cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 5,629 Documents
Tinjauan Yuridis Pasal 5 Uu Sppa Keadilan Restoratif Terhadap Anak Kurir Narkotika (Analisis Putusan Nomor 36/Pid.Sus - Anak/2017/Pn Dps): Juridical Review of Article 5 of Law concerning Judicial System of Juvenile Crime Related to Restorative Justice for Child Narcotics Couriers: Analysis of Decision Number 36/PID.SUS-ANAK/2017/PN Salsabila, Alodia
Brawijaya Law Student Journal Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2022
Publisher : Brawijaya Law Student Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alodia Salsabila, Yuliati, Solehuddin Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono No. 169 Malang e-mail: alodiasalsabila@ymail.com Abstract This thesis addresses the issue of restorative justice for children who conflict with the law in cases involving children as drug couriers. Based on the facts presented at trial, the defendant is a 14-year-old child, known under the Law concerning the Judicial System of Juvenile Crime as a Child in Conflict with the Law (CCL). A CCL is a child between the ages of 12 and under 18 suspected of committing a criminal act. Given that the defendant is a CCL, the provisions of the Law concerning the Judicial System of Juvenile Crime require that the case be processed using the criminal justice system with a mandatory emphasis on a restorative justice approach. The issues examined in this thesis are: (1) What is the juridical review of Article 5 of the Law concerning the Judicial System of Juvenile Crime regarding restorative justice for child narcotics couriers, analysed through Decision Number 36/Pid.Sus - Child/2017/PN Dps? (2) What are the rights of the child to receive diversion as analysed through Decision Number 36/Pid.Sus - Child/2017/PN Dps? The researcher employed a normative-juridical approach with statutory and analytical approaches. The findings indicate that the best interests of the child were not prioritised, considering that a prison sentence of two years and six months is a lengthy and severe punishment for a child. Ideally, diversion should have been pursued for the child who acted as a drug courier in this case, especially since the criminal penalties referenced in the Narcotics Law stipulate a minimum of four to five years in prison. Additionally, facts presented at trial showed that the defendant was not a repeat offender and had a future that needed to be safeguarded. Keywords: Restorative, Children, Narcotics Abstrak Pada skripsi ini penulis mengangkat isu terkait keadilan restoratif pada anak yang berhadapan dengan hukum pada kasus anak sebagai kurir narkoba. Berdasarkan fakta di persidangan, terdakwa merupakan seorang anak yang berumur 14 tahun. Menurut UU SPPA dikenal dengan istilah Anak yang Berkonflik dengan Hukum (selanjutnya disebut ABH). ABH adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana. Mengingat Terdakwa merupakan seorang ABH, maka berdasarkan ketentuan UU SPPA, terdakwa harus diproses dengan menggunakan Sistem Peradilan Pidana dan wajib mengutamakan pendekatan keadilan restorative. Rumusan masalah pada skripsi ini adalah : (1) Bagaimana tinjauan yuridis Pasal 5 UU SPPA keadilan restoratif terhadap anak kurir narkotika analisis putusan Nomor 36/Pid.Sus - Anak/2017/PN Dps? (2) Bagaimana hak anak dalam mendapatkan diversi analisis putusan Nomor 36/Pid.Sus - Anak/2017/PN Dps? Penelitian yang digunakan penulis adalah penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan analitis. Hasil penelitian tersebut adalah belum mengedepankan kepentingan terbaik untuk anak, mengingat pidana penjara 2 tahun 6 bulan merupakan waktu yang cukup lama dan sangat berat untuk dijalani anak. Seyogyanya anak yang menjadi kurir narkotika dalam putusan ini dapat di upayakan diversi, mengingat ancaman pidana penjara dalam ketentuan pidana yang diterapkan mengacu pada UU Narkotika yaitu paling singkat 4 (empat) dan 5 (lima) tahun. Selain itu fakta dipersidangan menunjukkan bahwa terdakwa bukan seorang residivis, bahkan terdakwa memiliki masa depan yang harus diselamatkan. Kata Kunci: Restoratif, Anak, Narkotika
Analisis Yuridis Penggunaan Aplikasi Pengidentifikasi Nomor Telepon Terkait Resiko Pemrosesan Data Pribadi Tanpa Persetujuan: Juridical Analysis of the Use of Phone Number Identification Application Regarding Risks in Personal Data Processing without Consent Napitupulu, Jeremy Patrick Christofel
Brawijaya Law Student Journal Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2023
