.  Perlakuan disusun menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) tiga perlakuan dengan jumlah ulangan sebanyak delapan kali.  Perlakuan pengendalian uret menggunakan mulsa plastik yang dicoba adalah (1) Penutupan mulsa plastik 100%, (2) Penutupan mulsa plastik 50%, dan (3) Kontrol (tanpa penutupan mulsa plastik.  Pemasangan mulsa plastik dilakukan sehari setelah hujan sebesar > 4 mm.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi kumbang tertinggi terjadi pada akhir bulan Nopember – awal Desember 2015, sedangkan populasi larva mencapai puncaknya pada bulan Maret dengan komposisi larva instar ke-3 sebesar 51%.  Penutupan mulsa plastik 100% paling efektif menekan populasi larva dibanding perlakuan penutupan mulsa plastik 50% dan kontrol. Teknologi pengendalian uret pada tanaman tebu dengan menggunakan mulsa plastik yang paling efisien adalah penutupan 100% pada permukaan lahan.  Batas ambang ekonomi sebagai dasar kelayakan penerapan penggunaan mulsa plastik untuk pengendalian uret pada tanaman tebu adalah 27% kerusakan tanaman. Application of Plastic Mulch to Control White Grubs (Lepidiota stigma Fabricius) in Sugar CaneWhite grub Lepidiota stigma FABRICIUS is an important pest in sugar cane planted on dry land. The use of plastic mulch is the most effective white grub control technology for endemic areas. Control using plastic mulch is a fairly expensive technology, so the level of efficiency in its application needs to be assessed. This study aims to evaluate the efficiency of the application of sugar cane pest control technology with plastic mulch technology in sugar cane. The research was carried out on the farmer's land in Banyuputih Subdistrict, Situbondo Regency in November 2015 –December 2016. The treatments were arranged using a randomized block design (RBD) of three treatments with eight replications. The treatment of white grub control using plastic mulch were (1) 100% plastic mulch closure, (2) 50% plastic mulch closure, and (3) Control (without plastic mulch closure). Installation of plastic mulch was carried out one day after rainfall> 4 mm. The results showed that the highest beetle population occurred at the end of November – early December 2015, while the larval population reached its peak in March with the composition of 3 by 51%. Treatment 100% plastic mulch closure was the most effective methode in suppressing larval populations than 50% plastic mulch closure and control. The most efficient plastic mulch technology to control white grub in sugar cane plants was 100% closure the land surface. The basis of the feasibility of applying the use of plastic mulch for white grub control in sugar cane was 27% of crop damage.
Yield Components of Some Sesame Mutant Populations Induced by Gamma Irradiation Vina Eka Aristya; Taryono Taryono; Rani Agustina Wulandari
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 10, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v10n2.2018.64-71