Publisher : Brawijaya Law Student Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jeremy Patrick Christofel Napitupulu, Moch. Zairul Alam, Diah Pawestri Maharani Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Jl. MT Haryono No. 169 Malang e-mail: Patricknapit70@gmail.com Abstract The development of society and the use of the Internet in Indonesia have facilitated the exchange of information through information and communication technology. One such convenience is the phone number identification application, which collects personal data through a crowdsourcing system. This personal data is highly vulnerable to misuse for criminal or illegal profit, necessitating adequate legal protection. The phone number identification application is regulated under the Regulation of the Minister of Communication and Information Technology No. 5 of 2020 concerning the Operation of Electronic Systems within a Private Scope. However, given its operational methods and privacy policies, this application should also be examined under the Personal Data Protection Law because it involves personal data. Data processing principles in accordance with the regulation must be applied to ensure the protection of personal data. The importance of protecting personal data arises from the potential losses from breaches, which are often difficult to assess materially. Therefore, the assessment of the phone number identification application must consider both the regulation of the Ministry of Communication and Information Technology and the Personal Data Protection Law to optimally protect user privacy information. With proper legal protection, the risk of personal data misuse can be minmized, and public trust in information and communication technology can be enhanced. Keywords: Protection, Personal Data, Phone Number Identification Application Abstrak Perkembangan masyarakat dan penggunaan internet di Indonesia telah mempermudah pertukaran informasi melalui teknologi informasi dan komunikasi. Salah satu kemudahan ini adalah aplikasi identifikasi nomor telepon, yang mengumpulkan data pribadi dengan sistem crowdsourcing. Data pribadi ini sangat rentan disalahgunakan untuk kejahatan atau keuntungan ilegal, sehingga memerlukan perlindungan hukum yang memadai. Aplikasi identifikasi nomor telepon diatur dalam Peraturan Menteri Kominfo No. 5 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Sistem Elektronik Lingkup Privat. Namun, mengingat cara kerja dan kebijakan privasinya, aplikasi ini juga harus dikaji berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi karena memuat data pribadi. Prinsip-prinsip pemrosesan data pribadi sesuai dengan peraturan perundang-undangan harus diterapkan untuk memastikan perlindungan data pribadi.Pentingnya perlindungan data pribadi disebabkan oleh potensi kerugian yang bisa timbul dari pelanggaran, yang sering kali sulit dinilai secara materi. Oleh karena itu, pengkajian aplikasi identifikasi nomor telepon harus memperhatikan peraturan Kominfo dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi untuk melindungi informasi privasi pengguna secara optimal. Dengan perlindungan hukum yang tepat, risiko penyalahgunaan data pribadi bisa diminimalisir, dan kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dapat ditingkatkan. Kata Kunci: Perlindungan, Data Pribadi, Aplikasi Identifikasi Nomor Telepon
Efektivitas Pelaksanaan Pembinaan Pada Residivis Narapidana Narkotika Pada Lembaga Pemasyarakatan: Effectiveness of Rehabilitation Implementation for Narcotics Reoffending Inmates in Correctional Institutions Fahri, Emir Adam
Brawijaya Law Student Journal Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2023
Publisher : Brawijaya Law Student Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Emir Adam Fahri, Prija Djatmika, Fines Fatimah Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono No. 169 Malang e-mail: emiradam10.ea@gmail.com Abstract The rehabilitation program at Women's Correctional Institution Class IIA in Malang adheres to the mandates of Government Regulation Number 31 of 1999 of the Republic of Indonesia concerning Rehabilitation and Guidance for Correctional Inmates, specifically outlined in Article 3. It unfolds in three phases: initial, intermediate, and final. Moreover, as per Articles 14 and 15 of Law Number 12 of 1995 of the Republi c of Indonesia concerning Corrections, inmates are entitled and obligated to actively participate in the institution's rehabilitation programs and activities. However, the effectiveness of these rehabilitation efforts for narcotics offenders at this facility is reportedly suboptimal. Researchers attribute this to several factors, including non-compliant building and housing standards, inadequate facilities for conducting rehabilitation activities, a lack of sufficient human resources for both rehabilitation and security and a general shortfall in legal awareness and compliance among the community and inmates at Women's Correctional Institution Class IIA in Malang. Keywords: Correctional Institution; Narcotics Crime; Rehabilitation Abstrak Ke efektivitasan pelaksanaan pembinaan . Pelaksanaan Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA Malang sudah sesuai dengan hal-hal yang tercantum di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan Pasal 3, dan juga melalui 3 tahap yakni tahap awal, tahap lanjutan dan tahap akhir. Dan juga dalam pasal 14 dan 15 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan, narapidana mendapatkan haknya dan wajib mengikuti secara tertib program pembinaan dan kegiatan yang ada dalam Lembaga Pemasyarakatan. Namun Efektivitas Pelaksanaan Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Malang bagi Pelaku Tindak Pidana Narkotika menurut peneliti masih kurang efektif dikarenakan ada beberapa faktor antara lain: Sarana gedung/hunian tidak memenuhi standar yang ditentukan, sarana dan prasarana yang ada untuk melakukan kegiatan pelaksanaan pembinaan terhadap warga binaan pemasyarakatan masih kurang memadai, kurangnya sumber daya manusia (SDM)/petugas untuk pelaksanaan pembinaan dan juga pengamanan terhadap warga binaan pemasyarakatan, tentang kesadaran dan ketaatan akan hukum yang kurang dalam masyarakat maupun narapidana yang ada didalam Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Malang. Kata Kunci: Efektivitas Pembinaan; Lembaga Pemasyarakatan; Tindak Pidana Narkotika
Prinsip Kesetaraan Dalam Perjanjian Kemitraan Pada Lembaga Pendidikan Non-Formal: Equality Principle in Partnership Agreement between Tutors and a Non-Formal Education Institution Yuwana, Maghfirotul Mahardika Nanda
Brawijaya Law Student Journal Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2022
Publisher : Brawijaya Law Student Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maghfirotul Mahardika Nanda Yuwana, A. Rachmad Budiono, Syahrul Sajidin Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono No. 169 Malang e-mail: yuanadinda@gmail.com Abstract Indonesia is one of developing countries in the world which has a very large population development but has limited employment opportunities. COVID-19 added new problem to Indonesia, namely the increase in the number of unemployed by 6.49% or as many as 1.82 million people based on census data from the Badan Pusat Statistik in August 2021. FinTech (Financial and Technology) is a combination of financial services and technology that allows remote transactions, including payments. The use of FinTech can help open up jobs with the opening of online-based businesses that are now developing into digital startup businesses. One of the digital startup companies in Indonesia is PT Ruang Raya Indonesia which runs the Ruangguru application. Ruangguru focuses on Education-based services and uses a partnership system with its workers, hereinafter referred to as Ruangguru's partners. This research is aimed to determine legal standing between Ruangguru tutors and PT Ruang Raya Indonesia in the Digital Tutoring Company partnership agreement, and to find out the principal of equality has been fulfilled in the partnership agreement within PT Ruang Raya Indonesia in the Digital Tutoring Company Partnership Agreement. This research uses normative research and uses statue approach and conceptual approach. Law material in this research is primary law material such as act and Government Regulation. In the other hand, secondary law material divided by journal, thesis, and another law materials which appropriate to this research. The result of this research, researcher got imbalance and not fulfilled several principles in Ruangguru to tutor agreement. Keywords: Agreement; Educational Center; Ruangguru Abstrak Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki perkembangan penduduk yang sangat besar namun memiliki keterbatasan lapangan pekerjaan. COVID – 19 menambah permasalahan baru yaitu meningkatnya jumlah pengangguran hingga sebesar 6,49% atau sebanyak 1,82 juta orang berdasarkan data sensus Badan Pusat Statistik Agustus 2021. FinTech (Financial and Technology) merupakan gabungan jasa keuangan dan teknologi yang memungkinkan transaksi jarak jauh dalam melakukan pembayaran. Penggunaan FinTech dapat membantu terbukanya lapangan pekerjaan dengan terbukanya bisnis berbasis online yang sekarang berkembang menjadi bisnis startup digital. Salah satu Perusahaan startup digital di Indonesia adalah PT Ruang Raya Indonesia yang menggerakkan aplikasi Ruangguru. Ruangguru berfokus pada layanan berbasis Pendidikan dan menggunakan sistem kemitraan dengan pekerjanya, yang selanjutnya disebut mitra Ruangguru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedudukan hukum pihak mitra pengajar Ruangguru dengan pihak PT. Ruang Raya Indonesia di dalam Perjanjian Kemitraan Perusahaan Bimbingan Belajar Digital, serta untuk mengetahui prinsip kesetaraan sudah terpenuhi di dalam perjanjian kemitraan antara pihak PT. Ruang Raya Indonesia di dalam Perjanjian Kemitraan Perusahaan Bimbingan Belajar Digital. Adapun metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode penelitian normatif dan menggunakan pendekatan penelitian perundang-undangan dan pendekatan konsep. Jenis bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer berupa undang-undang dan peraturan pemerintah, sedangkan bahan hukum sekunder terdiri dari jurnal, tesis, dan bahan hukum lainnya yang menunjang penelitian ini. Hasil dari penelitian ini, peneliti mendapatkan adanya ketimpangan dan tidak terpenuhinya beberapa asas dalam perjanjian yang diterapkan oleh pihak Ruangguru kepada para tutor. Kata Kunci: Lembaga Bimbingan Belajar; Perjanjian; Ruangguru
Perwujudan Ketahanan Pangan Di Desa Wisata (Studi Implementasi Pasal 5 Ayat (4) Huruf b Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2021 di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan) Layali, Falichah El
Brawijaya Law Student Journal Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2023