Abstract

Sesame is an producing seed whose oil is commercially needed. Breeding attempts to improve the productivity of sesame and yield components are induction of gamma ray irradiation mutations (Co-60). This study was aimed to identify effects of induced mutation by gamma rays irradiation in quantitative characteristics and yield of sesame in M4 generation originated from local cultivars. Two types of sesame (black and white) are irradiated with eight doses (100-800 Gy) of Co-60. The result showed a high variation in almost all morphological characters and modified the character of stem height from base to first branch, number of capsules per plant, biomass yield per plant, and seed yield per plant. Sesame irradiated with 600 Gy Co-60 doses has a beneficial effect on the number of capsules (black:120.23; white: 255.23, respectively) and the weight of 1000 seeds (black:3.63 g; white: 4.55 g, respectively). Genotypic Coefficient of Variation in M4 generation were recorded for high value for characters number of primary branches (30.16%), stem height from base to the first branch (30.96%), stem height from base to first capsule (14.82%), number of secondary branches (53.64%), number of nodes to first flower (72.66%), number of capsules/plant (44.90%), biomass yield/plant (28.37%), and seed yield/plant (36.68%). Genetic variability of plant population is very important for plant breeding program and to sustain level of high productivity.Komponen Hasil Beberapa Populasi Mutan Wijen yang Diinduksi oleh Iradiasi GammaWijen adalah tanaman penghasil biji yang minyaknya dibutuhkan secara komersial. Upaya pemuliaan untuk meningkatkan produktivitas wijen dan komponen hasil adalah dengan induksi mutasi iradiasi sinar gamma (Co-60). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh induksi mutasi iradiasi sinar gamma pada karakter kuantitatif dan hasil pada generasi M4 wijen yang berasal dari kultivar lokal. Dua jenis wijen (hitam dan putih) diiradiasi dengan delapan dosis (100-800 Gy) Co-60. Sejumlah pengaruh mutasi wijen berhasil menunjukkan variasi yang tinggi pada hampir semua ciri morfologi dan memodifikasi karakter tinggi batang dari pangkal ke cabang pertama, jumlah kapsul/tanaman, hasil biomassa/tanaman dan hasil biji/tanaman. Wijen yang diiradiasi dengan dosis 600 Gy Co-60 memiliki efek menguntungkan pada jumlah kapsul (hitam:120,23; putih: 255,23) dan berat karakter 1000 biji (hitam:3,63 g; putih: 4,55 g). Koefisien Keragaman Genotipik pada generasi M4 dicatat nilai tertinggi pada karakter jumlah cabang primer (30,16%), tinggi batang dari pangkal ke cabang pertama (30,96%), tinggi batang ke kapsul pertama (14,82%), jumlah cabang sekunder (53,64%), jumlah ruas ke bunga pertama (72,66%), jumlah kapsul/tanaman (44,90%), hasil biomassa/tanaman (28,37%), dan hasil biji/tanaman (36,68%). Keragaman genetik dari populasi tanaman sangat penting untuk program pemuliaan tanaman dan mempertahankan produktivitas yang tinggi.
Teknik Pematahan Dormansi Dua Aksesi Benih Kenaf ( Hibiscus cannabinus L.) Untuk Meningkatkan Daya Berkecambah Benih Taufiq Hidayat RS; Marjani Marjani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 10, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v10n2.2018.72-81

Abstract

Kenaf termasuk tanaman semusim yang memiliki struktur benih yang relatif keras dan sangat berpengaruh terhadap viabilitas benih. Viabilitas benih dapat dihambat oleh adanya kemampuan benih untuk menunda perkecambahan, yaitu mempunyai sifat dormansi. Beberapa teknik pematahan dormansi dapat dilakukan untuk membantu perkecambahan benih yang disebabkan oleh kondisi fisik maupun fisiologis benih. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji pengaruh antara teknik pematahan dormansi pada dua aksesi benih terhadap peningkatan daya berkecambah benih kenaf. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2017. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap faktorial. Faktor pertama adalah aksesi benih yang terdiri dari dua aksesi yaitu ACC 322 dan ACC 1301, sedangkan faktor kedua adalah teknik pematahan dormansi yang terdiri atas 10 perlakuan yaitu perendaman air suhu 90ºC selama 3 menit, perendaman air suhu 90ºC selama 5 menit, perendaman air suhu 27ºC selama 12 jam, perendaman air suhu 27ºC selama 16 jam, pemotongan pada salah satu sisi benih, pemanasan benih dalam oven 80ºC selama 10 menit, pemanasan benih dalam oven 80ºC selama 20 menit, perendaman 98% H2SO4 selama 10 menit, perendaman 98% H2SO4 selama 15 menit dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pemotongan pada salah satu sisi benih dapat meningkatkan persentase daya berkecambah hingga >90% dan merupakan teknik pematahan dormansi yang mampu meningkatkan daya berkecambah pada dua aksesi benih kenaf. Techniques of Dormancy Breaking in Two Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) Accessions t o Increase Seed Germination ABSTRACTKenaf is a seasonal plant that has a relatively hard seed structure and greatly affects the viability of the seed. The viability of seeds can be inhibited by the ability of seeds to delay germination, which has dormancy character.  Some dormancy breaking techniques can be done to help seed germination caused by physical and physiological conditions of the seed. The purpose of this study is to examine the effect of dormancy breaking techniques on some seed accessions on increasing the germination of kenaf seeds. This study was conducted from March to May 2017. This research method used a factorial completely randomized block design. The first factor was the accession of seeds consisting of two accessions ie ACC 322 and ACC 1301, while the second factor was dormancy breaking technique consisting of 10 treatments ie. soaking in 90ºC water for 3 minutes, in 90ºC water for 5 minutes, soaking in 27ºC water for 12 hours, soaking in water 27ºC for 16 hours, seed cutting, seed heating in oven 80ºC for 10 minutes, seed heating in oven 80ºC for 20 minutes, soaking in 98% H2SO4 for 10 minutes, soaking in 98% H2SO4 for 15 minutes and control. The results showed that the cutting treatment on one side of the seed can increase the percentage of germination power up to >90% and is a dormancy breaking technique that can increase germination on two accessions of kenaf seeds.  
Efektivitas Retting Embun Batang Kenaf oleh Jamur Pelapuk Putih Trametes versicolor (L.) Lloyd Arini Hidayati Jamil; Marjani Marjani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 10, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v10n2.2018.82-89