Publisher : Brawijaya Law Student Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Falichah El Layali, Moh. Fadli, Triya Indra Rahmawan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono No. 169 Malang e-mail: cacafalicha@student.ub.ac.id   Abstract     This research departs from the regulation that mandates the use of at least 20% of village funds for the implementation of food security programs as stipulated in Article 5, Paragraph (4), Letter b of Presidential Regulation Number 104 of 2021, which aims to address various food-related issues. This research explores whether the allocation of village funds, specifically in Wonokitri Village, complies with the aforementioned regulation. Based on the above context, this thesis raises the following research questions: (1) How is food security manifested in the tourist village of Wonokitri? The objective of this research is to analyse the implementation of food security in Wonokitri Village. This research employs an empirical legal method with a socio-legal research approach. Additionally, this research uses a juridical-sociological approach that focuses on the behaviour of the community as the object, specifically how the community reacts to the implementation of a positive law provision. The legal materials obtained consist of primary and secondary sources, which will be analysed using descriptive qualitative data analysis techniques. The research results indicate that the food security activities in Wonokitri Village are not implemented the mandate of Article 5, Paragraph (4), Letter b of Presidential Regulation Number 104 of 2021. This non-compliance is attributed to several factors: 1) the limited regulations on using village funds for specific activities already stipulated in the food security guidelines, and 2) the guidelines do not align with the geographical and territorial conditions of Wonokitri Village.Keywords: law effectiveness, food security, tourist village   Abstrak Latar belakang penelitian ini didasari oleh pemberlakuan regulasi tentang penggunaan alokasi dana desa paling sedikit 20% untuk pelaksanaan program ketahanan pangan di desa yang diatur dalam Pasal 5 Ayat (4) Huruf b Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2021 sebagai upaya untuk mengatasi berbagai permasalahan pangan. Penelitian ini akan menggali bagaimana alokasi dana desa, khususnya di Desa Wonokitri apakah pelaksanaannya telah sesuai dengan regulasi diatas. Berdasarkan hal tersebut diatas, karya tulis ini mengangkat rumusan masalah: (1) Bagaimana perwujudan ketahanan pangan di Desa Wisata Wonokitri? Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan perwujudan ketahanan pangan di Desa Wonokitri. Pada penulisan karya tulis ini, penulis menggunakan metode hukum empiris dengan jenis penelitian socio legal. Kemudian penulis juga menggunakan pendekatan yuridis sosiologis yang menitik beratkan perilaku masyarakat sebagai objeknya, yaitu bagaimana reaksi masyarakat yang timbul atas diterapkannya suatu ketentuan peraturan perundang-undangan positif. Adapun bahan hukum yang diperoleh penulis adalah bahan hukum primer dan sekunder dan akan dianalisis menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian dengan metode diatas, penulis memperoleh jawaban bahwa kegiatan ketahanan pangan di Desa Wonokitri tidak terlaksana sesuai dengan amanat Pasal 5 Ayat (4) Huruf b Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2021, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu : 1) terbatasnya aturan penggunaan dana desa terhadap jenis kegiatan tertentu yang sudah ditetapkan dalam pedoman ketahanan pangan, 2) Pedoman peraturan yang dibuat tidak sesuai dengan kondisi geografis dan wilayah di Desa Wonokitri. Kata Kunci: Keberlakuan Hukum, Ketahanan Pangan, Desa Wisata
Child Labour Sebagai Pelanggaran Jus Cogens Dalam Fast Fashion Industry Negara Cina Nasrun, Andi Atthoriq
Brawijaya Law Student Journal Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2023
Publisher : Brawijaya Law Student Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Andi Atthoriq Nasrun, Hanif Nur Widhiyanti, Agung Ayu Nanda Saraswati Faculty of Law Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono No. 169 Malang e-mail: atthoriqnasrun@gmail.com   Abstract The fast fashion industry has experienced a concerning rise in child labor practices, particularly among multinational corporations operating in countries with lenient labor regulations. Children in fast fashion industries endure relentless exploitation, often forced into cramped, dimly lit factories where they work long hours under unsafe conditions, their small hands blistered and bodies fatigued, with no regard for their health, education, or basic rights. Although these practices are viewed as unethical by the international community, debates continue over whether child labor constitutes a violation of jus cogens norms under international law according to Lon Fuller’s theory. This research critically examines the classification of child labor in comparison with recognized jus cogens violations, such as slavery and human trafficking. Furthermore, this study aims to identify the parties responsible from an international law perspective. The research employs a normative methodology supported by statutory, conceptual, and comparative approaches. This study finds that child labor practices meet the criteria for jus cogens violations by fully satisfying Lon Fuller’s criteria, with responsibility attributed to the states that allow multinational corporations to operate and employ children. Keywords: Child labour, jus cogens, fast fashion industry, liability   Abstrak Industri fast fashion mengalami peningkatan praktik pekerja anak yang memprihatinkan, terutama di kalangan perusahaan multinasional yang beroperasi di negara-negara dengan regulasi ketenagakerjaan yang longgar. Anak-anak yang bekerja di industri tersebut mengalami eksploitasi, terkadang dipaksa untuk bekerja berjam-jam di pabrik yang sempit, gelap dan kondisi bekerja yang buruk. Kesehatan, edukasi dan hak dasar mereka juga tidak diperhatikan. Meskipun praktik ini dipandang tidak etis oleh komunitas internasional, perdebatan terus berlangsung terkait apakah pekerja anak termasuk dalam pelanggaran norma jus cogens dalam hukum internasional menurut teori Lon Fuller. Penelitian ini secara kritis mengkaji klasifikasi pekerja anak dibandingkan dengan pelanggaran jus cogens yang diakui, seperti perbudakan dan perdagangan manusia. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab dalam kacamata hukum internasional. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian normatif yang didukung oleh pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan komparatif. Di dalam penelitian ini, ditemukan bahwa praktik pekerja anak memenuhi sebagai pelanggaran jus cogens dengan secara sempurna memenuhi kriteria Lon Fuller dan yang pihak yang bertanggung jawab adalah negara yang mengizinkan perusahaan-perusahaan MNC untuk beroperasi dan mempekerjakan anak. Kata kunci: Child labour, jus cogens, fast fashion industry, tanggung jawab
Efektivitas Pasal 62 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Berkaitan Dengan Hak Pesepeda (Studi di Dinas Perhubungan Kota Malang) Prakoso, Hery Yudha
Brawijaya Law Student Journal Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2020
Publisher : Brawijaya Law Student Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hery Yudha Prakoso, Lutfi Effendi, Amelia Ayu Paramitha Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono No. 169 Malang e-mail: heryprakoso27@gmail.com   AbstractThis research is aimed to look into the effectiveness of implementation of Article 62 paragraph (2) of Law Number 22 of 2009 concerning Road Traffic and Transport over the rights of cyclists. This law implies that cyclists have rights to facilities that back up their safety, security, order, and smooth traffic. However, the implementation of the law mentioned above is not effective since no special space is provided for the bicycles and there is an issue concerning road geometry. This research was conducted based on socio-juridical method that involved direct observation to obtain data needed. Some data was obtained from interviews with Department of Transportation in Malang. The data collected was analysed based on qualitative-descriptive analysis where research results were given in organised, orderly, logical, and effective sentences. The result of the research has found out that the Article 62 paragraph (2) of Law Number 22 of 2009 concerning Road Traffic and Transport over the rights of cyclists has not been appropriately implemented due to some factors as mentioned above.Keywords: Effectiveness, Road Traffic And Transport, Rights Of Cyclists   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengenai efektifitas dari penerapan Pasal 62 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Berkaitan Dengan Hak Pesepeda. Dalam Pasal 62 ayat (2) tersebut mengatur Pesepeda berhak atas fasilitas pendukung keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran dalam berlalu lintas. Namun dalam pelaksanaan Pasal 62 ayat (2) Undang-Undnag Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Berkaitan dengan Hak Pesepeda tidak berjalan secara efektif, karena adanya beberapa faktor, salah satunya adalah tidak adanya faktor pendukung ke amanan di jalur tersebut seperti pemisahan jalur dengan kendaraan bermotor, selain ada hambatannya, salah satunya dalah masalah geometri jalan. Adapun jenis penelitian yang digunakan penulis adalah jenis penelitian empiris dengan metode penelitian yuridis sosiologis yang dilakukan dengan cara penelitian langsung untuk memperoleh data data mengenai efektifitas Pasal 62 ayat (2) Undnag-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Berkaitan dengan Hak Pesepeda. Metode pengambilan data dilakukan dengan cara studi di lapangan dengan melakukan wawancara di Dinas Perhubungan Kota Malang. Analisis data yang digunakan oleh penulis menggunakan metode deskripsi kualitatif merupakan uraian dalam bentuk kalimat yang teratur, runtut, logis dan efektif. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat diketahui bahwa efektifitas Pasal 62 ayat (2) Undang-Undnag Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Berkaitan dengan Hak Pesepeda belum berjalan dengan baik dan efektif karena terhambat oleh beberapa faktor. Kata Kunci: Efektifitas, hambatan, Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Hak Pesepeda
Prinsip Kebebasan Hewan Dalam Pasal 83 Ayat (2) Huruf B Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2012 Tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner Dan Kesejahteraan Hewan (Studi Di Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Kota Malang) Wardani, Niken Ayu