Abstract

Retting embun kenaf menggunakan jamur pada kondisi aerob menjadi alternatif yang murah, mudah, dan lebih ramah lingkungan untuk menggantikan retting basah yang membutuhkan banyak air. Pada beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa spesies jamur pelapuk putih dan Rhizopus sp dapat digunakan untuk membantu proses retting pada tanaman serat batang. Penelitian ini bertujuan mengukur efektivitas retting embun batang kenaf oleh jamur pelapuk putih Trametes versicolor (L.) Lloyd melalui perbandingan efektivitas retting embun oleh Rhizopus spp. dan retting basah, serta pengukuran karakter serat yang dihasilkan. Retting embun dilakukan dengan menginokulasikan biakan jamur pada 500 g batang kenaf berukuran panjang 25 cm yang telah dibasahi dan diinkubasikan selama 4 minggu. Parameter yang diamati meliputi rendemen serat, efektivitas retting, warna, kehalusan, kebersihan, dan kadar selulosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara perlakuan retting embun, jamur pelapuk putih menghasilkan rendemen tertinggi (4,77%), efektivitas tertinggi (77,68%), kehalusan serat sedang, dan serat terbersih. Konsorsium jamur T. versicolor dan inokulum jamur tempe hijau kehitaman menghasilkan serat dengan kadar selulosa tertinggi yaitu sebesar 57,97% dengan warna serat paling cerah. Seluruh serat yang dihasilkan mempunyai tingkat dan kisaran warna kekuningan dan kemerahan yang bervariasi. Perlakuan retting embun kenaf dengan inokulasi T. versicolor tanpa konsorsium merupakan perlakuan dengan efektivitas retting terbaik dengan kualitas serat mendekati hasil retting basah. Effectivity of Dew Retting of Kenaf Stem by White Rot Fungus  Trametes versicolor (L.) Lloyd  Aerobic dew retting of kenaf using fungal becomes a cheap alternative, easy and has a less environmental impact to replace water retting method. In several studies that have been carried out, it has been shown that white rot fungus species can be used to assist the retting process of bast fiber plants. This study aimed to measure the effectiveness of dew retting of kenaf stem by white rot fungus Trametes versicolor (L.) Lloyd by comparing it with the effectiveness of dew retting by Rhizopus spp. and wet retting, as well as measuring the character of the fiber produced. Dew retting was conducted by inoculating fungi cultures on moistened 500 g of 25 cm length kenaf stems and incubating them for 4 weeks. Fiber yield, retting efficiency, color, smoothness, cleanliness, and cellulose content were observed. The result shows that white rot fungus T.versicolor produced the highest fiber yield (4.77%), the highest effectivity (77.68%), medium fiber smoothness, and the cleanest fiber among dew retting treatments. Consortium of T. versicolor and blackish green tempeh inoculum produced fiber with the highest cellulose content (57.97%) and the brightest fiber color. All fiber produced has a yellowish and reddish color with varying levels and ranges. Kenaf dew retting treatment with T. versicolorinoculation without a consortium was the most effective dew retting treatment with fibers quality verge to the water retting yield.   
Pemanfaatan Rhizobakteria untuk Mengendalikan Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.) pada Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) Kristiana Sri Wijayanti
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 10, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v10n2.2018.90-99