Brawijaya Law Student Journal Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2023
Publisher : Brawijaya Law Student Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Niken Ayu Wardani, Dewi Cahyandari, Haru Permadi Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Jl. MT Haryono No. 169 Malang e-mail: nikenwardani137@gmail.com   Abstract The background of this research is the emergence of public complaints regarding the condition of animals, that are sold at the Splendid Market in Malang City, which seems to be concerning. This fact turns out to be contrary to animal welfare regulations regulated in Government Regulation of the Republic of Indonesia Number 95 of 2012 concerning Veterinary Public Health and Animal Welfare, especially in Article 83 paragraph (2) letter b. The purpose of this research is to (1) find out, analyze, and describe the causes of not implementing the principle of animal freedom in Article 83 paragraph (2) letter b of the Government Regulation of the Republic of Indonesia Number 95 of 2012 concerning Veterinary Public Health and Animal Welfare of cat trading in the Animal Market Splendid City of Malang; and (2) To find out, analyze, and describe the efforts in enforcement made by the Department of Agriculture and Food Security of Malang City to overcome the non-implementation of the principle of animal freedom in Article 83 paragraph (2) letter b Government Regulation of the Republic of Indonesia Number 95 of 2012 concerning Public Health Veterinary and Animal Welfare trade in cats at the Splendid Animal Market, Malang City. This paper is based on socio-legal research using a sociological juridical approach. The legal materials of this research were analyzed using a qualitative descriptive technique by compiling a systematic of the data that had been collected. The results of this study indicate that article 83 paragraph (2) letter b Government Regulation of the Republic of Indonesia Number 95 of 2012 concerning Veterinary Public Health and Animal Welfare has been implemented in cat trading activities at the Splendid Animal Market in Malang City but there needs to be improvement due to several factors including the law, law enforcement factors, facilities/facilities, community factors, and cultural factors. Keywords: Application, Principles, Animal Welfare, Animal Freedom   Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi dengan munculnya aduan masyarakat mengenai kondisi  hewan yang dijual di Pasar Splendid Kota Malang nampak memprihatinkan. Kenyataan ini ternyata bertentangan dengan aturan kesejahteraan hewan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan khususnya pada Pasal 83 ayat (2) huruf b. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk (1) mengetahui, menganalisis, dan mendeskripsikan penyebab tidak dilaksanakannya prinsip kebebasan hewan dalam Pasal 83 ayat (2) huruf b Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan perdagangan kucing di Pasar Hewan Splendid Kota Malang; dan (2)Untuk mengetahui, menganalisis, dan mendeskripsikan upaya dalam penegakan yang dilakukan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang untuk mengatasi tidak dilaksanakannya prinsip kebebasan hewan dalam Pasal 83 ayat (2) huruf b Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan perdagangan kucing di Pasar Hewan Splendid Kota Malang. Karya tulis ini diangkat dengan penelitian sosio legal yang menggunakan metode pendekatan yuridis sosiologis. Bahan hukum penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif dengan cara menyusun sistematika terhadap data-data yang telah dikumpulkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasal 83 ayat (2) huruf b Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan sudah diterapkan dalam kegiatan perdagangan kucing di Pasar Hewan Splendid Kota Malang namun perlu ada perbaikan karena beberapa faktor diantaranya yaitu faktor hukum, faktor penegak hukum, faktor sarana/fasilitas, faktor masyarakat, dan faktor budaya. Kata Kunci : Penerapan, Prinsip, Kesejahteraan Hewan, Kebebasan Hewan
Efektivitаs Pаsаl 4 аyаt (1) Perаturаn Menteri Kesehаtаn Nomor 61 Tаhun 2016 tentаng Pelаyаnаn Kesehаtаn Trаdisionаl Empiris mengenаi Wаjib Dаftаr Bаgi Penyehаt Trаdisionаl Untuk Memperoleh Surаt Terdаftаr Penyehаt Trаdisionаl dengаn wilаyаh studi di Dinаs Kesehаtаn Kotа Mаlаng Ken, Resa Wiratama
Brawijaya Law Student Journal Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2019
Publisher : Brawijaya Law Student Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Resa Wiratama Ken, Dr. Istislam, S.H., M. Hum.,Dr. Dewi Cahyandari, S.H., M.H. Fakultas Hukum,Universitas Brawijaya wiratamaken@gmail.com   ABSTRAK Permasalahan terkait dengan efektivitas Pelаyаnаn Kesehаtаn Trаdisionаl Empiris mengenаi Wаjib Dаftаr Bаgi Penyehаt Trаdisionаl Untuk Memperoleh Surаt Terdаftаr Penyehаt Trаdisionаl dengаn wilаyаh studi di Dinаs Kesehаtаn Kotа Mаlаng. Tema ini diangkat dikarenakan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 61 Tahun 2016 Pаsаl 4 аyаt (1) tentаng Pelаyаnаn Kesehаtаn Trаdisionаl Empiris mengenаi Wаjib Dаftаr Bаgi Penyehаt Trаdisionаl Untuk Memperoleh Surаt Terdаftаr Penyehаt Trаdisionаl dengаn wilаyаh studi di Dinаs Kesehаtаn kota Malang yang mengatur secаrа rinci tаtа аturаn terkаit  Penyehаt Trаdisionаl yаng ingin menjаlаnkаn usаhаnyа   dimаnа Peraturan tersebut mengаtur mаcаm-mаcаm bentuk pelаyаnаn kesehаtаn trаdisionаl empiris serta Pengelolааn Penyehаt Trаdisionаl secаrа khusus. Permasalahan efektivitas peraturan ini adalah kurang maksimal implementasinya sehingga dalam penerapannya pun kurang berjalan secara optimal secara tujuan dimana masih ditemukan hambatan-hambatan yang menjadi batu sandungan baik hambatan eksternal maupun internal.Oleh karena itu, Dinas kesehatan Kota Malang harus mencari upaya - upaya dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut baik upaya eksternal maupun internal agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Kata Kunci: Efektivitas, Pelayanan, Dinas Kesehatan   ABSTRACT The problem raised related to the effectiveness of empirical traditional health care regarding the obligation to register for traditional health practitioners to get traditional health practitioner certificate with the area study in Health Department of Malang City. This theme was chosen due to the issuance of Article 4 Paragraph (1) of Regulation of the Minister of Health Number 61 of 2016 on Empirical Traditional Health Care regarding The Obligation to Register for Traditional Health Practitioners to Get Traditional Health Practitioner Certificate with the Area Study in Health Department of Malang City that specifically regulates provision concerning traditional health practitioners which want to run their business. This provision regulates different form of empirical traditional health care services and especially Management of Traditional Health Care. The problem related to the effectiveness of this provision is the implementation is not optimum yet which the internal and external obstacles still exist. Therefore, Health Department of Malang City should find the way to overcome those obstacles, both internal and external efforts for not cause problems in the future. Keywords: Effectiveness, services, Health Department
UNSUR SEKSUALITAS DALAM TINDAK PIDANA PELECEHAN SEKSUAL NON-FISIK DAN FISIK MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2022 TENTANG TINDAK PIDANA KEKERASAN SEKSUAL Andarini, Ken
Brawijaya Law Student Journal Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2023
Publisher : Brawijaya Law Student Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ken Andarini, Lucky Endrawati, Ladito Risang Bagaskoro Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono No. 169 Malang e-mail: kenandarini@ub.ac.id Abstrak Unsur seksualitas dalam Pasal 5 dan Pasal 6 Undang-undang Nomor 12 Tahun 2022 Tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang mengatur mengenai pelecehan seksual memilki indikasi kekaburan norma. Hal ini dilatarbelakangi karena unsur seksualitas merupakan hal yang baru dalam hukum indonesia dan tidak adanya batasan bentuk tindakan pelecehan yang berkenaan dengan seksualitas sehingga, menjadikan pemaknaan seksualitas menjadi bias dan tidak diuraikan secara jelas dalam menentukan dasar pengenaan seksualitas. Kekaburan ini juga berpotensi menghambat pembuktian unsur seksualitas serta memicu adanya penafsiran yang berbeda oleh hakim dalam menguraikan unsur seksualitas. Tujuan penelitian ini ialah menganalisis dan makna unsur seksualitas dalam pelecehan seksual fisik dan non-fisik dalam Undang-Undang Tindak Pidana perbuatan Seksual serta pembuktianya dalam putusan nomor 60/Pid.sus./2022/PN Nga. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan menggunakan metode pendekatan perundang-undangan, pendekatan konsep, dan pendekatan kasus. Bahan hukum yang diperoleh kemudian dianalisis dengan Teknik deskriptif analisis, interpretasi gramatikal, dan interpretasi historis kemudian dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan yang sesuai dengan permasalahan peneliti. Hasil penelitian dengan metode penelitian diatas, Penulis menemukan jawaban atas permasalahan yang ada, bahwa makna dari unsur seksualitas ini terbukti UU TPKS terbukti dan Undang-undang lainya tidak ditemukan penjelasan. Pemaknaan unsur seksualitas kemudian dapat ditelusuri melalui putusan nomor 60/Pid.Sus/2022/PN Nga yang mengartikan unsur seksualitas sebagai sifat yang berkenaan dengan seks. Dalam pembuktian unsur seksualitas putusan nomor 60/Pid.Sus/2022/PN Nga hakim menggunakan keterangan terdakwa dan keterangan saksi korban untuk membuktikan perasaan seksualitas dalam perbuatan pelecehan seksual. Kata Kunci: kekaburan norma, pelecehan seksual, seksualitas, UU TPKS Abstract The sexual aspect in Article 5 and Article 6 of Law Number 12 of 2022 concerning Sexual Violence as a Crime regulating sexual harassment indicates the vagueness of the norm, considering that the sexual aspect is new in the scope of law in Indonesia and there has not been any specific scope of sexuality governed, rendering the meaning of the aspect ambiguous. This is because there is no elaborate definition to set the basis of the sanction regarding sexuality. This vagueness may also slow down the process of