Abstract

Penyakit puru akar yang disebabkan oleh nematoda Meloidogyne spp merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kenaf (Hibiscus cannabinus L.). Infeksi yang parah dapat mengakibatkan gagal panen dan memicu terjadinya infeksi oleh patogen lain. Pada kenaf, infeksi nematoda yang parah dapat menimbulkan kematian dan penurunan produktifitas tanaman.  Aplikasi berlebihan bahan kimia dalam pengendalian penyakit puru akar dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengganggu ekosistem, karena residu kimia yang dihasilkan dapat mempengaruhi populasi mikroba lain.  Salah satu metode pengendalian yang dapat diaplikasikan adalah pemanfaatan rhizobakteria yang secara umum banyak terdapat pada rizosfer tanaman kenaf. Rhizobacteria memiliki kemampuan sebagai pengendali hayati. Beberapa mekanisme yang diterjadi dalam aplikasi rhizobakteria adalah mekanisme antagonisme dan ketahanan terimbas. Alternatif pengendalian yang dapat  dilakukan yaitu dengan cara pola tanam polikultur, pemanfaatan tanaman antagonis, teknik biofumigan, penggunaan ekstrak nabati serta aplikasi metabolit sekunder dari mikroba.Teknik pengendalian yang ramah lingkungan sangat perlu dilakukan dalam rangka mewujudkan pertanian berkelanjutan.  Dalam tinjauan ini dibahas peran rhizobakteria dalam pengendalian nematoda Utilization of Rhizobacteria for Controlling Root-Knot Nematodes (Meloidogyne spp.) in Kenaf (Hibiscus cannabinus L.)Root-knot nematode caused by Meloidogyne spp. is one of important diseases in kenaf (Hibiscus cannabinus L.). Severe infection resulting crop loss and causing synergy with other pathogens. In kenaf, severe nemathode infections can cause death and decrease the productivity of the plant. Nematicide applications caused environmental damage.   Negative impact of chemical nematicide can be reduced by using rhizobacteria. Application of nematicidal causing environmental damage and disrupt the ecosystem, effected microbial population and sustainable agriculture.  Environmentally-friendly-control methods are needed to secure of environment, so the negative impact of using mematicides can be suppressed by Rhizobateria.  Some mechanisme of rhizobacteria application are antagonism and resistance induction. Alternative control methodes can be done by polyculture planting system, utilization of antagonistic plant, biofumigan, using vegetable extracts and aplication of secondary metabolites  from microbes.  Environmentally friendly control techniques really need to be done in order to manifest sustainable agriculture. In this review we discuss the role of rhizobacteria to control  nematodes. 
Pengaruh Pupuk Kandang dan Insektisida Kimia Terhadap Efektivitas Jamur Metarhizium anisopliae pada Uret Tebu, Lepidiota stigma I Gusti Agung Ayu Indrayani; Kristiana Sri Wijayanti; Heri Prabowo
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n1.2019.33-45

Abstract

Uret tebu Lepidiota stigma (Coleoptera: Scarabaeidae) adalah salah satu hama penting pada tanaman tebu yang pada tingkat serangan parah menyebabkan penurunan produksi tebu. Pengendalian hama uret ini dengan menggunakan jamur M. anisopliae menawarkan suatu teknik pengendalian yang biologis, efektif, dan aman bagi lingkungan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorum Patologi Serangga dan di rumah kasa Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) Malang dengan tujuan untuk mengevaluasi efektifitas jamur M. anisopliae terhadap uret tebu, L. stigma. Penelitian terdiri atas pengujian di laboratorium dan di rumah kasa. Perlakuan yang diuji di laboratorium adalah: (1) M. anisopliae  (MA), (2) M. anisopliae + imidakloprid 5% (1 mg/vial) imidakloprid 1 mg/vial  (MA +  K-1), (3) M. anisopliae + pupuk kandang (MA + P), (4) M. anisopliae + imidakloprid 5% (2 mg/vial), imidakloprid 2 mg/vial (MA + K-2), (5) Metastigma (produk bioinsektisida berbasis jamur M. anisopliae sebagai pembanding) , dan (6) Kontrol (tanpa perlakuan). Perlakuan yang sama juga diujikan di rumah kasa. Perlakuan di laboratorium disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan empat ulangan dan perlakuan di rumah kasa disusun dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK), diulang empat kali. Parameter yang diamati di laboratorium dan di rumah kasa adalah mortalitas uret L. stigma. Hasil penelitian di laboratorium menujukkan bahwa penambahan pupuk kandang pada jamur M. anisopliae efektif meningkatkan mortalitas uret sebesar 12,9%, sedangkan di rumah kasa penambahan pupuk kandang maupun insektisida kimia imidakloprid pada jamur M. anisopliae tidak efektif meningkatkan mortalitas uret L. stigma. Influence of Animal Manure and Chemical Insecticide on Effectivity of Metarhizium anisopliae against Sugarcane White grub, Lepidiota stigmaWhite grub Lepidiota stigma (Coleoptera: Scarabaeidae) is one of important insect pest on sugar cane which is on highest level of attack causes decline production of sugar cane. Control this pest by using entomopathogenic fungi M. anisopliae offer a biological control technique that is effective and environmentally friendly. This study conducted in laboratory and in screen house with aimed to evaluate the influence of animal manure and chemical insecticide imidakloprid on the effectivity of M. anisopliae against sugarcane white grub, L. stigma. In the laboratory study, treatments tested were (1) M. anisopliae, (2) M. anisopliae + imidacloprid 5% (1 mg/vial), (3) M. anisopliae + manure, (4) M. anisopliae + imidacloprid 5% (2 mg/vial), (5) Metastigma (comparison treatment), and (6) Untreated control. The equal treatments were also tested in screen house study. Treatments in the laboratory study were arranged in Completely Randomized Design (CRD) with four replications, while the treatments in screen house were arranged in Randomized Block Design (RBD) with four replicates. Parameters observed in both laboratory and screen house studies were mortality of whitegrub, L. stigma. Results showed that in the laboratory, addition of animal manure on M. anisopliae application increased 12.9% of white grub mortality, however, at screen house study on addition of animal manure or imidacloprid 5% on M. anisopliae application was less effective in order to enhance the mortality of white grub. 
Ketahanan Delapan Klon Abaka (Musa textilis) Terhadap Fusarium oxysporum F sp. cubesence Titiek Yulianti; Kristiana Sri Wijayanti; Cece suhara; Untung Setyobudi; Marjani Murtojo
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n1.2019.1-7

Abstract

Penyakit layu Fusarium pada tanaman Abaka (Musa textilis L.) yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum  f sp. cubesence (Foc) merupakan salah satu kendala terhambatnya perkembangan Abaka di Indonesia karena menyebabkan penurunan kualitas serat.  Gejala serangan Foc adalah terbelahnya batang semu bagian luar dan warna daun berubah menjadi kuning pucat sampai kuning kecoklatan kemudian layu.  Indonesia belum memiliki varietas unggul untuk mendukung pengembangan Abaka, meskipun Balittas memiliki koleksi plasma nutfah yang cukup.  Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi ketahanan delapan klon Abaka yang memiliki potensi produksi tinggi terhadap infeksi Foc.  Penelitian dilakukan di rumah kaca Balittas pada tahun 2018.  Sebanyak delapan klon abaka (UB4, Tangongon, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, Cilacap, UB-8, UB-11, dan UB-5) yang diuji disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga kali ulangan.   Isolat Foc yang digunakan berasal dari tanaman abaka yang menunjukkan gejala layu Fusarium.    Masing-masing klon ditanam dalam polibag berukuran 500 g satu tanaman per polibag. Setiap klon ditanam sebanyak 10 polibag per ulangan.  Benih abaka berumur 3 bulan direndam selama 24 jam dalam suspensi konidia Foc dengan kerapatan105/ml. Pengamatan kejadian penyakit dilakukan setiap 5 hari sekali sampai tanaman berumur 60 hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa,  tidak ada klon abaka yang diujikan tahan terhadap Foc melainkan rentan (UB8 dan Tangongon) dengan tingkat kejadian penyakit 43,3% - 46,7% dan sangat rentan (Cilacap, UB4, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7,  UB-11, dan UB-5) dengan tingkat kejadian 56,7% - 96,7%. Resistance of Eight Clones of Abaca (Musa textilis) to Fusarium oxysporum F sp. cubesenceABSTRACT.Fusarium wilt on Abaca (Musa textilis L.) caused by Fusarium oxysporum f sp. cubesence (Foc) was one of the obstacles to development of Abaca in Indonesia since it decreased fibre quality. Symptom of Foc infection was splitted of the outer low pseudostem and discoloured of the leaf sheat to pale yellow or brownish yellow and then wilt. Indonesia has not released a superior variety (ies) to support the development of Abaca, although Balittas has enough germplasm collection.  This paper reported the resistance of eight Abaca clones, which have high potential production, to Foc.  The trial activity has been conducted in the screen house of BALITTAS in 2018.  The tested clones were:  UB4, Tangongon, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, Cilacap, UB-8, UB-11, and UB-5 which was arraned in randomized block design with three replicates. Foc was isolated diseased abaca with wilt and yellow leaf symptom. Each clone was grown in sterilised soil in a 500 g polybag, with 10 three months old plants for each replicate.  The plants were soaked in conidial suspension (105/ml) for 24 hours.  Disease incidence was observed every five days for 60 days.  Result of the test showed, none of the clones was resistant to Foc but susceptible (UB8 and Tangongon) with disease incidence rates of 43.3% - 46.7% and very susceptible (Cilacap, UB4, Tangongon 70-3-1-1 -2, UB-7, UB-11, and UB-5) with an incidence rate of 56.7% - 96.7%, respectively.
Profil Minyak Biji dari Empat Varietas Rosela Herbal (Hisbiscus sabdariffa var. sabdariffa) Indonesia Elda Nurnasari; Tantri Dyah Ayu Anggraeni; Nurindah Nurindah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n1.2019.8-15