presenting proof for the aspect of sexuality and lead to multi-interpretation among judges. This research aims to analyze the meaning of sexual aspect over non-physical and physical sexual harassment in Sexual Crime Law and the evidence in Decision Number 60/Pid.sus/2022/PN Nga. This research employed normative-juridical methods and statutory, conceptual, and case approaches. The legal materials were analyzed based on descriptive-analysis technique, and grammatical, and historical interpretations before they were likened to relevant statutes and court verdicts. The research results reveal that there is no elaboration on the matter found in Law concerning Sexual Violence as a Crime. The definition of the sexual aspect could be traced through Decision Number 60/Pid.Sus/2022/PN Nga, defining the aspect as sexual traits. In the court decision concerned, the judges referred to the information given by defendants and witnesses to prove sexual feelings involved in the sexual harassment in the case concerned. Keywords: sexuality, sexual harassment, sexual violence law, vagueness of norm

Filter by Year

2012 2023


Filter By Issues
All Issue Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2023 Sarjana Ilmu Hukum, September 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2023 Sarjana Ilmu Hukum, April 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2022 Sarjana ilmu Hukum, Januari 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2022 Sarjana Ilmu Hukum, April 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2022 Sarjana Ilmu Hukum, September 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2022 Sarjana Ilmu Hukum, November 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2022 Sarjana ilmu Hukum, September 2021 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2021 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2021 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2021 Sarjana Ilmu Hukum, April 2021 Sarjana ilmu Hukum, Desember 2021 Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2021 Sarjana ilmu Hukum, Oktober 2021 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2021 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2021 Sarjana ilmu Hukum, November 2021 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2020 Sarjana Ilmu Hukum, September 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2020 Sarjana Ilmu Hukum, November 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2020 Sarjana Ilmu Hukum, April 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2019 Sarjana Ilmu Hukum, November 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2019 Sarjana Ilmu Hukum, September 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2019 Sarjana Ilmu Hukum, April 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2018 Sarjana Ilmu Hukum, November 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2018 Sarjana Ilmu Hukum, April 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2018 Sarjana Ilmu Hukum, September 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2017 Sarjana Ilmu Hukum, April 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2017 MAGISTER ILMU HUKUM DAN KENOTARIATAN, 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2017 Sarjana Ilmu Hukum, September 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2017 Sarjana Ilmu Hukum, November 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2016 Periode I Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2016 MAGISTER ILMU HUKUM DAN KENOTARIATAN, 2016 Sarjana Ilmu Hukum,September 2016 Sarjana Ilmu Hukum, November 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2016 Sarjana Ilmu Hukum, April 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2016 Periode II Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2015 MAGISTER ILMU HUKUM DAN KENOTARIATAN, 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2015 Sarjana Ilmu Hukum, November 2015 Sarjana Ilmu Hukum, April 2015 MAGISTER ILMU HUKUM DAN KENOTARIATAN, 2015 Sarjana Ilmu Hukum, September 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2014 Magister Ilmu Hukum dan Kenotariatan, 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2014 Sarjana Ilmu Hukum, April 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2014 Sarjana Ilmu Hukum, September 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2014 Magister Ilmu Hukum dan Kenotariatan, 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2014 Sarjana Ilmu Hukum, November 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2013 Magister Ilmu Hukum dan Kenotariatan 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2013 Sarjana Ilmu Hukum, April 2013 Doktor Ilmu Hukum 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2013 Sarjana Ilmu Hukum, September 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2013 Magister Ilmu Hukum dan Kenotariatan 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2013 Doktor Ilmu Hukum 2013 Sarjana Ilmu Hukum, November 2012 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2012 Sarjana Ilmu Hukum, September 2012 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2012 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2012 More Issue