Abstract

Rosela herbal dibudidayakan untuk diambil kalik (kelopak bunga) sebagai bahan baku minuman herbal. Produk samping dari budidaya rosela herbal salah satunya adalah biji rosela. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi komposisi senyawa asam lemak dan kadar minyak biji rosella dari empat varietas unggul rosella herbal (Roselindo 1, Roselindo 2, Roselindo 3, dan Roselindo 4 dan membahas potensinya sebagai bahan pangan). Minyak biji rosella herbal diekstrak dengan cara pengepresan dan analisa profil asam lemak dengan metode GCMS. Biji rosela herbal mempunyai kadar minyak yang cukup tinggi, yaitu antara 23,25 – 27,31%. Asam linoleat, asam oleat, asam palmitat dan asam nonadekanoat adalah asam lemak utama pada empat varietas rosela herbal. Pengelompokan varietas rosela berdasarkan persentase kemiripan kandungan minyak dan asam lemak menunjukkan bahwa Roselindo 1 berada dalam satu kelompok dengan Roselindo 3 dan Roselindo 2 dengan Roselindo 4.  Senyawa asam lemak dari Roselindo 1 dan Roselindo 3 asam adalah dari kelompok asam lemak tak jenuh (UFA) yakni asam linoleat pada Roselindo 1 dan asam oleat pada Roselindo 3.  Senyawa asam lemak utama varietas Roselindo 2 dan Roselindo 4 adalah asam nonadekanoat. Berdasarkan jenis asam lemak tersebut maka minyak biji rosella termasuk dalam kategori minyak yang aman dikonsumsi (edible oil) dan juga berkhasiat bagi kesehatan.Profile of Four Varieties of Indonesian Herbal Roselle (Hisbiscus sabdariffa var. sabdariffa) Herbal roselle is cultivated for calices production as raw material for herbal drinks. One of the by products from herbal roselle cultivation is roselle seeds. This study was conducted to evaluate the composition of fatty acid compounds and roselle seed oil content of four herbal roselle superior varieties (Roselindo 1, Roselindo 2, Roselindo 3, and Roselindo and discuss their potency as a foodstuff 4). Herbal roselle seed oil is extracted using pressing method and analyzing fatty acid profiles using GC-MS method. Herbal roselle seeds have high oil content, i.e., 23.25 - 27.31%. Linoleic acid, oleic acid, palmitic acid and nonadecanoic acid are the main fatty acids in four herbal rosela varieties. The grouping of rosela varieties based on the percentage similarity of oil content and fatty acids shows that Roselindo 1 is in one group with Roselindo 3 and Roselindo 2 with Roselindo 4. The main fatty acids of Roselindo 1 and Roselindo 3 are from a group of unsaturated fatty acids (UFA), namely linoleic acid on Roselindo 1, and oleic acid in Roselindo 3  The main  fatty acid compounds of Roselindo 2 and Roselindo 4 are nonadecanoic acid. Based on these types of fatty acids, rosella seed oil of Roselindo varieties is in the category of edible oil and is also beneficial for health.